Photo

Photo

Thursday, 6 August 2026

Perintah Kaisar Naga : 6856 - 6859

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6856-6859





* Bertemu Sang Pemimpin Agung *


‘Api ilahi’ yang dibicarakan lelaki tua itu sebelumnya tak lain hanyalah energi ekstrem yang dihasilkan oleh ledakan nuklir.


Mengenai alasan pembudidaya itu berusaha memurnikan dan meledakkan bom nuklir, Dave tidak mengetahuinya; ia harus menemui sang Pemimpin Agung untuk mencari tahu.


Seribu tahun.


Seribu tahun penuh perbudakan, eksploitasi, dan pengorbanan -- nyawa tak terhitung banyaknya manusia biasa yang dilemparkan ke dalam kobaran api layaknya bahan bakar, semua demi memberi makan sosok yang disebut-sebut sebagai dewa yang angkuh dan berkuasa.


Ia membuka matanya; kilatan dingin yang samar bergolak di dalam iris ungunya, namun ekspresinya tetap tenang tanpa cela.


Dave menatap lelaki tua itu, nadanya sedikit melunak: "Siapa namamu?"


Lelaki tua itu terperanjat; tampaknya sudah sangat lama tidak ada yang menanyakan namanya. 


Bibirnya bergerak sebelum ia menjawab dengan suara serak: "Nama keluargaku Gu; namaku  Gugun Gu. Orang-orang memanggilku Gu tua."


"Gugun Gu."

Dave mengulangi nama itu dan mengangguk pelan. "Aku akan mengingat apa yang kau katakan tadi."


Secercah cahaya melintas di mata Gugun yang keruh -- sebuah percikan yang tiba-tiba mekar dalam kegelapan, samar namun terasa sangat panas membara.


Ia membuka mulut seolah hendak berbicara, namun pada akhirnya hanya mengangguk dengan penuh semangat, sementara tangannya yang keriput mencengkeram erat tongkat kayunya.


Tepat saat ini, seorang prajurit menyadari ada sesuatu yang ganjil. 


Seketika itu juga, pupil matanya mengecil tajam, dan seluruh tubuhnya menegang kaku.


" Hei... Siapa di sana!"


Prajurit itu tiba-tiba mengarahkan senapan panjangnya tepat ke arah Dave yang berada di lereng tanah, lalu berteriak dengan tegas. 


Suaranya, yang diperkeras oleh alat menyerupai pengeras suara, menggema di padang pasir yang luas dan sunyi: "Jangan bergerak! Angkat tanganmu di atas kepala! Turunlah perlahan!" 


Teriakan tajam itu bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam danau, seketika memicu riak gelombang yang tak terhitung jumlahnya. 


Belasan prajurit di dekat sana berbalik serentak; laras senjata mereka yang gelap mengarah tepat ke sosok berpakaian abu-abu di atas gundukan tanah itu.


Udara dipenuhi suara denting logam -- bunyi khas mekanisme senjata yang sedang dikokang -- suara yang membuat bulu kuduk meremang.


Para pengungsi yang tadinya mengantre makanan bergegas berjongkok dan melindungi kepala mereka karena ketakutan luar biasa, tubuh mereka gemetar hebat. 


Ada yang menutupi mata anak-anak mereka, sementara yang lain mendekap erat mangkuk usang ke dada, meringkuk rapat karena takut terjebak dalam baku tembak.


Pria tua itu jatuh berlutut, tubuhnya gemetar saat memohon kepada Dave, "Utusan, tolong... angkat tanganmu! Peluru itu tidak punya mata; mereka tidak peduli siapa yang mereka tembak."


Dave berdiri di atas gundukan tanah, seolah tuli terhadap kata-kata pria tua itu. 


Mata ungunya menyapu dengan tenang ke arah laras senjata yang mengarah padanya; ekspresinya tetap datar, tanpa ketegangan ataupun sikap defensif.


Dia berdiri tak bergerak, jubah abu-abunya berkibar lembut ditiup angin. 


Aura ketenangan mutlak yang dipancarkannya membuat laras senjata mematikan itu tampak tak lebih dari sekadar mainan anak-anak -- sama sekali tidak layak mendapat perhatiannya.


Dia hanya mengangkat satu tangan perlahan, ujung jarinya bergerak sedikit. 


Tidak ada gelombang energi spiritual yang meluap, tidak ada pertunjukan kekuatan supranatural yang menyilaukan -- hanya aura kendali mutlak yang tampak begitu mudah dilakukan.


Melihat penolakan Dave untuk tunduk, prajurit di barisan depan merasakan kilatan niat kejam dan menarik pelatuk senjatanya.


Di matanya, pemuda berpakaian aneh ini hanyalah seorang pengembara tak dikenal; keberaniannya menentang perintah layak diganjar hukuman seketika.


Duaaaarrrr...


Suara tembakan yang memekakkan telinga memecah kesunyian yang berkabut, menghancurkan keheningan mencekam di tanah tandus itu.


Sebuah peluru kuningan, yang berputar dengan kecepatan tinggi hingga membara, melesat membelah udara menempuh jarak puluhan langkah, mengarah tepat ke tengah dahi Dave!


Peluru itu melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak bayangan samar yang lenyap seketika -- terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata telanjang manusia biasa, apalagi untuk direspons.


Namun, bagi indra Dave yang telah terasah tajam, lintasan peluru itu tampak seolah diperbesar seratus kali lipat; setiap inci pergerakannya terlihat jelas dan terasa sangat lambat, bahkan menampakkan guratan-guratan halus pada permukaannya.


Setelah selamat dari tak terhitung banyaknya pertarungan hidup-mati melawan serangan yang jauh lebih ganas daripada ini, ia memandang serangan semacam itu tak lebih dari seekor semut yang mencoba mengguncang pohon raksasa.


Ia tidak menghindar. Ia tidak bergerak sedikit pun.


Ia bahkan tidak berkedip.


Saat peluru itu menghantam ruang tepat tiga inci di hadapannya, sebuah selubung cahaya kelabu pucat tiba-tiba muncul. 


Tipis bagaikan sayap jangkrik dan mengalir lembut layaknya air, cahaya itu tidak memancarkan kilau menyilaukan, namun memancarkan aura kekokohan kuno yang tak tergoyahkan.


Jebreeet...


Begitu peluru -- yang sarat dengan energi kinetik dahsyat -- menabrak penghalang itu, rasanya seolah-olah peluru tersebut menghantam dinding batu yang tak bisa dihancurkan; peluru itu seketika berhenti, berubah bentuk, memipih, lalu hancur berkeping-keping.


Itu runtuh menjadi hujan serpihan kuningan yang melayang diam ke tanah tanpa menimbulkan suara apa pun -- seolah-olah tembakan itu tidak pernah diletuskan sama sekali.


Selubung cahaya itu berkilau sesaat sebelum akhirnya memudar, hanya menyisakan aroma samar debu logam di udara sebagai bukti bahwa peristiwa itu nyata, bukan sekadar halusinasi.


Keheningan yang mencekam menyelimuti tempat kejadian.


Prajurit yang melepaskan tembakan itu tetap mematung dalam posisi menembak, tangannya masih mencengkeram senjata, namun matanya terbelalak karena syok dan pandangannya kosong tak fokus; ia berdiri kaku seolah terkena mantra kelumpuhan, pikirannya kosong dan ia bahkan lupa cara bernapas.


Senjata yang dipegang oleh belasan prajurit lainnya sedikit bergetar. 


Beberapa berdiri dengan mulut ternganga, gigi mereka gemeretak hingga terdengar jelas.


Kaki yang lain gemetar hebat hingga nyaris tak mampu menopang tubuh saat lutut mereka lemas; 


Ada pula yang menatap dengan pandangan kosong dan napas tersengal, hampir menjatuhkan senjata mereka, sementara wajah mereka menyiratkan ketakutan luar biasa dan ketidakpercayaan. 


Para pengungsi, yang sebelumnya berjongkok sambil mendekap kepala dengan tangan, kini mengangkat pandangan mereka; 


Mata mereka yang tadinya kosong dan tak berjiwa tiba-tiba menyala dengan kilau yang tak terlukiskan -- campuran antara keterkejutan, kekaguman yang membuat gemetar, harapan, dan rasa takzim yang mendalam.


Ada yang terkesiap tanpa sadar dengan tubuh gemetar; 


Ada yang menutup mulut untuk menahan isak tangis saat air mata mengalir di pipi mereka; 


Ada pula yang jatuh berlutut, menempelkan dahi ke tanah berpasir, tubuh mereka gemetar hebat tak terkendali.


Kemudian, bagaikan deretan kartu domino yang tumbang, satu demi satu sosok jatuh berlutut.


Gedebuk-


 Gedebuk-


 Gedebuk-


Para prajurit menjatuhkan senjata mereka dan bersujud dengan suara benturan keras, menekan dahi kuat-kuat ke pasir, gemetar bagaikan dedaunan yang ditiup angin.


Suara mereka sarat akan ketakutan luar biasa dan pengabdian mutlak: "Utusan Dewa... Utusan Dewa! Sang Utusan Dewa telah turun! Mohon ampuni kami, Utusan Dewa! Kami buta dan bodoh -- kami berani menyinggung keagungan-Mu!"


Mereka belum pernah menyaksikan pemandangan yang begitu ajaib -- peluru bahkan tak mampu menggores kulit sedikit pun. 


Kekuatan semacam itu adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh para dewa dalam legenda.


Para pengungsi itu sudah bersujud dengan wajah menempel ke tanah, tak berani mengangkat kepala. 


Beberapa menangis pilu, bersujud sembari meracau tak karuan: "Utusan Dewa! Utusan Dewa, lindungilah kami! Tolong, berikan kami berkah-Mu! Tolong, selamatkan kami!"


Di tanah penuh keputusasaan ini, mereka telah lama menggantungkan harapan pada dewa-dewa yang tak kasat mata; 


Kemunculan tiba-tiba Dave bagaikan seberkas cahaya di tengah kegelapan, menawarkan kesempatan untuk bertahan hidup.


Alis Dave berkerut tipis, hampir tak terlihat.


Dia mengangkat tangannya sedikit. 


Suaranya tenang dan dingin, namun membawa resonansi yang kuat dan menembus kalbu, terdengar jelas di telinga setiap orang bagaikan titah agung dari langit: "Bangkitlah."


Tidak ada emosi berlebihan, tidak ada sikap yang dibuat-buat untuk menunjukkan kekuasaan, namun satu kata sederhana itu memancarkan wibawa memerintah yang alami dan agung.


Getaran hebat menjalar ke seluruh tubuh orang-orang yang sedang berlutut di tanah; rasa takut dan takzim yang muncul dari lubuk jiwa mereka semakin memuncak, namun tak seorang pun berani membangkang.

 

Prajurit yang melepaskan tembakan pertama tadi mengangkat kepalanya dengan gemetar; jejak air mata membasahi wajahnya, bibirnya bergetar, dan suaranya terdengar parau: "U-Utusan Dewa... Aku...Aku pantas mati... Aku tidak tahu bahwa Anda yang telah turun ke sini..."


Mata ungu Dave menatapnya dengan tenang. 


Nada suaranya datar -- tanpa nada mencela namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan: "Aku tidak butuh kau meminta maaf. Antar aku menemui Pemimpin Agung kalian."


Dia perlu segera mengetahui apakah Pemimpin Agung ini seorang pembudidaya, dan jika ya, dari mana asalnya.


Prajurit itu gemetar, bergegas bangkit berdiri, dan membungkuk berulang kali -- hingga hampir sembilan puluh derajat -- dengan sikap penuh hormat: "Baik, baik! Utusan Dewa, silakan ikuti aku! Pemimpin Agung berada di Kota Inti; aku akan segera mengantar Anda ke sana!"


Dia berlari menuju kendaraan lapis baja besar berwarna hijau keabu-abuan di dekat situ, bergegas masuk ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin; kendaraan itu mengeluarkan suara gemuruh rendah yang berat, dan bodinya mulai bergetar pelan.


Brum-brum. 


Prajurit-prajurit lain, yang diliputi rasa takjub dan gentar, membuka pintu belakang, membungkuk dalam-dalam, dan memberi isyarat hormat: "Utusan Dewa, silakan naik ke kendaraan!"


Dave memandang kendaraan lapis baja berbentuk kotak dengan roda logam itu dan sedikit mengangkat alisnya.


Dunia sekuler juga memiliki hal serupa -- bukankah namanya mobil lapis baja?


Dave menggelengkan kepala pelan dan tidak naik. 


Sebaliknya, pandangannya menyapu ke arah landasan pendaratan di kejauhan seraya bertanya dengan tenang, "Apakah kalian memiliki kendaraan terbang?"


Dia bisa terbang melintasi angkasa, menempuh jarak seribu mil dalam sekejap; kendaraan lapis baja ini terlalu lambat untuk memenuhi kebutuhannya. 


Jika ia menaikinya, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Kota Inti. 


Prajurit itu sempat terpana sejenak, lalu mengangguk dengan penuh semangat dan buru-buru menjawab, "Ya, ya! Silakan ikuti aku, Utusan Dewa!"


Tanpa berani menunda sedikit pun, ia segera memimpin jalan dengan langkah cepat sembari sesekali menoleh ke arah Dave, khawatir akan menyinggung perasaan sang Utusan Dewa yang tangguh ini.


Tak lama kemudian, sebuah pesawat terbang berukuran besar dengan bentuk unik perlahan naik dari landasan pendaratan di kejauhan dan melayang tepat di hadapan Dave.


Pesawat itu berukuran masif, seluruhnya terbuat dari logam, dengan sayap panjang yang membentang di kedua sisinya.


Api berwarna biru pucat menyembur dari bagian ekornya, menghasilkan suara gemuruh rendah; badan pesawat dipenuhi jaringan pipa dan instrumen yang rapat, memancarkan kesan teknologi canggih yang kuat.


Pintu pesawat terbuka, dan Dave melangkah masuk dengan langkah tenang dan tidak terburu-buru.


Interior kabin tampak sederhana dan fungsional, menampilkan deretan kursi logam yang tertata rapi serta jendela-jendela bulat yang menyuguhkan pemandangan ke luar; udara di dalamnya tercium samar aroma minyak mesin.


Dave memilih kursi di dekat jendela dan memandang ke arah daratan di bawah; mata ungunya setengah terpejam dan ekspresinya tampak tenang.


Para prajurit di dalam kabin berdiri tegak dengan sikap sempurna, bahkan tak berani bernapas dengan suara keras; 


Mata mereka memancarkan rasa takzim, dan mereka tidak memiliki keberanian untuk sekadar melirik Dave, karena sangat takut menyinggung Utusan yang memiliki kekuatan ilahi yang tak terbayangkan itu.


Pesawat perlahan naik dan menambah kecepatan, sementara kota logam raksasa itu perlahan mengecil dan menjauh di kejauhan.


Dave dapat melihat tak terhitung banyaknya menara logam yang menjulang tinggi menembus awan, berdiri rapat memenuhi permukaan tanah.


Setiap menara menyerupai roket raksasa yang diletakkan dalam posisi mendatar; bagian dasarnya terhubung dengan jaringan pipa dan ban berjalan, sementara lengan mekanis raksasa serta pintu palka tertutup tampak di dekat puncaknya.


Skala dan jumlah menara-menara itu jauh melampaui perkiraan awal Dave; sejauh mata memandang, bentang alam yang membentang hingga ratusan mil itu dipenuhi oleh struktur baja serupa.


Ribuan menara logam berdiri bagaikan hutan baja yang sunyi, memancarkan aura dingin dan kelam di bawah langit kelabu yang berkabut. 


Skalanya sungguh mencengangkan -- jauh lebih luar biasa dibandingkan bangunan tertinggi di dunia sekuler, serta lebih megah daripada istana mana pun milik Ras Dewa di Surga ke-21.


Pada menara-menara itu, setiap paku keling, setiap sambungan las, dan setiap jaringan pipa memperlihatkan tanda-tanda keahlian industri yang luar biasa.


Itu adalah hasil karya peradaban berteknologi sangat maju -- jauh berbeda dari peradaban berbasis kultivasi yang dikenal Dave, namun memiliki kemegahan unik dan memukau tersendiri.


Pesawat itu bergerak sangat lambat di ketinggian rendah; mesinnya mengeluarkan suara dengungan rendah yang konstan, dan badan pesawat sedikit bergetar.


Dave sedikit mengernyitkan dahi; bagi seorang pembudidaya, kecepatan ini terasa sangat lambat -- hampir seperti merangkak.


Menempuh jarak sekitar seribu kilometer dalam satu jam berarti kecepatannya bahkan tidak sampai sepersepuluh dari kecepatan yang bisa ia capai saat terbang menggunakan kekuatannya sendiri.


Ia menyandarkan tubuh di kursi logam dengan mata ungu yang setengah terpejam, sementara indra ilahiahnya menjalar ke bawah untuk memindai negeri asing ini, berusaha menggali lebih banyak informasi tentang dunia tersebut.


Melihat ekspresi Dave yang datar -- namun menyiratkan sedikit ketidaksabaran -- prajurit yang mendampinginya segera melangkah maju dan bertanya dengan hormat, "Tuan Utusan Dewa, apakah kamu memiliki instruksi?"


Ia merasa cemas, khawatir kalau-kalau laju pesawat yang lambat itu telah menyinggung sosok agung di hadapannya.


Dave membuka mata ungunya dan melirik prajurit itu dengan tenang, nadanya datar: "Seberapa jauh jarak dari sini ke Kota Inti? Dengan kecepatan ini, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai?"


Ia tidak sengaja menunjukkan ketidaksenangan, namun memancarkan aura wibawa alami yang seketika membuat seluruh tubuh prajurit itu menegang.


Prajurit itu segera menundukkan kepala untuk menjawab, suaranya menyiratkan kehati-hatian: "Melapor kepada Tuan Utusan Dewa, jarak kita ke Kota Inti masih lebih dari lima ribu mil. Dengan kecepatan pesawat ini, dibutuhkan waktu sekitar lima jam lagi untuk mencapai tujuan."


Begitu ia selesai bicara, ia melihat dahi Dave sedikit berkerut. 


Hatinya mencelos, dan ia buru-buru menambahkan, " Yang mulia, Mohon maafkan aku, Tuan Utusan Dewa. Pesawat kami ini sudah merupakan kendaraan tercepat di Cinderlands; sungguh mustahil untuk menambah kecepatan lagi..."


" Hmm .. Lima jam.."


Sebuah pikiran muncul di benak Dave; bagi dirinya, kecepatan seperti itu benar-benar membuang-buang waktu. 


Setelah hidup selama berabad-abad, ia terbiasa melintasi jarak yang sangat jauh dalam sekejap mata dengan cara terbang; 


Kini, karena harus terkurung di dalam kendaraan yang bergerak lambat ini, ia mau tak mau merasa perjalanan itu membosankan. 


Di dunia yang hampa akan energi spiritual ini, kekuatannya tidak memiliki batasan apa pun; esensi Kekacauan Primordial di dalam dirinya bergejolak dengan kekuatan penuh, memberinya kecepatan yang jauh melampaui kendaraan teknologi milik manusia fana ini -- jadi, mengapa harus membuang-buang waktu di sini?


Ia perlahan bangkit berdiri; jubah abu-abunya berkibar lembut di dalam kabin, dan aura yang menyelimutinya menjadi semakin pekat dan mendalam, namun tak ada sedikit pun energi spiritual yang bocor keluar.


Hanya dengan memancarkan wibawa alaminya saja, seluruh prajurit di dalam kabin itu seketika jatuh berlutut, gemetar ketakutan hingga tak berani mengangkat kepala.


"Terlalu lambat."

Dave berucap dengan tenang; suaranya tidak keras, namun terdengar sangat jelas di telinga setiap orang. "Aku tidak punya waktu untuk membuang-buang waktu di sini."


Begitu kata-kata itu terucap, Dave bergerak, melangkah lurus menuju pintu kabin.


Diliputi ketakutan luar biasa melihat hal itu, para prajurit buru-buru bersujud dan memohon, "Tuan Utusan Dewa, jangan lakukan itu! Ketinggian di luar sana mencapai sepuluh ribu meter; melompat berarti tubuh akan hancur berkeping-keping! Kami mohon Anda untuk mempertimbangkannya kembali!"


Mereka tidak bisa membayangkannya -- bagi manusia fana, melompat dari ketinggian seperti itu berarti kematian yang pasti -- namun tindakan Dave membuat mereka tidak berani menyimpan keraguan sedikit pun.


Mengabaikan upaya mereka untuk mencegahnya, Dave mengibaskan tangannya dengan ringan; pintu kabin seketika terbuka, dan embusan angin kencang menerobos masuk, membawa serta bau menyengat dari asap industri.


Wuuzzzz...


Dengan satu lompatan, sosok berbalut jubah abu-abu itu lenyap ke dalam kehampaan di luar -- melayang turun bagaikan sehelai daun yang jatuh, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. 


Dengan perasaan ngeri, para prajurit bergegas menuju jendela pesawat dan melihat ke luar, hanya untuk mendapati sosok Dave sedang melayang di ketinggian sepuluh ribu meter.


Jubahnya berkibar tertiup angin dan postur tubuhnya tegak; ia tampak seperti dewa yang turun dari langit. 


Meski tanpa perlengkapan pelindung apa pun, ia berdiri sangat kokoh di tengah hamparan udara kosong.


Detik berikutnya, Dave mengangkat tangannya dengan telapak menghadap ke atas. 


Sebuah kekuatan tak kasat mata melonjak diam-diam -- tidak ada cahaya menyilaukan ataupun aura yang menekan.


Namun, pesawat yang berbobot puluhan ton itu tiba-tiba berhenti seketika dan sedikit miring, seolah-olah ditopang oleh tangan raksasa yang tak terlihat.


Sosok Dave bergerak mengikuti pesawat. 


Dengan tatapan mata ungu yang tenang, ia berucap pelan; suaranya menembus pintu kabin dan sampai ke telinga para prajurit: "Berpeganglah dengan erat."


Wuuzzzz....


Begitu kata-kata itu terucap, Dave tiba-tiba melesat cepat. 


Kilatan cahaya kelabu muncul seketika, mendorong pesawat melaju ke depan dengan kecepatan tinggi.


Kecepatan itu jauh melampaui batas kemampuan asli pesawat; rasanya seperti meteor yang melesat membelah langit berkabut. 


Udara di sekitar badan pesawat terkoyak seketika, menciptakan suara siulan yang melengking tajam.


Di dalam kabin, tubuh para prajurit terhempas keras ke kursi akibat akselerasi mendadak tersebut. 


Mereka mencengkeram sandaran tangan dengan erat; wajah mereka pucat pasi, sementara mata mereka memancarkan keterkejutan dan keputusasaan.


Mereka dapat merasakan dengan jelas pesawat itu melaju kencang dengan kecepatan yang tak masuk akal.


Pemandangan di luar jendela tampak kabur saat melesat mundur; perjalanan yang biasanya memakan waktu lima jam kini terpangkas drastis berkat bantuan Dave.


Melalui jendela pesawat, mereka menyaksikan Dave melesat di depan -- jubah kelabunya berkibar tertiup angin, dan postur tubuhnya memancarkan wibawa yang agung. 


Dia tampak bagaikan dewa yang menguasai langit dan bumi, sementara pesawat yang mereka tumpangi tak lebih dari sekadar mainan di tangannya. 


Gelombang ketakutan hebat melanda para prajurit; mereka gemetar tak terkendali hingga kehilangan kendali atas kandung kemih dan usus mereka -- noda basah dengan cepat menyebar di celana mereka, memenuhi kabin dengan bau pesing dan menyengat yang tajam.


Ada yang berteriak histeris, ada yang membekap mulut dengan tangan gemetar, bahkan ada yang pingsan seketika; 


Namun, di tengah kepanikan itu, sebagian orang tetap memusatkan pandangan pada sosok Dave di depan sana, mata mereka dipenuhi rasa takjub dan penghormatan yang mendalam.


Mereka tak pernah membayangkan adanya kekuatan sedahsyat itu di dunia ini.


Seorang individu yang mampu mengangkat kendaraan seberat puluhan ton dan melintasi jarak yang sangat jauh dalam sekejap mata. 


Kekuatan semacam itu hanya dimiliki oleh para dewa.


....


Hanya dalam hitungan menit, mereka telah menempuh jarak lebih dari lima ribu mil.


Dave perlahan berhenti dan menurunkan kendaraan itu dengan lembut hingga mendarat mulus di landasan Kota Inti.


Pintu kabin terbuka, dan Dave melangkah keluar landasan lebih dulu. 


Jubah abu-abunya tampak bersih tanpa noda dan napasnya tetap teratur; pencapaian luar biasa yang baru saja dilakukannya itu tampak seperti usaha sepele baginya, tanpa menyisakan sedikit pun rasa lelah.


Butuh waktu cukup lama bagi para prajurit untuk memulihkan kesadaran mereka. 


Mereka terkulai lemas di kursi, bermandikan keringat dengan wajah pucat pasi dan tatapan kosong -- seolah-olah mereka baru saja selamat dari pengalaman hidup-mati yang mengerikan.


Sambil bergegas keluar dari kendaraan, mereka segera bersujud begitu melihat Dave, menempelkan dahi ke tanah sembari gemetar hebat.


Suara mereka sarat akan ketakutan luar biasa dan rasa hormat yang mendalam: "Tuan Utusan Dewa, kekuatanmu sungguh tiada tara! Kami sungguh buta dan berani menyinggungmu -- kami memohon ampunanmu!"


Mengabaikan ketakutan mereka, Dave hanya mengalihkan pandangannya ke arah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menembus awan; sorot mata penuh perenungan melintas di balik tatapan ungu miliknya.


Dia dapat merasakan dengan jelas adanya aura samar namun tajam yang memancar dari dalam gedung itu -- sebuah kehadiran yang sedang mengawasinya, penuh dengan niat menyelidik dan sorot mata yang penuh penilaian.


Dia mulai melangkah perlahan menuju gedung pencakar langit tersebut; 


Langkahnya santai dan auranya terkendali, namun ia tetap memancarkan kewibawaan agung yang jauh melampaui segala makhluk hidup. 


Para prajurit segera bangkit dan mengikuti dengan penuh hormat, tidak berani menunjukkan kelalaian sedikit pun; di dalam hati, mereka telah menganggap Dave sebagai sosok yang setara dengan dewa dan sama sekali tidak berani membangkang.


Melihat sikap hormat para prajurit serta penampilan khas Dave, para penjaga gedung segera menurunkan kewaspadaan dan membungkuk sedikit sebagai tanda hormat; 


Tak seorang pun berani melangkah maju untuk memeriksa identitasnya atau mengajukan pertanyaan apa pun.


Lift bergerak dengan kecepatan luar biasa, mencapai lantai paling atas tanpa sedikit pun guncangan vertikal yang terasa.


Pintu lift bergeser terbuka, menyingkapkan koridor panjang berkarpet merah tua; di ujungnya berdiri sebuah pintu logam raksasa.


Pola geometris yang rumit terukir di permukaan pintu, berpusat pada sebuah lambang lingkaran seukuran telapak tangan -- desain yang membuat Dave terhenti sejenak.


Sembilan aliran cahaya keemasan saling melilit membentuk cincin, menyerupai sembilan matahari yang berkobar dan menyatu, sementara bentuk pupil vertikal yang samar berada tepat di tengahnya.


Dia pernah melihat motif serupa di antara reruntuhan Istana Klan Dewa di benua Tianshu.


Itu adalah lambang khas Klan Dewa, yang melambangkan kekuasaan tertinggi dan keagungan dewa yang tak boleh diganggu gugat.


Rasa waspada muncul dalam diri Dave, meskipun ekspresinya tetap datar tanpa emosi.


Dia melangkah mendekati pintu, dan panel logam raksasa itu bergeser terbuka tanpa suara ke kedua sisi.


...


Di baliknya terbentang aula penthouse yang sangat luas; jendela setinggi langit-langit menutupi seluruh dinding luar, menyuguhkan pemandangan kota di bawahnya.


Di tengah aula berdiri sebuah meja besar berwarna hitam dan emas; di baliknya duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah berwarna emas tua.


Pria itu tampak berusia sekitar lima puluh tahun; ia memiliki wajah yang berwibawa, rambut yang tertata rapi, dan janggut pendek yang dipangkas dengan apik.


Matanya sangat tajam, memancarkan tatapan tenang namun menyelidik -- ciri khas seseorang yang telah lama memegang kekuasaan besar.


Begitu Dave masuk, kilatan cahaya keemasan samar melintas jauh di dalam mata pria itu sebelum lenyap seketika -- begitu cepat hingga orang mungkin menganggapnya hanya sebagai tipuan cahaya.


Dave mengangkat matanya yang berwarna ungu, tatapannya beradu dengan tatapan tajam pria itu di udara di antara mereka.


Dia bisa merasakan dengan jelas aura samar hukum Klan Dewa yang beredar di sekeliling pria itu -- aura yang sengaja ditekan dan disembunyikan melalui teknik rahasia tertentu.


Namun, bagi Dave -- yang telah mengolah Asal-Usul Kekacauan hingga mencapai tahap transformasi sempurna -- aura itu tampak mencolok bagaikan nyala lilin di tengah kegelapan; mustahil untuk disembunyikan.


Pria itu duduk di balik meja hitam-emas dengan kedua tangan bertaut di atas permukaannya, mempertahankan sikap tenang dan terkendali. 


Dia mengamati Dave, secara halus mengulurkan indra ilahinya untuk menyelidiki latar belakang tamu tak diundang ini. 


Saat mendeteksi aura Kekacauan Primordial -- yang intensitasnya sangat seimbang -- menyelimuti Dave, kilasan keterkejutan samar melintas di matanya, namun dengan cepat berganti menjadi kewaspadaan dan sikap siaga yang sulit digambarkan.


"Siapa kau..?"


Pria itu berbicara dengan suara rendah dan dingin, memancarkan tekanan penuh wibawa yang khas bagi seseorang yang telah memegang kekuasaan mutlak selama ribuan masa. "Mengapa kau datang ke dunia ini?"


Dave tidak menjawab; sebaliknya, ia melangkah maju dengan tenang dan terukur, ujung jubah abu-abunya menyapu permukaan karpet dengan lembut.


Langkahnya tidak terburu-buru, namun membawa bobot tak kasatmata yang seolah membuat udara di aula itu terasa berat dan hening. 


Sepasang mata ungunya terus tertuju pada wajah sang Pemimpin Agung; tatapannya sedingin embun beku dan sama sekali tanpa emosi.


"Seorang kultivator dari Klan Dewa."


Dave berucap dengan nada tenang namun penuh keyakinan mutlak. "Seorang Dewa Emas Luo Agung tingkat tiga puncak yang menekan kultivasinya demi bersembunyi di dunia tanpa energi spiritual ini, serta memperbudak manusia biasa selama seribu tahun. Aku ingin bertanya padamu: apa yang dilakukan seorang Dewa Emas Luo Agung yang terhormat sepertimu di tempat ini?"

 

Ekspresi pria itu sedikit berubah; kilatan cahaya keemasan tiba-tiba melintas di matanya yang tajam, seperti binatang buas yang titik lemahnya baru saja disentuh.


Dia perlahan bangkit berdiri, ujung jubah emas gelapnya menyapu lantai. 


Dia tidak lagi menahan auranya; pancaran cahaya ilahi berwarna emas mulai memancar dari dalam dirinya, membasuh pencahayaan putih dingin di aula itu dengan rona emas pucat.


Wajah paruh baya yang sebelumnya tampak tenang dan berwibawa layaknya seorang cendekiawan berubah menjadi keras dan mengancam dalam sekejap; alisnya memancarkan aura keangkuhan dan superioritas yang khas bagi para pembudidaya Klan Dewa.


"Urusanku bukan urusanmu."


Suaranya merendah, menjadi berat dan dingin. 


Sikap menyelidik yang terukur sebelumnya telah lenyap; kini yang tersisa hanyalah permusuhan terang-terangan dan kekuatan yang menekan. "Sedangkan kau -- pembudidaya rendahan yang entah muncul dari mana -- berani menerobos wilayahku dan bertindak begitu lancang..."


Dia kembali mengerahkan indra ilahinya. 


Kali ini, dia tidak berusaha menyembunyikannya; sebaliknya, menggunakan teknik penyelidikan khas Klan Dewa, dia menghunjamkannya dengan tajam dan presisi ke arah dantian Dave, berusaha memastikan tingkat kultivasi yang sebenarnya.


Dave tidak menghalanginya, membiarkan indra ilahi itu menyelidiki tepian inti esensinya. 


Dia bahkan secara sukarela melepaskan sedikit auranya -- aura seorang Dewa Emas Tingkat Delapan -- agar pria itu bisa melihatnya dengan jelas.


Saat merasakan aura tersebut, kilatan keterkejutan melintas di mata pria itu, namun segera digantikan oleh rasa remeh dan penghinaan yang mendalam. 


Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai dingin yang mengejek. 


"Cuuiih... Dewa Emas Tingkat Delapan? Hadeeehh... Aku mengira sosok yang mampu menembus penghalang ruang untuk memasuki alam ini adalah tokoh yang mengguncang dunia; ternyata, kau hanyalah seorang junior di Alam Dewa Emas." 


Dia perlahan melangkah keluar dari balik meja, jubah emas gelapnya berkibar hebat. 


Dia tidak lagi menahan auranya; tekanan agung dari seorang Dewa Emas Luo Agung tingkat Tiga tingkat puncak melonjak keluar bagaikan gelombang pasang, membuat meja, kursi, dan lampu di aula itu bergetar.


Tekanan itu -- yang mengandung Hukum khas Ras Dewa, memiliki dominasi mutlak yang menekan segala hukum lain serta wibawa yang tak tergoyahkan -- menghantam Dave layaknya palu berat yang nyata.


Dia berkata, "Aku telah berkultivasi dalam pengasingan selama seribu tahun dan enggan menggerakkan satu jari pun. Namun, karena seekor semut telah datang sendiri ke ambang pintuku, tak ada salahnya aku memanfaatkanmu untuk mengusir kebosanan."


Saat pria itu berbicara, dia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan merentangkan jari-jarinya. 


Seberkas cahaya ilahi berwarna emas, yang dipadatkan hingga batas maksimal, memancar keluar dari telapak tangannya. 


Cahaya itu berubah menjadi bilah cahaya yang merobek kehampaan dengan momentum dahsyat, melesat lurus ke arah dada Dave.


Bilah cahaya ini membawa kekuatan penuh dari serangan seorang Dewa Emas Luo Agung tingkat Tiga tingkat puncak, yang diperkuat oleh sifat destruktif dari Hukum Ras Dewa.


Seorang pembudidaya Dewa Emas biasa -- bahkan dengan segudang kemampuan ilahi dan teknik rahasia pelindung -- akan mengalami kehancuran fondasi Dao dan tewas seketika akibat serangan semacam itu.


Dave tetap berdiri teguh tanpa bergerak sedikit pun; dia bahkan tidak melirik ke arah bilah cahaya yang melesat ke arahnya.


Dia hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai dan mengepalkan jari-jarinya secara ringan.


Seketika itu juga, bilah emas tersebut -- yang dipadatkan hingga ekstrem dan cukup kuat untuk menembus gunung -- berhenti mendadak tepat tiga inci di depan telapak tangan Dave.


Seolah-olah ada tangan raksasa tak kasat mata yang mencengkeramnya dengan erat; bilah itu mengeluarkan suara dengungan nyaring yang menusuk telinga, sementara permukaannya yang keemasan bergetar hebat dan berpendar tak menentu.


Pupil mata pria itu menyusut tajam.


Dave merapatkan kepalan tangannya.


Kraaak...


Bilah emas itu hancur berkeping-keping -- layaknya bejana kaca -- berubah menjadi serpihan emas yang menyebar ke segala arah; dalam sekejap mata, serpihan itu lenyap tak berbekas, bahkan tanpa menimbulkan gelombang kejut sedikit pun. 


" Oh ini ya seorang Dewa Emas Luo Agung Tingkat Tiga Puncak?"


Dave perlahan mengangkat mata ungunya untuk menatap wajah sang Pemimpin Agung -- yang tiba-tiba membeku karena terkejut -- lalu berkata dengan nada suara yang sama sekali tidak menunjukkan emosi: "Hanya itu saja?"


Begitu kata-kata itu terucap, sosok Dave lenyap seketika dari tempatnya berdiri.


Tidak ada peringatan, tidak ada gerakan persiapan, dan tidak ada lonjakan energi spiritual yang menjadi pertanda.


Dia seolah menguap begitu saja ke udara, menghilang sepenuhnya dari pandangan mata pria itu.


Bulu kuduk pria itu menegang seketika. 


Ia segera mengerahkan indra ilahinya -- kemampuan khas seorang Dewa Emas Luo Agung -- hingga batas maksimal, menyelimuti seluruh aula dalam upaya putus asa untuk melacak sosok yang baru saja menghilang itu.


Namun, indra ilahinya tidak menemukan apa pun selain kehampaan; ia bahkan tidak bisa mendeteksi jejak samar Dave, seolah-olah pria itu sama sekali tidak ada di ruang tersebut.


Sesaat kemudian, sebuah kekuatan dahsyat yang tak tertahankan -- berat dan menghimpit, seakan langit dan bumi sedang runtuh -- tiba-tiba menghantam tengkuknya.


Jebreeet...


Sebuah tangan yang ramping namun kuat bertengger ringan di tengkuknya. 


Jari-jarinya sedikit melengkung, dan di ujungnya, energi Kekacauan berwarna abu-abu-ungu tampak berputar dan berkilat -- siap menerkam layaknya bilah tak kasat mata yang mengancam lehernya.


Pria itu mematung; keringat dingin membanjiri punggungnya, dan napasnya tercekat seketika.


Ia ingin berbalik, melakukan serangan balik, serta mengerahkan seluruh kekuatan kultivasinya untuk menghantam sosok di belakangnya. 


Namun, begitu tangan itu menyentuhnya, sebuah kekuatan purba yang mengerikan -- yang jauh melampaui tingkat kekuatannya sendiri -- turun menimpanya bagaikan jaring tak terlihat.


Kekuatan itu menyegel meridian, Dantian, dan fondasi spiritualnya sepenuhnya, membuatnya tak mampu mengerahkan sedikit pun kekuatan ilahi.


"Kamu..." 


Suara pria itu menyiratkan ketakutan dan kemarahan yang tak tertutupi, namun ucapannya terputus tiba-tiba.


Sebab, tangan itu sedikit mengencang, dan energi Kekacauan kelabu-ungu di ujung jari-jarinya melilit leher pria itu layaknya rantai nyata, membuatnya mustahil untuk mengucapkan satu kalimat utuh.


Dave muncul kembali di belakang pria itu. 


Jubah kelabunya berkibar di udara dan tatapan mata ungunya tetap tenang saat ia memandang rendah -- dengan aura keunggulan mutlak -- ke arah sosok yang disebut Dewa Emas Luo Agung itu, yang kini telah ia taklukkan sepenuhnya hanya dengan satu tangan. 


Nada suaranya tetap tenang, seolah-olah ia sedang membahas hal sepele: "Aku bertanya, kau menjawab. Ucapkan satu kata omong kosong saja, dan kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada dasar kultivasi sepuluh ribu tahun milikmu itu."


Pupil mata pria itu menyusut tajam; rasa dendam dan penghinaan yang mendalam berkecamuk di matanya. 


Namun, kekuatan Kekacauan Primordial yang mengalir dari tangan itu memperjelas satu hal baginya:


Pemuda di hadapannya -- yang tampak hanya berada di Tingkat Kedelapan Alam Dewa Emas -- memiliki kemampuan bertarung sejati yang jauh melampaui apa yang tersirat dari tingkat kultivasinya yang terlihat.


Rasa dominasi yang luar biasa itu -- yang mampu menghancurkan lawan lintas tingkatan dan menentang hukum alam itu sendiri -- mengingatkannya pada sosok-sosok monster kuno yang pernah ia temui di Surga ke-22, makhluk-makhluk yang telah melegenda sejak zaman dahulu kala.


"Si...Siapa sebenarnya kau ini?" 


Pria itu berhasil memaksakan kata-kata keluar, suaranya serak dan gemetar.


"Kau tidak perlu tahu."


Dave berbicara dengan nada dingin. "Aku bertanya padamu: siapa kau? Mengapa kau berada di dunia ini? Mengapa kau memperbudak manusia biasa di sini selama seribu tahun? Dan apa sebenarnya tujuan dari apa yang disebut 'Menara Pengorbanan' itu?"


Tubuh sang Pemimpin Agung menegang. 


Emosi yang rumit bergejolak di dalam mata emasnya -- penghinaan, dendam, ketakutan, dan pergulatan batin untuk menimbang pilihan... 


Setelah terdiam sejenak, ia akhirnya angkat bicara: "Memangnya kau pikir kau siapa? Apa kau pikir kau bisa..."


Dave tidak berkata apa-apa; ia memberikan sedikit tekanan dengan ujung jarinya. 


Seutas energi Kekacauan yang sangat pekat -- setipis jarum -- menembus masuk ke dalam meridian sang Pemimpin Agung. 


Energi itu secara presisi menembus Meridian inti, melewati Dantian-nya dan menghantam tepian fondasi spiritualnya.


Kekuatannya tidaklah besar, namun hal itu menimbulkan rasa sakit yang menyayat dan luar biasa hebat hingga membuat tubuh pria itu tersentak keras. 


Keringat dingin seketika membanjiri dahinya, dan wajahnya berubah pucat pasi.


"Sudah kubilang: jangan bicara omong kosong."

Suara Dave tetap tenang, namun niat membunuh yang tersimpan di balik ketenangan itu jauh lebih mengerikan daripada raungan atau ancaman apa pun.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️








Perintah Kaisar Naga : 6852 - 6855

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6852-6855






* Dunia Baru : Cinderland *

 

Tak lama kemudian, ia mendeteksi suatu anomali.


Dia dengan cepat menyadari keanehan tersebut.


Jauh di bagian terdalam kehampaan ini, terdapat sebuah lipatan ruang yang sangat samar.


Lipatan itu hampir tak dapat dibedakan dari kehampaan itu sendiri -- nyaris tak terdeteksi -- seandainya saja Asal-Usul Kekacauan milik Dave tidak mengalami transformasi sempurna dan persepsi indra ilahinya tidak melampaui batas kemampuannya.


Jika seorang Dewa Emas Luo Agung tingkat puncak datang ke sini untuk menyelidiki, mereka pasti akan menganggapnya sebagai fluktuasi alami akibat arus kehampaan yang bergejolak.


Dave bergerak seketika; seberkas cahaya kelabu melintasi kehampaan yang luas, mendarat tepat di hadapan lipatan ruang tersebut.


Dari jarak dekat, ia dapat merasakan dengan jelas aura ruang yang samar namun mendalam memancar dari kedalaman lipatan itu. 


Itu adalah ciri khas hukum Surga ke-22 -- aura yang jauh lebih berat, lebih luas, dan lebih agung dibandingkan hukum Surga ke-21.


Tergantung diam di tengah kehampaan itu adalah sebuah celah ruang berbentuk oval, dengan lebar sekitar satu zhang (sekitar 3 meter) dan berwarna kelabu serta putih; celah itu menyerupai kelopak mata tertutup milik mata raksasa yang telah tertidur selama berabad-abad.


Tepi celah itu dihiasi dengan pola-pola hukum ruang kuno yang samar dan sulit dipahami. 


Setiap garis menyimpan misteri mendalam yang melampaui berbagai alam dan mencakup langit, memancarkan tekanan halus yang membuat siapa pun ragu untuk menatapnya secara langsung.


Itu adalah Mata Kekosongan.


Mata ungu Dave tertuju pada jalan kuno yang sedang tertidur ini. 


Saat merasakan aura Surga ke-22 yang samar namun sangat jelas memancar dari kedalaman celah tersebut, ia menjadi yakin akan apa yang ada di hadapannya.


Namun, ekspresinya sama sekali tidak mengendur; kata-kata Tetua Dunia Bawah masih terngiang di telinganya, dan indra ilahinya menangkap kenyataan situasi tersebut dengan jelas. 


Meskipun Mata Kekosongan sedang tidak aktif, kekuatan segel yang membuatnya tertidur itu sangat dahsyat dan kuno; mustahil baginya untuk membangunkan atau membukanya secara paksa seorang diri.


Kekuatan segel ini memiliki asal-usul yang sama dengan esensi primordial langit dan bumi yang telah terakumulasi di Langit Tujuh Bintang selama berabad-abad; jelas sekali, segel itu telah dipasang pada zaman dahulu kala untuk menutup jalan lintas tersebut.


Sebuah gagasan tiba-tiba muncul di benak Dave -- reruntuhan di Langit Tujuh Bintang.


Kekuatan dari reruntuhan kuno yang tersembunyi di masing-masing dari ketujuh benua itu, jika disatukan dan diselaraskan, mungkin bisa menjadi kunci untuk membangunkan Mata Kekosongan.


Dia segera berbalik arah, melintasi kehampaan untuk kembali ke pusat Benua Tianshu yang sudah menjadi kepulauan.


.... 


Kilatan cahaya kelabu turun ke sebuah pulau yang baru terbentuk. 


Aura Dave sedikit bergejolak saat dia memancarkan gelombang kesadaran ilahi yang jelas ke arah tertentu -- tanpa disembunyikan, menyapu seluruh pulau.


Tak lama kemudian, sesosok tubuh yang diselimuti energi iblis berwarna hitam dan emas melesat naik dari pulau yang jauh dan bergerak cepat ke arahnya.


Wajah Zeke tampak pucat; luka-lukanya belum sepenuhnya sembuh dan sisa-sisa energi iblis masih menyelimuti tubuhnya, namun tatapan matanya tetap tajam dan semangatnya teguh.


Dia mendarat dengan mantap di hadapan Dave, mengerucutkan bibirnya sedikit, lalu berkata dengan tenang: "Kau mencari ku?"


Dave tidak berbasa-basi; dia langsung menyampaikan tujuannya: "Aku membutuhkan kekuatanmu. Esensi primordial dari reruntuhan Benua Tianming, akan digabungkan dengan kekuatan dari lima reruntuhan lain yang telah kuserap, mungkin cukup untuk membangunkan Mata Kekosongan dan membuka jalan menuju Surga ke-22."


Nada bicaranya lugas namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan, dan dia tidak menyembunyikan tujuannya sedikit pun.


Zeke terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk perlahan dengan suara tegas: "Baiklah."


Dia tidak berniat bertanya mengapa, ataupun memedulikan apa keuntungan yang mungkin didapatnya.


Dave meminta bantuannya, maka dia akan membantu.


Ini bukan soal balas budi ataupun dendam. 


Itu hanyalah pilihan naluriah seorang kultivator yang menghadapi tingkat eksistensi yang lebih tinggi, sekaligus langkah yang diperlukan dalam perjalanannya sendiri untuk menjadi lebih kuat dan mengejar Dave.


Saat ini juga, Aemon tiba dari kejauhan dengan menaiki pedang terbangnya; rambut putih dan jubah Taoisnya berkibar tertiup angin, raut wajahnya tampak serius, dan aura Taois yang menyelimutinya terlihat agak tidak stabil.


Setelah mendengar percakapan antara Dave dan Zeke, ia mengelus janggutnya sambil berpikir sejenak sebelum berkata perlahan dengan nada yang menyiratkan kekhawatiran: "Jika kekuatan dari Reruntuhan Langit Tujuh Bintang terkumpul sepenuhnya, keberhasilan pasti akan tercapai. Namun situasi saat ini... jauh dari kata menggembirakan, saya khawatir tidak optimis.."


Dave menatapnya, ada sedikit keraguan di mata ungunya: "Mengapa?"


Aemon melanjutkan, "Benua Yao Guang adalah mata rantai terlemah di antara Langit Tujuh Bintang dan yang pertama kali runtuh serta hancur total.” 


“Saat benua itu hancur, esensi primordial kuno di dalam reruntuhan Yaoguang tidak diserap atau dimurnikan oleh siapa pun; sebaliknya, energi itu menyebar dan melesat ke kedalaman kehampaan, lalu lenyap tanpa jejak.” 


"Kini, saat kamu mencoba mengumpulkan semua kekuatan reruntuhan Langit Tujuh Bintang, satu mata rantai itu hilang, dan aku khawatir..."


Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, namun maknanya jelas: dengan hilangnya satu mata rantai kekuatan, tidak ada kepastian apakah gerbang itu bisa dibuka.


Ekspresi Zeke sedikit berubah saat mendengar hal ini. 


Ia sangat paham bahwa kekuatan dari Reruntuhan Langit Tujuh Bintang berasal dari sumber yang sama dan saling bergantung; tanpa kekuatan dari reruntuhan Yaoguang, mungkin mustahil untuk membangkitkan Mata Kekosongan.


Dave tetap tenang, tatapannya dalam dan mantap tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun saat ia menggelengkan kepala perlahan: "Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya."


Apa pun hasilnya, ia harus mencobanya; ini adalah satu-satunya jalan baginya menuju Surga ke-22.


Setelah itu, ia mengibaskan tangannya, dan gelombang energi kekacauan berwarna abu-abu berubah menjadi berkas cahaya pekat yang melesat lurus ke arah celah ruang yang sedang tidak aktif di kedalaman Sabuk Langit Berbintang.


Berkas cahaya itu mengandung esensi primordial murni dari lima reruntuhan -- yang sangat besar, kuat, dan sarat dengan aura Taois kuno -- saat melintasi kehampaan yang jauh untuk mengunci posisi Mata Kekosongan secara presisi.


Zeke mengikuti tepat di belakangnya.


Gelombang energi iblis berwarna hitam-emas menyembur deras darinya, memadat menjadi seberkas cahaya iblis hitam pekat yang melesat berdampingan dengan pancaran energi kekacauan abu-abu milik Dave; kedua energi itu bersinar selaras. 


Di tengah pendaran energi iblis tersebut, energi kuno dari Reruntuhan Tianming -- yang membawa sifat dominan dan berat khas ras Iblis -- melonjak dan beresonansi dengan kekuatan Kekacauan; bersama-sama, keduanya mengalir deras menuju Mata Kekosongan.


Dua aliran kekuatan itu melintasi kehampaan luas, menghantam tepat pada Mata Kekosongan dan seketika membangunkan segel yang selama ini tertidur.


Mata Kekosongan itu bergetar hebat!


Kelopak matanya yang tertutup bergerak-gerak tajam; lipatan ruang berwarna putih kelabu berpilin liar dan mengembang dengan cepat!


Pola-pola hukum kuno yang tak berujung menyembur keluar dari kedalaman celah tersebut -- saling bertumpuk, mengunci satu sama lain, dan dengan cepat menyusun ulang formasi -- memancarkan cahaya menyilaukan yang mengguncang seluruh gugusan bintang.


Namun, kekuatan itu tiba-tiba meredup, seolah kehabisan tenaga; proses pengembangan Mata Kekosongan pun terhenti seketika.


Setelah berjuang selama beberapa saat, mata itu mulai perlahan menyusut dan menutup kembali. 


Kekuatan penyegel kembali mendominasi, berusaha untuk kembali ke keadaan tidurnya.


"Kekuatannya tidak cukup!"


Ekspresi Zeke berubah drastis. 


Energi iblis hitam-emasnya melonjak dan menguat dengan liar -- butiran keringat mulai muncul di dahinya -- saat ia berusaha menutupi kekurangan tersebut. "Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!"


Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa gabungan kedua energi itu tidak cukup kuat untuk mengguncang segel tersebut; ada satu elemen krusial yang hilang.


Wajah Aemon memucat; ia menggelengkan kepala berulang kali, nadanya menyiratkan keputusasaan. "Persis seperti dugaanku! Tanpa dukungan kekuatan reruntuhan yang hilang itu, jalan ini tidak mungkin bisa dibuka sepenuhnya! Kekuatan dari Tujuh Reruntuhan Langit Tujuh Bintang memiliki asal-usul yang sama dan saling bergantung -- tidak ada satu pun yang bisa ditiadakan. Dengan hilangnya kekuatan Yaoguang, kita tidak punya cara untuk membangunkan Mata Kekosongan!"


Tatapan mata Dave menajam. 


Merasakan tarik-menarik antara upaya perlawanan Mata Kekosongan itu dan proses penarikannya kembali, energi Kekacauan Primordial di dalam dantian-nya bergetar hebat dan berputar hingga batas maksimal, berjuang keras untuk melepaskan lebih banyak kekuatan demi mengisi kekosongan tersebut.


Namun, persis seperti yang dikatakan Aemon, meskipun ia memiliki kekuatan primordial dari lima reruntuhan kuno -- yang dipadukan dengan kekuatan reruntuhan Tianming milik Zeke -- ia baru berhasil mengumpulkan enam kekuatan yang dibutuhkan.


Elemen reruntuhan Yaoguang yang hilang belum juga ditemukan; tanpa keenam kekuatan tersebut untuk membentuk resonansi yang utuh, mustahil untuk memecahkan segel itu.


Karena keenam kekuatan itu belum lengkap, Mata Kekosongan menolak untuk bangkit sepenuhnya; kekuatan penyegel justru menjadi semakin stabil, dan celah dimensi mulai menyusut dengan kecepatan yang terus meningkat.


Tepat saat semua orang mengira harapan telah sirna dan kegagalan sudah di depan mata, tanda energi inti nuklir jauh di dalam dantian Dave tiba-tiba menyala terang dan mulai berdenyut hebat!


Sebuah kekuatan asing yang ganjil -- berbeda dari energi spiritual Dao Agung dan melampaui hukum-hukum langit -- melonjak deras melalui meridiannya. 


Kekuatan itu mengalir ke dalam pilar cahaya kekacauan dan menghantam langsung ke arah Mata Kekosongan!


Kekuatan ini tidaklah masif; dibandingkan dengan energi primordial kekacauan dan aura iblis hitam-emas, kekuatannya justru tergolong lemah. 


Namun, itu memiliki sifat unik yang mampu menembus dan melampaui batasan hukum langit.


Kekuatan itu asing, unik, dan melampaui segalanya; hukum dimensi yang dikandungnya sangat bertolak belakang dengan berbagai jalan kekuatan di alam semesta.


Bak baji dengan sifat berbeda yang mampu mencungkil dan membuka langit itu sendiri, kekuatan tersebut menghantam celah pada energi segel dengan presisi luar biasa, seketika menghancurkan keseimbangan segel itu.


Mata Kekosongan bergetar hebat lalu terhenti; proses penyusutannya pun seketika berhenti.


Kemudian, disertai suara gemuruh yang menggelegar, mata itu terbuka lebar dengan ledakan energi!


Sebuah celah berwarna kelabu-putih, yang awalnya hanya selebar sekitar sepuluh kaki, dengan cepat meluas, berpilin, dan terkoyak terbuka. 


Dalam sekejap mata, hal itu berubah menjadi lorong spasial elips raksasa dengan lebar seratus zhang (300 meter) yang membentang melintasi seluruh cakrawala. 


Jauh di dalam lorong itu terdapat pusaran cahaya yang mengalir, kacau dan samar; tak terhitung banyaknya pecahan ruang yang bergolak, berputar, dan saling berbenturan dengan hebat di dalamnya, memancarkan kekuatan arus kehampaan yang ekstrem dan ganas hingga membuat selaput ruang di sekitarnya bergetar dan terkoyak.


Lorong itu telah terbuka!


Namun, raut wajah Aemon yang semula menunjukkan keterkejutan yang menyenangkan seketika membeku menjadi ketakutan. 


Ia berseru, "Lorong ini... sangat tidak stabil! Gangguan terhadap hukum alam akibat hilangnya kekuatan Yaoguang terlalu parah; arus kehampaan yang ganas itu benar-benar tak terkendali! Jika kita nekat masuk, kita berisiko terkoyak oleh turbulensi itu!"


Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa hukum-hukum spasial di dalam lorong itu kacau balau -- di ambang kehancuran total.


Bahkan sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, lorong spasial raksasa itu mulai bergetar hebat; pusaran cahaya yang mengalir itu membesar dengan liar, berpilin dan berubah bentuk secara drastis.


Tak terhitung banyaknya pecahan kehampaan melesat keluar bagaikan bilah tajam, menyebabkan ruang di seluruh hamparan bintang itu berguncang dan retak sedikit demi sedikit, mengancam akan runtuh total kapan saja.


Dave mengernyitkan dahi dan mengambil keputusan seketika dengan nada tegas: "Kita masuk! Sebelum lorong ini runtuh sepenuhnya!"


Ini adalah satu-satunya kesempatan; jika dilewatkan, entah kapan lagi peluang untuk membuka lorong itu akan muncul.


Kilatan cahaya kelabu melesat tiba-tiba, menukik langsung ke dalam lorong kehampaan; diselimuti oleh kekuatan kekacauan, kilatan itu bertahan melawan turbulensi hebat di ruang hampa tersebut.


Zeke mengertakkan gigi dan membuntuti tepat di belakangnya, tubuhnya diselimuti energi iblis berwarna hitam-emas saat ia melesat masuk dengan kecepatan tinggi -- ia tidak akan mundur, bahkan jika jurang maut menanti di hadapannya.


Aemon, Yuki, Agnes, dan Tujuh Peri semuanya mengerahkan kekuatan penuh mereka dan masuk satu per satu, masing-masing menahan gempuran turbulensi tanpa berani lengah sedikit pun.


Namun, begitu mereka semua bergegas masuk ke dalam lorong tersebut, saluran kehampaan yang memang sudah tidak stabil itu tidak lagi mampu menahan kekuatan koyakan dahsyat yang menghantamnya dari dalam maupun luar.


Duaaaarrrr....


Lorong itu meledak dengan suara gemuruh yang menggelegar!


Pusaran cahaya kacau yang berputar-putar itu hancur berkeping-keping, berubah menjadi aliran turbulensi kehampaan ekstrem yang tak terhitung jumlahnya; bagaikan miliaran bilah tak terlihat yang setajam silet, aliran itu menyapu ke segala arah dalam amukan yang mencabik-cabik segalanya.


Hukum spasial di dalam lorong itu runtuh sepenuhnya, jatuh ke dalam kekacauan total dan lenyap tak berbekas.


Setiap orang yang telah masuk seketika tercabik-cabik menjadi kilatan cahaya tak terhitung jumlahnya yang melesat ke berbagai arah; bagaikan dedaunan yang gugur diterjang badai atau tanaman air yang hanyut dalam arus deras, mereka tersapu tanpa daya ke kedalaman kehampaan yang tak diketahui.


Dave merasakan gelombang turbulensi kehampaan -- sebuah kekuatan dengan besaran yang tak tertahankan -- menghantam tubuhnya; dampaknya begitu dahsyat hingga bahkan dengan tingkat kultivasinya saat ini, ia hampir tak sanggup menahannya.


Asal-Usul Kekacauan seketika meletup hingga batas maksimalnya, membentangkan lapisan demi lapisan penghalang pelindung berwarna kelabu.


Namun, kekuatan turbulen itu -- yang diperkuat oleh daya koyak dimensi dari celah antar-alam dan melampaui hukum Surga ke-21 -- dengan brutal mencabik-cabik penghalangnya lapis demi lapis, menghancurkannya sedikit demi sedikit; setetes darah ungu samar mengalir dari sudut mulutnya.


Ia berjuang sekuat tenaga untuk menstabilkan dirinya, mata ungunya menatap tajam ke arah sosok Yuki yang tampak samar di depannya, sementara hatinya dipenuhi kecemasan yang mendalam: "Yuki—!" 


Dia bisa melihat sosok Yuki terseret oleh arus turbulensi, hanyut semakin jauh, dan terus-menerus terancam terkoyak oleh kekuatan yang kacau-balau itu. 


Namun, bahkan sebelum kata-kata sempat terucap dari bibirnya, sebuah pusaran kehampaan yang sangat dahsyat tiba-tiba menganga di sampingnya, secara paksa dan seketika memisahkannya dari Yuki.


Sosok Yuki menjauh dengan cepat, memudar dan lenyap ke dalam kedalaman turbulensi yang kacau dan berkabut itu; bahkan jejak keberadaannya pun tak lagi dapat dideteksi.


Pupil mata Dave mengecil saat energi primordial yang kacau di dalam dirinya bergejolak hebat, berusaha melepaskan diri dari turbulensi itu untuk melakukan pengejaran -- namun pada saat berikutnya, gelombang turbulensi kehampaan yang jauh lebih dahsyat menghantam tubuhnya.


Gelombang itu menelannya bulat-bulat, menyeretnya pergi, dan melemparkannya ke dalam kehampaan yang luas, tak dikenal, dan tak terbayangkan.


Kesadarannya mulai mengabur, indranya tumpul, dan ia kehilangan arah sepenuhnya; segala persepsi terputus oleh arus yang ganas itu.


Satu-satunya sensasi yang tersisa memberitahunya bahwa ada kekuatan hangat yang familier memancar samar dari dalam dekapannya.


Itu adalah energi nuklir intinya -- yang terpicu secara otomatis pada saat-saat terakhir sebelum turbulensi itu menyeretnya pergi -- berubah menjadi selubung cahaya lembut yang melindungi tubuhnya dari hantaman mematikan arus tersebut.


Cahaya itu meredup, kesadarannya tenggelam, dan segala keberadaan pun larut dalam keheningan.


..... 



Dave perlahan membuka matanya.


Pemandangan yang menyambutnya adalah langit kelabu yang samar -- tanpa sinar matahari, bintang, atau sumber cahaya alami apa pun; satu-satunya penerangan berasal dari lampu buatan yang berkedip-kedip di puncak menara logam raksasa di kejauhan.


Cahaya-cahaya itu memancarkan cahaya putih dingin yang menyeramkan, menyelimuti seluruh bentang alam dalam suasana suram yang mengingatkan pada kiamat.


Ia menggerakkan jari-jarinya, dan kesadarannya segera pulih.


Meridian di seluruh tubuhnya tidak tersumbat, dan Sumber Kekacauan bersirkulasi dengan stabil; jauh di dalam dantian-nya, tanda kekuatan nuklir berdenyut samar, memancarkan kehangatan lembut yang tertinggal.


Ia perlahan bangkit duduk, menumpukan telapak tangannya ke tanah di bawahnya -- teksturnya kasar, kering, dan keras, ciri khas permukaan gurun yang terdiri dari campuran kerikil dan batuan lapuk.


Dave mengamati sekelilingnya.


Hamparan gurun berwarna cokelat kemerahan yang tak bertepi membentang di hadapannya, tanahnya tertutup kerikil halus dan pecahan batu. 


Sesekali, beberapa rumpun semak kerdil -- yang layu dan menguning hingga warna aslinya tak lagi bisa dikenali -- tumbuh dengan gigih di celah-celah tanah.


Di kejauhan berdiri struktur logam yang menjulang tinggi, masing-masing setinggi ratusan zhang. 


Rangka baja yang terbuka dipenuhi karat, dan asap hitam pekat mengepul dari puncaknya, membentuk jejak panjang dan gelap yang membubung ke langit kelabu.


Lebih jauh lagi, cerobong asap beton raksasa berdiri di atas tanah bagaikan raksasa yang membisu; di bagian dasarnya, samar-samar terlihat jaringan rumit pipa mekanis dan sabuk konveyor.


Udara terasa pekat dengan bau tajam logam dan belerang, campuran keras yang membuat tenggorokan terasa tercekik.


Dave sedikit mengernyit; bau ini tidak ada hubungannya dengan energi spiritual -- ini lebih mirip bau menyengat dari asap buangan industri.


Ia menarik napas dalam-dalam dan memastikan bahwa ia tidak dapat merasakan fluktuasi energi spiritual sedikit pun. 


Lingkungan itu kering kerontang bagaikan sumur yang telah lama mati, dan manifestasi hukum alam terasa sangat samar -- kurang dari sepersepuluh ribu intensitas yang ada di Surga ke-21. 


Dave berdiri dan menepis debu dari jubah abu-abunya; sorot mata penuh perenungan melintas di mata ungunya.


"Tempat apakah ini? Apakah ini Alam Surgawi?"


"Mustahil; Alam Surgawi tidak mungkin sekering dan segersang ini."


"Apakah ini Dunia fana? Itu pun rasanya tidak tepat; dunia fana masih memiliki matahari, bulan, dan bintang, serta gunung dan sungai -- sama sekali tidak mirip dengan hamparan tanah tandus bak kiamat yang terbentang di hadapannya.."


Kesadaran spiritualnya perlahan meluas, menyebar ke segala arah bagaikan riak tak kasat mata.


Tak lama kemudian, ia mendeteksi kumpulan tanda-tanda kehidupan yang cukup banyak pada jarak belasan mil -- sebuah kerumunan besar telah berkumpul di sana.


Sosok Dave tampak memudar; aliran kabut abu-abu menyapu keluar tanpa suara, melintasi jarak tersebut dalam sekejap mata.


... 


Ia mendarat di atas gundukan tanah rendah dan memandang ke bawah; pemandangan di hadapannya membuatnya tertegun.


Di bawah gundukan itu terhampar lahan terbuka yang datar; tanahnya telah terinjak-injak hingga padat dan keras, menerbangkan kepulan debu. 


Area luas itu dikelilingi oleh pagar kawat berkarat dan pilar-pilar beton; kawat tersebut dililiti duri tajam, menandakan tingkat keamanan yang sangat ketat.


Antrean panjang dan padat mengular di area tersebut. 


Tanpa kecuali, orang-orang -- baik pria, wanita, maupun lansia -- dalam antrean itu mengenakan pakaian compang-camping dan tampak kurus kering akibat kekurangan gizi; tulang pipi mereka menonjol, rongga mata cekung, serta kulit mereka pecah-pecah dan kasar diterpa angin dan pasir.


Wajah mereka memancarkan kelelahan yang luar biasa hingga nyaris mati rasa; tatapan mata mereka kosong, bagaikan mayat hidup. 


Mereka menggenggam erat periuk tanah liat yang sudah usang atau mangkuk besi, menunggu dalam diam pembagian makanan di bagian depan antrean.


Sesekali, terdengar suara tangisan lirih dari seorang anak, namun segera dibungkam oleh orang dewasa yang ketakutan akan mendatangkan malapetaka.


Dave menyadari bahwa orang-orang ini sama sekali tidak memiliki jejak energi spiritual, dan meridian mereka pun tidak memiliki fondasi apa pun untuk berkultivasi; mereka hanyalah manusia biasa yang sepenuhnya awam.


Namun, pakaian, penampilan, serta ketertiban mereka saat mengantre sangatlah berbeda dari apa pun yang ada di dunia sekuler.


Manusia biasa di dunia sekuler memiliki ladang untuk digarap dan pasar untuk dikunjungi; meskipun mereka mungkin tidak memiliki kebebasan tanpa beban layaknya para pembudidaya, mereka jarang jatuh ke dalam kemelaratan ekstrem seperti itu, dan mata mereka pun tidak memancarkan keputusasaan serta mati rasa yang begitu mendalam hingga ke tulang.


Di sisi kiri dan kanan iring-iringan itu, prajurit bersenjata lengkap berdiri setiap jarak sepuluh langkah.


Mengenakan seragam standar berwarna hijau tua, helm baja, dan sepatu bot militer, mereka menyandang bilah pendek standar di pinggang serta memegang senjata hitam berlaras panjang -- jenis senjata yang belum pernah dilihat Dave sebelumnya.


Senjata-senjata itu memiliki desain yang unik, perpaduan antara logam dan kayu; laras ramping menjulur dari bagian depan, sementara pelatuk dan gagang terpasang di bagian belakang.


Dengan ibu jari yang senantiasa berada di dekat pelatuk, para prajurit itu berdiri tegak dan waspada, memancarkan aura mematikan dan jelas siap menembak kapan saja.


Dave sedikit menyipitkan matanya, memusatkan indra spiritualnya pada senjata-senjata itu untuk merasakan kekuatan yang terkandung di dalamnya dengan saksama.


Dia tidak mengenali benda-benda itu; bentuknya menyerupai senjata api namun tampak lebih kasar -- mirip dengan senjata rakitan buatan para petani tua.


Apakah ini benar-benar dunia sekuler?


Namun, bagaimana mungkin dunia sekuler menampilkan pemandangan yang begitu menyerupai kiamat?


Dan dari mana datangnya menara-menara logam raksasa serta sistem industri semacam itu?


Keraguan Dave semakin dalam, meski ia tidak menunjukkannya; ia tetap diam tak bergerak di atas lereng tanah sembari mengamati aktivitas di bawah sana.


Saat ia tengah tenggelam dalam pikiran, seorang pria tua yang bersandar pada tongkat kayu di tepi iring-iringan tiba-tiba mendongak ke arah lereng.


Tatapan pria tua itu bertemu langsung dengan tatapan Dave menembus udara yang berkabut.


Awalnya ia terkejut, kilasan kebingungan melintas di matanya yang keruh, sebelum kebingungan itu berubah menjadi rasa takjub yang luar biasa.


Ia melihat seorang pemuda berdiri di puncak lereng -- mengenakan jubah abu-abu yang bersih tanpa noda, berwajah tampan, dan memancarkan aura keanggunan yang luar biasa.


Pembawaan dan penampilannya membuat sosok itu tampak sangat kontras dengan para pengungsi yang berlumuran kotoran di sekelilingnya; ia bagaikan mutiara di tengah lumpur -- memukau dan tampak sangat mencolok karena perbedaannya yang nyata. 


Mulut pria tua itu sedikit terbuka, dan tangannya yang mencengkeram tongkat kayu gemetar; tampaknya ia ingin mengatakan sesuatu namun pada akhirnya tidak berani bersuara. 


Namun, genangan air mata tampak di matanya yang keruh -- seolah-olah ia baru saja melihat secercah harapan.


Untuk sesaat, mata ungu Dave beradu pandang dengan tatapan keruh pria tua itu di tengah udara yang berkabut.


Ia bisa membaca banyak hal dari mata yang dimakan usia itu -- ketakutan, rasa mati rasa, kelelahan, dan secercah harapan yang bergetar layaknya nyala lilin tertiup angin.


Tanpa ragu, Dave melambaikan tangannya dengan lembut; pria tua itu lenyap seketika, lalu muncul kembali tepat di hadapannya.


Para prajurit dan pengungsi di sekitarnya bahkan tidak menyadari hilangnya pria tua tersebut.


Tubuh pria tua itu tersentak hebat; ia tampak sangat bingung, tak mampu memahami bagaimana ia bisa tiba-tiba berpindah ke tempat ini.


Matanya yang keruh bergerak liar ke sana kemari, dan tongkat kayu kasar di tangannya nyaris terlepas.


Secara naluriah, ia hendak berlutut -- lututnya yang renta sedikit gemetar dan goyah—sembari berkata dengan terbata-bata, "U-Utusan Dewa..."


Dave menopang lengan pria tua itu dengan lembut -- sentuhannya terasa kokoh namun tak tertolak -- menahan tubuh yang nyaris ambruk ke tanah agar tetap tegak. "Tidak perlu berlutut. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan."


Tubuh pria tua itu menegang, namun tangan yang menopang lengannya menyalurkan kekuatan yang hangat dan stabil -- bagaikan menemukan hamparan bara api di tengah musim dingin yang menggigit -- mengembalikan kehangatan pada tubuhnya yang kaku dan membeku.


Ia menelan ludah dengan susah payah; bibirnya yang kering bergerak tanpa suara sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk dengan gemetar. "Tuanku... silakan bertanya. Saya tentu tidak akan menyembunyikan apa pun yang saya ketahui."


Dave menarik kembali tangannya dan memusatkan pandangan pada wajah pria tua yang tirus dan penuh kerutan dalam itu. 


Suaranya terdengar tenang dan jelas: "Di mana tempat ini? Aku jatuh ke sini akibat badai beberapa saat yang lalu dan tidak tahu apa-apa tentang dunia ini." 


Pria tua itu sedikit terkejut.


" Hah ... Badai...? "


Dia tidak bisa mendeteksi jejak ketidakjujuran di wajah pemuda yang memancarkan aura luar biasa dan berwibawa itu; tatapan yang tenang dan terbuka membuat kewaspadaan di lubuk hatinya sedikit goyah dan mereda.


Dia membuka mulutnya, ragu sejenak, lalu akhirnya merendahkan suaranya dan berkata: "Tuan... tempat ini disebut tanah abu Cinderlands."


" Hmm... Cinderlands?" 


Dave mengulangi nama yang asing itu, matanya yang berwarna ungu sedikit bergerak.


"Ya... Cinderlands."


Suara pria tua itu serak dan parau, seolah tenggorokannya penuh dengan pasir kasar. "Aku telah tinggal di tanah ini sejak aku masih kecil. Ayahku, kakekku, kakek buyutku... generasi demi generasi, kami semua berada di sini. Tidak ada yang tahu seberapa luas wilayah ini, ataupun apa yang ada di baliknya. Kami lahir di sini dan mati di sini; sepanjang hidup kami, kami tidak pernah melangkah keluar dari bawah langit kelabu yang berkabut ini."


Dia mengangkat tangannya yang keriput dan gemetar untuk menunjuk ke arah cerobong asap raksasa di kejauhan yang memuntahkan asap hitam serta deretan menara logam yang tak berujung. "Itu... itu adalah Menara Pengorbanan. Kami penduduk Cinderlands menghabiskan seluruh hidup kami berputar di sekitar menara-menara itu. Kaum pria diseret untuk bekerja di pabrik sejak usia muda, sementara kaum wanita tinggal di gubuk untuk memperbaiki pakaian, memasak, dan mengurus rumah tangga.” 


“Bahkan anak-anak yang baru beranjak remaja -- asalkan tinggi badan mereka cukup untuk menjangkau kunci pas -- harus masuk ke pabrik.” 


“Kami mulai bekerja sebelum fajar setiap hari dan tidak diizinkan pulang sampai jauh setelah hari gelap; tidak pernah ada waktu istirahat, sepanjang tahun." 


Dave mengikuti arah jari pria tua itu. 


Di bawah langit kelabu yang berkabut, struktur-struktur baja yang menjulang tinggi itu tampak seperti raksasa bisu; bagian dasarnya dipenuhi pipa dan sabuk konveyor yang saling bersilangan, dan samar-samar terlihat sosok-sosok kecil yang tak terhitung jumlahnya bergerak sibuk di antara kerangka bangunan tersebut. 


Ia sedikit memperluas indra spiritualnya, merasakan bahwa bagian dalam menara-menara itu dipenuhi oleh energi yang sangat tidak stabil.


Energi itu terasa sangat panas, ganas, dan memiliki daya hancur yang mengerikan.


Energi tersebut memiliki kemiripan samar dengan aura dasar dari jejak kekuatan nuklir yang tersimpan jauh di dalam dantian-nya sendiri.


Hati Dave mencelos, namun ia tetap menjaga ketenangannya dan bertanya, "Untuk apa menara-menara itu?"


Ekspresi pria tua itu berubah rumit; ketakutan, kemarahan, dan rasa tak berdaya yang mendalam berkecamuk di balik matanya yang redup.


Ia melirik ke sekeliling sebelum merendahkan suaranya menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh Dave: "Untuk... untuk menciptakan 'Api Ilahi'."


" Hah... Api Ilahi?" 


Dave bertanya dengan rasa ingin tahu dihatinya.


"Itu adalah api yang meledak di puncak menara-menara itu."


Suara pria tua itu bergetar menahan emosi. "Setiap sepuluh hari, Pemimpin Agung memerintahkan agar sebuah menara pengorbanan dinyalakan. Cahaya yang menyilaukan memancar dari puncaknya, diikuti oleh suara ledakan yang memekakkan telinga... seluruh langit menjadi terang benderang, dan tanah pun berguncang. Dan orang-orang yang dikirim ke dalam untuk memicu nyala api itu... tak satu pun dari mereka pernah kembali keluar."


Mata Dave menyipit tajam. "Orang-orang yang dikirim ke dalam?"


Bibir pria tua yang pecah-pecah itu berkedut, dan matanya memerah. "Sebelum setiap menara dinyalakan, Pemimpin Agung memilih sejumlah 'persembahan' dari berbagai zona kerja." 


"Tak peduli usia atau jenis kelamin, jika nama mereka dipanggil, mereka harus pergi; sama sekali tidak ada ruang untuk melawan." 


"Mereka dikirim ke dalam menara untuk menyalakan Api Ilahi di puncaknya. Begitu api itu meledak, mereka tidak akan pernah muncul lagi." 


"Pemimpin Agung mengklaim bahwa itu adalah persembahan kekuatan bagi Dewa Tertinggi; hanya dengan menerima upeti kita, Sang Dewa akan terus melindungi Cinderlands dan membiarkan kita bertahan hidup."


Suaranya tercekat oleh emosi saat ia berbicara; 


Jari-jarinya yang keriput mencengkeram ujung tongkat kayunya begitu erat hingga telapak jarinya memutih. "Tapi aku sudah hidup lebih dari enam puluh tahun, menyaksikan gelombang demi gelombang orang di sekitarku dikirim masuk... namun perlindungan yang katanya ada itu -- di mana sebenarnya?" 


"Langit di atas Cinderlands tak pernah mengenal cahaya siang, tanahnya pun tak pernah mengenal kesuburan; orang-orang tetap saja mati, dan penyakit tetap saja menyerang. 'Api Ilahi' itu meletus dengan frekuensi yang kian meningkat, namun persediaan makanan kita justru semakin langka..."


Dave mendengarkan dalam diam, sementara gejolak perasaan yang sulit dilukiskan bergolak jauh di dalam mata ungunya.


Dari penuturan pria tua yang terputus-putus itu, ia telah berhasil menyusun gambaran umum mengenai dunia ini -- Cinderlands, sebuah tanah tandus yang sama sekali tidak memiliki energi spiritual.


Selama beberapa generasi, penduduknya telah bekerja keras di bawah kekuasaan yang menindas, melakukan pekerjaan industri yang berpusat pada pembangunan menara-menara pengorbanan yang menjulang tinggi itu.


Apa yang disebut sebagai "Api Ilahi" itu tak lebih dari sekadar fenomena pelepasan energi yang dahsyat -- dan esensi dari energi tersebut... kemungkinan besar adalah tenaga nuklir yang sangat ia kenal.


Dave mengusap ujung jarinya perlahan pada ujung lengan bajunya, menekan spekulasi yang muncul di benaknya, lalu bertanya, "Siapa Pemimpin Agung itu?"


Ekspresi pria tua itu berubah menjadi sangat rumit; sorot mata yang memadukan ketakutan dan kewaspadaan tampak jelas di matanya.


Secara naluriah, ia mundur sedikit dan merendahkan suaranya lebih dalam lagi. "Pemimpin Agung hanyalah... Pemimpin Agung. Dia berdiam di pusat Kota. Konon, dia telah hidup sangat, sangat lama -- seribu tahun, menurut beberapa cerita.” 


“Penduduk Cinderlands menjulukinya 'Keturunan Dewa', karena mereka percaya dia adalah pemilik garis keturunan dewa yang tertinggal di dunia fana, terlahir untuk memerintah segalanya. Setiap kata-katanya adalah hukum; siapa pun yang menentangnya akan menghadapi hukuman mati di depan umum.” 


“Tak seorang pun pernah melihat wajah asli Pemimpin Agung, namun pasukannya tersebar di seluruh penjuru Cinderlands. Siapa pun yang tertangkap sedang berbisik menentangnya akan diseret pergi."


"Seribu tahun?"


Dave menangkap rentang waktu spesifik yang baru saja disebutkan itu. "Kamu bilang dia telah memerintah selama seribu tahun?"


Sorot kepahitan melintas di kedalaman mata pria tua itu. "Cerita yang diwariskan sejak zaman kakek buyutku menyebutkan bahwa Sang Pemimpin Agung adalah orang yang sama dari masa lampau hingga saat ini. Meski generasi demi generasi bawahannya silih berganti, ia tak pernah menua." 


"Ada yang menganggapnya dewa, ada pula yang menyebutnya iblis, namun aku merasa..."


Ia terdiam sejenak; tatapannya yang redup tertuju pada Dave, seolah ia akhirnya menemukan seseorang untuk mencurahkan isi hatinya. 


Kata-kata yang telah ia pendam selama puluhan tahun itu pun mengalir deras bak bendungan yang jebol.


"Aku merasa bahwa Sang Pemimpin Agung -- sama halnya dengan 'Api Ilahi' itu -- sedang memangsa manusia. Ia melahap daging dan darah rakyat di Cinderlands, namun setelah seribu tahun berlalu, ia masih saja belum merasa puas," ujar lelaki tua itu.


Begitu kata-kata itu terlontar, lelaki tua itu tersentak kaget; ia segera menutup mulutnya dan menoleh ke sekeliling dengan panik, ketakutan kalau-kalau para prajurit mendengarnya.


Dave mengamati wajah lelaki tua itu dalam diam -- wajah yang telah digerogoti oleh waktu dan ketakutan -- lalu terdiam sejenak sebelum perlahan berkata, "Benda-benda yang kalian bangun itu... apakah itu bom nuklir? Dan Pemimpin Agung kalian... dia bukan manusia biasa, kan? Dia seorang kultivator."


Dave tak habis pikir bagaimana manusia biasa bisa hidup selama seribu tahun; hanya seorang pembudidaya yang mampu melakukan hal semacam itu.


Bagi seorang pembudidaya, hidup selama seribu tahun adalah hal yang mudah -- sesuatu yang sepele.


Terlebih lagi, di mata orang-orang biasa ini, pembudidaya dianggap setara dengan dewa.


Lelaki tua itu mengerjapkan mata dengan bingung; istilah tersebut jelas asing baginya.


Ia mengernyitkan dahi dan berpikir cukup lama sebelum akhirnya mengangguk dengan ragu. "Sang Pemimpin Agung menyebutnya 'Inti Sumber Api Ilahi' -- katanya, benda-benda itu adalah wadah yang menyimpan esensi Api Ilahi. Beberapa di antaranya disembunyikan di dalam setiap menara pengorbanan. Begitu jumlah yang terkumpul dirasa cukup, Sang Pemimpin Agung sendiri yang memimpin upacara pengorbanan itu... dan dengan ledakan dahsyat, segalanya hancur lebur hingga tak bersisa.” 


"Mengenai 'kultivator' yang kau bicarakan itu... aku sama sekali tidak tahu apa itu..."


Dave memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.


Ia akhirnya memastikan kebenarannya: dunia ini – Tanah Abu Cinderlands - adalah alam fana yang dikuasai oleh para pembudidaya, sebuah tempat yang dipaksa memproduksi senjata nuklir untuk diledakkan secara berkala.


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️







Perintah Kaisar Naga : 6849 - 6851

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6849-6851






* Langit Tujuh Bintang Menjadi Ribuan Benua Kecil *



Seluruh ruang bawah tanah itu sepenuhnya diselimuti oleh segel raksasa yang terjalin dari rona emas, perak, dan biru.

 

Simbol-simbol ilahi tiga warna itu berputar tanpa henti dalam siklus abadi, memadukan esensi dari tiga klan besar dan menghimpun irama Dao dari berbagai zaman; segel itu sangat kokoh dan tak terpatahkan, menekan keberuntungan agung serta kekuatan mengerikan yang tersembunyi jauh di dalam reruntuhan.

 

Dave sedikit mengangkat tangannya, dan seberkas Esensi Kekacauan Primordial yang lembut namun pekat mengalir keluar, meresap tanpa suara ke dalam segel tiga warna tersebut.

 

Asal-usul Dao yang selaras; esensi yang menyatu menjadi satu; segala hukum tunduk dalam penghormatan.

 

Segel tiga warna yang abadi dan tak dapat dihancurkan itu -- bagaikan salju yang bertemu terik matahari atau kabut yang tersisa bertemu angin segar -- terkelupas lapis demi lapis, meleleh inci demi inci, dan hancur dengan cepat.

 

Simbol-simbol Dao kuno yang rumit dan tak terhitung jumlahnya milik ketiga klan itu meredup, tercerai-berai, dan musnah, hingga lenyap sepenuhnya.

 

Sebuah tangga batu yang gelap dan dalam, yang mengarah langsung ke inti reruntuhan, perlahan menampakkan diri, membentang jauh ke dalam perut bumi.

 

Dave melangkah turun, bergerak maju dengan mantap menuju kedalaman.

 

Saat ia menjelajah lebih dalam ke bawah tanah, esensi emas gelap di sekitarnya menjadi semakin pekat, berat, dan agung.

 

Rasa penindasan dan nuansa kuno yang luas menerpanya dalam gelombang yang kian meningkat, jauh melampaui intensitas gabungan dari empat reruntuhan sebelumnya: Tianxuan, Yuheng, Kaiyang, dan Tianji.

 

Begitu kakinya menapak kokoh di inti reruntuhan, seluruh ruang bawah tanah itu bergetar hebat; Dao Agung meraung, dan simbol-simbol Dao melonjak serta berputar-putar.

 

Sebuah aliran deras esensi emas gelap -- yang senyap selama milyaran tahun, tersegel selama berabad-abad, dan memiliki kekuatan ekstrem yang tak terbatas -- meletus bagaikan tsunami kuno yang bangkit dari tidur panjangnya, menyapu dan menghantam dari segala arah dengan kekuatan yang dahsyat dan liar.

 

Kekuatan ini jauh lebih ganas, kuno, kacau, dan mendalam dibandingkan apa pun yang ditemukan di reruntuhan empat benua.

 

Itu adalah campuran yang kacau -- sisa-sisa dari tak terhitung banyaknya upaya ketiga klan selama berabad-abad untuk memecahkan segel dan mencuri esensi primordial.

 

Sebaliknya, mereka justru menanggung serangan balik dari segel tersebut, yang menyisakan hukum-hukum Klan Dewa yang hancur, rune ilahi yang terpecah-belah, dan ritme Dao yang kacau-balau.

 

Itu adalah kekacauan yang riuh dan penuh gejolak -- diliputi oleh niat jahat dan bahaya ekstrem -- sehingga sangat sulit untuk dimurnikan atau disempurnakan.

 

Jika seorang kultivator agung biasa menginjakkan kaki di sini, esensi kacau itu akan seketika menyerbu meridian mereka, mengacaukan fondasi Dao mereka, menghancurkan jiwa mereka, dan melenyapkan keberadaan mereka sepenuhnya.

 

Dave tetap tenang dan tak tergoyahkan; dia duduk bersila di kehampaan dan mengerahkan Teknik Konsentrasi Hati miliknya hingga batas maksimal.

 

Di dalam dantiannya, Api Kekacauan melonjak dahsyat, berkobar hebat dan mencapai puncaknya.

 

Api itu berubah menjadi tungku agung -- abadi dan kebal terhadap segala teknik, mampu memurnikan langit dan mengubah segala sesuatu yang ada.

 

Arus besar esensi primordial berwarna emas gelap mengalir deras ke dalam tungku, tempat esensi itu mengalami penempaan ekstrem, pemurnian berlapis, dan penyucian berulang kali oleh Api Sejati Kekacauan.

 

Segala sisa-sisa ilahi yang kacau, pecahan Dao yang tak beraturan, energi jahat yang ganas, dan jejak hukum yang tidak lengkap dibakar, diluruhkan, dan dilarutkan hingga lenyap tak berbekas.

 

Hari demi hari dan malam demi malam berlalu, waktu bergulir senyap seiring pergantian siang dan malam yang sunyi.

 

Pada hari pertama, esensi dibersihkan dari kotoran dan energi jahat pun lenyap;

 

Pada hari ketiga, hukum-hukum disempurnakan dan ritme Dao kembali ke sumber asalnya;

 

Pada hari kelima, esensi menyatu dan fondasi dibentuk ulang;

 

Pada hari ketujuh, penghalang melonggar dan ranah kultivasi bersiap untuk menembus batasan.

 

Menjelang pagi hari kedelapan, penghalang yang sangat kokoh di ranah Dewa Emas Tingkat Ketujuh -- yang telah lama menahan Dave -- akhirnya jebol.

 

Di bawah tekanan kikisan, penempaan, dan kekuatan penghancur yang tiada henti dari esensi primordial kuno itu, penghalang tersebut pecah layaknya lapisan es tipis atau kaca glasir yang retak, lalu runtuh disertai suara gemuruh yang menggelegar!

 

Gerbang menuju ranah Dewa Emas Tingkat Kedelapan terbuka lebar, tertembus sepenuhnya!

 

Esensi Primordial kekacauan yang luas, mendalam, dan berbobot -- melonjak bagaikan lautan yang jebol atau banjir bah -- seketika membanjiri meridian, mengisi lautan Qi di Dantian, meresap ke setiap anggota tubuh dan tulang, serta memelihara jiwa dan fondasi Dao.

 

Meridian, urat dan tulang, jiwa, hati Dao, dan esensi -- semuanya mengalami transformasi puncak dan sublimasi sempurna, tanpa ada satu aspek pun yang tertinggal.

 

Esensi Primordial kekacauan menjadi semakin padat dan nyata, mencakup segala fenomena dan menekan segala hukum;

 

Esensi Dao Taoisme menjadi semakin murni dan luhur, memancar ke segala arah dengan keseimbangan sempurna antara ketegasan dan keluwesan;

 

Esensi Air menjadi semakin tangguh dan mendalam, cukup luas untuk menampung segala sungai, lembut namun tak dapat musnah;

 

Esensi kuno dari empat penjuru mata angin menyatu sepenuhnya menjadi satu, membentuk siklus yang mulus dan tiada henti.

 

Keempat esensi agung ini -- bagaikan empat sungai abadi -- bertemu dalam lautan Primordial kekacauan yang luas tak bertepi, bersatu dengan sempurna dan bersirkulasi tanpa akhir dalam siklus pembaruan abadi.

 

Basis kultivasi melonjak drastis, kekuatan tempur melesat tinggi, fondasi Dao mencapai kesempurnaan, dan jiwa menjadi abadi.

 

Tepat pada saat semua esensi elemen menyatu sepenuhnya dan ranah kultivasinya mengalami terobosan total, jejak kekuatan nuklir yang telah lama tertidur -- tersembunyi jauh di dalam inti esensi tersebut -- tiba-tiba muncul dengan kejelasan yang mengejutkan dan bangkit sepenuhnya.

 

Berbeda jauh dengan kondisinya sebelumnya -- yang samar, redup, dan nyaris tak terasa -- jejak kekuatan nuklir itu kini tampak sangat nyata, tegas, dan terkonsentrasi.

 

Itu adalah kekuatan penghancur pamungkas yang lahir dari peradaban dunia fana berbasis teknologi; sebuah bentuk alternatif esensi elemen yang berdiri terpisah dari Dao Agung energi spiritual dan melampaui hukum-hukum yang mengatur segala penjuru langit; sebuah kekuatan misterius yang mampu melintasi ruang dan waktu serta membentang melintasi berbagai zaman.

 

Dave merasakan dengan jelas untaian esensi nuklir itu beresonansi dan memanggil -- samar namun teguh -- melintasi jarak yang sangat jauh dan menembus batas-batas langit, menuju suatu tujuan yang tak dikenal dan tak terbayangkan.

 

Arah itu tidak terletak di dalam Surga ke-21, ataupun di dalam Alam Surgawi itu sendiri, melainkan di kehampaan di baliknya -- sebuah ranah yang jauh lebih terpencil, mendalam, dan misterius.

 

Seolah-olah ada sesuatu yang memiliki asal-usul yang sama -- sebuah esensi akar atau teka-teki tertinggi -- sedang menunggu dengan tenang di tepian waktu yang jauh, menantikan saat ia memecahkan batas-batas langit, melampaui tingkatan eksistensi, dan menyingkap rahasia terakhir.

 

Tatapan Dave menajam dan pikirannya terusik; berbagai keraguan serta spekulasi yang tak terhitung jumlahnya bergejolak di dalam dirinya.

 

Teknologi dunia fana, esensi kekuatan nuklir, reruntuhan kuno, tingkatan langit, resonansi melintasi ruang dan waktu - semua elemen yang tampak tak saling terkait dan bertolak belakang ini...

 

Kini terjalin erat satu sama lain, mengarah pada sebuah misteri pamungkas yang membentang melintasi zaman, menjembatani dunia fana dan keabadian, serta mencakup segala penjuru langit.

 

Seiring meningkatnya kekuatan Dave, semakin banyak pula rahasia yang dapat ia intip.

 

Ia pernah meyakini bahwa Alam Surgawi adalah tujuan akhir bagi semua ras, namun kini ia menemukan adanya wilayah di baliknya -- ranah yang sama sekali tidak ia ketahui.

 

Namun untuk saat ini, satu-satunya langkah yang bisa ia ambil adalah mendaki hingga ke puncak Alam Surgawi dan menghadapi para Orang Suci yang menguasainya.

 

Mungkin baru saat itulah dia akan mengetahui kebenaran di balik apa yang disebut sebagai Perang Dewa dan Iblis, serta mengungkap jati diri ayahnya yang sebenarnya.

 

Dia memaksakan diri menekan rasa terkejut dan bingung yang membuncah di dalam dirinya, bersiap untuk menyelidiki lebih jauh dan melacak sumber gangguan tersebut, ketika seluruh Benua Tianshu tiba-tiba berguncang hebat dengan intensitas yang luar biasa dahsyat.

 

Duaaaarrrr....

 

Raungan yang menggelegar dahsyat membubung dari kedalaman bumi, menembus langit dan mengguncang semesta.

 

Ini bukanlah gempa bumi biasa; ini adalah fenomena bencana besar -- fondasi seluruh benua sedang runtuh, dan sebuah alam kuno sedang hancur lebur.

 

Dave seketika memperluas indra ilahinya hingga batas maksimal, menyapu jarak sepuluh ribu mil ke segala arah.

 

Sesaat kemudian, pupil matanya menyusut tajam, dan matanya dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa.

 

Seluruh Langit Tujuh Bintang -- ketujuh daratan kuno yang melayang itu -- hancur secara bersamaan, pecah berkeping-keping dan runtuh lapis demi lapis.

 

Sisa-sisa Benua Yao Guang, yang terletak di tepian paling luar, adalah yang pertama retak; daratan itu hancur menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan jatuh ke dalam kehampaan.

 

Tak lama kemudian, benua Kai, Yuheng, Tianquan, dan Tianji retak secara serentak, lalu hancur dan tercerai-berai sepenuhnya.

 

Akhirnya, dua benua inti -- Tianxuan dan Tianshu -- juga mulai hancur lapis demi lapis dari tepiannya, terus-menerus tercerai-berai.

 

Langit Tujuh Bintang, yang membentang sejauh ratusan juta mil dan melayang selama berabad-abad lamanya, kini runtuh lapis demi lapis dan hancur berkeping-keping -- bagaikan istana pasir yang terkikis ombak -- sembari terus-menerus jatuh.

 

Lempeng-lempeng benua raksasa patah, terbalik, tenggelam, dan hancur, berubah menjadi pecahan daratan dengan berbagai ukuran dan bentuk yang melayang perlahan turun dari ketinggian yang mencengangkan menuju samudra kehampaan yang luas dan tak bertepi di bawahnya.

 

Lempeng-lempeng besar terbelah dan pecah menjadi pulau-pulau berukuran sedang dan kecil, sementara pecahan yang lebih kecil hancur lagi menjadi serpihan daratan yang menyerupai debu bintang.

 

Dalam waktu kurang dari satu jam, Langit Tujuh Bintang -- sebuah alam yang telah menopang Surga ke-21 dan bertahan selama berabad-abad -- telah hancur total dan lenyap sepenuhnya.

 

Di tempat itu kini tersisa puluhan ribu pulau melayang dengan berbagai ukuran, tersebar di permukaan samudra kehampaan; pulau-pulau yang baru terbentuk ini adalah sisa-sisa Langit Tujuh Bintang yang telah hancur dan jatuh ke dalam jurang kehampaan.

 

Pulau-pulau tersebut terhampar luas di tengah Lautan Hampa yang tak bertepi, bagaikan gugusan bintang yang tercerai-berai.

 

Dunia Lama Langit Tujuh Bintang telah musnah sepenuhnya; sebuah era kuno telah mencapai akhir riwayatnya.

 

Sebuah Dunia Baru yang terdiri dari gugusan pulau telah bangkit dari puing-puing kehancuran, terwujud secara diam-diam.

 

Setiap makhluk hidup di wilayah Langit Tujuh Bintang -- baik itu tawanan Klan Dewa, pembudidaya Klan Iblis, anggota Klan Monster, maupun sisa-sisa sekte Taois -- melarikan diri ke segala arah, membubung tinggi di udara di tengah pemandangan dahsyat hancurnya benua tersebut.

 

Para kultivator menderita korban jiwa yang besar; mereka yang selamat menemukan tempat berlindung di pulau-pulau kehampaan yang baru terbentuk, berdiri dengan perasaan bingung seraya menatap transformasi yang mengguncang semesta itu.

 

Jauh di bawah reruntuhan, sosok Dave tiba-tiba melesat ke atas, menembus udara dan terbang membumbung lurus menuju cakrawala, lalu berdiri dengan kokoh di atas hamparan awan.

 


Sepasang matanya yang berwarna ungu diam-diam mengamati alam yang telah berubah bentuk di bawahsana, memandang pulau-pulau baru yang tak terhitung jumlahnya dan tersebar bagaikan bintang-bintang di tengah kehampaan; kilatan cahaya yang dalam dan penuh teka-teki berputar-putar di kedalaman tatapannya.


Di angkasa yang tinggi, aura Dave melepaskan segala batasan, meledak bagaikan raksasa kekacauan primordial -- yang telah tertidur selama ribuan masa tiba-tiba terbangun.


Di dalam tubuhnya, sumber kekacauan purba bergejolak bagaikan lautan yang mengalir balik atau galaksi yang tumpah ruah.


Tekanan agung itu -- yang muncul secara alami dan mulus setelah transformasinya ke Alam keabadian Emas tingkat kedelapan -- menyebar tanpa hambatan ke seluruh hamparan kepulauan kehampaan yang baru terbentuk; setiap jengkal udara sedikit bergetar di bawah beban kekuatan ini.


Gelombang energi kekacauan berwarna ungu keabu-abuan perlahan memancar keluar dari tubuhnya; tidak ada raungan yang mengguncang bumi, namun kekuatan itu memiliki dominasi tak tertahankan yang meresap ke segala hal secara diam-diam namun mendalam.


Dengan setiap riak yang meluas, kehampaan itu bergetar, dan hukum langit serta bumi pun tunduk; ruang dalam radius sepuluh ribu mil bergelombang dengan lipatan-lipatan halus, seolah-olah seluruh dunia sedang menundukkan kepala di hadapan sosok itu.


Setiap makhluk hidup di pulau-pulau terapung -- terlepas dari status atau tingkat kultivasi -- diselimuti oleh kekuatan menekan yang berasal dari kedalaman sumber purba tersebut, membuat tindakan bernapas pun menjadi berat dan sulit.


Ada yang merasa lutut mereka lemas dan jatuh tersungkur ke tanah, menempelkan dahi mereka erat-erat pada batu dingin, bahkan tidak berani berpikir untuk mendongak;


Yang lain gemetar hebat, gigi mereka gemeretak saat mereka bersujud berulang kali, seolah-olah sedang menyembah para dewa surgawi;


Ada pula yang merasa jiwa mereka tergugah dan air mata panas mengalir di wajah mereka -- meski mereka tidak tahu mengapa mereka menangis -- diliputi oleh rasa takjub yang mendalam dan kesadaran akan betapa kecilnya diri mereka.


Aura ini terlalu luas, terlalu mendalam, dan terlalu tak terbayangkan; 


Seolah-olah beban seluruh dunia yang baru tercipta itu memusat pada sosok berpakaian abu-abu tersebut -- sosok yang memandang rendah segala makhluk hidup, menekan segala hukum alam, dan menggenggam takdir langit di tangannya. 


Di Pulau Bibo, Nico Chen meringkuk ketakutan di balik pilar batu yang hancur, sesekali melirik langit dengan gemetar hebat yang tak terkendali.


Saat merasakan aura yang memancar dari tubuh Dave, tubuhnya diguncang getaran hebat; kakinya terasa seberat timah, dan karena tak lagi mampu menopang tubuhnya, ia pun ambruk ke tanah yang dingin dengan suara gedebukkan keras.


Basahan dengan cepat meluas di selangkangannya dan bau pesing yang menyengat memenuhi udara, namun ia sama sekali tidak menyadarinya; ia hanya merasakan hawa dingin yang menusuk, bahkan ujung-ujung jarinya pun gemetar hebat.


"Ampuni aku, Tuan! Kumohon, ampuni nyawaku!"


Nico Chen bersujud dengan kacau, membenturkan dahinya ke reruntuhan batu hingga darah mengucur deras, namun ia tak berani berhenti. "Aku buta dan sombong -- tidak menyadari betapa luas dan tingginya dunia ini sebenarnya. Aku memohon ampunan-Mu atas segala kesalahanku tadi..."


Suaranya tercekat oleh isak tangis; tubuhnya meringkuk dan gemetar hebat seperti dedaunan yang tertiup angin, ia terus bersujud tanpa berani mengangkat kepala, hanya bisa berdoa agar sosok berpakaian abu-abu itu tidak menyadari keberadaan semut hina seperti dirinya.


Namun, dari awal hingga akhir, sosok itu bahkan tidak melirik ke arahnya sedikit pun.


Bagi Dave, sosok hina dan remeh seperti Nico Chen hanyalah sebutir debu yang tidak berarti, bahkan tidak layak untuk dipikirkan barang sejenak.


Dave berdiri diam di angkasa tinggi, mata ungunya perlahan mengamati gugusan pulau kehampaan yang baru terbentuk, pandangannya menyapu daratan-daratan terapung yang tersebar serta hamparan luas lautan awan kehampaan yang bergolak.


Akhirnya, pandangannya tertuju pada hamparan lautan hampa yang pekat dan gelap gulita di kejauhan -- sebuah tempat yang tak bertepi dan memiliki kedalaman yang tak terbayangkan.


Mata Kekosongan-


Itulah nama yang diucapkan Roger Yue sebelum kematiannya -- satu-satunya pintu masuk menuju jalan kuno yang mengarah ke Surga ke-22.


Proyeksi bayangan dari Surga ke-22 sebelumnya juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menginjakkan kaki di sana sebelum proyeksi itu hancur; hal ini semakin memastikan keberadaan jalan tersebut dan kian memantapkan tekad Dave untuk pergi ke sana. 


Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa di balik hamparan laut yang gelap gulita itu, tersembunyi gelombang spasial yang melampaui tingkatan biasa -- menyimpan misteri alam surgawi yang telah lama ia cari.


Dave sedikit bergerak, dan seberkas cahaya kelabu meluncur turun dari langit tertinggi dengan kecepatan luar biasa; berubah menjadi bayangan kelabu yang tak mencolok, ia melesat melintasi kepulauan dan menukik tajam ke arah permukaan Laut Hampa.


Arus hampa yang bergejolak di jalurnya berbenturan dengan gelombang energi kacau yang menyelimutinya, namun seketika hancur dan lenyap, tak mampu memberikan hambatan sedikit pun.


Saat air Laut Hampa yang hitam pekat dan tak terduga dalamnya bergolak di sekelilingnya -- penuh dengan hawa dingin yang menusuk dan pecahan ruang yang tajam -- indra ilahi Dave membuncah layaknya gelombang pasang. 


Indra illahi nya itu memancar hingga sepuluh ribu mil jauhnya, menembus lapisan arus bawah yang tersembunyi untuk menyelidiki setiap celah dengan saksama.


Persepsinya lebih tajam dari sebelumnya; tak ada anomali sekecil apa pun dalam fluktuasi ruang atau jejak energi yang bisa lolos dari deteksinya.


Tak lama kemudian, ia merasakan aura yang familier.


Dalam, berwarna biru tua, luas, dan abadi -- memiliki perpaduan khas antara kelembutan yang luwes dan keagungan yang meliputi segalanya, ciri khas Ras Air -- itu tak salah lagi adalah aura Vargas Shui.


Pemimpin Ras Air itu saat ini sedang berada di dalam ngarai terumbu karang bawah air jauh di kedalaman Laut Hampa. 


Cahaya biru berkilauan di sekeliling tubuhnya, dan raut wajahnya tampak serius, dengan alis yang berkerut karena kekhawatiran mendalam.


Dengan hancurnya Langit Tujuh Bintang dan musnahnya tiga keluarga besar ras dewa, tatanan dunia telah mengalami perubahan yang sangat drastis. 


Sebagai penguasa Ras Air, ia diliputi kecemasan -- tidak yakin akan jalan ke depan, tidak pasti mengenai nasib kaumnya, dan bingung bagaimana cara membangun pijakan di dunia yang baru terbentuk ini.


Namun, tepat pada saat berikutnya, seluruh tubuhnya menegang; keringat dingin seketika membasahi punggungnya, dan napasnya tersendat.


Sebuah aura turun menyelimutinya -- aura yang tak tertahankan dan mustahil untuk dilawan, begitu dahsyat hingga ia bahkan tak berani menatap langsung ke sumbernya. 


Aura itu mengunci lokasinya dengan presisi, menekan arus bawah di sekitarnya hingga menjadi air yang mati dan tak bergerak; bahkan aliran air laut itu sendiri terhenti total. 


Vargas Shui mendongak dengan cepat, hanya untuk melihat sosok berpakaian abu-abu yang sedang berjalan santai ke arahnya dari kedalaman Lautan Hampa. 


Mengenakan jubah abu-abu yang berkibar tertiup arus, ia menampilkan raut wajah yang sangat tenang; jauh di dalam mata ungunya bergolak keluasan kekacauan primordial yang tak bertepi. 


Setiap gerakannya memancarkan wibawa dan ketenangan yang mampu menekan segala hukum alam semesta, seolah-olah seluruh Lautan Hampa yang misterius itu berada dalam genggamannya.


“Tuan Chen... Tuan Chen!”


Vargas Shui segera bangkit dan membungkuk hormat. 


Ia berbicara dengan cepat dan penuh kerendahan hati, bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. “Vargas Shui memberikan salam hormat kepada Tuan Chen! Aku tidak menyadari kedatangan Anda yang mulia dan gagal menyambut Anda dengan baik – aku memohon maaf!”


Ia sangat memahami kekuatan Dave; pembudidaya muda ini telah menguasai Surga ke-21 -- sosok yang tidak berani ia singgung dalam keadaan apa pun.


Dave mengabaikan basa-basi dan langsung ke pokok permasalahan, nadanya tenang namun sarat akan wibawa mutlak: “Di mana Mata Kekosongan itu?”


Vargas Shui merasa terkejut, dan butiran-butiran keringat halus seketika muncul di dahinya.


Mata Kekosongan adalah salah satu rahasia terbesar Surga ke-21; sepanjang zaman, hanya sedikit yang mengetahui keberadaannya, dan mereka yang mengetahui lokasinya jauh lebih langka lagi.


Dia berkata, “Tuan Chen, Mata Kekosongan dikabarkan sebagai gerbang menuju Surga ke-22. Aku hanya pernah mendengarnya -- aku belum pernah melihatnya, ataupun mengetahui di mana letaknya.”


“Namun, harap tenang, Tuan Chen. Klan Air telah beroperasi di Lautan Hampa selama berabad-abad dan mengenal setiap jengkal perairan ini dengan sangat baik. Aku akan segera memerintahkan pencarian besar-besaran; jika Mata Kekosongan itu berada di dalam Lautan Hampa, kami pasti akan menemukan jejaknya!”


Begitu selesai berbicara, Vargas Shui segera memerintahkan pengerahan seluruh pembudidaya Klan Air di Lautan Hampa untuk melakukan pencarian menyeluruh yang mencakup seluruh wilayah. 


Aliran cahaya biru yang tak terhitung jumlahnya memusat dari segala arah sebelum kembali menyebar dengan cepat ke luar, menyerupai jaring bintang-bintang biru yang mekar di kedalaman dan menyelimuti seluruh hamparan Lautan Hampa.


Sebagian pembudidaya Klan Air mengintai di dalam arus tersembunyi yang tak berdasar; sebagian lainnya berpegangan pada terumbu karang dan bongkahan batu raksasa di dasar laut; sementara yang lain tersebar di perairan yang lebih dangkal di tepian laut. 


Setiap sudut disisir dengan cermat, tanpa ada satu pun celah yang terlewatkan. 


Pencarian berlangsung selama dua hari penuh.


Dua hari kemudian, para pembudidaya dari Klan Air kembali satu per satu, membawa informasi yang sangat konsisten: sama sekali tidak ada jejak "Mata Kekosongan" di mana pun di Lautan Hampa.


Jangankan celah spasial atau jalan kuno -- bahkan fluktuasi spasial yang tidak wajar atau distorsi hukum alam sedikit pun tidak terdeteksi.


Wajah Vargas Shui memucat, dan butiran keringat muncul di dahinya. 


Dia membungkuk berulang kali untuk meminta maaf, nadanya penuh rasa bersalah: "Tuan Chen, setiap kata yang diucapkan Klan Air adalah kebenaran. Jika kami saja tidak bisa mendeteksinya... maka kemungkinan besar Mata Kekosongan itu tidak berada di Lautan hampa ini sama sekali."


Ekspresi Dave tetap tak berubah; mata ungunya sedikit menunduk saat ia berpikir.


Dia tidak terkejut. 


Roger Yue telah menggambarkan Mata Kekosongan sebagai jalan kuno yang mengarah ke Surga ke-22.


Mengingat betapa cemasnya pemilik bayangan itu terhadap kemungkinan dirinya memasuki Surga ke-22, bagaimana mungkin jalur sepenting itu dibiarkan begitu saja di perairan terbuka untuk ditemukan siapa saja?


Jalan itu pasti disembunyikan di tempat yang sangat rahasia dan sulit dijangkau.


"Oh jadi begitu... Oke... Aku mengerti."


Dave berbicara dengan tenang, lalu sosoknya berkelebat dan menghilang ke kedalaman Lautan Hampa. 


Vargas Shui menatap ke arah tempat Dave menghilang, diam-diam merasa lega karena klannya tidak memusuhi orang seperti itu.


.....


Karena pencarian di Lautan Hampa tidak membuahkan hasil, target Dave berikutnya adalah Jurang Dunia Bawah.


Dave tiba melalui udara, mendarat di pintu masuk Jurang Dunia bawah.


Kabut kelabu kehitaman bergolak dan bergulung seperti mulut binatang buas mengerikan yang ingin menelannya bulat-bulat; 


Jeritan melengking yang mengerikan bergema dari kedalaman jurang, membuat bulu kuduk meremang.


Namun, Qi Dunia Bawah -- yang mampu mengikis fondasi Dao seorang pembudidaya di Alam Dewa Emas Luo Agung -- hanya menghantam Domain Kekacauan abu-abu yang menyelimuti Dave. 


Hal itu ibarat butiran salju tipis yang bertemu dengan terik matahari -- mendesis dan menguap dengan cepat; tak ada apa pun yang bisa mendekatinya, bahkan hawa dingin yang menusuk pun tak mampu menyentuh tubuhnya.


Dia melangkah mantap memasuki jurang; semakin dalam dia menjelajah, semakin pekat energi nether yang terasa, dan semakin mencekam pula hawa dingin yang menekan.


Jeritan samar namun menusuk dari roh-roh pendendam serta rintihan penuh kebencian dari jiwa-jiwa yang tertinggal melayang di kehampaan, sementara tak terhitung banyaknya wujud roh yang terpecah-belah mengapung di tengah kabut, melontarkan permohonan dan raungan lemah.


Dinding batu jurang itu dipenuhi oleh rune dunia bawah kuno; masing-masing memancarkan aura dingin, diam-diam mengisahkan pasang surut zaman dan kesunyian dari masa lampau yang tak terhingga.


Dave langsung pergi menemui Tetua Dunia Bawah.


Karena Mata Kekosongan tidak ditemukan di Lautan Hampa, besar kemungkinan benda itu tersembunyi di dalam Jurang Dunia Bawah.


Lagipula, Langit Tujuh Bintang telah runtuh; Mata Kekosongan mustahil masih ada di sana.


Tetua Dunia Bawah tidak menunjukkan keterkejutan saat melihat kedatangan Dave; dia sudah mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar sana.


Langit Tujuh Bintang telah hancur lebur, dan tiga keluarga besar Ras Dewa telah dimusnahkan oleh Dave.


Kekuatan Dave saat ini menjadikannya sosok setara dewa, penguasa sejati di seluruh Surga ke-21.


Dia tak tertandingi dan tak tersentuh.


Untungnya, Jurang Dunia Bawah memiliki hubungan baik dengan Dave, sehingga Tetua Dunia Bawah tidak merasa takut kepadanya.


"Senior, aku datang menemui mu hanya karena satu alasan," ujar Dave saat melihat sang tetua.


"Apakah karena Mata Kekosongan?" tanya Tetua Dunia Bawah.


Dave mengangguk, tampak agak terkejut. "Bolehkah aku bertanya bagaimana kau mengetahui hal itu, Senior?"


"Mata Kekosongan adalah titik penghubung krusial menuju Surga ke-22; hal ini bukanlah rahasia di Surga ke-21. Namun, sangat sedikit orang yang benar-benar mengetahui lokasinya." 


" Dengan kekuatanmu saat ini, kau sudah tak terkalahkan di Surga Kedua Puluh Satu, jadi kau pasti akan pergi ke dunia yang lebih tinggi untuk berkembang, dan karena itu kau pasti perlu menemukan Mata Kekosongan," jelas Tetua Dunia Bawah.


Dave berkata, "Senior, setelah Langit Tujuh Bintang runtuh, aku pergi ke Lautan Hampa dan meminta bantuan Klan Air untuk mencarinya. Namun, Mata Kekosongan tidak ditemukan di sana. Aku menduga benda itu mungkin tersembunyi di dalam Jurang Dunia Bawah, itulah sebabnya aku datang untuk meminta bantuanmu."


Tetua Dunia Bawah menatap tajam ke arah Dave untuk waktu yang lama. 


Kobaran api hantu berwarna hijau yang menyeramkan di sekelilingnya seolah mencerminkan proses pemikiran dan pertimbangan mendalam, sementara energi dunai bawah yang menyelimuti tubuhnya turut pasang surut seirama dengan hal itu.


Setelah terdiam cukup lama, ia perlahan menggelengkan kepala; suaranya sarat akan keletihan dan kepasrahan yang telah terakumulasi selama berabad-abad: "Betapapun dalamnya Jurang Dunia bawah, tempat ini tidak mungkin menampung entitas seperti Mata Kekosongan. Jalan kuno semacam itu -- yang menghubungkan lapisan-lapisan Alam Surgawi -- pasti berada di wilayah Surga ke-21 yang paling dekat dengan tepian kehampaan, tempat di mana hukum-hukum surgawi memiliki pengaruh paling lemah."


"Paling dekat dengan tepian kehampaan?" 


Dave sedikit mengernyitkan dahi; sebuah dugaan mulai muncul di benaknya.


"Sabuk Langit Berbintang,.." 

Tetua Dunia Bawah berucap dan melafalkan setiap kata dengan nada yang berat dan penuh keseriusan. "Bentangan kehampaan di tepian terjauh Surga ke-21 -- wilayah yang paling sunyi dan terabaikan dari semua kawasan. Tidak ada benua di sana, tidak ada energi spiritual, dan tidak ada makhluk hidup -- hanya arus kehampaan yang bergejolak tanpa henti dan energi spiritual yang begitu tipis hingga hampir tidak ada sama sekali.” 


“Namun, justru karena itulah, hukum ruang di sana berada pada titik terlemahnya. Itu adalah area yang paling mudah ditembus oleh kekuatan luar untuk menciptakan jalan menuju alam yang lebih tinggi, menjadikannya tempat persembunyian yang paling mungkin bagi Mata Kekosongan."


Kilatan pemahaman muncul di mata Dave.


Sabuk Langit Berbintang.


Nama itu tidak asing baginya, namun ia belum pernah mengaitkannya dengan Mata Kekosongan. 


Wilayah itu terlalu sunyi dan terpencil, dengan energi spiritual yang sangat langka sehingga bahkan di puncak kekuatannya, ia tidak akan pernah sengaja pergi ke sana; namun, tak disangka, tempat itu menyimpan kunci menuju Surga ke-22.


Ia berbalik untuk pergi, tetapi suara Tetua Dunia Bawah terdengar menyeramkan dari belakang, membawa nada peringatan: "Anak muda, meskipun Sabuk Langit Berbintang dapat mengarah ke Mata Kekosongan, kekuatan yang dibutuhkan untuk membuka jalan itu jauh melampaui kemampuan individu mana pun.” 


“Jalan kuno semacam itu membutuhkan kekuatan yang beresonansi dengan esensi primordial langit untuk bangkit; jika kamu bertekad mencapai Surga ke-22, sebaiknya kamu melakukan persiapan matang -- jangan bertindak gegabah."


Dave tidak berhenti; siluet kelabunya lenyap ke dalam kegelapan, meninggalkan jawaban yang tenang namun tegas: "Aku punya rencanaku sendiri."


Ia sudah siap; apa pun risikonya, ia akan membuka jalan itu dan menginjakkan kaki di Surga ke-22.


......


Tiga hari kemudian, Dave muncul di tepi kehampaan -- wilayah terluar yang paling sunyi dari Surga ke-21.


Itu adalah Sabuk Langit Berbintang.


Itu adalah zona transisi antara Surga ke-21 dan kehampaan luar. 


Sejauh mata memandang, tidak ada benua, tidak ada tanah, dan tidak ada pijakan padat -- hanya jurang yang membentang tanpa akhir dan selubung ruang yang begitu tipis hingga tampak hampir seperti ilusi. 


Di atas sana terbentang hamparan kegelapan pekat yang abadi -- tanpa bintang, matahari, ataupun secercah cahaya. 


Hanya ada keheningan dan kehampaan yang menyerupai malam abadi; suara tidak dapat merambat di sini, dan kesunyiannya terasa menyesakkan.


Konsentrasi energi spiritual di tempat ini bahkan tidak sampai sepersepuluh ribu dari yang ada di alam-alam utama -- begitu tipis hingga hampir bisa diabaikan.


Bagi kultivator biasa, sekadar mempertahankan sirkulasi dasar kekuatan spiritual di sini saja sudah merupakan perjuangan berat, apalagi mencoba berkultivasi; berlama-lama di tempat ini bahkan bisa berujung pada kematian akibat terkurasnya cadangan energi spiritual.


Namun, justru karena itulah, tidak ada seorang pun yang pernah berkembang, mendirikan faksi, atau mencari peluang di sini sepanjang zaman, menjadikan wilayah ini sudut paling terpencil dan rahasia di Surga ke-21. 


Kesadaran ilahi Dave perlahan menyebar melintasi kehampaan yang luas dan sunyi itu; bebas dari gangguan energi spiritual, distorsi hukum alam, ataupun kehadiran berbagai makhluk hidup yang mengaburkan pandangan, persepsinya menjadi lebih jernih dan tajam daripada sebelumnya.


Ia mampu mendeteksi dengan jelas setiap riak energi halus di dalam kehampaan tersebut dan menentukan titik-titik kelemahan di mana jalinan ruang terasa paling tipis.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️







Perintah Kaisar Naga : 6856 - 6859

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6856-6859 * Bertemu Sang Pemimpin Agung * ‘Api ilahi’ yang dibicarakan lelaki tua itu sebelumnya tak lain hanyala...