Photo

Photo

Monday, 18 May 2026

Pendidikan Gratis : Kenapa Sekolah Cuma-cuma Justru Bikin Manusia Malas?

Ironi Sekolah Gratis: Saat yang Mahal Justru yang Berkualitas




Ini Alasan Sistem Berbayar Justru Menyelamatkan Masa Depan


Pernah ada berita, "Anak seorang tukang becak lulus S1 UGM," sambil ada foto bapaknya nganter anaknya wisuda naik becak. 


Orang-orang pada terharu, padahal bisa jadi bapaknya juga sarjana. 


Waktu saya kuliah, ada salah satu tukang parkir di Kampus itu S1 dari universitas negeri. Ada lagi tetangga dekat kost juga sarjana dari kampus ternama, jadi Abang ojek, bukan ojek online, karena waktu itu belum ada aplikasi ojek online. Dan masih banyak lagi. Untuk beberapa provinsi, penduduk nya banyak yang sarjana.


Kalo banyak sarjana, kenapa miskin? Trus apa gunanya banyak sarjana? Orang-orang itu kuliah buat apa? 


This brings me to my second argument; ada video ibu-ibu, some government official, bilang kalo di Cuba, sekolah dari SD sampe S3, gratis. 

Kalo sekolah gratis, banyak sarjana, kenapa miskin? Kenapa tertinggal? Google it. Negaranya kayak negara mati, gak bisa isi token listrik.


Trus negara mana yang peradabannya paling maju? Negara yang sekolahnya bayar, sampe-sampe kalo mau kuliah harus minta pinjaman negara (student loan) sampe milyaran. 

Kenapa malah maju? Karena yang sekolah itu yang bener-bener niat sekolah. 


Coba liat kualitas sekolah gratis dan lulusan sekolah gratis. 

Kurikulumnya bare minimum, gurunya gak punya beban, orang tua murid gak keluar duit, anak didiknya nothing to lose; "Sekolah gak sekolah, lulus gak lulus, gak rugi apa-apa."

Sekolah gratis nanti akan seenaknya, kalo berbayar akan jadi serius 

Kalok gratis, orang tua merasa nothing to lose.

Ga terlalu serius memotivasi anak anak  nya untuk berprestasi.

Ada sih yang berhasil, tapi ga rings the bell.

Si anak sendiri, ya gimana ortunya saja.

Ada sih anak yang punya kesadaran tinggi, tapi berapa banyak sih?


Sementara yang sekolahnya berbayar bahkan muahal banget sampe ngimpi saja kalo bisa sekolah 

Sampe mati"an cari biaya sendiri, sekolah sambil kerja, pengen cepat" lulus biar cepat" bisa bantu orangtua


Seperti nya memang mental gratisan jangan dipelihara...


Bukan maksud gak berkemanusiaan

Tapi yang gratis" itu hanya mencetak manusia" malas

Beranak saja terus, toh pendidikan gratis, kesehatan gratis, makan siang juga gratis

Alhasil lebih banyak produk yang ga' berkualitas dari pada yang berkualitas

Sementara keluarga" mampu, membatasi anak cukup dua bahkan sekarang trend nya 1 anak cukup.

Demi apa?

Ya biar hidup lebih  berkualitas lagi

Dulu anak S1 saja cukup, sekarang S2 pas-pasan.

Makin lebar jurang antara yang mampu dan yang ga mampu.


Kalau sekolah bayar nanti yang bisa sekolah hanya anaknya orang-orang kaya...?

Sementara yang 68% hidup di bawah garis kemiskinan praktis gak bisa sekolah....


Sekolah berbayar, bagi yang tidak mampu dan benar benar tidak bisa bayar, bisa di biayai atau di tanggung negara dengan menyertakan surat keterangan miskin yang di keluarkan oleh pemerintah desa 


Pernah ada orang buka sekolah, semacam Sekolah Terpadu. Tahun" awal sepi peminat terutama warga lokal, kenapa? Karna gratis. Setelah sekolah itu berbayar, mulai ramai oleh warga sekitar 



Saturday, 16 May 2026

Berburu Guru Honorer Berserikat Pendidik






Fenomena baru 


“Apakah dia sudah berserdik?”, tanya seorang kepala sekolah. 


Ya, tahukah Anda, ada sebuah fenomena baru dalam dunia rekrutmen guru di Sekolah-Sekolah Negeri juga swasta ? 


Nama fenomena itu adalah , “Berburu Guru Honorer Berserdik”.


——


Jika dulu kepala sekolah pusing tujuh keliling saat kekurangan guru karena harus memutar otak membagi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membayar honorer, kini masalah itu bisa diselesaikan dengan gampang. 


Caranya, dengan mencari target buruan : yaitu Guru Honorer Berserdik (Bersertifikat Pendidik).


Fenomena ini bukan sekadar soal mencari guru yang kompeten secara formal, melainkan sebuah strategi bertahan hidup untuk menghemat anggaran dana BOS sekolah agar tak habis untuk bayar honor guru. 


Ya, Alasan utama sekolah negeri maupun swasta mengincar guru honorer berserdik hanya satu : Efisiensi Anggaran.


Secara regulasi, guru honorer yang memiliki Sertifikat Pendidik (Serdik) berhak menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) sebesar Rp 2.000.000 per bulan dari pemerintah. 


Namun, ada aturan main yang ketat: jika mereka sudah menerima tunjangan tersebut, mereka tidak diperbolehkan lagi menerima honor dari dana BOS.


Bagi sekolah, regulasi ini adalah macam "durian runtuh". 


Dengan merekrut guru honorer berserdik, sekolah mendapatkan tenaga baru tanpa harus mengeluarkan sepeser pun uang dari dana BOS.

 

Anggaran honorarium yang tadinya tersedot untuk membayar guru honorer, bisa dialihkan sepenuhnya untuk hal lain 


Jadi Guru berserdik adalah solusi Zero Cost bagi manajemen sekolah.


Bak simbiosis mutualisme.


Perburuan ini pun disambut baik oleh para guru honorer yang sedang terlunta-lunta. 


Biasanya, mereka adalah para guru dari sekolah swasta atau sekolah negeri lain yang mengalami penumpukan guru.


Yaitu mereka yang kehilangan jam mengajar ketika sekolahnya kedatangan guru ASN baru atau guru baru dari keluarga pemilik yayasan. 


Sehingga Tunjangan 2 juta rupiah yang menjadi napas dapur mereka hangus karena gagal mendapatkan syarat beban mengajar minimum akibat digusur oleh ASN ataupun guru orang dalam yayasan 


Atau mereka dari sekolah swasta yang sudah ngebet menjadi ASN. Sehingga harus mencari sekolah negeri sebagai pelabuhan agar dirinya terdata di BKN. 


Situasi inilah yang memunculkan simbiosis mutualisme antara guru honorer berserdik dengan sekolah negeri ataupun swasta. 


Para guru tersebut membawa tenaga dan Serdiknya ke sekolah yang kekurangan guru, lalu sekolah itu memberikan jaminan jam mengajar sebagai wadah agar tunjangan mereka tetap cair. 


Sekolah menyelamatkan dapur mereka, dan mereka menyelamatkan anggaran sekolah. 


Hubungan yang sempurna!


Namun, di balik solusi efisiensi maha keren ini, rupanya ada pihak yang dikorbankan dalam diam : yaitu Guru honorer yang belum berserdik dan para lulusan baru (fresh graduate).


Saat ini, guru honorer non-serdik mulai diacuhkan. Kehadiran mereka dianggap sebagai "beban" bagi dana BOS. 


Sehingga Dalam setiap momen penempatan guru honor di sekolah, guru honorer yang belum berserdik akan langsung tersingkir oleh mereka yang sudah punya sertifikat.


Bukan karena kalah pintar, tapi karena non-serdik "berbayar", sedangkan yang berserdik "gratis".


Ini menciptakan kasta baru di ruang guru. Guru muda yang baru lulus dan penuh semangat harus gigit jari karena pintu sekolah negeri juga swasta tertutup rapat akibat manajemen yang pragmatis. Jalur kaderisasi guru pun terancam putus.


Berburu Guru Honorer Berserdik, pada akhirnya menjadi potret betapa rapuhnya tata kelola pendidikan kita. 


Sekolah negeri maupun swasta yang seharusnya menjadi institusi pendidikan yang idealis, kini dipaksa berpikir layaknya manajer proyek yang terjepit anggaran.


Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita sedang membangun kualitas pendidikan, atau hanya sedang menambal lubang anggaran dengan memanfaatkan nasib guru honorer yang mengejar jam tayang? 


Jika tren ini terus berlanjut, sekolah negeri maupun swasta mungkin akan penuh dengan guru-guru hebat bersertifikat pendidik namun dibangun di atas pengabaian terhadap generasi muda yang baru ingin memulai pengabdian.


Lalu timbul pertanyaan:

Jika sekolah negeri yang guru ASN, PPPK, atau pun honorer yang tidak diambil dari dana BOS...

Lalu uang dana BOS buat apa, larinya kemana kalau semua sudah tidak buat bayar tenaga guru? 





Kebohongan "Sekolah yang Rajin Nanti Mudah Dapat Kerja", Teman Saya Korban Pertamanya.






Cerita kehidupan 


Seorang teman lulus cumlaude.

IPK 3,89. Wisuda tepat waktu. 

Orang tuanya nangis bangga.


Tapi 6 bulan setelah wisuda, dia bilang sesuatu yang susah saya lupakan:

"Gelar saya tidak ada di job description manapun.


Maksudnya begini.

4 tahun dia belajar ilmu teori.

Hafal rumus. Lulus ujian. Bikin skripsi.

Tapi waktu masuk dunia kerja, yang ditanya bukan IPK-nya.


Yang ditanya:

Bisa software apa ?

Bisa Microsoft Excel ?

Punya portofolio ?

Pengalaman kerja berapa tahun ?

Ijazahnya cuma lolos seleksi administrasi.

Setelah itu tidak ada yang peduli.


Ini yang tidak pernah diajarkan di kampus:

Dunia kerja tidak menghargai apa yang kamu tahu.

Dunia kerja menghargai apa yang bisa kamu selesaikan.

Dua hal itu kelihatannya sama.

Tapi sangat berbeda.

Orang yang bisa menyelesaikan masalah nyata, tidak selalu yang nilainya paling bagus di kelas.

Masalahnya bukan pendidikannya yang salah.

Masalahnya kita terlalu lama percaya satu kalimat :

"Sekolah yang rajin, nanti mudah dapat kerja."


Tidak ada yang bilang:

Ijazah itu tiket masuk, bukan jaminan

Skill yang dicari industri berubah lebih cepat dari kurikulum

Networking kadang lebih menentukan dari nilai kita lulus .


Teman itu sekarang kerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusannya.

Dan dia baik-baik saja.


Tapi dia bilang satu hal yang saya kepikiran terus:

"Seandainya ada yang bilang lebih awal pendidikan itu penting, tapi belajar caranya hidup itu jauh lebih penting."

Kamu bisa sekolah tinggi-tinggi.

Tapi kalau tidak tahu cara belajar dari realita,  kau akan selalu merasa tertinggal.

Buat para pemuda yang masih kuliah.. 

Persiapkan skill kalian untuk menghadapi dunia kerja bukan sekedar IPK tinggi..






Pendidikan Gratis : Kenapa Sekolah Cuma-cuma Justru Bikin Manusia Malas?

Ironi Sekolah Gratis: Saat yang Mahal Justru yang Berkualitas Ini Alasan Sistem Berbayar Justru Menyelamatkan Masa Depan Pernah ada berita, ...