Photo

Photo

Monday, 8 June 2026

Kalau Semua Masalah Selesai Pakai "Pasrah", Bubarkan Saja Kementerian Ekonomi

"Rumah Kebakaran Malah Dikasih Ceramah"—Berhentilah Pakai Agama Buat Nutupin Salah!


Rakyat Kehilangan Pekerjaan, Bukan Kehilangan Iman!





Kenapa Kalimat "Allah Menjamin Rezeki" Sering Dipakai Buat Ngeles?


Aku sebenernya gak masalah sama kalimat "Allah menjamin rezeki". Wong itu emang ajaran Islam. 

Gak ada yang perlu diperdebatkan. 

Yang bikin aku garuk-garuk kepala tuh kenapa kalimat beginian sering nongol pas rakyat lagi nanya kenapa hidup makin susah.


Bayangin rumah mu kebakaran. Asap sudah masuk kamar. Anak bini batuk-batuk. Terus ada orang datang sambil bilang, "Tenang , semua yang hidup pasti mati." 

Lah iya, bang. Bener. Tapi rumah ku lagi kebakaran, goblok. Aku lagi nyari ember, bukan nyari kata-kata mutiara.


Nah perasaan yang sama muncul waktu rakyat nanya kenapa dolar naik, kenapa harga barang makin ngawur, kenapa PHK di mana-mana, kenapa nyari kerja kayak nyari jarum di tengah sawah. 

Yang ditunggu itu penjelasan. 

Yang datang malah ceramah bahwa Allah menjamin rezeki.


Lah emangnya ada yang bilang Allah gak menjamin rezeki?

Masalahnya bukan itu.

Rakyat lagi nanya penyebab. 

Yang dijawab malah pengalihan.

"Kenapa dolar naik?"

"Allah menjamin rezeki."

"Kenapa bahan baku mahal?"

"Allah menjamin rezeki."

"Kenapa usaha pada tumbang?"

"Allah menjamin rezeki."


Ya terus ngapain ada menteri ekonomi? 

Ngapain ada bank sentral? 

Ngapain ada rapat kabinet berjam-jam? 

Ngapain ada triliunan duit negara buat ngurus ekonomi kalau semua pertanyaan soal ekonomi cukup dijawab dengan satu kalimat itu?


Lucunya gak ada negara di dunia yang berani konsisten pakai logika begitu. 

Kalau ekonomi bagus, pertumbuhan naik, investasi masuk, lapangan kerja banyak, semua langsung sibuk tepuk dada. 

Semua ngomong soal strategi, kebijakan, kepemimpinan, visi, program, dan seabrek istilah keren lainnya.


Tapi giliran ekonomi seret, rupiah megap-megap, rakyat ngos-ngosan, tiba-tiba semuanya dilempar ke wilayah takdir.

Kalau untung hasil kerja manusia.

Kalau buntung hasil kehendak Tuhan.

Enak bener mainnya.


Padahal dalam Islam sendiri gak ada ceritanya tawakal dipakai buat nutupin kesalahan manusia.

Kalau jembatan ambruk, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan ajal."

Kontraktornya tetap diperiksa.


Kalau pesawat jatuh, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan kematian."

Tetap dicari apa yang rusak.


Kalau kapal tenggelam, nahkodanya diperiksa.


Kalau rumah sakit salah kasih obat, dokternya dievaluasi.


Tapi begitu ngomong ekonomi negara, mendadak ada yang alergi sama pertanyaan.

Mendadak semua harus diam.

Mendadak semua harus pasrah.

Mendadak semua harus fokus ke langit dan lupa melihat apa yang terjadi di bumi.


Padahal akal juga ciptaan Allah. 

Nanya penyebab masalah bukan dosa. 

Mengkritik pengelolaan negara bukan dosa. 

Cari tahu kenapa rakyat makin susah bukan dosa.


Justru yang aneh kalau semua masalah ditutup pakai slogan agama supaya orang berhenti berpikir.


Dan menurut ku di situlah letak masalah utamanya.

Kalimat ini mungkin terdengar menenangkan buat orang yang perutnya kenyang, rekeningnya aman, bisnisnya jalan, dan hidupnya nyaman.


Tapi coba ucapin ke orang yang baru di-PHK.

Coba ucapin ke bapak yang bingung bayar kontrakan.

Coba ucapin ke ibu yang duit belanjanya makin tipis tiap minggu.

Coba ucapin ke pedagang yang omzetnya ambruk.

Mereka bukan lagi mempertanyakan siapa pemberi rezeki.


Mereka sedang mempertanyakan kenapa jalan menuju rezeki terasa makin sempit.

Itu dua pertanyaan yang berbeda.

Dan ketika pertanyaan kedua dijawab dengan jawaban untuk pertanyaan pertama, yang lahir bukan ketenangan.

Yang lahir justru kesan bahwa ada yang sedang menghindari pembahasan inti.

Makanya banyak orang kesal bukan karena kalimat itu salah. Kalimatnya benar. Tapi benar saja gak cukup. Konteks juga penting.

Karena rakyat hari ini gak sedang kehilangan iman.


Mereka sedang kehilangan pekerjaan.

Mereka gak sedang bingung siapa yang menjamin rezeki.

Mereka sedang bingung kenapa akses mencari rezeki makin hari makin berat.

Dan kalau setiap keluhan ekonomi dijawab dengan "Allah menjamin rezeki", 

ya sekalian aja bubarin kementerian, tutup rapat ekonomi, jual gedung lembaga negara, 

Karena ternyata semua persoalan cukup diselesaikan dengan satu postingan Instagram.

Masalahnya dunia nyata gak bekerja seperti itu.


Islam pun gak mengajarkan seperti itu.

Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar, bukan tawakal untuk menggantikan ikhtiar. 

Karena kalau tawakal dipakai buat menghindari pertanyaan terhadap manusia yang memegang kekuasaan, lama-lama agama berubah fungsi. 

Bukan lagi menjadi cahaya yang menerangi masalah, tapi malah dijadikan selimut buat nutupin masalah.








 

Sunday, 7 June 2026

Seni Melumpuhkan Provokator: Ketika Cara Modern Kalah Selangkah dari Taktik Kuno

Glitch di Otak Musuh: Seni Menang Tanpa Perlu Angkat Bicara

Pattern Interrupt: Cara Merusak Skrip Orang yang Lagi Ngamuk






Aku berani taruhan, kau pasti pernah ngerasain momen di mana darah mu tiba-tiba mendidih karena berhadapan sama orang yang emosinya lagi meledak. 


Entah itu klien yang tiba-tiba ngamuk di telepon, bos yang marah-marah nggak jelas di tengah meeting, atau sesederhana orang yang motong jalan mu di tol terus malah dia yang lebih galak.


​Di momen kayak gitu, otak kita itu kayak diprogram ulang secara otomatis. 

Ada bagian di otak kita yang namanya amigdala, fungsinya ngebaca ancaman.


Begitu ada orang yang agresif ke kita, amigdala ini langsung ngebajak logika sehat kita dan ngasih dua pilihan primitif: LAWAN BALIK atau KABUR. 


Ilmuwan nyebut ini sebagai respons fight or flight. 

Makanya, insting pertama kita kalau dibentak orang adalah pengen balas ngebentak lebih keras buat nunjukin kalau kita bukan pihak yang lemah.


​Tapi sayangnya, di dunia nyata, ngerespons agresi pakai agresi itu hampir selalu berujung bencana. 

Masalah nggak selesai, ego makin terluka, dan energi mu habis terkuras.


​Aku suka banget bukunya Chris Voss. Buat kamu yang belum tahu, dia ini mantan negosiator pembebasan sandera andalan FBI. 

Dia nulis buku legendaris judulnya NEVER SPLIT THE DIFFERENCE. 

Di buku itu, ada satu quote yang nempel banget di kepala ku. 

Dia bilang, NEGOTIATION IS NOT AN ACT OF BATTLE; IT'S A PROCESS OF DISCOVERY. THE GOAL IS TO UNCOVER AS MUCH INFORMATION AS POSSIBLE.


​Menurut Chris Voss, senjata paling mematikan buat ngadepin orang yang lagi ngamuk atau nyandera orang itu bukan ancaman senjata api, melainkan sesuatu yang dia sebut sebagai TACTICAL EMPATHY atau empati taktis. 


Empati taktis ini bukan berarti kau setuju sama kelakuan buruk orang itu. 

Bukan berarti kau ikhlas diinjek-injek. 

Empati taktis adalah kemampuan mu buat bener-bener ngelihat situasi dari kacamata emosi lawan, memvalidasi ketakutan mereka, dan pelan-pelan nurunin suhu emosi mereka sampai mereka bisa diajak mikir rasional lagi.

Dan sumpah, pas aku ngebedah literatur sejarah, Rasulullah itu ternyata adalah grandmaster dari taktik ini. 

Beliau sudah ngejalanin behavioral engineering alias rekayasa perilaku tingkat dewa jauh sebelum FBI ngerumusin SOP-nya.


​Mari kita bahas kejadian pertama. 

Bayangin kamu lagi jalan di tempat umum, tiba-tiba ada orang asing, kasar, nggak berpendidikan, nyamperin kamu dan narik kerah baju mu sekencang-kencangnya sambil minta duit. Kesel nggak ?


​Ini bener-bener kejadian sama Rasulullah. Waktu itu ada seorang Arab Badui. 

Orang Badui di zaman itu terkenal punya tabiat yang super kasar dan nggak ngerti tata krama. 

Dia merangsek masuk, narik sorban Rasulullah dari belakang dengan sangat brutal. 

Saking kasarnya tarikan itu, riwayat nyebutin kalau ujung kain sorban yang tebal itu sampai ninggalin bekas merah di leher beliau. 

Bayangin rasanya dicekik pakai kain kasar secara tiba-tiba.


​Orang Badui ini dengan santainya teriak nuntut supaya dia dikasih bagian dari harta negara. 

Kalau ini terjadi sama pemimpin negara zaman sekarang, jangankan bosnya yang bereaksi, Paspampres atau security di sekitarnya pasti sudah ngebanting orang itu ke aspal. 

Secara hukum, orang Badui ini pantas banget dipenjara karena melakukan penyerangan fisik ke kepala negara.


​Tapi apa yang dilakuin Rasulullah? 

Beliau nengok ke orang itu. 

Beliau nggak marah, nggak teriak, nggak manggil pengawal. 

Beliau justru TERSENYUM, dan dengan tenang nyuruh sahabat di sebelahnya buat ngasih apa yang orang Badui itu minta.

​Selesai. Krisis batal terjadi.

Di ilmu psikologi, apa yang dilakuin Rasulullah ini disebut sebagai PATTERN INTERRUPT atau memutus pola. 

Ketika seseorang melakukan agresi fisik, otak mereka itu sudah nyiapin sebuah skrip. 

Mereka berekspektasi bakal dapat perlawanan, atau minimal ngelihat kepanikan dari targetnya. 

Skrip itu yang ngasih mereka bahan bakar buat terus bertindak agresif.


​Tapi dengan memberikan senyuman dan memenuhi permintaannya tanpa ada perlawanan ego sedikit pun, Rasulullah menciptakan semacam glitch atau kerusakan sistem di otak si Badui. 

Skrip konfrontasinya hancur berantakan. 

Ini yang dinamakan EMOTIONAL DAMPENING. 

Beliau ngeredam emosi lawan bukan pakai argumen logis, tapi pakai respons paradoks yang sama sekali di luar nalar penyerangnya. 

Kamu gak bisa terus-terusan marah ke orang yang senyum dengan tulus dan ngasih apa yang kau mau.

Itu secara biologis mustahil buat dipertahanin sama otak manusia.


​Kejadian Badui tadi mungkin level ancamannya masih tergolong ringan karena cuma masalah harta dan kekasaran fisik biasa. 

Tapi gimana kalau ancamannya sudah nyangkut nyawa? 

Gimana cara kita ngelumpuhin ancaman saat posisi kita benar-benar terdesak dan ada senjata di depan mata?

​Aku mau bawa kamu ke sebuah kejadian yang bikin aku geleng-geleng kepala. 

Suatu hari, pas lagi dalam perjalanan militer, Rasulullah lagi istirahat sendirian di bawah pohon. 

Pedangnya digantungin di ranting. Pasukan yang lain lagi pada misah nyari tempat teduh masing-masing.


​Tiba-tiba, ada satu musuh namanya Ghaurats bin Harits yang berhasil nyelinap. 

Dia ngambil pedang yang digantung itu, ngehunusin tepat di depan wajah Rasulullah yang baru saja kebangun. 

Di momen super asimetris di mana Ghaurats ngerasa dia megang kendali penuh atas hidup dan mati, dia ngeluarin pertanyaan intimidatif. 

Dia nanya, " SIAPA YANG AKAN MELINDUNGIMU SEKARANG? "


​Aku coba ngebayangin posisi itu. Kalau ada orang nodong senjata ke aku, reaksi standar manusia pasti antara mohon-mohon ampun, panik, atau minimal ada raut ketakutan yang luar biasa di wajah. 

Karena emang itu kan tujuan orang nodong senjata? Buat mendominasi dan bikin lawannya ketakutan.


​Tapi Rasulullah sama sekali nggak bergeming. 

Beliau natap mata Ghaurats, nggak ada sedikit pun perubahan nada suara atau getaran panik, dan beliau cuma ngejawab satu kata dengan ketenangan absolut: ALLAH.


​Dan kau tahu apa efek dari satu kata yang diucapin tanpa rasa takut itu?

Ghaurats tiba-tiba gemetar hebat. Tangannya lemes, kehilangan kendali, sampai pedangnya jatuh ke tanah. 

Momen kendali itu langsung berbalik 180 derajat.


​Ini adalah aplikasi murni dari teknik THREAT PERCEPTION NULLIFICATION. 

Orang yang memprovokasi atau ngancem kamu itu sebenernya lagi menyerap energi dari rasa takut mu. 

Ketakutan mu adalah validasi buat dominasi mereka. Ketika kamu memproyeksikan stabilitas mental tanpa syarat, ketika kamu menolak buat panik, kau memutus pasokan energi mereka.

Ketidakberadaan respons panik dari targetnya itu memicu guncangan kognitif yang parah di otak penyerang. 

Otak Ghaurats nggak bisa memproses anomali ini. 

Dia berekspektasi ngelihat kepanikan, tapi yang dia dapat malah sebuah tembok ketenangan yang sangat masif. 

Hantaman psikologis dari ketenangan itu ngerusak fungsi motorik di tangannya sampai dia ngejatuhin senjatanya sendiri.

Aku sering nerapin prinsip ini di dunia kerja, terutama kalau lagi meeting sama pihak-pihak yang hobi main gertak sambal. 

Kalau ada orang yang sengaja ninggiin suara atau ngancem bakal batalin kontrak buat menekan ku, respons terbaik ternyata memang diam sejenak, tatap matanya, dan jawab dengan nada suara yang datar dan santai. 

Kepanikan kita adalah senjata mereka. 

Cabut senjata itu, dan mereka bakal kehilangan arah.


​Terus ada lagi satu skenario negosiasi hostile yang menurut ku paling kompleks. 

Skenario di mana ada pihak ketiga yang malah nambahin bahan bakar ke dalam api. 

Ini kejadian pas Rasulullah berhadapan sama Zaid bin Sa'nah.


​Zaid ini saat itu belum masuk Islam. Dia adalah seorang pendeta Yahudi terpandang yang kebetulan ngasih pinjaman utang ke Rasulullah. 

Anehnya, dua atau tiga hari SEBELUM tanggal jatuh tempo utang itu, Zaid sengaja nyari gara-gara. 

Dia nyamperin Rasulullah di keramaian, langsung narik kerah baju beliau dengan kasar, mukanya beringas, dan dia nagih utang itu sambil ngelontarin hinaan ke keluarga besar Rasulullah. 

Dia bilang keturunan Abdul Muthalib itu memang orang-orang yang suka nunda-nunda bayar utang.


​Nah, di sebelah Rasulullah waktu itu ada Umar bin Khattab. Kau tahulah Umar ini profile-nya kayak apa. Jenderal militer, badannya gede, sumbu pendek kalau lihat ada yang ngusik pemimpinnya. 

Denger hinaan Zaid, Umar langsung meledak. Matanya melotot dan dia minta izin buat mendekap atau bahkan memenggal kepala Zaid saat itu juga karena kelancangannya.


​Di titik ini, krisisnya jadi double. 

Di satu sisi ada Zaid yang lagi provokasi secara fisik, di sisi lain ada Umar yang emosinya lagi memuncak dan siap eskalasi pakai kekerasan tingkat tinggi.

Aku merinding ngelihat gimana cara Rasulullah ngurai benang kusut ini pakai ilmu negosiasi tingkat tinggi. 

Beliau nggak bela diri. 

Beliau malah noleh ke Umar, dan ngasih teguran halus tapi telak. 

Beliau bilang," UMAR, AKU DAN DIA BUTUH YANG LEBIH BAIK DARI INI. SURUH DIA MENAGIH DENGAN SOPAN, DAN SURUH AKU MELUNASI DENGAN BAIK."


​Gila nggak tuh? 

Di saat harga dirinya lagi diinjek-injek di depan umum, beliau malah memvalidasi HAK dari si penyerang. 

Beliau memisahkan antara kelakuan buruk Zaid dengan hak sah Zaid atas utangnya.

Lebih gilanya lagi, beliau kemudian nyuruh Umar buat bawa Zaid, bayar lunas semua utangnya, dan beliau ngasih instruksi tambahan: TAMBAHKAN TIMBANGANNYA (bayar lebih dari yang diutang) SEBAGAI KOMPENSASI KARENA ENGKAU TELAH MENAKUT-NAKUTINYA.


​Ini adalah strategi OVER-DELIVERY di bawah tekanan krisis. 

Rasulullah secara sadar nurunin suhu konflik yang lagi dieskalasi sama pihak ketiga (Umar), sambil ngasih kompensasi ekstra atas gesekan emosional yang terjadi.

Kau harus tahu dari sudut pandang psikologi, ini adalah tamparan yang luar biasa keras buat Zaid. 

Zaid sengaja ngelakuin itu buat ngetes apakah karakter Rasulullah ini beneran seorang Nabi atau cuma raja yang arogan. 

Kalau Rasulullah arogan, beliau pasti bakal ngebiarin Umar mukulin Zaid. 

Tapi dengan memvalidasi hak agresor dan ngasih lebih dari yang diminta, permusuhan di hati Zaid menguap tak bersisa. 

Boro-boro mau musuhan, kelar kejadian itu Zaid langsung bersyahadat karena egonya bener-bener dihancurkan oleh kebaikan yang radikal.


​Dari ketiga cerita ini, aku belajar satu hal yang fundamental banget soal nanganin manusia yang lagi toksik. 

Kunci dari tactical empathy itu bukan seberapa pintar kau merangkai argumen buat menangin debat. 

Kadang, menang debat malah bikin kau kehilangan respect atau bikin musuh mu makin dendam.


​Seni melumpuhkan provokator itu ada pada kemampuan mu mengatur termostat emosi di dalam ruangan. 

Ketika musuh mu meledak-ledak dan berekspektasi bakal ada perlawanan, jadilah air yang tenang. 

Kasih senyuman paradoks, validasi ketakutan atau hak mereka secara objektif, dan biarkan kebingungan kognitif bekerja ngelumpuhin amarah mereka dari dalam.


​Kau gak perlu selalu jadi orang yang paling keras suaranya buat bisa ngendaliin keadaan. 

Seringkali, orang yang paling diam dan paling tenanglah yang sebenarnya memegang kendali atas seluruh pertunjukan.







Friday, 5 June 2026

Perintah Kaisar Naga : 6579 - 6583

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6579-6583





*Menghapus Aula Cahaya*


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci mengerutkan kening.


" Siapakah dia...? "


Dave tidak menjawab.


Dia menghunus Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang, mendistorsi dan mengubah bentuk udara di sekitarnya.


"Kau tidak perlu tahu."

Suara Dave sedingin es, "Yang perlu kalian ketahui adalah bahwa orang-orang kalian telah menyentuh orang yang seharusnya tidak mereka sentuh. Karena itu, kalian semua akan menanggung akibatnya."


Ekspresi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menjadi muram.


Dia tidak mengerti maksud Dave.


" Apakah anak buah ku melukai seseorang di Jurang Dingin Utara...? "


" Siapa yang terluka...? "


" Tim yang ku kirim ke Jurang Utara adalah untuk menemukan Jantung Jurang, bukan untuk menimbulkan masalah."


" Bagaimana mungkin mereka menyakiti seseorang..? "


" Siapa yang terluka sehingga memicu serangan besar-besaran oleh mu Dave? "


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tidak dapat memahaminya, tetapi dia tidak perlu memahaminya.


Karena Dave telah mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Energi pedang berwarna ungu mengembun pada pedang, tumbuh semakin panjang dan terang hingga akhirnya mengeras menjadi pilar cahaya ungu sepanjang puluhan kaki.


Pilar cahaya itu mengandung kekuatan yang mengerikan; itu adalah cahaya penghancur yang dilepaskan setelah kekuatan kekacauan dikompresi hingga batasnya.


Dave menebas ke bawah dengan pedangnya.


Wuuzzzz...

Jebreeet....


Sinar ungu itu menghantam penghalang cahaya keemasan, menghasilkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.


Cahaya suci keemasan dan kekuatan kacau berwarna ungu bertabrakan dengan dahsyat di titik tumbukan, kedua kekuatan yang berlawanan itu saling memusnahkan dan melepaskan gelombang energi yang tak terbayangkan.


Gelombang kejut menyebar ke segala arah, menghancurkan semua pohon dalam radius beberapa mil dan menciptakan kawah sedalam beberapa meter di dalam tanah.


Formasi pelindung Aula Cahaya bergetar hebat, dan retakan kecil muncul di layar cahaya keemasan.


Ekspresi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berubah.


Formasi pelindung Aula Cahaya, "Kanopi Cahaya Suci," konon mampu menahan serangan apa pun dari mereka yang berada di bawah peringkat kelima alam Dewa Emas.


Dave hanyalah kultivator Dewa Abadi Agung tingkat delapan, namun kekuatan pedangnya benar-benar menyebabkan retakan muncul di "Kanopi Cahaya Suci".


" Daannccoookk... Monster jenis apakah ini...? "

"Semuanya, dengarkan perintahku!" teriak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, "Pertahankan formasi besar ini dengan sekuat tenaga! Jangan biarkan bocah gila itu menghancurkannya!"


Ribuan kultivator dari Aula Cahaya secara bersamaan menyalurkan kekuatan spiritual mereka, menyuntikkan cahaya suci di dalam tubuh mereka ke dalam formasi besar tersebut.


Retakan pada tirai cahaya keemasan itu sembuh dengan cepat, dan tirai cahaya menjadi lebih tebal dan lebih kokoh.


Namun, serangan pedang kedua Dave telah terlanjur dilancarkan.


Wuuzzzz...

Jegeerrrrrr...


Serangan pedang kedua lebih kuat dari yang pertama, aura pedang ungu lebih panjang, dan kekuatan yang terkandung di dalamnya lebih besar.


Duaaaarrrr....


Tirai cahaya keemasan itu kembali bergetar hebat, dan retakannya menjadi lebih besar dan lebih banyak dari sebelumnya.


Serangan pedang ketiga.


Serangan pedang keempat.


Pedang kelima.


Dave menebas formasi itu dengan pedangnya, setiap tebasan lebih kuat dari sebelumnya, meninggalkan bekas yang dalam pada formasi tersebut.


Para kultivator Aula Cahaya melakukan yang terbaik untuk mempertahankan formasi besar tersebut, tetapi pedang Dave terlalu cepat dan terlalu kuat, dan energi spiritual mereka terkuras dengan kecepatan yang terlihat jelas.


"Ini tidak bisa terus berlanjut!" Wakil kepala aula bergegas ke sisi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, wajahnya pucat pasi. "Formasi besar itu tidak akan bertahan lebih lama lagi! Kita harus mengambil inisiatif!"


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menggertakkan giginya, secercah kegilaan terpancar di mata emasnya.


"Sampaikan perintah ini: aktifkan formasi besar! Semua murid, ikuti aku ke medan pertempuran!"


"Baik!"


Tirai cahaya keemasan itu perlahan terbuka sedikit.


Ribuan kultivator Aula Cahaya bergegas keluar dari gerbang gunung, cahaya suci keemasan menyala di tubuh mereka, mewarnai seluruh langit dengan warna emas.


Mereka membentuk formasi pertempuran dan menyerbu ke arah tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru.


Master Giok Abadi berdiri di barisan paling depan pasukan Gua Surga Awan Biru, wajahnya yang tua tanpa ekspresi saat ia mengamati para kultivator yang mendekat dari Aula Cahaya.


"Bentuk formasi!" Suaranya tidak keras, tetapi jelas terdengar oleh setiap murid Gua Surga Awan Biru.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru langsung bertindak secara serentak.


Mereka dengan cepat mengatur diri mereka menjadi formasi Bagua yang besar dengan Master Giok Abadi sebagai pusatnya.


Di setiap delapan arah Formasi Bagua, terdapat seorang tetua di tingkat Dewa Emas, dan tiga ratus murid tersebar di berbagai titik Formasi Bagua, masing-masing menyuntikkan kekuatan spiritual mereka ke dalam formasi tersebut.


Formasi Bagua berputar perlahan, dan cahaya spiritual biru memancar dari dalam formasi tersebut, mengembun menjadi hantu Bagua raksasa di langit di atas formasi.


Di dalam gambar ilusi tersebut, delapan trigram—Qian, Kun, Zhen, Xun, Kan, Li, Gen, dan Dui—menyala secara bersamaan, masing-masing mengandung kekuatan prinsip Taoisme.


Ini adalah formasi terkuat sekte di Gua Surga Awan Biru—"Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram".


Konon, formasi ini ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois. Formasi ini sangat kuat dan dapat menjebak musuh yang tingkat kultivasinya satu alam utama lebih tinggi daripada orang yang membuatnya.


Gua Surga Awan Biru tidak pernah menggunakan formasi ini selama puluhan ribu tahun karena belum pernah bertemu musuh yang sepadan dengan penggunaannya.


Hari ini adalah pertama kalinya.


Para kultivator dari Aula Cahaya bergegas memasuki jangkauan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram.


Dalam sekejap, dunia berubah warna.


Di dalam citra ilusi Delapan Trigram, delapan hukum Taoisme muncul secara bersamaan, dengan cahaya spiritual biru menekan cahaya suci keemasan lapis demi lapis.


Heksagram Qian, yang melambangkan surga, melepaskan raungan dahsyat yang menghancurkan para kultivator Aula Cahaya di garis depan menjadi puing-puing hangus.


Heksagram Kun melambangkan bumi. Tiba-tiba, tanah retak dan terbelah, menelan puluhan kultivator Aula Cahaya ke dalam tanah.


Trigram Zhen melambangkan guntur. Petir ungu menyambar dari langit, setiap sambaran merenggut nyawa seorang kultivator dari Aula Cahaya.


Trigram Xun melambangkan angin, dan badai biru menerpa para kultivator Aula Cahaya dengan sangat keras sehingga mereka kehilangan keseimbangan dan tidak mampu berdiri.


Trigram Kan melambangkan air. Banjir dahsyat menerjang dari kehampaan, menelan para biksu Aula Cahaya dan menenggelamkan cahaya suci mereka.


Trigram Li melambangkan api, dan api Dao biru menyembur keluar dari kehampaan, membakar para kultivator Aula Cahaya hingga menjadi abu.


Trigram Gen melambangkan gunung, dan puncak-puncak gunung yang besar turun dari langit, menghancurkan para kultivator Aula Cahaya menjadi daging cincang.


Trigram Dui melambangkan rawa, dan rawa muncul di bawah kaki para biarawan Aula Cahaya, menjebak mereka dan mencegah mereka melarikan diri.


Letusan serentak delapan hukum Taoisme membuat para kultivator Aula Cahaya benar-benar tidak berdaya untuk membalas.


Wajah Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memucat pucat saat menyaksikan pemandangan ini.


Ribuan muridnya, di hadapan Formasi Surgawi Evolusi Delapan Trigram, bagaikan kawanan domba yang akan disembelih, dibantai secara sepihak oleh tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru.


Jika ini terus berlanjut, tidak akan lama lagi sebelum semua muridnya musnah.


"Semuanya mundur! Keluar dari jangkauan formasi!" teriak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Para kultivator Aula Cahaya mundur dengan putus asa, tetapi jangkauan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram terlalu luas. Seberapa cepat pun mereka mundur, mereka tidak dapat menghindari serangan formasi tersebut.


Dalam kurun waktu singkat, hanya setengah batang dupa yang menyala, Aula Cahaya telah kehilangan ratusan murid.


Mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memerah.


Dia mengangkat tongkat emasnya, dan batu bercahaya di puncak tongkat itu memancarkan cahaya suci yang menyilaukan, mengembun menjadi bola cahaya emas yang sangat besar, yang kemudian dia ledakkan ke arah Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram.


Wuuzzzz...

Duaaaarrrr...


Bola cahaya keemasan itu bertabrakan dengan citra ilusi Bagua, menghasilkan raungan yang memekakkan telinga.


Gambar ilusi Bagua bergetar hebat sesaat, tetapi dengan cepat kembali stabil.


Master Giok Abadi berdiri dalam formasi, menatap Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, wajahnya yang tua tanpa ekspresi.


“Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.” Suaranya tenang. “Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram adalah formasi yang ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois. Dengan kultivasi Anda di peringkat kelima Alam Abadi Emas, Anda tidak dapat menghancurkannya.”


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menggertakkan giginya, matanya yang berwarna emas merah padam.


Dia tahu bahwa Master Giok Abadi mengatakan yang sebenarnya.


Kekuatan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram jauh melampaui imajinasinya.


Sekalipun Master Giok Abadi hanyalah seorang Dewa Emas tingkat lima, dia tetap bisa memberikan perlawanan.


Namun, Master Giok Abadi tidak berjuang sendirian.


Dia memiliki tiga ratus murid yang membantunya mempertahankan formasi tersebut, dan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram membantunya memperkuat kekuatannya.


Bagaimana mungkin dia bisa memecahkannya sendiri?


"Dave Chen!"


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tiba-tiba menoleh, pandangannya tertuju pada Dave. "Apa sebenarnya yang kau inginkan? Aku tidak menyimpan dendam padamu! Baik rakyatmu maupun rakyatku tidak ada yang dirugikan! Apakah kau salah paham?"


Dave berdiri di tepi Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram, Pedang Pembunuh Naga dipegang horizontal di depannya, mata ungunya menatap Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, tanpa ada perubahan dalam tatapannya.


"Anak buahmu melukai seorang wanita yang mengenakan gaun merah tua di Jurang Dingin Utara."


Suaranya tenang, tetapi ada nada dingin yang tersirat di dalamnya: "Dia adalah anggota garis keturunan Iblis Api, tetapi dia tidak bersalah. Kau tidak boleh menyakitinya."


Sebuah adegan terlintas di benak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci: bawahannya pernah melaporkan kepadanya bahwa mereka telah bertemu dengan sekelompok kultivator iblis di Jurang Dingin Utara, di antara mereka ada seorang wanita yang mengenakan gaun merah gelap.


Dia tidak memperhatikan saat itu.


Iblis? Bunuh saja mereka.


Dia tidak pernah menyangka bahwa hanya karena dia melukai wanita itu, Dave akan membawa tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru ke Aula Cahaya untuk membalas dendam.


"What... Hanya untuk seorang wanita?"


Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci itu dipenuhi rasa tidak percaya, "Kau memimpin tiga ratus orang untuk menyerbu Aula Cahayaku, hanya demi seorang wanita?"


Dave tidak menjawab.


Dia hanya mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang itu, semakin lama semakin kuat hingga akhirnya mengembun menjadi aura pedang ungu sepanjang seratus kaki.


"Kalian telah menyakitinya." Suara Dave lembut, tetapi setiap kata bagaikan pisau yang menusuk jantung Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci. "Oleh karena itu, kalian semua akan mati."


Wuuzzzz...


Energi pedang itu menebas ke bawah.


Serangan itu tidak ditujukan kepada Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, melainkan kepada gerbang gunung Aula Cahaya.


Aura pedang ungu sepanjang seratus zhang menebas gerbang gunung, membelah seluruh gerbang menjadi dua.


Serpihan giok putih beterbangan ke mana-mana, dan rune cahaya suci di gerbang gunung hancur menjadi abu oleh api kekacauan yang membakar.


"Kau..!" Mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memerah, dan cahaya suci keemasan menyembur liar dari tubuhnya, mendorong kultivasinya ke puncak peringkat kelima Alam Abadi Emas.


Dia mengangkat tongkat emasnya, dan Batu Cahaya di puncak tongkat itu memancarkan cahaya suci yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengembun menjadi bola emas seukuran kepala manusia, yang mengandung kekuatan yang cukup untuk menghancurkan sebuah kota.


"Cahaya Suci - Hukuman Ilahi!"


Wuuzzzz...


Bola emas itu melesat keluar dari tangannya, meninggalkan jejak api emas yang panjang, dan meluncur ke arah Dave.


Ke mana pun bola cahaya itu lewat, udara terbakar, dan tanah terkikis membentuk parit sedalam beberapa kaki, bebatuan di dalam parit meleleh menjadi magma merah tua karena suhu yang tinggi.


Dave menatap bola cahaya keemasan yang melesat ke arahnya, mata ungunya tidak menunjukkan rasa takut.


Dia tidak mundur, menghindar, atau bahkan menangkis.


Dia hanya menghunuskan pedangnya.


Jegeerrrrrr...


Saat ujung Pedang Pembunuh Naga berbenturan dengan bola cahaya emas, api ungu yang kacau itu meledak dengan dahsyat, berubah menjadi bola api ungu besar yang sepenuhnya menelan bola cahaya emas tersebut.


Cahaya suci keemasan itu berjuang liar di dalam kobaran api ungu, seperti mangsa yang digigit lehernya oleh binatang buas, menggeliat, meronta, dan meraung putus asa, tetapi ia tidak dapat melepaskan diri dari kekuatan kekacauan.


Dengan jentikan lembut ujung pedang Dave, bola cahaya keemasan yang telah dilahap oleh Api Kekacauan itu mengubah arah dan terbang menuju Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Pupil mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tiba-tiba menyempit.


Dia mencoba menghindar, tetapi bola emas itu terbang terlalu cepat, dan setelah dilahap oleh api yang kacau, bola itu menjadi semakin tidak stabil, meledak dengan suara keras saat mencapai dirinya.


Duaaaarrrr... 


Cahaya suci keemasan dan api ungu yang kacau meledak secara bersamaan, berubah menjadi berkas cahaya kecil yang tak terhitung jumlahnya yang melesat ke segala arah.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terlempar ke belakang dan menabrak dinding istana dengan keras di belakangnya, menciptakan lubang besar di dinding. Kemudian dia jatuh ke dalam istana.


Darah keemasan tumpah dari sudut mulutnya, menetes dari dagunya ke lantai giok putih.


Jubah emasnya terkoyak-koyak, dan baju zirah cahaya sucinya penuh dengan retakan, beberapa di antaranya mengeluarkan asap hitam.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berjuang untuk berdiri dari reruntuhan, matanya dipenuhi dengan keterkejutan dan ketakutan.


Tingkat kelima dari Alam Abadi Emas.


Dia adalah seorang Dewa Abadi Emas tingkat lima.


Di sisi lain, Dave hanyalah seorang pemuda di peringkat kedelapan Alam Abadi Agung.


Bagaimana mungkin dia bisa dikalahkan sebegitu parah oleh seorang Abadi Agung tingkat delapan?


"Siapakah sebenarnya kau?" Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terdengar sangat serak.


Dave tidak menjawab.


Dia membawa Pedang Pembunuh Naga dan berjalan menuju Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Api ungu yang kacau membara di pedang, mendistorsi dan mengubah bentuk udara di sekitarnya.


Langkah kakinya tidak cepat maupun lambat, setiap langkahnya mantap, seolah-olah dia sedang mengukur langkah-langkah kematian.


Saat Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memperhatikan Dave mendekat selangkah demi selangkah, rasa takut di matanya semakin kuat.


Dia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tidak mau menurutinya.


Serangan pedang Dave tidak hanya menghancurkan Armor Cahaya Suci miliknya, tetapi juga meridiannya.


Cahaya sucinya mengalir tak beraturan melalui meridiannya, sehingga mustahil untuk menyatu.


Dia bahkan tidak bisa mengalahkan kultivator Dewa Abadi Agung sekarang.


Dave berjalan menghampiri Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci dan berhenti tiga langkah di depannya.


Mata ungu itu menatapnya tanpa emosi, seperti seorang algojo yang menatap tahanan yang akan dieksekusi.


"Apakah Anda memiliki kata-kata terakhir?" Suara Dave terdengar tenang.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mengatakan apa pun.


Berbagai macam pikiran melintas di benaknya—memohon belas kasihan, ancaman, suap…


Namun, dia menolak setiap ide tersebut.


Dia tahu bahwa semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Dave.


Pemuda ini datang untuk wanita yang mengenakan gaun merah gelap.


Menyakitinya berarti melanggar batasan moralnya.


Memohon belas kasihan itu sia-sia, ancaman itu sia-sia, dan suap itu sia-sia. Beda ceritanya jika ini terjadi di negeri Odni 


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menutup matanya.


"Aku tak punya apa-apa untuk dikatakan." Suaranya sangat serak. "Silakan bertindak."


Dave mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang, menerangi wajah pucat Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Pedang itu jatuh.


Wuuzzzz...

Crazz...


Energi pedang ungu menebas leher Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dan sebuah kepala terlepas, berputar beberapa kali di udara sebelum mendarat di tanah dan berguling jauh.


Tubuh tanpa kepala itu kaku sesaat, lalu perlahan jatuh, menghantam lantai giok putih dengan bunyi tumpul.


Gedebug! 


Darah keemasan menyembur dari rongga leher, mewarnai giok putih menjadi emas gelap.


Penguasa Aula Cahaya, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat kelima, telah gugur.


Kematian Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci bagaikan jerami terakhir yang mematahkan punggung unta.


Ketika para biksu di Aula Cahaya melihat Pemimpin Aula mereka terbunuh, semangat mereka langsung runtuh.


Sebagian berlutut menyerah, sebagian berbalik dan lari, dan sebagian lagi berdiri di sana dengan tercengang, tidak tahu harus berbuat apa.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru tidak mengejar mereka yang melarikan diri maupun membantai mereka yang menyerah.


Mereka hanya berdiri dengan tenang di dalam Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram, menunggu perintah Dave.


Dave menyarungkan Pedang Pembunuh Naga dan menoleh untuk melihat para kultivator Aula Cahaya yang berlutut di tanah.


Mata ungunya menyapu wajah-wajah mereka yang ketakutan tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.


"Mulai hari ini, Auala Cahaya tidak lagi ada."


Suaranya tenang, namun sangat jelas di Aula Cahaya yang sunyi, "Mereka yang bersedia menyerah, menyerahkan artefak magis mereka, melumpuhkan kultivasi mereka, dan boleh pergi hidup-hidup. Mereka yang tidak bersedia menyerah..."


Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi semua orang mengerti maksudnya.


Mereka yang menolak menyerah akan mati.


Para kultivator di Aula Cahaya saling memandang, lalu satu per satu menyerahkan artefak magis mereka, menyalurkan kekuatan spiritual mereka, dan menghancurkan meridian mereka.


Cahaya suci keemasan menghilang dari tubuh mereka, dan tingkat kultivasi mereka merosot dengan cepat, dari Alam Abadi Emas ke Alam Abadi Agung, dari Alam Abadi Agung ke Alam Abadi Sejati, dan dari Alam Dewa Abadi kembali ke Alam Dewa Surgawi, dan menjadi ke alam manusia biasa 


Mereka dulunya adalah kultivator dewa yang hebat dan perkasa, tetapi sekarang mereka bukan siapa-siapa.


Tapi setidaknya mereka masih hidup.


Dave tidak memberi kesempatan kepada mereka yang tidak mau menyerah.


Para murid dari Gua Surga Awan Biru bertindak cepat dan tegas, membunuh satu demi satu dengan setiap tebasan pedang. Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, semua kultivator Aula Cahaya yang keras kepala telah terbunuh.


Darah keemasan mengalir di depan gerbang Aula Cahaya, membentuk aliran emas gelap.


Udara dipenuhi dengan bau darah yang kuat dan menyengat yang membuat orang ingin muntah.


Dave berdiri di reruntuhan gerbang gunung, memandang segala sesuatu di hadapannya, mata ungunya benar-benar tenang.


Dia bukanlah orang yang haus darah.


Namun, sebagian orang memang pantas mati.


Mereka dari Aula Cahaya yang melukai Yuki pantas mati.


Baik mereka bertindak secara sengaja maupun tidak sengaja, baik mereka bertindak atas perintah atau atas inisiatif sendiri.


Jika kamu menyakiti seseorang yang seharusnya tidak kamu sakiti, kamu harus menanggung konsekuensinya.


Ini adalah aturan Dave.


Dari Dunia Sekuler hingga Alam Surgawi, dari Alam Surgawi hingga Semua Alam yang tak terhitung jumlahnya, aturan ini tidak pernah berubah.


Master Giok Abadi berjalan ke sisi Dave, matanya yang tua menatapnya dengan ekspresi yang kompleks.


"Tuan Chen, Aula Cahaya telah hancur. Ke mana kita akan pergi selanjutnya?"


Dave terdiam sejenak, lalu berkata, "Kumpulkan semua sumber daya Aula Cahaya dan kembalilah ke Gua Surga Awan Biru."


Master Giok Abadi mengangguk dan berbalik untuk memberikan beberapa instruksi kepada murid-muridnya.


Para murid dari Gua Surga Awan Biru mulai membersihkan medan perang, mengumpulkan rampasan perang, dan merawat yang terluka.


Dave berdiri di atas reruntuhan, pandangannya tertuju ke timur laut.


Itulah arah yang dituju Yuki saat pergi.


Dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sini, tidak menyadari semua yang telah dia lakukan untuknya.


Mungkin dia tidak akan pernah tahu.


Sekalipun dia tahu, dia mungkin tidak akan peduli.


Dia amnesia dan tidak mengingatnya.


Di matanya, dia hanyalah seseorang yang dikenalnya, seorang anak laki-laki yang pernah dilihatnya di Surga Keempat Belas, seseorang yang telah membantunya di Jurang Dingin Utara.


Itu saja.


Namun Dave tidak peduli.


Dia tidak perlu dia tahu apa yang telah dia lakukan untuknya, tidak perlu dia membalas budi, dan bahkan tidak perlu dia peduli.


Dia hanya ingin dia tahu...


Di dunia ini, masih ada orang-orang yang peduli padanya, orang-orang yang mengingatnya, dan orang-orang yang rela mempertaruhkan nyawa mereka untuknya.


Sekalipun dia sudah melupakan semuanya.


Sekalipun dia tidak pernah memikirkannya lagi.


"Ayo pergi." Dave mengalihkan pandangannya, berbalik, dan berjalan menuruni gunung.


Agnes mengikuti di belakangnya, gaun putih saljunya tampak menonjol di bawah sinar matahari keemasan.


Dia memegang Jantung Jurang Dingin di tangannya; mutiara biru es itu terasa sedikit hangat di telapak tangannya, seolah-olah sedang menceritakan sebuah kisah.


Yun Yi berjalan di depan kelompok, pedang kayunya bergoyang lembut di punggungnya, pola Dao kuno pada pedang itu bersinar samar-samar di bawah sinar matahari.


Master Giok Abadi berjalan di paling belakang iring-iringan, rambut dan janggut putihnya berkibar tertiup angin. Mata tuanya menatap reruntuhan Aula Cahaya, secercah emosi yang tak terlukiskan terpancar di dalamnya.


Tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru berdiri dalam barisan rapi, jubah Taois biru mereka berkilauan samar-samar di bawah sinar matahari, seperti sungai biru yang mengalir perlahan melalui pegunungan dan hutan.


Di belakang mereka, reruntuhan Aula Cahaya memancarkan asap hitam di bawah sinar matahari, dan darah keemasan mengental di atas giok putih, menciptakan pemandangan yang aneh dan berdarah.


Aula Cahaya, sebuah kekuatan ilahi yang telah ada di Delapan Belas Surga selama puluhan ribu tahun, hancur total hari ini.


...... 


Berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh Surga ke-18.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru mengerahkan seluruh kekuatan mereka dan, dipimpin oleh Dave, memusnahkan Aula Cahaya dalam satu hari.


Master Istana, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dibunuh secara pribadi oleh Dave, dan ribuan kultivator Aula Cahaya tewas, menyerah, atau melarikan diri.


Aula Cahaya yang dulunya megah itu hancur lebur dalam satu hari.


…………


Istana Dewa Api.


Yang Mulia Api Bumi duduk di Singgasana Dewa Api, memegang informasi yang baru saja diterimanya di tangannya, matanya yang berwarna merah keemasan dipenuhi dengan keterkejutan.


Aula Cahaya telah hancur.


Semuanya musnah dalam satu hari.


Sang Master Istana, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat lima, dibunuh secara pribadi oleh Dave.


"Dave Chen..." Yang Mulia Api Bumi menggumamkan nama itu, suaranya dipenuhi getaran ketakutan yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari, "Berapa banyak lagi orang yang ingin kau bunuh?"


Tidak seorang pun bisa menjawabnya.


Aula utama sunyi senyap; bahkan suara lampu suci yang menyala pun terdengar dengan jelas.


Yang Mulia Api Bumi meletakkan laporan intelijen itu dan mengetuk-ngetuk jarinya pelan di sandaran tangan, menghasilkan suara dentuman yang tumpul.


Dia sedang berpikir.


Akankah target Dave selanjutnya adalah Istana Dewa Api?


Jika Dave membawa tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru ke Istana Dewa Api, bisakah dia menghentikannya?


Bahkan Tirai Langit Cahaya Suci, formasi pelindung Aula Cahaya, tidak dapat menghentikan Dave. Mungkinkah formasi pelindung Istana Dewa Api dapat menghentikannya?


Bahkan Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci pun tewas di bawah pedang Dave, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Dave?


Alis Yang Mulia Api Bumi berkerut dalam-dalam.


Dia tidak tahu jawabannya.


Namun dia tahu satu hal: dia harus menemukan cara untuk menghadapi Dave secepat mungkin.


Jika tidak, tempat selanjutnya yang akan dihancurkan adalah Istana Dewa Api.


…………


Kamar Dagang Void.


Frederik Wu berdiri di depan jendela besar dari lantai hingga langit-langit di lantai sembilan Paviliun Hampa, memegang secangkir Teh Pencerahan di tangannya, memandang lautan awan yang bergelombang di luar jendela.


Di belakangnya, para pengawal kepercayaannya melaporkan berita tentang kehancuran Aula Cahaya.


"What.... Aula Cahaya hancur? Hanya dalam satu hari?" Suara Frederik Wu dipenuhi rasa tidak percaya. "Dave melakukannya sendirian?"


" Tidak sepenuhnya.." 

Pelayan tepercaya itu berkata, "Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru juga ikut serta. Master Giok Abadi secara pribadi memimpin tim dan menggunakan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram. Tetapi sebenarnya Dave sendirilah yang membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci."


Frederik Wu terdiam untuk waktu yang lama.


Dia meletakkan Teh Pencerahan, berjalan ke jendela, dan memandang lautan awan di luar, matanya berbinar penuh ketajaman.


“Sekte Taois… Dave Chen… Gua Surga Awan Biru…” Ia menggumamkan kata-kata itu, senyum penuh arti muncul di bibirnya. “Menarik, sangat menarik.”


Dia menoleh ke pengawal kepercayaannya, "Ada kabar dari pihak Arquette?"


"Wakil Presiden Su telah kembali dan sedang menunggu dipanggil oleh presiden."


"Suruh dia datang menemui ku." Frederik Wu mengambil kembali Teh Pencerahannya, menyesapnya, dan berkata, "Aku perlu berbicara baik-baik dengannya."


"Baik."


Petugas yang terpercaya itu menerima pesanan dan pergi.


Frederik Wu berdiri sendirian di dekat jendela, jari-jarinya dengan lembut mengetuk cangkir teh, menghasilkan suara gemerincing yang renyah.


Dengan hancurnya Aula Cahaya, struktur kekuasaan di Surga ke-18 akan mengalami perubahan yang sangat besar.


Dominasi Istana Dewa Api akan dipatahkan.


Di bawah kepemimpinan Dave, Gua Surga Awan Biru akan menjadi penguasa baru di Surga ke-18.


Persekutuan Pedagang Void harus menemukan tempatnya di lanskap baru ini.


“Dave, oh Dave Chen…” Wu Yuan menggumamkan nama itu, senyumnya semakin lebar. “Aku benar-benar tidak bisa lagi melihat isi hatimu.”


…………


Pasukan dari Gua Surga Awan Biru bergerak perlahan melewati pegunungan dan hutan.


Sebuah pasukan yang terdiri dari tiga ratus orang membentang dalam barisan panjang, jubah Taois biru mereka tampak menonjol di antara pegunungan dan hutan yang hijau.


Dave berjalan di depan kelompok itu, Pedang Pembunuh Naga tergantung di pinggangnya, mata ungunya menatap lurus ke depan.


Pikirannya memutar ulang semua yang telah terjadi hari itu.


Dimulai dari berangkat saat fajar, mengepung Aula Cahaya, membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, hingga menghancurkan Aula Cahaya.


Semuanya terjadi begitu cepat, rasanya hampir tidak nyata.


Namun, dia tidak menyesalinya.


Mereka dari Aula Cahaya yang melukai Yuki dengan cepat meninggal.


Inilah aturannya, dan juga batasan terakhir.


Tidak seorang pun diperbolehkan menyentuhnya.


Agnes berjalan di samping Dave, gaun putih saljunya tampak menonjol di antara kerumunan orang yang mengenakan pakaian biru.


Dia menatap sosok Dave, emosi berkecamuk di mata ungunya, dan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata muncul dalam dirinya.


Bagi Yuki, pria ini rela menghancurkan ras dewa yang telah ada selama puluhan ribu tahun.


Jika suatu hari dirinya berada dalam bahaya, akankah dia melakukan hal yang sama untuknya?


Agnes tidak tahu jawabannya, dan dia juga tidak berani bertanya.


Dia berjalan diam-diam di sampingnya, seperti daun putih sedingin es yang melayang lembut di sungai biru.


Yun Yi berjalan di depan kelompok itu, pedang kayu di punggungnya berkilauan samar-samar di cahaya senja matahari terbenam.


Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi hatinya sangat bergejolak.


Dia adalah Dewa Emas tingkat kedua, dan merupakan murid paling unggul dari sekte Taois di generasi ini.


Dia selalu berpikir bahwa dirinya sangat berprestasi.


Namun hari ini, setelah melihat Dave membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dia akhirnya mengerti apa arti kekuatan sejati.


Dia adalah Dewa Abadi Agung tingkat delapan dan membunuh Dewa Emas tingkat lima.


Dari semua orang yang dikenalnya, hanya Dave yang bisa melakukan ini.


Master Giok Abadi berjalan di bagian paling belakang iring-iringan, rambut dan janggut putihnya berkibar tertiup angin malam.


Dia menatap punggung Dave di depannya, secercah kelegaan terpancar di mata tuanya.


Dia menunggu puluhan ribu tahun, dan akhirnya bertemu dengan orang ini.


Pewaris Kitab Emas Luo Agung, penerus patriark Taois, dan pemimpin generasi baru sekte Taois.


Ia percaya bahwa di bawah kepemimpinan Dave, sekte Taois pasti akan bangkit kembali.


Mereka pasti akan mampu mematahkan penindasan para dewa selama ratusan ribu tahun dan sekali lagi menjadi kekuatan paling tangguh di seluruh surga dan berbagai alam.


.....


Saat matahari terbenam, warna keemasan dan merah tua dari ketiga matahari yang menyala telah tenggelam di bawah cakrawala, hanya menyisakan bulan berwarna perak-putih yang menggantung tinggi di langit.


Cahaya bulan yang sejuk menembus pegunungan dan hutan, menyelimuti kelompok yang berjumlah tiga ratus orang itu dalam cahaya keperakan.


Pegunungan Awan Biru yang jauh tampak samar-samar di bawah cahaya bulan, dan salju di puncak gunung berkilauan dengan cahaya putih keperakan.


Ketika rombongan kembali ke Gua Awan Biru, hari sudah gelap gulita.


Bulan berwarna putih keperakan menggantung tinggi di langit, cahayanya yang sejuk menyinari puncak-puncak Pegunungan Awan Biru yang berderet, menyelimuti seluruh lembah dengan cahaya keperakan.


Satu per satu, lampu-lampu hijau di kuil Taois menyala, bergoyang lembut tertiup angin gunung, seperti kunang-kunang yang tak terhitung jumlahnya menari di malam hari.


Dave berjalan di depan iring-iringan, melewati gapura batu biru dan menuju jalan raya batu biru yang lebar.


Pohon-pohon spiritual yang berjajar di kedua sisi jalan berkilauan samar-samar di bawah sinar bulan, dan aroma buah-buahan spiritual meresap ke dalam angin malam, menciptakan suasana yang lebih tenang dan damai dibandingkan siang hari.


Gerbang kuil Taois terbuka lebar, dan dua baris murid Gua Surga  Awan Biru yang tinggal di belakang berdiri di kedua sisi gerbang, memegang lentera hijau di tangan mereka, untuk menyambut rombongan yang kembali.


Tatapan mereka tertuju pada Dave, mata mereka dipenuhi kekaguman.


Kabar tentang kehancuran Aula Cahaya telah sampai kepada mereka. Mereka tahu bahwa bocah inilah, yang tampaknya berusia di bawah dua puluh tahun, yang secara pribadi membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat lima.


Master Giok Abadi berhenti di pintu masuk kuil Taois dan menoleh ke arah Dave.


"Tuan Chen, Anda telah menjalani hari yang panjang. Saya telah menyiapkan kamar tamu untuk Anda dan Nona Jiang. Anda bisa beristirahat sekarang. Para murid saat ini sedang mendata persediaan sumber daya dari Aula Cahaya, dan semuanya akan dikirimkan kepada Anda besok pagi."


Dave mengangguk. "Terima kasih, senior."


Master Giok Abadi melambaikan tangannya dan berbalik untuk berjalan lebih jauh ke dalam kuil Taois.


Rambut dan janggut putihnya berkilauan dengan cahaya keperakan di bawah sinar bulan, jubah Taois birunya berkibar lembut tertiup angin malam, dan langkahnya tetap tidak cepat maupun lambat, setiap langkahnya mantap.


Namun punggungnya tampak jauh lebih tua daripada siang hari, seolah-olah pertempuran itu telah memberikan dampak buruk pada semangatnya.


Yun Yi berjalan menghampiri Dave dan sedikit membungkuk. "Tuan Chen, silakan ikuti saya."


Dave mengikuti Yun Yi melewati aula utama kuil Taois, menyusuri koridor panjang, dan tiba di halaman terpencil di belakang kuil.


.... 


Halaman itu kecil, dikelilingi tembok bata biru, dengan beberapa bambu hijau ditanam di tengahnya, berdesir tertiup angin malam.


Di sudut halaman berdiri sebuah sumur kuno, airnya memantulkan cahaya bulan yang terang di langit. Angin sepoi-sepoi menggerakkan pantulan bulan, menyebabkannya bergoyang lembut di dalam air.


Rumah utama memiliki tiga kamar, dan terdapat dua kamar di sayap timur dan barat. Dengan ubin hijau dan dinding putih, serta atap yang melengkung ke atas, semuanya selaras dengan gaya keseluruhan Gua Awan Biru, sederhana namun elegan.


Yunyi mendorong pintu ruang utama hingga terbuka dan menyalakan lampu biru di atas meja.


“Tuan Chen, ini adalah kamar tamu terbaik di Gua Awan Biru. Dulunya kamar ini digunakan untuk menerima para pemimpin dan tetua dari cabang-cabang sekte Taois lainnya.”


Suara Yun Yi tenang, tetapi nadanya mengandung sedikit rasa hormat, "Halaman di sebelah sudah disiapkan untuk Nona Jiang, dan saya sudah merapikannya."


"Tolong sampaikan terima kasihku kepada Master Giok Abadi," kata Dave.


Yun Yi mengangguk, berbalik dan pergi, tetapi berhenti di pintu tanpa menoleh ke belakang. Dia hanya berkata pelan, "Tuan Chen, saya telah berkultivasi selama tiga ribu tahun dan tidak pernah tunduk kepada siapa pun. Tetapi hari ini, saya tunduk."


Setelah mengatakan itu, dia melangkah pergi, jubah Taois birunya memancarkan bayangan samar di bawah sinar bulan.


Dave memperhatikan sosoknya menghilang di balik gerbang halaman, secercah emosi terlintas di mata ungunya.


Setelah berlatih selama tiga ribu tahun dan mencapai peringkat kedua alam Dewa Emas, dia sudah dianggap sebagai seorang jenius yang tak tertandingi di sekte Taois.


Alasan mengapa orang seperti itu bisa berkata "Saya yakin" bukanlah karena dia membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, tetapi karena dia mencapai sesuatu yang bahkan seorang Dewa Emas tingkat lima pun tidak dapat lakukan dengan kultivasinya di tingkat kedelapan Alam Dewa Agung.


Kekuatan tempur yang melampaui level seseorang seperti ini belum pernah muncul di sekte-sekte Taois sebelumnya.


.....


Dave menutup pintu, duduk bersila di atas ranjang kayu, dan perlahan-lahan melancarkan Teknik Konsentrasi Hati. Kekuatan kekacauan mengalir melalui meridiannya, secara bertahap menghilangkan kelelahan seharian.


Api kekacauan di dalam dantiannya membakar dengan tenang, meleburkan semua kekuatan spiritual, kekuatan penyembuhan, dan pecahan hukum menjadi kekuatan kacau yang paling murni.


Namun, pertempuran dengan Aula Cahaya menghabiskan terlalu banyak energi spiritual, dan dia tidak bisa pulih sepenuhnya dalam waktu singkat. Dia membutuhkan waktu dan sumber daya.


...... 


Keesokan paginya, tepat saat matahari keemasan pertama mengintip di cakrawala timur, Dave membuka matanya dari meditasinya.


Setelah bermeditasi semalaman, energi spiritualnya telah pulih lebih dari setengahnya, tetapi masih jauh dari kondisi puncaknya.


Tingkat kultivasinya tetap berada di tahap pertengahan peringkat kedelapan Alam Abadi Agung, dan tingkat kondensasi Kekuatan Kekacauan tidak meningkat secara signifikan.


Meskipun pertempuran di Aula Cahaya berlangsung biasa-biasa saja, namun lawannya adalah Dewa Emas tingkat lima, yang merupakan kemenangan telak baginya. Hal itu tidak memberinya tekanan tempur yang cukup, dan oleh karena itu tidak memicu kesempatan untuk terobosan.


Dia membutuhkan lawan yang lebih kuat dan pertarungan yang lebih sengit untuk menembus ke level yang lebih tinggi.


Namun, Raja Dewa di surga ke-20 diperkirakan berada di puncak peringkat kesembilan Alam Abadi Emas. Baginya untuk menantangnya dengan tingkat kultivasinya saat ini akan seperti melempar telur ke batu.


Dia harus menjadi lebih kuat, setidaknya menembus Alam Dewa Abadi Emas, sebelum dia memiliki kesempatan untuk melawan Raja Dewa.


Untuk menembus ke Alam Abadi Emas dibutuhkan sumber daya dalam jumlah yang sangat besar.


Dave berdiri dan berjalan keluar ruangan.


Di halaman, seorang murid muda dari Gua Surga Awan Biru berdiri di pintu masuk, memegang tas penyimpanan di tangannya. Ketika melihat Dave keluar, dia segera membungkuk dan memberi salam.


"Tuan Chen, ini dikirim oleh pemimpin sekte melalui murid. Semua sumber daya Aula Cahaya telah diinventarisasi dan semuanya ada di dalam tas penyimpanan ini."


Dave mengambil tas penyimpanan itu dan memeriksanya dengan indra ilahinya.


Pupil matanya sedikit menyempit.


Persediaan di dalam tas penyimpanan itu jauh lebih banyak dari yang dia perkirakan.


Kristal – berjumlah jutaan, dari semua tingkatan, termasuk puluhan ribu kristal kelas atas.


Pil—puluhan ribu jumlahnya, mulai dari pil penyembuhan hingga pil peningkat kultivasi, dari pil kelas rendah hingga kelas tinggi, ada sesuatu untuk semua orang.


Terdapat ribuan artefak magis dengan berbagai tingkatan, tetapi bahkan yang terburuk pun berada pada tingkatan Dewa Agung, dan ada puluhan yang berada pada tingkatan Dewa Emas.


Naskah giok berisi teknik kultivasi—yang jumlahnya mencapai ratusan—mencatat berbagai teknik kultivasi, keterampilan rahasia, formasi, dan formula ramuan yang dikumpulkan oleh Aula Cahaya selama puluhan ribu tahun.


Bahan-bahan spiritual—tertumpuk seperti gunung, termasuk segala macam bahan langka dan berharga, inti binatang iblis, ramuan dan buah-buahan spiritual, susunan yang memukau, banyak di antaranya adalah varietas yang belum pernah dilihat Dave sebelumnya.


Kekayaan yang terkumpul di Aula Cahaya selama puluhan ribu tahun habis dalam satu hari dan seluruhnya jatuh ke tangan Dave.


Sumber daya ini cukup bagi kultivator Alam Abadi Agung biasa untuk menembus dari peringkat kesembilan Alam Abadi Agung hingga peringkat ketiga atau bahkan keempat Alam Abadi Emas.


Namun, bagi Dave, yang mengolah kekuatan kekacauan, jumlah sumber daya ini masih belum mencukupi.


Kekuatan kekacauan membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan kali lebih banyak sumber daya daripada kultivator pada level yang sama. Jika dia menghabiskan sumber daya tersebut, dia akan beruntung jika bisa menembus peringkat kesembilan Alam Abadi Agung; Alam Abadi Emas masih akan sangat jauh.


Dave menyimpan tas penyimpanan dan berjalan menuju halaman sebelah.


Agnes sudah bangun dan berdiri di halaman, gaun putih saljunya berkilauan samar-samar di bawah cahaya pagi.


Dia memegang Jantung Jurang Dingin di tangannya, dan cahaya biru es memancar dari mutiara itu, menyatu dengan kekuatannya sebagai Dewa Es.


Semalaman berlatih telah sepenuhnya memantapkan kultivasinya ke tingkat pertama Alam Abadi Emas. Wajahnya kembali merona, dan cahaya di matanya lebih jernih dari sebelumnya.


Melihat Dave masuk, Agnes menyingkirkan Jantung Jurang Dinginnya dan berjalan menghampirinya.


"Bagaimana istirahatmu?" tanya Dave.


"Sangat baik."


Agnes mengangguk. "Energi spiritual di Gua Surga Awan Biru jauh lebih kaya daripada di luar. Satu hari kultivasi di sini setara dengan sepuluh hari kultivasi di luar. Dengan bantuan Jantung Jurang Dingin, kultivasiku seharusnya mampu menembus ke peringkat kedua Alam Abadi Emas dalam waktu singkat."


Dave mengeluarkan cincin penyimpanan dari tas penyimpanannya dan menyerahkannya kepada wanita itu.


"Apa ini?"


"Aku akan memberimu setengah dari sumber daya dari Aula Cahaya."


Agnes terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sumber daya ini diperoleh dengan nyawamu; aku tidak bisa menerimanya. Selain itu, kau membutuhkan sumber daya ini untuk menembus level kultivasimu. Kekuatan Kekacauanmu membutuhkan terlalu banyak sumber daya; jika kau memberikan setengahnya kepadaku, kau tidak akan memiliki cukup untuk dirimu sendiri."


“Justru karena aku membutuhkan begitu banyak sumber daya, sumber daya ini menjadi tidak berarti bagiku.” Dave menyelipkan cincin penyimpanan itu ke tangannya. “Namun, sumber daya ini cukup bagimu untuk menembus dari peringkat pertama Alam Abadi Emas ke peringkat ketiga. Kau telah mengikuti ku sejauh ini, mempertaruhkan nyawamu beberapa kali, memberikan tubuh mu hingga aku terpuaskan. Aku tidak bisa membiarkanmu mengikuti ku tanpa hasil.”


Agnes menatap cincin penyimpanan di tangannya dan terdiam untuk waktu yang lama.


Dia tahu Dave mengatakan yang sebenarnya. Kekuatan kekacauan membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan kali lebih banyak sumber daya daripada kultivator dengan level yang sama. Meskipun Aula Cahaya memiliki sumber daya yang melimpah, itu hanyalah setetes air di lautan bagi Dave.


Namun, sumber daya ini merupakan harta karun baginya, cukup untuk memungkinkan kultivasinya berkembang pesat.


"Baiklah."


Agnes menyimpan cincin penyimpanannya, mendongak menatap Dave, dan kilatan tekad terpancar di mata birunya yang sedingin es. "Aku akan menggunakan sumber daya ini untuk meningkatkan kultivasiku secepat mungkin. Begitu aku mencapai tingkat dua, aku tidak akan menghalangi mu."


Dave mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah menara kecil berwarna hitam, seukuran telapak tangan, dari tas penyimpanannya dan memegangnya di telapak tangannya.


Menara kecil itu seluruhnya berwarna hitam, tertutup oleh rune yang tersusun rapat dan bersinar samar-samar di bawah cahaya pagi, seolah-olah ada sesuatu yang tertidur di dalamnya.


“Kau berlatihlah di menara, aku akan menunggumu di sini,” kata Dave.


Agnes mengangguk, meletakkan Menara Penindas Iblis di atas meja batu di halaman, dan menyalurkan kekuatan spiritual ke dalamnya.


Menara kecil itu perlahan membesar, dari seukuran telapak tangan hingga setinggi orang dewasa. Pintu menara terbuka secara otomatis, dan aura kuno terpancar dari menara tersebut.


Agnes melirik ke arah Dave, lalu menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk ke Menara Penindas Iblis.


Gerbang menara perlahan tertutup di belakangnya, dan menara kecil itu menyusut kembali seukuran telapak tangan, tergeletak tenang di atas meja batu.


Dave menyimpan Menara Penindas Iblis dan memasukkannya ke dalam tas penyimpanannya.


.......


Satu bulan.


Sudah hampir sepuluh tahun ia berada di dalam menara itu.


Dengan pengalaman sepuluh tahun dan sumber daya dari Jantung Jurang Dingin dan Aula Cahaya, Agnes seharusnya mengalami lompatan kualitatif.


Dave pun tak bisa berdiam diri.


Dia berbalik dan berjalan keluar dari halaman menuju aula utama kuil Taois.


Selama tiga hari berikutnya, Dave tinggal di Gua Awan Biru.


Pada siang hari, ia berdiskusi tentang Dao dengan Master Giok Abadi, mendengarkan Master Giok Abadi menjelaskan sejarah dan silsilah sekte Taois, dan mempelajari tentang pembagian kekuatan berbagai surga serta dendam dan keterikatan antara sekte-sekte utama.


Setelah hidup selama puluhan ribu tahun, pemahaman Master Giok Abadi tentang Alam Surgawi jauh melampaui siapa pun, dan setiap kata yang diucapkannya sangat bermanfaat bagi Dave.


......


Malam itu, Dave berlatih sendirian di Tebing Beladiri, mengaktifkan sepenuhnya Teknik Konsentrasi Hati. Kekuatan kekacauan mengalir melalui meridiannya, menarik energi spiritual Gua Surga Awan Biru yang hampir mencair sedikit demi sedikit, memurnikannya menjadi kekuatan kekacauan yang paling murni.


Tebing Beladiri adalah tempat dengan energi spiritual paling melimpah di Gua Awan Biru. Berdiri di puncak tebing, Anda dapat melihat seluruh lembah dan puncak-puncak gunung di kejauhan yang muncul dan menghilang di bawah cahaya bulan.


Angin malam bertiup kencang di puncak tebing, membuat jubah Dave berkibar, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya, hanya menutup matanya dan fokus pada aliran energi spiritual di dalam tubuhnya.


Hanya dalam tiga hari, tingkat kultivasinya meningkat dari tahap pertengahan peringkat kedelapan Alam Abadi Agung ke tahap akhir peringkat kedelapan.


Meskipun ia hanya meningkat setengah tingkatan alam kecil, kekuatan kekacauan menjadi lebih terkonsentrasi dari sebelumnya. Setiap untaian kekuatan spiritual bagaikan pedang ilahi yang telah ditempa melalui cobaan yang tak terhitung jumlahnya, mengandung kekuatan yang tak terbayangkan.


Rune pelindung dari Kitab Emas Luo Agung terus menyebar di bawah pengaruh kekuatan spiritual, dan pola naga emas telah menutupi 72 persen kulitnya.


Dia selangkah lebih dekat untuk meraih tubuh emas yang sempurna.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️














Thursday, 4 June 2026

Perintah Kaisar Naga : 6574 - 6578

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6574-6578





*Menyerang Aula Cahaya*


Jalan setapak berbatu berkelok-kelok menembus hutan bambu, dengan bambu hijau zamrud di kedua sisinya bergoyang lembut tertiup angin, dedaunannya berdesir seolah membisikkan rahasia kuno.


Dave berjalan di belakang Yun Yi, matanya yang berwarna ungu mengamati sekelilingnya. Dia bisa merasakan bahwa setiap batang bambu di hutan bambu ini bukanlah tanaman biasa, melainkan komponen dari suatu formasi.


Akar-akar bambu saling berjalin di bawah tanah membentuk jaringan besar, mengumpulkan energi spiritual seluruh lembah untuk membentuk formasi pengumpul roh alami.


Metode pengaturan formasi ini sangat rumit. Formasi ini tidak dapat dibentuk dalam semalam. Sebaliknya, dibutuhkan puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tahun akumulasi dan evolusi untuk membentuk pola saat ini.


Tradisi Taoisme memiliki landasan yang jauh lebih dalam daripada yang dibayangkan Dave.


Ketiganya berjalan menyusuri jalan setapak batu biru selama kurang lebih waktu yang dibutuhkan sebatang dupa untuk terbakar. 


Hutan bambu secara bertahap menipis, dan sebuah gapura batu biru muncul di hadapan mereka.


Gerbang lengkung ini tingginya sekitar tiga zhang dan terdiri dari dua pilar batu besar dan sebuah palang melintang. Pilar-pilar batu tersebut ditutupi dengan rune Taois, dan palang melintangnya bertuliskan empat aksara kuno: "Gua Surga Awan Biru".


Di balik gapura terdapat jalan setapak batu biru yang lebar, dengan deretan rapi pohon roh di kedua sisinya, ditutupi buah-buahan roh berwarna-warni yang memancarkan aroma yang memikat.


Di ujung jalan utama berdiri sebuah kuil Taois yang megah.


Kuil Taois ini dibangun menempel di gunung, dengan ubin hijau dan dinding putih, atap yang menjorok dan sudut yang melengkung ke atas, berlapis-lapis, membentang dari kaki gunung hingga ke puncak, seolah-olah tumbuh dari gunung itu sendiri.


Setiap aula di kuil Taois diselimuti cahaya spiritual yang samar, yaitu cahaya yang dipancarkan ketika formasi pelindung aula tersebut beroperasi.


Di atas kuil Taois, burung bangau berputar-putar, awan warna-warni berarak, dan air terjun mata air suci mengalir deras dari puncak gunung, deru gemuruhnya bergema di seluruh lembah.


Yun Yi berhenti di depan gapura dan menoleh ke arah Dave.


"Tuan Chen, mohon tunggu sebentar."


Dia sedikit membungkuk. "Guru saya mengatakan bahwa Tuan Chen adalah tamu terhormat dari sekte Taois dan harus disambut dengan penghormatan tertinggi. Saya akan pergi dan memberitahunya sekarang."


" Okey.." Dave mengangguk.


Yun Yi berbalik dan berjalan ke jalan berbatu biru, langkahnya jauh lebih cepat dari sebelumnya.


Dia berjalan sekitar seratus langkah, lalu tiba-tiba berhenti, mengeluarkan jimat giok dari lengan bajunya, dan menyalurkan kekuatan spiritual ke dalamnya. Jimat giok itu memancarkan suara yang jernih dan merdu yang bergema di lembah untuk waktu yang lama.


Begitu suara lonceng mereda, lonceng dan genderang di kuil Taois tiba-tiba berbunyi bersamaan.


Lonceng itu berdentang dengan mantap dan kuat, sebanyak sembilan kali. Setiap dentang seolah bergema di seluruh lembah, membuat gendang telinga berdengung, namun juga membangkitkan rasa khidmat dan hormat yang tak terlukiskan.


Dentuman genderang itu kuat dan menggema, juga berjumlah sembilan, dan berbunyi bergantian dengan lonceng, seolah-olah suatu ritual kuno sedang dilakukan.


Gerbang kuil Taois perlahan terbuka, dan dua barisan murid Taois yang mengenakan jubah biru berjalan keluar dan berbaris di kedua sisi jalan. Masing-masing dari mereka memegang lampu biru di tangan mereka, dan nyala api di lampu itu bergoyang lembut tertiup angin, menerangi seluruh jalan.


Para murid ini semuanya sangat terampil, dengan tingkatan terendah berada di peringkat ketujuh Alam Abadi Agung dan tingkatan tertinggi mencapai puncak peringkat kesembilan.


Mereka berdiri dalam barisan rapi, postur tubuh mereka penuh hormat, mata mereka tertuju pada Dave, tatapan mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan antisipasi yang tak tersembunyikan.


Dave menyaksikan pemandangan ini dengan sedikit rasa terkejut yang terpancar di mata ungunya.


Sembilan dentang lonceng, sembilan dentuman genderang, dan dua baris murid berbaris untuk menyambut mereka—upacara tingkat ini diperuntukkan bagi tamu paling terhormat di sekte mana pun.


Dan dia, seorang pemuda peringkat kedelapan dari Alam Abadi Agung, menikmati perlakuan seperti ini pada kunjungan pertamanya ke Surga Gua Awan Biru.


Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Master Giok Abadi?


Pikiran itu terlintas di benak Dave, tetapi dia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih lanjut, karena sesosok orang sudah berjalan keluar dari kuil Taois.


Pria itu berambut dan berjenggot putih, berwajah kurus, mengenakan jubah Taois biru, memegang cambuk di tangannya, dan berjalan dengan langkah mantap, setiap langkah seolah-olah dia sedang mengukur bumi.


Tidak ada fluktuasi energi spiritual pada tubuhnya; dia tampak seperti orang tua biasa.


Namun, pupil mata Dave sedikit menyempit.


Dia bisa merasakan betapa menakutkannya kekuatan yang terkandung dalam diri lelaki tua itu.


Kekuatan itu tidak diproyeksikan secara lahiriah, melainkan terkandung di dalam, seperti pedang ilahi tak tertandingi yang tersarung. Meskipun ketajamannya tak terlihat, begitu terhunus, ia dapat memutus segalanya.


Tingkat kelima dari Alam Abadi Emas.


Penguasa Gua Awan Biru, Master Giok Abadi.


Master Giok Abadi berjalan menghampiri Dave dan berhenti tiga langkah di depannya.


Dia mengamati Dave dari atas ke bawah, tatapannya lama tertuju pada mata ungu itu, lalu mengangguk sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya.


"Pewaris Kitab Emas Luo Agung memang luar biasa."


Suaranya terdengar tua namun lembut, seperti seorang tetua yang baik hati memuji seorang junior: "Saya, Giok Abadi, telah lama mengagumi nama Tuan Chen."


Dave menyatukan kedua tangannya sebagai salam dan berkata, "Junior Dave Chen memberi salam kepada Master Giok Abadi."


Master Giok Abadi melambaikan tangannya, "Tidak perlu formalitas. Tuan Chen adalah tamu kehormatan sekte Taois. Saya sudah menyiapkan teh. Silakan masuk."


Setelah selesai berbicara, dia berbalik dan berjalan menuju kuil Taois.


Dave mengikuti di belakangnya, diikuti oleh Agnes dan Yun Yi.


....


Mereka berempat melewati gerbang kuil Taois dan memasuki halaman yang luas.


Halaman dalam dipenuhi dengan bambu hijau, dan jalan setapak berbatu mengarah melalui rumpun bambu menuju ruang teh yang elegan di bagian dalam halaman.


Ruang tehnya kecil, hanya sekitar 30 kaki persegi, dengan jendela di keempat sisinya, menawarkan pemandangan rumpun bambu yang rimbun dan pegunungan di kejauhan.


Interiornya ditata sederhana dengan meja kayu, beberapa kursi kayu, dan satu set peralatan teh porselen seladon di atas meja. Uap mengepul dari teko, dan aroma teh memenuhi ruangan, segar, elegan, dan menyegarkan.


Master Giok Abadi mengundang Dave untuk duduk dan secara pribadi menuangkan secangkir teh untuknya.


"Ini adalah teh spiritual yang diproduksi di Gua Awan Biru, bernama 'Kabut Awan Biru.' Teh ini dipetik dari pohon teh berusia ribuan tahun di puncak gunung, dan hanya tiga kati yang diproduksi setiap tahun. Tuan Chen, silakan mencicipinya."


Dave mengambil cangkir tehnya dan menyesap sedikit.


Saat teh memasuki mulutnya, energi spiritual yang hangat mengalir dari tenggorokannya ke dantiannya, beredar melalui meridiannya dan menyegarkan jiwanya.


"Teh yang enak." Dave meletakkan cangkir tehnya dan dengan tulus memujinya.


Master Giok Abadi tersenyum dan duduk di hadapannya.


Agnes dan Yun Yi tidak duduk, melainkan berdiri di pintu masuk ruang teh, satu di sebelah kiri dan satu di sebelah kanan, seperti dua dewa penjaga pintu.


Hanya Dave dan Master Giok Abadi yang ada di ruang teh, duduk berhadapan.


Terjadi keheningan sesaat.


Dave tahu bahwa Master Giok Abadi tidak mengundangnya hanya untuk minum teh.


Dia juga memiliki banyak pertanyaan untuk diajukan.


“Guru,” kata Dave, matanya yang ungu menatap Master Giok Abadi, "Junior ini memiliki banyak pertanyaan di benaknya, dan ingin tahu apakah Guru dapat menjawabnya?”


Master Giok Abadi mengangguk. “Tuan Chen, silakan bertanya. Saya akan menjawab sebisa mungkin.”


Dave mengeluarkan batu hitam dari cincin penyimpanannya dan meletakkannya di atas meja.


Batu hitam itu berkilauan samar-samar di bawah cahaya ruang teh, pola permukaannya mengalir halus, seolah-olah sesuatu sedang tertidur di dalamnya.


"Apa ini?"

Dave bertanya, "Dari mana asalnya? Mengapa benda ini ada di tanganku? Apa hubungannya dengan Istana Dao Kekacauan?"


Tatapan Master Giok Abadi tertuju pada batu hitam itu, dan sedikit riak muncul di matanya yang biasanya tenang.


Dia mengulurkan tangan dan dengan lembut mengusap permukaan batu hitam itu, seolah-olah dia sedang menyentuh harta karun yang hilang yang telah ditemukan kembali.


“Batu hitam ini,” suara Master Giok Abadi menjadi agak rendah, “adalah fragmen dari kunci Istana Dao Kekacauan.”


"Hmm... Fragmen sebuah kunci?" Dave mengerutkan kening.


"Istana Dao Kekacauan bukanlah istana biasa."


Master Giok Abadi menarik tangannya, mengambil cangkir tehnya, dan menyesapnya. “Itu adalah Istana Dao yang dibangun oleh leluhur sekte Taois dengan kekuatan tertinggi ketika kekacauan pertama kali muncul dan langit dan bumi pertama kali terlihat. Istana Dao menyegel warisan inti terpenting dari sekte Taois, termasuk 108 kitab suci Taois tertinggi, termasuk Kitab Emas Luo Agung, serta wawasan tentang hukum dan pengalaman kultivasi yang ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois.”


" Hah...Seratus delapan kitab suci Taois tertinggi.."

Jantung Dave berdebar kencang.

" Apakah Kitab Luo Agung hanyalah salah satunya...? "

" Apa tingkatan teknik kultivasi dari 107 kitab suci Taoisme lainnya...? "


“Namun, Kitab Suci Emas Luo Agung adalah yang terpenting dari 108 kitab suci Taoisme ini. Memiliki Kitab Suci Emas Luo Agung berarti memiliki garis keturunan Taoisme yang paling murni,” kata Master Giok Abadi.


"Senior, di surga manakah Istana Dao Kekacauan berada?" tanya Dave.


"Istana Kekacauan tidak terletak di salah satu surga di Alam Surgawi."


"Itu berada di luar hukum langit dan bumi, di ruang independen yang tidak dibatasi oleh Alam Surgawi. Ruang itu tidak memiliki koordinat tetap, tidak memiliki pintu masuk tetap, dan bahkan tidak memiliki aliran waktu yang tetap."


"Untuk memasuki Istana Dao Kekacauan, Anda harus mengumpulkan tiga fragmen kunci dan menggabungkannya menjadi satu untuk membuka lorong spasial yang menuju ke Istana Dao Kekacauan."


" What... Tiga fragmen kunci.."

Dave menunduk memandang batu hitam di atas meja, tatapan penuh pertimbangan terpancar dari mata ungunya.


"Jadi, masih kurang dua batu hitam lagi?"


"Benar."

Master Giok Abadi mengangguk. "Ketiga fragmen kunci itu dipegang oleh kekuatan yang berbeda. Yang kau miliki ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois, tetapi hilang selama perang antara sekte Taois dan ras dewa, dan akhirnya berakhir di alam bawah. Adapun mengapa itu berakhir di tanganmu..."


Dia berhenti sejenak, senyum penuh arti muncul di bibirnya. "Mungkin ini kehendak Surga, atau mungkin ini pengaturan para leluhur sekte Taois. Aku tidak berani membuat kesimpulan pasti."


Dave terdiam sejenak sebelum memasukkan kembali batu hitam itu ke dalam cincin penyimpanannya.


" Apa sebenarnya dendam yang bersemayam antara sekte Taois dan ras dewa? "


Senyum Master Giok Abadi menghilang, digantikan oleh emosi mendalam yang telah ditekan selama puluhan ribu tahun.


"Perseteruan antara sekte Taois dan ras dewa adalah kisah yang panjang."


Dia meletakkan cangkir tehnya dan memandang ke arah hutan bambu, seolah mengenang sesuatu dari masa lalu.


"Sekte Taois dan ras dewa pada awalnya memiliki asal usul yang sama. Di zaman kuno, leluhur sekte Taois dan ras dewa semuanya adalah kultivator yang memahami hukum langit dan bumi. Kemudian, karena pemahaman mereka yang berbeda tentang hukum-hukum tersebut, mereka terpecah menjadi dua faksi."


"Salah satu aliran pemikiran meyakini bahwa semua hal memiliki roh, semua makhluk setara, dan jalan kultivasi harus mencakup semua fenomena dan bersifat menyeluruh—ini adalah Taoisme. Aliran lainnya meyakini bahwa para dewa adalah kesayangan langit dan bumi, terlahir lebih unggul dari semua, dan harus memerintah semua alam—ini adalah Ras Dewa."


"Awalnya, kedua faksi tersebut hanya terlibat dalam bentrokan ideologi dan dapat hidup berdampingan secara damai. Namun, seiring berjalannya waktu, para dewa menjadi semakin kuat dan mulai menindas sekte-sekte Taois serta mengucilkan mereka yang tidak sependapat dengan mereka."


"Mereka mengklaim bahwa hanya ras dewa yang berhak memahami hukum tertinggi, sementara ras lain adalah makhluk rendahan, tidak layak untuk mengembangkan teknik-teknik mendalam. Sekte Taois, yang menganjurkan kesetaraan bagi semua makhluk, secara alami menjadi duri dalam daging bagi ras dewa."


"Perang itu berlangsung selama ratusan ribu tahun, dan sekte Taois menderita kekalahan berulang kali. Kitab Suci Emas Luo Agung hilang selama periode itu, dan Istana Dao Kekacauan juga disegel ke dalam ruang independen selama periode itu."


Suara Master Giok Abadi mengandung kesedihan yang tak tersembunyikan.


"Hmm.... Bagaimana mungkin? Bukankah Ras Dewa hanyalah beberapa cabang manusia mulia yang mengaku diri sendiri, yang bersatu dan kemudian menyebut diri mereka Ras Dewa? Terlebih lagi, markas besar Ras Ilahi berada di Surga Kedua Puluh, dan Raja Dewa mereka hanyalah seorang Dewa Emas. Bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan sekte Taois?"


Dave merasa hal itu agak sulit dipercaya.


Lagipula, sekte Taoisme adalah kekuatan kuno yang telah ada sejak awal kekacauan. Bagaimana mungkin sekte itu bisa dikalahkan oleh seorang dewa?


Ruang teh itu benar-benar sunyi.


Setelah Dave selesai berbicara, Master Giok Abadi tidak langsung menjawab.


Dia mengambil cangkir tehnya dan menyesap teh Awan Biru nya lagi. Aroma teh itu masih melekat di bibir dan giginya, seolah-olah dia sedang menikmati kenangan yang jauh.


Di luar jendela, bambu hijau bergoyang lembut tertiup angin, dedaunannya berdesir seolah membisikkan rahasia kuno.


Agnes berdiri di pintu masuk ruang teh, gaun putih saljunya berkilauan samar-samar di bawah cahaya sore.


Tatapannya tertuju pada Master Giok Abadi, matanya juga dipenuhi keraguan.


Dia adalah keturunan dari garis keturunan Dewa Es dan telah mengetahui sejak kecil bahwa pengaruh tujuh garis keturunan Klan Dewa hanya sampai ke surga kedua puluh. Semua ahli di atas alam Dewa Abadi berada di surga kedua puluh, dan dia belum pernah mendengar tentang keberadaan tingkat yang lebih tinggi di antara Klan Dewa.


Yun Yi berdiri di sisi lain, jubah Taois sederhananya berkibar lembut tertiup angin.


Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi tatapan kompleks terlintas di matanya, seolah-olah dia tahu bahwa apa yang akan dikatakan Master Giok Abadi akan mengguncang pemahaman Dave tentang seluruh dunia.


Master Giok Abadi meletakkan cangkir tehnya, mengalihkan pandangannya dari hutan bambu di luar jendela ke Dave.


"Tuan Chen, apakah Anda mengatakan bahwa Ras Dewa hanyalah beberapa cabang manusia mulia yang mengaku diri sendiri, yang telah bersatu dan kemudian menyebut diri mereka sebagai Ras Dewa?"


Suaranya lembut, tetapi setiap kata seolah berasal dari tempat yang sangat dalam dan jauh, membawa beban berat setelah mengalami berbagai suka duka kehidupan: "Aku punya pertanyaan untukmu: Pernahkah kau melihat Dewa yang sesungguhnya?"


" Waduuuh..." Dave terkejut.

" Dewa yang sesungguhnya....? "

Dia telah bertemu dengan orang-orang dari ras dewa: Yang Mulia Tianji Surgawi, Yang Mulia Api Bumi, dan Yang Mulia Cahaya Suci—mereka semua berasal dari ras ilahi.


Mereka menyebut diri mereka sebagai ras dewa, memiliki kekuatan tempur yang jauh melebihi kultivator pada level yang sama, dan menggunakan kekuatan hukum seperti cahaya suci dan api dewa.


Namun di mata Dave, mereka hanyalah sekelompok kultivator dengan tingkat kultivasi yang lebih tinggi, jauh dari kata "dewa".


"Tingkat kultivasi tertinggi dari dewa mana pun yang pernah saya lihat hanyalah peringkat kelima dari Alam Abadi Emas."


Dave dengan jujur menyatakan, "Meskipun mereka lebih kuat daripada kultivator biasa, mereka masih jauh dari dewa sejati."


Master Giok Abadi mengangguk, senyum tipis muncul di bibirnya. Senyum itu mengandung makna yang tak terlukiskan, seolah-olah dia senang karena Dave tidak tertipu oleh penampilan luar, namun juga seolah-olah dia merasa berat hati tentang apa yang akan dia katakan.


“Kau benar. Yang kau sebut dewa-dewa yang kau temui itu jelas bukan dewa sejati.”


Suara Master Giok Abadi merendah, "Mereka hanyalah kekuatan pinggiran dari Klan Dewa, alat yang digunakan oleh Klan Dewa untuk menguasai berbagai surga di Alam Surgawi. Klan Dewa yang sebenarnya tidak pernah berdiam di Surga Kedua Puluh."


" Hah..." Pupil mata Dave sedikit menyempit.

" Tidak berada di Surga Kedua Puluh? "

" Di mana letaknya? "


Master Giok Abadi sepertinya memahami maksud pertanyaannya dan perlahan berkata, "Tuan Chen, tahukah Anda ada berapa tingkatan surga di alam Surgawi?"


Dave berpikir sejenak, "36."


"Lalu, tahukah kamu apa lagi yang ada di atas Surga Ketiga Puluh Enam?"


" Yo ndak tau.. kok nanya saya.. " Dave bingung lalu terdiam.


Apa yang terletak di balik Tiga Puluh Enam Surga?


Dia belum pernah memikirkan pertanyaan ini sebelumnya.


Dari semua informasi yang ia temui, alam surgawi terdiri dari Tiga Puluh Enam Surga, yang merupakan puncak dari alam surgawi.


Altar utama para dewa berada di Surga Kedua Puluh, dan Raja Dewa juga berada di Surga Kedua Puluh; hanya itu yang dia ketahui.


"Di luar Alam Surgawi terbentang alam semesta bintang yang sangat luas, dan Alam Surgawi hanyalah setitik debu kecil di dalamnya. Dan di dalam alam semesta bintang ini, terdapat tempat yang dikenal sebagai 'Alam Dewa'."


Suara Master Giok Abadi terdengar sangat serius, “Itulah fondasi sejati Klan Dewa. Markas Klan Dewa di Surga Kedua Puluh hanyalah tentakel yang diulurkan Klan Dewa Surgawi ke alam bawah. Hanya Klan Dewa di atas alam Dewa Abadi Emas yang mungkin mengetahui sebagian kebenaran tentang Alam Dewa.”


" Hah... ada Alam para Dewa.." 


Ini adalah kali pertama Dave mendengar kata ini.


Banyak sekali pikiran yang melintas di benaknya: jika fondasi sejati para dewa berada di Alam Dewa di luar Alam Surgawi, maka kekuatan dewa yang sebelumnya ia lawan hanyalah puncak gunung es dari para dewa.


Tidak, itu bahkan bukan puncak gunung es. Hanya para dewa di atas alam Dewa Abadi Emas yang dapat dianggap sebagai tingkatan terendah dari ras dewa, yang hanya mengetahui sedikit kebenaran tentang Alam Dewa.


Di bawah altar utama Ras Dewa, para kultivator Ras Dewa di bawah tingkat Dewa Emas bahkan tidak dianggap berada di posisi paling bawah.


Mereka itu sampah...


Para dewa di Alam Dewa mungkin bahkan tidak mengetahui keberadaan ras-ras ini.


Agnes mendengarkan dari samping, tercengang. Delapan cabang altar utama mereka selalu bersekongkol melawan satu sama lain, bersaing untuk posisi yang disebut Raja Dewa.


Pada akhirnya, para dewa yang mengaku mulia ini bahkan tidak berada di urutan paling bawah dalam perlombaan tersebut.


Mungkin mereka bukanlah dewa sama sekali.


Kabar mengejutkan ini membuat Agnes merasa pusing.


"Tuan Chen, Anda pernah mendengar istilah 'semua alam,' kan? Anda tidak benar-benar berpikir bahwa di antara semua alam ini, Alam Surgawi adalah yang tertinggi," kata Master Giok Abadi, suaranya seolah datang dari kejauhan, setiap kata seperti batu besar yang menekan hati Dave.


Dave merasakan sensasi geli di punggungnya.


Pikiran Dave benar-benar kosong. Seolah-olah dia sedang belajar keras, berpikir bahwa jika masuk universitas, dia akan menjadi orang yang paling berpengetahuan setelah lulus.


Tapi sekarang setelah kamu kuliah, tiba-tiba seseorang memberitahumu bahwa universitas itu tidak ada yang istimewa; ada gelar master, doktor, akademisi...


Mahasiswa adalah kelompok yang paling tidak berharga.


Dave menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosinya yang meluap.


"Senior," Dave berbicara, suaranya sedikit serak, "Bagaimana Anda tahu semua ini?"


Lagipula, Master Giok Abadi hanyalah seorang Abadi Emas tingkat lima, seorang kultivator tingkat delapan belas surgawi. Bagaimana mungkin dia tahu begitu banyak?


Terlebih lagi, bahkan para dewa sendiri tidak menyadari keberadaan Alam Dewa, namun Master Giok Abadi mengetahuinya.


Master Giok Abadi tersenyum dan berkata, "Aku hanya mengetahui ini karena secara tidak sengaja aku memperoleh secuil warisan leluhurku. Namun, hanya ini yang aku ketahui. Aku tidak tahu apa pun selain itu."


"Senior, apakah kekuatan sekte tao juga sangat besar?" tanya Dave.


Master Giok Abadi mengangguk. “Kekuatan sekte Tao di seluruh surga dan berbagai alam jauh lebih besar daripada yang dapat Anda lihat. Di seluruh Alam Surgawi, terdapat sekte Tao di setiap surga. Sekte Tao juga memiliki pengaruh di alam lain, dan bahkan di dunia fana, terdapat cabang-cabang sekte Tao.”


Berbagai gambar melintas di benak Dave: kuil-kuil Taois, para pendeta Taois, praktik-praktik Taois di dunia sekuler... apakah semuanya merupakan bagian dari sekte Taois?


"Hanya saja..,"

Suara Master Giok Abadi menjadi semakin rendah, "Sekte-sekte Taoisme terlalu banyak dan kompleks, dengan filosofi yang berbeda-beda di antara mereka, dan konflik sering terjadi. Beberapa sekte menganjurkan penggunaan kelembutan untuk mengatasi kekerasan, sementara yang lain menganjurkan penggunaan kekerasan untuk mengendalikan kelembutan. Beberapa sekte menganjurkan pelepasan diri dari dunia untuk kultivasi, sementara yang lain menganjurkan keterlibatan di dunia untuk membantu orang."


"Perselisihan ini mencegah sekte Taois untuk menyatukan kekuatannya, sehingga sekte tao terus-menerus terpecah belah."


"Hmm.. Berantakan dan tidak teratur?" Dave mengerutkan kening.


"Benar."

Master Giok Abadi mengangguk. “Ada ribuan sekte di berbagai alam Taoisme. Setiap sekte memiliki tradisi, aturan, dan kepentingannya sendiri.”


"Secara lahiriah, mereka semua mengaku berasal dari sekte Taois, tetapi pada kenyataannya, tidak satu pun dari mereka yang tunduk kepada yang lain. Selama ratusan ribu tahun, tidak ada satu sekte pun yang mampu menyatukan Taoisme, dan tidak ada satu individu pun yang mampu mendapatkan rasa hormat dan kepatuhan tulus dari semua murid Taois."


Dia berhenti sejenak, pandangannya tertuju pada Dave, dengan kilatan cahaya yang menyala di matanya.


"Hingga Kitab Emas Luo Agung muncul."


Jantung Dave berdebar kencang.


"Kitab Suci Emas Luo Agung adalah kitab suci Taois tertinggi yang ditinggalkan oleh leluhur aliran Taois, dan merupakan sumber dari semua metode kultivasi Taois. Siapa pun yang dapat mengkultivasi Kitab Suci Emas Luo Agung adalah penerus leluhur aliran Taois, dan berhak untuk memimpin semua aliran Taois di dunia."


Suara Master Giok Abadi dipenuhi dengan kegembiraan yang hampir tak tersembunyikan, "Tuan Chen, Anda adalah orang pertama dalam ratusan ribu tahun yang memiliki Kitab Suci Emas Luo Agung."


Ruang teh itu benar-benar sunyi.


Dave duduk di kursi, matanya yang ungu dipenuhi berbagai emosi yang kompleks.


Dia akhirnya mengerti.


Mengapa Master Giok Abadi menyuruh Yunyi menunggu di luar Jurang Kegelapan Utara selama tiga hari?


Mengapa Gua Awan Biru menyambutnya dengan upacara tingkat tertinggi?


Mengapa Master Giok Abadi mengatakan sesuatu seperti, "Siapa pun yang mewarisi Kitab Suci Emas Luo Agung akan menjadi pemimpin generasi baru sekte Taois"?


Bukan karena dia adalah Dave Chen, tetapi karena dia mengolah Kitab Suci Emas Luo Agung.


Di hadapan Kitab Emas Luo Agung, siapa dia tidak penting, dari mana dia berasal tidak penting, dan tingkat kultivasinya pun tidak penting.


Yang terpenting, dia adalah pewaris Kitab Emas Luo Agung, keturunan patriark Taois, dan orang pertama dalam ratusan ribu tahun yang memenuhi syarat untuk memimpin komunitas Taois.


"Senior," Dave berbicara, suaranya agak serak, "Apakah menurut Anda saya dapat menyatukan sekte-sekte Taois?"


Master Giok Abadi terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


"Taois yang rendah hati ini tidak tahu."

Suaranya sangat lugas, “Menyatukan sekte-sekte Taois tidak dapat dicapai hanya dengan satu teknik kultivasi. Itu membutuhkan kekuatan, kebijaksanaan, kesempatan, dan… waktu. Tapi aku tahu satu hal: jika kau tidak bisa melakukannya, maka tidak seorang pun di dunia ini yang bisa.”


Dave menatap mata Master Giok Abadi. Di mata yang sudah tua itu, tidak ada perhitungan, tidak ada penyelidikan, hanya kepercayaan tanpa syarat.


Itulah tatapan mata seseorang setelah puluhan ribu tahun menunggu dalam kegelapan, akhirnya melihat secercah cahaya.


Dave menarik napas dalam-dalam, menekan pikiran-pikiran kacau yang melanda dirinya.


"Senior, saya punya satu pertanyaan terakhir."


"Silakan bicara."


"Bagaimana cara menemukan Istana Dao Kekacauan?"


Master Giok Abadi terdiam untuk waktu yang lama.


Dia mengambil cangkir teh, menyesapnya, meletakkannya, mengambilnya lagi, dan meletakkannya lagi.


Dia mengulangi hal ini tiga kali sebelum akhirnya berbicara.


“Aku tahu ada sedikit keterkaitan antara ketiga fragmen kunci tersebut. Jika kau dapat menemukan fragmen kedua, kau dapat merasakan perkiraan lokasi fragmen ketiga. Jika kau dapat menemukan fragmen ketiga, kau dapat merasakan lokasi Istana Kekacauan.”


Dave terdiam.


Dari tiga fragmen kunci tersebut, dia hanya memegang satu di tangannya.


Keberadaan dan kepemilikan dua benda lainnya tidak diketahui.


Ini seperti mencari sebuah jarum di tumpukan jerami seribu ton 


Namun, dia tidak patah semangat.


Dia telah menempuh jalan yang lebih sulit dan menghadapi situasi yang lebih putus asa.


Dengan secarik uang di tangannya, dia tidak sepenuhnya miskin.


"Terima kasih atas bimbingan Anda, senior." Dave berdiri, menyatukan kedua tangannya sebagai tanda hormat.


Master Giok Abadi juga berdiri dan melambaikan tangannya, "Tuan Chen, Anda terlalu sopan. Saya hanya mengatakan beberapa hal yang cepat atau lambat akan diketahui oleh Tuan Chen."


"Apa rencana Tuan Chen selanjutnya?"


Dave meletakkan tangannya di gagang pedangnya, kilatan dingin terpancar dari mata ungunya.


"Pergi ke Aula Cahaya."


Master Giok Abadi sedikit mengerutkan kening. "Hah... Aula Cahaya? Apakah Tuan Chen menyimpan dendam terhadap Aula Cahaya?"


"Ya." Suara Dave tenang, tetapi ada niat membunuh yang mengerikan di balik ketenangannya. "Mereka melukai orang-orang yang seharusnya tidak mereka sakiti."


Dia tidak menyebutkan siapa orang itu.


Namun Master Giok Abadi membaca jawabannya di mata Dave.


Tatapan seperti itu hanya kamu berikan kepada orang terpenting dalam hidupmu.


Dingin, tegas, dan tidak memberi ruang untuk kompromi.


"Kekuatan Kuil Cahaya tidak boleh diremehkan."


Suara Master Giok Abadi terdengar penuh keseriusan, "Kepala Istana adalah Dewa Emas tingkat lima, Wakil Kepala Istana adalah Dewa Emas tingkat empat, ada puluhan tetua dan ribuan murid. Meskipun kekuatan tempur Tuan Chen sangat menakjubkan, Anda melawan seluruh Aula Cahaya sendirian..."


“Aku tidak bilang aku akan pergi sendirian.” Dave menyela Master Giok Abadi, menatapnya dengan mata ungu. “Senior, Anda mengatakan bahwa tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru bersedia melayani saya sebagai pemimpin baru sekte Taois, bahkan dengan mengorbankan nyawa mereka.”


" Waduuuh...." Tubuh Master Giok Abadi sedikit bergetar.


Dia menatap mata Dave, dan tidak ada keraguan, tidak ada pertanyaan yang mengorek-ngorek di mata ungu itu, hanya ketegasan yang tak tergoyahkan.


Terjadi keheningan sesaat.


Lalu, Master Giok Abadi tersenyum.


Senyum itu samar, tetapi tulus, seperti senyum seorang lelaki tua yang telah menunggu selama puluhan ribu tahun, akhirnya menyambut orang yang telah lama ditunggunya.


“Benar,” katanya, suaranya lembut namun tegas. “Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru bersedia mengikuti Tuan Chen dalam ekspedisi ini.”


Dave mengangguk dan kemudian disuruh pergi beristirahat.


.....


Berbaring di tempat tidur, Dave sama sekali tidak bisa tidur; pikirannya benar-benar kacau.


Sekarang kita tahu bahwa ada galaksi kosmik di luar angkasa, lalu siapakah identitas Tuan Shi?


Apakah dia berasal dari alam surgawi, atau dari berbagai alam di luar alam surgawi?


Di mana ayahnya sendiri? Bukankah dia Naga Emas?


Lalu ada orang yang bertanya pada Harmen, "Sebenarnya siapa identitasnya?"


Dave diganggu oleh serangkaian misteri.


Setelah berpikir entah berapa lama, Dave menutupi kepalanya dan berhenti memikirkannya.


Sekarang dia sudah sampai sejauh ini, mari lakukan satu langkah demi satu langkah. Jika suatu hari nanti dia tidak sanggup melanjutkan lagi, maka dia akan berhenti dan beristirahat dengan baik.


Atau biarkan putra atau cucunya melanjutkan garis keturunan tersebut.


Lagipula, dia punya banyak wanita, jadi dia tidak takut tidak punya anak laki-laki.


...... 


Pagi berikutnya.


Gua Surga Awan Biru, Arena Seni Bela Diri.


Tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru berdiri rapi di tempat latihan, masing-masing dengan tingkat kultivasi Dewa Emas, termasuk lebih dari dua puluh orang di peringkat ketiga alam Dewa Emas.


Meskipun Gua Surga Awan Biru hanya memiliki sedikit penghuni, semua orang di sana adalah kaum elit.


Mereka mengenakan jubah Taois biru seragam, dengan perlengkapan ritual Taois standar yang tergantung di pinggang mereka dan berbagai pedang panjang di punggung mereka.


Saat semilir angin pagi bertiup, jubah ketiga ratus orang itu berkibar serentak, seperti ombak samudra biru yang bergelombang.


Master Giok Abadi berdiri di atas panggung tinggi arena bela diri, rambut dan janggut putihnya berkibar tertiup angin pagi, jubah Taois birunya berkilauan samar-samar di bawah sinar matahari.


Di belakangnya berdiri Yun Yi dan beberapa tetua Alam Abadi Emas lainnya, masing-masing dengan ekspresi serius di wajah mereka.


Dave berdiri di samping Master Giok Abadi, matanya yang berwarna ungu menyapu tiga ratus murid di tempat latihan.


Tiga ratus pasang mata menatapnya pada saat yang bersamaan, tanpa keraguan atau kebencian, hanya kepercayaan yang murni dan tanpa syarat.


Itulah kepercayaan yang diperoleh Master Giok Abadi melalui puluhan ribu tahun prestise.


Master Giok Abadi mengatakan bahwa dia adalah pewaris Kitab Emas Luo Agung, penerus leluhur Taois, dan pemimpin generasi baru sekte Taois.


Para murid dari Gua Surga Awan Biru mempercayainya.


Tidak diperlukan bukti, tidak diperlukan penjelasan, dan tidak diperlukan alasan.


Dave menarik napas dalam-dalam dan melangkah maju.


"Tuan-tuan," suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas di telinga semua orang, "Hari ini, kita akan pergi ke Aula Cahaya."


Lapangan latihan itu benar-benar sunyi.


Tiga ratus murid itu mendengarkan dengan tenang; tidak seorang pun berbicara atau berbisik satu sama lain.


"Kepala Aula Cahaya adalah Dewa Abadi tingkat lima, Wakil Kepala Aula adalah Dewa Abadi tingkat empat, ada puluhan tetua dan ribuan murid." Suara Dave tenang, seolah menyatakan fakta sederhana. "Kita hanya memiliki tiga ratus orang."


Dia berhenti sejenak, kilatan dingin terpancar dari mata ungunya.


"Tapi itu sudah cukup."


Lapangan latihan tetap sunyi.


Di mata ketiga ratus murid itu, tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan, hanya semangat juang yang membara.


Mereka telah berlatih di Gua Surga Awan Biru selama ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu tahun, menunggu hari ini.


Sekte Taois telah ditindas oleh para dewa selama ratusan ribu tahun, dan inilah hari yang telah mereka tunggu-tunggu.


"Ayo pergi." Setelah mengucapkan dua kata itu, Dave berbalik dan berjalan turun dari peron.


Tiga ratus murid berbalik serentak, langkah mereka serempak, dan berjalan menuju pintu keluar Gua Surga Awan Biru.


Jubah Taois berwarna biru berkibar tertiup angin pagi, bagaikan aliran air biru yang deras keluar dari Gua Surga Awan Biru dan menuju ke Aula Cahaya.


Master Giok Abadi berjalan di depan rombongan, memegang cambuk di tangannya. Jubah Taois birunya berkibar tertiup angin pagi, dan rambut serta janggut putihnya berkilauan dengan cahaya keperakan di bawah sinar matahari.


Langkahnya tidak cepat maupun lambat, setiap langkah mantap, seolah-olah dia sedang mengukur bumi, atau seolah-olah dia sedang mengukur ratusan ribu tahun kebencian antara sekte Taois dan ras dewa.


Yun Yi berjalan di samping Master Giok Abadi, pedang kayu di punggungnya bersinar samar-samar di bawah cahaya pagi. Pola Dao kuno pada pedang itu menyerupai naga yang terbangun, bergerak perlahan.


Agnes berjalan di samping Dave, gaun putih saljunya tampak mencolok di antara kerumunan yang mengenakan pakaian biru.


Tangannya bertumpu pada gagang pedang, energi spiritual biru es mengalir melalui ujung jarinya, dan Jantung Jurang Dingin sedikit menghangat di dalam tubuhnya, seolah menanggapi semangat bertarung di hatinya.


Dave berjalan di depan kelompok, Pedang Pembunuh Naga tergantung di pinggangnya, mata ungunya menatap lurus ke depan.


...


Aula Cahaya terletak di arah tenggara, sekitar tiga hari perjalanan dari Gua Surga Awan Biru.


Tiga ratus orang berjalan kaki, memilih untuk tidak terbang.


Bukan berarti mereka tidak bisa, tetapi mereka tidak perlu melakukannya.


Tiga hari adalah waktu yang cukup bagi orang-orang di Aula Cahaya untuk mengetahui bahwa mereka akan tiba.


Inilah efek yang persis diinginkan Dave.


Dia tidak menggunakan serangan mendadak atau penyergapan.


Dia ingin memasuki Aula Cahaya secara terbuka dan jujur, agar semua orang tahu bahwa para dewa tidaklah tak terkalahkan.


Kelompok itu melakukan perjalanan melewati pegunungan dan hutan dengan kecepatan sedang.


Prosesi yang terdiri dari tiga ratus orang membentang dalam barisan panjang, jubah Taois biru mereka tampak menonjol di antara pegunungan dan hutan yang hijau.


Para kultivator lepas dan orang-orang dari sekte-sekte kecil yang mereka temui di sepanjang jalan semuanya minggir ketika melihat kelompok ini, mata mereka dipenuhi dengan keterkejutan.


"Hei... lihat.... Mengapa semua orang dari Gua Surga Awan Biru keluar?"


"Apakah mereka akan memulai perang dengan sekte besar tertentu?"


Berita itu menyebar dengan cepat melalui pegunungan dan hutan. Dalam waktu kurang dari setengah hari, semua pasukan dalam radius ribuan mil mengetahui bahwa Gua Surga Awan Biru telah mengirimkan tiga ratus murid dan sedang menuju ke tenggara.


Arah tenggara.


Itulah arah menuju Istana Aula Cahaya.


......


Istana Dewa Api.


Yang Mulia Api Bumi duduk di Singgasana Dewa Api, memegang laporan intelijen yang baru saja diterimanya di tangannya.


Laporan intelijen itu hanya berisi satu baris: "Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru telah pergi dan sedang menuju ke istana Aula Cahaya."


Yang Mulia Api Bumi menatap kata-kata itu, secercah keraguan terlintas di mata merah keemasannya.


Meskipun pernah terjadi konflik antara Gua Surga Awan Biru dan Aula Cahaya di masa lalu, mereka tidak pernah sampai pada titik saling bertempur.


"Si Rubah tua, Giok Abadi, telah menunggu selama puluhan ribu tahun, tanpa pernah secara aktif memprovokasi kekuatan mana pun."


"Apa yang salah dengan dia hari ini?"


"Lanjutkan penyelidikan." Yang Mulia Api Bumi melemparkan laporan intelijen kepada ajudan kepercayaannya. "Cari tahu persis apa yang sedang dilakukan Gua Surga Awan Biru."


"Baik."


Orang kepercayaan itu menerima perintah tersebut dan pergi.


Yang Mulia Api Bumi duduk sendirian di atas singgasana, jari-jarinya mengetuk ringan sandaran tangan, menghasilkan bunyi gedebuk yang tumpul.


Dia punya firasat buruk.


Pengerahan pasukan secara tiba-tiba oleh Gua Surga Awan Biru pasti terkait dengan pria bernama Dave Chen .


Beberapa hari yang lalu, sebuah tim yang dikirim oleh Aula Cahaya ke Jurang Dingin Utara sepenuhnya musnah, dan tetua tingkat empat Dewa Emas yang memimpin tim tersebut juga gagal kembali.


Aula Cahaya sedang menyelidiki masalah ini, tetapi belum menemukan hasil apa pun.


Namun jika Dave ikut serta dalam pertempuran itu, jika Master Giok Abadi mengetahuinya...


Alis Yang Mulia Api Bumi semakin berkerut.


"Dave..." gumamnya menyebut nama itu, secercah niat membunuh terpancar di mata merah keemasannya, "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


…………


Aula Cahaya terletak di sebelah tenggara Surga Kedelapan Belas, berada di atas urat spiritual yang sangat besar.


Seluruh istana dibangun dari giok putih, yang memancarkan cahaya putih lembut di bawah sinar matahari. Dari kejauhan, istana ini tampak seperti mutiara berkilauan yang tertanam di bumi.


Sembilan altar terapung mengelilingi istana, masing-masing ditutupi dengan rune suci yang berkilauan di bawah sinar matahari, menyelimuti seluruh istana dalam perisai cahaya suci keemasan.


Inilah formasi pelindung Aula Cahaya – "Kanopi Cahaya Suci," yang konon mampu menahan serangan apa pun dari mereka yang berada di bawah peringkat kelima Alam Abadi Emas.


Penguasa Aula Cahaya bernama Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat lima, dan merupakan yang terkuat kedua di antara Klan Dewa Delapan Belas Langit setelah Yang Mulia Api Bumi.


Dia telah hidup selama ratusan ribu tahun dan menyaksikan seluruh proses perkembangan Aula Cahaya dari cabang kecil ras dewa menjadi kekuatan terbesar kedua di Surga ke-18.


Saat ini, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci sedang duduk di aula utama Aula Cahaya, memegang selembar informasi yang persis sama dengan yang ada di tangan Yang Mulia Api Bumi.


"Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru berangkat dengan kekuatan penuh dan menuju ke istana Aula Cahaya."


Alisnya berkerut dalam-dalam.


Gua Surga Awan Biru.


Master Giok Abadi.


"Rubah tua itu telah bersembunyi di Pegunungan Awan Biru selama puluhan ribu tahun, tidak pernah memprovokasi siapa pun."


"Apa yang salah dengan saya hari ini?"


"Apakah masalah ini telah diselidiki secara menyeluruh?" Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terdengar dalam dan agung, menggema di aula.


Salah seorang kultivator dari Aula Cahaya, yang sedang berlutut di aula, mengangkat kepalanya, wajahnya pucat dan suaranya sedikit gemetar: "Melapor kepada Yang Mulia Surgawi, kami telah menemukan kebenarannya. Alasan mengapa Gua Surga Awan Biru mengirim pasukan... berkaitan dengan seorang pria bernama Dave Chen."


"Hmm... Dave Chen?"


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci mengerutkan keningnya lebih dalam lagi. "Apakah itu Dave Chen yang membunuh Pemutus Api di Gurun Dewa yang Jatuh dan membantai pasukan dari Aula Cahayaku di Jurang Kegelapan Utara?"


"Benar."


"Apa hubungannya dia dengan Gua Surga Awan Biru?"


"Menurut penyelidikan, Dave adalah... pewaris Kitab Luo Agung."


Aula utama benar-benar sunyi.


Ekspresi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berubah.


Kitab suci Emas Luo Agung.


Garis keturunan tertinggi Taoisme, yang hilang selama ratusan ribu tahun.


Menurut legenda, siapa pun yang mampu menguasai Kitab Suci Emas Luo Agung adalah penerus leluhur Taois dan berhak memimpin semua sekte Taois di bawah langit.


Jika ini benar, jika si rubah tua itu, Master Giok Abadi, benar-benar mengakui Dave sebagai pemimpin baru sekte Taois...


Keputusan untuk mengirim pasukan dari Gua Surga Awan Biru bukan dibuat oleh Master Giok Abadi, melainkan oleh Dave.


"Dave yang baik."


Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terdengar dingin, "Kau membunuh anak buahku dan masih berani membawa orang-orang dari sekte Tao ke Aula Cahaya untuk membuat masalah. Aku ingin melihat apa yang mampu kau lakukan."


Dia bangkit dari tempat duduknya, dan cahaya suci keemasan memancar dari tubuhnya, menerangi seluruh aula.


"Sampaikan perintahku: semua murid Aula Cahaya harus memasuki keadaan siaga tinggi. Formasi pelindung aula diaktifkan sepenuhnya. Saya ingin bertemu langsung dengan Dave ini."


"Baik!"


Para biksu di aula menerima perintah tersebut dan kemudian pergi.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berdiri di tengah aula, cahaya suci keemasan mengalir di sekelilingnya, membuat wajahnya muncul dan menghilang dalam cahaya tersebut.


Secercah niat membunuh terlintas di matanya.


Terlepas dari latar belakang Dave atau siapa pun yang berada di belakangnya.


Ini adalah Aula Cahaya, wilayahnya.


Siapa pun yang berani bertindak gegabah di sini akan menanggung akibatnya.


...... 


Tiga hari kemudian.


Di luar istana Aula Cahaya.


Tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru berdiri berbaris rapi di depan gerbang Aula Cahaya. Jubah Taois biru mereka berkilauan samar-samar di bawah sinar matahari. Tiga ratus pedang panjang dihunus bersamaan, cahayanya memancar di bawah sinar matahari, seperti hutan pedang biru.


Dave berdiri di depan kelompok, Pedang Pembunuh Naga tergantung di pinggangnya, mata ungunya tertuju pada istana putih megah di depannya.


Sistem perlindungan Kuil Cahaya telah diaktifkan sepenuhnya. Rune cahaya suci pada sembilan altar terapung menyala secara bersamaan, dan cahaya suci keemasan memancar dari altar, mengembun menjadi tirai cahaya keemasan raksasa di atas Aula Cahaya, menyelimuti seluruh istana.


Layar cahaya itu dipenuhi dengan rune cahaya suci yang tak terhitung jumlahnya, masing-masing beroperasi dengan liar, memaksimalkan kekuatan pertahanan seluruh formasi.


Di depan gerbang Aula Cahaya, ribuan kultivator Aula Cahaya berdiri dalam formasi, cahaya suci keemasan memancar dari tubuh mereka, memantulkan cahaya dari formasi pelindung dan mengubah seluruh langit menjadi keemasan.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berdiri di titik tertinggi gerbang gunung, jubah emasnya berkibar tertiup angin, sebuah tongkat emas di tangannya, batu bercahaya di puncak tongkat itu memancarkan cahaya suci yang menyilaukan.


Di belakangnya berdiri wakil ketua aula dan puluhan tetua, masing-masing dengan ekspresi serius di wajah mereka.


Tatapan Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menembus ratusan kaki dan tertuju pada Dave.


Tingkat kedelapan dari Alam Abadi Agung.


Pria yang masih sangat muda ini membunuh Pemutus Api, dan juga tetua Dewa Emas tingkat empat yang telah dia kirim ke Jurang Dingin Utara.


Pemuda ini, memimpin tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru, mengepung kota Aula Cahaya.


"Jadi, kau Dave Chen?" Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci bergema seperti guntur yang teredam di langit.


Dave mengangkat kepalanya, mata ungunya bertemu dengan mata emas Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


"Ya."


Satu kata, tanpa penjelasan tambahan, tanpa kata-kata yang tidak perlu.


Secercah niat membunuh terpancar di mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


"Aku tidak menyimpan dendam padamu, jadi mengapa kau membawa orang-orang ke Aula Cahayaku?"


Dave meletakkan tangannya di gagang Pedang Pembunuh Naga, kilatan dingin terpancar dari mata ungunya.


"Oh.. Tidak menyimpan dendam?"


Suaranya tenang, tetapi ada nada mengerikan di dalamnya: "Orang-orang yang kau kirim ke Jurang Dingin Utara telah melukai seseorang yang seharusnya tidak mereka lukai."


Bersambung.....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️









Kalau Semua Masalah Selesai Pakai "Pasrah", Bubarkan Saja Kementerian Ekonomi

"Rumah Kebakaran Malah Dikasih Ceramah"—Berhentilah Pakai Agama Buat Nutupin Salah! Rakyat Kehilangan Pekerjaan, Bukan Kehilangan ...