Photo

Photo

Tuesday, 27 October 2026

Perintah Kaisar Naga : 7221 - 7223

Perintah Kaisar Naga. Bab 7221-7223






Di kedalaman Gunung Tiangang, angin kencang menyambar layaknya bilah tajam, sementara pasir hitam menutupi sinar matahari.


Semakin jauh seseorang melangkah, dunia pun menjadi semakin gelap. Langit di atas seolah tertutup oleh suatu zat misterius, hingga tak satu pun berkas cahaya mampu menembusnya.


Tak ada apa pun selain pasir hitam yang berputar dalam amukan angin, menciptakan suara lolongan—seperti ribuan binatang buas yang menjerit secara bersamaan.


Dave memimpin di depan, diikuti oleh Wanda yang berada tepat di belakangnya. Keduanya telah memasang perisai energi spiritual untuk menahan terpaan angin yang tak henti-hentinya menyerang.


Meski begitu, perisai Wanda tampak berkedip, meredup lalu terang kembali akibat gempuran angin, sehingga ia harus terus-menerus memulihkan energi spiritualnya.


"Tidak heran jika Paviliun Kemampuan Ilahi menetapkan tempat ini sebagai zona terlarang," ujar Wanda sambil mengatur napas. "Angin ini saja sudah cukup untuk menguras nyawa kebanyakan kultivator."


"Hanya mereka yang tidak kompeten yang akan mati terkuras energinya."


Tanpa menoleh, Dave berkata, "Ayo... kita menuju ke arah aura itu."


Jejak resonansi Dao Surgawi tampak samar di kedalaman Gunung Tiangang, bagaikan cahaya jauh yang terlihat menembus kabut: bisa dilihat, namun mustahil untuk digapai.


Mengikuti aura tersebut, Dave menelusuri lembah-lembah pegunungan selama hampir seharian penuh, sebelum akhirnya tiba-tiba berhenti di depan sebuah tebing curam.


Di bawah tebing itu terhampar cekungan luas, dan tepat di tengahnya, terdapat sesosok makhluk raksasa yang menyerupai gunung.


Makhluk itu berwarna hitam pekat, dengan seluruh tubuhnya, dari kepala hingga ekor, diselimuti sisik tebal yang saling tumpang tindih. Di sela-sela sisik tersebut, terpancar cahaya merah gelap yang samar, menyerupai bara api yang membara.


Anggota tubuhnya sekokoh pilar, punggungnya dihiasi deretan duri tajam yang melengkung ke belakang, dan ekor panjangnya terseret di atas tanah, dengan ujung yang memancarkan cahaya biru tua yang ganjil.


Yang paling mengerikan adalah wajahnya, makhluk itu memiliki tiga buah mata. Celah vertikal di bagian tengah tetap tertutup rapat, namun memancarkan tekanan luar biasa yang menebarkan rasa ngeri. 


"Raja Binatang Hampa," gumam Dave dengan mata menyipit. "Ketemu."


Wanda menatap makhluk raksasa sebesar gunung itu, wajahnya memucat. "Tingkat kultivasi seperti apa yang dimiliki makhluk ini?"


"Lebih kuat dari Raja Serigala."


Dave berkomentar, "Dilihat dari auranya, ia mungkin hampir mencapai ambang batas Raja Abadi Tingkat Tiga. Pantas saja Paviliun Kemampuan Ilahi kehilangan seorang tetua yang merupakan Raja Abadi Tingkat Dua di tempat ini."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Wanda. "Langsung menyerbu?"


"Serbuu..."


Dave mengangguk dan menghunus Pedang Pembantai Naga miliknya. "Tapi kita tidak boleh gegabah. Kulit makhluk ini sekeras besi; jika kita melawannya secara langsung, kita berdua yang akan rugi."


"Kita harus mencari cara untuk menembus kabut pelindungnya terlebih dahulu."


Ia terdiam sejenak, lalu merendahkan suaranya: "Wanda, aku akan masuk dan mengalihkan perhatiannya. Kau serang dari samping, incar celah di antara sisik-sisiknya."


"Ingat... jangan gegabah. Serang sekali, lalu segera mundur."


Sambil menarik napas dalam-dalam, Wanda menggenggam pedang panjangnya dan mengangguk tegas. "Dimengerti."


Dave menarik napas tajam, lalu melepaskan raungan menggelegar. Dalam sekejap, ia melesat bagaikan kilatan cahaya kelabu keemasan menuju Raja Binatang Hampa.


Wuuzzzz...


"Makhluk terkutuk! Kakekmu sudah datang!"


Mata Raja Binatang Hampa terbuka lebar; ketiga pupilnya menyala, memancarkan tekanan mengerikan yang terasa nyata.


Dengan geraman rendah, makhluk raksasa itu bergerak dengan kecepatan yang mustahil, mengayunkan cakarnya ke arah Dave.


Duaaaarrrr....


Cakar itu menghantam tanah, menciptakan kawah sedalam beberapa zhang dan membuat puing-puing beterbangan.


Dave berhasil menghindar tipis, lalu dengan ayunan tangan terbalik, ia menghantam dada makhluk tersebut. 


Jebreeet...


Pedang Pembantai Naga berbenturan dengan sisik makhluk itu, memercikkan bunga api dan hanya meninggalkan bekas putih samar di permukaannya.


" Anjiiir..., keras banget!"


Dave mengumpat, berputar, lalu melesat ke sisi tubuh sang monster. 


Mengubah strateginya, ia mulai mengincar celah-celah sempit di antara sisik-sisik tersebut.


Taktik itu terbukti efektif. Ujung Pedang Pembantai Naga berhasil menembus celah di antara sisik makhluk itu. 


Merasakan sakit yang luar biasa, sang raja monster meraung dahsyat dan mengayunkan ekor raksasanya, yang melesat ke arah Dave dengan kekuatan yang mengerikan.


Wuuzzzz....


"Waduuuh..."


Dave berseru kaget dan berguling di tanah, nyaris kena hantaman tersebut.


Jebreeet...


Ekor raksasa itu menghantam dinding tebing, menyebabkan separuh tebing runtuh.


Memanfaatkan momen itu, Wanda melesat dari samping dan menusukkan pedangnya ke celah di antara sisik pada tubuh sang raja monster.


Creezz...


Bilah pedang itu menancap sedalam tiga inci ke dalam dagingnya. 


Sang raja monster melolong kesakitan, lalu menyentakkan kepalanya dan menerjang ke arah Wanda.


Wuuzzzz...


"Wanda, mundur!"


Dave berteriak. Pedang Pembantai Naga miliknya mulai bergetar hebat; sebuah kilatan cahaya setajam silet membelah pasir hitam dan menghantam leher sang raja monster dengan kekuatan brutal.


Dave telah mengerahkan seluruh energi sejatinya ke dalam serangan ini.


Sreeeet....


Sisik di leher sang raja monster terbelah lebar, dan darah merah pekat menyembur keluar.


Aauuummm....


Sang raja monster kini benar-benar murka.


Ketiga matanya berpendar dengan cahaya merah darah yang pekat, dan api berwarna merah gelap berkobar dari tubuhnya, meluap keluar dalam gelombang api mengerikan yang menyapu ke segala arah.


"Awas!"


Dave menyambar Wanda dan segera mundur dengan cepat.


" Makhluk ini benar-benar luar biasa."


Gelombang api itu menghantam titik tempat mereka berdiri sebelumnya, menghanguskan tanah hingga berubah menjadi hamparan hitam yang menyerupai kaca. 


“Makhluk itu mulai serius sekarang.”


Dave menyeka debu dari wajahnya, ekspresinya berubah serius saat ia mengamati sang raja makhluk buas yang kini mengamuk hebat.


“Dave, apa yang harus kita lakukan?”


Wanda mencengkeram pedangnya, tangannya gemetar. 


“Kita akan menghadapinya.” Dave menyeringai. “Lagipula, semakin ia mengamuk, semakin banyak celah yang akan terbuka. Wanda, dengarkan aku...”


Ia merendahkan suaranya dan berbisik cepat, “Aku akan menahannya dari depan. Tunggu aba-abaku, saat aku bilang ‘lari’, terbanglah langsung ke angkasa. Pergilah sejauh mungkin.”


“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Wanda dengan nada mendesak.


“Aku...? Hehehe...” Dave terkekeh, kilatan kekejaman melintas di matanya. “Aku akan menghantamnya dengan sesuatu yang besar.”


Setelah berkata demikian, ia melangkah maju dengan tiba-tiba dan penuh tenaga, memicu ledakan energi kekacauan primordial dari dalam dirinya.


Cahaya keemasan kelabu berpendar di atas kulitnya, menyelimuti seluruh tubuhnya dalam pijaran yang samar dan halus.


“Makhluk terkutuk! Rasakan ini!”


Dave meraung lantang dan mengayunkan pedangnya.


Diresapi oleh kekuatan kekacauan primordial, serangan itu mewujud menjadi bilah pedang raksasa berwarna keemasan kelabu sepanjang seratus zhang, yang menghantam ke arah kepala makhluk tersebut.


Meraung..


Makhluk itu mengeluarkan pekikan murka; ketiga matanya menembakkan sinar merah tua secara bersamaan untuk menghadang serangan yang datang.


Wuuzzzz....

Duaaaarrrr...


Bilah pedang dan sinar tersebut berbenturan, menciptakan ledakan dahsyat yang mengguncang bumi.


Seluruh cekungan itu bergetar hebat; awan pasir hitam tersapu tinggi ke udara, menutupi langit.


Dave terlempar ke belakang, terseret sejauh puluhan zhang sebelum akhirnya berhasil menstabilkan diri. Darah menetes dari sudut bibirnya.


Kondisi makhluk itu pun tidak lebih baik, bilah pedang keemasan kelabu tersebut telah mengiris kepalanya hingga menampakkan tulang, membuat darah merah pekat menyembur keluar layaknya air mancur.


 Makhluk itu mengeluarkan raungan parau yang penuh kesakitan, tubuh besarnya terhuyung-huyung tidak stabil.


"Wanda! Lari!" teriak Dave dengan suara tegang.


Sambil menggertakkan gigi, Wanda melesat ke atas, terbang membubung ke angkasa.


Tepat saat makhluk itu bersiap untuk mengejar, Dave menerjang maju, melancarkan rentetan serangan bertubi-tubi, bagaikan hujan dengan Pedang Pembantai Naga miliknya.


"Hei, makhluk terkutuk! Aku di sini! Ke mana kau melihat?"


Seorang diri, ia berhasil menahan makhluk yang tengah mengamuk itu. 


Lima belas menit kemudian, serangan sang Raja mulai melemah.


Darah terus mengucur deras dari luka yang begitu dalam hingga menampakkan tulang; kekuatan sang Raja tampak memudar, dan gerakannya menjadi semakin lamban.


"Sudah saatnya," gumam Dave, kilatan niat tajam melintas di matanya saat ia mengamati sang Raja yang terhuyung-huyung.


Ia menarik napas dalam-dalam, menyalurkan seluruh kekuatan esensi kekacauan primordial miliknya ke dalam Pedang Pembantai Naga.


Wuuzzzz....

"Mati!"


Dengan teriakan menggelegar, ia melepaskan tebasan energi terkonsentrasi berwarna kelabu keemasan. Bagaikan sambaran petir yang membelah cakrawala, serangan itu tepat sasaran, menghantam dahi sang Raja, tepat di atas mata vertikal yang tertutup.


Creezz...


Saat bilah pedang menembus dagingnya, Raja Binatang itu melolong nyaring penuh penderitaan. Tubuhnya yang masif ambruk ke tanah dengan dentuman keras, memicu kepulan debu yang membubung ke udara.


Ia sempat meronta beberapa kali, lalu akhirnya terdiam.


Gedebuk...


Dave jatuh dengan satu lutut, bertumpu pada Pedang Pembantai Naga miliknya seraya terengah-engah.


Dalam pertarungan ini, ia telah mengerahkan tujuh puluh persen kekuatannya dan menerima dua pukulan telak; dadanya terasa terbakar oleh rasa nyeri yang hebat.


“Dave!” Wanda turun dari langit dan menopang tubuhnya. “Apakah kau baik-baik saja?”


“Aku baik-baik saja, santai... aku tidak akan mati.”


Dave menyeringai, bangkit dengan bantuan Wanda, lalu melangkah menuju bangkai Raja Binatang tersebut. Ia berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke dahi makhluk itu.


Sesaat kemudian, ia mengerahkan tenaga secara tiba-tiba dan tajam, mencungkil sebuah bola berwarna merah tua seukuran kepalan tangan dari tengkorak binatang itu.


Bola tersebut berwarna merah pekat, dengan permukaan yang dihiasi pola-pola rumit yang mengalir, memancarkan energi yang mentah, kuat, dan tidak stabil.


“Inti Binatang.”


Dave menimbang benda itu di tangannya dan tersenyum puas. “Tangkapan yang bagus. Satu buah ini saja sudah cukup untuk ditukarkan dengan beberapa tiket masuk.”


Tepat saat ia hendak menyimpan inti tersebut ke dalam cincin penyimpanannya, terdengar suara tepuk tangan dari belakangnya.


Prok.... prok... prok...


“Keahlian yang mengesankan. Seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Tiga berhasil menumbangkan Raja Binatang Hampa yang berada di puncak alam Raja Abadi Tingkat Dua, bahkan tanpa terluka sedikit pun. Aku benar-benar terkesan.”


Tubuh Dave menegang; ia segera menoleh dengan cepat.


Di tepi cekungan itu, muncul lima sosok, entah sejak kapan mereka tiba di sana.


Yang memimpin mereka adalah seorang pria yang tampak berusia awal tiga puluhan, mengenakan jubah perak yang elegan. Sebuah tanda keemasan menghiasi dahinya, lambang yang tak salah lagi merupakan ciri khas murid dari Paviliun Kemampuan Ilahi.


Di belakangnya berdiri empat sosok berjubah hitam, masing-masing memancarkan aura yang mendalam dan berat, tampaknya mereka semua berada di tingkat Raja Abadi.


Pemuda itu berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap Dave dari atas dengan senyum jenaka yang mengejek di sudut bibirnya. 


" Orang-orang dari Paviliun Kemampuan Ilahi." Dave menyipitkan mata, nadanya tetap sangat tenang. 


"Apakah kalian semua hanya... kebetulan lewat?"


"Bukan sekadar lewat," jawab pemuda itu dengan nada santai yang diulur-ulur. "Kami datang ke sini khusus untuk mencarimu."


"Untukku?"


Dave terkekeh. " Hehehe... Untuk apa? Aku sedang agak sibuk saat ini, baru saja menghabisi seorang 'Raja', dan aku masih harus kembali untuk mengambil hadiah sayembara."


"Hadiah sayembara?" Pemuda itu tersenyum, senyum yang penuh dengan makna tersirat. "Hadiah apa?"


"Hadiah untuk Raja Hampa dari Gunung Tiangang."


Dave melanjutkan, "Dikeluarkan oleh Paviliun Kemampuan Ilahi: tiga 'Token Jalan Masuk' dan satu Kristal Roh. Aku sudah mengambil intinya, tinggal kembali dan mengeklaim imbalannya."


"Oh.. hadiah itu."


Pemuda itu berpura-pura baru menyadarinya, lalu mengubah nada bicaranya. "Sayang sekali. Kau tidak akan bisa mengambilnya."


" Hmm... Tidak bisa?" Dave mengangkat alis. "Mengapa begitu?"


"Karena," ujar pemuda itu dengan senyum lebar, "kami berdiri di sini justru untuk memastikan kau tidak mengambilnya."


Ekspresi Dave perlahan menjadi gelap.


"Apa maksudnya ini?"


Ia berkata dengan perlahan, "Aku menerima sayembara yang dikeluarkan oleh Paviliun Kemampuan Ilahi dan telah menyelesaikan tugasnya, apakah sekarang kalian mencoba mengingkari kesepakatan?"


"Hehehe... Mengingkari kesepakatan?"


Pemuda itu tertawa sinis. "Dengar, bocah tolol... apa kau tahu sebenarnya apa itu Paviliun Kekuatan Ilahi?"


"Kami yang mengeluarkan sayembara, dan kami pula yang menetapkan aturannya."


"Jika kami menyatakan suatu sayembara batal, maka sayembara itu memang batal."


Ia terdiam sejenak, tatapannya beralih ke inti di tangan Dave; kilatan keserakahan melintas di matanya. "Namun, inti yang kau pegang itu... sungguh hadiah yang luar biasa."


"Jika kau cukup cerdas, serahkan saja benda itu. Mungkin aku sedang dalam suasana hati yang baik sehingga bisa membiarkanmu tetap hidup. Tapi jika kau tidak cukup cerdas..."


Di belakangnya, empat sosok berjubah hitam melangkah maju secara serempak, melepaskan tekanan penuh yang tak tertahankan dari ranah Raja Abadi.


Melihat hal itu, Dave tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... Begitu rupanya."


Ia berbicara dengan nada yang tenang dan tidak terburu-buru. "Jadi, 'Paviliun Ilahi'-mu itu memang tidak pernah berniat membayar hadiah sayembara, kan?"


"Mengumumkan sayembara itu hanyalah tipu muslihat, cara untuk memancing orang agar datang dan menjadi tenaga kerja murah bagi kalian."


"Siapa pun yang berhasil membunuh Raja Binatang, ujung-ujungnya entah berakhir di dalam perut makhluk itu, atau... mati di tangan kalian."


"Pada akhirnya, Inti Binatang itu jadi milik kalian, dan semua pencapaiannya pun jadi milik kalian juga, kan?"


"Cerdas... Kau dapat sepeda... " ujar pemuda itu sambil bertepuk tangan. "Sayangnya, orang cerdas sering kali mati muda."


"Oh.. Benarkah?" Dave menyeringai. "Kebetulan sekali. Aku justru punya daya tahan hidup yang luar biasa kuat."


Sembari berkata demikian, ia dengan cepat menyimpan Inti Binatang itu ke dalam cincin penyimpanannya, lalu menggenggam erat Pedang Pembantai Naga.


Senyum di wajah pemuda itu perlahan memudar, digantikan oleh kilatan dingin di matanya. "Karena kau memilih jalan yang sulit... Serang! Bunuh mereka dan ambil kembali Inti Binatang itu!"


Empat sosok berjubah hitam melesat ke arah Dave.


Pertarungan sengit pun akan segera pecah. Di antara keempat orang itu, dua di antaranya berada di tahap kedua ranah Raja Abadi, sementara dua lainnya berada di puncak tahap pertama.


Dalam keadaan normal, Dave bahkan tidak akan melirik lawan-lawan seperti itu.


Namun, ia baru saja menyelesaikan pertarungan sengit melawan Raja Binatang Hampa; sebagian besar esensi Kekacauan Primordial miliknya telah terkuras, dan ia sempat menerima dua pukulan telak di bagian dada. 


Saat ia memaksakan energinya untuk bangkit, rasa nyeri yang tajam menusuk hingga ke dantiannya.


"Wanda, punggung bertemu punggung!" perintah Dave dengan suara rendah.


Wanda segera mengambil posisi. Berdiri saling membelakangi dengan pedang di tangan, keduanya terus mengawasi empat sosok berjubah hitam yang kian mendekat.


"Serang!" Salah satu Raja Abadi, seorang kultivator tahap kedua, bergerak lebih dulu, melayangkan telapak tangannya ke arah Dave.


Sambil mengertakkan gigi, Dave mengayunkan Pedang Pembantai Naga miliknya secara horizontal untuk menangkis serangan tersebut.


Jebreeet...


Gelombang kejut meledak ke segala arah. 


Dave terdorong mundur tiga langkah; rasa amis bercampur manis menjalar di tenggorokannya, ia hampir memuntahkan darah. Dengan susah payah ia menelannya kembali, sementara tatapan tajam dan kejam berkilat di matanya. 


"Lagi!" serunya. 


Alih-alih mundur, ia justru melesat maju dan menebaskan pedangnya ke arah sosok berjubah hitam itu.


Mata pedangnya sangat tajam; sosok berjubah hitam itu tidak berani menangkis dan memilih untuk menghindar ke samping. 


Pada saat yang sama, sosok berjubah hitam lainnya menyerang dari sisi samping, menghantamkan kepalan tangan ke bahu Dave.


Wuuzzzz...



Dave terlempar, menghantam sebuah batu besar hingga hancur berkeping-keping.


"Dave!" seru Wanda. Ia segera memukul mundur lawan-lawannya dengan satu ayunan pedang, lalu hendak bergegas menghampiri Dave.


"Tetap di sana!" Dave menyeka darah di sudut mulutnya dan memaksakan diri untuk berdiri. "Aku tidak apa-apa!" 


Meski mengaku baik-baik saja, tangan yang menggenggam Pedang Pembantai Naga miliknya tampak gemetar tipis.


Pertarungan sebelumnya melawan Raja Binatang telah menguras tenaganya secara berlebihan. Kini, saat harus menghadapi empat Raja Abadi, ia merasa kewalahan dan kesulitan untuk mengimbangi mereka.


Berdiri di kejauhan, pemuda berjubah perak itu mengamati kondisi Dave yang mengenaskan seraya mencemooh, "Hanya segini saja? Kukira bakal ada sesuatu yang lebih hebat."


"Seorang Penguasa Dewa Abadi tingkat tiga berhasil membunuh Raja Binatang, tapi akhirnya malah jatuh ke tangan kami? Kalau kabar ini tersebar, bakal jadi bahan tertawaan."


"Tertawa.. pantatmu moyang mu... "


Dave meludah, memuntahkan darah, lalu menyeringai. "Dengar ya, bocah ingusan 'kakekmu' ini masih hidup dan sehat!"


"Hmm......" Ekspresi pemuda itu berubah dingin. "Terus hajar! Pukuli dia sampai mati!"


Keempat sosok berjubah hitam itu kembali menerjang maju.


Jebreeet..

Jebreeet..


Kali ini, Dave sempat menangkis dua serangan, namun kemudian terkena hantaman telapak tangan yang membuat separuh tubuhnya mati rasa.


Wanda pun terluka; bahu kirinya robek, membuat separuh jubahnya basah oleh darah merah pekat.


"Dave... apakah kita... apakah kita akan mati di sini?" tanya Wanda dengan suara gemetar sembari mencengkeram pedangnya.


"Mati apanya!" Dave menggertakkan gigi. "Aku ini... nyawaku susah sekali dicabut!"


Ia menarik napas dalam-dalam, dan jauh di dalam dantiannya, Asal-usul Kekacauan yang tadinya tertidur mulai bergejolak hebat kembali.


Dia bersiap untuk mempertaruhkan segalanya.


Tepat saat dia hendak mengeluarkan kartu asnya, " Wujud Sejati Naga Emas" sebuah suara tua tiba-tiba bergema dari cakrawala.


"Lancang sekali."


Suara itu tidak keras, namun terasa menghantam langsung ke dalam hati setiap orang yang mendengarnya.


Keempat sosok berjubah hitam itu membeku secara bersamaan, ekspresi mereka berubah drastis.


Senyum di wajah pemuda berjubah perak itu lenyap, tubuhnya terpaku di tempat.


Dia mendongak dengan tiba-tiba, lalu melihat sesosok pria berdiri di udara di tengah pusaran pasir hitam.


Itu adalah seorang pria tua berjubah abu-abu yang kehilangan satu lengannya. Rambut dan janggutnya putih bersih, wajahnya tampak cekung dan keriput; lengan kirinya terputus hingga ke bahu, dengan lengan baju kosong yang berkibar keras ditiup angin kencang.


Tidak ada aura apa pun yang terpancar darinya, dia hanya berdiri di sana, diam dan tak bergerak, namun kehadirannya membuat langit dan bumi seolah menekan siapa pun yang berada di bawahnya.


"Si... Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam!"


Pupil mata pemuda berjubah perak itu mengecil tajam, suaranya bergetar karena panik. "Bagaimana mungkin kau bisa ada di sini?!"


Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam melirik ke arahnya dan berkata dengan tenang, "Sudah tiga tahun aku tinggal di Gunung Tiangang, namun baru kali ini aku menyaksikan seseorang berani melakukan pembunuhan dan perampokan tepat di depan mataku."


Wajah pemuda berjubah perak itu berubah pucat pasi; dia mundur dengan cepat sambil tergagap, "Senior... ini hanya kesalahpahaman! Benar-benar kesalahpahaman! Kami akan segera pergi!"


"Hah.. Pergi?"


Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam menjawab dengan acuh tak acuh, "Kalian sepertinya tidak terburu-buru untuk pergi saat menyerang seorang junior beberapa saat yang lalu."


Sembari berucap demikian, dia mengibaskan lengan bajunya yang kosong dengan ringan.


Wuuzzzz...


Sebuah kekuatan tak terlihat melesat maju, senyap namun secepat kilat. 


Terkena hantaman yang sangat dahsyat, keempat sosok berjubah hitam itu memuntahkan darah secara bersamaan, terlempar ke belakang, lalu ambruk ke tanah tanpa mampu bergerak lagi.


Puufftt...


Sementara itu, pemuda berjubah perak wajahnya berubah pucat pasi; ia gemetar hebat layaknya sehelai daun yang diterpa badai.


"Enyahlah!" seru Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam. Satu kata itu membelah udara. 


Pemuda berjubah perak tersebut segera bangkit dengan tergesa-gesa, memapah keempat sosok berjubah hitam yang terkapar itu, lalu melesat pergi menuju cakrawala tanpa menoleh sedikit pun gerakannya bahkan lebih cepat daripada seekor kelinci yang terkejut.


Di tengah cekungan tanah itu, Dave menyaksikan kejadian tersebut dengan perasaan terpaku dan tercengang.




Ia tidak pernah membayangkan bahwa "Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam", sosok yang selama ini ia cari-cari dan sangat ingin ia temui, akan muncul di hadapannya secara tiba-tiba dengan cara seperti itu.


"Senior!"


Dave tersadar dari lamunannya, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Junior Dave Chen memberikan hormat kepada Senior!"


Perjalanannya jauh ke arah barat selama ini memang semata-mata dilakukan demi menemukan Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam ini.


Kini, setelah sosok yang dicarinya berdiri tepat di depan mata, Dave tidak lagi memedulikan penampilannya yang berantakan; ia bersusah payah bangkit berdiri, berniat melangkah maju untuk memberikan penghormatan secara resmi.


Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam turun perlahan dan berhenti tepat di hadapannya. Ia mengamati Dave dari atas sampai bawah; secercah ekspresi yang sulit dibaca melintas di matanya yang tua dan keruh. "Kau mengenalku?"


"Saya pernah mendengar tentang Anda!"

Dave menjawab, "Saya mendengar bahwa Anda telah menyempurnakan 'Irama Dao Surgawi' dan mampu bersemayam di dalam kehampaan, itulah sebabnya saya datang mencari Anda!"


"Senior, ada suatu perkara yang sangat penting, saya memohon bantuan Anda!"


"Hmm... Perkara apa?" tanya Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam dengan nada datar.


"Saya memiliki seorang kenalan lama bernama Wan Jianxing Sepuluh Ribu Pedang Bintang!" Dave berkata dengan mendesak, "Wujud fisiknya telah hancur; hanya secercah jiwanya yang tersisa, terperangkap di dalam kehampaan selama bertahun-tahun."


"Saya mendengar bahwa kemampuan Anda tidak terbatas, saya memohon agar Anda turun tangan dan membentuk kembali tubuhnya!"


" Hmm... Membentuk kembali tubuh?" Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam mengulangi kata itu, wajahnya yang kurus dan layu tetap tanpa ekspresi sedikit pun.


Tepat saat ia hendak berbicara, pandangannya tiba-tiba tertuju pada cincin penyimpanan milik Dave.


Pada saat itu, kilatan cahaya tajam muncul di mata lelaki tua yang tampak keruh tersebut.


"Kau... di dalam cincin penyimpanan mu, apakah ada sebuah cincin giok?"


Suara Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam terdengar sedikit bergetar, hampir tak tertangkap indra.


Dave terkejut. " Hah... Sebuah cincin giok?"


Ia menunduk untuk melihat cincin penyimpanannya sendiri. Saat itulah ia menyadari bahwa jauh di dalam cincin tersebut, gelang giok yang ia peroleh setelah membunuh raja binatang purba di kehampaan Surga Kedelapan, kini memancarkan cahaya samar yang tampak tidak nyata.


Cahaya itu sangat halus, namun berdenyut secara ritmis di dalam cincin penyimpanan, seolah-olah sedang merespons sesuatu.


Jantung Dave berdegup kencang; ia segera mengeluarkan cincin giok itu dari cincinnya.


Kini, cincin tersebut memancarkan cahaya lembut yang stabil, berkedip-kedip seolah-olah benda itu adalah makhluk hidup.


Pandangan Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam terpaku pada cincin giok itu, tanpa berkedip sedikit pun.


Ia terdiam cukup lama, begitu lama hingga Dave mulai merasa gelisah, sebelum perlahan mengulurkan tangan. Dengan jemari yang gemetar, ia mengambil cincin tersebut.


Begitu menyentuh telapak tangannya, cincin giok itu memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.


Di dalam pancaran cahaya tersebut, tampak secercah esensi Dao yang berkilauan, sebuah energi yang identik dengan aura yang menyelimuti Si Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam sendiri.


Pupil mata Dave menyusut tajam.


Sebenarnya, apa hubungan antara cincin giok ini dengan Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam? 


Orang Tua Xuanxu mendekap cincin itu, jari-jarinya yang kurus dan keriput mengelus lembut permukaan bagian dalamnya. 


Setelah terdiam cukup lama, ia berujar dengan suara serak dan berat, "Aku telah mencari benda ini... selama tiga ribu tahun."


Jantung Dave berdegup kencang. "Senior, cincin giok ini..."


"Cincin giok ini..."


Orang Tua dari Kehampaan Mendalam perlahan mengangkat kepalanya; ekspresi rumit yang sulit ditebak melintas di matanya yang tua dan keruh. "Dahulu kala, aku sendiri yang menempa benda ini."


"Hah.. Anda sendiri yang menempanya?" Jantung Dave melonjak. "Lalu bagaimana bisa..."


"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Orang Tua Kehampaan Mendalam.


"Aku mendapatkannya setelah membunuh seorang mahluk raja purba di dalam kehampaan," jawab Dave.


"Seorang mahluk raja purba?" Ekspresi Orang Tua Kehampaan Mendalam berubah. Ia mendekap cincin giok itu seolah-olah benda tersebut adalah harta karun tak ternilai yang telah lama hilang, jari-jarinya yang kurus terus mengelus permukaannya dengan lembut.


Dengan suara parau, ia berkata, "Tiga puluh ribu tahun yang lalu, saat aku masih muda, jauh sebelum tingkat kultivasi ku mencapai kedalaman seperti sekarang, aku memiliki seorang murid bernama Ivan Chen."


"Ivan memiliki bakat yang luar biasa; ia adalah penerus warisanku yang paling menjanjikan yang pernah kutemui."


Si Monster tua Xuanxu Orang Tua dari Kehampaan Mendalam melanjutkan dengan perlahan, "Aku sendiri yang menempa cincin giok ini, menyegel secercah 'Dao Surga' di dalamnya, lalu memberikannya kepadanya sebagai jimat pelindung."


"Gelang ini memiliki tiga fungsi utama."


"Pertama, gelang ini memungkinkan pemakainya untuk melacak keberadaanku."


"Kedua, esensi Dao di dalam gelang ini dapat menyelamatkan nyawanya satu kali."


"Dan ketiga, yang paling penting, gelang ini berfungsi sebagai kunci menuju sebuah brankas rahasia yang kubuat saat aku masih muda."


"Brankas rahasia?" Mata Dave berbinar.


"Brankas itu menyimpan semua yang kukumpulkan selama masa mudaku, tersembunyi di relung terdalam kehampaan di seluruh Alam Surgawi." 


Si Orang Aneh dari Kehampaan Mendalam melanjutkan, "Di dalamnya terdapat harta karun langka dan kitab kultivasi kuno yang kukumpulkan sejak lama, serta sesuatu yang sangat vital bagiku: 'Roh Janin Kekosongan'."


"'Roh Janin Kekosongan'?" Dave belum pernah mendengar hal semacam itu.


"Itu adalah roh yang lahir dari asal-muasal kekosongan itu sendiri. Wujudnya menyerupai embrio dan menyimpan kekuatan penciptaan-kekosongan yang paling murni."


Si Orang tua dari Kehampaan Mendalam menjelaskan, "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memurnikan secercah Dao Surgawi demi satu tujuan khusus: kelak menggunakannya untuk membentuk kembali tubuh, tubuh yang selaras sempurna dengan asal-muasal kekosongan."


Jantung Dave mulai berdegup kencang.


Membentuk kembali tubuh!


Bukankah ini persis seperti apa yang ia cari saat meminta bantuan kepada si Orang Aneh ini?


Jika Wan Jianxing Sepuluh Ribu Bintang Pedang ingin dipulihkan, maka jalan untuk mewujudkannya ada di tangan pria tua di hadapannya ini!


"Lalu, apa yang terjadi kemudian?"


Sembari menekan gejolak kegembiraannya, Dave bertanya lebih lanjut, "Bagaimana nasib Ivan? Dan bagaimana cincin ini bisa berakhir di dalam perut seekor mahluk raja?"


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️












No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 7246 - 7248

  Ucapan Terima Kasih  Buat rekan sultan Taois " Albert Devidson & Dikwan Septiawan " yang selalu mendukung & mentraktir m...