Photo

Photo

Thursday, 15 October 2026

Perintah Kaisar Naga : 7159 - 7161

Perintah Kaisar Naga. Bab 7159-7161





" Daannccookk... Sombong sekali!" bentak diakon paruh baya itu sambil melambaikan tangannya. "Tangkap dia!"


Puluhan murid dari Sekte Kuno Xuanling menyerbu maju. Energi spiritual mereka meledak, memancarkan warna-warni yang menyilaukan—pemandangan yang sungguh dahsyat.


Dave tetap berdiri tegak di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun; ia hanya mengangkat tangannya pelan.


Nguuung...


Gelombang energi Dao Kekacauan yang tak terlihat meledak dari tubuhnya, menyapu area sekitar layaknya gelombang pasang.


Begitu para murid yang menyerbu itu berbenturan dengan kekuatan tersebut, rasanya seperti mereka menabrak dinding besi yang tak kasat mata. Mereka terpental ke segala arah, jatuh berantakan ke tanah, sementara jeritan kesakitan memenuhi udara.


Hanya dengan satu gerakan—mereka semua dikalahkan telak.


Wajah diakon paruh baya itu memucat pasi; kakinya lemas, hampir membuatnya jatuh berlutut. Saat itulah ia menyadari bahwa pemuda ini—yang tampak hanya berada di tingkat pertama ranah Penguasa Dewa Abadi —memiliki kekuatan yang jauh melampaui apa yang terlihat dari penampilannya.


"Waktu satu batang dupa telah habis."


Dave menengadah ke arah puncak utama Sekte Kuno Xuanling. "Sepertinya Ketua Sekte kalian tidak berniat keluar sendiri. Kurasa aku harus menjemputnya secara pribadi."


Ia melangkah satu kali, dan sosoknya pun lenyap seketika.


...


Sesaat kemudian, di dalam aula besar di puncak utama, Ketua Sekte, Roh Mendalam, tengah bermeditasi di sebuah ruang rahasia.


Tiba-tiba, firasat bahaya yang luar biasa—yang membuat kulit kepalanya meremang—melanda dirinya. Ia sontak membuka mata, dan mendapati seorang pemuda berjubah hijau tengah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan senyum tipis yang geli.


"Siapa... siapa kau?"


Bulu kuduk Roh Mendalam berdiri tegak seketika. Kultivasinya—di ranah Penguasa Dewa Abadi—meledak seketika saat ia menatap Dave dengan fokus yang tajam dan penuh kewaspadaan. 


" Dave Chen.. " Dave menjawab dengan santai, "Aku datang untuk menagih utang—utang yang harus kau bayar kepada Istana Surgawi Segala Hukum."


Pupil mata Roh Mendalam menyusut, lalu ia tertawa dingin dengan nada mengejek. "Istana Surgawi Segala Hukum sudah hancur sejak lama; dari mana kau mendapatkan keberanian untuk datang ke sini menuntut balas? Kau hanyalah seorang pemula di tingkat pertama Alam Penguasa Dewa Abadi—beraninya kau bertindak semena-mena di Sekte Kuno Xuanling milikku?"


"Lantas, bagaimana jika aku memang berada di tingkat pertama Alam Penguasa Dewa Abadi?"


Dave tampak sama sekali tidak peduli. "Untuk orang sepertimu, tingkat pertama saja sudah lebih dari cukup."


Dikuasai amarah, Roh Mendalam tidak membuang waktu lagi. Ia melayangkan telapak tangannya, melepaskan gelombang energi spiritual yang dahsyat—ciri khas seorang Penguasa Dewa Abadi tingkat delapan puncak—yang mewujud menjadi tangan raksasa, menghantam ke arah Dave dengan kekuatan pemusnahan total.


Dave tidak menghindar ataupun menangkis; ia membiarkan tangan raksasa itu menghantam dirinya begitu saja.


Wuuzzzz...

Jebreeet...


Suara dentuman yang memekakkan telinga bergema, sementara debu dan puing-puing beterbangan ke udara.


Tepat saat Roh Mendalam mulai mencibir, debu pun mereda, memperlihatkan sosok berjubah hijau yang masih berdiri di tempat yang sama—tak bergeming sedikit pun, bahkan pakaiannya tidak tampak kusut sama sekali.


" Oh... Hanya segini yaa...?"


Dave menepis debu imajiner dari bahunya dengan raut wajah yang sangat kecewa. "Apakah hanya sampai di sini kemampuanmu? Bahkan untuk sekadar membuatku merasa gatal pun kau tidak mampu."


Pupil mata Roh Mendalam melebar karena terkejut, wajahnya berkerut menunjukkan ketidakpercayaan yang luar biasa.


Ia telah menyerang dengan kekuatan penuh—sebuah serangan yang bahkan tidak akan berani dihadapi secara langsung oleh seseorang yang setara dengannya. Bagaimana mungkin pemuda ini, yang hanya berada di tingkat pertama ranah Penguasa Dewa Abadi, bisa tetap tidak terluka sedikit pun?!


"Siapa... sebenarnya kau ini?!" 


"Sudah kukatakan padamu—aku datang ke sini untuk menagih utang."


Dave melangkah sekali, muncul di hadapan Roh Mendalam layaknya bayangan, lalu meletakkan tangannya dengan ringan di bahu pria itu. "Sekarang, aku akan mengambil kembali semua yang kau curi dari Istana Surgawi Segala Hukum—beserta bunganya."


Esensi Kekacauan Primordial pun mengalir deras. 


Roh Mendalam merasakan kekuatan yang tak tertahankan menghantam dirinya; kultivasinya, energi spiritualnya, bahkan fondasi Dao-nya—segala hal yang selama ini ia banggakan—mulai retak dan hancur di bawah tekanan dahsyat dari Esensi Kekacauan Primordial tersebut.


"Tidak—!!"


Jeritan penuh penderitaan dari Roh Mendalam menggema di seluruh aula besar, lalu terputus begitu saja. Ketua Sekte Kuno Xuanling—seorang kultivator yang berada di ambang puncak alam Penguasa Dewa Abadi—tewas hanya dalam satu serangan.


Dave menarik tangannya. Melirik jenazah Roh Mendalam yang tergeletak tak bernyawa di lantai, ia mengusap jemarinya dengan wajah tanpa ekspresi. "Yang pertama."


Ia berbalik dan melangkah keluar dari aula besar, tempat Lana telah menunggu. 


...


Melihat Dave muncul, Lana bertanya dengan lembut, "Sudah selesai?"


"Hmm..."


Dave mengangguk. "Ketua Sekte sudah mati. Bagaimana dengan antek-antek sisanya—kau yang akan mengurusnya, atau aku?"


Kilatan dingin melintas di mata Lana. "Biar aku saja."


Dengan gerakan cepat, jubah putih bersihnya berkibar saat tekanan luar biasa dari seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Kedelapan turun, menyelimuti seluruh area tersebut.


Berhadapan dengan sosok wanita yang pernah mereka kejar hingga terpaksa bersembunyi, para tetua dan murid Sekte Kuno Xuanling yang tersisa bahkan tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk melawan.


Pembantaian sepihak pun terjadi di dalam lingkungan sekte tersebut.


Para algojo yang dulu pernah membantai murid-murid Istana Surgawi Segala Hukum kini jatuh satu per satu di tangan Lana.


Serangannya bersih, tegas, dan tanpa belas kasihan—setiap tusukan pedangnya didorong oleh kebencian mendalam yang membara.


Dave berdiri di samping, memperhatikan; ia tidak ikut campur ataupun mencoba mencegah. Ada dendam-dendam tertentu yang harus diselesaikan dengan tangan sendiri agar hati benar-benar bisa merasa lega.


Saat Lana menghabisi tetua terakhir yang terlibat dalam pengepungan itu, Sekte Kuno Xuanling telah berubah menjadi lautan darah.


Para murid ada yang tewas atau melarikan diri, sementara mereka yang tersisa berlutut di tanah, gemetar memohon belas kasihan.


Dave melangkah maju dan, dengan kibasan tangan yang santai, melenyapkan segalanya—gudang sekte, paviliun kitab, hingga sumber daya urat nadi spiritual—tidak menyisakan apa pun.


Ia kemudian menepuk bahu Lana. "Ayo pergi. Lanjut ke tujuan berikutnya."


Lana menarik napas dalam-dalam, meredam gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dirinya, lalu mengangguk. "Lanjut ke tujuan berikutnya."


....


Kediaman sekte Abadi Chixia: Membakar Langit dan Mendidihkan Lautan


Terkenal dengan teknik kultivasi berbasis api, Kediaman Abadi Chixia terletak di puncak Pegunungan Api Merah yang membentang sepanjang seribu mil. Dikelilingi oleh kobaran api yang tak pernah padam, tempat ini sama sekali tidak dapat dijangkau oleh kultivator biasa. 


Dahulu, saat Istana Surgawi Sepuluh Ribu Dharma dikepung, Kediaman Abadi Chixia turut serta dalam serangan tersebut—dan dalam prosesnya, mereka merampas harta paling berharga milik Istana: Api Mendalam Sembilan Langit.


Saat Dave dan Lana tiba di Gunung Chiyan, mereka disambut oleh gelombang panas yang menyengat, bahkan jauh sebelum mencapai gerbang gunung.



Dave menyipitkan matanya lalu menoleh ke arah Lana sambil tersenyum. "Wah, tempat ini mudah sekali dikenali—jadi kita tidak perlu repot-repot mencari jalan."


Sembari mengamati kobaran api yang menyelimuti seluruh lereng gunung, Lana berkata dengan tenang, "Karena mereka mencuri Api Mendalam Sembilan Langit, sekalian saja kita ambil kembali."


Tepat saat keduanya bersiap untuk masuk, sekelompok besar murid dari Kediaman Abadi Chixia berhamburan keluar dari gerbang. Mereka dipimpin oleh seorang pria tua berambut merah menyala, dengan tubuh yang diselimuti energi api yang meluap-luap. "Siapa kalian? Beraninya menerobos masuk ke Gunung Chiyan!"


"Kami datang untuk mengambil sesuatu," jawab Dave dengan santai. "Api Mendalam Sembilan Langit—dan kepala ketua sekte kalian, sekalian saja."


Tetua berambut merah itu murka. "Kurang ajar! Bakar mereka sampai jadi abu!"


Lautan api yang luas turun menerjang, seolah hendak melahap segalanya hingga menjadi abu.


Dave tetap berdiri tak bergeming di tengah kobaran api tersebut. Api yang tampak begitu ganas itu justru padam seketika saat mendekat dalam jarak tiga kaki darinya—seolah-olah bertemu dengan pemangsa alaminya.


" Oh.. Teknik sihir berbasis api, ya?"

Dave menggaruk kepalanya lalu menoleh ke arah Lana. "Apa mereka bodoh, atau bagaimana? Mereka tahu aku akan datang, tapi masih saja nekat bermain-main dengan api."


"Mungkin mereka tidak sadar bahwa akulah pencetus sejati dari segala sesuatu yang berunsur api."


Lana tak kuasa menahan senyum yang menyungging di sudut bibirnya.


Dave mengangkat tangannya. Api Pamungkas dari Ras Iblis, api dari inti planet, Teratai Api Kekacauan, hingga esensi purba dari api itu sendiri—


Beragam jenis api terjalin menjadi satu lautan api, yang dalam sekejap melahap kobaran api milik musuh.


Seolah-olah api lawan telah bertemu dengan jurang tanpa dasar; semuanya tersapu ke dalam pusaran, hingga tak satu pun percikan tersisa. 


Ekspresi pria tua berambut merah itu berubah drastis. Tepat saat ia hendak mengerahkan kembali kemampuan supranaturalnya, Dave melangkah sekali dan tiba tepat di hadapannya, lalu dengan santai melayangkan sebuah tamparan.


Praak...


Pria tua berambut merah itu berputar tiga kali di tempat sebelum ambruk ke tanah dalam keadaan linglung—sebagian besar giginya hancur berkeping-keping.


"Suruh Ketua Sekte kalian keluar dan bicara."


Dave berjongkok, menatap pria tua itu dengan nada santai. "Jika dia tidak muncul, aku akan menyerap habis seluruh api yang ada di Gunung Api Merah ini."


Saat ia berucap, ia melepaskan sedikit jejak dari Sumber Primordial miliknya—dan, tepat di depan mata, kobaran api di seluruh penjuru gunung meredup seketika.


Pria tua berambut merah itu gemetar, bangkit dengan tergesa-gesa, lalu berlari menuju gerbang gunung. "Cepat! Seseorang, panggil Ketua Sekte!"


..


Tak lama kemudian, Raja Sejati Merah Kecil—Ketua Sekte dari Kediaman Abadi Cahaya Merah—muncul, diselimuti oleh kobaran api. Tingkat kultivasinya, yang berada di peringkat kesembilan alam Penguasa Dewa Abadi, melonjak dahsyat layaknya gelombang pasang. Dengan ekspresi kelam dan penuh amarah, ia menatap tajam ke arah Dave. 


"Siapa kau? Beraninya kau mengusik Kediaman Abadi Cahaya Merah milikku?"


"Dave Chen. Aku datang untuk menagih utang."


Ucapan Dave singkat dan langsung pada intinya. "Kembalikan Api Mendalam Sembilan Langit, lumpuhkan kultivasimu sendiri, dan mungkin aku akan membiarkanmu tetap hidup."


Raja Sejati Merah Kecil tertawa nyaring dengan penuh kemurkaan. " Hahaha... bocah tolol... Sombong sekali! Hanya seorang Penguasa Dewa Abadi peringkat pertama—beraninya kau bersikap kurang ajar di hadapanku!"


Ia membentuk segel dengan tangannya, dan kobaran api di seluruh gunung pun berkumpul, memadat menjadi sesosok raksasa api kolosal yang menutupi langit. Dengan kekuatan yang mampu membakar cakrawala dan mendidihkan lautan, raksasa itu menghantam ke arah Dave.


Dave mendongak menatap raksasa api tersebut, lalu menyunggingkan senyum sinis. "Hanya pamer, tanpa isi."


Ia melayangkan pukulan.


Memusatkan Sumber Primordial ke dalam kepalan tangannya, ia menghantam tepat di dada raksasa itu.


Wuuzzzz...

Jebreeet...


Sosok raksasa api yang menjulang tinggi dan tampak mengerikan itu hancur seketika, tercerai-berai menjadi hujan percikan api yang memenuhi langit. 


Pupil mata Raja Sejati Merah Kecil menyusut drastis. Bahkan sebelum ia sempat bereaksi, Dave telah muncul tepat di hadapannya dan melayangkan tamparan dengan punggung tangannya.


Praaak...


Pukulan ini jauh lebih telak daripada yang sebelumnya.


Raja Sejati Merah Kecil terlempar, menabrak hingga menembus separuh aula besar tersebut. Dengan tulang-belulang yang remuk dan darah menyembur dari mulutnya, ia ambruk di antara reruntuhan, tak lagi mampu bergerak. 


Dave melangkah maju, menatapnya dari atas. "Di mana Api Mendalam Berkepala Sembilan itu?"


Dalam ketakutan dan guncangan hebat, Raja Sejati Merah Kecil tergagap, "Itu... itu ada di ruang penyimpanan bawah tanah Paviliun Harta Karun..."


"Setidaknya kau tahu apa yang terbaik untuk dirimu sendiri."


Dengan jentikan jari yang santai, Dave menyalurkan gelombang energi kekacauan purba ke dalam tubuh Merah Kecil, menghancurkan dantiannya. 


"Aku membiarkanmu tetap hidup agar kau bisa menyaksikan sendiri kehancuran Kediaman Abadi Chixia."


Ia berbalik dan melangkah menuju Paviliun Harta Karun. 


...


Tak lama kemudian, ia muncul kembali sambil membawa nyala api merah yang berpijar—Api Mendalam Berkepala Sembilan, harta pusaka khas dari Istana Surgawi Segala Hukum.


Lana menatap cahaya hangat yang familier itu, matanya sedikit memerah.


Ia menyimpan Api Mendalam Berkepala Sembilan itu dengan hati-hati; merasakan kehangatan yang dikenalnya, seolah-olah ia dibawa kembali ke masa ketika sektenya masih berdiri tegak.


"Ayo pergi." Dave tidak berkata apa-apa lagi, hanya menepuk punggung wanita itu dengan lembut. "Menuju tempat berikutnya."


"Baik." Lana mengangguk, dengan cepat menahan air mata di pelupuk matanya. Ekspresinya kembali tenang, penuh dengan tekad yang baja. "Menuju tempat berikutnya."


....


Sekte Menara Bintang Jatuh: Menghancurkan Bintang dengan Satu Anak Panah


Menara Bintang Jatuh dikenal di seluruh Surga ke-27 karena keahlian memanahnya. Markas besarnya terletak di puncak yang terisolasi dan melayang, dikelilingi oleh jalinan formasi panah yang rumit dan menyeluruh—sebuah pertahanan yang konon begitu tangguh hingga makhluk abadi sekalipun tidak akan bisa meloloskan diri saat panah-panah tersebut dilepaskan secara serentak.


Saat Dave dan Lana tiba di kaki puncak tersebut, Dave menengadah ke arah gunung yang diselimuti oleh tak terhitung banyaknya anak panah itu, lalu berkomentar, "Tempat ini tampak persis seperti sarang landak."


"Kemampuan memanah mereka memang luar biasa," ujar Lana dengan nada datar. "Sewaktu pengepungan Istana Surgawi Segala Bintang Jatuh, formasi panah dari Menara Meteor telah merenggut nyawa banyak murid Istana Surgawi kami."


"Kalau begitu, hari ini, biar mereka merasakan sendiri bagaimana rasanya saat panah-panah itu berbalik menyerang mereka."


Dave menyeringai, lalu mulai mendaki gunung tersebut.


Begitu ia melangkah masuk ke dalam jangkauan formasi panah, hujan anak panah pun meluncur deras dari langit. Setiap anak panah mengandung resonansi Dao yang tajam dan menusuk—cukup kuat untuk mencabik-cabik pelindung spiritual seorang Penguasa Dewa Abadi biasa. 


Dave tetap berdiri di tempatnya, sementara Sumber Kekacauan memadat membentuk perisai tak terlihat di sekelilingnya.


Anak-anak panah itu menghantam penghalang dengan bunyi dentang logam yang nyaring sebelum jatuh berserakan, bahkan tidak sedikit pun menyentuh ujung jubahnya.


" Oh... Hanya itu saja yaa...?"

Dave menggelengkan kepalanya seraya melangkah maju. "'Formasi panah' milikmu ini bahkan jauh lebih payah daripada ketapel mainan anak kecil."


...


Di puncak gunung yang berdiri sendiri itu, sang Penguasa Paviliun Bintang Jatuh berdiri di titik tertinggi. Ekspresinya menggelap saat mengamati sosok di bawah sana—yang berjalan santai seolah-olah sedang menikmati tamasya—dan secercah kekhawatiran mendalam melintas di matanya.


Ia mengangkat busurnya, menyalurkan energi spiritual tingkat Penguasa Dewa Abadi Peringkat Kesembilan ke dalam sebuah anak panah berwarna hitam pekat, lalu membidikkannya tepat ke arah Dave.


"Anak panah ini bernama 'Penghancur Bintang'."


Suara sang Penguasa Paviliun terdengar berat dan rendah. "Senjata ini telah merenggut nyawa tiga orang Penguasa Dewa Abadi Peringkat Kesembilan. Sedangkan kau—kau sama sekali bukan apa-apa."


Wuuzzzz...


Begitu kata-kata itu terucap, anak panah tersebut melesat membelah udara, membawa kekuatan yang mampu merobek kehampaan. Ia mengeluarkan suara siulan yang melengking tajam saat meluncur lurus menuju tepat di tengah dahi Dave.


Dave mendongak menatap proyektil ganas yang melesat ke arahnya, lalu dengan santai mengangkat tangan dan menangkapnya hanya dengan jentikan jari.


Hanya dengan dua jari, ia mencengkeram anak panah yang disebut "Penghancur Bintang" itu dengan kokoh.


Pupil mata sang Penguasa Paviliun mengecil drastis; wajahnya menunjukkan ekspresi ketidakpercayaan yang luar biasa.


Dave mengamati anak panah di antara jari-jarinya, lalu menatap sang Penguasa Paviliun di puncak sana. Dengan ekspresi yang tampak sangat tulus, ia berkomentar, "Anak panahmu ini... bentuknya cukup bagus. Sayang sekali, sama sekali tidak berguna."


Wuuzzzz...

Jebreeet...


Dengan sentilan ringan, ia mengirim anak panah itu melesat kembali—lebih cepat daripada saat datang—dan menghantam tepat di dada sang Penguasa Paviliun.


Sang Penguasa Paviliun menunduk menatap anak panahnya sendiri yang kini tertancap di dadanya. Ia membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, namun tak ada suara yang keluar. Ia pun jatuh dari puncak, menghantam bebatuan di bawah, lalu terdiam untuk selamanya. 


Gedebuk!


"Anak panah itu, aku kembalikan padamu." Dave menepuk-nepuk tangannya, berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Aku ini orang yang sangat masuk akal. Kau menembakkan panah ke arahku, jadi aku membalas dengan menembakkan satu panah juga—adil, kan?"


" Hehehe..." Lana, yang berdiri di sisinya, tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi polos yang dibuat-buat—dan sungguh menjengkelkan—itu.


Semakin lama ia mengenal Dave selama perjalanan ini, pria itu terasa semakin menarik baginya.


Meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat dan tidak masuk akal, ia bersikeras untuk bersikap seolah-olah tidak berbahaya sama sekali—sebuah kebiasaan yang pasti bisa membuat siapa pun hampir gila.


Dengan tewasnya pemimpin Paviliun Bintang Jatuh, para murid yang tersisa pun kehilangan arah dan tercerai-berai dalam kepanikan.


Dave memanfaatkan kesempatan itu untuk menguras habis perbendaharaan Paviliun Bintang Jatuh, lalu berangkat bersama Lana menuju target berikutnya.


.....


Di tengah perjalanan, Lana bertanya, "Siapa selanjutnya?"


"Sekte Pedang Qingxiao."


Dave bergumam, "Mereka adalah salah satu kekuatan utama di balik pengepungan terhadap Istana Surgawi Segala Hukum. Kudengar formasi pedang mereka juga telah merenggut banyak nyawa. Ayo, kita kunjungi mereka."


....


Sekte Pedang Qingxiao: Pedang Kembali ke Sarungnya


Sekte Pedang Qingxiao sepenuhnya mengabdikan diri pada jalan pedang; setiap anggotanya mendalami ilmu pedang, dengan semboyan: "Dengan pedang di tangan, dunia ada dalam genggamanku."


Penguasaan pedang mereka sangatlah hebat—terutama sang pemimpin sekte, yang dijuluki "Pendekar Suci Pedang Qingxiao". Dengan tingkat kultivasi di tahap setengah langkah menuju Raja Abadi (Xian Wang),  ia dikenal karena kemampuannya membelah gunung dan sungai hanya dengan satu tebasan.


Saat Dave dan Lana tiba di gerbang Sekte Pedang Qingxiao, tampak sang Pendekar Suci Pedang Qingxiao sudah menunggu cukup lama.


Ia berdiri dengan pakaian serba putih, kedua tangannya terlipat di belakang punggung. Di belakangnya berdiri ribuan murid, masing-masing menggenggam pedang—niat pedang mereka secara kolektif membubung tinggi ke angkasa, memancarkan aura yang mengesankan dan tangguh. "Kau sudah tiba."


Pendekar Pedang suci Qingxiao menatap Dave dan berkata dengan acuh tak acuh, "Aku telah menunggumu selama tiga hari. Aku sudah mendengar kabar mengenai kehancuran Kediaman Abadi Chixia dan Menara Bintang Jatuh."


Dave mengangkat alisnya. "Kalau begitu, kau pasti tahu mengapa aku datang."


"Aku tahu."


Pendekar Suci Pedang Qingxiao mengangguk. "Kau datang untuk membalaskan dendam bagi Istana Surgawi Segala Hukum. Sekte Pedang Qingxiao milikku memang turut serta dalam pengepungan terhadap istana tersebut."


Ia terdiam sejenak, suaranya tetap tenang. "Namun, tebasan pedang yang kunantikan bukanlah tebasan yang ditujukan untuk melarikan diri dalam keputusasaan. Jika kau ingin membalas dendam, aku akan menerima satu tebasan darimu. Jika kau mampu menahan satu tebasan dariku sebagai balasannya, maka seluruh Sekte Pedang Qingxiao akan kuserahkan kepadamu untuk kau perlakukan sesuka hatimu."


Dave menatap Pendekar Suci Pedang Qingxiao yang berterus terang itu, ekspresinya berubah menjadi serius—sesuatu yang jarang terjadi padanya. 


"Baiklah—cabut pedangmu."


Pendekar Suci Pedang Qingxiao perlahan mencabut pedangnya.


Pada saat ini, seluruh dunia seolah membeku, tertawan oleh pancaran cahaya pedangnya.


Gelombang niat pedang membubung ke angkasa, berubah menjadi berkas cahaya yang membentang di cakrawala. Dengan kekuatan yang tak terbendung dan mampu menghancurkan segalanya, serangan itu melesat ke arah Dave.


Serangan ini merupakan puncak dari pengejaran ilmu pedang yang ia lakukan seumur hidupnya—buah dari sepuluh ribu tahun kultivasi yang penuh kerja keras.


Tetap berdiri tegak, Dave mengamati cahaya yang datang, secercah kekaguman tulus melintas di matanya.


Ia mengangkat tangannya, esensi kekacauan berkumpul di ujung jarinya, lalu ia menyentuhkan jarinya ke depan.


Jarinya tepat mengenai titik paling tajam dari cahaya pedang tersebut.


Jegeerrrrrr....


Cahaya pedang itu hancur, dan energi pedang terpencar ke segala arah.


Pedang di tangan Pendekar Suci Pedang Qingxiao mulai terurai, bermula dari ujungnya; pedang itu hancur menjadi serpihan besi yang tak terhitung jumlahnya, berjatuhan bagaikan debu.


Menatap sisa pedang yang patah di tangannya, sang Pendekar Suci Pedang Qingxiao terdiam cukup lama. Akhirnya, ia perlahan menyarungkan gagang pedang yang rusak itu dan membungkuk dalam-dalam kepada Dave. "Terima kasih telah berbelas kasih."


"Aku tidak pernah bilang aku berbelas kasih. Aku hanya belum puas bersenang-senang—sekarang, aku ingin menunjukkan pedangku padamu."


Setelah berkata demikian, Dave memanggil Pedang Pembunuh Naga.


Begitu ia menggenggam pedang itu, kehadiran Dave seolah menjulang tinggi, menjadi jauh lebih mengintimidasi.


"Aku lupa memberi tahu mu, aku juga seorang pendekar pedang. Dan pedangku mampu melenyapkan seluruh sekte-mu dari muka bumi."


Dave mengatakannya dengan nada tenang dan acuh tak acuh.


Pendekar Suci Pedang Qingxiao menatap pedang di tangan Dave, matanya dipenuhi oleh keterkejutan.


Setelah terdiam cukup lama, ia mengangguk perlahan. "Pedang yang bagus, tapi kurasa kau cuma omon omon dan mungkin hanya melebih-lebihkan."


"Menghancurkan seluruh sekteku dengan satu tebasan—itu sungguh mustahil, cokk.."


" Hmm... Benarkah begitu?" Dave menyunggingkan senyum tipis.


Ia menjentikkan Pedang Pembunuh Naga itu dengan ringan dan santai.


Seberkas energi pedang—yang begitu halus hingga hampir tak terasa—melesat cepat menembus ruang. Alis Pendekar Suci Pedang Qingxiao sedikit berkerut, namun setelah menunggu cukup lama, tidak terjadi apa-apa.


Duaaaarrrr....


Tepat saat ia hendak meminta penjelasan dari Dave, sebuah gemuruh dahsyat tiba-tiba meledak dari belakangnya.


Dalam sekejap, seluruh puncak gunung—tempat berdirinya Sekte Pedang Qingxiao—berubah menjadi abu. Ribuan murid lenyap tanpa sisa; jiwa mereka musnah bahkan sebelum sempat mengeluarkan satu pun jeritan kesakitan.


Kini, hanya dia yang tersisa, berdiri di tengah keheningan.


Pendekar Suci Pedang Qingxiao gemetar hebat; kebanggaan yang selama ini melekat padanya sebagai seorang "Pendekar Suci Pedang" telah sirna sepenuhnya.


Tiba-tiba, sensasi hangat menjalar di selangkangannya, ia telah mengompol karena ketakutan yang luar biasa.


Bagaimana mungkin seseorang di tingkat Penguasa Dewa Abadi Peringkat Pertama memiliki kekuatan yang begitu mengerikan?


Ia tidak mampu memahaminya; hal itu benar-benar di luar nalar.


Melihat sang Pendekar Suci Pedang yang ketakutan hingga kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Dave tersenyum tipis.


Ia menoleh ke arah Lana dan berkata, "Ayo pergi—menuju tempat berikutnya."


Lana melirik sekilas ke arah Pendekar Suci Pedang itu, tidak berkata apa-apa lagi, lalu mengikuti Dave beranjak meninggalkan Sekte Pedang Qingxiao.


...


Begitu mereka melangkah keluar dari gerbang gunung, Lana tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Mengapa kau tidak membunuhnya?"


"Hidup, namun sejatinya sudah mati—terkadang, tetap hidup bisa jauh lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri," jelas Dave seraya tersenyum.


Lana mengangguk sambil berpikir, lalu tiba-tiba tertawa. " Hahaha... Kau memang tipe orang yang selalu melakukan hal-hal di luar dugaan."


"Tentu saja," jawab Dave dengan seringai. "Kalau aku mudah ditebak, bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup?"


Sembari berbincang dan tertawa, keduanya melesat menuju target mereka berikutnya.


....


Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi: Melawan Racun dengan Racun


Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi bercokol di wilayah barat daya yang penuh dengan racun dan kabut beracun. 


Para anggotanya mendalami Seni Gu (serangga berbisa) dan racun; kultivasi mereka berakar pada praktik membiarkan ribuan Gu memangsa tubuh mereka sendiri. 


Dikenal karena perilaku mereka yang kejam dan ganas, sekte ini merupakan kekuatan yang tidak berani diganggu oleh siapa pun dalam radius sepuluh ribu li.


Saat pengepungan Istana Surgawi Segala Hukum, Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi mengirim seorang tetua—seorang ahli racun—yang secara diam-diam memasukkan racun gu ke dalam sumber air istana. 


Tindakan itu merenggut nyawa lebih dari seratus murid; sebuah taktik yang tercela dan licik.


Begitu mendengar hal ini, senyum di wajah Dave lenyap—sesuatu yang jarang terjadi.


"Menggunakan racun untuk membunuh para kultivator—itu sama sekali bukan keahlian yang hebat."


Ia berucap dengan nada datar dan dingin. "Apalagi memangsa mereka yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melawan? Itu jauh lebih tidak berarti. Sekte semacam ini hanyalah sebuah wabah yang merusak."


Lana mengangguk, kilatan dingin muncul di matanya. "Aku ingat tetua itu—orang yang menyebarkan racun tersebut. Dia dikenal sebagai 'Orang Tua Racun-Gu', salah satu dari tiga tetua agung Sekte Iblis itu."


Keduanya pun bergerak ke selatan, menembus lapisan kabut beracun yang tebal, hingga akhirnya tiba di Lembah Kabut Beracun—markas besar Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi.


..


Lembah itu diselimuti oleh kabut pekat yang berputar-putar, sebuah jalinan rumit dari uap beracun yang berwarna-warni. Tanah di sana dipenuhi oleh kawanan serangga dan semut beracun dalam jumlah yang luar biasa. 


Bagi seorang kultivator biasa, melangkah satu kaki saja ke tempat ini akan membuat fondasi kultivasi mereka terkikis oleh hawa beracun, yang berujung pada kematian yang mengenaskan dan prematur.


Dave berdiri di mulut lembah, menatap kabut beracun tersebut. Tiba-tiba, ia menoleh ke arah Lana dan bertanya, "Apakah kau takut pada racun?"


Lana menjawab dengan acuh tak acuh, "Dengan Api Mendalam Sembilan Langit yang mampu melenyapkan segala jenis racun, apa yang perlu ku takutkan?"


"Masuk akal," kekeh Dave. "Ayo kita masuk dan berbincang dari hati ke hati dengan mereka."


Ia melangkah masuk ke dalam kabut beracun, dengan energi Kekacauan Primordial yang bersirkulasi di sekeliling tubuhnya. Uap beracun maupun makhluk berbisa apa pun yang berani mendekat dalam jarak tiga kaki darinya akan langsung dilahap oleh energi tersebut, hingga tak menyisakan jejak sedikit pun.


Lana mengikuti tepat di belakangnya; Api Mendalam Sembilan Langit berkobar di permukaan tubuhnya, memusnahkan racun apa pun begitu mendekat.


Keduanya bergerak seolah sedang berjalan melintasi padang belantara yang kosong, menembus lapisan demi lapisan kabut beracun hingga tiba di markas utama Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi.


...


Gerbangnya tertutup rapat, namun dari balik pintu terdengar suara gemerisik samar—gerakan tak terhitung banyaknya serangga beracun yang berkerumun di dalam bayang-bayang.


Dave mengangkat kakinya lalu menendang gerbang itu hingga terbuka.


Seketika, kawanan serangga yang padat dan menggeliat tumpah keluar layaknya banjir—gelombang hitam pekat yang disertai bau busuk yang menyengat—menerjang ke arah mereka berdua.


Tanpa gentar, Dave menjentikkan tangannya. Energi Kekacauan Primordial berubah menjadi nyala api berwarna kelabu kehitaman, menyapu ke arah kawanan serangga tersebut.


Begitu bersentuhan dengan api, serangga-serangga itu langsung terbakar, mengeluarkan suara gemeretak nyaring saat berubah menjadi abu.


"Hanya inikah kemampuan sekte iblis ini? Sekadar serangga-serangga kecil?"


Dave menyunggingkan bibir dengan nada meremehkan, lalu melangkah masuk ke dalam. "Kukira akan ada pertunjukan yang jauh lebih hebat." 


Dari kedalaman benteng, seorang pria tua dengan wajah cekung dan keriput—dikelilingi oleh kawanan serangga beracun yang berputar-putar—perlahan muncul. Dia tidak lain adalah Ketua Sekte Iblis Ulat Sutra Surgawi: Leluhur Segala Serangga.


 Ia menatap Dave lalu berkata dengan suara serak, "Kemampuanmu sungguh hebat—bisa dengan begitu mudah mengurai 'Penguasaan Segala Serangga' milikku. Katakanlah, ahli hebat dari mana kau ini, dan apa tujuanmu datang ke Sekte Iblisku?"


"Menagih hutang."


Jawaban Dave singkat dan lugas. "Di Istana Surgawi Segala Hukum, kau meracuni lebih dari seratus murid hingga tewas. Hari ini adalah saatnya melunasi utang tersebut."


Ekspresi Leluhur Segala Serangga berubah, lalu ia tertawa dingin dengan nada mengejek. " Hahaha.... Jadi, kau adalah sisa-sisa dari Istana Surgawi Segala Hukum! Aku selalu menyesal karena tidak bisa meracuni Lana hingga tewas saat pengepungan Istana itu. Sungguh beruntung, kau justru datang sendiri ke depan pintuku—"


Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, kawanan serangga di sekelilingnya bergerak ganas, menyatu menjadi awan hitam pekat yang melesat ke arah Dave.


Awan itu dipenuhi dengan esensi Dao beracun yang mematikan; sekadar bersentuhan dengannya saja akan membuat jiwa seseorang terkikis habis.


Dave tetap berdiri tegak, mengamati awan serangga yang mendekat, lalu tiba-tiba terkekeh. "Dasar orang tua terkutuk—apa kau benar-benar merasa begitu hebat hanya karena memelihara beberapa ekor serangga?"


Saat ia berucap, Esensi Kekacauan Primordial meledak dari tubuhnya, mewujud menjadi pusaran kelabu kehitaman. Pusaran itu menyapu seluruh kawanan serangga tersebut, melahapnya hingga tak tersisa sedikit pun.


Wuuzzzz...

Praaak...


Pupil mata Leluhur Segala Serangga mengecil tajam. Sebelum ia sempat bereaksi, Dave telah muncul tepat di hadapannya dalam satu langkah, lalu menghantamkan telapak tangannya ke puncak kepala pria tua itu. 


Esensi Kekacauan Primordial menyembur keluar, melenyapkan segalanya—fondasi Dao berbasis racun miliknya, serangga-serangga yang terikat dengan nyawanya, bahkan jiwanya sendiri.


Dengan mata terbelalak karena terkejut, Leluhur Tua Segala Serangga itu bahkan tidak sempat menjerit; ia langsung ambruk dan tewas seketika.


Bersambung.....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️









No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 7159 - 7161

Perintah Kaisar Naga. Bab 7159-7161 " Daannccookk... Sombong sekali!" bentak diakon paruh baya itu sambil melambaikan tangannya. ...