Perintah Kaisar Naga. Bab 6962-6966
* Wujud Asli Naga Emas *
" Cuiih... Seekor semut yang baru saja di alam Dewa Emas Luo Agung pertama—dengan kultivasi dangkal dan pengalaman minimal, berani menerobos masuk ke Kolam Naga terlarangku dan mengganggu kultivasiku yang tenang dan abadi?!"
" Bocil goblok... Kau tidak tahu betapa luasnya langit dan bumi! Hari ini, aku akan menghancurkan dagingmu, melenyapkan jiwamu, dan melahap esensi vitalmu, lalu melemparkanmu ke dalam Jurang Kotoran untuk menderita siksaan abadi!"
Raungan naga yang penuh amarah kembali meledak. Karena murka luar biasa dan tak lagi ragu, naga hitam itu melancarkan serangan dahsyat yang menggelegar!
Duaaaarrrr...
Ekor naga raksasa—setebal sepuluh ribu kaki dan diselimuti sisik hitam pekat—menyapu dengan kekuatan luar biasa. Ekor itu melesat maju, membawa serta aliran air hitam keruh, energi jahat kuno yang ganas, serta kabut beracun yang mampu mengikis tulang.
Dengan kekuatan yang mampu meremukkan gunung, membelah bumi, dan menghancurkan kehampaan, serangan itu meluncur deras ke arah Dave!
Ini adalah serangan mematikan yang lahir dari amarah murni, mencerminkan puncak kekuatan tempur Dewa Emas Agung Tingkat Ketujuh. Sebuah pukulan yang mampu meluluhlantakkan puncak gunung yang menjulang, membelah bumi hingga ribuan mil, serta memusnahkan tubuh fisik dan fondasi Dao bahkan dari seorang kultivator Dewa Emas Agung Tingkat Kesembilan!
Di mana pun ekor naga itu melintas, kehampaan di sekitarnya runtuh lapis demi lapis, dan jaring retakan spasial yang padat bersilangan di udara. Energi jahat membakar langit dan mengikis bumi, sementara tekanan angin yang mengerikan menyapu ke segala arah.
Seluruh istana bawah tanah itu berada di ambang kehancuran; kekuatan serangan itu sungguh mengerikan dan mencengangkan untuk disaksikan.
Menghadapi serangan mematikan ini—serangan yang mampu membunuh seketika tak terhitung banyaknya ahli tingkat atas—Dave berdiri tak bergerak di tengah kehampaan. Ia tetap tegak, tidak menghindar ataupun mundur; ekspresinya tenang, jubahnya tak terusik, dan matanya tidak menunjukkan riak emosi apa pun—hanya ketenangan yang mendalam dan acuh tak acuh.
Tepat saat ekor naga raksasa itu hendak menghancurkannya—dengan niat membunuh yang hanya berjarak beberapa inci saja—ia mengangkat ujung jarinya dengan ringan. Seberkas cahaya Sumber Kekacauan—yang tampak samar, lembut, dan tak berarti—melayang perlahan ke luar.
Nguuung....
Perbedaannya langsung terlihat jelas: kesenjangan hierarki yang menghancurkan dan penindasan mutlak terhadap Sumber Kekuatan!
Serangan ekor mematikan Naga Hitam—yang dilancarkan dengan amarah dan didorong oleh seluruh hasil kultivasi seumur hidupnya—seketika membeku saat menyentuh kilatan samar kekacauan purba itu; tubuh raksasanya yang sepanjang sepuluh ribu kaki terkunci di udara, tak mampu bergerak walau hanya satu inci.
Kekuatan naga yang mengerikan—yang sebelumnya begitu mendominasi dan menindas—runtuh dan lenyap tanpa jejak dalam sekejap.
Aura jahat yang mengamuk dan mengerikan, yang sebelumnya memenuhi langit, meluruh lapis demi lapis hingga sirna tak berbekas.
Miasma Kabut beracun yang menyebar luas dan mampu mengikis tulang-belulang itu musnah total, tak menyisakan sedikit pun sisa.
Tubuh raksasa Naga Hitam itu berguncang hebat, gemetar tak terkendali dari kepala hingga ekor.
Mata merah darahnya, yang tadinya dipenuhi amarah dan niat membunuh, seketika berubah menjadi tatapan penuh ketakutan luar biasa, kebingungan, dan kengerian.
" Hah... Kekuatan ini... kekuatan macam apa ini?!"
Badai keterkejutan menghantam batin Naga Hitam; jiwanya sendiri gemetar hebat karena rasa tidak percaya yang luar biasa.
Ia telah bertahan hidup sejak zaman purba, menyaksikan tak terhitung banyaknya sosok perkasa dan makhluk agung bertarung melintasi langit serta melewati peperangan selama berabad-abad—namun belum pernah ia menjumpai kekuatan yang begitu aneh, begitu mengerikan, dan begitu mustahil untuk dilawan!
Ini bukan sekadar masalah keunggulan mutlak dalam tingkat kultivasi, ataupun penindasan berdasarkan atribut pertarungan; ini adalah ketundukan mutlak pada tingkat paling mendasar, yakni garis keturunan dan esensi dari Dao itu sendiri.
Sebagai Naga Hitam kuno yang langka—yang diberkahi garis keturunan Naga Sejati, asal-usul mulia, dan warisan murni—ia telah lama berdiri dengan bangga di atas segala ras dan memandang rendah makhluk-makhluk di seluruh Surga ke-23.
Namun pada saat ini, darah naga yang mengalir di tubuhnya, esensi naga yang telah dimurnikan, Dao naga yang dikultivasikannya, serta jiwa naga yang teguh, semuanya gemetar hebat, bersujud dalam kekaguman, dan menunduk dalam penyembahan.
Itu adalah sensasi seekor semut hina yang berhadapan dengan Naga Sejati dari Sembilan Surgawi, sehelai rumput biasa yang menatap cakrawala abadi, atau sesosok roh lemah yang terpecah-belah saat bersujud di hadapan Leluhur Segala Naga. Itu adalah penindasan mutlak yang bersumber dari inti garis keturunannya—terpatri hingga ke sumsum dan jiwanya, serta mustahil untuk dipatahkan.
Tatapan Dave dingin dan acuh tak acuh, sementara suaranya—yang tanpa emosi—membawa kekuatan surgawi nan agung yang bergema ke seluruh kosmos dan menundukkan puluhan ribu naga; setiap kata terdengar jelas, mengguncang fondasi istana bawah tanah itu:
"Kau telah bersembunyi di Kolam Naga Jahat selama berabad-abad, memangsa para kultivator yang melintas dan membantai makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Kau mengamuk dengan keganasan tanpa batas, menebar kehancuran di muka bumi; dosamu sangatlah keji, dan kejahatanmu tak bertepi."
"Serahkan Jantung Naga Jahat yang ada di dalam dadamu, dan mungkin aku akan menyisakan secuil sisa jiwamu—menyelamatkanmu dari kehancuran total dan kelenyapan abadi."
Mendengar ini, Naga Hitam yang sebelumnya sudah terguncang seketika meledak dalam amarah yang baru. Sifat ganas alaminya melampaui rasa takutnya; dengan mata yang menyala merah membara penuh niat membunuh, ia meraung dalam kemarahan yang menggila: "Bangsat... beraninya kau! Manusia hina yang lancang... Kurang ajar...!"
"Aku adalah Penguasa Naga dari garis keturunan kuno yang langka—berdarah mulia dan agung sepanjang masa!"
"Kau, seorang kultivator manusia yang remeh dan tak berarti, berani menginginkan Jantung Naga Kuno milikku dan memaki-makiku dengan begitu lancang?! Kau benar-benar mencari kematian!"
"Kau sedang menjemput ajalmu sendiri!"
Dengan raungan yang mengguncang langit dan aura yang meluap-luap penuh niat membunuh, Naga Hitam itu—yang murka akibat penghinaan luar biasa tersebut—mengamuk hebat. Ia mengerahkan segalanya tanpa menahan diri sedikit pun, melepaskan seluruh kekuatannya hingga menguras fondasi kultivasi kunonya.
Sembari menyalurkan seluruh cadangan esensi naga dan membakar hasil kultivasi yang telah terakumulasi selama ribuan masa, ia melancarkan serangan balik habis-habisan yang penuh keputusasaan—sebuah pertarungan hidup-mati di mana ia lebih memilih binasa daripada harus menyerah.
Jebreeet...
Jebreeet...
Jegeerrrrrr...
Tiga ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi terdengar berturut-turut dengan cepat, menggema ke seluruh penjuru istana di jurang bawah tanah itu!
Api naga kuno berwarna hitam pekat menyembur liar dari mulutnya, berkobar hebat dan menyebar bagaikan kebakaran hutan di tengah kehampaan.
Ini bukanlah api biasa—bukan pula api duniawi ataupun api spiritual yang digunakan para kultivator—melainkan api purba ganas yang mampu melenyapkan jiwa kultivator, menghancurkan fondasi Dao mereka, serta melarutkan energi spiritual dan esensi Dao. Itu adalah api yang sanggup menghanguskan langit dan mengikis bumi, melahap segala sesuatu serta menembus pertahanan apa pun!
Pada saat yang sama, bayangan raksasa cakar naga memenuhi angkasa, menyelimuti kehampaan dengan begitu rapat.
Setiap bayangan cakar menyimpan kekuatan tertinggi untuk merobek langit, membelah bumi, serta menghancurkan gunung dan sungai. Berlapis-lapis, cakar-cakar itu menghujam turun dengan kekuatan ganas, berniat mencabik-cabik Dave, meremukkannya hingga hancur lebur, dan menggiling tulang-belulangnya menjadi debu!
Air bawah tanah yang berwarna hitam pekat melonjak hebat ke arah langit, sementara aura jahat yang menyelimuti tempat itu berubah wujud menjadi ribuan makhluk mengerikan yang menyeramkan. Sembari mengaum dan menggeram, memamerkan taring serta cakar, dan dipenuhi keganasan tak terbatas serta niat membunuh yang haus darah, mereka menerjang dengan liar dari segala arah!
Seluruh istana bawah tanah di Kolam Naga Jahat itu berguncang hebat, nyaris runtuh; bongkahan besar dinding batu hancur dan berjatuhan, sementara retakan ruang tampak bersilangan di udara. Aura kehancuran yang mengerikan menyelimuti dunia, seolah-olah seluruh zona terlarang ini akan hancur lebur dan lenyap tak berbekas kapan saja.
Ini adalah serangan pamungkas yang mematikan dari seekor binatang buas di tingkat Dewa Emas Agung Peringkat Ketujuh—sebuah serangan nekat hidup-mati yang didorong oleh pengorbanan kultivasi selama ribuan masa dan pembakaran esensi naga miliknya sendiri.
Kekuatannya sungguh dahsyat; seandainya ada ahli tingkat atas biasa di sana, mereka pasti sudah musnah seketika—baik tubuh, tulang, maupun jiwa—tanpa menyisakan jejak sedikit pun!
Namun, bahkan saat langit dan bumi seolah terbalik, saat niat membunuh memenuhi udara dan serangan mematikan datang menerjang dari segala arah, Dave berdiri tak bergeming di tengah kehampaan. Postur tubuhnya tetap tegak seperti biasa, jubahnya bersih tanpa noda debu, dan ekspresinya—serta kedalaman tatapan matanya—tetap tenang dan tak terusik sama sekali.
Dia menatap dengan tenang ke arah naga kuno yang ganas di hadapannya—makhluk yang tidak mengenal rasa hormat ataupun ketundukan, keras kepala dan pantang menyerah hingga akhir. Sisa-sisa ketenangan dan toleransi memudar dari matanya, menyisakan hanya aura keagungan yang dingin, acuh tak acuh, dan mutlak.
"Karena kau tidak mengenal rasa hormat dan menolak untuk tunduk... maka kau akan dihancurkan sepenuhnya."
Nguuung...
Raungan naga kuno yang agung, dan perkasa—menggelegar melintasi langit dan bergema menembus zaman—tiba-tiba meledak dari tubuh Dave!
Krak...
Kraaak...
Kraaak...
Cahaya keemasan yang tak terbatas, menyilaukan, dan sangat suci memancar membubung ke angkasa dari setiap serat tubuh Dave—mulai dari anggota tubuh dan tulangnya hingga ke inti jiwanya.
Cahaya itu menembus kedalaman jurang kegelapan, merobek kabut hitam yang berputar, menerangi tanah tandus yang sunyi, memecahkan cakrawala yang suram, serta menghubungkan kutub langit dan bumi!
Energi kelabu-ungu kacau yang sebelumnya berputar di sekelilingnya seketika berubah wujud, bertransformasi sepenuhnya menjadi cahaya keemasan yang agung, suci, dan tiada tara—luas tak bertepi, menguasai langit!
Ruang hampa di belakangnya bergetar hebat dan retak lapis demi lapis saat wujud sejati seekor naga emas—yang besarnya tak terukur, menjulang melampaui cakrawala, menundukkan seluruh kaum naga, dan memandang rendah lintas zaman—perlahan memadat dan mewujud nyata!
Sisik emasnya, seluas kosmos, berkilauan dengan cahaya yang menyilaukan; setiap sisik menyimpan esensi Dao Agung dan mencerminkan hukum-hukum dasar semesta.
Tanduk naganya yang menjulang tinggi menembus ruang hampa, memancarkan aura Dao yang mahatinggi.
Sepasang matanya yang memanjang—jernih namun agung—menembus lintas zaman; satu tatapan saja mampu menghancurkan ilusi langit dan menundukkan segala makhluk hidup.
Naga raksasa itu membentang antara langit dan bumi, menyelimuti cakrawala; wibawa naganya yang maha tinggi menekan empat lautan dan delapan penjuru alam liar, mendominasi segala jalan di semesta raya!
Maha tinggi dan tak terkalahkan—membuat seluruh naga menundukkan kepala, Surga pun tunduk, serta berkuasa tanpa tanding sepanjang masa!
Begitu wujud asli Naga Emas termanifestasi sepenuhnya, segala jejak aura naga, energi jahat, niat jahat, kabut beracun, dan kekuatan naga di seluruh Kolam Naga Jahat seketika berbalik mundur, bersujud, berlutut, dan tunduk!
Segala niat membunuh yang mengamuk, pergolakan, dan badai dahsyat seketika mereda dan lenyap tanpa jejak!
Di hadapannya, naga hitam raksasa yang ganas—yang beberapa saat lalu mengamuk hebat dan melancarkan serangan balik putus asa dengan niat membunuh yang meluap-luap—mendapati tubuh besarnya membeku di udara; semua gerakan terhenti seketika, dan aura jahatnya sirna sepenuhnya.
Kilatan merah haus darah di mata naganya lenyap seketika, digantikan oleh ketakutan luar biasa yang merasuk hingga ke jiwa dan keputusasaan yang mencengkam tulang; darah naganya bergejolak hebat dan mengalir balik saat tubuhnya gemetar hebat, sementara esensi naganya jatuh dalam kekacauan total, berada di ambang kehancuran.
Gedebuk..
Tubuh besar naga hitam itu—yang beratnya tak terhitung ton—jatuh tak terkendali ke dasar jurang air hitam, lalu bersujud di atas dasarnya.
Kepala naga yang sangat besar itu menempel erat pada dasar berbatu yang sedingin es; sisik-sisiknya gemetar dan melonggar, saling beradu dan bergemeretak. Ia bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk sekadar mengangkat kepala dan menatap wujud asli Naga Emas itu, apalagi memikirkan perlawanan sedikit pun!
Sang Leluhur Sepuluh Ribu Naga—penindasan yang bersumber dari akar terdalam!
Jurang pemisah yang sangat lebar dalam hierarki garis keturunan!
Sebagai naga hitam varian kuno biasa, saat berhadapan dengan wujud asli Naga Emas Agung, ia ibarat semut yang menatap cakrawala, sebutir debu di hadapan matahari dan bulan, atau manusia fana yang menghadap dewa abadi—sebuah kesenjangan yang tak mungkin dilampaui atau dijembatani!
Segala keganasan, kebuasan, niat mematikan, dan keengganan untuk menyerah yang dimilikinya lenyap seketika, menyisakan hanya ketakutan yang menusuk tulang dan ketundukan mutlak.
Jurang gelap yang tak berujung itu jatuh dalam keheningan yang begitu dalam hingga suara jarum jatuh pun bisa terdengar. Hanya tekanan luar biasa nan agung dari Naga Emas Tertinggi yang menyelimuti seluruh alam, menekan segala ilusi dan kekacauan.
Dave berdiri di tengah pancaran cahaya ilahi keemasan yang memenuhi langit; wujud asli Naga Emas Tertinggi melayang di belakangnya, melimpahinya dengan kekuatan naga yang tak tertandingi. Tatapannya dingin dan tak terusik saat ia memandang rendah naga kuno yang ganas itu—yang kini meringkuk dan gemetar di tanah. Suaranya menggema, dingin, agung, dan mutlak tanpa bantahan:
"Sekarang—tunduk, atau mati?"
Tubuh raksasa naga hitam itu berguncang hebat; kesombongan ganas yang telah dipupuknya selama berabad-abad hancur lebur, menyisakan ketakutan yang merasuk hingga ke tulang dan sikap tunduk yang hina.
Ia akhirnya menyadari kenyataan: kultivator muda di hadapannya ini bukanlah praktisi biasa dari berbagai alam. Dia adalah Penguasa Segala Naga, Sosok Tertinggi dari Ras Naga, sumber tunggal Dao Naga di seluruh penjuru langit, dan Leluhur Agung dari garis keturunan naga kuno!
Namun, di tengah ketakutan dan kehinaan yang luar biasa, ia masih berpegang erat pada sisa hidupnya. Sambil mengertakkan gigi, ia memohon dengan suara parau karena gemetar dan penuh kepasrahan: "Yang Mulia Agung! Aku mengakui kesalahanku! Aku bersedia tunduk sepenuhnya dan bersumpah setia selamanya!"
"Aku bersedia menjadi tungganganmu, menjaga Kolam Naga untuk selamanya, dan mematuhi setiap perintahmu! Aku hanya memohon agar kau mengampuni nyawaku yang hina ini!"
"Jantung Naga Jahat adalah sumber Dao dan fondasi hidup ku; jika jantung itu dicabut, itu berarti kematian. Aku memohon padamu, Yang Mulia Agung, untuk menunjukkan belas kasih!"
"Aku tidak butuh tunggangan, ataupun penjaga untuk tempat ini."
Nada bicara Dave datar dan tenang, tanpa emosi sedikit pun. "Kau telah menguasai zona terlarang ini, menghancurkan alam liar, membantai makhluk yang tak terhitung jumlahnya, dan melakukan kekejaman selama berabad-abad. Dosamu berat, beban karmamu pun besar; kau pantas mati ribuan kali—tidak ada pengampunan bagimu."
Begitu kata-kata itu terucap, mata Naga Emas Agung yang melayang di kehampaan menyipit tajam. Hantaman kekuatan naga emas yang murni, maha besar, dan begitu mendominasi hingga terasa menindas, menghantam turun disertai raungan yang menggelegar!
Krak...
Kraaak...
Tak terhitung banyaknya retakan halus yang mengeluarkan darah seketika muncul di sekujur tubuh naga hitam raksasa yang tangguh itu; sisik-sisik keras terlepas lembar demi lembar, berhamburan di udara bagaikan hujan.
Darah naga yang panas mendidih menyembur keluar, mewarnai Jurang Air Hitam menjadi merah pekat, sementara esensi naga di dalam tubuhnya hancur dengan cepat dan jiwanya sendiri berada di ambang kehancuran total.
Diliputi rasa sakit yang luar biasa dan keputusasaan yang menusuk hingga ke tulang, naga hitam itu menyerah tanpa perlawanan; ia bersujud dan meratap memohon belas kasihan dengan putus asa: "Yang Agung, ampuni nyawaku! Aku memiliki rahasia tingkat tinggi untuk dilaporkan!"
"Hal ini menyangkut kelangsungan hidup Klan Naga di seluruh penjuru Surga! Ini menyangkut tanah leluhur di Surga ke-24! Ini menyangkut dosa-dosa keji Klan Dewa! Masalah ini melibatkan rencana besar yang melintasi zaman—aku memohon agar Yang Mulia Agung bersedia mengabulkan permohonan ku..!"
Tatapan Dave terhenti sejenak, menyiratkan makna mendalam di matanya, sebelum ia berkata dengan tenang: "Katakanlah."
Sambil terengah-engah dan menahan siksaan hebat—dengan darah naga yang terus menetes dan mengotori air hitam itu—naga hitam tersebut tidak berani menyembunyikan atau mengubah satu detail pun. Ia dengan cepat membeberkan rahasia mengejutkan yang telah lama terkubur di lubuk hatinya selama berabad-abad: "Yang Mulia Agung! Ambisi Klan Dewa tidak pernah terbatas hanya pada Surga ke-23!"
"Mereka tidak hanya menguasai sumber daya mineral nuklir di sini dan menjarah energi nuklir langit; mereka mengobarkan perang melintasi berbagai alam, merajalela di seluruh kosmos, dan menjarah esensi dari berbagai ras!"
"Di Surga ke-24 terletak tanah leluhur utama Klan Naga kuno—sebuah tempat suci di mana tak terhitung banyaknya naga telah tinggal dan berkembang biak selama turun-temurun, serta menjadi titik pertemuan bagi sumber primordial Dao Naga di seluruh penjuru Surga!"
"Ribuan tahun yang lalu, Klan Dewa dari Langit ke-24 mengerahkan sebagian besar pasukan elit mereka untuk melancarkan invasi besar-besaran ke tanah leluhur Klan Naga!"
"Dengan menggunakan teknik terlarang tingkat tinggi, kekuatan nuklir yang mendominasi, dan formasi raksasa yang mampu mengurung langit, mereka menaklukkan seluruh wilayah leluhur Klan Naga..."
"Itu menyegel urat nadi naga leluhur dan memutus sumber utama Dao Naga itu sendiri!"
"Tak terhitung banyaknya anggota Klan Naga di tanah leluhur—mulai dari Naga Sejati berdarah murni, Raja Naga varian, hingga anak-anak naga yang baru menetas—telah dibelenggu oleh Klan Dewa dan jiwa mereka dipenjara menggunakan teknik terlarang. Mereka menderita penindasan kejam dan diperbudak dari generasi ke generasi!"
"Siang dan malam, Klan Dewa menguras esensi vital para naga, menjarah sari pati darah mereka, merampas sumber Dao Naga, dan melucuti takdir klan mereka—semuanya demi memupuk inti Dao mereka sendiri dengan kekuatan naga yang agung serta memperkokoh fondasi klan mereka!"
"Hingga saat ini, seluruh tanah leluhur Klan Naga di Surga ke-24 telah berubah menjadi alam penuh penderitaan; ratusan juta kaum naga telah menjadi budak hina bagi Klan Dewa. Mereka mengabdi sebagai budak turun-temurun, dieksploitasi tanpa henti tanpa harapan untuk bangkit atau bebas, serta harus menanggung siksaan luar biasa setiap harinya—kulit mereka dikuliti, esensi mereka dikuras, Dao mereka dirampas, dan takdir mereka dicuri!"
"Aku adalah sisa-sisa dari Klan Naga leluhur—satu-satunya yang berhasil mematahkan segel, jatuh ke Surga ke-23, dan meloloskan diri dari siksaan perbudakan di tengah perang yang berkecamuk selama seribu tahun!"
"Selama bertahun-tahun, aku bertahan hidup dengan susah payah di 'Kolam Naga Ganas' yang berbahaya, sembari menyembunyikan nama dan identitasku. Aku tidak berani muncul, kembali ke kampung halaman leluhur, ataupun memancing kemarahan Klan Dewa. Aku hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat kaumku menderita akibat penyiksaan dan perbudakan, sembari didera rasa bersalah dan ketidakberdayaan yang menyesakkan!"
Setiap kata yang terucap seolah meneteskan darah dan menghantam hati dengan kejutan; setiap kalimat sarat akan duka, amarah, dan penghinaan yang tak bertepi, menyingkap kejahatan keji Klan Dewa Liuchen—kekuasaan mereka yang membentang melintasi berbagai surga, perbudakan terhadap berbagai ras, serta kekejaman mereka yang tak termaafkan!
Kilatan tajam yang menusuk tiba-tiba memancar dari kedalaman mata Dave, dan seketika itu pula kebenaran menjadi jelas baginya.
Jadi, ambisi Klan Dewa ternyata tidak pernah terbatas hanya pada sumber daya di berbagai Surga saja
Mereka mencuri Dao dan menentang Langit, mengubah hukum dasar alam semesta, merebut kendali atas energi inti luar angkasa, mengobarkan perang melintasi kosmos, serta memperbudak berbagai ras sesuka hati.
Cara-cara mereka kejam, dosa-dosa mereka mengerikan, dan pelanggaran mereka tak terampuni!
Rahasia kuno yang tersembunyi mengenai perbudakan Klan Naga dari Surga ke-24 akhirnya terungkap dan terpampang jelas di hadapan dunia!
"Aku telah membongkar semua rahasia! Tidak ada yang aku sembunyikan! Aku memohon belas kasih Yang Mulia Agung—tolong ampuni nyawaku yang hina ini!" Naga Hitam itu bersujud di tanah, meratap penuh kehinaan dan membenturkan kepalanya ke tanah dengan putus asa.
"Kau mengaku telah lolos dari cengkeraman Klan Dewa di Surga ke-24 dan jatuh ke Surga ke-23? Apa kau benar-benar mengira aku akan memercayai hal itu?"
Dave melepaskan aura dahsyat Naga Emas; Naga Hitam itu memuntahkan darah, merasa seolah-olah seluruh tubuhnya sedang hangus dilalap kobaran api yang mengamuk.
"Yang Mulia Agung, ampuni aku! Aku... aku tidak sekadar melarikan diri; memang aku mengkhianati Klan Naga dan membantu Klan Dewa. Hanya dengan cara itulah aku bisa kabur dari Surga ke-24."
Tak lagi sanggup menahan tekanan tersebut, Naga Hitam itu pun mengakui kebenarannya.
Dave menatap naga hitam itu dengan dingin. "Kau telah melakukan kejahatan selama berabad-abad dan mengkhianati kaummu sendiri; mengambil jantungmu saja sudah merupakan hukuman yang ringan bagimu."
Saat ia berbicara, ujung jarinya bergerak sedikit, dan kekuatan primordial Naga Emas Luo Agung—yang sebelumnya melayang di belakangnya—berkumpul secara diam-diam.
Sebuah pancaran kekuatan naga emas, yang telah dipadatkan hingga tingkat kemurnian tertinggi, seketika menembus lapisan air hitam dan menghantam dengan presisi tepat ke inti dada naga hitam itu!
Creezz...
Presisi, cepat, dan tak terbendung!
Kekuatan naga emas itu seketika membelah tubuh naga hitam tersebut. Tanpa merusak jaringan tubuh yang tidak perlu sedikit pun, kekuatan itu dengan bersih mencabut 'Jantung Naga Jahat' dari tengah dadanya—sebuah organ berwarna merah gelap tembus pandang, berdenyut hangat, dan dipenuhi pusaran kekuatan kuno yang dahsyat serta mampu memurnikan segala kejahatan.
Setelah kehilangan jantung naga primordialnya, tubuh raksasa naga hitam itu seketika terkulai lemas di dalam air hitam. Keganasannya yang luar biasa lenyap sepenuhnya, vitalitasnya terkuras habis dengan cepat, dan jiwanya mulai hancur lebur.
Naga hitam yang ganas ini—yang telah melingkar di Kolam Naga Jahat selama berabad-abad, menebar teror di seluruh alam liar, dan membantai makhluk yang tak terhitung jumlahnya—akhirnya tewas dan lenyap dari dunia.
Dave mengangkat tangannya dan sedikit merapatkan jari-jarinya, menahan Jantung Naga Jahat itu di ujung jarinya; jantung itu terasa hangat dan berdenyut, memancarkan aura kuno yang mendalam serta mengandung kekuatan agung yang mampu menyucikan Dao.
Cahaya keemasan perlahan memudar. Wujud asli naga emas itu—yang membentang sepanjang miliaran zhang—melepaskan pancaran ilahinya dan kembali ke sumber primordialnya. Ia kembali ke wujud seorang pemuda berjubah abu-abu sederhana, dengan sikap tenang dan pembawaan lembut, persis seperti sebelumnya.
Ia menatap Jantung Naga Jahat di telapak tangannya dengan tatapan mata yang dalam dan menerawang, sementara rahasia Klan Naga—yang mencakup Surga ke24—yang sempat diungkapkan oleh naga hitam itu terus bergema tanpa henti di benaknya.
Surga ke-24, tanah leluhur Klan Naga, miliaran kerabat yang diperbudak selama turun-temurun, serta Klan Dewa yang merampas Dao.
Semua itu merupakan kejahatan keji yang dilakukan oleh Klan Dewa—kejahatan yang terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu—dan sebuah dendam darah yang tak kunjung usai di seluruh penjuru surga selama berabad-abad lamanya!
Selama Perang Besar Dewa dan Iblis—konflik di mana mereka melawan invasi dari Alam Ilahi—Klan Naga dari Alam Surgawi juga telah menanggung kerugian yang sangat besar.
Sepanjang perjalanannya, Dave belum pernah mendengar kabar mengenai tanah leluhur Klan Naga.
Kini setelah tiba di Surga ke-23, ia akhirnya mendapatkan kabar tentang Klan Naga. Keberadaan tanah leluhur mereka membuktikan bahwa, meskipun klan tersebut menderita kerugian besar dalam Perang Dewa dan Iblis di masa lampau, mereka tidak sampai punah.
Namun, Klan Dewa sungguh menjijikkan; sebagai praktisi jalan kultivasi yang menyimpang dan pengkhianat Alam Surgawi, entah bagaimana mereka berhasil tumbuh menjadi kekuatan dominan di alam tersebut dan berani memperbudak ras lain sesuka hati.
"Brengsek..."
"Begitu aku menstabilkan celah di Alam Surgawi itu, aku akan membinasakan Klan Dewa, lapis demi lapis."
Kilatan tajam memancar dari mata Dave; ia berbalik dan melangkah satu kali.
Sosoknya seketika melintasi jurang sedalam sepuluh ribu zhang dan menyeberangi padang tandus sejauh seratus li. Bergerak menembus lapisan ruang dengan kelincahan tanpa jejak, ia kembali menelusuri jalurnya dalam sekejap mata dan mendarat dengan mantap di dalam gua batu hitam itu.
.......
Di bagian terdalam aula batu hitam, penghalang es masih berdiri kokoh, memblokir segala suara dari dunia luar.
Agnes berdiri diam di hadapan penghalang tersebut; pembawaannya anggun dan memancarkan aura surgawi, sementara pandangannya tertuju ke arah barat padang tandus yang jauh.
Rasa khawatir yang mendalam membayangi wajahnya yang tenang dan dingin. Pikirannya tegang; ia terus waspada terhadap sekelilingnya, tidak berani lengah sedikit pun.
Di sampingnya, Segarra Songxia tampak jauh lebih gelisah dan resah; ia berulang kali melirik ke arah pintu keluar gua, dengan wajah tua yang menyiratkan kecemasan dan ketakutan mendalam. Dia terus bergumam pelan, "Kolam Naga Jahat itu menyimpan bahaya yang tak terbayangkan; kekuatan Naga Hitam tak tertandingi dan seolah tak terbendung. Semoga Yang Mulia senantiasa selamat dan kembali dengan utuh..."
Baginya, Kolam Naga Jahat adalah jebakan maut yang mustahil bisa diloloskan tanpa cedera. Perjalanan seorang diri Dave ke sana penuh dengan bahaya mematikan—situasi dengan peluang selamat yang sangat tipis—membuat Shuo diliputi rasa bersalah dan kecemasan mendalam.
Saat mereka berdua tengah menanti dalam kegelisahan...
Sesosok tubuh yang memancarkan ketenangan dan ketenteraman melangkah keluar dari kehampaan, mendarat tanpa suara dan dengan mantap di hadapan keduanya. Ia berdiri tegak, jubahnya tampak bersih tanpa cela, dan kehadirannya sama sekali tidak tercemar oleh sisa energi jahat ataupun debu.
“Dave!”
Cahaya lembut dan hangat seketika menerangi mata Agnes yang dingin dan jernih; kekhawatirannya lenyap dalam sekejap, kerutan di dahinya menghilang saat kehangatan membanjiri hatinya.
Segarra Songxia mendongak dengan sentakan, mengunci pandangannya pada Dave. Ia seketika terpaku, pikirannya terguncang hebat, dan tubuhnya membeku kaku!
Ia telah hidup selama berabad-abad, melintasi berbagai alam, dan sangat memahami setiap bahaya di Tanah Gersang Bintang Jatuh layaknya telapak tangannya sendiri.
Ia mengerti betapa mengerikannya Kolam Naga Jahat dan betapa dahsyat keganasan Naga Hitam itu—seekor makhluk buas di Tingkat Ketujuh Alam Dewa Emas Agung. Ia tahu tempat itu adalah jebakan maut yang bahkan bisa merenggut nyawa sosok-sosok perkasa dari zaman kuno dengan mudah!
Namun, Dave pergi ke sana seorang diri dan kembali dalam waktu yang sangat singkat—tidak hanya selamat tanpa cedera, tetapi juga tampak bersih sempurna, bebas dari sisa aura jahat, serta terlihat sangat tenang dan santai.
Kemampuan bertarung yang melampaui batas akal sehat dan kedalaman fondasi kultivasi yang luar biasa itu benar-benar meruntuhkan segala pemahamannya selama ini, membuatnya gemetar karena rasa takjub dan hormat yang mendalam!
Dave tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia mengangkat ujung jarinya, dan Jantung Naga Jahat—berwarna merah gelap tembus pandang, memancarkan aura kuno yang berat serta mengandung kekuatan primordial untuk memurnikan Dao—melayang diam di atas jarinya. Ia berkata dengan tenang:
“Aku telah mendapatkannya.”
“Songxia tua, duduklah bersila dan segera atur napas mu. Konsumsilah Jantung Naga itu dan manfaatkan kekuatan pemurnian primordialnya untuk melenyapkan jejak energi nuklir—yang telah menumpuk selama ratusan juta tahun—dari akar fondasi Dao-mu. Sempurnakan fondasi ortodoksmu dan bentuk kembali Dao Agung yang tanpa cela.”
Tubuh Segarra Songxia bergetar hebat; rasa terkejutnya berubah menjadi rasa hormat dan syukur yang mendalam. Ia segera berlutut dengan khidmat, lalu menerima Jantung Naga Jahat yang melayang itu dengan kedua tangan penuh rasa hormat.
Tubuhnya yang renta sedikit gemetar, dan suaranya tercekat oleh emosi yang penuh ketulusan: "Aku berterima kasih kepada Yang Maha Agung atas anugerah kelahiran kembali ini! Hutang budi ini tak terhingga—mustahil untuk dibalas meski dalam seribu masa kehidupan! Aku bersumpah untuk mengikutimu hingga ajal menjemput; aku takkan pernah mengkhianatimu, ataupun gentar menghadapi bahaya apa pun, bahkan jika nyawaku harus melayang berkali-kali lipat!"
Tanpa keraguan sedikit pun, ia segera duduk bersila, menenangkan jiwanya, dan mengosongkan pikiran dari segala gangguan. Ia membuka mulutnya lalu menelan bulat-bulat Jantung Naga Jahat yang hangat dan murni itu.
Nguuung....
Sebuah kekuatan pemurnian primordial yang kaya, luas, mendominasi, dan murni seketika meledak dari dalam perutnya; kekuatan itu menyapu seluruh anggota tubuh dan tulangnya, meresap ke dalam meridian serta fondasi Dao-nya, hingga menembus ke sumber jiwanya yang terdalam!
Kekuatan yang sangat murni ini—yang berasal dari kemampuan Jantung Naga untuk memurnikan Dao—bekerja layaknya bilah pedang tertajam dari Dao Agung dan pancaran cahaya primordial yang paling suci.
Kekuatan itu mulai mengikis, menghancurkan, meluruhkan, dan melenyapkan dengan dahsyat setiap jejak tanda Dao Nuklir yang tertanam jauh di lubuk fondasi Dao serta inti jiwanya.
Tanda-tanda Dao Nuklir yang telah mengakar kuat—yang selama berabad-abad menyatu dengan tulang dan jiwa yang telah ditempa Dao—kini hancur lapis demi lapis, remuk, dan lenyap sepenuhnya di bawah kekuatan pemurnian agung dari jantung naga primordial tersebut; tak ada satu pun sisa yang tertinggal!
Meridian spiritual ortodoksnya—yang sebelumnya terhambat, tidak utuh, dan gagal mencapai kesempurnaan—seketika terbuka lebar, membentuk siklus yang sempurna, tanpa cela, dan tiada henti di seluruh tubuhnya!
Segala belenggu hancur berkeping-keping, setiap ikatan terurai; fondasi Dao-nya menjadi sempurna, dan jalannya menuju Dao Agung pun menjadi tanpa cela!
Qi Nuklir yang pekat, hitam kelam, dan keruh lenyap tanpa bekas, digantikan oleh gelombang energi spiritual ortodoks yang jernih, murni, dan abadi; energi itu membumbung tinggi ke angkasa, berubah menjadi pancaran cahaya putih bersih yang luas dan cemerlang.
Cahaya itu menyelimuti seluruh Aula Batu Hitam lapis demi lapis, sementara aura energi Dao yang murni dan mendalam meresap ke sekeliling, bertahan kuat dalam waktu yang lama.
Setelah beberapa saat berlalu, Segarra Songxia perlahan membuka matanya. Hilang sudah segala suram, keletihan, dan kelesuan akibat usia tua; Yang tersisa hanyalah tatapan mata yang jernih bagaikan kristal serta pancaran aura spiritual yang murni dan tak ternoda.
Aura pembaruan memancar darinya, membawa resonansi Dao yang mendalam dan abadi; tubuhnya telah sepenuhnya dibersihkan dari sisa-sisa Dao Nuklir luar angkasa. Setelah berhasil melepaskan diri dari belenggu dan dampak buruk energi nuklir sekunder itu, ia benar-benar telah bertransformasi menjadi seorang kultivator yang sempurna, paripurna, dan beraliran ortodoks di dunia Alam Sepuluh Ribu!
Ia perlahan bangkit dan membungkuk dengan sikap khidmat dan penuh hormat. Matanya memancarkan rasa takzim yang mendalam serta keyakinan yang teguh saat ia berucap dengan nada yang penuh tekad: "Anugerah kelahiran kembali ini setara dengan kasih sayang orang tua. Mulai hari ini, aku akan menjadikan Anda sebagai bintang penuntun dan mengabdi sebagai anjing setia Anda."
"Lupakan saja soal 'orang tua' itu. Tapi aku ingin bertanya: sebutan apa yang digunakan oleh para kultivator dari Pulau Changguangqu?" tanya Dave.
"Sebutan?" Segarra Songxia merenung sejenak sebelum matanya berbinar. "Kami selalu berkultivasi menggunakan energi nuklir, yang membuat wujud kami tidak sepenuhnya manusia namun juga tidak sepenuhnya menyerupai hantu."
"Para kultivator dari alam lain di seluruh Alam Sepuluh Ribu menjuluki kami 'Iblis Jepang'!"
" What... Iblis Jepang?” Dave tersenyum saat mendengar istilah itu.
Segarra Songxia menghela napas. “Hufft... Para kultivator di wilayah Pulau Changguangqu kami semuanya telah kehilangan akal sehat; kami membakar, membunuh, dan menjarah di mana-mana. Disebut sebagai 'Iblis Jepang' bukanlah hal yang tidak adil.”
“Aku tidak ingin dikaitkan dengan mereka, ataupun tidak ingin dicap sebagai 'Iblis Jepang'.”
Dave berbicara dengan tenang, memutus alur pikiran Segarra Songxia yang suram. “ Okey... Mulai hari ini, kau akan mengultivasi Dao Agung energi spiritual yang ortodoks, melepaskan gelar buruk yang terkait dengan Dao Inti, dan membersihkan noda dalam hidupmu. Tidak akan ada seorang pun yang berani menghinamu dengan sebutan 'Iblis Jepang' lagi.”
Meski diucapkan dengan lembut, kata-katanya bagaikan jangkar penstabil yang tertanam kuat di lubuk hati Segarra Songxia, menyapu bersih rasa hina dan muram yang telah menumpuk selama seribu tahun.
Segarra Songxia sangat terguncang; ia kembali membungkuk dalam-dalam, nadanya penuh ketulusan yang mendalam: “Terima kasih, Yang Mulia, atas perlindungan Anda!”
“Mari kita kesampingkan basa-basi untuk saat ini.”
Dave mengalihkan pembicaraan ke topik utama, tatapannya jernih dan tajam. “Katakan padaku: bagaimana cara menempa Segel Inti Surgawi..?”
Ini adalah masalah paling krusial saat ini.
Segel Inti Surgawi sangatlah vital—hal ini menyangkut keseimbangan hukum langit dan bumi, stabilisasi celah-celah dimensi, serta strategi menyeluruh untuk konfrontasi masa depan melawan Klan Dewa. Tidak ada ruang untuk penundaan ataupun kelalaian.
Jika celah-celah itu tidak dapat distabilkan sementara Klan Dewa bersekongkol dengan kekuatan dari luar wilayah ini, maka Alam Surgawi—yang mencakup seluruh dua puluh dua tingkat langit—harus senantiasa waspada terhadap serangan.
Mendengar ini, Segarra Songxia segera menata dirinya, memasang sikap khidmat dan penuh konsentrasi—sama sekali tidak berani bersikap asal-asalan atau ceroboh—lalu menjelaskan secara rinci: "Yang Mulia, 'Segel Inti Surgawi' adalah artefak agung yang mampu menyeimbangkan Dao Inti, meredam energi keruh, serta menstabilkan celah antara langit dan bumi."
"Proses penempaannya sangatlah ketat; bahan-bahan biasa sama sekali tidak bisa dijadikan pengganti."
"Pecahan inti yang digunakan para kultivator biasa dalam latihan sehari-hari hanyalah sisa-sisa berkualitas rendah—yang tersebar di permukaan tanah tandus, penuh dengan kotoran, dan tercemar oleh aura jahat. Pecahan-pecahan itu sarat akan energi jahat yang keruh, racun, serta sisa resonansi Dao, sehingga menghasilkan fondasi kultivasi yang kacau dan tidak murni."
"Pecahan berkualitas rendah semacam itu nyaris tidak mampu menopang kultivasi praktisi tingkat rendah; seiring waktu, hal itu justru memperparah pengikisan fondasi Dao seseorang dan memicu serangan balik energi inti. Benda-benda itu sama sekali tidak layak digunakan untuk menempa artefak agung semacam itu."
"Untuk menempa Segel Inti Surgawi, hanya satu jenis bahan inti yang memadai: pecahan inti primordial yang murni."
"Pecahan-pecahan ini tidak tercemar oleh kekeruhan langit dan bumi ataupun polusi energi jahat dunia fana. Secara alami, benda ini murni dan memiliki esensi yang terkonsentrasi—bebas dari kotoran, racun, maupun kekuatan tidak stabil yang dapat memicu serangan balik energi."
"Benda ini mewakili esensi paling mendasar dan murni dari Dao Inti, serta menjadi satu-satunya bahan inti yang mampu mempertahankan wujud Segel tersebut, menstabilkan resonansi Dao-nya, dan menanggung beban hukum-hukum yang mengaturnya."
Dave mengangguk pelan, memahami poin utamanya sepenuhnya: "Dengan kata lain, pecahan biasa berkualitas rendah tidak ada gunanya; hanya pecahan inti primordial yang murni yang bisa digunakan untuk menempa Segel itu?"
"Benar sekali!" Segarra Songxia mengangguk mantap, ekspresinya tampak semakin serius. "Namun, pecahan inti primordial murni ini—tidak pernah meninggalkan batas wilayahnya, ataupun tersebar ke dunia fana yang biasa."
"Seluruh wilayah yang menyimpan pecahan inti ini—yang membentang di Surga Kedua Puluh Tiga—dimonopoli dan dikendalikan secara ketat oleh Klan Dewa Liuchen; mereka tidak mengizinkan pihak luar untuk menyentuh sejengkal pun tanah tersebut."
"Klan Dewa telah menetapkan wilayah yang kaya akan pecahan inti murni ini sebagai kekuasaan eksklusif mereka, membaginya menjadi sembilan zona utama. Mereka menempatkan prajurit elit untuk menjaga setiap lapisan, memasang formasi agung penyegel langit, formasi ilahi pengunci alam, serta jebakan mematikan yang dirancang untuk memusnahkan penyusup—memastikan tidak ada kultivator asing yang bisa mendekat meski hanya setengah langkah."
"Kultivator lokal maupun makhluk dari luar alam yang berani memasuki radius seratus li dari wilayah ini akan langsung dibunuh oleh penjaga Klan Dewa—tanpa pertanyaan ataupun pengadilan. Mereka dimusnahkan sepenuhnya, tanpa menyisakan tulang maupun jiwa; tidak ada pengecualian terhadap aturan ini selama sepuluh ribu tahun."
"Pecahan inti murni itu adalah sumber daya kultivasi eksklusif Klan Dewa sekaligus fondasi kekuasaan mereka atas langit. Mereka mengandalkan energi inti murni tersebut untuk meningkatkan kultivasi, menempa esensi ilahi, dan memperkokoh otoritas ilahi mereka; mereka melarang keras pihak luar rendahan seperti kita untuk sekadar menyentuh sedikit saja bagian darinya."
Saat berbicara, alis Segarra Songxia berkerut, mencerminkan campuran rasa takut dan ketidakberdayaan, dengan nada suara yang berat. "Yang Mulia, saya berbicara bukan sekadar untuk menakut-nakuti Anda. Kendali atas wilayah Klan Dewa ini bersifat mutlak dan sangat kejam; setiap sudutnya dipenuhi dengan jebakan mematikan."
"Para penjaganya adalah kaum elit dari garis keturunan langsung Klan Dewa, dengan tingkatan terendah berada pada alam Dewa Emas Agung Peringkat Keempat. Terlebih lagi, setiap wilayah diawasi oleh seorang Jenderal Dewa Peringkat Keenam atau Ketujuh."
"Terlebih lagi, medan tersebut diperkuat oleh rune ilahi kuno milik Klan Dewa; rune-rune itu tak tertandingi dan mampu membunuh bahkan mereka yang berada di tingkat kultivasi lebih tinggi."
"Selama masa yang tak terhitung jumlahnya, banyak ahli tingkat atas, kultivator liar veteran, dan pendekar yang putus asa mencoba menerobos wilayah terlarang itu demi mencuri pecahan inti murni. Namun, tanpa kecuali, mereka menemui ajal, tewas di dalam formasi mematikan wilayah tersebut."
"Mereka bahkan tidak menimbulkan riak sedikit pun. Mendapatkan pecahan inti murni itu lebih sulit daripada naik ke surga—sebuah tugas yang hampir mustahil!"
Mendengar penjelasan rinci ini, Dave tidak menunjukkan tanda-tanda keseriusan ataupun kekhawatiran; sebaliknya, senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya, dan sorot mata yang penuh kesombongan serta sikap meremehkan—seolah memandang rendah langit itu sendiri—terpancar jelas.
Bagi orang lain, wilayah terlarang Klan Dewa ini adalah tempat yang harus ditakuti dan dihindari dengan segala cara; namun di matanya, tempat itu hanyalah sebuah kandang untuk menimbun sumber daya—sebuah jebakan tempat orang-orang bodoh melangkah menuju kematian mereka sendiri.
"Apakah masalah sepele seperti ini benar-benar layak memicu kepanikan berulang kali?"
Dave berbicara dengan nada ringan, namun kata-katanya memancarkan keyakinan mutlak yang mampu menghancurkan segala perlawanan: "Apakah segel wilayah milik Klan Dewa Liuchen yang remeh itu dan para penjaga mereka yang tak lebih dari sekadar semut, berpikir mereka bisa menghalangi jalanku?"
Segarra Songxia tiba-tiba mendongak, wajahnya dipenuhi rasa takjub. Ia mencoba mencegah Dave, khawatir pria itu meremehkan bahaya yang ada: "Yang Mulia! Klan Dewa memiliki warisan yang mendalam dan menerapkan kendali yang sangat ketat."
"Sembilan wilayah terlarang mereka saling menopang dalam formasi strategis; jika satu wilayah diserang, wilayah lainnya akan segera datang memberikan bala bantuan. Tindakan terhadap satu wilayah akan memicu reaksi dari semuanya—Anda tidak boleh meremehkan mereka!"
" Oh... Meremehkan mereka?"
Tatapan Dave seketika menajam. Aura samar kekuatan naga memancar dari tubuhnya, membuat ruang di sekitarnya sedikit bergetar: "Kultivasiku telah mencapai alam Dewa Emas Luo Agung; aku diberkahi dengan Sumber Kekacauan Primordial dan dilindungi oleh garis keturunan Naga Emas."
"Jangankan hanya beberapa wilayah kekuasaan ilahi yang dijaga oleh sekelompok semut, bahkan jika suasana hatiku sedikit kurang baik hari ini, aku bisa dengan mudah mencabut seluruh Klan Dewa Liuchen dari Surga Kedua Puluh Tiga dan membantai seluruh istana dewanya."
Meskipun kata-kata itu terdengar sangat berani, sama sekali tidak ada unsur kesombongan kosong di dalamnya; sebaliknya, ucapan itu didasari oleh keyakinan akan kekuatan mutlak dan keagungan tertinggi dari Dao Agung.
Segarra Songxia gemetar hebat, pupil matanya mengecil tajam hingga ia tak mampu berkata-kata lagi.
Meski telah hidup selama berabad-abad, ia belum pernah menjumpai seorang kultivator yang begitu mendominasi dan memancarkan aura yang begitu menggetarkan jiwa—seseorang yang bahkan memandang rendah Klan Dewa itu sendiri.
Segala ras di seluruh penjuru langit begitu takut pada Klan Dewa, menganggap mereka sebagai perwujudan Takdir itu sendiri dan memuja mereka layaknya dewa; namun, Dave justru menganggap Klan Dewa yang agung itu tak lebih dari sehelai rumput dan Ibu Kota Dewa mereka hanyalah debu belaka. Setiap kata yang ia ucapkan memancarkan keagungan yang mampu meremukkan langit.
Berdiri berjaga di dekatnya, tatapan mata Agnes yang tenang dan jernih memancarkan keyakinan serta kepastian yang mutlak.
Karena sangat memahami bahwa kekuatan sejati Dave tak terukur dalamnya, ia tahu bahwa kata-kata pria itu bukanlah bualan semata, melainkan cerminan nyata dari kekuatannya yang luar biasa dahsyat.
"Bersiaplah. Segera berangkat..."
Dave menarik kembali auranya, dan ekspresinya kembali tenang serta datar. Ia menoleh ke arah Agnes lalu berujar dengan lembut, "Ikutlah denganku ke wilayah terlarang Klan Dewa yang disegel untuk mengambil pecahan intinya. Jika ada yang berani menghalangi jalan kita, bunuh saja mereka."
"Oke."
Agnes mengangguk pelan; dengan pembawaan yang anggun dan memancarkan aura surgawi, ia berdiri tenang di sisi Dave, siap untuk berangkat kapan saja.
Segarra Songxia dengan tergesa-gesa mengeluarkan sebuah peta kuno yang sudah usang dari balik jubahnya.
Peta itu dipenuhi dengan tanda-tanda wilayah di Tanah Gersang Bintang Jatuh, zona terlarang yang berbahaya, serta kawasan pasar gelap. Yang paling mencolok adalah sembilan wilayah tersegel yang menyimpan urat inti Klan Dewa—area-area yang ditandai dengan rune ilahi berwarna merah darah yang memancarkan aura dahsyat dan mengintimidasi.
"Yang Mulia, ini adalah peta sebaran sembilan wilayah tersegel di Surga ke-23." Di antara wilayah-wilayah tersebut, Wilayah Tersegel Ketiga di Wilayah Barat memiliki urat inti terkaya dan cadangan pecahan inti primordial terbesar. Selain itu, medan di sana relatif terbuka, sehingga lebih mudah untuk dilintasi."
"Akan tetapi, pasukan pertahanan yang ditempatkan di sana sangat tangguh: wilayah itu dijaga oleh dua Jenderal Dewa tingkat Dewa Emas Agung Peringkat Keenam dan seratus prajurit elite Klan Dewa, yang menerapkan pengamanan super ketat."
Segarra Songxia menunjuk ke arah peta dan melaporkan perinciannya dengan sangat saksama.
"Kalau begitu, kita akan merebut Wilayah Kekuasaan Ketiga di Wilayah Barat terlebih dahulu." Dave berbicara dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun keraguan.
Setelah mengatakan hal itu, ia melangkah maju tanpa berkata apa-apa lagi. Sosoknya yang berbalut jubah abu-abu melesat ke udara; pembawaannya tampak anggun dan melampaui dunia fana, sama sekali bersih dari noda keduniawian.
Agnes mengikuti tepat di belakangnya, jubah birunya berkibar saat ia melangkah di udara. Kedua sosok itu—yang satu berpakaian abu-abu, yang lain biru—seketika menembus kegelapan Zona Terlarang Batu Hitam dan melesat lurus menuju cakrawala Wilayah Barat di Tanah Gersang Bintang Jatuh.
.......
Di Wilayah Barat Tanah Gersang Bintang Jatuh, terbentang wilayah luas sejauh seribu li yang sunyi senyap dan mati—jauh lebih suram dan kelam dibandingkan pusat Pasar Gelap.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dunia ini; udaranya tidak lagi mengandung campuran kacau antara energi spiritual dan radiasi nuklir seperti di tempat lain.
Sebaliknya, udara di sana dipenuhi oleh kekuatan nuklir primordial yang murni, pekat, dan mendominasi. Setiap gumpalan energi merupakan esensi dari sumber aslinya, seratus atau bahkan seribu kali lebih murni daripada serpihan nuklir berkualitas rendah yang ditemukan di permukaan.
Di kejauhan, sebuah penghalang masif—formasi raksasa yang membentang sejauh seratus li—memisahkan langit dan bumi. Simbol-simbol ilahi berwarna emas berkilauan di permukaannya, saling bersilangan membentuk jalinan rumit; rantai-rantai energi memadati ruang hampa, sementara lapisan demi lapisan segel ilahi mengunci seluruh area tersebut.
Ini adalah Wilayah Kekuasaan Urat Nuklir Ketiga di Wilayah Barat, yang dikuasai oleh Klan Dewa.
Di dalam penghalang itu, tanahnya berwarna merah kecokelatan pekat menyerupai darah. Energi primordial terus-menerus memancar dari vena nuklir di bawah tanah, menciptakan kabut tebal kekuatan nuklir yang menyelimuti wilayah kekuasaan tersebut sekaligus memelihara esensi energi nuklir yang tak terbatas.
Permukaan tanah dipenuhi celah-celah ngarai yang terbentuk akibat aliran kekuatan nuklir yang deras selama berabad-abad. Setiap jengkal tanah menyimpan energi nuklir yang murni dan sangat besar, menjadikannya gudang harta karun sumber daya nuklir tingkat atas di semesta ini.
Di keempat penjuru mata angin wilayah kekuasaan itu, berdiri empat pilar ilahi yang menjulang tinggi. Terukir dengan rune kuno Klan Dewa, pilar-pilar itu tanpa henti menyerap kekuatan ilahi dari langit dan bumi untuk menstabilkan penghalang, mendeteksi penyusup, dan memicu formasi mematikan.
Setiap pilar memancarkan tekanan agung yang mampu menghancurkan bahkan seorang kultivator tingkat Dewa Emas Agung—terasa khidmat, mendominasi, dan mencegah siapa pun untuk mendekat.
Para prajurit elit Ras Dewa terus-menerus berjaga di sekeliling perimeter penghalang tersebut. Mengenakan zirah emas berukir rune ilahi dan menggenggam senjata ilahi, mereka memancarkan aura garang yang menciutkan nyali; tatapan mata mereka yang dingin dan acuh tak acuh menyapu sekeliling, siap melenyapkan tanda gangguan apa pun tanpa keraguan.
Saat ini, empat penjaga—yang mengenakan zirah berlapis emas dan membawa tombak ilahi standar—sedang berpatroli di angkasa.
Diliputi kekuatan ilahi yang luar biasa dan aura yang tangguh, masing-masing memiliki basis kultivasi di Tingkat Keempat alam Dewa Emas Agung. Dengan fondasi yang kokoh dan kemampuan bertarung yang mumpuni, mereka adalah kaum elit dari garis keturunan langsung Ras Dewa.
Tatapan dingin mereka menyapu hamparan tanah tandus yang sunyi saat mereka mengulangi tugas patroli yang monoton hari demi hari. Karena telah lama terbiasa dengan dunia di mana semua makhluk hidup gemetar ketakutan dan tidak berani mendekat, mereka menyimpan kesombongan dan sikap meremehkan yang menjadi ciri khas Ras Dewa.
Di mata mereka, para kultivator asli di tanah tandus ini tak lebih dari semut rendahan atau ikan di atas piring saji—makhluk yang hanya pantas bersujud di tanah dan mendongak penuh kekaguman pada keperkasaan Ras Dewa, tanpa memiliki sedikit pun keberanian untuk menerobos wilayah yang disegel itu.
Namun, tepat pada saat berikutnya, dua sosok tiba-tiba muncul di langit pada jarak seratus li. Bergerak dengan ketenangan yang tidak terburu-buru dan sikap acuh tak acuh yang tenang, mereka melaju lurus menuju penghalang wilayah yang disegel tersebut.
Mereka tidak berusaha menyembunyikan aura mereka, tidak mengambil jalan memutar untuk menghindari deteksi, dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Mereka melangkah maju secara terbuka dan berani, seolah-olah sedang berjalan-jalan di halaman belakang rumah sendiri, bukannya di wilayah kekuasaan Ras Dewa.
Mata keempat penjaga itu seketika menajam, dan aura ilahi mereka melonjak hebat. Tombak-tombak mereka berkilau dengan hawa dingin yang menusuk saat mereka mengunci pandangan pada kedua sosok tersebut.
Sebuah bentakan dingin dan penuh wibawa mengguncang cakrawala—terdengar agung, mendominasi, dan sarat akan niat membunuh:
" Dasar bocah tolol... semut lancang! Beraninya kalian menerobos wilayah urat nadi utama Ras Dewa! Berhenti! Jika kalian melangkah maju satu kali lagi, jiwa dan roh kalian akan musnah tak bersisa!"
Suara menggelegar itu, yang membawa kekuatan luar biasa milik Ras Dewa, menekan ruang hampa di sekitarnya dalam upaya mengusir para penyusup kembali melalui otoritas mutlak yang tak terbantahkan.
Di masa lalu, tak terhitung banyaknya kultivator yang hancur lebur—baik raga maupun jiwanya—akibat satu bentakan ilahi ini; mereka biasanya akan lari tunggang-langgang atau berlutut memohon belas kasihan, tanpa berani memberikan perlawanan sedikit pun.
Namun, Dave tidak berhenti; sikapnya tetap tenang dan tatapannya tak terusik—dia bahkan tidak melirik keempat penjaga Klan Dewa yang sedang murka itu.
Pandangannya tertuju tajam pada penghalang keemasan di hadapannya, lalu ia bergumam dengan nada acuh tak acuh, " Kalian menghalangi."
Begitu kata-kata itu terucap, aura pembunuh yang dahsyat pun meledak keluar.
Melihat hal itu, keempat penjaga Klan Dewa menjadi sangat murka, merasa bahwa martabat agung ras mereka telah dilecehkan habis-habisan.
Di wilayah kekuasaan mereka, para kultivator pribumi rendahan itu benar-benar berani menantang kekuatan ilahi dan melanggar larangan—sebuah tindakan penistaan yang belum pernah terjadi sepanjang zaman!
“ Daanncook... bocah keparat... Mencari kematian!”
“Menista Alam Ilahi adalah pelanggaran yang pantas diganjar dengan pemusnahan seluruh klan pelakunya!”
Keempat penjaga itu meraung, suara mereka menggetarkan langit saat mereka melesat bersamaan menembus udara. Tombak ilahi berlapis emas mereka, yang dialiri kekuatan ilahi mahabesar dan kekuatan nuklir yang mendominasi, melepaskan empat pancaran cahaya emas tajam nan menyilaukan yang merobek kehampaan.
Mendekat dari empat arah dengan momentum mengerikan yang mampu menembus gunung dan menghancurkan bumi, mereka menutup segala jalan mundur, berniat melancarkan satu serangan telak untuk melenyapkan sang penyusup.
Di mana pun ujung tombak itu melintas, ruang hampa runtuh berlapis-lapis, dipenuhi jaring retakan yang rapat. Aura kehancuran—perpaduan antara kekuatan nuklir dan kekuatan ilahi—menyebar luas; tekanan yang menghimpit begitu dahsyat hingga mampu menghancurkan kultivator Dewa Emas Agung Tingkat Empat biasa menjadi debu dalam sekejap.
Menghadapi empat serangan ilahi yang mematikan ini, Dave berdiri tak bergeming di tengah kehampaan, postur tubuhnya tegak lurus bagaikan pohon pinus. Jubahnya berkibar tanpa tiupan angin; tidak ada lonjakan energi yang tiba-tiba, tidak ada tanda-tanda serangan yang akan datang—ia tampak tenang dan tak terikat duniawi, layaknya seorang bijak Tao yang tak tercemar oleh debu dunia fana.
Baru ketika keempat pancaran tombak itu mendekat hingga jarak tiga kaki—saat niat membunuh sudah berada tepat di hadapannya—ia perlahan mengangkat tangan kanannya.
Ia menjentikkan ujung jarinya dengan lembut; gerakan itu halus dan tanpa terburu-buru, ibarat menepis debu atau menyingkap awan yang melayang—terlihat sangat santai.
Nguuung....
Seberkas cahaya kekacauan primordial berwarna kelabu-ungu muncul secara diam-diam. Tidak ada raungan yang mengguncang bumi, tidak ada kilauan cahaya ilahi yang menyilaukan; cahaya itu lembut dan halus, tampak seolah tak memiliki kekuatan sama sekali.
Namun, begitu berkas cahaya yang tampak sepele itu menyentuh keempat pancaran tombak emas tersebut, kesenjangan di antara keduanya langsung terlihat nyata—itu adalah dominasi mutlak dari esensi fundamental!
Kekuatan ilahi yang mendominasi milik ras Dewa, ketajaman tiada tara dari tombak-tombak ilahi, serta daya hancur serangan nuklir yang pekat dan terkonsentrasi—semuanya seketika hancur lebur dan lenyap tak berbekas, bagaikan salju yang bertemu kobaran api dahsyat atau seekor semut yang menabrak cakrawala!
Kraaak...
Kraaak...
Kraaak...
Kraaak...
Empat tombak ilahi standar—yang sangat keras dan diperkuat dengan esensi logam ilahi—retak dan hancur berkeping-keping; awan pecahan emas berhamburan lalu lenyap, sementara aura ilahi mereka yang agung padam sepenuhnya.
Kilatan energi kekacauan purba melesat maju dengan momentum tak terbendung, seketika menembus tubuh dan zirah ilahi keempat penjaga ras Dewa tersebut.
Wuuzzzz....
Creezz...
Creezz...
Creezz...
Empat suara benturan tumpul terdengar hampir bersamaan.
Mengenakan zirah ilahi yang tangguh dan berkuasa atas alam liar, keempat penjaga ras Dewa itu membeku di udara bahkan sebelum sempat mengeluarkan satu pun jeritan kesakitan.
Zirah ilahi mereka yang kokoh hancur berkeping-keping, tubuh ilahi mereka yang padat hancur lebur dengan hebat, dan jiwa ilahi mereka yang luas seketika remuk serta musnah total oleh Esensi Kekacauan Primordial.
Kultivasi tingkat tinggi mereka di Tahap Keempat alam Dewa Emas Agung, fondasi yang dibangun melalui latihan berat selama berabad-abad, serta keunggulan bawaan dari garis keturunan ras Dewa—semuanya musnah tak bersisa hanya karena sentilan jari Dave yang santai; bahkan tidak ada satu pun jejak yang tertinggal.
Satu gerakan—membunuh empat dewa dalam sekejap!
Seluruh proses itu dilakukan dengan sangat mudah dan tanpa usaha berarti; tidak ada benturan mantra yang mengguncang bumi, tidak ada pertarungan sengit yang mendebarkan—hanya tekanan dahsyat dari kekuatan mutlak dan penindasan tak terbendung oleh Esensi Kekacauan Primordial.
Dave bahkan tidak sudi menggunakan Pedang Penebas Naga miliknya; di matanya, para kultivator di Tahap Keempat alam Dewa Emas Agung bahkan tidak lebih berharga daripada semut.
Berdiri di dekatnya, Agnes tetap tenang dan terkendali. Karena sudah terbiasa dengan metode Dave yang melampaui hukum alam, ia sama sekali tidak merasa terkejut; Dia berdiri diam di sisi samping, mengawasi sekeliling dengan senyap dan waspada untuk mengantisipasi segala kemungkinan situasi darurat yang muncul tiba-tiba.
Bersambung....
Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️
Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :
https://link.dana.id/qr/4e1wsaok
Atau ke akun
SeaBank : 901043071732
Kode Bank Seabank untuk transfer (535)
Terima Gajih...☺️