Photo

Photo

Sunday, 1 November 2026

Perintah Kaisar Naga : 7246 - 7248

 Perintah Kaisar Naga. Bab 7246-7248






Kepala Besi Tua menceritakan semua ini kepada Dave dengan harapan bisa membujuknya untuk bergabung dengan kelompok mereka.


Ia ingin Dave tahu bahwa bukan hanya mereka yang melawan Klan Dewa—ada pula individu-individu lain yang jauh lebih tangguh yang turut serta dalam perlawanan tersebut.


Namun, Dave sama sekali tidak berniat untuk bergabung; ia tahu bahwa orang-orang seperti mereka tidak akan banyak membantu.


Ia tidak membutuhkan bantuan mereka untuk melenyapkan Klan Dewa, malah, kehadiran mereka justru akan menjadi beban baginya.


"Kepala Besi Tua, terima kasih atas informasinya. Aku berencana pergi ke Pegunungan Wanxu, apakah kau tahu jalan ke sana?" tanya Dave.


Kepala Besi Tua menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin aku tahu? Seumur hidupku, aku hanya tinggal di daerah ini."


"Lagipula, itu adalah zona terlarang, tempat peristirahatan kekaisaran, jadi jangan sembarangan masuk ke sana."


"Kalau kau memang bersikeras mencarinya, pergilah ke arah barat. Ada sebuah tempat bernama Kota Tianyuan (Jurang Langit), dan Prefektur Jurang Dewa terletak di dalamnya. Kau bisa bertanya-tanya saat sampai di sana."


"Meski begitu, aku sarankan jangan ke sana. Tempat itu terlalu berbahaya."


"Terima kasih atas peringatannya. Sampai jumpa!" ucap Dave seraya menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda hormat.


"Saudara Chen, biar ku antar sampai depan sana," tawar Kepala Besi Tua.


Dave tidak keberatan.


Kepala Besi Tua menemani mereka sejauh kurang lebih lima mil. Kapak-kapak besarnya terselip di ikat pinggang, sementara janggutnya yang tebal dan lebat masih menyisakan noda minyak dari minuman yang ia nikmati malam sebelumnya.


"Saudara Chen."


Ia menghentikan langkahnya, mengeluarkan bungkusan kain dari balik pakaiannya, lalu menyerahkannya ke tangan Dave.



"Apa ini?" tanya Dave sambil menimbang bungkusan itu di tangannya.


"Camilan kering buatan ibuku," ujar Kepala Besi Tua sambil menggaruk kepalanya. "Buat bekal di perjalanan." 


" Hehehe..." Dave terkekeh, membuka bungkusan itu, lalu memasukkan sepotong ke dalam mulutnya, namun setelah mengunyah beberapa kali, keningnya berkerut.


"Kepala Besi Tua?"


"Ya?"


"Apakah ibumu mengawetkan ini dengan garam, atau dengan nyawanya sendiri?"


"Maksudmu?"


"Ini asin sekali sampai lidahku mati rasa!"


Kepala Besi Tua terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak, dadanya naik-turun dengan kuat karena tawanya. " Hahaha... Guci garam milik ibuku memang tidak punya pegangan.."


Dave tidak mengembalikan bungkusan kain yang baru saja ia ikat kembali; sebaliknya, ia mengeluarkan botol porselen kecil dari kantong obatnya dan melemparkannya.


"Apa ini?" tanya Kepala Besi Tua sambil menangkap botol itu.


"Pil penyembuh, diracik oleh Yasmeen," ujar Dave. "Jauh lebih baik daripada kulit binatang yang biasa kau pakai untuk membalut lukamu."


Kepala Besi Tua menggenggam botol itu erat-erat.


Ia adalah pria yang irit bicara, bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.


Pada akhirnya, ia hanya mengucapkan empat kata: "Akan kuingat kebaikan ini."


"Tidak perlu," sahut Dave sambil melambaikan tangan. "Ingat saja satu hal ini."


"Apa?"


"Saat penagih 'Pajak Dewa' datang bulan depan," Dave menyipitkan matanya, "Jangan jadi orang pertama yang menyerbu mereka."


Wajah Kepala Besi Tua menegang. "Saudara Chen, apa maksudmu..."


"Seratus orang lebih anak buahmu, kalau digabungkan pun, mereka bahkan tidak akan cukup untuk dihadapi Kulit Anjing dengan satu tangan saja," kata Dave. "Kalau mau memberontak, jangan dilakukan dengan cara membenturkan kepala ke mata pedang."


"Lalu, apa yang harus kami lakukan?"


"Tunggu."


"Menunggu apa?"


Dave menatap ke arah barat. Cakrawala di sana berwarna merah karat yang pekat, seperti lembaran logam yang telah berkarat selama ribuan tahun. "Tunggu saja sampai aku mengacak-acak tempat ini."


Setelah berkata demikian, ia berbalik dan melangkah pergi, diikuti oleh empat orang lainnya tepat di belakangnya.


Yasmeen menoleh ke belakang. Kepala Besi Tua masih berdiri di tempatnya semula, seorang pria setinggi sembilan kaki, menjulang layaknya potongan menara hitam.


Ia mencondongkan tubuh ke dekat telinga Dave. "Kakak Dave, apakah Kakak benar-benar akan kembali untuk menyelamatkan mereka?"


"Memangnya apa lagi yang harus kulakukan?"


"Kupikir Kakak..."


"Berpikir apa?" Dave meliriknya dari sudut mata. "Apa aku terlihat seperti tipe orang yang hanya makan sampai kenyang lalu pergi begitu saja?"


" ...😛... " Yasmeen menjulurkan lidahnya.


Wanda, yang sejak tadi berjalan dalam diam di samping mereka, berujar pelan, "Mengenai Pegunungan Wanxu yang Kau sebutkan tadi, apakah Kau benar-benar berencana pergi ke sana?"


"Tentu saja," jawab Dave. "Orang tua itu, si Monster tua Xuanxu, 'Orang Tua Aneh Xuanxu', sudah membuat perjanjian denganku. Kalau dia berani ingkar, akan kucopot tulang-tulangnya lalu kurebus jadi sup."


"Tapi kita tidak tahu jalannya," sela Agnes tiba-tiba.


" Benar sekali..."


"Kepala Besi Tua sebenarnya tidak tahu lokasi persis Pegunungan Wanxu."


Dave hanya bergumam, "Hmm."


"Dia hanya menyebutkan bahwa sekitar puluhan ribu mil  ke arah barat, ada tempat bernama Kota Jurang Langit" tambah Lana. "Di situlah letak Mansion Jurang Dewa."


"Benar," ujar Dave sambil menyeringai. "Kita cari tahu saja nanti setelah sampai di sana."


"Apa Kau tidak khawatir itu mungkin jebakan?" tanya Yasmeen.


"Sekalipun itu jebakan, aku tetap harus masuk ke dalamnya," jawab Dave. "Itu satu-satunya petunjuk yang kumiliki saat ini."


Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan:


"Lagipula—"


"Lagipula apa?" 


“Cepat atau lambat, aku akan mendatangi keparat-keparat dari Mansion Jurang Dewa itu,” ujar Dave seraya mengertakkan gigi. “Sekalian saja kita intai jalannya, tidak ada ruginya.”


Mereka berlima bergerak ke arah barat, melintasi tanah tandus yang tampak suram dan sunyi seperti biasanya.


...


Tanahnya berwarna kelabu, rerumputannya hitam, dan setiap kali angin bertiup, helai-helai rumput itu berdesir dengan bunyi gemeretak yang tajam dan kering.


Mereka menempuh perjalanan selama tiga hari tanpa menjumpai satu jiwa pun, bahkan sisa-sisa kerangka binatang buas besar pun tidak terlihat.


Pada hari pertama, Yasmeen menghabiskan waktunya dengan menghitung awan; namun pada hari kedua, ia berhenti melakukannya. Ia berjongkok di tanah, menggambar garis-garis menggunakan sehelai rumput. “Kakak Dave, masih seberapa jauh lagi?”


“Entahlah.”


“Bukankah Kakak bilang jaraknya puluhan ribu mil...?”


“Itu kan kata si Kepala Besi Tua.”


Dave menjawab, “Dia sendiri bahkan tidak pernah menyelesaikan perjalanannya. ‘Puluhan ribu li’ menurutnya bisa berarti tiga puluh ribu,atau mungkin hampir seratus ribu.”


“Jadi, kita ini cuma berkelana tanpa tujuan?”


“Kita kan punya mulut?” Dave menunjuk wajahnya sendiri. “Begitu sampai di kota, kita tinggal bertanya saja, kan?”


Yasmeen mengerucutkan bibirnya, melangkah beberapa kali, lalu kembali mendekat ke sisi Dave. “Kakak Dave, aku lapar.”


“Kalau lapar, minum saja Pil Penahan Lapar.”


“Pil Penahan Lapar itu kan untuk ternak,” gumamnya. “Aku mau makanan sungguhan.”


“Anggap saja dirimu ternak untuk sementara waktu,” sahut Dave. “Nanti kalau sudah sampai di kota, aku traktir tiga ekor ayam panggang utuh.”


“Benarkah?”


“Benar.”


“Ditambah dua porsi daging sapi masak kecap?”


“Baiklah.”


“Dan satu guci arak Huadiao?” 


"Kenapa kau tidak merampok orang lain saja?"


Yasmeen terkikik geli lalu merangkul lengan Dave. "Hehehe....Kakak Dave memang yang terbaik!"


Agnes, yang berjalan di depan tanpa menoleh sedikit pun, berkomentar datar, "Terus... teruskan saja, manjakan terus dia."


" Ciee... Cie... cemburu yaa... hehehe... Kalau bukan aku yang memanjakannya, siapa lagi?" Dave tertawa kecil. "Dia kan istriku, kalau aku tidak memanjakannya, apa aku harus membiarkan orang lain yang melakukannya?"


Wajah Lana sedikit memerah mendengar ucapannya, sementara Wanda, yang berjalan di sisi paling luar, hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa.


Tiba-tiba, Agnes yang memimpin rombongan berhenti melangkah.


"Hmm?" Wanda menoleh.


"Ada orang datang." Tangan Agnes bertumpu pada gagang pedangnya.


Dave pun ikut berhenti, menyipitkan mata ke arah barat.


Di ujung padang belantara, kepulan debu tampak membubung di sepanjang cakrawala.


Itu bukan karena angin, melainkan sebuah rombongan kafilah.


Dan bukan hanya satu kendaraan saja.


"Sialan," umpat Dave.


Umpatan itu bukan muncul karena rasa takut, melainkan karena rasa kesal yang luar biasa. Ia sungguh benci situasi seperti ini.


Di tengah padang belantara yang terbuka tanpa tempat untuk bersembunyi, mereka akan langsung terlihat begitu ada rombongan kafilah yang muncul. 


"Banyak orang?" tanya Wanda dengan suara pelan.


"Kira-kira lima belas atau enam belas orang," jawab Dave sambil menggerakkan telinganya. "Mereka membawa kereta, kuda, dan..."


Ia mengendus udara. "...dan bau rubah yang menyengat."


" Hehehe...." Yasmeen tiba-tiba tertawa nyaring, lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan.


..


Rombongan itu mendekat dengan cepat; dalam sekejap mata, kepulan debu di cakrawala berubah wujud menjadi sebuah kafilah kecil. 


Di barisan paling depan terdapat dua pengawal berkuda yang mengenakan zirah kulit berwarna kelabu, dengan pedang berbilah lurus tersampir di pinggang mereka. 


Di tengah-tengahnya tampak sebuah kereta, yang ditarik oleh seekor serigala kelabu bertanduk satu bulunya berwarna kelabu kusam, sementara matanya menyala, memancarkan keganasan yang murni.


Tujuh atau delapan pengawal mengikuti di belakang kereta tersebut.


Melihat kereta dan serigala kelabu itu, jantung Dave berdegup kencang.


Ia mengenali kereta itu kereta yang sama persis dengan yang ia lihat tiga hari lalu di Pasar Bintang Jatuh.


"Kulit Anjing," desisnya, nama itu terlontar tajam dari sela-sela giginya.


Ekspresi Wanda sedikit berubah. "Kenapa dia ada di sini?"


"Bajingan itu pasti setelah pergi dia terus memikirkannya dan menyadari ada yang tidak beres," cibir Dave. "Jadi, dia membawa orang kembali untuk mengepung kita."


Tangan Yasmeen bertumpu pada kantong obatnya; pedang panjang Agnes telah terhunus setengah dari sarungnya; Lana sudah menjepit selembar jimat di antara jari-jarinya.


"Jangan bergerak," bisik Dave. Mendengar perintah itu, keempat wanita tersebut langsung mematung.


"Jika perkelahian pecah, kita akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan."


Dave berbicara dengan cepat, "Hukum di tempat ini menekan kekuatan kita hingga lima puluh persen. Bajingan itu berasal dari Ras Dewa, dia justru mendapatkan peningkatan kekuatan di sini. Jika sampai terjadi pertarungan sungguhan, satu Raja Abadi Tingkat Kedua saja bisa menghancurkan kita berlima layaknya semut."


"Kalau begitu..." Wanda mengerutkan kening.


"Serahkan padaku."


Dave meludah ke telapak tangannya lalu menggosok-gosokkannya. Sikapnya yang tadinya tampak nakal dan penuh percaya diri lenyap seketika, digantikan oleh raut wajah yang menunjukkan ketakutan luar biasa, benar-benar tampak seperti seorang pengecut.


Itu bukan sekadar akting, dia terlihat sangat lemah dan tidak bernyali secara alami.


"Ingat ini," kata Dave sambil melirik sekilas ke arah keempat wanita itu. "Apa pun yang kukatakan, ikuti saja alurnya. Jangan sampai ada yang terbongkar."


"Dimengerti," angguk Wanda.


Yasmeen menarik napas dalam-dalam dan melepaskan genggamannya dari kantong obat.


..


Rombongan kereta itu berhenti sepuluh " zhang " jauhnya. Dua pengawal berkuda memacu tunggangan mereka ke depan, menghalangi tengah jalan.


Tirai sebuah kereta yang ditarik oleh binatang buas disingkap, dan Kulit Anjing menjulurkan kepalanya keluar.


Dia masih mengenakan jubah brokat yang sama; wajahnya bulat seperti bola, dengan mata kecil menyerupai biji dan hidung yang pesek.


Namun hari ini, tidak ada lagi senyum sedikit pun di wajahnya. Tatapannya menyapu kelima orang itu, dingin dan jaha, sebelum akhirnya tertuju pada Dave.


"Wah... wah..." ujarnya dengan nada yang sengaja dipanjang-panjangkan. "Bukankah ini teman-teman 'kultivator independen' kita dari Pasar Luoxing?"


Wajah Dave seketika berubah menjadi sebuah senyuman, senyuman yang justru tampak lebih buruk daripada tangisan. "Astaga.. Tuan Gou / Kulit Anjing..."


Ia membungkukkan pinggangnya dalam-dalam, sangat dalam. "Angin apa yang membawa seorang pria terhormat seperti Anda kemari?"


Gou / Kulit Anjing tidak turun dari keretanya; ia tetap duduk di sana, menatap Dave dari atas dengan pandangan menyelidik.


"Angin apa yang membawaku kemari?"


Ia tertawa dingin, penuh ejekan. " Hehehe... Kalau aku tidak ada di sini, bagaimana mungkin aku tahu bahwa kalian semua melarikan diri jauh-jauh dari Permukiman Luoxing?"


"Melarikan diri?" Dave berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Apa maksud Anda, Tuan Kulit Anjing? Kami hanya kebetulan lewat."


"Kebetulan lewat?"


Kulit Anjing turun dari kereta dengan santai. Begitu kakinya menyentuh tanah, tekanan dari seorang Raja Abadi Tingkat Kedua meledak keluar.


Tekanan itu tidak menyebar ke seluruh area, melainkan diarahkan dengan sangat presisi tepat kepada Dave dan keempat rekannya.


Yasmeen, yang tingkat kultivasinya ditekan oleh Dao Surgawi, merasa pandangannya menjadi gelap di bawah beban tekanan tersebut, namun Wanda dengan sigap mengulurkan tangan untuk menopangnya.


Senyuman di wajah Dave tetap bertahan, meski keringat mulai membasahi punggungnya.


Bajingan ini benar-benar sudah bersiap.


Dulu di Permukiman Luoxing, ia sempat lengah dan terpaksa melarikan diri hanya karena satu jentikan jari Dave.


Kali ini, ia membawa anak buah dan memilih lokasi dengan cermat, ia datang untuk menuntaskan dendam.


"Kebetulan lewat?" Kulit Anjing melangkah maju hingga jaraknya hanya tiga langkah dari Dave.


Meskipun tubuhnya setengah kepala lebih pendek daripada Dave, ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mengarahkan lubang hidungnya tepat ke arah pria itu. 


"Dulu di Permukiman Luoxing, kalian berlima,orang-orang luar itu, tinggal di sebuah gubuk pemburu yang sudah reyot."


"Benar sekali."


"Saat itu aku sedang menagih pajak, tapi si pemberontak, Si Kepala Besi Tua (Old Tie-Tou), mencoba membunuhku." Kulit Anjing menyipitkan matanya. "Padahal, aku sudah berhasil menekannya ke tanah."


"Memang benar."


"Tapi kemudian, tanganku... tiba-tiba saja melepaskannya."


Jantung Dave berdegup kencang, ternyata si breng-sek itu mulai curiga padanya.


"Tuan Kulit Anjing, apa hubungannya tanganmu yang terlepas itu denganku?" Dave memasang senyum kecut yang tampak tak berdaya. "Aku ini hanya seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Empat, dan posisiku saat itu berada setengah jalan jauhnya, apa yang mungkin bisa kulakukan?"


" Oh.. penguasa Dewa Abadi Tingkat Empat, katamu? Hahaha..." Kulit Anjing mengulangi kata-kata itu, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


Tawanya terdengar seperti seekor ular yang sedang menelan katak. "Jadi, kau mengaku sebagai Penguasa Dewa Abadi Tingkat Empat?"


"Benar."


"Kalau begitu, katakan padaku," ujar Kulit Anjing seraya mencondongkan tubuhnya lebih dekat, "Mengapa indra spiritualku tiba-tiba berbunyi nyaring seperti alarm saat aku berada di Pasar Luoxing?"


Ia merendahkan suaranya. "Mengapa tengkukku terasa dingin? Dan mengapa aku merasa seolah-olah ada monster purba di ujung tanah tandus sana yang sedang menatap tajam ke arahku?"


Senyum di wajah Dave sedikit goyah, hanya untuk sepersekian detik.


Kemudian, ia berseru, "Ah, sudahlah!" lalu menambahkan, "Tuan Kulit Anjing, Anda terlalu curiga."


"Aku? Curiga?"


"Benar sekali."


Dave menepuk pahanya sendiri. "Coba pikirkan... Anda adalah Raja Abadi Tingkat Dua sekaligus diakon di Prefektur Jurang Dewa."


"Anda hanya mengunjungi tempat kumuh seperti Pasar Louxing sebulan sekali."


"Begitu Anda tiba, tempat itu langsung dipenuhi oleh orang-orang yang membenci Anda."


"Bukankah wajar jika indra spiritual Anda memberikan peringatan?"


"Wajar, katamu?" 


"Sangat wajar."


Dave memasang ekspresi yang tampak tulus sekali. "Coba pikirkan... mayat tanpa kepala dari keluarga Pak Tua Zhang itu masih tergantung di dinding, kan?"


"Di sana ada lebih dari seratus kultivator liar, dan mereka semua sedang murka luar biasa."


"Bahkan jika Anda tidak menyentuh mereka sedikit pun, mereka pasti tetap ingin mencabik-cabik Anda."


"Fakta bahwa indra Anda bereaksi, bukankah itu justru membuktikan betapa tingginya tingkat kultivasi Anda?"


Kulit Anjing terdiam sejenak, terpikir olehnya bahwa perkataan itu memang ada benarnya.


Selama bertahun-tahun mengabdi di Prefektur Jurang Dewa, inilah jenis pembicaraan yang paling ia sukai, pujian yang disampaikan dengan begitu gencar dan berlebihan.


Melihat perubahan sorot mata Kulit Anjing, Dave tahu ia telah menemukan celah. Ia pun segera merogoh jubahnya.


Setelah mengaduk-aduk sejenak, ia mengeluarkan sebuah kantong kain kecil.


Ia menyodorkannya dengan kedua tangan.


"Tuan Kulit Anjing, silakan dilihat."


Kulit Anjing meliriknya. "Apa itu?"


"Hanya sekadar tanda mata."


Dave tersenyum penuh harap. "Kami... hanya kultivator liar rendahan dari Surga Kedua Puluh Delapan, mendengar kabar bahwa ada pejabat dari Prefektur Jurang Dewa yang sedang berada di sekitar sini, jadi kami ingin memberikan ini sebagai bentuk penghormatan."


Kulit Anjing mengambil kantong itu lalu membukanya. Di dalamnya terdapat batu roh, bukan jumlah yang luar biasa besar, tetapi ada sekitar dua puluh batu roh tingkat menengah.


Di Surga Kedua Puluh Sembilan, batu roh tingkat menengah adalah mata uang standar. Seorang penduduk yang sudah lama tinggal di Permukiman Luoxing pun akan beruntung jika bisa mengumpulkan tiga batu roh dalam setahun.


Kelopak mata Kulit Anjing berkedut.


Awalnya, ia pergi melakukan perjalanan ini dengan niat menangkap seseorang demi mendapatkan imbalan.


Namun, pemuda ini justru menyodorkan uang ke tangannya dan jumlahnya terbilang cukup besar.


Ia memegang kantong itu sambil tetap terdiam.


Melihat reaksi tersebut, Dave pun paham betul bagaimana posisinya saat ini. Bajingan ini jelas dibutakan oleh keserakahan, tipenya sama persis dengan para penjaga di gerbang Permukiman Luoxing, hanya saja dengan nafsu yang jauh lebih besar.


"Tuan Kulit Anjing," ujar Dave seraya mencondongkan tubuh dan merendahkan suaranya, seolah sedang membisikkan rahasia.


"Anda adalah sosok yang berwibawa layaknya dewa. Sementara kami... kami hanyalah pedagang kecil-kecilan."


" Hmn... Pedagang kecil-kecilan?" Kulit Anjing mengangkat sebelah alisnya.


"Tepat sekali."


Dave menunjuk ke arah empat orang di belakangnya. "Mereka ini istri-istri saya. Karena tidak bisa mencari nafkah di Surga Kedua Puluh Delapan, kami pun menuju Kota Tianyuan, berharap bisa menyambung hidup di sana."


Pandangan Kulit Anjing menyapu keempat wanita itu.


Wanda, yang mengenakan pakaian sederhana; Agnes, yang membawa pedang putih panjang; Lana, dalam balutan jubah Tao berwarna putih rembulan; dan Ling Xi, yang mengenakan gaun biru muda.


Masing-masing dari mereka memiliki pesona yang luar biasa.


Ia terpaku, namun tidak berani menyimpan niat buruk apa pun.


Mengapa?


Karena meskipun serakah, ia bukanlah orang bodoh.


Walaupun tampak anggun dan lembut, aura mereka terasa dalam dan stabil, sementara langkah kaki mereka seringan kucing.


Mereka adalah para kultivator , dan bukan kultivator tingkat rendah.


Meskipun sanjungan Dave sempat membuatnya besar kepala, nalurinya sebagai Raja Abadi Tingkat Kedua tetap tajam.


Aura keempat wanita itu jauh dari kata biasa.


Ia melirik ke arah Dave.


Pria itu mengaku sebagai Penguasa Dewa Abadi Tingkat Keempat.


Seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Keempat, memiliki empat istri yang semuanya berada di ranah Raja Abadi?


Mana mungkin ada orang yang percaya begitu saja.


Namun…


Kulit Anjing merasakan beratnya kantong berisi batu roh di tangannya, lalu kembali menatap Dave. 


Pria itu berdiri dengan punggung membungkuk, kepala tertunduk, dan senyum penuh harap yang tampak memelas tersungging di wajahnya, ia sama sekali tidak terlihat seperti ahli tangguh yang sebelumnya mampu memukul pergelangan tangannya dari jarak jauh di gerbang Permukiman Luoxing.


Mungkinkah seorang ahli sejati berperilaku layaknya sosok yang begitu hina dan rendah diri?


Sebagian besar kecurigaan yang masih tersisa di benak Kulit Anjing lenyap dalam sekejap.


Setelah mengabdi di Prefektur Jurang Dewa selama bertahun-tahun, ia telah menjumpai berbagai macam orang.


Ia mampu mengenali seseorang yang benar-benar tangguh dari keteguhan hati yang terpancar dari dalam diri mereka.


Namun, Dave ini? Sama sekali tidak terlihat memiliki keteguhan, ia tampak lembek, tipe orang yang jika ditekan, minyak akan langsung memancar keluar darinya.


“Jadi, hanya pedagang kecil-kecilan, ya?” dengus Kulit Anjing.


“Ya, ya, tepat sekali.”


“Berdagang apa?”


“Berbisnis pil dan ramuan obat,” jawab Dave spontan, mengarang cerita sembari berbicara. “Istri saya, Yasmeen Ling, mahir meraciknya. Kami hanya sekadar mencoba-coba usaha ini saat berada di Surga ke-Dua Puluh Delapan.”


Di belakangnya, Yasmeen hampir kehilangan ketenangannya; ia tidak menyangka Dave akan langsung ‘menjualnya’ begitu membuka mulut.


Namun, setelah menangkap isyarat halus dari Dave, ia segera menundukkan kepala, berpura-pura tampak malu-malu.


“Salam, Tuan Kulit Anjing,” ucapnya dengan suara yang lembut dan halus.


Kulit Anjing menyapu pandangannya ke arah wanita itu, lalu mengangguk puas.


Bisa meracik ramuan, dan lagi pula, ia seorang wanita yang cantik.


Jika dibawa pulang, ia bahkan bisa dijadikan sebagai ‘kuali’, wadah untuk kultivasi ganda.


Niat membunuh yang sempat ia miliki pun menguap sepenuhnya, digantikan oleh pikiran-pikiran yang sama sekali berbeda.


“Baiklah kalau begitu.” Ia menyelipkan kantong berisi batu roh ke balik ikat pinggangnya. “Karena kalian hanyalah pedagang, pastilah kalian bukan pemberontak.”


“Terima kasih, Tuan Kulit Anjing!” Dave membungkuk dalam-dalam.


“Akan tetapi…”


“Akan tetapi apa tuan..?”


Mata Kulit Anjing kembali menyipit. “Saat di Pasar Luoxing / Bintang Jatuh tadi, mengapa kau melepaskan pegangan tangan ku ?” 


Dave mengumpat dalam hati; bagaimana bisa keparat ini kembali membahas hal itu lagi?


Ia segera mengubah ekspresi wajahnya.


Ia tampak sangat menderita, benar-benar sengsara, seolah-olah ayahnya baru saja meninggal dunia.


“Tuan Kulit Anjing…”


“Hmm?”


“Biar ku beritahu yang sebenarnya.” Dave mencondongkan tubuh lebih dekat, suaranya merendah hingga nyaris tak terdengar, seperti dengungan nyamuk. “Soal kejadian itu… itu bukan salahmu.”


“Apa maksudmu?”


“Kau tidak akan tahu,” keluh Dave. “Sebenarnya, kami sedang diburu, dikejar sampai ke sini dari Surga ke-28.”


“Diburu?”


“Tepat sekali.”


Dave memasang raut wajah muram. “Kultivasiku sendiri tidak seberapa, hanya seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Empat. Tapi keempat istriku, masing-masing dari mereka berada di ranah Raja Abadi.”


Kulit Anjing mengangkat alis; ia memercayai separuh dari perkataan itu.


“Dulu di Surga ke-28, kami menyinggung sebuah sekte besar.”


Dave melanjutkan, “Salah satu tetua mereka, seorang Raja Abadi Tingkat Tiga, mengejar kami sejauh tiga ribu mil.


"Pada akhirnya, kami harus mempertaruhkan segalanya hanya untuk menembus dinding pembatas dan melarikan diri ke Surga ke-29.”


“ Hah... Raja Abadi Tingkat Tiga?” Ekspresi Kulit Anjing berubah.


“Benar.” Dave menepuk pahanya sendiri. “Bajingan tua itu mungkin masih memburu kami sampai sekarang."


"Tuan Kulit Anjing, saat indra spiritualmu memicu peringatan di Pasar Luoxing… ada kemungkinan, hanya kemungkinan, bahwa orang tua itu mencium jejak kami dan mengikuti kami sampai ke sini.”


" Wadaau..." Kulit Anjing terpekik dan melompat mundur setengah langkah; ia benar-benar merasa gentar.


Seorang Raja Abadi Tingkat Tiga, sementara dirinya sendiri hanyalah Raja Abadi Tingkat Dua. Perbedaan satu tingkat itu sangatlah signifikan.


Jika sosok sekuat itu benar-benar berada di dekat sini, belum tentu ia, Kulit Anjing, bisa keluar dari tanah tandus ini dengan selamat. Dia secara naluriah menoleh ke arah alam liar di belakangnya, tempat itu benar-benar kosong.


Namun, sensasi dingin mulai merayap di tengkuknya.


“Sialan,” umpatnya.


Dia pernah merasakan hal yang persis sama saat berada di Pasar Luoxing, ingatannya begitu jelas, bahkan sekarang, sekadar mengingatnya saja sudah membuat perutnya mual karena ketakutan.


“Tuan Kulit Anjing,” kata Dave dengan ekspresi yang seolah berkata, " Aku tahu persis apa yang Anda rasakan. Katakan padaku, karma buruk apa yang telah kita perbuat sampai harus mengalami hal seperti ini?”


“Apakah orang tua bangka itu benar-benar ada di dekat sini?” suara Kulit Anjing terdengar goyah. 


“Sulit dikatakan,” jawab Dave sambil menggelengkan kepala. “Tapi kenyataannya, kita terus diburu olehnya sampai ketakutan setengah mati. Lihat saja kondisi kita... kita sudah menempuh perjalanan jauh dari pedalaman alam liar, dan tidak ada satu pun tempat untuk bersembunyi.”


Dia menghela napas. “Kita memang sedang sial.”


Kulit Anjing menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah empat orang yang berdiri di belakangnya.


Keempat orang itu tampak kurus kering dan kurang gizi.


Mereka mengenakan pakaian sederhana dan polos, membawa pedang panjang serta kantong obat, benar-benar terlihat seperti sekumpulan anjing liar yang terpaksa berlarian dan bersembunyi dari pengejarnya.


Sisa kecurigaan terakhir di benak Kulit Anjing pun lenyap seketika.


Dia bahkan merasa sedikit iba pada mereka. Dikejar-kejar seperti ini oleh monster kuno seorang Raja Abadi Tingkat Kelima, tentu bukanlah cobaan yang ringan.


“Baiklah, baiklah,” ujarnya sambil melambaikan tangan seolah mengabaikan masalah itu. “Aku tidak akan mempermasalahkannya.”


“Terima kasih, Tuan Kulit Anjing!” Dave membungkuk sekali lagi.


“Akan tetapi...”


“Ada 'akan tetapi' lagi?”


Kulit Anjing menyipitkan matanya. “Kalian mau pergi ke mana?”


“Kota Tianyuan,” jawab Dave.


“Kota Tianyuan?”


“Ya,” kata Dave dengan ekspresi yang tampak sangat tulus. "Kami berharap bisa masuk ke kota untuk berdagang dalam skala kecil dan bersembunyi sejenak. Begitu amarah orang tua itu mereda, kami akan kembali."


Kulit Anjing bergumam "oh," lalu mengelus dagunya sembari mengamati Dave dari atas sampai bawah.


"Apa kalian punya surat keterangan domisili?"


"Tidak ada."


"Apa kalian punya surat izin perjalanan?"


"Tidak ada."


"Apa kalian punya dokumen resmi dari Prefektur Jurang Dewa?"


"Sama sekali tidak ada."


Setiap kali Dave menjawab "tidak," secercah rasa simpati yang sempat muncul di wajah Kulit Anjing pun lenyap seketika.


Akhirnya, ekspresinya berubah menjadi tegas.


" Hah... Kalian tidak punya apa-apa... lalu bagaimana caranya kalian bisa masuk ke kota?"


Kota Tianyuan adalah benteng utama Prefektur Shenyuan; apa dia pikir sembarang pengembara bisa begitu saja melenggang masuk?


Dave, yang sudah mengantisipasi hal ini, segera merogoh jubahnya lagi.


Kali ini, bukan batu spiritual yang ia keluarkan, melainkan sebuah botol giok kecil. 


"Tuan Kulit Anjing."


"Apa lagi ini?"


"Sebuah eliksir." Dave menyerahkan botol giok tersebut. "Dibuat langsung oleh Yasmeen. Ini adalah 'Pil Pengumpul Qi', mungkin bisa sedikit berguna bagi seorang kultivator di tingkat Raja Abadi."


Di belakangnya, Yasmeen bergumam pelan "mm" sambil menundukkan kepala.


Kulit Anjing menerima botol itu, membuka tutupnya, lalu mengendus isinya. Matanya langsung berbinar.


Eliksir itu kaya akan energi spiritual dengan aroma yang sangat murni—jelas bukan barang rongsokan yang dibuat untuk menipu orang.


Ia melirik ke arah Yasmeen; gadis itu mungkin masih sangat muda, tetapi ia benar-benar memiliki bakat dalam alkimia.


"Baiklah kalau begitu." Ia menyelipkan botol itu ke dalam jubahnya. "Kurasa aku akan berbaik hati pada kalian."


"Terima kasih, Tuan Kulit Anjing!" 


"Kebetulan sekali," tambah Kulit Anjing, "hari ini aku juga akan kembali ke Kota Shenyuan."


Dave terkekeh dalam hati, umpannya telah dimakan.


"Benarkah?" tanyanya, berpura-pura terkejut dengan senang.


"Untuk apa aku berbohong padamu?" dengus Kulit Anjing. "Aku ini diakon pemungut pajak untuk Prefektur Jurang Dewa; aku hanya akan kembali untuk melapor, kebetulan searah."


"Wah, kebetulan sekali!" Dave menepuk pahanya sendiri. "Tuan Kulit Anjing, jika Anda bisa membawa kami masuk ke dalam kota, Anda benar-benar telah menyelamatkan seluruh keluarga kami!"


Nada bicaranya begitu antusias, jauh lebih penuh kasih sayang daripada saat menyapa ayahnya sendiri.


Kulit Anjing merasa sangat puas.


Di dalam Prefektur Jurang Dewa, ia hanyalah seorang diakon tingkat Raja Abadi peringkat dua. Dengan Penguasa Prefektur, para tetua, dan para inspektur yang selalu memandangnya rendah, biasanya dengan penuh penghinaan, perlakuan saat ini terasa seperti perubahan yang menyegarkan.


Di hadapannya kini ada seorang kultivator lepas tingkat Penguasa Dewa Abadi peringkat empat, yang terus-menerus memanggilnya "Tuan Kulit Anjing", rasanya begitu nikmat hingga membuat sekujur tubuhnya merinding karena senang.


Menyenangkan... sungguh menyenangkan. 


"Sudahlah," ujarnya sambil melambaikan tangan. "Jangan berdiri terus di sini. Cepat naik ke kereta."


"Naik?"


"Ke keretaku," jawab Kulit Anjing. "Memangnya butuh berapa lama kalian sampai ke sana kalau berjalan kaki, sampai kiamat tiba? Kebetulan aku mau ke sana, jadi aku memberi tumpangan kepada kalian."


"Oh, Tuan Kulit Anjing! Anda benar-benar seorang bodhisattva yang hidup!"


Seruan Dave begitu memalukan sampai-sampai membuat gigi Yasmeen terasa ngilu.


Ia mencubit Wanda dari belakang; Wanda tetap tanpa ekspresi, hanya menepuk tangan Yasmeen sebagai tanggapan.


Mereka berlima pun naik ke dalam kereta.


Kereta itu cukup luas, Kulit Anjing duduk di bagian depan, sementara Dave dan empat orang lainnya menempati bagian belakang. 


Kereta itu melaju dengan suara gemuruh, dipimpin oleh dua prajurit berkuda, dengan tujuh atau delapan pengawal mengikuti di belakangnya, sebuah rombongan yang cukup mengesankan.


Bersambung....



Ucapan Terima Kasih 







Buat rekan sultan Taois " Albert Devidson & Dikwan Septiawan " yang selalu mendukung & mentraktir mimin, mimin mau ngucapin terimakasih buat traktiran nya...🙏☺️🙏


Alhamdulillah bisa beli paket internet dan seblak lagi 😁


Semoga semakin panjang, kokoh dan besar segalanya dan berkah selalu 


Lanjut icikiwir.. 😁🏃


#Salam_kultivasi_ganda 🙏🙏







Saturday, 31 October 2026

Perintah Kaisar Naga : 7239 - 7242

Perintah Kaisar Naga. Bab 7239-7242






"Saudara Chen... Saudara Chen."


Tenggorokan Markus Yan terasa sedikit kering. "Ini...ini baru sedikit lebih dari sebulan, kan? Apa...apa yang mereka lakukan..."


"Hehehe..., aku sudah berada di menara ini selama sepuluh tahun."


Dave melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh, "Perbedaan waktu, kau tahu."


" What... Sepuluh...sepuluh tahun?!" Suara Markus Yan berubah.


Dia menatap keempat wanita itu, lalu ke Dave, bibirnya bergerak lama, dan akhirnya dia berhasil tergagap, "Saudara Chen, bagaimana kau bisa melakukan itu?"


"Sederhana," Dave menyeringai. "Kultivasi ganda."


Yun Yan: "...😲..."


Dia memandang keempat wanita yang berdiri rapi dan anggun, lalu menatap ekspresi datar Dave 


Tiba-tiba aku merasa bahwa seluruh seribu tahun pengabdianku telah sia-sia.


Membandingkan diri sendiri dengan orang lain sungguh menjengkelkan.


"Ngomong-ngomong, Kakak Yun."


Seolah teringat sesuatu, Dave mengeluarkan setumpuk kertas giok dari cincin penyimpanannya dan melempar kannya ke Yun Yan. "Ini adalah beberapa wawasan kultivasi yang telah saya kumpulkan secara acak selama sepuluh tahun terakhir, beserta beberapa formula pil."


"Ambil ini dan tunjukkan kepada anggota keluarga Yun; ini mungkin berguna." Markus Yan buru-buru menangkap tumpukan kertas giok itu, dan pupil matanya menyempit saat dia memindainya dengan indra ilahinya.


 Salah satu dari lempengan giok itu adalah harta karun yang bahkan tidak bisa Anda bayangkan untuk mendapatkannya di tempat lain.


"Saudara Chen, ini...ini terlalu berharga..."


"Apa yang begitu berharga dari itu?" Dave melambaikan tangannya, "Anda telah memberi saya begitu banyak sumber daya, saya harus memberi Anda sesuatu sebagai imbalannya."


" Selain itu, jika keluarga Yun tetap tinggal di Kota Luoyun, itu akan memberi saya tempat tinggal ketika saya kembali.."


Markus Yan memegang setumpuk lembaran giok itu, tangannya gemetar.


la tiba-tiba menyadari bahwa memberikan aset keluarga Ling dan Sekte Canglan kepada Chen Ping adalah kesepakatan paling menguntungkan yang pernah ia buat dalam hidupnya.


"Saudara Chen."


Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku tahu kau akan pergi ke Surga ke-29. Ke luarga Yun-ku tidak bisa banyak membantu di sana."


Namun, Kota Luoyun akan selalu menjadi rencana cadanganmu. Selama kau kembali, seluruh keluarga Yun akan menyambutmu kembali dengan tangan terbuka.


"Tidak masalah." Dave menepuk bahunya.


Markus Yan mundur dengan bijaksana. Malam itu, mereka berlima tidak tidur lebih awal lagi.


Di atas meja batu di halaman, Yasmeen meletakkan beberapa piring kecil, yang semuanya ini adalah hidangan-hidangan baru yang telah saya kembangkan selama sepuluh tahun terakhir.


Anggur beralkohol itu hangat di dalam panci, cahaya bulan turun, menciptakan bayangan panjang dari kelima orang tersebut.


Dave mengambil mangkuk anggurnya dan melirik keempat orang di sekitarnya. "Ayo, kita minum."


 Empat orang itu juga mengambil mangkuk itu dan dengan lembut meminumnya 


Dave terdiam sejenak.


Anggurnya enak, makanannya enak, tapi sebenarnya tidak ada yang makan apa pun.


Saatnya meninggalkan Surga ke-28.


Dave berjuang dari bawah hingga mencapai posisi ini.


Wanda dibesarkan di sini. "Apa yang kau pikirkan?" Chen Ping melirik Wanda.


"Aku sedang memikirkan ayahku." Wanda  berkata pelan, "Jika dia melihat bahwa aku sekarang adalah Raja Abadi tingkat tiga, dia mungkin akan terkejut sampai mati.."


"Mari kita temui dia nanti kalau ada waktu," kata Dave 


Wanda mengangguk, matanya sedikit memerah.


Agnes menyesap anggur dan tiba-tiba bertanya, "Dave apakah Surga ke-29 benar-benar berbahaya seperti yang kau katakan?"


" Yaa... berbahaya..."


Dave terkekeh, "Ini lebih dari sepuluh kali lebih berbahaya daripada Surga Kedua Puluh Delapan. Kekosongan itu.. Monster itu... Dia telah mencapai peringkat keenam Raja Abadi. Jika pertarungan sesungguhnya terjadi, bahkan aku pun harus berpikir dua kali.."


Ke empatnya, ekspresi wajah untuk menghadapi semuanya itu telah berubah.


 "Takut...?" Chen Ping mengangkat alis


"Apa yang perlu ditakutkan?" kata Agnes dengan tenang. "Saat kau masih menjadi Dewa Abadi tingkat empat, kau berani menantang Raja Abadi tingkat tiga. "


" Saat ini, aku adalah Raja Abadi tingkat dua, apakah aku masih bisa menahan mu..? tidak kan...? "


"Itulah yang saya ingin dengarkan, hehehe..." Dave tertawa terbahak-bahak dan meneguk minumannya dalam sekali teguk 


Lana meletakkan mangkuk anggurnya dan berkata pelan, " Dave.. izinkan aku bertanya sesuatu yang jujur. Kau telah memberikan semua sumber daya kepada kami selama sepuluh tahun terakhir, namun kau masih hanya seorang Dewa Abadi tingkat empat."


" Setelah mencapai surga ke dua puluh sembilan, kau benar-benar bertemu dengan makhluk buas itu...


" Lana..."

Chen Ping menyela perkataannya s ambil melambaikan tangan, "Apakah menurutmu aku berada dalam posisi yang kurang menguntungkan..? "


Keempat wanita itu tidak mengatakan apa pun, tetapi tatapan mata mereka dengan jelas menyampaikan makna tersebut.


Dave tertawa kecil: " Hehehe.... Kalian semua benar-benar berpikiran sempit. Kemampuan saya tidak pernah diasah dengan ramuan."


" Kalian berempat adalah wanita-wanitaku. Kekuatan kalian adalah kekuatanku. Gabungan kekuatan kalian berempat berkali-kali lipat lebih besar daripada kekuatanku saat bertarung sendirian.."


Dia berhenti sejenak, lalu melirik sekeliling: "Lagipula, ketika Asal Kekacauan saya benar-benar perlu muncul, yang saya butuhkan bukanlah pil-pil itu."


" Yang kurang adalah kesempatan. Ketika kesempatan itu datang, aku akan dengan mudah meraihnya. Apa nya yang harus terburu-buru..?


Yasmeen menggigit bibirnya dan tiba-tiba berkata, " Kakak Dave, jika kita benar-benar menghadapi bahaya saat mencapai Surga ke-29, kau tidak bisa menanggungnya sendirian."


"Okey...."

Dave mengusap kepalanya dan berkata, "Kalau begitu, kita berlima akan pergi bersama."


Di bawah sinar bulan, bayangan kelima orang itu saling tumpang tindih, dengan tenang.


Hanya mereka berlima yang tersisa di halaman.


Dave mendongak ke langit, hamparan abu-abu yang merupakan milik Surga ke-28.


Dia tahu bahwa begitu dia melewati lapisan surga ini, dia akan mencapai surga ke-29.


" Apakah semuanya sudah siap..?" Dia menoleh untuk melihat keempatnya


"Siap," kata Lana pelan. "Aku bisa pergi kapan saja." 


Agnes menekan tangannya pada gagang pedangnya.


"Kakak Dave ..." Yasmeen melambaikan kantung obat di tangannya, "Aku sudah menyiapkan semua pilnya; akan siap di perjalanan."


Wanda tidak berbicara, tetapi berjalan menghampiri Dave. Dia dengan lembut memegang lengannya.


Dave melihat mereka, dia tersenyum.


Pagi berikutnya.


Di pintu masuk vila, Markus Yan telah menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan.


Ini bukan kereta kuda atau kuda.


Para kultivator tidak bergantung pada hal itu untuk memulai perjalanan mereka.


Markus Yan menyiapkan sekantong makanan khas lokal dari Kota Luoyun, dua guci anggur roh yang disegel selama seratus tahun, sekantong teh roh kering, dan sekotak sayuran roh yang konon diasinkan oleh ibunya.


"Kakak Chen, minumlah sekalian di jalan." Markus Yan menyerahkan tas itu, tangannya sedikit gemetar.


Dave mengambilnya, menimbangnya di tangannya, dan... " Apakah kau takut padaku? Meninggal di perjalanan?


"Surga ke-29 tidak seperti tempat ini "' Markus Yan dengan suara rendah, dia berkata, "Saya sudah menanyakan tentang itu, dan barang-barang di sana... harga nya sangat mahal."


"Oke, saya mengerti." Dave tidak bertele-tele.


Dia tahu bahwa yang paling diinginkan Markus Yan saat ini bukanlah penolakan darinya, melainkan penerimaannya dengan sukarela.


Markus Yan mundur selangkah. Dia membungkuk dalam-dalam, jubahnya berk ibar.


Penghormatan kali ini jauh lebih mendalam daripada yang dilakukan tadi malam.


"Jaga diri baik-baik, Kakak Chen."


"Baiklah." Dave mengangguk. "Keluarga Yun harus mengawasi rumah mereka dengan ketat. Jika anak-anak nakal dari Sekte Canglan itu berani menunjukkan muka mereka lagi, kau... Remukkan slip giok yang kutinggalkan untukmu.."


" Dimengerti." Markus memahami nya 


Dave tidak berkata apa-apa lagi dan berbalik pergi


Wanda memegang lengannya, Agnes menggenggam pedangnya, Lana menyingsingkan lengan bajunya, dan Yasmeen menyandang kantung obat di bahunya


" Sudah siap..."


Lima Jalur Perjalanan, Benda itu muncul dari tanah.


Markus Yan berdiri di ambang pintu, menjulurkan lehernya untuk melihat kelima jalan tersebut. Mereka naik semakin tinggi


Semakin kecil ukurannya, semakin cepat mereka menghilang, seperti lima kerikil yang diluncurkan ke langit.


Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama.


Pelayan tua di sebelahnya bertanya dengan suara rendah: " Tuan, apakah kita... benar-benar akan membiarkan Rekan Taois Chen pergi begitu saja?"


" Apa lagi yang bisa kita lakukan selain dia pergi..? "


Markus Yan mengalihkan pandangannya. Dia menghela napas, "Itulah cara mereka melakukan sesuatu. Keluarga Yun kami tidak cukup berpengaruh untuk mempertahankan mereka."


Dia berbalik. Dia berjalan kembali, mengambil dua langkah, lalu berhenti dan melihat kembali ke area yang masih gelap di langit.


"Awasi gerbang itu dengan saksama," katanya. "Jika Saudara Chen kembali, Kota Luoyun ini akan tetap menjadi miliknya."


……


Saat ini, Dave dan keempat rekannya sedang menembus awan dan kabut, terus membubung tinggi.


Mereka sudah sangat familier dengan langit di Surga ke-28.


Semakin tinggi mereka mendaki, semakin tebal pula penghalang yang ada. 


Dulu, untuk menembus batasan semacam itu, diperlukan kekuatan setara pukulan yang mampu membelah gunung , seseorang harus menabraknya secara langsung, hingga merasa pening dan kehilangan arah, hanya demi bisa membuka jalan.


Namun, kali ini situasinya berbeda.


Dave memimpin di depan.


Ia mengangkat tangannya, lalu aura berwarna kelabu keemasan, manifestasi dari Dao mengalir dari ujung jemarinya bagaikan air, menyelimuti mereka berlima.


Di mana pun aura itu menyentuh, batasan kelabu yang samar di depan mereka pun tersingkap, seolah didorong oleh tangan yang tak terlihat, hingga menampakkan sebuah celah sempit.


"Tetaplah berdekatan," ujar Dave tanpa menoleh ke belakang.


Keempat wanita itu mengikuti dengan rapat di belakangnya.


Ini adalah kali pertama bagi Wanda melewati batasan semacam itu; 


Ia mencengkeram lengan baju Dave, menunjukkan rasa gugupnya.


Di balik batasan tersebut, pemandangan yang tersaji sungguh berbeda.


Bukan kehampaan kosong seperti yang mungkin dibayangkan orang.


Dave mengerutkan kening.


Ia bisa merasakan bahwa ‘dinding’ tebal yang mengelilingi mereka dipenuhi oleh guratan-guratan rumit.


Itu bukanlah pola alami yang memang ada pada batasan tersebut, melainkan ukiran buatan manusia, garis-garis padat yang saling tumpang tindih, menyerupai retakan pada dinding rumah tua, atau mungkin akar tanaman rambat yang menjalar di sepanjang permukaan penghalang itu.


Siapa yang mungkin memasang sebuah formasi di tengah kehampaan ini?


"Formasi Pengunci Surgawi Pola Dewa."


Suara Lana terdengar nyaris seperti bisikan.


Sebagai seseorang yang berasal dari Istana Surgawi Segudang Hukum, ia pernah menjumpai diagram formasi semacam ini sebelumnya.


"Versi yang disederhanakan," Dave mengangguk.


Ia pun sampai pada kesimpulan yang sama.


Formasi ini ternyata tidak dirancang untuk menghalangi jalan. 


Jika tujuannya benar-benar untuk menghalangi, situasinya akan sangat berbeda, batas tersebut akan disegel begitu rapat hingga seorang Raja Abadi pun akan dibuat kebingungan dan frustrasi.


Dalam kondisi seperti itu, tidak akan ada seorang pun yang mampu mencapai Surga ke-29.


Formasi ini tidak dipasang untuk menghentikan siapa pun; melainkan untuk mengawasi.


Setiap tanda yang terukir menyerupai mata yang setengah terbuka. 


Begitu mereka berlima melintasi dinding pembatas, pola-pola yang terukir di sana berpendar dengan cahaya keemasan yang samar.


Cahaya itu berputar mengelilingi kelompok tersebut, seolah sedang mengendus udara untuk menangkap jejak aroma mereka.


"Formasi ini merekam aura kita," 


Agnes berkata dengan alis berkerut, tangannya bertumpu pada gagang pedangnya.


"Hmm," sahut Dave.


Ia tidak terburu-buru untuk melanjutkan perjalanan.


Sembari berhenti di tengah dinding pembatas, ia memejamkan matanya.


Resonansi Dao berwarna kelabu keemasan muncul dari dalam dirinya.


Alih-alih memancar keluar, energi itu justru meresap ke dalam, melapisi permukaan kulit, lapisan luar meridian, hingga tepian dantian mereka, seolah menyelimuti mereka dengan lapisan pelindung.


Lapisan itu terasa hangat.


Yasmeen, yang sebelumnya merasa cukup cemas, mendapati ketegangannya mereda saat kehangatan itu menyelimutinya.


"Aku telah mengubah aura yang kita pancarkan."


Dave membuka matanya lalu tersenyum. "Mulai saat ini, kita berlima hanyalah kultivator tingkat rendah dari alam bawah, namun dengan jejak aura khas dari Ras Dewa."


"Apakah maksudmu formasi ini adalah buatan Ras Dewa?" tanya Lana.


Dave mengangguk. "Ini formasi yang sederhana, sederhana, namun mustahil untuk dihancurkan. Meski begitu, aku berhasil mendeteksi sisa jejak Ras Dewa di dalamnya."


"Tampaknya seluruh Surga ke-29 telah jatuh ke dalam kekuasaan Ras Dewa."


"Mereka memasang formasi dan penghalang di kehampaan ini dengan satu tujuan: untuk memeriksa setiap kultivator yang hendak memasuki Surga ke-29."


"Apakah Ras Dewa benar-benar sehebat itu?" Yasmeen mengerjapkan matanya.


"Yah, bukan hanya Ras Dewa itu sendiri yang kuat; banyak kultivator yang tadinya sudah hebat justru meninggalkan Dao yang mereka pelajari sebelumnya, lalu beralih menggunakan teknik-teknik milik Ras Dewa." 


"Ingatlah ini: semakin tinggi serta mulia status dan semakin besar kekuatan seseorang, semakin besar pula kemungkinan mereka menjadi pengkhianat," ujar Dave.


"Sepertinya kita harus ekstra hati-hati di Surga ke-29," 


Agnes berkata. "Lagipula, dendam antara Dave dan Ras Dewa jauh lebih dalam daripada sekadar permusuhan akibat pembunuhan orang tua." 


"Sedalam itu?" 


Wanda bertanya dengan nada terkejut. "Bukankah sebelumnya kamu bilang tidak ada permusuhan mendalam antara dirimu dan Ras Dewa?"


"Memang tidak ada permusuhan yang mendalam dalam artian itu, tetapi sejak masih berada di dunia fana, aku sudah sering melenyapkan antek-antek Ras Dewa." 


"Aku benar-benar tidak tahan dengan sikap mereka yang sok suci dan merasa paling mulia. Selain itu, ada seorang temanku yang ditahan oleh Ras Dewa di dalam kehampaan ini." Dave menjelaskan kepada Wanda.


"Kalau begitu, kamu benar-benar harus berhati-hati!" Wanda mengangguk.


"Baiklah, ayo!"


... 


Dave memimpin di depan, melangkah melewati celah, sebuah retakan yang tercipta akibat resonansi Dao yang lebarnya cukup untuk dilalui lima orang secara berdampingan.


‘Mata’ yang terbentuk dari pola-pola ilahi di sekeliling kembali berpendar, menyapu ke arah kelompok itu. 


Kali ini, cahayanya tertahan sejenak, seolah sedang mengamati sesuatu dengan saksama.


Yasmeen menahan napas.


Cahaya itu menyapu wajahnya, lalu beralih ke Wanda, sebelum akhirnya tertuju pada Dave.


Cahaya itu terdiam selama sepersekian detik.


Ketegangan melanda batin Dave, meski ia tidak menunjukkannya sama sekali. 


Sebaliknya, ia sengaja membiarkan tubuhnya tampak santai dan membiarkan resonansi Dao menyelimutinya kini, ia memancarkan aura khas seorang pembudidaya lepas.


... 


Cahaya itu pun berlalu.


Pola-pola tersebut perlahan meredup.


Kelima orang itu melintasi dinding pembatas satu per satu.


Begitu melewati ambang batas, Yasmeen mendesis tajam.


Rasanya seolah-olah ia baru saja terjun ke dalam air.


Secara naluriah, ia mulai mengerahkan energinya untuk melawan, namun Dave menekan bahunya.


"Jangan bergerak, ikuti saja alurnya," ujar Dave.


Yasmeen membuka matanya.


Di bawah kakinya bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah lahan tandus yang luas dan sunyi.


Segala sesuatu di sana berwarna abu-abu kebiruan.


Langitnya pun berwarna abu-abu kebiruan  dan terbentang sangat tinggi.


Menengadah ke atas akan membuat leher terasa pegal karena ketegangan.


Langit itu menyerupai kuali raksasa yang terbalik, dengan tepian yang begitu jauh hingga tak terlihat oleh mata.


Tanah di bawah kakinya...


Terdengar bunyi gemeretak saat ia menginjaknya, seperti suara kerak kering yang hancur terinjak.


Yasmeen menunduk. 


Itu bukanlah tanah biasa, melainkan material berwarna abu-abu besi gelap yang dipenuhi serpihan kecil menyerupai perak.


"Itu adalah pecahan kristal suci," 


Lana berkata seraya berjongkok dan menjepit sedikit serpihan tersebut di antara jari-jarinya. "Energi spiritual di sini sangat padat, hampir seperti cairan."


Dia tidak salah.


Yasmeen menarik napas dalam-dalam.


Udaranya terasa manis yang menyengat -- sangat kontras dengan embusan energi spiritual yang segar dan jernih di Surga ke-28. 


Di sini, energi spiritualnya kental seperti bubur nasi; setiap kali ia menarik napas, energi itu melapisi tenggorokannya. 


Namun, energi yang manis dan mengalir ini tidak bergerak jauh sebelum terhalang oleh sesuatu.


Ini bukan sekadar gangguan pada aliran energi.


Ada sesuatu yang jauh lebih misterius -- seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menekan dantian seseorang. 


Tekanannya tidak berat, tetapi konstan, mencegah energi spiritual untuk tersebar dan menyatu sepenuhnya.


"Cuuih.."


Dave pun menarik napas, alisnya bertaut.


Dia bisa merasakannya.


Sesuatu di alam ini memberikan batasan.


"Sial, ada penekanan oleh hukum surgawi di sini. Kekuatanku terpangkas hingga tiga puluh persen lebih..."


Dave mengerutkan kening dan bertanya, "Wanda, Agnes, Lana, Yasmeen, bagaimana dengan kalian?"


Wanda terdiam sejenak, lalu berkata, " Lima puluh persen.."


Agnes, Lana, dan Yasmeen mengangguk bergantian.


Kekuatan mereka semua tersisa setengahnya.


Wajah Yasmeen langsung memucat. " Setengah...? Jika sampai terjadi pertarungan..."


"Apakah pertarungan akan terjadi atau tidak, itu soal lain."


Dave memotong perkataannya. "Ingat saja angka ini. Di tempat ini, kekuatan kalian saat ini hanya tersisa 50% persen dari kapasitas penuhnya. Jika pertempuran pecah, jangan terlalu percaya diri."


"Dave, bukankah kau memiliki 'Irama Dao Sejati Surgawi'? Tidak bisakah kau mengubah hukum langit di sini?" Tanya Agnes.


'Irama Dao Sejati Surgawi' milik Dave memiliki kekuatan untuk menulis ulang hukum-hukum surga. 


Mengingat seseorang telah dengan sengaja mengubah hukum surgawi di Surga ke-29, secara teori, Dave seharusnya mampu mengembalikannya seperti semula.


“Jangan dulu, jika aku melakukannya, pihak lawan akan menyadarinya. Kita belum tahu apa pun tentang tempat ini; jika keberadaan kita terungkap, itu akan menjadi masalah besar.”


“ Tempat ini adalah tempat turunnya para dewa. Ras Dewa telah menanamkan investasi yang sangat besar di tempat ini. Kita semua harus sangat berhati-hati.” Ujar Dave.


Keempat wanita itu mengangguk. 


Mereka tidak punya pilihan selain berhati-hati; 


Dengan kekuatan yang berkurang hingga separuhnya, pertarungan apa pun kemungkinan besar hanya akan membuat mereka babak belur.


“Ayo pergi.” 


Dave turun kembali ke tanah. “Mari kita cari seseorang penduduk setempat lalu menanyakan arah.”


.... 


Perjalanan itu berlangsung selama tiga hari.


Selama tiga hari tersebut, mereka tidak menjumpai satu jiwa pun di dataran tandus itu.


Tidak pula terlihat satu batang pohon pun.


Tanahnya hanya berupa hamparan tanah keras berwarna abu-abu, dengan gumpalan rumput layu yang menghitam tersebar di sana-sini.


Helai-helai rumput itu menyerupai lembaran besi; 


Setiap kali angin bertiup, rumput-rumput tersebut bergesekan dan menimbulkan bunyi gemerincing.


Pada hari pertama, Yasmeen yang masih penasaran sempat berjongkok untuk mencabut sebatang rumput namun, ujung rumput yang setajam silet itu justru mengiris ujung jarinya.


"Ssstt!!”


Secara refleks, ia membawa jarinya ke mulut.


Dave menoleh ke belakang, mengeluarkan botol porselen kecil dari kantong obatnya, lalu melemparkannya kepada Yasmeen. "Oleskan sendiri. Sudah kubilang, jangan sembarangan menyentuh apa pun di tempat seperti ini."


"Mana aku tahu kalau rumputnya bisa menggigit?" gumam Yasmeen.


Pada hari kedua, mereka menemukan sebuah kerangka.


Itu bukan kerangka manusia, melainkan milik seekor binatang buas berukuran raksasa. 


Sebagian kerangka itu terkubur di dalam tanah, dengan satu tulang kaki -- yang panjangnya lebih dari sepuluh kaki -- tersembul keluar, penuh dengan bekas cakaran.


Meskipun makhluk itu sudah mati sejak lama, tulang-tulangnya masih memancarkan cahaya samar yang ganjil.


Agnes berjongkok untuk memeriksa bekas cakaran tersebut, raut wajahnya berubah serius. "Binatang buas setingkat Raja Abadi."


"Di tempat seperti ini, binatang buas jauh lebih berharga daripada manusia," 


Dave berkata. "Mereka dilindungi oleh hukum Ras Dewa, bisa dibilang, mereka adalah anjing peliharaan Ras Dewa."


Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia terus melangkah maju.


.... 


Malam itu, mereka tidak berani menyalakan api.


Yasmeen mengeluarkan beberapa pil bigu (pil penahan lapar) dari kantong obat dan membagikannya kepada yang lain.


Mereka berlima duduk melingkar, berlindung di bawah tulang rusuk raksasa tersebut.


Tidak ada bulan di langit; 


Hanya segelintir bintang kelabu yang tampak berkelap-kelip di atas sana. 


Lana tiba-tiba bertanya dengan suara pelan, "Dave, katakan padaku... apakah tempat ini memang selalu seperti ini?"


"Seperti apa?" tanya Dave.


"Begitu sunyi…"


Lana menatap ke arah padang belantara yang gelap dan tandus. "Dan... begitu sepi, tanpa penghuni."


"Di mana pun Ras Dewa berdiam, pembudidaya lain hampir mustahil bisa bertahan hidup. Aku akan melenyapkan mereka semua dari Alam Surgawi." Dave mengertakkan gigi.


Tidak ada yang menjawab.


Yasmeen merapat ke sisinya, lalu menyandarkan kepala di bahu pria itu.


.... 


Pada petang hari ketiga, segumpal asap akhirnya terlihat di cakrawala.


Permukiman Luoxing (Bintang Jatuh) tidaklah besar.


Meski disebut ‘permukiman’, tempat itu hanya terdiri dari sekitar seratus rumah tangga -- sekumpulan hunian rendah yang dibangun dari batu dan tulang.


Tidak ada tembok kota; 


Sebagai gantinya, permukiman itu dikelilingi oleh deretan pancang kayu runcing, dengan ikatan rumput kering yang bergoyang tertiup angin.


Dua penjaga berdiri di pintu masuk, mengenakan pakaian compang-camping, sambil menggenggam bilah senjata yang sudah tumpul dan penuh takik.


Melihat kelima orang itu mendekat dari arah padang belantara, para penjaga langsung bersiaga.


Salah satu dari mereka secara refleks mengangkat senjatanya, sementara yang lain mundur setengah langkah dan berseru, "Berhenti! Siapa kalian?"


Dave pun berhenti.


Ia tidak melepaskan auranya, pun tidak mengungkapkan jati dirinya.


Ia hanya berdiri di sana, menampilkan sosok layaknya seorang pembudidaya pengembara yang sangat biasa.


"Kami hanya numpang lewat, sekadar mencari air untuk minum." serunya.


Kedua penjaga itu saling bertukar pandang.


Dilihat dari pakaian mereka, busana kain sederhana, pedang panjang, dan kantong obat, mereka tampak bukan berasal dari keluarga besar, ataupun antek-antek Ras Dewa.


Terlebih lagi, kondisi alas kaki mereka menunjukkan bahwa mereka telah menempuh perjalanan jauh dari pedalaman padang belantara.


Mereka tidak tampak seperti penipu.


Penjaga yang tampaknya memimpin di sana menurunkan pedangnya, meski tetap dalam posisi waspada. "'Pajak Dewa' baru saja dipungut; kami tidak punya kewajiban apa pun lagi."


"Kami ke sini bukan untuk memungut pajak," 


"Kami hanya ingin mencari secangkir teh." ujar Dave dengan senyum tipis.


Penjaga itu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menepi untuk memberi jalan. 


Saat mereka melewati para penjaga, salah seorang dari mereka merendahkan suaranya dan berkata, "Begitu masuk ke dalam, jangan berkeliaran sembarangan. Carilah kedai teh di ujung timur, pemiliknya bermarga Zhou. Sepoci teh harganya dua batu spiritual tingkat rendah."


"Terima kasih!" 

Jawab Dave seraya mengeluarkan sebuah batu spiritual tingkat tinggi dan menyerahkannya kepada penjaga tersebut.


Melihat ini, wajah sang penjaga langsung berseri dengan senyuman.


Dave terkekeh dalam hati; 


Alam Surgawi ternyata tidak jauh berbeda dengan dunia fana, bahkan para penjaga gerbang pun didorong oleh keserakahan.


Dave pun memimpin rombongannya masuk ke dalam.


... 


Permukiman Luoxing terasa sunyi dengan cara yang ganjil.


Bukan berarti tempat itu tidak berpenghuni.


Ada orang-orang di jalanan, tetapi mereka semua berjalan dengan kepala tertunduk, merapat ke dinding.


Kios-kios pedagang tampak berdiri, namun hampir tidak ada pembeli.


Seorang wanita tua duduk membungkuk di ambang pintunya, sedang memperbaiki jaring -- tetapi dari mana datangnya jaring ikan di tempat seperti ini?


Setelah diperhatikan lebih saksama, barulah terlihat jelas: itu bukan jaring ikan, melainkan ‘jaring jimat’ yang telah ditambal berkali-kali dirancang untuk menangkap serpihan kristal suci yang jatuh dari langit.


Yasmeen melirik sekilas ke arah jaring itu, namun tidak berkomentar apa pun.


Kios teh terletak di ujung timur.


Tempat itu hanya berupa naungan kain yang menaungi empat atau lima meja batu, yang masing-masing kehilangan satu kakinya.


Beberapa orang sudah duduk di bawah naungan tersebut dengan kepala tertunduk di atas cangkir teh mereka. 


Mereka memegang mangkuk teh, tetapi tidak ada satu pun yang berniat mendekatkannya ke bibir.


Pemilik kios adalah seorang pria tua berbadan kurus dengan janggut putih yang kusut, meski matanya tetap tajam dan jernih.


Melihat mereka berlima masuk, ia mengangkat kelopak matanya. "Minum Teh?"


"Ya," 

Dave berkata seraya meletakkan dua batu roh kualitas rendah di atas meja. "Satu teko."


Pria tua itu mengambil batu-batu tersebut lalu berbalik untuk menyiapkan teh.



Dave dan rekan-rekannya duduk di sebuah meja di sudut paling ujung.


Wanda duduk di sampingnya, Agnes duduk membelakangi dinding, sementara Lana dan Yasmeen duduk di sisi luar.


Teh pun disajikan.


Teh itu jelas bukan kualitas tinggi.


Isinya penuh dengan batang-batang kasar, berwarna kecokelatan, dan mengeluarkan aroma samar seperti tanah atau sesuatu yang berbau apak.


Namun, setelah menyesapnya sekali, mata Yasmeen berbinar.


" Hei... Ternyata, teh tersebut kaya akan energi spiritual.."


Bukan karena daun tehnya yang istimewa, melainkan karena air di tempat ini telah menyerap energi spiritual. 


Bahkan seduhan teh yang sederhana dan santai ini jauh lebih berkhasiat daripada teh energi spiritual standar yang biasa ditemukan di Surga ke-28.


"Minumlah pelan-pelan, jangan sampai terlihat mencolok." bisik Dave.


Yasmeen menjulurkan lidahnya dengan jenaka, lalu meletakkan mangkuknya.


Dave tidak terburu-buru melontarkan pertanyaan.


Ia memegang mangkuknya sendiri, menyeruput isinya dengan santai, sementara telinganya tetap tajam mendengarkan dengan saksama. 


Di meja dekat situ, tiga orang yang berpakaian layaknya kultivator pengembara sedang berbincang dengan suara pelan. 


Namun, sepelan apa pun suara mereka, semuanya tetap tertangkap oleh pendengaran Dave.


Seorang pria berjubah merah dikedai teh berkata, "Bulan ini, pungutan itu naik lagi." 


"Sst.. kecilkan suaramu." Jawab Pria disampingnya.


"Apa yang kau takutkan? Petugas 'Pajak Dewa' tidak pernah datang ke tempat Bos Zhou." Kata pria berjubah merah.


"Bulan lalu, keluarga Wang Tua... dia hanya bicara sedikit terlalu banyak di pasar. Seseorang dari Biro Pajak Dewa mendengarnya, lalu mereka langsung menyeret putranya pergi saat itu juga. Sampai sekarang, dia belum dibebaskan." Pria disampingnya menjelaskan dengan kekhawatiran di wajahnya.


"Memangnya dibawa ke mana?" tanya pria berjubah merah selanjutnya. 


"Ke mana lagi kalau bukan ke tambang di Prefektur Jurang Dewa? Mereka kekurangan tenaga kerja di sana." Temannya menjawab.


Pria itu meludah ke tanah. "Menggali sisa-sisa para dewa. Di tempat seperti itu, bahkan tidak sampai satu dari sepuluh orang yang bisa keluar dengan selamat."


Dave bahkan tidak berkedip; tangannya yang memegang cangkir teh tetap stabil tanpa gemetar sedikit pun.


Di meja lain, duduk seorang pembudidaya lanjut usia yang sedang minum sendirian dengan raut wajah muram.


Sembari minum, ia bergumam pada dirinya sendiri, "Tiga kali penarikan pungutan, dua batu spiritual, dan sekarang mereka menuntut 'pecahan dewa' pula... Dari mana aku harus mencari sisa-sisa itu untuk mereka? Di seluruh Pasar Luoxing ini, bahkan hingga radius seribu mil ke segala arah, setiap jengkal tanah yang bisa digali sudah lama dikuras habis..."


Wanitanya duduk di hadapannya dalam diam, terus mengisi ulang cangkir pria itu.


Barulah saat itu Dave angkat bicara.


Tanpa menoleh, ia memberi isyarat kepada pria tua yang mengelola kedai teh tersebut. 


"Bos Zhou?" 


Pria tua yang sedang mengelap meja itu mendongak. “Ada yang bisa ku bantu, rekan taois?”


“Tidak banyak,” 


Dave menjawab dengan senyum tipis, seraya menggeser sebuah batu roh kelas menengah ke atas meja. “Hanya ingin mengobrol.”


Batu roh kelas menengah itu berputar pelan di permukaan meja.


Mata pria tua itu menyipit.


Sebuah batu roh kelas menengah.


Ia tidak langsung mengambilnya; sebaliknya, ia melemparkan kain lap ke bahunya, lalu melangkah mendekat dan duduk di bangku kosong di hadapan Dave.


“Kau bukan berasal dari sekitar sini, kan, rekan taois?” tanya Bos Zhou.


“Baru saja tiba dari alam bawah.” Jawab Dave.


Ia tidak menyebutkan bahwa dirinya datang dari Surga ke-28, mengatakan hal semacam itu di tempat seperti ini sama saja dengan menuliskan kata ‘mangsa’ di dahinya sendiri.


" Oh.. Jadi, kau datang dari bawah," 


Pria tua itu mengangguk, seolah mengerti. "Dari Surga keberapa kau tiba?"


"Surga ke-28," jawab Dave santai. 


Angka itu berada di tengah-tengah, tidak mencolok dan tidak akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.


" Hmm... Surga ke-28..." 


Gumam pria tua itu. "Setahuku, kehidupan di Surga ke-28 tidak sekeras di sini."


"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Dave dengan rasa ingin tahu.


Pria tua itu melirik ke sekeliling.


Di luar gubuk, beberapa anak sedang mengejar seekor anjing kurus di kejauhan.


Meskipun pakaian mereka compang-camping, wajah anak-anak itu tampak bulat dan sehat, seolah mereka cukup makan.


Sambil merendahkan suaranya, pria tua itu berkata, "Orang asing, karena kau baru di sini, ada beberapa hal yang perlu kau ketahui, jika tidak, kau pasti akan sangat dirugikan."


"Silakan, lanjutkan." Jawab Dave.


"Tempat ini bernama Permukiman Luoxing. Di peta, lokasinya berada di Wilayah Selatan Surga ke-29, di dalam kawasan yang dikenal sebagai Domain Jurang Surgawi." 


"Domain Jurang Surgawi," 


Pria tua melanjutkan itu, "berada di bawah yurisdiksi Prefektur Jurang Dewa."


"Prefektur Jurang Dewa?" tanga Dave.


"Itu adalah prefektur di bawah naungan Istana Dewa."


Pria tua itu meludah ke tanah. "Kepala prefekturnya adalah Raja Abadi Tingkat Empat. Dia memiliki banyak sekali bawahan yang juga berada di ranah Raja Abadi. Jika mereka memutuskan untuk melenyapkan permukiman kecil seperti milik kita ini, mengirim satu tetua setingkat Raja Abadi saja sudah dianggap sebagai kehormatan besar bagi kita."


Dave hanya bergumam "hmm" tanpa berkata apa-apa.


"Dan di atas Prefektur Jurang Dewa ini, masih ada sosok lain."


Suara pria tua itu menjadi jauh lebih pelan. "Istana keliling milik Istana Dewa telah mengirim seorang Inspektur ke sini. Kabarnya, pejabat ini memiliki tingkat kultivasi Raja Abadi Tingkat Lima." 


Tangan Wanda yang memegang cangkir teh terhenti sejenak.


 Raja Abadi Tingkat Kelima.


Si Monster tua Xuanxu Orang tua aneh dari Xuanxu pernah menyebutkan bahwa entitas yang menjaga kehampaan tempat harta rahasia itu berada, kekuatannya hampir mencapai ambang batas Raja Abadi Tingkat Keenam.


Inspektur ini berada di tingkat yang sama dengan penjaga tersebut.


"Apakah Inspektur ini sering berkunjung?" tanya Dave. 


"Datang ke sini?"


" Hehehe...." Orang tua itu tertawa, suara yang terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan. "Dia tidak pernah menampakkan diri, bahkan tidak sekalipun sepanjang tahun. Istana regional Istana Dewa terletak di Kota Tianyuan, tiga ratus ribu mil jauhnya. Jika dia tidak datang, mungkin kita bisa hidup beberapa hari lebih lama."


"Bagaimana dengan pajaknya?" tanya Dave.


Orang tua itu berkata, "Prefektur Jurang Dewa memungut pajak setiap bulan. Selalu tepat waktu, pada hari pertama setiap bulan lunar." 


Dia mengangkat tiga jari. "Ada tiga jenis pungutan."


Dia mengacungkan satu jari. "Dua unit batu roh."


Kemudian, setelah jeda sejenak, dia mengangkat jari ketiga. "Dan, secara tidak menentu, pecahan sisa-sisa peninggalan dewa."


"Apa maksudmu dengan 'tidak menentu'?" tanya Dave kembali.


" Wah... wah... seperti di negeri Odni... semua kena pajak..." Wanda tiba-tiba angkat bicara.


Suaranya lembut, namun di tempat seperti ini, siapa pun yang berbicara adalah pemandangan yang langka.


Orang tua itu meliriknya, lalu beralih menatap Dave.


Melihat Dave tidak mencegahnya, dia menjawab, "Artinya, mereka datang memungut kapan pun mereka mau. Terakhir kali mereka datang adalah tiga bulan lalu, dan kabarnya mereka akan datang lagi pada akhir bulan ini."


"Dari mana kalian mendapatkan sisa-sisa peninggalan ini?" tanya Dave.


"Menggali," ucap orang tua itu dengan nada getir.


Dia menunjuk ke arah barat. "Lima ribu mil di sebelah barat permukiman ini terdapat sebuah medan perang kuno." 


"Itu adalah situs dari era primordial, tempat di mana Ras Dewa bertempur melawan musuh yang tidak diketahui. Terkadang, kamu bisa menemukan pecahan-pecahan yang tersebar di tanah." 


“Tapi tempat itu terkutuk; hukum dari Ras Dewa begitu pekat hingga terasa seolah bisa disentuh. Dari setiap sepuluh orang yang pergi ke sana, hanya tiga yang berhasil kembali.”


Dia terdiam sejenak. “Bulan lalu, dua pemuda dari keluarga Chen pergi ke sana. Yang lebih tua tidak pernah kembali. Yang lebih muda berhasil pulang, tetapi dia kehilangan satu lengannya.”


Keheningan menyelimuti meja itu.


Embusan angin bertiup masuk ke dalam gubuk, membuat deretan rumput kering berderik.


Dave menggeser batu roh kelas menengah itu melintasi meja.


Kali ini, lelaki tua itu tidak berbasa-basi; dia langsung menerimanya.


Dia bangkit berdiri, namun sebelum beranjak, dia menoleh ke arah Dave. “Satu nasihat untukmu, orang asing.”


“Katakanlah.” Kata Dave.


“Melihat kalian berlima… jelas sekali bahwa kalian bukanlah tipe orang yang menghabiskan seluruh hidup dengan bersusah payah mencari penghidupan di tempat seperti ini.”


Orang tua itu berkata, "Jika kalian punya jalan keluar, pergilah selagi masih bisa. Surga ke-29 bukanlah tempat bagi pembudidaya lepas seperti kalian, orang luar yang baru saja tiba."


"Memangnya kenapa?" tanya Dave kembali.


"Bulan depan, Penagih Pajak Dewa akan datang untuk memeriksa registrasi penduduk bagi semua pendatang baru."


Orang tua itu melanjutkan, "Jika kalian tidak punya registrasi dan tertangkap, nasib kalian akan sama seperti pemuda dari keluarga Chen, diseret paksa ke tambang."


Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan mundur ke balik kedai tehnya.


Keheningan menyelimuti meja mereka.


Yasmeen berbisik, "Kakak Dave, apakah kita... memiliki registrasi penduduk?"


"Tidak punya," jawab Dave.


"Kalau begitu..." tanya Yasmeen dengan nada khawatir.


"Registrasi penduduk itu untuk orang-orang yang penurut dan taat hukum," 


Dave berkata seraya mengangkat cangkir tehnya dan menghabiskan sisa teh dingin di dalamnya. "Dan kita ini bukan tipe orang yang penurut."


Agnes mengangkat alisnya. "Apa kau berencana menerobos masuk dengan paksa?"


"Menerobos apa?" 


Dave meliriknya. "Hanya orang bodoh yang mencoba menerobos masuk tepat saat baru tiba."


Ia berdiri dan menatap keempat wanita itu. "Mari kita cari tempat tinggal dulu. Karena Pasar Luoxing sedang memeriksa registrasi, kita harus mencari cara untuk mendapatkannya."


"Bagaimana caranya?" tanya Lana.


Dave menyunggingkan senyum.


"Orang seperti Bos Zhou sudah tinggal di pasar ini selama puluhan tahun. Dia tahu jauh lebih banyak daripada yang ia tunjukkan." Saat berbicara, ia melirik ke arah bagian belakang kedai teh.


Orang tua itu membelakangi mereka.


Namun, Dave menyadari bahwa satu lipatan kain di punggung orang tua itu tetap diam tak bergerak sejak tadi.


Dia mendengar percakapan mereka.


Dia terus mendengarkan dengan saksama sepanjang waktu.


Dave mengalihkan pandangan, memilih untuk tidak menegurnya. "Ayo. Saatnya mencari tempat untuk menetap."


Kelima orang itu bangkit dan melangkah lebih dalam ke arah pasar.


...... 


Matahari telah terbenam di balik padang gurun yang sunyi.


Langit berubah dari warna biru keabu-abuan menjadi kelabu gelap, menyerupai warna besi.


Di Pasar Luoxing, penduduk mulai menyalakan lampu, bukan lampu bertenaga energi spiritual, melainkan lampu minyak sederhana yang memancarkan cahaya redup kekuningan.


Yasmeen menoleh sekali lagi ke arah kedai teh. 


Pria tua yang kurus kering itu masih berdiri di bawah naungan atap kedai, menutupi matanya dengan tangan sembari memperhatikan kepergian mereka berlima.


Jantung Yasmeen berdegup kencang.


Ia mencondongkan tubuh ke arah Dave dan berbisik, "Kakak Dave, Bos Zhou itu..."


"Aku tahu."


Dave memotong ucapannya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Di tempat seperti ini, siapa pun yang bersedia bicara sebanyak itu kepada kita di kedai teh pinggir jalan, jelas bukan orang sembarangan."


"Kalau begitu, dia..." tanya Yasmeen kaget.


"Dia tidak sedang membantu kita, dia sedang bertaruh." ujar Dave. 


"Bertaruh untuk apa?"  tanya Yasmeen kembali.


Dave meliriknya sekilas, namun tidak menjawab.


Ia menengadah, menatap langit yang kian menggelap di atas Pasar Luoxing. "Bertaruh bahwa kita adalah tipe orang yang mampu menjungkirbalikkan tempat ini jadi kacau balau.."


….. 


@ Pasar Luoxing


Tempat tinggal di Pasar Luoxing berada jauh di luar jangkauan orang luar seperti mereka.


Beberapa rumah batu yang layak di pusat pasar semuanya dikuasai oleh penduduk lama, mereka tidak menyewakan ataupun menjualnya.


Dave memimpin keempat rekannya menuju tepi permukiman. 


Setelah berjalan hampir satu jam, ia memilih sebuah gubuk pemburu yang sudah ditinggalkan di pinggiran padang gurun.


Menyebutnya sebagai ‘gubuk pemburu’ mungkin terlalu berlebihan; 


Kenyataannya, bangunan itu tak lebih dari dinding batu yang hampir runtuh, ditopang oleh beberapa kerangka kayu, dan ditutupi oleh kulit binatang yang sudah usang serta koyak. 


Pintunya sudah lama hilang, menyisakan sebuah lubang menganga yang gelap gulita.


Lantainya tertutup lapisan kotoran hewan yang sudah kering. 


Di salah satu sudut, terdapat sarang laba-laba; 


Di tengahnya, seekor laba-laba hitam seukuran telapak tangan manusia sedang berdiam , matanya berpendar merah terang yang menusuk. 


Makhluk itu bahkan tidak lari saat melihat mereka.


Yasmeen menghentikan langkahnya.


"Kakak Dave..." 

Suaranya bergetar, "Apakah manusia benar-benar layak bisa tinggal di sini?"


"Kenapa tidak?"


Dave menundukkan kepala untuk masuk, lalu menepis debu dari tangannya. "Ini jauh lebih baik daripada meringkuk di bawah tumpukan tulang belulang di tengah alam liar. Setidaknya, tempat ini punya atap."


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️












Perintah Kaisar Naga : 7236 - 7238

Perintah Kaisar Naga. Bab 7236-7238





Sehari setelah kejatuhan keluarga Ling, saat asap pertempuran masih menyelimuti Kota Luoyun, Markus, didampingi oleh sekelompok tetua dari keluarga Yun  menggeledah habis markas keluarga Ling.

 

Setiap gudang, brankas pribadi, dan ruang rahasia di kediaman utama keluarga Ling dibongkar paksa.

 

Markus tidak menyisakan apa pun; semuanya dimuat ke atas kereta dan diangkut ke salah satu properti milik keluarga Yun.

 

Batu roh bermutu tinggi yang digali dari urat nadi roh, tanaman obat berusia sepuluh ribu tahun yang menumpuk di gudang, slip giok berisi teknik kultivasi yang disembunyikan di ruang rahasia, serta berbagai harta langka yang dikumpulkan keluarga Ling selama berabad-abad, semuanya dibawa ke halaman dan ditumpuk hingga menyerupai gunung-gunung kecil.

 

Situasi di Sekte Canglan pun tidak jauh berbeda.

 

Setelah melarikan diri kembali ke gerbang gunungnya bersama sisa-sisa pasukannya, sang Ketua Sekte bahkan tidak berani melangkah keluar dari aula utama.

 

Ia justru dengan panik mendata aset sekte yang tersisa, diliputi ketakutan kalau-kalau Dave tiba-tiba datang mengetuk pintunya.

 

Namun, ia melarikan diri dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat menutup gudang samping di balik gerbang gunung. 


Markus, yang melihat kesempatan itu, segera mengambil seluruh isinya.

 

.... 


"Saudara Chen."

 

Sambil menyeka keringat di dahinya dan menggosokkan kedua tangannya, Markus memasang senyum penuh harap. "Secara teknis, barang-barang ini seharusnya menjadi milik keluarga Yun."


"Tetapi seperti yang kau lihat, dengan banyaknya anggota lanjut usia dan anak-anak di keluarga kami, kami tidak akan mampu menjaga harta sebanyak ini. Daripada membiarkannya berdebu di gudang, lebih baik aku serahkan semuanya kepadamu."

 

Dave menatap halaman yang dipenuhi peti-peti tersebut.

 

Matanya sedikit menyipit, namun ia tidak langsung menjawab.

 

"Saudara Chen, mohon jangan menganggap jumlah ini terlalu sedikit."

 

Markus mulai merasa cemas. "Aku juga telah menyusun daftar hasil panen dari lahan-lahan spiritual yang dikumpulkan keluarga Yun selama bertahun-tahun; sebentar lagi aku akan meminta juru tulis untuk membawakan surat-surat kepemilikannya ke sini. Anggap saja ini sebagai tanda ketulusan kecil dari keluarga Yun."

 

" Hehehe.... Dasar bocah nakal..."

 

Dave menepuk bahunya, tertawa seraya menegur, "Sejak kapan kau belajar melakukan hal seperti ini? Baiklah, aku terima pemberianmu. Tapi..."

 

Nada suaranya berubah. "Bawa kembali surat-surat kepemilikan itu. Tidak mudah bagi keluarga Yun untuk membangun pijakan yang kokoh di Kota Luoyun -- jangan sampai kau mengosongkan seluruh fondasimu sendiri.” 


“Yang ku butuhkan adalah sumber daya untuk berkultivasi, bukan beberapa hektar lahan spiritual milikmu."

 

Markus membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu lagi, namun Dave melambaikan tangannya dengan isyarat menolak: "Sudah diputuskan."

 

Markus menatapnya, matanya berkaca-kaca karena haru, lalu membungkuk dalam-dalam. "Kemurahan hatimu sungguh mulia, Saudara Chen."

 

"Sudahlah, tidak perlu begitu,"

 

Dave berkata sambil kembali melambaikan tangan. "Pergilah urus urusanmu sendiri; aku masih ada hal penting yang harus kuselesaikan di sini."

 

Markus paham kapan harus mengerti isyarat, pun undur diri.

 

.... 


Di halaman, Lana, Agnes, Yasmeen, dan Wanda berdiri mengelilingi tumpukan peti, mata mereka terbelalak karena takjub.

 

"Ya ampun!"

 

Yasmeen berdecak kagum. "Sebenarnya ada berapa banyak harta di dalam sini?"

 

"Seluruh kekayaan yang dikumpulkan oleh keluarga Ling dan Sekte Canglan, yang dibangun selama ratusan tahun semuanya ada di sini."

 

Dave berjongkok dan membuka salah satu peti.

 

Di dalamnya, batu-batu spiritual bermutu tinggi tersusun rapi;

 

Energi spiritual yang mengalir begitu pekat hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa pening.

 

Ia membuka peti lainnya, yang berisi beberapa tanaman obat berusia sepuluh ribu tahun, sangat kuno dan langka, bahkan ia pun tak bisa menahan diri untuk menatapnya lebih lama.


 

"Sungguh harta karun yang luar biasa." Dave mengangguk lalu berdiri.

 

Sembari melirik keempat wanita itu, ia bertanya perlahan, "Apakah kalian tahu ke mana aku berniat pergi selanjutnya?"

 

"Surga ke-29," ujar Lana dengan lembut.

 

"Benar."

 

Dave mengangguk. "Surga ke-29 jauh lebih berbahaya, lebih dari sepuluh kali lipat, dibandingkan Surga ke-28. Menurut orang tua Aneh dari Xuanxu, ada sesosok entitas penjaga jauh di dalam kehampaan itu, makhluk yang hampir mencapai ambang batas ranah Raja Abadi Tingkat Keenam, yang melindungi sebuah harta karun tersembunyi.” 


“Bahkan dengan Wanda yang kini telah mencapai alam Raja Abadi Tingkat Kedua, di sisiku, aku tetap harus melangkah dengan sangat hati-hati. Bagaimana dengan kalian bertiga..."

 

Ia menatap Agnes, Lana, dan Yasmeen. "Kalian tahu betul bagaimana tingkat kultivasi kalian saat ini. Begitu tiba di Surga ke-29, jangankan membantuku, apakah kalian bahkan bisa menjamin keselamatan diri sendiri saja masih patut dipertanyakan."

 

Ketiganya terdiam.

 

Mereka tahu bahwa apa yang dikatakan Dave adalah kebenaran.

 

Di Surga ke-28, mereka mungkin merupakan sosok yang sangat kuat;

 

Namun begitu menginjakkan kaki di Surga ke-29, tingkat kultivasi mereka, terus terang saja, tidaklah berarti.

 

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yasmeen dengan suara pelan.

 

"Sederhana... Kultivasi ganda lah... Hahaha...."

 

Dave menyeringai, lalu mengeluarkan sebuah menara kecil kuno yang tampak polos dari cincin penyimpanannya dan menggenggamnya di telapak tangan. 


"Menara Penindas Iblis. Satu hari di dunia luar setara dengan seratus hari di dalamnya. Meskipun kita baru menjalani pengasingan selama lebih dari sebulan, kita bisa menghabiskan waktu sepuluh tahun penuh di dalam Menara ini."

 

"Sepuluh tahun?!" Mata Yasmeen melebar.

 

"Benar.. sepuluh tahun."

 

Dave mengangguk. "Ditambah dengan semua sumber daya di halaman ini, serta kemampuan unik yang aku miliki... sepuluh tahun lebih dari cukup bagi kalian semua untuk mengalami transformasi total."

 

Ia menyapu pandangannya ke arah keempat wanita itu, lalu menambahkan dengan santai, "Wanda, saat ini kau berada di ranah Raja Abadi tingkat kedua; aku akan membantumu mencapai tingkat ketiga. Sementara untuk kalian bertiga, Agnes, Lana, dan Yasmeen, kalian harus benar-benar memacu diri hingga batas maksimal. Jangan harap bisa keluar dari pengasingan sebelum mencapai ranah Raja Abadi tingkat kedua."

 

" ... 😏..." Keempat wanita itu saling berpandangan.

 

Wanda adalah yang pertama bereaksi, pipinya sedikit merona. "Dave, apakah maksudmu kita akan... di dalam Menara itu?"

 

"Berkultivasi ganda juga..."

 

Dave mengatakannya dengan terus terang, tanpa keraguan sedikit pun. "Kalian semua tahu bagaimana cara kerja jalur kultivasi kita, kan? 'Asal-usul Kekacauan' dan 'Irama Dao Surgawi' yang aku miliki sangatlah berkhasiat.” 


“Dengan berkultivasi ganda bersamaku, tingkat kultivasi kalian akan melesat jauh lebih cepat daripada jika kalian menelan sepuluh pil dewa sekalipun. Lagipula, kalian semua adalah wanita-wanitaku, dengan pintu tertutup rapat dan Menara yang tersegel, siapa yang akan tahu?"

 

Wajah Yasmeen memerah padam hingga ke ujung telinganya, sementara Lana memalingkan wajahnya.

 

Namun, Agnes tetap tenang dan berkata dengan kalem, "Kau saja yang tentukan bagaimana kita akan berlatih."

 

" ... 😉..." Wanda menggigit bibirnya;

 

Melihat seringai usil dan tidak serius di wajah Dave, ia merasa kesal sekaligus geli, tetapi pada akhirnya, ia mengangguk.

 

"Kalau begitu, sudah diputuskan."

 

Dave menggenggam Menara Penindas Iblis di telapak tangannya. "Siapkan semuanya; malam ini kita akan masuk ke dalam Menara."

 

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Yasmeen, ada satu hal lagi."

 

"Apa itu?" Yasmeen mendongak.

 

"Jangan sampai kemampuan alkimiamu sia-sia begitu saja."

 

Dave berkata, "Selama bertahun-tahun ini, aku belum pernah benar-benar mewariskan teknik alkimiaku kepada siapa pun. Karena kau tertarik, aku akan mengajarimu secara langsung selama sepuluh tahun ke depan.” 


“Begitu kau menguasai keahlian ini, kita tidak perlu khawatir kehabisan pil, ke mana pun kita pergi."

 

Mata Yasmeen langsung berbinar. "Benarkah? Kau bersedia mengajariku?"

 

" Ahh... apa hebatnya mengajari wanita sendiri?"

 

Dave melambaikan tangannya dengan santai. "Setelah kau paham caranya, kau yang akan bertanggung jawab atas semua persediaan pil untuk rumah tangga kita."

 

Dengan penuh sukacita, Yasmeen melompat dan memeluk lengan Dave.

 

Melihat pemandangan itu, tatapan mata Lana melunak, dihiasi senyuman lembut yang geli.

 

.... 



Malam itu, Menara Penindas Iblis pun diaktifkan.

 

Dave mengumpulkan semua sumber daya dari halaman, termasuk seluruh hasil panen dari ladang spiritual pemberian keluarga Yun, lalu memindahkan semuanya ke dalam menara.

 

Ruang di dalam menara itu sangat luas, bagaikan sebuah dunia tersendiri, yang dipenuhi oleh energi spiritual yang begitu pekat hingga hampir terasa nyata.

 

Di tengahnya terdapat sebuah platform kultivasi yang diukir dari batu giok, dikelilingi oleh bilik-bilik meditasi pribadi.

 


"Baiklah, selesai sudah."

 

Dave menepuk kedua tangannya dan menatap keempat orang di hadapannya. "Mulai hari ini, di sinilah kita akan tinggal. Satu hari di dalam menara ini setara dengan kurang dari satu tahun di dunia luar. Berlatihlah sesuka hati kalian, konsumsilah pil spiritual saat lapar, dan beristirahatlah di ruang meditasi saat lelah."

 

Saat mengucapkan itu, kilatan nakal yang familier kembali muncul di matanya.

 

Orang pertama yang ia bawa masuk ke ruang meditasi adalah Wanda.

 

Saat ini, Wanda merupakan Raja Abadi Tingkat Kedua, yang hanya dipisahkan oleh penghalang yang sangat tipis dari Tingkat Ketiga.

 

Namun, tanpa bantuan ‘Irama Dao Surgawi’ yang murni dan autentik milik Dave, dorongan terakhir yang diperlukan untuk melakukan terobosan, ia mungkin harus menghabiskan tiga hingga lima ratus tahun lagi dalam pelatihan terasing tanpa pernah berhasil menembus batasan tersebut.

 

 ... 


Di dalam ruangan yang sunyi, aura berwarna emas kelabu, manifestasi dari Dao, mengalir bagaikan air, menyelimuti mereka berdua dengan lembut.

 

‘Asal-usul Kekacauan’ milik Dave sangatlah kuat sekaligus memberikan nutrisi yang mendalam.

 

 Saat kulit mereka bersentuhan, energi primordial ini melonjak melalui meridian Wanda, perlahan menyingkirkan hambatan yang selama ini menghambat fondasi Dao-nya.

 

Wanda menggigit bibirnya, rona merah menjalar di wajahnya yang jelita.

 

Icikiwir... 


Kehangatan yang menenangkan meresap ke seluruh tubuhnya, dan penghalang yang telah membelenggunya selama bertahun-tahun mulai melonggar lalu retak, tergerus oleh aliran aura Dave yang terus-menerus membersihkan segalanya.

 

Nguuung....

Duaaaarrrr...


Dengan dengungan lembut yang bergema , entah berapa lama waktu telah berlalu, aura Wanda tiba-tiba melonjak, dan penghalang menuju ranah Raja Abadi Tingkat Tiga pun hancur berkeping-keping.

 

Ia membuka matanya dan mengembuskan napas panjang yang stabil;

 

Tatapannya kini memancarkan kejernihan yang baru dan cemerlang.


 

" Hehehe... Berhasil."

Dave terkekeh dan mencubit pipi Wanda dengan jenaka. "Wanda, sekarang kau adalah Raja Abadi Tingkat Tiga. Di seluruh Surga ke-28, kau akan dianggap sebagai sosok yang benar-benar disegani."

 

Wanda menyandarkan diri ke dalam pelukan Dave, suaranya sedikit bergetar. "Dave... apakah aku benar-benar sudah menjadi Raja Abadi Tingkat Tiga?"

 

"Tentu saja."

 

Dave menambahkan, "Dulu, kau mungkin butuh waktu berabad-abad untuk mencapainya melalui latihan keras. Namun sekarang? Dengan keberadaan tongkat ular penindas iblis ku di sini, aku berhasil memangkas jarak tersebut hanya dalam beberapa tahun."

 

" ... 😚..." Wanda mendongak menatapnya, matanya berkaca-kaca penuh haru.

 

Ia tidak berkata apa-apa, melainkan memilih untuk membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Dave.

 

... 


Orang berikutnya yang dibawa masuk ke dalam ruangan sunyi itu adalah Agnes.

 

Agnes adalah sosok yang paling tenang di antara mereka semua, biasanya ia adalah wanita yang irit bicara, namun, saat momen itu benar-benar tiba, ia justru menunjukkan sisi dirinya yang paling lepas dan tanpa hambatan.

 

Dave membantunya melakukan terobosan dalam satu langkah yang cepat dan tepat.

 

Icikiwir... 


# Raja Abadi Tingkat Kedua.

 

Pada hari ia keluar dari masa pengasingan, Agnes berdiri di atas platform pelatihan sambil menggenggam pedangnya.

 

Setelah terdiam cukup lama dalam perenungan, ia berujar pelan, "Dave, dulu aku percaya bahwa kultivasi adalah sesuatu yang harus dibangun sedikit demi sedikit, sepenuhnya dengan usaha sendiri."

 

"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Dave sambil menyandarkan punggungnya ke dinding menara.

 

"Sekarang pun aku masih berpikir...."

 

Agnes menoleh ke arahnya, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang jarang terlihat. "Jalan yang kau tempuh ini cukup bagus, langsung pada intinya, cukup sekali ditusuk, tidak heran ada begitu banyak wanita yang suka ditusuk olehmu. Hehehe..."

... 


Berikutnya adalah Lana.

 

Berasal dari Istana Surgawi Segudang Hukum, harta karun macam apa yang belum pernah ia lihat?

 

Namun, fondasi Dao miliknya sempat rusak saat sektenya hancur, dan tidak pernah benar-benar pulih sepenuhnya.

 

'Irama Dao Sejati dari Dao Surgawi' milik Dave memiliki kualitas yang paling murni;


Icikiwir... 

 

Hal itu secara bertahap memperbaiki fondasinya yang rusak, sekaligus mendorong tingkat kultivasinya hingga mencapai tahap Raja Abadi tingkat kedua.

 

Lana yang biasanya dingin dan menjaga jarak, kini setelah menghabiskan begitu banyak waktu di dalam menara menjadi jauh lebih lembut berkat Dave.

 

Pada hari ia keluar dari pengasingan, ia hanya berjalan tenang ke sisi Dave, merapikan kerah bajunya, lalu berbisik, "Kau pasti lelah."

 

"Oh, apa yang melelahkan dari itu?"

 

Dave melambaikan tangannya, bahkan tanpa sedikit pun rona merah di wajahnya. "Membantu wanita sendiri menjadi lebih kuat, bukankah itu memang sudah seharusnya begitu?"

 

.... 


Terakhir adalah Yasmeen.

 

Ia yang paling muda dan memiliki tingkat kultivasi paling rendah.

 

Namun, ia juga yang paling ceria dan manja;

 

Ia terus membuntuti Dave ke mana pun, serta tak henti-hentinya memanggil, "Kakak Dave."

 

Icikiwir... 


Saat Dave menyalurkan irama Dao ke dalam tubuhnya, ia adalah yang paling kewalahan.

 

Sering kali wajahnya memerah padam saat ia berbaring dalam pelukan Dave, seraya memohon, "Ah..ah.. Kakak Dave, aku..aku...sudah...tidak kuat. Aah..."

 

Dave hanya terkekeh pelan sambil mengelus kepalanya. " Hehehe... Mau kuat atau tidak, kau tetap harus menjalaninya! Ketiga 'saudarimu' yang lain sudah mencapai ranah Raja Abadi tingkat kedua, kau tidak boleh tertinggal."

 

Demikianlah hari demi hari, bulan demi bulan berlalu.

 

Waktu di dalam menara terasa berjalan cepat sekaligus lambat.

 

Cepat dalam hal kultivasi, kekuatan keempat wanita itu melonjak pesat, seolah-olah melesat dengan dorongan roket.

 

Wanda telah mengukuhkan posisinya di ranah Raja Abadi tingkat ketiga, sementara Agnes, Lana, dan Yasmeen masing-masing berhasil menembus ke tingkat kedua.

 

Di wilayah Surga ke-28, siapa pun di antara mereka sudah lebih dari layak untuk menjadi tetua di sekte besar mana pun.

 

Namun, hari-harinya sendiri terasa berjalan lambat;

 

Sepanjang siang, Dave sibuk meracik pil dan mengajarkan teknik kultivasi, sementara di malam hari, ia membawa keempat wanita itu satu per satu kultivasi ganda ke dalam kamar yang tenang.

 

Di dalam menara, tidak ada perbedaan antara siang dan malam.

 

Dave tidak tahu persis berapa banyak waktu yang telah berlalu


Yang ia tahu hanyalah bahwa halaman yang tadinya penuh dengan sumber daya kini hampir habis tak tersisa.

 

Selain sesi peningkatan kekuatan melalui kultivasi ganda, Dave juga, secara harfiah, memungut pil-pil yang sempat dijatuhkan oleh Yasmeen.

 

Keahlian alkimianya sungguh luar biasa;

 

Di Surga ke-28, tak terhitung banyaknya leluhur kuno yang rela mengantre hanya untuk memohon pil buatannya.

 

Selama satu dekade terakhir, ia telah mengajarkan segala hal yang ia ketahui kepada Yasmeen, mulai dari mengenali tanaman obat dan menyalakan tungku, hingga mengatur suhu serta meracik ramuan akhir, semuanya dibimbing langkah demi langkah.

 

Yasmeen terbukti memiliki bakat yang istimewa;

 

Ia cerdas dan tangannya sangat stabil, sehingga setelah beberapa tahun belajar, ia sudah mampu menangani semuanya seorang diri.

 

Pada tahun ketujuh di dalam menara, ia berhasil meracik sekumpulan ‘Pil Penyuplai Energi Roh’ dengan kualitas yang begitu tinggi, sampai-sampai Dave pun harus meliriknya dua kali.

 

"Berhasil."

 

Dave mengambil salah satu pil tersebut, mengangkatnya ke arah cahaya, lalu tersenyum lebar. "Yasmeen, dengan kemampuan alkimia yang kamu miliki sekarang, kamu bisa dengan mudah membuka Sekte pil sendiri di Surga ke-28."

 

Mata Yasmeen menyipit membentuk bulan sabit karena gembira. "Benarkah?"

 

"Apa aku pernah berbohong padamu?"

 

Dave mengacak-acak rambutnya. "Mulai sekarang, kau yang bertanggung jawab atas semua urusan alkimia di kediaman kita. Dengan begitu, aku tidak perlu menghabiskan sepanjang hari di depan tungku, tanganku sudah mulai pegal!"

 

Yasmeen menerjang maju dan memeluknya erat. "Kakak Dave, kau memang yang terbaik!"

 

Karena tidak siap, Dave sedikit terhuyung, lalu menepuk bagian belakang kepala gadis itu dengan senyum geli.

 

.... 


Sepuluh tahun berlalu dengan tenang di dalam menara.

 

Lalu, bagaimana dengan Dave sendiri selama satu dekade ini?

 

Ceritanya cukup menarik.

 

Ia telah membagikan hampir seluruh sumber daya, semua koleksi yang ada di halaman, ditambah kekayaan yang diberikan oleh keluarga Yun, kepada keempat wanita tersebut.

 

Ia berulang kali menggunakan ‘Asal-usul Kekacauan’ miliknya sendiri untuk memperkuat mereka dan membantu menstabilkan tingkat kultivasi mereka.

 

Pada akhirnya, tingkat kultivasinya sendiri tetap stagnan di ranah Penguasa Dewa Abadi Tingkat Empat.

 

Seandainya Dave memilih untuk menggunakan sumber daya tersebut demi kemajuannya sendiri, jumlah itu bahkan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhannya.


 

Wanda adalah orang pertama yang menyadarinya.

 

Pada suatu malam di tahun kedelapan, setelah mereka menyelesaikan sesi kultivasi di ruang hening, Wanda mengerutkan kening dan bertanya, "Dave, mengapa tingkat kultivasimu masih berada di ranah Penguasa Dewa Abadi Tingkat Keempat?"

 

"Hmm,..."

 

Dave menjawab sambil mengangguk dengan sikap yang sangat acuh tak acuh. "Lalu, bagaimana dengan sumber daya itu...?"

 

"Semuanya untukmu."

 

Dave tersenyum. "Aku sudah dewasa, jadi apa masalahnya jika aku hanya berada di ranah Penguasa Abadi tingkat keempat? Aku masih cukup tangguh dalam pertarungan." 


"Kalian berbeda; kalian akan ikut bersamaku ke Surga ke-29. Aku tidak akan tenang jika kalian tidak memiliki sarana untuk melindungi diri sendiri."

 

Wanda menatapnya, terdiam cukup lama karena tidak tahu harus berkata apa.

 

"Jangan menatapku seperti itu."

 

Dave mengelus wajahnya. "Asal-usul Kekacauan'  milikku berbeda dengan jalur kultivasi kalian. Aku tidak bergantung pada pil untuk meningkatkan tingkat kultivasiku. Saat waktunya tepat untuk mencapai terobosan, hal itu akan terjadi secara alami."

 

Wanda menggigit bibirnya, membenamkan wajahnya ke dada Dave, lalu bergumam, "Oh, kau ini..."

 

Selama sepuluh tahun terakhir, Dave bukannya tidak melakukan apa-apa.

 

Sementara empat orang lainnya sibuk berkultivasi, ia sering duduk sendirian di sudut platform pelatihan, membolak-balik sebuah token, yang bertuliskan karakter 'Dewa'  yang ia bawa dari Reruntuhan Dewa Terpencil.

 

Token itu terasa halus dan hangat saat disentuh, dengan guratan benang emas samar yang menjalar di permukaannya.

 

Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk mempelajari dan akhirnya mulai memahami rahasia di balik benda tersebut.

 

Ini bukan sekadar token pengenal; melainkan kunci menuju sebuah ranah kecil yang tersembunyi.

 

Di dalam token tersebut tersimpan tempat kultivasi kuno milik seorang dewa yang telah gugur, yang memuat seluruh koleksi yang dikumpulkan sang dewa sepanjang hidupnya.

 

Namun, Dave tidak terburu-buru untuk membukanya.

 

Ia mengelus token itu seraya bergumam pada diri sendiri, "Aku akan menyimpannya sampai kita tiba di Surga ke-29. Surga ke-28 tidak layak menjadi tempat bagi sesuatu seperti ini."

 

Selain token tersebut, ia juga telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami ‘Teknik Dewa Terpencil’.

 

Jalan kultivasi dewa yang telah gugur itu sangat tidak lazim, sebuah metode untuk memacu pertumbuhan diri melalui pertempuran tiada henti, di mana seseorang menjadi semakin kuat dalam setiap pertarungan.

 

Dave memadukan metode ini dengan Asal-usul Kekacauan miliknya sendiri, lalu menciptakan gaya bertarung yang benar-benar baru.


Dia tidak pernah membicarakannya, tetapi Wanda pernah melihatnya melayangkan pukulan santai ke arah dinding batu di tempat latihan.


Dinding setebal beberapa Zhang itu tertembus oleh satu pukulan tersebut, menyisakan lubang sedalam tiga Zhang.


Wanda tertegun. "Dave, bukankah kau bilang tingkat kultivasimu masih di ranah Penguasa Dewa Abadi tingkat keempat?"


"Memang benar, tingkat kultivasiku tidak berubah."


Dave mengibaskan tangannya lalu menyeringai. "Tapi selama sepuluh tahun terakhir, setiap hari kuhabiskan untuk memikirkan cara memukul orang."


" ... 😲... " Wanda menatapnya, terdiam cukup lama.


Dia akhirnya mengerti.


Meskipun Dave mengaku telah memberikan semua sumber dayanya kepada para wanita, sehingga kemajuannya sendiri terhenti, kenyataannya dia telah berkembang pesat, setara dengan keempat wanita itu selama satu dekade terakhir.


Dia bukanlah ‘pria yang hidup dari wanita’.


Dia adalah sosok yang tangguh dan kejam; 


Dia telah melapangkan jalan yang aman bagi istri-istrinya, sembari diam-diam mengumpulkan kekuatannya sendiri, siap untuk merobek langit itu sendiri.


Sepuluh tahun waktu yang tidak terlalu lama, namun juga tidak terlalu singkat.


..... 


Di luar menara, kabar mengenai kehancuran keluarga Ling telah tersebar luas ke seluruh Surga ke-28.


Mengikuti instruksi Dave, Markus membagikan sebagian kekayaan yang pernah diperas keluarga Ling dari rakyat jelata kepada para pembudidaya lepas yang hidup dalam kemiskinan.


Seluruh Kota Luoyun pun dipenuhi rasa terima kasih kepada keluarga Yun.


Sementara itu, Sekte Canglan yang pemimpinnya melarikan diri kembali dengan sisa-sisa pasukannya yang hancur  memilih untuk mengurung diri sepenuhnya.


Gerbang sekte ditutup rapat, dan siapa pun yang datang mengetuk tidak akan dilayani. 


Konon, meridian sang Ketua Sekte telah hancur lebur akibat satu pukulan dari Dave; 


Dia bahkan terbaring di ranjang selama lebih dari setengah bulan sebelum akhirnya mampu berdiri kembali. 


Selama kurang lebih sebulan terakhir, kedai teh dan kedai minuman di Kota Luoyun dipenuhi dengan obrolan yang tak ada habisnya. 


"Sudah dengar belum? Si Dave itu sedang menjalani pengasingan di paviliun bersama empat wanita lainnya!" 


"Pengasingan? Berapa lama?"


"Sehari... Hanya satu hari... Aku melihatnya sendiri, mereka masuk pagi hari dan keluar lagi pada malam harinya!" 


"Sehari? Apa yang bisa mereka capai hanya dalam satu hari?"


"Ah, kalian tidak tahu saja."


Pencerita tua itu mengelus janggutnya lalu merendahkan suaranya. "Taois Chen itu memiliki harta karun yang langka dan luar biasa -- sebuah 'Menara Penindas Iblis'."


"Waktu di dalam Menara itu mengalir berbeda dengan di sini. Satu hari di dunia luar setara dengan satu tahun penuh di dalamnya, jadi, mereka sebenarnya telah menjalani pengasingan selama sepuluh tahun!"


Puufftt...


Para pengunjung kedai teh hampir menyemburkan teh mereka karena terkejut.


"Sepuluh tahun?!" 


"Demi apa pun, aku tidak berbohong!"


Orang tua itu menepuk meja. "Kalian harus melihatnya sendiri! Kebetulan aku sedang mencari nafkah tepat di depan kediaman keluarga Yun saat Taois Chen keluar." 


"Tuan Markus Yun dari keluarga Yun bahkan turun tangan langsung untuk menyambut mereka! Dan asal tahu saja -- keempat wanita muda yang mendampingi Taois Chen itu... aura mereka …… mereka semua adalah Raja Abadi!"


"Semuanya… setiap orang dari mereka adalah Raja Abadi!"


Seorang Pengunjung kedai teh berteriak kaget,  Kamu sedang membual, ya? Bukankah baru sebulan yang lalu wanita-wanita itu hanya berada di ranah Raja Abadi tingkat pertama?"


"Siapa yang tahu!"


Orang tua itu menggelengkan kepalanya. "Taois Chen bukanlah sosok yang tindakannya bisa diukur dengan logika konvensional. Bayangkan saja... seorang Penguasa Abadi tingkat empat mampu membunuh Raja Abadi tingkat tiga! Siapa yang pernah membayangkan hal seperti itu sebelumnya?” 


”Dan sekarang, dia memiliki empat Raja Abadi dalam rombongannya. Lihat saja sosok yang memimpin kelompok itu -- wanita muda dari keluarga Shi..."


Dia terdiam sejenak, lalu menegaskan dengan jelas: "Seorang Raja Abadi tingkat tiga."


Seluruh ruangan terdiam dalam keterkejutan. "Di seluruh Wilayah Selatan dari Surga ke-28, jumlah Raja Abadi tingkat tiga bisa dihitung dengan jari satu tangan. Namun kini, tiba-tiba saja muncul satu lagi." 


"Coba pikirkan tentang Taois Chen sendiri, dia hanyalah seorang Penguasa Dewa Abadi tingkat empat, tetapi mampu menumbangkan Raja Abadi tingkat tiga. Sekarang, dia bahkan membawa empat Raja Abadi bersamanya. Kelompok ini... luar biasa!"


Para pengunjung kedai lainnya saling angkat bicara, "Benar sekali! Asal tahu saja, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri di luar kota, lima kilatan cahaya melesat ke angkasa, menuju langsung ke Surga ke-29!" 


"Surga ke-29?! Tempat itu sangat berbahaya!" 


"Memang berbahaya.. tapi kita sedang membicarakan Taois Chen!"


Mata pria tua itu melebar. "Apakah dia pernah pergi ke tempat yang tidak berbahaya? Dia pernah menjelajahi Reruntuhan Dewa Kuno, meratakan Paviliun Kekuatan Ilahi hingga rata dengan tanah, dan memusnahkan keluarga Ling." 


"Ingat kata-kataku... cepat atau lambat, Surga ke-29 akan memiliki penguasa baru."


Kerumunan orang pun takjub mendengarnya, meski ada yang bergumam, "Hei, kenapa tingkat kultivasi Taois Chen tidak menunjukkan kemajuan sama sekali? Dia masih tertahan di ranah Penguasa Dewa Abadi tingkat keempat."


"Cuuiiih! Apa yang kalian tahu, hah?" 


Pria tua itu melambaikan tangannya dengan nada meremehkan. "Dia memberikan seluruh sumber dayanya untuk para wanitanya, itulah yang sebenarnya terjadi! Kalian menyebutnya 'utang asmara'? Bagiku, itu adalah jiwa seorang pahlawan sejati! Sungguh, apa sih yang kalian tahu?" 


" Hahaha..."

" Hehehe..."

Seluruh ruangan pun meledak dalam tawa.


Di salah satu sudut kedai teh, seorang pembudidaya pengembara bertopeng mendengarkan dalam diam, kilatan emosi yang rumit melintas di matanya.


Dia adalah seorang pengintai yang diutus oleh Sekte Canglan untuk mengumpulkan informasi.


Awalnya, dia berniat mencari tahu apakah Dave menggunakan dalih ‘pengasingan diri’ untuk melarikan diri, namun setelah mendengar hal ini, dia hampir ketakutan setengah mati.


Empat Raja Abadi?!


Tanpa sempat membayar tehnya, dia bergegas keluar dari kedai dan menghilang ke dalam malam, memacu langkah kembali menuju Sekte Canglan.


Dia harus segera melaporkan hal ini; Dave bukanlah sosok yang boleh mereka usik.


Mengenai semua itu, orang-orang di dalam menara sama sekali tidak menyadarinya.


Yang mereka tahu hanyalah bahwa selama satu dekade terakhir, mereka berlima yang tinggal di tempat tidur yang sama telah melangkah maju bersama-sama, dari Surga ke-28 hingga mencapai ambang ranah yang baru.


.... 


Pada hari terakhir tahun kesepuluh di dalam menara,


Dave memanggil keempat wanita itu ke tengah platform pelatihan.


Bahkan Dave sendiri merasa cukup terkejut melihat transformasi yang dialami keempat wanita tersebut selama sepuluh tahun ini.


Berdiri di sisi paling ujung adalah Wanda, yang mengenakan jubah sederhana tanpa hiasan; kehadirannya begitu kokoh dan tak tergoyahkan, layaknya sebuah gunung.


Dia telah mencapai ranah Raja Abadi tingkat ketiga; 


Berdiri di sana, ia memancarkan wibawa alami yang penuh kuasa—benar-benar salah satu sosok paling tangguh di Surga tingkat ke-28.


Agnes berdiri dengan pedang panjang tersampir di pinggangnya, mengenakan pakaian serba putih. 


Ekspresinya jauh lebih tenang dibandingkan satu dekade lalu, namun kilatan ketajaman yang sesekali muncul di matanya menunjukkan bahwa perjalanannya sebagai pembudidaya pedang telah membuahkan hasil yang luar biasa. 


Kini, ia telah mencapai ranah Raja Abadi tingkat kedua.


Di sampingnya berdiri Lana, yang mengenakan jubah Tao berwarna putih rembulan; pembawaannya tampak anggun dan halus.


Luka lama pada fondasi Tao-nya telah lama pulih, dan auranya kini terasa jauh lebih mendalam serta kuat dibandingkan sepuluh tahun silam. 


Ia pun telah mencapai ranah Raja Abadi tingkat kedua.


Yasmeen, yang termuda di antara mereka, juga telah mencapai ranah Raja Abadi tingkat kedua.


Tak jauh dari sana, terdapat sebuah kuali berisi pil yang baru saja diracik, dengan aroma harum yang memenuhi udara.


"Bagaimana?" 


Dave bertanya seraya menyapu pandangan ke arah mereka berempat dengan senyum lebar. "Sepuluh tahun ini tidak sia-sia, bukan?"


"Kakak Dave..." 


Yasmeen menjadi yang pertama bersuara, sambil melambaikan botol pil di tangannya. "Coba cium ini! Kumpulan 'Pil Penguat Fondasi' kali ini hasilnya bahkan lebih baik daripada saat kau mengajariku cara membuatnya!"


"Kau ini, selalu saja paling banyak bicara."


Dave menegurnya dengan senyuman, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil botol tersebut.


Ia membuka tutupnya, mengendus isinya, kemudian mengangguk. "Lumayan… pengaturan apinya sangat tepat."


Sembari berbicara, ia menarik kembali Menara Penindas Iblis.


Dengan dengungan pelan, pemandangan di hadapan mereka berlima tampak kabur, dan dalam sekejap, mereka kembali muncul di halaman kediaman pribadi keluarga Yun.


.... 


Di dunia luar, waktu yang berlalu baru sekitar satu bulan lebih sedikit.


Bunga-bunga spiritual dalam pot di halaman itu masih mekar, persis seperti saat mereka pertama kali pergi. 


Matahari senja menggantung di cakrawala, menyebarkan cahaya hangat kemerahan ke seluruh halaman.


Selama ini, Markus terus berjaga di luar kediaman, diliputi kekhawatiran mendalam bahwa sesuatu yang buruk mungkin menimpa Dave dan rekan-rekannya saat mereka berada di dalam Menara.


Begitu melihat kilatan energi spiritual di halaman dan munculnya lima sosok secara tiba-tiba, ia segera bergegas menghampiri mereka.


"Saudara Chen! Akhirnya kalian keluar juga!"


Saat berbicara, pandangannya secara naluriah tertuju pada empat orang yang berdiri di samping Dave.


Begitu matanya tertuju pada mereka, ia pun terpaku di tempat.


Aura yang terpancar dari Wanda itu.. seorang Raja Abadi Tingkat Tiga?!


Padahal baru sebulan yang lalu, wanita itu masih berada di ranah Raja Abadi Tingkat Dua, bagaimana mungkin ia bisa melompat ke Tingkat Tiga dalam waktu sesingkat itu?!


Ia kemudian beralih menatap Agnes, Lana, dan Yasmeen semuanya adalah Raja Abadi Tingkat Dua! Semuanya tanpa terkecuali!


Mulut Markus ternganga, namun ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


Karena ia sendiri baru saja menembus keranah Raja Abadi Tingkat Tiga, kemampuannya dalam menilai tingkat kultivasi seseorang menjadi sangat tajam.


Aura yang memancar dari keempat wanita itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat; 


Itu adalah manifestasi nyata dan kokoh dari tingkat kultivasi mereka saat ini. 


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️









Perintah Kaisar Naga : 7246 - 7248

 Perintah Kaisar Naga. Bab 7246-7248 Kepala Besi Tua menceritakan semua ini kepada Dave dengan harapan bisa membujuknya untuk bergabung deng...