Kebanyakan ajaran Leluhur Jawa berupa PITUTUR yang bersifat "SANEPO" atau menggunakan gaya bahasa personifikasi & simbolis yang akan membuat siapapun berusaha untuk mencari makna tersirat yang ada di dalam PITUTUR & PITUDUH tersebut sebagai sarana pencarian hakikat Gusti (Tuhan)
Salah satu PITUTUR Leluhur Jawa adalah :
GOLEKONO GALIHE KANGKUNG
atau berarti carilah isi batangnya kangkung
Jika memahami PITUTUR di atas dengan menggunakan pikiran dan logika maka kita akan menganggap Leluhur Jawa sudah " GILA "
Karena semua orang pasti tahu bagian tengah batang kangkung adalah kosong
Disinilah bukti kehebatan Leluhur Jawa dalam memberikan edukasi intelektual sekaligus edukasi spiritual melalui PITUTUR yang disampaikan dari mulut ke mulut tanpa harus ada buku atau kitab
Dalam falsafah jawa GOLEKONO GALIHING KANGKUNG maknanya semua berawal dari kosong dan akan kembali ke kosong pula, begitu juga manusia,
Dulu kita tidak pernah ada karena masih di alam SUWUNG kemudian TUHAN berkehendak kepada kita lahir di dunia dan TUHAN berkehendak kepada kita mati & kembali ke alam SUWUNG lagi
Hal tersebut sama dengan :
Siapapun yang bisa mencapai kosong atau Suwung berarti sudah mencapai pemahaman luhur tentang TUHAN
Begitulah cara Leluhur Jawa dalam berbakti dan mengabdi kepada Gusti, saking hormatnya dan saking menjunjung tinggi Gusti maka Leluhur Jawa tidak berani memberikan NAMA kepada Sang Pencipta karena Leluhur Jawa khawatir apakah NAMA itu nantinya sudah pantas dan sesuai dengan Sang Pencipta yang MAHA SEGALANYA
Suwung itu Gusti
Gusti itu Suwung
Gusti bisa berada dimana saja karena hakikatnya semua ini adalah kosong atau Suwung termasuk di dalam GALIHE KANGKUNG
Semoga sedikit pembahasan diatas dapat kita renungkan dan dapat memberi sedikit asupan untuk mencapai kesempurnaan intelektual dan spiritual
Jowo Joyo Nusantara Joyo
Rahayu Sagung Dumadi...





