Photo

Photo

Monday, 25 May 2026

Bukan Cuma IQ: Ini "Cheat Code" Bisnis dan Kekayaan Abdurrahman bin Auf yang Jarang Dikaji

 3 Virus Mental yang Memblokir Rezeki, dan Cara Nabi Me-Reset Otak Abdurrahman bin Auf





Kenapa ulama jarang menceritakan bagian sejarah ini padahal, begitu pentingnya untuk mindset ummat?


Ada satu pertanyaan yang sering banget muter-muter di kepala ku kalau lagi ngamatin orang-orang di dunia. 

Kalian pasti pernah ngelihat fenomena ini juga. Kenapa ada orang yang IQ-nya tinggi banget, lulusan kampus top, kalau disuruh bikin presentasi atau rencana bisnis otaknya kayak super komputer, tapi pas disuruh jalanin bisnis beneran, dalam hitungan bulan perusahaannya hancur berantakan?


Sebaliknya, kalian melihat ada orang yang sekolahnya biasa saja, ngomongnya nggak canggih, tapi bisnisnya bisa menggurita sampai ke mana-mana dan duitnya nggak berseri.


Dulu aku mikir, oh mungkin ini soal hoki. Atau soal modal dari orang tua. 


Tapi setelah ku pelajari pola hidup tokoh-tokoh besar masa lalu, termasuk manusia monster kayak Abdurrahman bin Auf, aku nemuin jawaban yang bener-bener bikin aku merinding. 

Dan jawaban ini yang bikin aku sadar kenapa banyak banget anak muda zaman sekarang yang pinter tapi dompetnya kering.


Jawabannya bukan di kecerdasan otak. Jawabannya ada di Sistem Operasi atau OS yang tertanam di dalam kepala mereka.


Aku mau minjem logikanya Morgan Housel di buku The Psychology of Money. Dia nulis sebuah kalimat yang menurut ku adalah inti dari segala macam kesuksesan finansial. 

Dia bilang, mengelola uang dengan baik itu sedikit sekali hubungannya dengan seberapa pintar kau, dan sangat berhubungan erat dengan bagaimana kau berperilaku. 

Dan perilaku itu, sifat dasarnya itu, susah banget diajarin bahkan ke orang yang paling jenius sekalipun.


Ini yang jadi kunci rahasianya. Kecerdasan intelektual itu ibarat hardware, ibarat prosesor canggih di dalem laptop mu. 

Tapi ketakutan, keserakahan, gengsi, dan ilusi kontrol, itu semua adalah virus malware. 

Selama kau ngebiarin virus-virus ini hidup di dalem otak mu, mau sekencang apa pun prosesor mu, laptop mu bakal tetep nge-hang.


Dan di sinilah letak kejeniusan Nabi Muhammad sebagai seorang mentor. 

Nabi nggak pernah ngajarin Abdurrahman bin Auf cara jualan. Abdurrahman itu orang Quraisy, dia udah jago dagang dari zaman dia masih ABG. Yang dilakuin Nabi adalah nge-format ulang otaknya.


Menghapus semua virus perilaku yang bikin pengusaha hancur, dan meng-install sebuah Sistem Operasi (OS) baru yang berbasis spiritualitas tingkat tinggi.


Kita bakal bedah tiga virus paling mematikan yang di-hack sama Nabi, dan gimana efeknya kalau kita tarik ke logika psikologi modern. 

Kau bakal sadar kalau ajaran agama itu bukan cuma soal pahala dan dosa, tapi itu adalah cheat code paling brutal untuk mendominasi pasar.


Virus pertama yang dihancurin sama Nabi adalah Scarcity Mindset, atau mentalitas kelangkaan.


Coba kau perhatiin pengusaha-pengusaha serakah di luar sana. Mereka yang suka sikut-sikutan, yang pelitnya minta ampun, yang nggak mau bagi ilmu karena takut tersaingi. 

Otak mereka itu lagi diinfeksi sama virus Scarcity. 

Mereka ngelihat dunia ini kayak kue pie yang ukurannya tetap. 

Kalau kompetitor mereka ngambil potongan kue yang gede, mereka mikir jatah buat mereka bakal mengecil. 

Dunia ini dilihat sebagai zero-sum game.


Pola pikir kayak gini bikin kau hidup dalam paranoia. Kau jadi gampang panik. Kau ngambil keputusan bisnis bukan berdasarkan data yang rasional, tapi berdasarkan rasa takut miskin.

Sekarang kita bandingin sama cara kerja Abundance Mindset atau mentalitas keberlimpahan yang di-install Nabi ke kepala Abdurrahman.


Ada satu momen sejarah yang sering banget diceritain tapi sayangnya jarang dibedah pakai kacamata ekonomi. 

Suatu hari, Abdurrahman bin Auf nemuin Nabi di Madinah. Pakaiannya wangi banget pakai parfum khusus orang yang baru nikah. 

Nabi nanya, " ada kabar apa nih..? " Abdurrahman senyum terus cerita kalau dia baru aja nikah sama perempuan lokal, dan dia ngasih mahar berupa emas murni seberat biji kurma.


Lo harus inget konteksnya. Abdurrahman ini kan aslinya pengungsi. Dia baru aja tiba di Madinah dengan status gembel tanpa modal. 

Dan sekarang, dalam waktu yang lumayan singkat, dia berhasil nyetak emas murni dari pasar. Dia pamerin kesuksesan finansial perdananya di depan pemimpin negara.


Kalau Nabi itu tipe pemimpin yang ngajarin kemiskinan itu suci, Nabi pasti bakal negur dia. 

Nabi mungkin bakal bilang, " Wah, kau baru dapet emas ya? Kenapa nggak disumbangin aja buat bikin masjid? Kenapa malah dipakai buat nikah dan foya-foya? Ingat akhirat, jangan cinta dunia.."


Tapi apa yang dilakuin Nabi..? Nggak ada satu pun teguran keluar dari mulut beliau.

Nabi malah senyum lebar, memvalidasi kekayaan sahabatnya itu, dan ngasih satu doa dan instruksi yang ngubah segalanya. 

Nabi bilang, " Semoga Allah memberkahi mu. Adakan lah walimah (pesta) walau hanya dengan menyembelih seekor kambing..."


Gila.... Kita bedah kalimat ini. Nabi bukan cuma nggak ngelarang dia jadi kaya, Nabi malah nyuruh dia buat ngerayain kekayaannya itu. 

Nabi nyuruh dia menyembelih kambing, ngumpulin orang-orang, dan ngasih makan mereka.


Secara psikologis, instruksi ini adalah operasi pengangkatan tumor ketakutan.

Saat kita baru dapet duit gede, insting pertama kita pasti pengen nyimpen duit itu rapat-rapat karena kau takut duit itu habis. 

Tapi Nabi memaksa Abdurrahman untuk merayakan dan MENYIRKULASIKAN uang itu kembali ke masyarakat.


Pesan terselubung dari Nabi itu ibarat ngomong gini: "Jangan takut miskin karena kau nraktir orang. Jangan pelit. Kau itu kerja buat Sang Pemilik Alam Semesta. Gudang kekayaan-Nya nggak ada batasnya. Kalau kau lempar hartanya ke bawah, Bos mu bakal ngirimin pasokan yang jauh lebih gila dari atas."


Di detik itu juga, virus Scarcity di kepala Abdurrahman mati total. 

Dia nggak lagi ngelihat dunia sebagai tempat yang sempit. 

Ini yang ngejelasin kenapa di kemudian hari, Abdurrahman bisa dengan entengnya nyedekahin tujuh ratus ekor unta penuh muatan gandum cuma gara-gara dia denger ayat tentang bahaya numpuk harta.


Logika orang biasa bakal bilang dia gila karena ngebuang aset triliunan. 

Tapi logika Abundance Mindset bilang, itu bukan ngebuang aset. Itu adalah cara dia ngebuka keran rezeki yang ukurannya lebih raksasa.


Lanjut ke virus kedua. Ini adalah penyakit paling umum di zaman digital, dan alasan utama kenapa banyak bisnis cepat naik tapi lebih cepat lagi matinya. Nama virusnya adalah: Beban Kognitif dari sebuah kebohongan.


Di era sekarang, kita diajarin kalau mau jualan laku, kau harus pinter ngibul dikit. 

Kau bikin klaim kosmetik yang overclaim, kau bikin fake review, kau sewa buzzer buat naikin rating toko mu. 

Pokoknya lo manipulasi persepsi konsumen. Banyak pengusaha muda ngerasa pinter kalau berhasil nipu konsumennya.


Tapi kau sadar nggak sih, berbohong itu butuh energi memori yang luar biasa gila?

Ibarat handphone, kebohongan itu kayak aplikasi berat yang jalan di background layar mu. 

Orang yang nipu harus selalu mikir keras buat nutupin jejak penipuannya. Kalau kau bohong ke klien A soal spesifikasi barang, kau harus hafal kebohongan itu biar besok pas ketemu klien A lagi kau nggak salah ngomong. 

Otak mu kepanasan. RAM di kepala mu penuh cuma buat me-manage kebohongan-kebohongan kecil yang kau sebar tiap hari.


Dalam psikologi, ini disebut sebagai Beban Kognitif (Cognitive Load). 

Kalau RAM mu sudah penuh buat ngurusin tipu muslihat, kau nggak bakal punya ruang tersisa di otak mu buat mikirin strategi ekspansi, mikirin inovasi produk, atau ngebaca tren pasar ke depan. Kau bakal stuck. Kau jadi pengusaha yang lemot.


Di sinilah letak keajaiban ajaran Wara dan kejujuran radikal yang diajarin Nabi.

Ketika Nabi ngelarang umatnya menyembunyikan cacat barang, Nabi sebenarnya bukan cuma lagi ngomongin soal dosa. 

Nabi lagi ngasih tahu cara paling efisien untuk membebaskan kapasitas otak seorang pengusaha.


Abdurrahman bin Auf itu jualan selalu jujur. 

Kalau kudanya pincang, dia bilang pincang. 

Kalau gandumnya apek, dia bilang apek. 

Karena dia selalu ngomong apa adanya, jadi dia nggak pernah butuh energi buat mengingat apa yang dia omongin ke pembeli. 

Otaknya bener-bener plong. Bersih. Nggak ada background apps yang nyedot baterai mentalnya.


Efeknya...? Kapasitas memori dan energi otaknya bisa dia pakai seratus persen murni untuk merumuskan strategi, mengatur rantai pasok dari Makkah ke Suriah, dan mengkalkulasi risiko dengan kejernihan tingkat dewa. 

Kejujuran ternyata bukanlah sebuah kenaifan moral. Kejujuran adalah alat untuk meningkatkan efisiensi prosesor di kepala lo sampai batas maksimal.


Dan yang terakhir, kita masuk ke virus ketiga. Virus yang sering banget bikin pengusaha sukses kena serangan jantung, depresi, atau bahkan bunuh diri. Namanya adalah Ilusi Kontrol.


Penyakit kronis orang-orang pintar adalah mereka ngerasa bisa memprediksi dan mengontrol masa depan. 

Kau bikin presentasi pakai Microsoft Excel, masukin rumus proyeksi kenaikan laba sepuluh persen tiap bulan selama lima tahun, terus kau mikir alam semesta bakal patuh sama file Excel yang kau bikin.

Begitu kenyataan di lapangan beda, begitu tiba-tiba ada pandemi, atau supplier mu bangkrut, atau regulasi pemerintah berubah mendadak, ego mu hancur. 

Ilusi kontrol mu pecah. Kau stres karena ngerasa gagal ngendaliin keadaan.


Nabi menghancurkan ilusi kontrol ini di kepala Abdurrahman lewat sebuah protokol psikologis yang sering banget disalahpahami sama orang awam. 

Nama protokol itu adalah TAWAKAL.


Banyak orang bodoh yang pakai kata tawakal buat menjustifikasi kemalasan mereka. 

Mereka bilang, "Ya udahlah gue tawakal aja, kalau rezeki nggak bakal ke mana." 

Sumpah, kalau Nabi denger orang ngomong gitu, mungkin orang itu udah disuruh push-up di tengah gurun.


Tawakal versi Islam awal itu adalah sistem manajemen risiko yang sangat agresif tapi di saat yang sama, sangat membebaskan secara emosional.


Kau pasti tahu prinsip "Ikat dulu untamu, baru bertawakal." 

Bagi seorang monster ekonomi kayak Abdurrahman, ngikat unta itu artinya dia ngelakuin riset pasar gila-gilaan, dia negosiasi mati-matian, dia kerja dari subuh sampai isya, dia ngitung margin sampai ke angka desimal terkecil. 

Itu adalah proses mengikat unta yang brutal.


TAPI, setelah hari itu selesai, setelah semua ikhtiar logisnya dikerahkan, dia nge-klik tombol switch di kepalanya. 

Dia melepaskan seratus persen ikatan emosionalnya pada hasil akhir.


Psikologi pelepasan (detachment) inilah yang jadi senjata pamungkasnya. 

Dia memprogram otaknya untuk menerima kenyataan absolut bahwa dia cuma punya kendali atas PROSES, dan dia sama sekali nggak punya kendali atas HASIL. 

Hasil akhir adalah teritori mutlak milik Tuhan.


Kalau besoknya kafilah dagangnya dirampok, atau kapalnya tenggelam, Abdurrahman nggak bakal depresi. 

Kenapa? Karena dari awal dia udah tahu kalau masa depan itu bukan miliknya. 

Dia nggak ngerasa jadi manusia gagal, karena dia tahu dia udah ngelakuin prosesnya dengan benar. 

Kegagalan bisnis nggak merusak nilai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.


Ini adalah bentuk stoikisme yang paling murni. 

Tawakal bikin kau jadi manusia yang sangat stabil. 

Kau bisa ngambil risiko investasi yang bikin kompetitor mu ketakutan setengah mati, karena kau nggak takut sama ancaman kegagalan. 

Kalau sukses kau nggak bakal sombong sampai ngerasa jadi Tuhan, kalau gagal kau nggak bakal gila karena kau tahu kau sudah ngelakuin bagian mu.


Coba kau gabungin ketiga hal ini.

Bayangin... kau adalah seorang pengusaha yang nggak punya rasa takut miskin karena kau punya Abundance Mindset. 

Otak mu jalan seratus kali lipat lebih cepat dari kompetitor karena kau nggak pernah bohong jadi kau nggak punya beban kognitif. 

Dan emosi mu stabil banget sekacau apa pun krisis ekonomi yang terjadi karena kau punya sistem pertahanan Tawakal.


Menurut mu, adakah saingan di pasar bebas yang bisa ngalahin orang dengan isi kepala kayak gini?


Nggak ada. Sama sekali nggak ada.


Itulah kenapa Abdurrahman bin Auf bisa jadi triliuner. Spiritualitas yang diajarin Nabi itu tidak meningkatkan IQ bisnisnya, tapi spiritualitas membuang semua ketakutan, kecemasan, keserakahan, dan beban emosi yang menutupi IQ-nya.


Ketika semua sampah psikologis itu di-format ulang lewat ajaran agama yang benar, kecerdasan murni seorang manusia akan meledak tanpa hambatan. 

Agama, dalam bentuknya yang paling murni, adalah cheat code paling mematikan untuk memenangkan permainan kapitalisme tanpa harus kehilangan nyawa spiritual mu


Jadi, berhenti pakai dalil agama buat nge-wajarin hidup mu yang pas-pasan. 

Kau lagi ngehina peradaban mu sendiri kalau kau mikir jadi orang saleh itu artinya harus rela diinjek-injek sama pasar. 

Pakai spiritualitas mu buat ngebunuh rasa takut mu, bersihin otak mu, dan mulailah merampas kembali kekayaan dunia ini dari tangan orang-orang yang salah.


1. Mental ABUNDANCE (mental keberlimpahan)

2. Tidak membebani otak dengan Kebohongan

3. Tawakal hasil akhir kepada Allah setelah berusaha mati-matian dan semaksimal mungkin


Sedikit sekali ulama yang mau ngasih ceramah / dakwah soal beginian ( bisa dihitung jari ) bagaimana circle seorang nabi & para sahabatnya dalam soal berbisnis + bersedekah tanpa takut kekurangan









Semesta Selalu Mencari Keseimbangan

 




🌿 Inilah bagian kisah Mahabharata yang paling sulit dipahami manusia biasa.


Bagaimana mungkin…


sosok yang dianggap avatara dewa,

pembimbing Dharma,

penjaga keseimbangan…


justru menerima kutukan tragis tanpa melawan? 😌


Di sinilah Bhagavad Gita menjadi jauh lebih dalam daripada sekadar kisah perang antara baik dan jahat.


πŸ‚


——————————————


⏩ KUTUKAN SETELAH KURUKSHETRA


Setelah perang besar selesai… ⚔️


Padang Kurukshetra dipenuhi mayat.


πŸ™Anak gugur.

πŸ™Saudara saling membunuh.

πŸ™Ibu kehilangan putra.


Dan di tengah kehancuran itu…


Gandhari, ibu para Kurawa yang hatinya hancur karena seluruh anaknya tewas, akhirnya mengutuk Krishna. πŸŒ‘


Ia berkata bahwa sebagaimana keluarganya musnah karena perang…


✅ maka klan Yadawa milik Krishna pun kelak akan saling menghancurkan satu sama lain.


Dan anehnya…


πŸ‘Krishna tidak marah.

πŸ‘Krishna tidak membela diri.

πŸ‘ Krishna tidak menolak kutukan itu.


Ia hanya menerimanya dengan tenang. 😌


πŸ‚


——————————————


⏩ MANUSIA SELALU BERPIKIR “YANG SUCI HARUS SELALU MENANG”


Coba perhatikan… πŸ‘️


Manusia modern terbiasa berpikir sederhana:


πŸ‘‰ yang baik harus bahagia

πŸ‘‰ yang benar harus menang

πŸ‘‰ yang suci harus bebas dari penderitaan


Padahal kehidupan tidak sesederhana itu.


Dalam Mahabharata…


bahkan pihak Pandawa yang dianggap membawa Dharma tetap kehilangan banyak hal.


✔️Anak gugur.

✔️Kerajaan hancur.

✔️Generasi musnah.


Dan Krishna sendiri…


menerima kutukan atas perang besar yang terjadi. 


Artinya di sini:


✅ kadang menjaga keseimbangan dunia tetap membawa luka.


πŸ‚


——————————————


⏩ KRISHNA TAHU KONSEKUENSINYA… TAPI TETAP BERJALAN


Pahamilah ini baik²… 🌌


Selama konflik Kurukshetra berlangsung,

Krishna sebenarnya tidak bertarung sebagai raja haus kemenangan.


Ia hadir sebagai penjaga Dharma.


Namun anehnya…


ia tidak menghindari konsekuensi dari tindakannya.


Ia tidak berkata: “Aku avatara, aku kebal hukum semesta.”


Tidak.


Ia justru menerima kutukan itu dengan tenang. 😌


Di situlah letak kesadaran tertinggi.


πŸ‚


——————————————


⏩ KESADARAN TINGGI BUKAN BERARTI BEBAS DARI AKIBAT… ⚠️


Banyak manusia mengira spiritualitas berarti:


🌿 hidup tanpa masalah

🌿 selalu selamat

🌿 bebas karma

🌿 selalu dimenangkan kehidupan


Padahal Bhagavad Gita menunjukkan hal yang berbeda.


Kesadaran sejati bukan kabur dari konsekuensi.


Tapi berani menerima akibat dari tindakan sadar yang diambil.


Dan Krishna memahami itu.


πŸ‚


——————————————


⏩ KUTUKAN ITU BUKAN HUKUMAN… TAPI KESEIMBANGAN


Coba lihat alam… 🌳


Setiap tindakan selalu menciptakan gelombang.


🌊 batu dilempar ke air → riaknya menyebar

πŸ”₯ api dinyalakan → panasnya menjalar


Begitu pula perang Kurukshetra.


Meski dilakukan demi Dharma…


tetap ada luka yang tercipta.


Dan semesta selalu mencari keseimbangan.


Makanya Krishna tidak cemas saat menerima kutukan.


✅ Karena ia memahami: bahkan tindakan yang benar tetap memiliki harga yang harus dibayar.


πŸ‚


——————————————


⏩ DI SINILAH AJARAN INI MELAMPAUI AGAMA KONVENSIONAL


Pahamilah ini… 🌿


Banyak ajaran konvensional melihat dunia secara hitam putih:


⚪ baik pasti selamat

⚫ jahat pasti hancur


Namun kisah Mahabharata jauh lebih rumit dan lebih manusiawi.


✔️ Bhishma tidak sepenuhnya jahat.

✔️ Karna tidak sepenuhnya salah.

✔️ Pandawa pun tidak sepenuhnya tanpa noda.


Dan Krishna sendiri…


tidak tampil sebagai “penyelamat ajaib” yang menghapus semua penderitaan.


✅ Ia justru mengajarkan: bahwa hidup adalah tarian keseimbangan yang kompleks.


πŸ‚


——————————————


⏩ DHARMA BUKAN SOAL MENANG… TAPI MENJAGA KESEIMBANGAN


Dalam Bhagavad Gita dijelaskan bahwa perang hanya boleh menjadi pilihan terakhir ketika Dharma runtuh sepenuhnya. 


Artinya…


Dharma bukan soal membela kelompok sendiri.


Dharma adalah menjaga keseimbangan kehidupan.


Kadang…


demi menghentikan kehancuran yang lebih besar, manusia harus mengambil keputusan pahit.


Dan keputusan pahit tetap meninggalkan bekas.πŸ™


πŸ‚


——————————————


⏩ KRISHNA TIDAK TERIKAT PADA MENANG ATAU KALAH


Coba renungkan ini… πŸͺž


Setelah perang selesai…


apakah Krishna duduk menikmati kemenangan?


Tidak.


Mahabharata justru dipenuhi kesedihan setelah perang berakhir. 


Karena Krishna tidak terikat pada kemenangan duniawi.


Ia memahami satu hal yang sulit diterima ego manusia:


✅ bahwa kadang kemenangan terbesar bukan mengalahkan musuh…


melainkan menjaga kesadaran tetap jernih di tengah dunia yang hancur.


πŸ‚


——————————————


⏩ MANUSIA MODERN MASIH TERJEBAK LOGIKA “PIHAKKU PALING BENAR”


Namun lihatlah dunia hari ini… 🌍


Setiap kelompok: 


⚔️ merasa paling suci

⚔️ merasa paling benar

⚔️ merasa paling layak menang


Padahal Mahabharata justru memperlihatkan:


✅ bahwa bahkan pihak yang membawa Dharma pun tetap harus bercermin pada tindakannya sendiri.


Itulah kenapa Krishna menerima kutukan.


Bukan karena kalah…


tapi karena kesadaran tertinggi tidak lari dari tanggung jawab semesta.


πŸ‚


——————————————


⏩ KUTUKAN ITU MENGAJARKAN SESUATU YANG DALAM


Pahamilah ini baik²… 🌌


Krishna tidak takut kehilangan citra “kesempurnaan.”


Karena ia tahu…


hidup bukan tentang terlihat suci di mata manusia.


Tapi tentang memahami hukum keseimbangan semesta.


Dan mungkin…


di situlah letak spiritualitas tertinggi:


🌿 bertindak sadar

🌿 menerima konsekuensi

🌿 tidak menyalahkan kehidupan

🌿 tidak melekat pada kemenangan


πŸ‚


——————————————


⏩ KESADARAN TERTINGGI ADALAH MENERIMA KEHIDUPAN SEPENUHNYA


Maka ketahuilah ini… 😌


Bhagavad Gita bukan kitab untuk manusia yang ingin lari dari penderitaan.


Ia adalah cermin bagi manusia yang ingin memahami kehidupan secara utuh.


Bahwa: 


🌿 tindakan selalu punya akibat

🌿 Dharma kadang tetap menyakitkan

🌿 bahkan cahaya tetap meninggalkan bayangan


Dan Krishna menunjukkan sesuatu yang sangat jarang dipahami manusia modern:


kesadaran tertinggi bukan menjadi makhluk yang bebas dari luka…


melainkan tetap tenang meski memahami seluruh konsekuensi dari jalan yg dipilihnya sendiri. 🌌



Rahayu πŸ™✨


Thursday, 21 May 2026

Perintah Kaisar Naga : 6510 - 6514

Perintah Kaisar Naga. Bab 6510-6514





*Kembali ke Surga Keenambelas*


Cahaya spiritual ungu yang mengelilingi Dave perlahan surut seperti air pasang, setiap pancaran cahaya membawa ritme yang tak terlukiskan, seolah-olah hukum langit dan bumi sedang dijalin ulang di dalam tubuhnya.


Rune emas dari Kitab Emas Luo Agung secara bertahap memudar dari permukaan kulitnya, tetapi tidak menghilang. Sebaliknya, rune tersebut menyatu ke dalam kedalaman daging dan darahnya, menjadi satu dengan meridian, tulang, dan organ dalamnya.


Emas itu bukan lagi pancaran eksternal, tetapi telah menjadi bagian dari asal mula kehidupan—pola keemasan pucat muncul di permukaan tulangnya, seperti prasasti dan jejak kaki dewa-dewa kuno.


Tingkat kultivasinya tetap stabil di tahap keenam Alam Abadi Agung.


Ini bukanlah kultivator Alam Abadi Agung tingkat enam biasa.


Dia mengepalkan tinjunya sedikit, dan mendengar suara gemerisik lembut dari buku-buku jarinya. Suara itu tidak keras, tetapi membuat udara di seluruh aula samping bergetar.


Energi spiritual di aula itu sepertinya tertarik oleh sesuatu, membentuk pusaran yang terlihat jelas dan berpusat di sekitarnya.


Kekuatan kekacauan mengalir deras melalui meridiannya, seperti binatang purba yang sedang mengintai mangsa.


Tubuh fisiknya beberapa kali lebih kuat daripada sebelum dihancurkan—setiap inci kulitnya berkilauan dengan cahaya ungu samar, dan rune emas dapat terlihat samar-samar mengalir di bawah kulitnya, sebuah fenomena yang dihasilkan oleh perpaduan Kitab Suci Emas Luo Agung dan kekuatan kekacauan.


Meridian-meridian itu selebar sungai-sungai besar, dengan energi spiritual mengalir di dalamnya, dan setiap tarikan napas menghirup dan menghembuskan kekuatan luar biasa dari langit dan bumi.


Rune pelindung dari Kitab Suci Emas Luo Agung muncul dan menghilang di tubuhnya, seperti naga emas, kadang muncul dan kadang menghilang, membawa keagungan dan kekhidmatan kuno.


Dia berdiri diam, tidak sengaja melepaskan tekanan apa pun, tetapi aura yang secara alami dipancarkannya membuat seluruh aula samping terasa lebih berat.


Batu giok yang tertanam di pilar itu mengeluarkan dengungan samar, seolah-olah mereka tidak tahan dengan kehadirannya.


Pola-pola spiritual di tanah ditekan oleh auranya, dan pola-pola yang semula terang menjadi redup dan kusam.


Sayyef Gui berlutut di tanah, air mata mengalir di wajahnya.


Dia menangis begitu keras hingga seluruh tubuhnya gemetar dan dia tidak bisa mengucapkan kalimat yang lengkap.


Kini Dave telah pulih; dia bukan lagi jiwa yang rapuh, bukan lagi setitik jiwa yang redup, tetapi seorang manusia yang hidup dan bernapas.


Jubah hijaunya tetap tak berubah, pedang panjangnya tergeletak di sisinya, dan mata ungunya memantulkan dunia seolah-olah semuanya berada di bawah kendalinya.


Sayyef Gui ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya bisa mengeluarkan isak tangis yang tertahan.


Ia menundukkan kepala dan bersujud, dahinya menempel pada giok yang dingin, air mata membasahi giok itu. Giok itu telah menunggu terlalu lama untuk hari ini.


Quintessa Qing berdiri di samping, mengenakan pakaian putih seputih salju.


Dia mengenakan kembali gaun istana putih polosnya, rambutnya yang panjang dan hitam pekat terurai di punggungnya.


Wajahnya masih sedikit pucat; Dave terlalu buas, dan dia hampir tidak sanggup menghadapinya, di balik itu di cukup puas.


Namun senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyampaikan rasa kepuasan yang mendalam.


Dia telah hidup selama puluhan ribu tahun.


Selama puluhan ribu tahun, dia telah menyaksikan munculnya banyak sekali jenius.


Ada yang terlahir sebagai kaisar, ada yang menentang takdir, dan ada yang mencapai pencerahan dan naik ke alam atas.


Dia telah menyaksikan kelahiran Dewa Emas, kejatuhan Dewa Emas Agung, serta runtuhnya dan pembangunan kembali langit dan bumi.


Namun, ini adalah pertama kalinya dia bertemu seseorang seperti Dave.


Bukan karena dia memiliki bakat tertinggi—para jenius di Surga Ketujuh Belas jumlahnya sebanyak ikan mas yang menyeberangi sungai.


Bukan karena dia yang terkuat dalam pertempuran—siapa pun di atas peringkat ketiga Dewa Emas dapat dengan mudah mengalahkannya.


Ini bukan karena ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan tentang dirinya.


Itulah inti dari Dao, obsesi, kekeraskepalaan yang tak kenal menyerah, dan tekad yang kuat untuk bangkit kembali tak peduli berapa kali pun ia dihancurkan.


“Ini sepadan, nikmati sekali” pikirnya dalam hati.


Dia telah mengorbankan kesuciannya selama puluhan ribu tahun untuk Dave, tetapi Quintessa Qing merasa itu sepadan; pria ini layak untuk dia berikan tubuh sucinya.


Dave mengabaikan tatapan mereka, berbalik, dan berjalan menuju jendela.


Jendela-jendela di aula samping sangat besar, dan bingkai jendelanya terbuat dari kayu spiritual berusia ribuan tahun, dengan ukiran berbagai macam setan yang sedang memberi penghormatan.


Di luar jendela, tiga matahari yang menyala-nyala menggantung tinggi di langit.


Matahari keemasan, keperakan, dan merah tua saling berjalin menciptakan permadani yang megah, membentang di atas pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.


Seluruh lembah itu diwarnai dengan warna merah keemasan yang hangat, seolah-olah diselimuti cahaya ilahi.


Pandangannya menyapu istana dan paviliun di lembah, melintasi urat-urat spiritual yang berkelok-kelok di pegunungan, melintasi para kultivator yang sedang berlatih, dan akhirnya tertuju pada cakrawala.


Di sana, awan gelap mulai berkumpul.


Ini bukanlah awan gelap biasa, melainkan awan hitam yang terbentuk dari kondensasi nafsu memburu dan niat membunuh.


Pikiran Dave kembali ke Surga Keenam Belas.


Dia tidak tahu bagaimana keadaan Agnes sekarang.


“Sayyef Gui”.


Dia berbicara.


Suaranya lembut, nadanya tenang, seperti pertanyaan biasa.


“Bawahan Anda ada di sini.”

Sayyef Gui segera berdiri dan menyeka air mata dari wajahnya dengan lengan bajunya.


Lututnya masih gemetar, entah karena berlutut terlalu lama atau karena kegembiraan, sulit untuk dipastikan.


“Aku ingin kembali ke Surga Keenam Belas.”


Enam kata, keluar dengan ringan, namun bergema seperti enam dentuman guntur di aula samping.


" Hah..." Ekspresi Sayyef Gui langsung berubah.


Wajahnya yang tadinya memerah tiba-tiba pucat pasi, air mata menggenang di matanya. “Tuan Muda, apa yang Anda katakan? Kembali ke Surga Keenam Belas?”


Suaranya meninggi tanpa disadari, “Kau akhirnya berhasil membangun kembali tubuh fisikmu, dan kultivasimu baru saja pulih, bagaimana mungkin kau...”


“Justru karena sudah pulih, aku harus kembali.”


Dave menyela perkataannya.


Dia berbalik, mata ungunya menatap Sayyef Gui.


Mata itu tidak menunjukkan kemarahan, ketidaksabaran, bahkan secercah emosi pun tidak ada.


Namun, justru ketenangan inilah yang membuat kata-kata Sayyef Gui selanjutnya tersangkut di tenggorokannya.


“Aku memiliki seorang wanita, Agnes Jiang, yang masih berada di Surga Keenam Belas, atau mungkin masih berada di penjara Aliansi Dewa.”


Dave terdiam sejenak, dan ketika mengucapkan tiga kata itu, ada emosi yang halus, hampir tak terlihat, di dalamnya. “Sudah berapa lama dia dipenjara? Berapa banyak siksaan yang telah dia alami? Setiap hari dia menungguku. Aku tidak bisa membiarkannya menunggu terlalu lama.”


Bibir Sayyef Gui bergetar.


Dia ingin berdebat, mengatakan, “Anda boleh pergi, tapi tunggu sampai Anda lebih kuat,” mengatakan, “Kita akan membawa lebih banyak orang,” dan mengatakan, “Surga Ketujuh Belas lebih membutuhkanmu.”


Tapi dia tidak bisa mengatakan apa pun.


Alis Quintessa Qing sedikit berkerut.


Setelah hidup selama puluhan ribu tahun dan menyaksikan terlalu banyak kehidupan dan kematian, hatinya telah lama menjadi sekeras batu.


Namun ia tetap angkat bicara: “Dave, aku tahu kau cemas.”


Suaranya lembut namun jernih, membawa keanggunan yang unik dari Ratu Rubah, “Namun tingkat kultivasimu saat ini hanya berada di peringkat keenam Alam Abadi Agung. Meskipun Surga Keenam Belas dikenal sebagai alam yang lebih rendah, ia tetap memiliki dasar seorang Abadi Emas. Jika kau pergi sendirian dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan...”


“Yang Mulia.”


Dave berbalik dan menghadap Quintessa Qing secara langsung.


Tatapannya terbuka dan jujur, bahkan mengandung senyum tipis.


“Aku tidak sendirian.”


Quintessa Qing terkejut.


Dave mengangkat tangan kanannya, telapak tangan terbuka.


Seberkas api ungu yang kacau menari-nari di telapak tangannya. Nyala api itu tenang, tanpa suara terbakar yang keras atau cahaya yang menyala-nyala.


Benda itu ada di sana, berdenyut perlahan, namun menyebabkan suhu di aula samping tiba-tiba naik.


Udara di sekitar kobaran api berdistorsi, dan retakan kecil muncul di pilar giok, jejak hangusnya struktur ruang tersebut.


“Aku memiliki Kitab Kuno Emas Luo Agung.”


Api itu berubah warna dari ungu menjadi emas, dan rune emas muncul dari bawah kulitnya, membentuk perisai cahaya keemasan pucat di sekelilingnya.


Perisai cahaya itu menampilkan pola naga samar-samar, memancarkan aura kuno dan megah.


“Aku memiliki kekuatan kekacauan.”


Rune-rune emas itu sekali lagi dilalap api ungu, dan kedua kekuatan itu menyatu di dalam tubuhnya, membentuk warna ketiga—ungu tua, hampir hitam.


“Aku memiliki tingkat kultivasi peringkat keenam dari Alam Abadi Agung.”


Saat mengatakan ini, nadanya setenang seolah-olah dia sedang menyatakan fakta yang tak terbantahkan, “Di Surga Keenam Belas, yang disebut puncak peringkat kesembilan Alam Abadi Agung hanyalah seekor semut yang sedikit lebih besar di hadapanku. Baik itu Tetua Hanyuan atau Pattinson Wei, aku tidak membutuhkan pedang untuk membunuh mereka.”


Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata yang diucapkannya tegas dan menggema.


Itu bukan membual, bukan kesombongan, bukan pamer; itu adalah kepercayaan diri yang ditempa melalui pertempuran hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya, pemahaman yang terbentuk setelah melintasi tumpukan mayat dan lautan darah.


Pemahaman ini begitu tertanam sehingga menjadi bagian dari nalurinya, jadi ketika dia mengatakannya, itu sama alaminya dengan mengatakan “matahari terbit di timur.”


Quintessa Qing terdiam.


Dia tahu Dave mengatakan yang sebenarnya.


Kekuatan kekacauan mengatasi semua kekuatan lainnya: kekuatan surgawi, kekuatan iblis, kekuatan monster, cahaya suci—tidak ada kekuatan yang dapat memperoleh keuntungan di hadapan kekacauan.


Tubuh fisik yang dikembangkan oleh Kitab Emas Luo Agung tidak dapat dihancurkan. Dikombinasikan dengan tingkat kultivasinya yang berada di peringkat keenam Dewa Agung, Dave benar-benar tidak memiliki saingan di Surga Keenam Belas.


Para Dewa Agung tingkat sembilan yang disebut-sebut itu bagaikan kertas di hadapan kekuatan kekacauan, hancur berkeping-keping hanya dengan pukulan terkecil.


Yang lebih penting lagi, dia tahu dia tidak bisa menghentikannya.


Begitu orang seperti ini sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan jika langit runtuh sekalipun.


“Tuan Muda, tetapi pegunungan Sepuluh Ribu Iblis membutuhkan Anda.”


Sayyef Gui masih enggan menyerah, suaranya hampir memohon, “Pasukan Yang Mulia Surgawi akan berada di gerbang kota dalam waktu tidak lebih dari setengah bulan. Jika Anda tidak hadir, pegunungan Sepuluh Ribu Iblis akan tanpa pemimpin...”


Dave menyela perkataannya.


“Sayyef Gui”.


Dia berjalan menghampiri Sayyef Gui dan menepuk bahunya.


Tangannya mantap, dan kehangatan dari telapak tangannya perlahan menenangkan getaran tubuh Sayyef Gui. “Dibutuhkan setengah bulan lagi bagi pasukan Yang Mulia Surgawi untuk berkumpul. Aku akan kembali ke Surga Keenam Belas, yang paling lama akan memakan waktu tujuh hari. Aku pasti akan kembali dalam tujuh hari.”


Dia berhenti sejenak, pandangannya menyapu mata Sayyef Gui yang merah. “Katakan padaku, bisakah Gunung Sepuluh Ribu Iblis dipertahankan selama tujuh hari?”


Sayyef Gui membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.


Tujuh hari cukup untuk mempertahankan pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.


Dengan kehadiran Quintessa Qing di sini, pemimpin sekte Pedang Qingyun, wakil pemimpin sekte Wanfa, dan sekte Guiyuan mereka, orang-orang ini dapat bertahan selama beberapa hari tanpa masalah.


Tujuh hari?


Lebih dari cukup.


“Tujuh hari.”


Quintessa Qing berbicara.


Dia berjalan perlahan ke sisi Dave, jubah putihnya berkibar di udara, rambut panjangnya terurai seperti air terjun.


Wajahnya masih agak pucat, tetapi matanya yang seperti rubah telah kembali tajam seperti semula. “Aku beri kau waktu tujuh hari. Dalam tujuh hari, entah kau menyelamatkan wanita itu atau tidak, kau harus kembali.”


Dia berhenti sejenak, suaranya kini terdengar penuh wibawa, “Yang Mulia Surgawi tidak akan memberi kau waktu lagi. Jika dia melancarkan serangannya terlalu cepat, meskipun pegunungan Sepuluh Ribu Iblis dapat dipertahankan, kerugiannya akan sangat besar.”


Dave mengangguk. “Tujuh hari sudah cukup.”


Dia tidak mengucapkan “terima kasih,” dia tidak mengatakan “saya pasti akan kembali,” dia tidak mengatakan apa pun yang berlebihan.


Dia hanya mengangguk sedikit kepada Quintessa Qing, lalu berbalik dan berjalan keluar dari aula.


Sayyef Gui melangkah dua langkah lalu berhenti.


Dia tahu bahwa begitu tuan muda itu mengambil keputusan, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.


Yang bisa dia lakukan hanyalah berlutut dan bersujud tiga kali di punggung Dave.


Siluet bocah itu membentang panjang di gerbang istana, bermandikan cahaya terang dari tiga matahari, yang mewarnai jubah birunya menjadi warna emas pucat.


Pedang Pembunuh Naga di pinggangnya sedikit bergetar, seberkas cahaya ungu mengalir di sepanjang bilahnya.


Sosok itu berdiri tegak dan lurus seperti pohon pinus, langkahnya mantap seperti gunung, berjalan selangkah demi selangkah menuju alam rahasia.


Quintessa Qing memperhatikan sosoknya yang menjauh dan tetap diam untuk waktu yang lama.


Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Mungkin itu mengingatkannya pada semangat masa mudanya sendiri, mungkin itu kekhawatiran tentang masa depan putrinya, atau mungkin itu hanya perasaan tersentuh oleh sesuatu tentang pemuda itu.


“Ayo pergi,” katanya pelan, berbalik dan berjalan menuju gunung di belakang. “Butuh waktu agar lorong kehampaan itu terbuka.”


..... 


Di belakang Istana Kaisar Iblis.


Ini adalah area terlarang; bahkan para tetua ras iblis pun tidak diperbolehkan masuk tanpa izin.


Ruang terbuka yang membentang seluas seratus kaki kelilingnya itu dilapisi dengan batu giok hitam.


Batu giok ini bukanlah batu biasa; batu-batu ini berasal dari urat mineral yang sangat dalam di Surga Ketujuh Belas, dan setiap kepingnya mengandung fragmen hukum ruang angkasa.


Permukaan giok tersebut ditutupi dengan rune yang tersusun rapat, pola-polanya kuno dan rumit, beberapa menyerupai ular yang melilit, beberapa menyerupai burung dengan sayap terbentang, dan beberapa menyerupai matahari, bulan, dan bintang.


Cahaya perak samar mengalir di antara rune; itulah kekuatan spasial yang paling murni.


Di tengah ruang terbuka, sebuah platform batu setinggi tiga kaki berdiri dengan tenang.


Platform batu itu terbuat dari bahan yang tidak diketahui; seluruhnya berwarna hitam, namun memancarkan kilau samar.


Di atas platform batu itu terukir formasi sihir yang bahkan lebih rumit, dengan empat puluh sembilan rune berbentuk cincin yang tersusun berlapis-lapis, setiap rune terdiri dari ribuan pola spiritual kecil.


Ini adalah formasi teleportasi antar dimensi yang ditinggalkan oleh makhluk perkasa di Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis kuno. 


Konon, Kaisar Iblis mengumpulkan tujuh puluh dua ahli formasi dari ras iblis untuk menyelesaikan mahakarya ini setelah seratus tahun agar dapat berkomunikasi dengan berbagai surga.


Quintessa Qing berdiri di depan platform batu dan menarik napas dalam-dalam.


Dia perlahan mengangkat kedua tangannya, menyatukan jari-jarinya, dan membentuk mudra kuno.


Aura putih terpancar dari telapak tangannya, murni dan tanpa sedikit pun kenajisan.


Cahaya mengalir seperti air, perlahan-lahan masuk ke dalam formasi magis di atas platform batu.


Energi spiritual di dalam tubuhnya mengalir keluar seolah-olah bebas, begitu cepat sehingga wajahnya memucat hanya dalam beberapa tarikan napas.


Dia sangat menyadari betapa besar usaha yang dibutuhkan untuk mengaktifkan formasi antar dimensi tingkat ini, tetapi dia tidak ragu-ragu.


Karena Dave tidak ragu-ragu.


Rune pertama menyala, cahaya peraknya tumpah seperti merkuri ke tanah.


Kemudian muncullah yang kedua, ketiga, keempat—empat puluh sembilan rune berbentuk cincin menyala dalam urutan misterius, setiap kali disertai dengan suara dengung rendah.


Suara itu tidak terdengar seperti alat musik; lebih seperti resonansi hukum langit dan bumi, seperti ruang angkasa itu sendiri yang melantunkan nyanyian.


Cahaya perak itu semakin terang dan semakin terang.


Ketika rune terakhir dinyalakan, seluruh gunung di belakang diterangi seolah-olah siang hari.


Cahaya di platform batu itu begitu terang sehingga mustahil untuk melihat langsung ke arahnya, tetapi mata Quintessa Qing tidak berkedip, dan segel tangan di tangannya terus berubah.


Dia memanipulasi rune-rune itu, menjaganya agar tetap berada di jalur yang benar.


Ruang mulai terdistorsi.


Udara di tengah formasi sihir itu awalnya terkompresi, lalu tiba-tiba menyebar ke luar, membentuk pusaran hitam pekat.


Pusaran air itu hanya berdiameter tiga kaki, namun memberikan kesan seolah tak berdasar.


Cahaya bintang berkelap-kelip samar di dalam pusaran itu.


Itu bukanlah bintang di langit, melainkan celah antara tingkatan ruang yang berbeda, sebuah gerbang menuju kehampaan yang tak berujung.


Aura kuno dan tak terbatas muncul dari pusaran; itu adalah aura kehampaan, sebuah eksistensi yang lebih kuno daripada dunia mana pun.


“Satu lorong  kosong telah dibuka.”


Quintessa Qing perlahan menarik tangannya, suaranya bahkan lebih pucat dari sebelumnya, dan butiran keringat halus muncul di dahinya. “Aku hanya bisa bertahan selama tiga puluh tarikan napas. Lebih dari itu, aku tidak akan mampu bertahan.”


Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Pintu keluar lorong itu berada di hutan belantara utara Surga Keenam Belas, sekitar seribu mil dari aula utama Aliansi Dewa. Jarak ini tidak akan memicu pembatasan mereka, dan juga tidak akan memungkinkan Anda untuk bepergian terlalu jauh.”


Dia mengeluarkan sebuah token berwarna perak-putih dari dadanya dan menyerahkannya kepada Dave, sambil berkata, “Gunakan token ini saat kau akan kembali.”


Token tersebut berukuran sebesar telapak tangan, terbuat dari bahan yang menyerupai giok tetapi bukan giok, dan terasa dingin saat disentuh.


Bagian depan token menampilkan gambar rubah berekor sembilan, sedangkan bagian belakangnya dihiasi dengan rune yang rumit.


Ketika Dave menerima token itu, dia dapat dengan jelas merasakan kekuatan spasial yang terkandung di dalamnya. Kekuatan itu disuntikkan oleh Quintessa Qing untuk menciptakan semacam koneksi spasial antara dirinya dan token tersebut.


“Salurkan energi spiritual ke dalam token ini, dan aku akan merasakannya dari pegunungan Sepuluh Ribu Iblis dan membuka kembali jalan untukmu. Tapi ingat...”


Quintessa Qing menatapnya, suaranya tiba-tiba serius, “Lorong ini hanya dapat dibuka sekali. Kekuatan yang terkandung dalam token ini hanya cukup untuk mendukung satu teleportasi antar dimensi. Jika kau menghadapi bahaya di Surga Keenam Belas, gunakanlah untuk kembali. Tetapi jika kau aman, tetaplah di sana dan lanjutkan pertempuran mu. Mengerti?”


Dave menyimpan token itu dengan hati-hati, menaruhnya jauh di dalam cincin penyimpanannya. “Terima kasih, Yang Mulia.”


Quintessa Qing menggelengkan kepalanya.


Ia terdiam lama. Angin menerbangkan rambut panjangnya, dan helai-helai rambut putihnya melayang di udara.


Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya dia hanya menatap mata Dave dan berkata, kata demi kata, “Kembali hidup-hidup. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”


Dia terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku baru saja mengalami kenikmatan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita, dan aku tidak ingin hanya mengalaminya sekali saja.”


Dave sangat menyadari bobot kata-kata yang keluar dari mulut ratu rubah itu.


Dia tidak banyak bicara, tetapi mengangguk dengan serius, “Baiklah. Saat aku kembali, aku akan membiarkanmu merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita setiap hari sampai bengkak dan lecet, hehehe...”


Lalu dia berbalik dan berjalan menuju lorong hampa itu.


Jubah biru panjang itu berkibar tertiup angin.


Pedang Pembunuh Naga di pinggangnya mengeluarkan dengungan yang dalam, dan cahaya ungu pada bilahnya semakin terang.


Langkah kakinya tidak cepat, tetapi setiap langkahnya mantap, seperti seorang raja yang berbaris menuju medan perang.


Sayyef Gui berdiri di tepi lorong, matanya merah karena cemas.


Dia melangkah dua langkah ke depan, lalu berhenti, kemudian melangkah dua langkah lagi ke depan, lalu berhenti lagi. “Tuan Muda! Apakah Anda benar-benar akan pergi? Saya akan pergi bersama Anda!”


Suaranya hampir seperti jeritan.


“Tidak.” Dave tidak menoleh, suaranya setenang sumur kuno. “Puncak Sepuluh Ribu Iblis membutuhkanmu. Kau tetap di sini dan bantu Yang Mulia menjaga tempat ini. Ini adalah perintah.”


Sayyef Gui tiba-tiba berhenti di tempatnya.


Perintah.


Tuan muda itu mengatakan bahwa ini adalah sebuah perintah.


Dia berdiri di sana, seolah terpaku di tempat itu.


Dia memperhatikan sosok Dave menjauh ke kejauhan, mengamati sosok itu berjalan ke tepi lorong kehampaan, dan mengamati Dave mengangkat kaki kanannya dan melangkah ke dalam pusaran gelap.


Lorong hampa itu tiba-tiba menyempit, dan pusaran itu tampak hidup, menelan sosok Dave sepenuhnya.


Cahaya ungu itu berbaur dengan kehampaan yang gelap gulita, lalu perlahan memudar.


Rune perak itu padam satu per satu, dari yang terakhir hingga yang pertama, dalam urutan yang sempurna.


Setelah keempat puluh sembilan rune berbentuk cincin meredup, platform batu itu kembali ke keadaan semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun.


Hanya Quintessa Qing dan Sayyef Gui yang tetap berada di lapangan terbuka.


Sayyef Gui berlutut di tanah dan bersujud tiga kali ke arah tempat lorong hampa itu menghilang.


Dahinya membentur lantai giok dengan bunyi keras. “Tuan Muda, Anda harus kembali hidup-hidup...”


Suaranya tercekat karena emosi, dan air mata kembali menggenang.


Quintessa Qing berdiri di belakangnya, menatap langit yang kosong, dan tetap diam untuk waktu yang sangat lama.


Ketiga matahari yang menyala-nyala itu masih tergantung tinggi, memancarkan sinar keemasan ke gaun putihnya.


Namun, dia tidak merasakan kehangatan apa pun.


“Dia akan kembali,” kata Quintessa Qing pelan, seolah berbicara kepada Sayyef Gui, atau mungkin kepada dirinya sendiri, “Orang seperti ini memiliki kehidupan yang sulit.”


…………


Surga Keenam Belas, Hutan Belantara Utara.


Langit berwarna abu-abu kebiruan, seperti lempengan besi berkarat, menekan bumi dengan berat.


Dua bulan menggantung tinggi di langit, satu berwarna putih keperakan seperti embun beku, yang lainnya merah gelap seperti darah. Cahaya kedua bulan itu saling berjalin, mewarnai bumi dengan warna merah keperakan yang menyeramkan, seperti genangan darah yang membeku.


Bau busuk yang samar memenuhi udara, jejak yang ditinggalkan oleh puluhan ribu tahun peperangan, pembantaian, dan perbudakan, yang telah lama meresap ke setiap inci tanah dan setiap embusan angin di negeri ini.


Gurun itu sunyi senyap.


Tidak terdengar apa pun selain suara angin.


Makhluk-makhluk mitos yang pernah menghuni tempat ini telah lama menghilang, dan tumbuhan-tumbuhan mitos yang pernah tumbuh di sini telah lama layu.


Aliansi Dewa telah memerintah Surga Keenam Belas selama bertahun-tahun, menguras habis tanah ini, hanya menyisakan kehancuran dan reruntuhan.


Tiba-tiba, ruang di atas tanah tandus itu terkoyak dengan dahsyat.


Celah itu tidak terbuka perlahan, juga tidak retak dengan tenang; melainkan, celah itu terbuka paksa dari dalam oleh kekuatan yang dahsyat.


Sebuah retakan hitam pekat muncul entah dari mana, seperti luka yang dibelah oleh pedang raksasa tak terlihat, membentang hingga puluhan kaki.


Api ungu berkobar di tepi retakan, melompat dan mendistorsi tatanan ruang itu sendiri. Kemudian, seberkas cahaya ungu melesat keluar dari retakan tersebut.


Cahaya itu tidak menyilaukan, tetapi memancarkan rasa tercekik dan penindasan.


Saat api itu meletus dari celah, lahan tandus sejauh bermil-mil di sekitarnya bergetar.


Puing-puing di tanah terpental ke atas, udara mengeluarkan suara dengung yang tajam, dan kedua bulan di langit tampak sedikit meredup.


Cahaya itu jatuh pada sebuah bukit rendah di tanah tandus dan perlahan memudar.


Sesosok figur berdiri tegak di puncak bukit.


Dia mengenakan jubah biru dan memiliki pedang panjang yang tergantung di pinggangnya.


Posturnya tegak seperti pohon pinus, dan bahunya kokoh seperti gunung.


Angin meniup jubahnya, membuatnya berkibar, tetapi dia tetap diam, seperti patung batu yang telah berdiri di sana sejak zaman dahulu kala.


Dia mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang dingin dan tegas, dengan fitur-fitur setajam seolah diukir dengan pisau dan kapak, serta sudut-sudut yang jelas.


Ciri yang paling mencolok adalah matanya, yang bukan berwarna hitam atau cokelat seperti biasanya, melainkan sepasang mata ungu, sedalam jurang tak berdasar, dengan energi kacau yang mengalir di dalamnya.


Ia dikelilingi oleh aura ungu samar, cahaya yang tidak mencolok tetapi membuat orang takut untuk menatap langsung ke arahnya.


Itu bukanlah tekanan yang dilepaskan secara sengaja, melainkan aura yang terpancar secara alami.


Ini adalah dampak susulan dari kekuatan kekacauan yang mengalir melalui tubuh.


Gempa susulan ini saja sudah memberikan tekanan yang sangat besar pada lahan tandus di sekitarnya, yang membentang hingga ratusan meter.


Retakan-retakan halus muncul di tanah, seolah-olah telah dihancurkan oleh kekuatan tak terlihat.


Semua kotoran di udara akan ditolak, sehingga menciptakan ruang yang murni.


Pedang Pembunuh Naga tergantung di pinggangnya, pola-pola kuno pada sarungnya berkilauan dingin di bawah sinar bulan.


Pedang itu sedikit bergetar, mengeluarkan dengungan yang dalam. Itu adalah roh pedang yang bersemangat, merasakan perubahan pada tuannya dan kekuatan yang beberapa kali lebih besar dari sebelumnya.


Dave memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.


Energi spiritual dari Surga Keenam Belas mengalir deras ke meridiannya.


Tipis sekali, sungguh tipis, lebih dari sepuluh kali lebih tipis daripada Surga Ketujuh Belas.


Potongan-potongan hukum tersebut bahkan lebih langka, hampir tidak ada.


Namun, dia sangat mengenal udara, atmosfer, dan setiap jengkal tanah di sini.


Lembah Bebas.


Aliansi Dewa.


Penjara Black Rock.


Penjara Api Merah.


Penjara Bawah Tanah Utara.


Jejak kakinya terukir di setiap inci tanah ini.


Setiap kota memiliki musuhnya masing-masing.


Darahnya tertumpah di setiap pertempuran.


Dia pernah diburu, dicari, dan dikepung di sini.


Rekan-rekannya tewas di sini, dan tubuhnya hancur di sini.


Sekarang, dia kembali.


Dia perlahan membuka matanya. Di mata ungunya, tidak ada amarah, tidak ada niat membunuh, hanya ketenangan mutlak.


Ketenangan itu lebih mengerikan daripada niat membunuh yang penuh kekerasan, karena itu berarti setiap orang yang menghalangi jalannya telah dijatuhi hukuman mati dalam pikirannya.


Kekuatan kekacauan beredar di dalam dirinya, dan gelombang tak terlihat menyebar keluar dari dirinya.


Kecerdasan ilahinya menyebar seperti gelombang pasang, meliputi area seluas ribuan mil.


Setiap batu, setiap inci tanah, dan setiap embusan angin di Wilayah Utara Surga Keenam Belas berada dalam persepsinya.


Dia merasakan banyak aura.


Sebagian cahaya terasa sangat kuat, seperti di arah aula utama Aliansi Dewa, di mana cahaya suci menyatu menjadi lautan emas, dan aura suci yang menyengat dapat dirasakan bahkan dari jarak ratusan mil.


Sebagian samar, tersebar di seluruh tanah tandus, tersembunyi di pegunungan yang dalam, dan terselubung di dalam gua. Ini adalah sisa-sisa prajurit Lembah Bebas yang hilang, para penyintas Ras Roh, dan para kultivator yang telah ditindas oleh Ras Dewa tetapi belum menyerah.


Indra ilahinya menyapu aula utama Aliansi Dewa, menembus lapisan-lapisan penghalang dan menjangkau jauh ke dalam aula.


Lalu dia merasakan aura itu.


Sangat redup. Sangat redup hingga hampir padam, seperti lilin yang berkedip-kedip tertiup angin.


Aura itu mengandung begitu banyak hal: rasa sakit, kelelahan, dan keputusasaan, tetapi inti sarinya tetap sama: semangat yang pantang menyerah, kemauan orang itu, dan penantian orang itu yang terus berlanjut.


Agnes.


Dia masih hidup.


Dave menarik kembali indra ilahinya, kilatan dingin terpancar dari mata ungunya.


Sesaat kemudian, dia melompat ke udara.


Tidak ada pengumpulan energi, tidak ada segel tangan, dan tidak ada penggunaan teknik apa pun.


Dengan sentuhan ringan jari kakinya, ia berubah menjadi seberkas cahaya ungu, melesat ke langit.


Kecepatannya begitu tinggi sehingga hanya bayangan ungu samar yang tersisa di tanah tandus itu.


Bayangan itu hanya bertahan kurang dari sekejap sebelum menghilang, sementara dirinya sendiri telah lenyap di kejauhan, terbang menuju arah aula utama Aliansi Dewa.


Kecepatannya sangat luar biasa sehingga melesat menembus udara.


Ledakan sonik yang tajam menggema di udara, seperti guntur yang tak terhitung jumlahnya yang meraung bersamaan.


Awan-awan terbelah secara paksa di belakangnya, membentuk lorong lurus di mana bersemayam kekuatan ungu yang kacau.


Di permukaan tanah, beberapa kultivator lepas yang bersembunyi di lembah sedang berlatih secara diam-diam.


Mereka mendengar dentuman sonik yang mengguncang bumi, dan ketika mereka mendongak, mereka melihat seberkas cahaya ungu melintas di langit, bergerak begitu cepat sehingga mereka hanya bisa melihat garis ungu samar.


“Hah.... Apa...apa itu?” tanya seorang kultivator muda dengan suara gemetar.


Kultivator yang lebih tua itu menyipitkan mata dan menatap lama, lalu ekspresinya tiba-tiba berubah.


Bibirnya bergetar, dan butuh waktu lama baginya untuk mengucapkan dua kata.


“Da... Dave Chen”.


…………


Aula Utama Aliansi Dewa.


Lampu-lampunya terang, dan tempat itu ramai dengan orang-orang.


Seluruh aula mencakup area seluas beberapa ribu kaki persegi dan seluruhnya terbuat dari giok putih. Mutiara-mutiara berkilauan yang tak terhitung jumlahnya bertatahkan di atap, menerangi aula seolah-olah di siang hari.


Pilar-pilar di dalam aula diukir dengan pencapaian para dewa, yang secara jelas menggambarkan penindasan mereka terhadap semua ras, kekuasaan atas enam belas surga, dan penyebaran cahaya suci.


Setiap mural menceritakan tentang kekuatan dan keagungan Aliansi Dewa.


Penghalang pelindung aula utama tetap aktif sepanjang waktu, dengan sembilan lapisan cahaya keemasan yang melindungi seluruh aula. Rune yang tak terhitung jumlahnya berkelap-kelip di perisai, memancarkan energi pertahanan yang kuat.


Lapangan itu dipenuhi oleh tiga ribu kultivator dewa, semuanya mengenakan baju zirah dan dipersenjatai dengan senjata. Cahaya suci berputar-putar di sekitar mereka, mengubah seluruh aula menjadi lautan emas.


Pattinson Wei duduk di atas singgasana emas.


Singgasana itu setinggi tiga zhang dan terbuat dari emas murni. Sembilan batu cahaya seukuran kepalan tangan tertanam di bagian belakang singgasana.


Dari singgasana, seluruh istana terbentang di hadapannya. Ia adalah pemimpin Aliansi Dewa, sosok kekuatan terkuat di Surga Keenam Belas, memimpin ratusan ribu kultivator dan prajurit perkasa yang tak terhitung jumlahnya di bawah komandonya.


Di sini, dia adalah raja tertinggi.


Namun saat ini, jari-jarinya yang kurus sedang mengetuk-ngetuk sandaran tangan ke atas dan ke bawah, menghasilkan suara ketukan yang kering dan monoton.


Suara itu bergema di aula, membuat semua biksu yang berdiri merasakan perasaan tertekan yang aneh.


Ekspresi Pattinson Wei berubah-ubah antara cerah dan muram.


Alisnya berkerut, matanya bengkak, dan matanya merah. Dia belum tidur selama beberapa hari.


Kedua Tetua Agung itu pergi ke Surga Ketujuh Belas, dan sudah lama tidak ada kabar tentang mereka.


Meskipun ancaman terbesarnya, Dave, tubuh fisiknya dihancurkan oleh dua Tetua Agung, jiwanya disegel di dalam Mutiara Penekan Jiwa.


Dia tidak akan tenang selama jiwanya masih ada.


“Pemimpin Aliansi.”


Seorang kultivator dewa melangkah memasuki aula utama, langkah kakinya bergema di seluruh aula dengan sedikit nada tergesa-gesa.


Wajah biksu itu pucat pasi saat ia berlutut di lantai, dahinya menempel pada ubin lantai yang dingin.


“Seorang utusan dari perbatasan utara telah mengirimkan laporan mendesak.”


Suaranya bergetar, “Sebuah garis cahaya ungu melesat menuju aula utama dengan kecepatan luar biasa. Ketika pengintai melihat cahaya itu di Puncak Huiyan, jaraknya masih 500 mil. Tetapi tepat saat dia selesai menulis laporan mendesak itu, cahaya tersebut sudah berada dalam jarak 300 mil.”


Seketika itu juga, aula tersebut diselimuti keheningan yang mencekam.


Semua biksu yang berdiri menghentikan apa yang sedang mereka lakukan, dan semua tetua mengangkat kepala mereka.


Cahaya suci keemasan masih berkelap-kelip, tetapi entah mengapa, aula itu tiba-tiba menjadi agak dingin.


Jari-jari Pattinson Wei, yang sedang mengetuk sandaran tangan, tiba-tiba berhenti.


Jari telunjuk melayang di udara, sedikit bergetar.


“Diduga siapa?” Suaranya dingin, sangat dingin sehingga tidak terdengar seperti suara orang yang hidup.


“Diduga…” Kultivator itu menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun tiga kali, “Diduga adalah Dave Chen.”


Dave Chen.


Dua kata ini bagaikan belati es, menusuk ke dalam hati setiap orang.


Wajah Pattinson Wei langsung pucat pasi.


Butiran keringat halus muncul di dahinya, mengalir ke pipinya dan menetes ke singgasana emas.


Dave?


Mustahil! 


Tubuh fisik Dave telah hancur oleh kedua Tetua Agung, dan jiwanya disegel dalam Mutiara Penekan Jiwa dan dibawa ke Surga Ketujuh Belas.


Bagaimana mungkin dia bisa kembali ke Surga Keenam Belas dengan tubuh fisiknya yang utuh?


Tapi jika bukan Dave, lalu siapa?


Di Surga Keenam Belas, siapa yang berani dengan lancang terbang menuju Aula Agung Aliansi Dewa?


Selain itu, cahaya ungu adalah warna khas Dave.


Pattinson Wei tiba-tiba berdiri, jubah emasnya berkibar meskipun tanpa angin. “Sampaikan perintah! Semua pasukan siaga! Aktifkan semua pembatasan! Segera aktifkan bentuk pamungkas formasi pelindung gunung!”


Dia hampir meraung saat memberi perintah, “Siapa pun yang datang ke sini, siapa pun yang menerobos masuk ke aula utama Aliansi Ras Dewa, bunuh mereka tanpa ampun!”


“Baik!”


Suara terompet yang panjang dan melengking terdengar di aula, nadanya yang dalam dan mendesak membawa rasa penindasan yang membuat semua kultivator dewa merasa gelisah.


Perintah itu disampaikan ke seluruh aula secepat mungkin.


Di alun-alun, tiga ribu anggota elit dari ras dewa dengan cepat membentuk barisan, dan cahaya suci keemasan bersinar dari setiap kultivator, menerangi seluruh alun-alun dengan cahaya keemasan yang menyilaukan.


Pembatasan diaktifkan lapis demi lapis, bukan sembilan lapis, melainkan dua belas lapis.


Ini adalah bentuk pertahanan pamungkas dari Aula Aliansi Dewa, dengan dua belas lapisan perisai cahaya suci yang ditumpuk satu di atas yang lain, setiap lapisan terdiri dari ratusan rune, cukup untuk menahan serangan penuh dari Dewa Emas tingkat pertama.


Perisai cahaya itu semakin menebal, cahaya keemasan menjadi semakin intens, dan rune-rune berkelebat liar, menyelimuti seluruh aula sepenuhnya.


Dua belas lapisan pembatasan ini mewakili fondasi yang terakumulasi dari Aliansi Dewa selama puluhan ribu tahun. Sejak istana dibangun, lapisan-lapisan ini belum pernah diaktifkan sepenuhnya karena belum pernah bertemu musuh yang mengharuskan pengaktifannya secara penuh.


Namun, hari ini berbeda.


Karena Dave yang datang.


Pattinson Wei berdiri di depan singgasana, menatap langit di luar aula. Jantungnya berdebar kencang hingga rasanya akan meledak dari dadanya, tetapi ia menekan rasa takutnya dan tidak membiarkan siapa pun melihatnya.


Dia adalah pemimpin Aliansi Dewa dan penguasa Surga Keenam Belas; dia tidak boleh panik.


Suasana di aula semakin mencekam. Seorang tetua tak kuasa menahan diri untuk angkat bicara: “Pemimpin Aliansi, mungkin ini hanya lelucon dari kultivator nakal, atau mungkin para pengintai salah menilai. Tubuh fisik Dave sudah...”


“Diam!”


Pattinson Wei menyela perkataannya.


Suaranya sedingin es.


Karena cahaya ungu itu sudah muncul di tepi langit.


Itu bukan seberkas cahaya; itu adalah bintang jatuh, bintang jatuh yang melesat ke bawah.


Ia meninggalkan jejak api ungu yang panjang, menghancurkan semua awan di jalurnya.


Api di bagian ekornya membentang hingga ratusan kaki, meninggalkan jejak ungu lurus di langit yang bertahan lama.


Kecepatannya sungguh luar biasa; sesaat sebelumnya jaraknya seratus mil, dan sesaat kemudian sudah berada dalam jarak sepuluh ribu mil.


Seluruh aula utama Aliansi Dewa bergetar.


Itu bukanlah gempa bumi, melainkan perasaan penindasan yang luar biasa yang terpancar dari cahaya itu.


Dua belas lapisan pembatasan itu secara bersamaan memancarkan dengungan yang menusuk telinga, dan rune pada perisai cahaya berkedip-kedip liar, seolah-olah merasakan semacam ancaman yang menghancurkan.


Para kultivator dewa di alun-alun mulai gemetar tanpa sadar, senjata mereka berdentang di tangan mereka.


Mereka sangat terlatih, tetapi di tengah tekanan yang begitu besar, pelatihan selama ribuan tahun menjadi lelucon.


Jegeerrrrrr...


Cahaya ungu itu jatuh tepat di lapangan yang berada tepat di depan aula utama.


Saat cahaya memudar, sesosok muncul di tengah-tengah tiga ribu anggota elit dari ras dewa.


Ia mengenakan jubah biru panjang dan bersih, tanpa noda. Sebuah pedang panjang tergantung di pinggangnya, sarungnya kuno dan sederhana, bilahnya berkilauan dengan cahaya ungu samar.


Ia berdiri di atas trotoar giok di alun-alun, sosoknya tegak dan gagah, seperti sebuah gunung.


Wajahnya tampak tegas, memancarkan ketenangan yang tidak dimiliki orang biasa.


Yang paling mencolok adalah matanya.


Sepasang mata berwarna ungu.


Warna ungu itu bukanlah ungu biasa; itu adalah warna kekacauan, warna awal waktu.


Cahaya ungu berputar-putar di pupil matanya, seperti dua jurang ungu tanpa dasar.


Tak seorang pun bisa membaca apa pun dari mata itu; tidak ada kemarahan, tidak ada niat membunuh, bahkan tidak ada emosi sama sekali.


Hanya ada satu jenis ketenangan mutlak yang penuh keputusasaan.


Dia dikelilingi oleh lapisan aura ungu tembus pandang.


Aura itu sangat sunyi, saking sunyinya hingga hampir tidak tampak hidup.


Namun, justru keheningan inilah yang menyebabkan kedua belas lapisan pembatasan itu bergetar.


Aura keemasan itu rapuh seperti kertas di hadapan kehadirannya.


Tingkat kultivasinya berada di peringkat keenam Alam Abadi Agung.


Di Aula Utana Aliansi Dewa, tempat para Dewa Agung berada di mana-mana, ini tampaknya tidak dianggap sebagai nilai yang terlalu tinggi.


Namun, tak satu pun dari tiga ribu anggota elit ras dewa itu berani melangkah maju.


Karena mereka merasakan sesuatu, rasa takut yang datang dari lubuk jiwa mereka, reaksi naluriah seekor kelinci yang bertemu dengan seekor harimau, keputusasaan mangsa yang melihat pemburunya.


Entah mengapa, kultivasi Alam Abadi Agung tingkat enam itu lebih menakutkan daripada kultivator Alam Abadi Agung tingkat sembilan puncak mana pun yang pernah mereka lihat.


“Dave.”


“Itu benar-benar Dave.”


Pattinson Wei berdiri di aula utama, menatap sosok kesepian di alun-alun melalui penghalang cahaya, wajahnya pucat pasi seperti kertas.


Bibirnya gemetar, jari-jarinya gemetar, dan bahkan detak jantungnya pun gemetar.


“Kau...kau...bagaimana bisa kau...”


Suaranya serak, dipenuhi rasa tak percaya, “Bukankah tubuh fisikmu telah hancur? Bukankah jiwamu telah disegel? Bagaimana mungkin kau...?”


Dave tidak menjawabnya.


Dia bahkan tidak menatap Pattinson Wei.


Dia hanya mengangkat tangan kanannya, telapak tangan menghadap ke atas.


Seberkas api ungu menari-nari di telapak tangannya.


Api itu hanya sebesar kepalan tangan, tetapi sangat terang, membuat wajahnya menjadi ungu.


Api tersebut memiliki suhu yang luar biasa tinggi, menyebabkan udara di sekitarnya terdistorsi dan berubah bentuk, membentuk riak-riak yang terlihat.


Suara nyala api yang berkedip-kedip sangat samar sehingga hampir tidak terdengar, tetapi setiap kedipan menyebabkan dua belas lapisan pembatas itu bergetar.


Nyala api itu tidak mencolok; bahkan, nyala api itu cukup tenang.


Namun tersembunyi di balik keheningan itu terdapat kekuatan penghancur. Api Kekacauan, yang menekan semua kekuatan di dunia.


Dave mengangkat matanya dan menatap Pattinson Wei.


Tatapan itu tenang, sangat tenang hingga terasa menakutkan.


“Dimana Anges Jiang?”


Dia mengucapkan tiga kata.


Tidak ada ancaman, tidak ada teriakan, tidak ada perubahan emosi. Suaranya setenang seolah sedang menanyakan tentang cuaca hari ini.


Namun, tiga kata itu hampir membuat jantung Pattinson Wei berhenti berdetak.


Karena dia merasakan sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan itu—sebuah pemberitahuan kematian, sebuah salam dari Malaikat Maut.


Dave tidak menanyakan di mana dia berada; dia memberinya kesempatan untuk menyampaikan kata-kata terakhirnya.


Pattinson Wei menggertakkan gigi.


Gigi-giginya bergemeletuk, dan urat-urat di dahinya menonjol.


Dia mengerahkan seluruh tekadnya untuk menghindari pingsan di tempat.


“Dave,” ucapnya dengan susah payah, setiap suku kata bergetar, tetapi ia memaksakan diri untuk berbicara, “Kau pikir kau bisa menerobos masuk ke Aula Aliansi Dewa sendirian? Ada tiga ribu pasukan elit di sini! Dan dua belas lapis pengamanan!”


Suaranya semakin keras, seolah menggunakan volume untuk menutupi rasa takutnya, “Kau hanya seorang Dewa Abadi Agung tingkat enam, jadi bagaimana jika itu benar-benar kau? Apa kau masih berpikir ini tempat yang sama seperti sebelumnya? Kau...”


Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.


Karena Dave mengambil langkah.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️













Bukan Cuma IQ: Ini "Cheat Code" Bisnis dan Kekayaan Abdurrahman bin Auf yang Jarang Dikaji

 3 Virus Mental yang Memblokir Rezeki, dan Cara Nabi Me-Reset Otak Abdurrahman bin Auf Kenapa ulama jarang menceritakan bagian sejarah ini p...