Photo

Photo

Monday, 8 June 2026

Kalau Semua Masalah Selesai Pakai "Pasrah", Bubarkan Saja Kementerian Ekonomi

"Rumah Kebakaran Malah Dikasih Ceramah"—Berhentilah Pakai Agama Buat Nutupin Salah!


Rakyat Kehilangan Pekerjaan, Bukan Kehilangan Iman!





Kenapa Kalimat "Allah Menjamin Rezeki" Sering Dipakai Buat Ngeles?


Aku sebenernya gak masalah sama kalimat "Allah menjamin rezeki". Wong itu emang ajaran Islam. 

Gak ada yang perlu diperdebatkan. 

Yang bikin aku garuk-garuk kepala tuh kenapa kalimat beginian sering nongol pas rakyat lagi nanya kenapa hidup makin susah.


Bayangin rumah mu kebakaran. Asap sudah masuk kamar. Anak bini batuk-batuk. Terus ada orang datang sambil bilang, "Tenang , semua yang hidup pasti mati." 

Lah iya, bang. Bener. Tapi rumah ku lagi kebakaran, goblok. Aku lagi nyari ember, bukan nyari kata-kata mutiara.


Nah perasaan yang sama muncul waktu rakyat nanya kenapa dolar naik, kenapa harga barang makin ngawur, kenapa PHK di mana-mana, kenapa nyari kerja kayak nyari jarum di tengah sawah. 

Yang ditunggu itu penjelasan. 

Yang datang malah ceramah bahwa Allah menjamin rezeki.


Lah emangnya ada yang bilang Allah gak menjamin rezeki?

Masalahnya bukan itu.

Rakyat lagi nanya penyebab. 

Yang dijawab malah pengalihan.

"Kenapa dolar naik?"

"Allah menjamin rezeki."

"Kenapa bahan baku mahal?"

"Allah menjamin rezeki."

"Kenapa usaha pada tumbang?"

"Allah menjamin rezeki."


Ya terus ngapain ada menteri ekonomi? 

Ngapain ada bank sentral? 

Ngapain ada rapat kabinet berjam-jam? 

Ngapain ada triliunan duit negara buat ngurus ekonomi kalau semua pertanyaan soal ekonomi cukup dijawab dengan satu kalimat itu?


Lucunya gak ada negara di dunia yang berani konsisten pakai logika begitu. 

Kalau ekonomi bagus, pertumbuhan naik, investasi masuk, lapangan kerja banyak, semua langsung sibuk tepuk dada. 

Semua ngomong soal strategi, kebijakan, kepemimpinan, visi, program, dan seabrek istilah keren lainnya.


Tapi giliran ekonomi seret, rupiah megap-megap, rakyat ngos-ngosan, tiba-tiba semuanya dilempar ke wilayah takdir.

Kalau untung hasil kerja manusia.

Kalau buntung hasil kehendak Tuhan.

Enak bener mainnya.


Padahal dalam Islam sendiri gak ada ceritanya tawakal dipakai buat nutupin kesalahan manusia.

Kalau jembatan ambruk, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan ajal."

Kontraktornya tetap diperiksa.


Kalau pesawat jatuh, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan kematian."

Tetap dicari apa yang rusak.


Kalau kapal tenggelam, nahkodanya diperiksa.


Kalau rumah sakit salah kasih obat, dokternya dievaluasi.


Tapi begitu ngomong ekonomi negara, mendadak ada yang alergi sama pertanyaan.

Mendadak semua harus diam.

Mendadak semua harus pasrah.

Mendadak semua harus fokus ke langit dan lupa melihat apa yang terjadi di bumi.


Padahal akal juga ciptaan Allah. 

Nanya penyebab masalah bukan dosa. 

Mengkritik pengelolaan negara bukan dosa. 

Cari tahu kenapa rakyat makin susah bukan dosa.


Justru yang aneh kalau semua masalah ditutup pakai slogan agama supaya orang berhenti berpikir.


Dan menurut ku di situlah letak masalah utamanya.

Kalimat ini mungkin terdengar menenangkan buat orang yang perutnya kenyang, rekeningnya aman, bisnisnya jalan, dan hidupnya nyaman.


Tapi coba ucapin ke orang yang baru di-PHK.

Coba ucapin ke bapak yang bingung bayar kontrakan.

Coba ucapin ke ibu yang duit belanjanya makin tipis tiap minggu.

Coba ucapin ke pedagang yang omzetnya ambruk.

Mereka bukan lagi mempertanyakan siapa pemberi rezeki.


Mereka sedang mempertanyakan kenapa jalan menuju rezeki terasa makin sempit.

Itu dua pertanyaan yang berbeda.

Dan ketika pertanyaan kedua dijawab dengan jawaban untuk pertanyaan pertama, yang lahir bukan ketenangan.

Yang lahir justru kesan bahwa ada yang sedang menghindari pembahasan inti.

Makanya banyak orang kesal bukan karena kalimat itu salah. Kalimatnya benar. Tapi benar saja gak cukup. Konteks juga penting.

Karena rakyat hari ini gak sedang kehilangan iman.


Mereka sedang kehilangan pekerjaan.

Mereka gak sedang bingung siapa yang menjamin rezeki.

Mereka sedang bingung kenapa akses mencari rezeki makin hari makin berat.

Dan kalau setiap keluhan ekonomi dijawab dengan "Allah menjamin rezeki", 

ya sekalian aja bubarin kementerian, tutup rapat ekonomi, jual gedung lembaga negara, 

Karena ternyata semua persoalan cukup diselesaikan dengan satu postingan Instagram.

Masalahnya dunia nyata gak bekerja seperti itu.


Islam pun gak mengajarkan seperti itu.

Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar, bukan tawakal untuk menggantikan ikhtiar. 

Karena kalau tawakal dipakai buat menghindari pertanyaan terhadap manusia yang memegang kekuasaan, lama-lama agama berubah fungsi. 

Bukan lagi menjadi cahaya yang menerangi masalah, tapi malah dijadikan selimut buat nutupin masalah.








 

Sunday, 7 June 2026

Seni Melumpuhkan Provokator: Ketika Cara Modern Kalah Selangkah dari Taktik Kuno

Glitch di Otak Musuh: Seni Menang Tanpa Perlu Angkat Bicara

Pattern Interrupt: Cara Merusak Skrip Orang yang Lagi Ngamuk






Aku berani taruhan, kau pasti pernah ngerasain momen di mana darah mu tiba-tiba mendidih karena berhadapan sama orang yang emosinya lagi meledak. 


Entah itu klien yang tiba-tiba ngamuk di telepon, bos yang marah-marah nggak jelas di tengah meeting, atau sesederhana orang yang motong jalan mu di tol terus malah dia yang lebih galak.


​Di momen kayak gitu, otak kita itu kayak diprogram ulang secara otomatis. 

Ada bagian di otak kita yang namanya amigdala, fungsinya ngebaca ancaman.


Begitu ada orang yang agresif ke kita, amigdala ini langsung ngebajak logika sehat kita dan ngasih dua pilihan primitif: LAWAN BALIK atau KABUR. 


Ilmuwan nyebut ini sebagai respons fight or flight. 

Makanya, insting pertama kita kalau dibentak orang adalah pengen balas ngebentak lebih keras buat nunjukin kalau kita bukan pihak yang lemah.


​Tapi sayangnya, di dunia nyata, ngerespons agresi pakai agresi itu hampir selalu berujung bencana. 

Masalah nggak selesai, ego makin terluka, dan energi mu habis terkuras.


​Aku suka banget bukunya Chris Voss. Buat kamu yang belum tahu, dia ini mantan negosiator pembebasan sandera andalan FBI. 

Dia nulis buku legendaris judulnya NEVER SPLIT THE DIFFERENCE. 

Di buku itu, ada satu quote yang nempel banget di kepala ku. 

Dia bilang, NEGOTIATION IS NOT AN ACT OF BATTLE; IT'S A PROCESS OF DISCOVERY. THE GOAL IS TO UNCOVER AS MUCH INFORMATION AS POSSIBLE.


​Menurut Chris Voss, senjata paling mematikan buat ngadepin orang yang lagi ngamuk atau nyandera orang itu bukan ancaman senjata api, melainkan sesuatu yang dia sebut sebagai TACTICAL EMPATHY atau empati taktis. 


Empati taktis ini bukan berarti kau setuju sama kelakuan buruk orang itu. 

Bukan berarti kau ikhlas diinjek-injek. 

Empati taktis adalah kemampuan mu buat bener-bener ngelihat situasi dari kacamata emosi lawan, memvalidasi ketakutan mereka, dan pelan-pelan nurunin suhu emosi mereka sampai mereka bisa diajak mikir rasional lagi.

Dan sumpah, pas aku ngebedah literatur sejarah, Rasulullah itu ternyata adalah grandmaster dari taktik ini. 

Beliau sudah ngejalanin behavioral engineering alias rekayasa perilaku tingkat dewa jauh sebelum FBI ngerumusin SOP-nya.


​Mari kita bahas kejadian pertama. 

Bayangin kamu lagi jalan di tempat umum, tiba-tiba ada orang asing, kasar, nggak berpendidikan, nyamperin kamu dan narik kerah baju mu sekencang-kencangnya sambil minta duit. Kesel nggak ?


​Ini bener-bener kejadian sama Rasulullah. Waktu itu ada seorang Arab Badui. 

Orang Badui di zaman itu terkenal punya tabiat yang super kasar dan nggak ngerti tata krama. 

Dia merangsek masuk, narik sorban Rasulullah dari belakang dengan sangat brutal. 

Saking kasarnya tarikan itu, riwayat nyebutin kalau ujung kain sorban yang tebal itu sampai ninggalin bekas merah di leher beliau. 

Bayangin rasanya dicekik pakai kain kasar secara tiba-tiba.


​Orang Badui ini dengan santainya teriak nuntut supaya dia dikasih bagian dari harta negara. 

Kalau ini terjadi sama pemimpin negara zaman sekarang, jangankan bosnya yang bereaksi, Paspampres atau security di sekitarnya pasti sudah ngebanting orang itu ke aspal. 

Secara hukum, orang Badui ini pantas banget dipenjara karena melakukan penyerangan fisik ke kepala negara.


​Tapi apa yang dilakuin Rasulullah? 

Beliau nengok ke orang itu. 

Beliau nggak marah, nggak teriak, nggak manggil pengawal. 

Beliau justru TERSENYUM, dan dengan tenang nyuruh sahabat di sebelahnya buat ngasih apa yang orang Badui itu minta.

​Selesai. Krisis batal terjadi.

Di ilmu psikologi, apa yang dilakuin Rasulullah ini disebut sebagai PATTERN INTERRUPT atau memutus pola. 

Ketika seseorang melakukan agresi fisik, otak mereka itu sudah nyiapin sebuah skrip. 

Mereka berekspektasi bakal dapat perlawanan, atau minimal ngelihat kepanikan dari targetnya. 

Skrip itu yang ngasih mereka bahan bakar buat terus bertindak agresif.


​Tapi dengan memberikan senyuman dan memenuhi permintaannya tanpa ada perlawanan ego sedikit pun, Rasulullah menciptakan semacam glitch atau kerusakan sistem di otak si Badui. 

Skrip konfrontasinya hancur berantakan. 

Ini yang dinamakan EMOTIONAL DAMPENING. 

Beliau ngeredam emosi lawan bukan pakai argumen logis, tapi pakai respons paradoks yang sama sekali di luar nalar penyerangnya. 

Kamu gak bisa terus-terusan marah ke orang yang senyum dengan tulus dan ngasih apa yang kau mau.

Itu secara biologis mustahil buat dipertahanin sama otak manusia.


​Kejadian Badui tadi mungkin level ancamannya masih tergolong ringan karena cuma masalah harta dan kekasaran fisik biasa. 

Tapi gimana kalau ancamannya sudah nyangkut nyawa? 

Gimana cara kita ngelumpuhin ancaman saat posisi kita benar-benar terdesak dan ada senjata di depan mata?

​Aku mau bawa kamu ke sebuah kejadian yang bikin aku geleng-geleng kepala. 

Suatu hari, pas lagi dalam perjalanan militer, Rasulullah lagi istirahat sendirian di bawah pohon. 

Pedangnya digantungin di ranting. Pasukan yang lain lagi pada misah nyari tempat teduh masing-masing.


​Tiba-tiba, ada satu musuh namanya Ghaurats bin Harits yang berhasil nyelinap. 

Dia ngambil pedang yang digantung itu, ngehunusin tepat di depan wajah Rasulullah yang baru saja kebangun. 

Di momen super asimetris di mana Ghaurats ngerasa dia megang kendali penuh atas hidup dan mati, dia ngeluarin pertanyaan intimidatif. 

Dia nanya, " SIAPA YANG AKAN MELINDUNGIMU SEKARANG? "


​Aku coba ngebayangin posisi itu. Kalau ada orang nodong senjata ke aku, reaksi standar manusia pasti antara mohon-mohon ampun, panik, atau minimal ada raut ketakutan yang luar biasa di wajah. 

Karena emang itu kan tujuan orang nodong senjata? Buat mendominasi dan bikin lawannya ketakutan.


​Tapi Rasulullah sama sekali nggak bergeming. 

Beliau natap mata Ghaurats, nggak ada sedikit pun perubahan nada suara atau getaran panik, dan beliau cuma ngejawab satu kata dengan ketenangan absolut: ALLAH.


​Dan kau tahu apa efek dari satu kata yang diucapin tanpa rasa takut itu?

Ghaurats tiba-tiba gemetar hebat. Tangannya lemes, kehilangan kendali, sampai pedangnya jatuh ke tanah. 

Momen kendali itu langsung berbalik 180 derajat.


​Ini adalah aplikasi murni dari teknik THREAT PERCEPTION NULLIFICATION. 

Orang yang memprovokasi atau ngancem kamu itu sebenernya lagi menyerap energi dari rasa takut mu. 

Ketakutan mu adalah validasi buat dominasi mereka. Ketika kamu memproyeksikan stabilitas mental tanpa syarat, ketika kamu menolak buat panik, kau memutus pasokan energi mereka.

Ketidakberadaan respons panik dari targetnya itu memicu guncangan kognitif yang parah di otak penyerang. 

Otak Ghaurats nggak bisa memproses anomali ini. 

Dia berekspektasi ngelihat kepanikan, tapi yang dia dapat malah sebuah tembok ketenangan yang sangat masif. 

Hantaman psikologis dari ketenangan itu ngerusak fungsi motorik di tangannya sampai dia ngejatuhin senjatanya sendiri.

Aku sering nerapin prinsip ini di dunia kerja, terutama kalau lagi meeting sama pihak-pihak yang hobi main gertak sambal. 

Kalau ada orang yang sengaja ninggiin suara atau ngancem bakal batalin kontrak buat menekan ku, respons terbaik ternyata memang diam sejenak, tatap matanya, dan jawab dengan nada suara yang datar dan santai. 

Kepanikan kita adalah senjata mereka. 

Cabut senjata itu, dan mereka bakal kehilangan arah.


​Terus ada lagi satu skenario negosiasi hostile yang menurut ku paling kompleks. 

Skenario di mana ada pihak ketiga yang malah nambahin bahan bakar ke dalam api. 

Ini kejadian pas Rasulullah berhadapan sama Zaid bin Sa'nah.


​Zaid ini saat itu belum masuk Islam. Dia adalah seorang pendeta Yahudi terpandang yang kebetulan ngasih pinjaman utang ke Rasulullah. 

Anehnya, dua atau tiga hari SEBELUM tanggal jatuh tempo utang itu, Zaid sengaja nyari gara-gara. 

Dia nyamperin Rasulullah di keramaian, langsung narik kerah baju beliau dengan kasar, mukanya beringas, dan dia nagih utang itu sambil ngelontarin hinaan ke keluarga besar Rasulullah. 

Dia bilang keturunan Abdul Muthalib itu memang orang-orang yang suka nunda-nunda bayar utang.


​Nah, di sebelah Rasulullah waktu itu ada Umar bin Khattab. Kau tahulah Umar ini profile-nya kayak apa. Jenderal militer, badannya gede, sumbu pendek kalau lihat ada yang ngusik pemimpinnya. 

Denger hinaan Zaid, Umar langsung meledak. Matanya melotot dan dia minta izin buat mendekap atau bahkan memenggal kepala Zaid saat itu juga karena kelancangannya.


​Di titik ini, krisisnya jadi double. 

Di satu sisi ada Zaid yang lagi provokasi secara fisik, di sisi lain ada Umar yang emosinya lagi memuncak dan siap eskalasi pakai kekerasan tingkat tinggi.

Aku merinding ngelihat gimana cara Rasulullah ngurai benang kusut ini pakai ilmu negosiasi tingkat tinggi. 

Beliau nggak bela diri. 

Beliau malah noleh ke Umar, dan ngasih teguran halus tapi telak. 

Beliau bilang," UMAR, AKU DAN DIA BUTUH YANG LEBIH BAIK DARI INI. SURUH DIA MENAGIH DENGAN SOPAN, DAN SURUH AKU MELUNASI DENGAN BAIK."


​Gila nggak tuh? 

Di saat harga dirinya lagi diinjek-injek di depan umum, beliau malah memvalidasi HAK dari si penyerang. 

Beliau memisahkan antara kelakuan buruk Zaid dengan hak sah Zaid atas utangnya.

Lebih gilanya lagi, beliau kemudian nyuruh Umar buat bawa Zaid, bayar lunas semua utangnya, dan beliau ngasih instruksi tambahan: TAMBAHKAN TIMBANGANNYA (bayar lebih dari yang diutang) SEBAGAI KOMPENSASI KARENA ENGKAU TELAH MENAKUT-NAKUTINYA.


​Ini adalah strategi OVER-DELIVERY di bawah tekanan krisis. 

Rasulullah secara sadar nurunin suhu konflik yang lagi dieskalasi sama pihak ketiga (Umar), sambil ngasih kompensasi ekstra atas gesekan emosional yang terjadi.

Kau harus tahu dari sudut pandang psikologi, ini adalah tamparan yang luar biasa keras buat Zaid. 

Zaid sengaja ngelakuin itu buat ngetes apakah karakter Rasulullah ini beneran seorang Nabi atau cuma raja yang arogan. 

Kalau Rasulullah arogan, beliau pasti bakal ngebiarin Umar mukulin Zaid. 

Tapi dengan memvalidasi hak agresor dan ngasih lebih dari yang diminta, permusuhan di hati Zaid menguap tak bersisa. 

Boro-boro mau musuhan, kelar kejadian itu Zaid langsung bersyahadat karena egonya bener-bener dihancurkan oleh kebaikan yang radikal.


​Dari ketiga cerita ini, aku belajar satu hal yang fundamental banget soal nanganin manusia yang lagi toksik. 

Kunci dari tactical empathy itu bukan seberapa pintar kau merangkai argumen buat menangin debat. 

Kadang, menang debat malah bikin kau kehilangan respect atau bikin musuh mu makin dendam.


​Seni melumpuhkan provokator itu ada pada kemampuan mu mengatur termostat emosi di dalam ruangan. 

Ketika musuh mu meledak-ledak dan berekspektasi bakal ada perlawanan, jadilah air yang tenang. 

Kasih senyuman paradoks, validasi ketakutan atau hak mereka secara objektif, dan biarkan kebingungan kognitif bekerja ngelumpuhin amarah mereka dari dalam.


​Kau gak perlu selalu jadi orang yang paling keras suaranya buat bisa ngendaliin keadaan. 

Seringkali, orang yang paling diam dan paling tenanglah yang sebenarnya memegang kendali atas seluruh pertunjukan.







Friday, 5 June 2026

Perintah Kaisar Naga : 6579 - 6583

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6579-6583





*Menghapus Aula Cahaya*


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci mengerutkan kening.


" Siapakah dia...? "


Dave tidak menjawab.


Dia menghunus Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang, mendistorsi dan mengubah bentuk udara di sekitarnya.


"Kau tidak perlu tahu."

Suara Dave sedingin es, "Yang perlu kalian ketahui adalah bahwa orang-orang kalian telah menyentuh orang yang seharusnya tidak mereka sentuh. Karena itu, kalian semua akan menanggung akibatnya."


Ekspresi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menjadi muram.


Dia tidak mengerti maksud Dave.


" Apakah anak buah ku melukai seseorang di Jurang Dingin Utara...? "


" Siapa yang terluka...? "


" Tim yang ku kirim ke Jurang Utara adalah untuk menemukan Jantung Jurang, bukan untuk menimbulkan masalah."


" Bagaimana mungkin mereka menyakiti seseorang..? "


" Siapa yang terluka sehingga memicu serangan besar-besaran oleh mu Dave? "


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tidak dapat memahaminya, tetapi dia tidak perlu memahaminya.


Karena Dave telah mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Energi pedang berwarna ungu mengembun pada pedang, tumbuh semakin panjang dan terang hingga akhirnya mengeras menjadi pilar cahaya ungu sepanjang puluhan kaki.


Pilar cahaya itu mengandung kekuatan yang mengerikan; itu adalah cahaya penghancur yang dilepaskan setelah kekuatan kekacauan dikompresi hingga batasnya.


Dave menebas ke bawah dengan pedangnya.


Wuuzzzz...

Jebreeet....


Sinar ungu itu menghantam penghalang cahaya keemasan, menghasilkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.


Cahaya suci keemasan dan kekuatan kacau berwarna ungu bertabrakan dengan dahsyat di titik tumbukan, kedua kekuatan yang berlawanan itu saling memusnahkan dan melepaskan gelombang energi yang tak terbayangkan.


Gelombang kejut menyebar ke segala arah, menghancurkan semua pohon dalam radius beberapa mil dan menciptakan kawah sedalam beberapa meter di dalam tanah.


Formasi pelindung Aula Cahaya bergetar hebat, dan retakan kecil muncul di layar cahaya keemasan.


Ekspresi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berubah.


Formasi pelindung Aula Cahaya, "Kanopi Cahaya Suci," konon mampu menahan serangan apa pun dari mereka yang berada di bawah peringkat kelima alam Dewa Emas.


Dave hanyalah kultivator Dewa Abadi Agung tingkat delapan, namun kekuatan pedangnya benar-benar menyebabkan retakan muncul di "Kanopi Cahaya Suci".


" Daannccoookk... Monster jenis apakah ini...? "

"Semuanya, dengarkan perintahku!" teriak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, "Pertahankan formasi besar ini dengan sekuat tenaga! Jangan biarkan bocah gila itu menghancurkannya!"


Ribuan kultivator dari Aula Cahaya secara bersamaan menyalurkan kekuatan spiritual mereka, menyuntikkan cahaya suci di dalam tubuh mereka ke dalam formasi besar tersebut.


Retakan pada tirai cahaya keemasan itu sembuh dengan cepat, dan tirai cahaya menjadi lebih tebal dan lebih kokoh.


Namun, serangan pedang kedua Dave telah terlanjur dilancarkan.


Wuuzzzz...

Jegeerrrrrr...


Serangan pedang kedua lebih kuat dari yang pertama, aura pedang ungu lebih panjang, dan kekuatan yang terkandung di dalamnya lebih besar.


Duaaaarrrr....


Tirai cahaya keemasan itu kembali bergetar hebat, dan retakannya menjadi lebih besar dan lebih banyak dari sebelumnya.


Serangan pedang ketiga.


Serangan pedang keempat.


Pedang kelima.


Dave menebas formasi itu dengan pedangnya, setiap tebasan lebih kuat dari sebelumnya, meninggalkan bekas yang dalam pada formasi tersebut.


Para kultivator Aula Cahaya melakukan yang terbaik untuk mempertahankan formasi besar tersebut, tetapi pedang Dave terlalu cepat dan terlalu kuat, dan energi spiritual mereka terkuras dengan kecepatan yang terlihat jelas.


"Ini tidak bisa terus berlanjut!" Wakil kepala aula bergegas ke sisi Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, wajahnya pucat pasi. "Formasi besar itu tidak akan bertahan lebih lama lagi! Kita harus mengambil inisiatif!"


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menggertakkan giginya, secercah kegilaan terpancar di mata emasnya.


"Sampaikan perintah ini: aktifkan formasi besar! Semua murid, ikuti aku ke medan pertempuran!"


"Baik!"


Tirai cahaya keemasan itu perlahan terbuka sedikit.


Ribuan kultivator Aula Cahaya bergegas keluar dari gerbang gunung, cahaya suci keemasan menyala di tubuh mereka, mewarnai seluruh langit dengan warna emas.


Mereka membentuk formasi pertempuran dan menyerbu ke arah tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru.


Master Giok Abadi berdiri di barisan paling depan pasukan Gua Surga Awan Biru, wajahnya yang tua tanpa ekspresi saat ia mengamati para kultivator yang mendekat dari Aula Cahaya.


"Bentuk formasi!" Suaranya tidak keras, tetapi jelas terdengar oleh setiap murid Gua Surga Awan Biru.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru langsung bertindak secara serentak.


Mereka dengan cepat mengatur diri mereka menjadi formasi Bagua yang besar dengan Master Giok Abadi sebagai pusatnya.


Di setiap delapan arah Formasi Bagua, terdapat seorang tetua di tingkat Dewa Emas, dan tiga ratus murid tersebar di berbagai titik Formasi Bagua, masing-masing menyuntikkan kekuatan spiritual mereka ke dalam formasi tersebut.


Formasi Bagua berputar perlahan, dan cahaya spiritual biru memancar dari dalam formasi tersebut, mengembun menjadi hantu Bagua raksasa di langit di atas formasi.


Di dalam gambar ilusi tersebut, delapan trigram—Qian, Kun, Zhen, Xun, Kan, Li, Gen, dan Dui—menyala secara bersamaan, masing-masing mengandung kekuatan prinsip Taoisme.


Ini adalah formasi terkuat sekte di Gua Surga Awan Biru—"Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram".


Konon, formasi ini ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois. Formasi ini sangat kuat dan dapat menjebak musuh yang tingkat kultivasinya satu alam utama lebih tinggi daripada orang yang membuatnya.


Gua Surga Awan Biru tidak pernah menggunakan formasi ini selama puluhan ribu tahun karena belum pernah bertemu musuh yang sepadan dengan penggunaannya.


Hari ini adalah pertama kalinya.


Para kultivator dari Aula Cahaya bergegas memasuki jangkauan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram.


Dalam sekejap, dunia berubah warna.


Di dalam citra ilusi Delapan Trigram, delapan hukum Taoisme muncul secara bersamaan, dengan cahaya spiritual biru menekan cahaya suci keemasan lapis demi lapis.


Heksagram Qian, yang melambangkan surga, melepaskan raungan dahsyat yang menghancurkan para kultivator Aula Cahaya di garis depan menjadi puing-puing hangus.


Heksagram Kun melambangkan bumi. Tiba-tiba, tanah retak dan terbelah, menelan puluhan kultivator Aula Cahaya ke dalam tanah.


Trigram Zhen melambangkan guntur. Petir ungu menyambar dari langit, setiap sambaran merenggut nyawa seorang kultivator dari Aula Cahaya.


Trigram Xun melambangkan angin, dan badai biru menerpa para kultivator Aula Cahaya dengan sangat keras sehingga mereka kehilangan keseimbangan dan tidak mampu berdiri.


Trigram Kan melambangkan air. Banjir dahsyat menerjang dari kehampaan, menelan para biksu Aula Cahaya dan menenggelamkan cahaya suci mereka.


Trigram Li melambangkan api, dan api Dao biru menyembur keluar dari kehampaan, membakar para kultivator Aula Cahaya hingga menjadi abu.


Trigram Gen melambangkan gunung, dan puncak-puncak gunung yang besar turun dari langit, menghancurkan para kultivator Aula Cahaya menjadi daging cincang.


Trigram Dui melambangkan rawa, dan rawa muncul di bawah kaki para biarawan Aula Cahaya, menjebak mereka dan mencegah mereka melarikan diri.


Letusan serentak delapan hukum Taoisme membuat para kultivator Aula Cahaya benar-benar tidak berdaya untuk membalas.


Wajah Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memucat pucat saat menyaksikan pemandangan ini.


Ribuan muridnya, di hadapan Formasi Surgawi Evolusi Delapan Trigram, bagaikan kawanan domba yang akan disembelih, dibantai secara sepihak oleh tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru.


Jika ini terus berlanjut, tidak akan lama lagi sebelum semua muridnya musnah.


"Semuanya mundur! Keluar dari jangkauan formasi!" teriak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Para kultivator Aula Cahaya mundur dengan putus asa, tetapi jangkauan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram terlalu luas. Seberapa cepat pun mereka mundur, mereka tidak dapat menghindari serangan formasi tersebut.


Dalam kurun waktu singkat, hanya setengah batang dupa yang menyala, Aula Cahaya telah kehilangan ratusan murid.


Mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memerah.


Dia mengangkat tongkat emasnya, dan batu bercahaya di puncak tongkat itu memancarkan cahaya suci yang menyilaukan, mengembun menjadi bola cahaya emas yang sangat besar, yang kemudian dia ledakkan ke arah Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram.


Wuuzzzz...

Duaaaarrrr...


Bola cahaya keemasan itu bertabrakan dengan citra ilusi Bagua, menghasilkan raungan yang memekakkan telinga.


Gambar ilusi Bagua bergetar hebat sesaat, tetapi dengan cepat kembali stabil.


Master Giok Abadi berdiri dalam formasi, menatap Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, wajahnya yang tua tanpa ekspresi.


“Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.” Suaranya tenang. “Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram adalah formasi yang ditinggalkan oleh leluhur sekte Taois. Dengan kultivasi Anda di peringkat kelima Alam Abadi Emas, Anda tidak dapat menghancurkannya.”


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menggertakkan giginya, matanya yang berwarna emas merah padam.


Dia tahu bahwa Master Giok Abadi mengatakan yang sebenarnya.


Kekuatan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram jauh melampaui imajinasinya.


Sekalipun Master Giok Abadi hanyalah seorang Dewa Emas tingkat lima, dia tetap bisa memberikan perlawanan.


Namun, Master Giok Abadi tidak berjuang sendirian.


Dia memiliki tiga ratus murid yang membantunya mempertahankan formasi tersebut, dan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram membantunya memperkuat kekuatannya.


Bagaimana mungkin dia bisa memecahkannya sendiri?


"Dave Chen!"


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tiba-tiba menoleh, pandangannya tertuju pada Dave. "Apa sebenarnya yang kau inginkan? Aku tidak menyimpan dendam padamu! Baik rakyatmu maupun rakyatku tidak ada yang dirugikan! Apakah kau salah paham?"


Dave berdiri di tepi Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram, Pedang Pembunuh Naga dipegang horizontal di depannya, mata ungunya menatap Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, tanpa ada perubahan dalam tatapannya.


"Anak buahmu melukai seorang wanita yang mengenakan gaun merah tua di Jurang Dingin Utara."


Suaranya tenang, tetapi ada nada dingin yang tersirat di dalamnya: "Dia adalah anggota garis keturunan Iblis Api, tetapi dia tidak bersalah. Kau tidak boleh menyakitinya."


Sebuah adegan terlintas di benak Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci: bawahannya pernah melaporkan kepadanya bahwa mereka telah bertemu dengan sekelompok kultivator iblis di Jurang Dingin Utara, di antara mereka ada seorang wanita yang mengenakan gaun merah gelap.


Dia tidak memperhatikan saat itu.


Iblis? Bunuh saja mereka.


Dia tidak pernah menyangka bahwa hanya karena dia melukai wanita itu, Dave akan membawa tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru ke Aula Cahaya untuk membalas dendam.


"What... Hanya untuk seorang wanita?"


Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci itu dipenuhi rasa tidak percaya, "Kau memimpin tiga ratus orang untuk menyerbu Aula Cahayaku, hanya demi seorang wanita?"


Dave tidak menjawab.


Dia hanya mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang itu, semakin lama semakin kuat hingga akhirnya mengembun menjadi aura pedang ungu sepanjang seratus kaki.


"Kalian telah menyakitinya." Suara Dave lembut, tetapi setiap kata bagaikan pisau yang menusuk jantung Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci. "Oleh karena itu, kalian semua akan mati."


Wuuzzzz...


Energi pedang itu menebas ke bawah.


Serangan itu tidak ditujukan kepada Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, melainkan kepada gerbang gunung Aula Cahaya.


Aura pedang ungu sepanjang seratus zhang menebas gerbang gunung, membelah seluruh gerbang menjadi dua.


Serpihan giok putih beterbangan ke mana-mana, dan rune cahaya suci di gerbang gunung hancur menjadi abu oleh api kekacauan yang membakar.


"Kau..!" Mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memerah, dan cahaya suci keemasan menyembur liar dari tubuhnya, mendorong kultivasinya ke puncak peringkat kelima Alam Abadi Emas.


Dia mengangkat tongkat emasnya, dan Batu Cahaya di puncak tongkat itu memancarkan cahaya suci yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengembun menjadi bola emas seukuran kepala manusia, yang mengandung kekuatan yang cukup untuk menghancurkan sebuah kota.


"Cahaya Suci - Hukuman Ilahi!"


Wuuzzzz...


Bola emas itu melesat keluar dari tangannya, meninggalkan jejak api emas yang panjang, dan meluncur ke arah Dave.


Ke mana pun bola cahaya itu lewat, udara terbakar, dan tanah terkikis membentuk parit sedalam beberapa kaki, bebatuan di dalam parit meleleh menjadi magma merah tua karena suhu yang tinggi.


Dave menatap bola cahaya keemasan yang melesat ke arahnya, mata ungunya tidak menunjukkan rasa takut.


Dia tidak mundur, menghindar, atau bahkan menangkis.


Dia hanya menghunuskan pedangnya.


Jegeerrrrrr...


Saat ujung Pedang Pembunuh Naga berbenturan dengan bola cahaya emas, api ungu yang kacau itu meledak dengan dahsyat, berubah menjadi bola api ungu besar yang sepenuhnya menelan bola cahaya emas tersebut.


Cahaya suci keemasan itu berjuang liar di dalam kobaran api ungu, seperti mangsa yang digigit lehernya oleh binatang buas, menggeliat, meronta, dan meraung putus asa, tetapi ia tidak dapat melepaskan diri dari kekuatan kekacauan.


Dengan jentikan lembut ujung pedang Dave, bola cahaya keemasan yang telah dilahap oleh Api Kekacauan itu mengubah arah dan terbang menuju Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Pupil mata Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci tiba-tiba menyempit.


Dia mencoba menghindar, tetapi bola emas itu terbang terlalu cepat, dan setelah dilahap oleh api yang kacau, bola itu menjadi semakin tidak stabil, meledak dengan suara keras saat mencapai dirinya.


Duaaaarrrr... 


Cahaya suci keemasan dan api ungu yang kacau meledak secara bersamaan, berubah menjadi berkas cahaya kecil yang tak terhitung jumlahnya yang melesat ke segala arah.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terlempar ke belakang dan menabrak dinding istana dengan keras di belakangnya, menciptakan lubang besar di dinding. Kemudian dia jatuh ke dalam istana.


Darah keemasan tumpah dari sudut mulutnya, menetes dari dagunya ke lantai giok putih.


Jubah emasnya terkoyak-koyak, dan baju zirah cahaya sucinya penuh dengan retakan, beberapa di antaranya mengeluarkan asap hitam.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci berjuang untuk berdiri dari reruntuhan, matanya dipenuhi dengan keterkejutan dan ketakutan.


Tingkat kelima dari Alam Abadi Emas.


Dia adalah seorang Dewa Abadi Emas tingkat lima.


Di sisi lain, Dave hanyalah seorang pemuda di peringkat kedelapan Alam Abadi Agung.


Bagaimana mungkin dia bisa dikalahkan sebegitu parah oleh seorang Abadi Agung tingkat delapan?


"Siapakah sebenarnya kau?" Suara Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci terdengar sangat serak.


Dave tidak menjawab.


Dia membawa Pedang Pembunuh Naga dan berjalan menuju Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Api ungu yang kacau membara di pedang, mendistorsi dan mengubah bentuk udara di sekitarnya.


Langkah kakinya tidak cepat maupun lambat, setiap langkahnya mantap, seolah-olah dia sedang mengukur langkah-langkah kematian.


Saat Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci memperhatikan Dave mendekat selangkah demi selangkah, rasa takut di matanya semakin kuat.


Dia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tidak mau menurutinya.


Serangan pedang Dave tidak hanya menghancurkan Armor Cahaya Suci miliknya, tetapi juga meridiannya.


Cahaya sucinya mengalir tak beraturan melalui meridiannya, sehingga mustahil untuk menyatu.


Dia bahkan tidak bisa mengalahkan kultivator Dewa Abadi Agung sekarang.


Dave berjalan menghampiri Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci dan berhenti tiga langkah di depannya.


Mata ungu itu menatapnya tanpa emosi, seperti seorang algojo yang menatap tahanan yang akan dieksekusi.


"Apakah Anda memiliki kata-kata terakhir?" Suara Dave terdengar tenang.


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mengatakan apa pun.


Berbagai macam pikiran melintas di benaknya—memohon belas kasihan, ancaman, suap…


Namun, dia menolak setiap ide tersebut.


Dia tahu bahwa semua itu tidak berarti apa-apa di hadapan Dave.


Pemuda ini datang untuk wanita yang mengenakan gaun merah gelap.


Menyakitinya berarti melanggar batasan moralnya.


Memohon belas kasihan itu sia-sia, ancaman itu sia-sia, dan suap itu sia-sia. Beda ceritanya jika ini terjadi di negeri Odni 


Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci menutup matanya.


"Aku tak punya apa-apa untuk dikatakan." Suaranya sangat serak. "Silakan bertindak."


Dave mengangkat Pedang Pembunuh Naga.


Api ungu yang kacau membara di pedang, menerangi wajah pucat Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci.


Pedang itu jatuh.


Wuuzzzz...

Crazz...


Energi pedang ungu menebas leher Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dan sebuah kepala terlepas, berputar beberapa kali di udara sebelum mendarat di tanah dan berguling jauh.


Tubuh tanpa kepala itu kaku sesaat, lalu perlahan jatuh, menghantam lantai giok putih dengan bunyi tumpul.


Gedebug! 


Darah keemasan menyembur dari rongga leher, mewarnai giok putih menjadi emas gelap.


Penguasa Aula Cahaya, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat kelima, telah gugur.


Kematian Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci bagaikan jerami terakhir yang mematahkan punggung unta.


Ketika para biksu di Aula Cahaya melihat Pemimpin Aula mereka terbunuh, semangat mereka langsung runtuh.


Sebagian berlutut menyerah, sebagian berbalik dan lari, dan sebagian lagi berdiri di sana dengan tercengang, tidak tahu harus berbuat apa.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru tidak mengejar mereka yang melarikan diri maupun membantai mereka yang menyerah.


Mereka hanya berdiri dengan tenang di dalam Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram, menunggu perintah Dave.


Dave menyarungkan Pedang Pembunuh Naga dan menoleh untuk melihat para kultivator Aula Cahaya yang berlutut di tanah.


Mata ungunya menyapu wajah-wajah mereka yang ketakutan tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.


"Mulai hari ini, Auala Cahaya tidak lagi ada."


Suaranya tenang, namun sangat jelas di Aula Cahaya yang sunyi, "Mereka yang bersedia menyerah, menyerahkan artefak magis mereka, melumpuhkan kultivasi mereka, dan boleh pergi hidup-hidup. Mereka yang tidak bersedia menyerah..."


Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi semua orang mengerti maksudnya.


Mereka yang menolak menyerah akan mati.


Para kultivator di Aula Cahaya saling memandang, lalu satu per satu menyerahkan artefak magis mereka, menyalurkan kekuatan spiritual mereka, dan menghancurkan meridian mereka.


Cahaya suci keemasan menghilang dari tubuh mereka, dan tingkat kultivasi mereka merosot dengan cepat, dari Alam Abadi Emas ke Alam Abadi Agung, dari Alam Abadi Agung ke Alam Abadi Sejati, dan dari Alam Dewa Abadi kembali ke Alam Dewa Surgawi, dan menjadi ke alam manusia biasa 


Mereka dulunya adalah kultivator dewa yang hebat dan perkasa, tetapi sekarang mereka bukan siapa-siapa.


Tapi setidaknya mereka masih hidup.


Dave tidak memberi kesempatan kepada mereka yang tidak mau menyerah.


Para murid dari Gua Surga Awan Biru bertindak cepat dan tegas, membunuh satu demi satu dengan setiap tebasan pedang. Dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, semua kultivator Aula Cahaya yang keras kepala telah terbunuh.


Darah keemasan mengalir di depan gerbang Aula Cahaya, membentuk aliran emas gelap.


Udara dipenuhi dengan bau darah yang kuat dan menyengat yang membuat orang ingin muntah.


Dave berdiri di reruntuhan gerbang gunung, memandang segala sesuatu di hadapannya, mata ungunya benar-benar tenang.


Dia bukanlah orang yang haus darah.


Namun, sebagian orang memang pantas mati.


Mereka dari Aula Cahaya yang melukai Yuki pantas mati.


Baik mereka bertindak secara sengaja maupun tidak sengaja, baik mereka bertindak atas perintah atau atas inisiatif sendiri.


Jika kamu menyakiti seseorang yang seharusnya tidak kamu sakiti, kamu harus menanggung konsekuensinya.


Ini adalah aturan Dave.


Dari Dunia Sekuler hingga Alam Surgawi, dari Alam Surgawi hingga Semua Alam yang tak terhitung jumlahnya, aturan ini tidak pernah berubah.


Master Giok Abadi berjalan ke sisi Dave, matanya yang tua menatapnya dengan ekspresi yang kompleks.


"Tuan Chen, Aula Cahaya telah hancur. Ke mana kita akan pergi selanjutnya?"


Dave terdiam sejenak, lalu berkata, "Kumpulkan semua sumber daya Aula Cahaya dan kembalilah ke Gua Surga Awan Biru."


Master Giok Abadi mengangguk dan berbalik untuk memberikan beberapa instruksi kepada murid-muridnya.


Para murid dari Gua Surga Awan Biru mulai membersihkan medan perang, mengumpulkan rampasan perang, dan merawat yang terluka.


Dave berdiri di atas reruntuhan, pandangannya tertuju ke timur laut.


Itulah arah yang dituju Yuki saat pergi.


Dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sini, tidak menyadari semua yang telah dia lakukan untuknya.


Mungkin dia tidak akan pernah tahu.


Sekalipun dia tahu, dia mungkin tidak akan peduli.


Dia amnesia dan tidak mengingatnya.


Di matanya, dia hanyalah seseorang yang dikenalnya, seorang anak laki-laki yang pernah dilihatnya di Surga Keempat Belas, seseorang yang telah membantunya di Jurang Dingin Utara.


Itu saja.


Namun Dave tidak peduli.


Dia tidak perlu dia tahu apa yang telah dia lakukan untuknya, tidak perlu dia membalas budi, dan bahkan tidak perlu dia peduli.


Dia hanya ingin dia tahu...


Di dunia ini, masih ada orang-orang yang peduli padanya, orang-orang yang mengingatnya, dan orang-orang yang rela mempertaruhkan nyawa mereka untuknya.


Sekalipun dia sudah melupakan semuanya.


Sekalipun dia tidak pernah memikirkannya lagi.


"Ayo pergi." Dave mengalihkan pandangannya, berbalik, dan berjalan menuruni gunung.


Agnes mengikuti di belakangnya, gaun putih saljunya tampak menonjol di bawah sinar matahari keemasan.


Dia memegang Jantung Jurang Dingin di tangannya; mutiara biru es itu terasa sedikit hangat di telapak tangannya, seolah-olah sedang menceritakan sebuah kisah.


Yun Yi berjalan di depan kelompok, pedang kayunya bergoyang lembut di punggungnya, pola Dao kuno pada pedang itu bersinar samar-samar di bawah sinar matahari.


Master Giok Abadi berjalan di paling belakang iring-iringan, rambut dan janggut putihnya berkibar tertiup angin. Mata tuanya menatap reruntuhan Aula Cahaya, secercah emosi yang tak terlukiskan terpancar di dalamnya.


Tiga ratus murid Gua Surga Awan Biru berdiri dalam barisan rapi, jubah Taois biru mereka berkilauan samar-samar di bawah sinar matahari, seperti sungai biru yang mengalir perlahan melalui pegunungan dan hutan.


Di belakang mereka, reruntuhan Aula Cahaya memancarkan asap hitam di bawah sinar matahari, dan darah keemasan mengental di atas giok putih, menciptakan pemandangan yang aneh dan berdarah.


Aula Cahaya, sebuah kekuatan ilahi yang telah ada di Delapan Belas Surga selama puluhan ribu tahun, hancur total hari ini.


...... 


Berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh Surga ke-18.


Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru mengerahkan seluruh kekuatan mereka dan, dipimpin oleh Dave, memusnahkan Aula Cahaya dalam satu hari.


Master Istana, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dibunuh secara pribadi oleh Dave, dan ribuan kultivator Aula Cahaya tewas, menyerah, atau melarikan diri.


Aula Cahaya yang dulunya megah itu hancur lebur dalam satu hari.


…………


Istana Dewa Api.


Yang Mulia Api Bumi duduk di Singgasana Dewa Api, memegang informasi yang baru saja diterimanya di tangannya, matanya yang berwarna merah keemasan dipenuhi dengan keterkejutan.


Aula Cahaya telah hancur.


Semuanya musnah dalam satu hari.


Sang Master Istana, Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat lima, dibunuh secara pribadi oleh Dave.


"Dave Chen..." Yang Mulia Api Bumi menggumamkan nama itu, suaranya dipenuhi getaran ketakutan yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari, "Berapa banyak lagi orang yang ingin kau bunuh?"


Tidak seorang pun bisa menjawabnya.


Aula utama sunyi senyap; bahkan suara lampu suci yang menyala pun terdengar dengan jelas.


Yang Mulia Api Bumi meletakkan laporan intelijen itu dan mengetuk-ngetuk jarinya pelan di sandaran tangan, menghasilkan suara dentuman yang tumpul.


Dia sedang berpikir.


Akankah target Dave selanjutnya adalah Istana Dewa Api?


Jika Dave membawa tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru ke Istana Dewa Api, bisakah dia menghentikannya?


Bahkan Tirai Langit Cahaya Suci, formasi pelindung Aula Cahaya, tidak dapat menghentikan Dave. Mungkinkah formasi pelindung Istana Dewa Api dapat menghentikannya?


Bahkan Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci pun tewas di bawah pedang Dave, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Dave?


Alis Yang Mulia Api Bumi berkerut dalam-dalam.


Dia tidak tahu jawabannya.


Namun dia tahu satu hal: dia harus menemukan cara untuk menghadapi Dave secepat mungkin.


Jika tidak, tempat selanjutnya yang akan dihancurkan adalah Istana Dewa Api.


…………


Kamar Dagang Void.


Frederik Wu berdiri di depan jendela besar dari lantai hingga langit-langit di lantai sembilan Paviliun Hampa, memegang secangkir Teh Pencerahan di tangannya, memandang lautan awan yang bergelombang di luar jendela.


Di belakangnya, para pengawal kepercayaannya melaporkan berita tentang kehancuran Aula Cahaya.


"What.... Aula Cahaya hancur? Hanya dalam satu hari?" Suara Frederik Wu dipenuhi rasa tidak percaya. "Dave melakukannya sendirian?"


" Tidak sepenuhnya.." 

Pelayan tepercaya itu berkata, "Tiga ratus murid dari Gua Surga Awan Biru juga ikut serta. Master Giok Abadi secara pribadi memimpin tim dan menggunakan Formasi Evolusi Surgawi Delapan Trigram. Tetapi sebenarnya Dave sendirilah yang membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci."


Frederik Wu terdiam untuk waktu yang lama.


Dia meletakkan Teh Pencerahan, berjalan ke jendela, dan memandang lautan awan di luar, matanya berbinar penuh ketajaman.


“Sekte Taois… Dave Chen… Gua Surga Awan Biru…” Ia menggumamkan kata-kata itu, senyum penuh arti muncul di bibirnya. “Menarik, sangat menarik.”


Dia menoleh ke pengawal kepercayaannya, "Ada kabar dari pihak Arquette?"


"Wakil Presiden Su telah kembali dan sedang menunggu dipanggil oleh presiden."


"Suruh dia datang menemui ku." Frederik Wu mengambil kembali Teh Pencerahannya, menyesapnya, dan berkata, "Aku perlu berbicara baik-baik dengannya."


"Baik."


Petugas yang terpercaya itu menerima pesanan dan pergi.


Frederik Wu berdiri sendirian di dekat jendela, jari-jarinya dengan lembut mengetuk cangkir teh, menghasilkan suara gemerincing yang renyah.


Dengan hancurnya Aula Cahaya, struktur kekuasaan di Surga ke-18 akan mengalami perubahan yang sangat besar.


Dominasi Istana Dewa Api akan dipatahkan.


Di bawah kepemimpinan Dave, Gua Surga Awan Biru akan menjadi penguasa baru di Surga ke-18.


Persekutuan Pedagang Void harus menemukan tempatnya di lanskap baru ini.


“Dave, oh Dave Chen…” Wu Yuan menggumamkan nama itu, senyumnya semakin lebar. “Aku benar-benar tidak bisa lagi melihat isi hatimu.”


…………


Pasukan dari Gua Surga Awan Biru bergerak perlahan melewati pegunungan dan hutan.


Sebuah pasukan yang terdiri dari tiga ratus orang membentang dalam barisan panjang, jubah Taois biru mereka tampak menonjol di antara pegunungan dan hutan yang hijau.


Dave berjalan di depan kelompok itu, Pedang Pembunuh Naga tergantung di pinggangnya, mata ungunya menatap lurus ke depan.


Pikirannya memutar ulang semua yang telah terjadi hari itu.


Dimulai dari berangkat saat fajar, mengepung Aula Cahaya, membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, hingga menghancurkan Aula Cahaya.


Semuanya terjadi begitu cepat, rasanya hampir tidak nyata.


Namun, dia tidak menyesalinya.


Mereka dari Aula Cahaya yang melukai Yuki dengan cepat meninggal.


Inilah aturannya, dan juga batasan terakhir.


Tidak seorang pun diperbolehkan menyentuhnya.


Agnes berjalan di samping Dave, gaun putih saljunya tampak menonjol di antara kerumunan orang yang mengenakan pakaian biru.


Dia menatap sosok Dave, emosi berkecamuk di mata ungunya, dan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata muncul dalam dirinya.


Bagi Yuki, pria ini rela menghancurkan ras dewa yang telah ada selama puluhan ribu tahun.


Jika suatu hari dirinya berada dalam bahaya, akankah dia melakukan hal yang sama untuknya?


Agnes tidak tahu jawabannya, dan dia juga tidak berani bertanya.


Dia berjalan diam-diam di sampingnya, seperti daun putih sedingin es yang melayang lembut di sungai biru.


Yun Yi berjalan di depan kelompok itu, pedang kayu di punggungnya berkilauan samar-samar di cahaya senja matahari terbenam.


Wajahnya tanpa ekspresi, tetapi hatinya sangat bergejolak.


Dia adalah Dewa Emas tingkat kedua, dan merupakan murid paling unggul dari sekte Taois di generasi ini.


Dia selalu berpikir bahwa dirinya sangat berprestasi.


Namun hari ini, setelah melihat Dave membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, dia akhirnya mengerti apa arti kekuatan sejati.


Dia adalah Dewa Abadi Agung tingkat delapan dan membunuh Dewa Emas tingkat lima.


Dari semua orang yang dikenalnya, hanya Dave yang bisa melakukan ini.


Master Giok Abadi berjalan di bagian paling belakang iring-iringan, rambut dan janggut putihnya berkibar tertiup angin malam.


Dia menatap punggung Dave di depannya, secercah kelegaan terpancar di mata tuanya.


Dia menunggu puluhan ribu tahun, dan akhirnya bertemu dengan orang ini.


Pewaris Kitab Emas Luo Agung, penerus patriark Taois, dan pemimpin generasi baru sekte Taois.


Ia percaya bahwa di bawah kepemimpinan Dave, sekte Taois pasti akan bangkit kembali.


Mereka pasti akan mampu mematahkan penindasan para dewa selama ratusan ribu tahun dan sekali lagi menjadi kekuatan paling tangguh di seluruh surga dan berbagai alam.


.....


Saat matahari terbenam, warna keemasan dan merah tua dari ketiga matahari yang menyala telah tenggelam di bawah cakrawala, hanya menyisakan bulan berwarna perak-putih yang menggantung tinggi di langit.


Cahaya bulan yang sejuk menembus pegunungan dan hutan, menyelimuti kelompok yang berjumlah tiga ratus orang itu dalam cahaya keperakan.


Pegunungan Awan Biru yang jauh tampak samar-samar di bawah cahaya bulan, dan salju di puncak gunung berkilauan dengan cahaya putih keperakan.


Ketika rombongan kembali ke Gua Awan Biru, hari sudah gelap gulita.


Bulan berwarna putih keperakan menggantung tinggi di langit, cahayanya yang sejuk menyinari puncak-puncak Pegunungan Awan Biru yang berderet, menyelimuti seluruh lembah dengan cahaya keperakan.


Satu per satu, lampu-lampu hijau di kuil Taois menyala, bergoyang lembut tertiup angin gunung, seperti kunang-kunang yang tak terhitung jumlahnya menari di malam hari.


Dave berjalan di depan iring-iringan, melewati gapura batu biru dan menuju jalan raya batu biru yang lebar.


Pohon-pohon spiritual yang berjajar di kedua sisi jalan berkilauan samar-samar di bawah sinar bulan, dan aroma buah-buahan spiritual meresap ke dalam angin malam, menciptakan suasana yang lebih tenang dan damai dibandingkan siang hari.


Gerbang kuil Taois terbuka lebar, dan dua baris murid Gua Surga  Awan Biru yang tinggal di belakang berdiri di kedua sisi gerbang, memegang lentera hijau di tangan mereka, untuk menyambut rombongan yang kembali.


Tatapan mereka tertuju pada Dave, mata mereka dipenuhi kekaguman.


Kabar tentang kehancuran Aula Cahaya telah sampai kepada mereka. Mereka tahu bahwa bocah inilah, yang tampaknya berusia di bawah dua puluh tahun, yang secara pribadi membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, seorang Dewa Emas tingkat lima.


Master Giok Abadi berhenti di pintu masuk kuil Taois dan menoleh ke arah Dave.


"Tuan Chen, Anda telah menjalani hari yang panjang. Saya telah menyiapkan kamar tamu untuk Anda dan Nona Jiang. Anda bisa beristirahat sekarang. Para murid saat ini sedang mendata persediaan sumber daya dari Aula Cahaya, dan semuanya akan dikirimkan kepada Anda besok pagi."


Dave mengangguk. "Terima kasih, senior."


Master Giok Abadi melambaikan tangannya dan berbalik untuk berjalan lebih jauh ke dalam kuil Taois.


Rambut dan janggut putihnya berkilauan dengan cahaya keperakan di bawah sinar bulan, jubah Taois birunya berkibar lembut tertiup angin malam, dan langkahnya tetap tidak cepat maupun lambat, setiap langkahnya mantap.


Namun punggungnya tampak jauh lebih tua daripada siang hari, seolah-olah pertempuran itu telah memberikan dampak buruk pada semangatnya.


Yun Yi berjalan menghampiri Dave dan sedikit membungkuk. "Tuan Chen, silakan ikuti saya."


Dave mengikuti Yun Yi melewati aula utama kuil Taois, menyusuri koridor panjang, dan tiba di halaman terpencil di belakang kuil.


.... 


Halaman itu kecil, dikelilingi tembok bata biru, dengan beberapa bambu hijau ditanam di tengahnya, berdesir tertiup angin malam.


Di sudut halaman berdiri sebuah sumur kuno, airnya memantulkan cahaya bulan yang terang di langit. Angin sepoi-sepoi menggerakkan pantulan bulan, menyebabkannya bergoyang lembut di dalam air.


Rumah utama memiliki tiga kamar, dan terdapat dua kamar di sayap timur dan barat. Dengan ubin hijau dan dinding putih, serta atap yang melengkung ke atas, semuanya selaras dengan gaya keseluruhan Gua Awan Biru, sederhana namun elegan.


Yunyi mendorong pintu ruang utama hingga terbuka dan menyalakan lampu biru di atas meja.


“Tuan Chen, ini adalah kamar tamu terbaik di Gua Awan Biru. Dulunya kamar ini digunakan untuk menerima para pemimpin dan tetua dari cabang-cabang sekte Taois lainnya.”


Suara Yun Yi tenang, tetapi nadanya mengandung sedikit rasa hormat, "Halaman di sebelah sudah disiapkan untuk Nona Jiang, dan saya sudah merapikannya."


"Tolong sampaikan terima kasihku kepada Master Giok Abadi," kata Dave.


Yun Yi mengangguk, berbalik dan pergi, tetapi berhenti di pintu tanpa menoleh ke belakang. Dia hanya berkata pelan, "Tuan Chen, saya telah berkultivasi selama tiga ribu tahun dan tidak pernah tunduk kepada siapa pun. Tetapi hari ini, saya tunduk."


Setelah mengatakan itu, dia melangkah pergi, jubah Taois birunya memancarkan bayangan samar di bawah sinar bulan.


Dave memperhatikan sosoknya menghilang di balik gerbang halaman, secercah emosi terlintas di mata ungunya.


Setelah berlatih selama tiga ribu tahun dan mencapai peringkat kedua alam Dewa Emas, dia sudah dianggap sebagai seorang jenius yang tak tertandingi di sekte Taois.


Alasan mengapa orang seperti itu bisa berkata "Saya yakin" bukanlah karena dia membunuh Yang Mulia Surgawi Cahaya Suci, tetapi karena dia mencapai sesuatu yang bahkan seorang Dewa Emas tingkat lima pun tidak dapat lakukan dengan kultivasinya di tingkat kedelapan Alam Dewa Agung.


Kekuatan tempur yang melampaui level seseorang seperti ini belum pernah muncul di sekte-sekte Taois sebelumnya.


.....


Dave menutup pintu, duduk bersila di atas ranjang kayu, dan perlahan-lahan melancarkan Teknik Konsentrasi Hati. Kekuatan kekacauan mengalir melalui meridiannya, secara bertahap menghilangkan kelelahan seharian.


Api kekacauan di dalam dantiannya membakar dengan tenang, meleburkan semua kekuatan spiritual, kekuatan penyembuhan, dan pecahan hukum menjadi kekuatan kacau yang paling murni.


Namun, pertempuran dengan Aula Cahaya menghabiskan terlalu banyak energi spiritual, dan dia tidak bisa pulih sepenuhnya dalam waktu singkat. Dia membutuhkan waktu dan sumber daya.


...... 


Keesokan paginya, tepat saat matahari keemasan pertama mengintip di cakrawala timur, Dave membuka matanya dari meditasinya.


Setelah bermeditasi semalaman, energi spiritualnya telah pulih lebih dari setengahnya, tetapi masih jauh dari kondisi puncaknya.


Tingkat kultivasinya tetap berada di tahap pertengahan peringkat kedelapan Alam Abadi Agung, dan tingkat kondensasi Kekuatan Kekacauan tidak meningkat secara signifikan.


Meskipun pertempuran di Aula Cahaya berlangsung biasa-biasa saja, namun lawannya adalah Dewa Emas tingkat lima, yang merupakan kemenangan telak baginya. Hal itu tidak memberinya tekanan tempur yang cukup, dan oleh karena itu tidak memicu kesempatan untuk terobosan.


Dia membutuhkan lawan yang lebih kuat dan pertarungan yang lebih sengit untuk menembus ke level yang lebih tinggi.


Namun, Raja Dewa di surga ke-20 diperkirakan berada di puncak peringkat kesembilan Alam Abadi Emas. Baginya untuk menantangnya dengan tingkat kultivasinya saat ini akan seperti melempar telur ke batu.


Dia harus menjadi lebih kuat, setidaknya menembus Alam Dewa Abadi Emas, sebelum dia memiliki kesempatan untuk melawan Raja Dewa.


Untuk menembus ke Alam Abadi Emas dibutuhkan sumber daya dalam jumlah yang sangat besar.


Dave berdiri dan berjalan keluar ruangan.


Di halaman, seorang murid muda dari Gua Surga Awan Biru berdiri di pintu masuk, memegang tas penyimpanan di tangannya. Ketika melihat Dave keluar, dia segera membungkuk dan memberi salam.


"Tuan Chen, ini dikirim oleh pemimpin sekte melalui murid. Semua sumber daya Aula Cahaya telah diinventarisasi dan semuanya ada di dalam tas penyimpanan ini."


Dave mengambil tas penyimpanan itu dan memeriksanya dengan indra ilahinya.


Pupil matanya sedikit menyempit.


Persediaan di dalam tas penyimpanan itu jauh lebih banyak dari yang dia perkirakan.


Kristal – berjumlah jutaan, dari semua tingkatan, termasuk puluhan ribu kristal kelas atas.


Pil—puluhan ribu jumlahnya, mulai dari pil penyembuhan hingga pil peningkat kultivasi, dari pil kelas rendah hingga kelas tinggi, ada sesuatu untuk semua orang.


Terdapat ribuan artefak magis dengan berbagai tingkatan, tetapi bahkan yang terburuk pun berada pada tingkatan Dewa Agung, dan ada puluhan yang berada pada tingkatan Dewa Emas.


Naskah giok berisi teknik kultivasi—yang jumlahnya mencapai ratusan—mencatat berbagai teknik kultivasi, keterampilan rahasia, formasi, dan formula ramuan yang dikumpulkan oleh Aula Cahaya selama puluhan ribu tahun.


Bahan-bahan spiritual—tertumpuk seperti gunung, termasuk segala macam bahan langka dan berharga, inti binatang iblis, ramuan dan buah-buahan spiritual, susunan yang memukau, banyak di antaranya adalah varietas yang belum pernah dilihat Dave sebelumnya.


Kekayaan yang terkumpul di Aula Cahaya selama puluhan ribu tahun habis dalam satu hari dan seluruhnya jatuh ke tangan Dave.


Sumber daya ini cukup bagi kultivator Alam Abadi Agung biasa untuk menembus dari peringkat kesembilan Alam Abadi Agung hingga peringkat ketiga atau bahkan keempat Alam Abadi Emas.


Namun, bagi Dave, yang mengolah kekuatan kekacauan, jumlah sumber daya ini masih belum mencukupi.


Kekuatan kekacauan membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan kali lebih banyak sumber daya daripada kultivator pada level yang sama. Jika dia menghabiskan sumber daya tersebut, dia akan beruntung jika bisa menembus peringkat kesembilan Alam Abadi Agung; Alam Abadi Emas masih akan sangat jauh.


Dave menyimpan tas penyimpanan dan berjalan menuju halaman sebelah.


Agnes sudah bangun dan berdiri di halaman, gaun putih saljunya berkilauan samar-samar di bawah cahaya pagi.


Dia memegang Jantung Jurang Dingin di tangannya, dan cahaya biru es memancar dari mutiara itu, menyatu dengan kekuatannya sebagai Dewa Es.


Semalaman berlatih telah sepenuhnya memantapkan kultivasinya ke tingkat pertama Alam Abadi Emas. Wajahnya kembali merona, dan cahaya di matanya lebih jernih dari sebelumnya.


Melihat Dave masuk, Agnes menyingkirkan Jantung Jurang Dinginnya dan berjalan menghampirinya.


"Bagaimana istirahatmu?" tanya Dave.


"Sangat baik."


Agnes mengangguk. "Energi spiritual di Gua Surga Awan Biru jauh lebih kaya daripada di luar. Satu hari kultivasi di sini setara dengan sepuluh hari kultivasi di luar. Dengan bantuan Jantung Jurang Dingin, kultivasiku seharusnya mampu menembus ke peringkat kedua Alam Abadi Emas dalam waktu singkat."


Dave mengeluarkan cincin penyimpanan dari tas penyimpanannya dan menyerahkannya kepada wanita itu.


"Apa ini?"


"Aku akan memberimu setengah dari sumber daya dari Aula Cahaya."


Agnes terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sumber daya ini diperoleh dengan nyawamu; aku tidak bisa menerimanya. Selain itu, kau membutuhkan sumber daya ini untuk menembus level kultivasimu. Kekuatan Kekacauanmu membutuhkan terlalu banyak sumber daya; jika kau memberikan setengahnya kepadaku, kau tidak akan memiliki cukup untuk dirimu sendiri."


“Justru karena aku membutuhkan begitu banyak sumber daya, sumber daya ini menjadi tidak berarti bagiku.” Dave menyelipkan cincin penyimpanan itu ke tangannya. “Namun, sumber daya ini cukup bagimu untuk menembus dari peringkat pertama Alam Abadi Emas ke peringkat ketiga. Kau telah mengikuti ku sejauh ini, mempertaruhkan nyawamu beberapa kali, memberikan tubuh mu hingga aku terpuaskan. Aku tidak bisa membiarkanmu mengikuti ku tanpa hasil.”


Agnes menatap cincin penyimpanan di tangannya dan terdiam untuk waktu yang lama.


Dia tahu Dave mengatakan yang sebenarnya. Kekuatan kekacauan membutuhkan puluhan atau bahkan ratusan kali lebih banyak sumber daya daripada kultivator dengan level yang sama. Meskipun Aula Cahaya memiliki sumber daya yang melimpah, itu hanyalah setetes air di lautan bagi Dave.


Namun, sumber daya ini merupakan harta karun baginya, cukup untuk memungkinkan kultivasinya berkembang pesat.


"Baiklah."


Agnes menyimpan cincin penyimpanannya, mendongak menatap Dave, dan kilatan tekad terpancar di mata birunya yang sedingin es. "Aku akan menggunakan sumber daya ini untuk meningkatkan kultivasiku secepat mungkin. Begitu aku mencapai tingkat dua, aku tidak akan menghalangi mu."


Dave mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah menara kecil berwarna hitam, seukuran telapak tangan, dari tas penyimpanannya dan memegangnya di telapak tangannya.


Menara kecil itu seluruhnya berwarna hitam, tertutup oleh rune yang tersusun rapat dan bersinar samar-samar di bawah cahaya pagi, seolah-olah ada sesuatu yang tertidur di dalamnya.


“Kau berlatihlah di menara, aku akan menunggumu di sini,” kata Dave.


Agnes mengangguk, meletakkan Menara Penindas Iblis di atas meja batu di halaman, dan menyalurkan kekuatan spiritual ke dalamnya.


Menara kecil itu perlahan membesar, dari seukuran telapak tangan hingga setinggi orang dewasa. Pintu menara terbuka secara otomatis, dan aura kuno terpancar dari menara tersebut.


Agnes melirik ke arah Dave, lalu menarik napas dalam-dalam dan melangkah masuk ke Menara Penindas Iblis.


Gerbang menara perlahan tertutup di belakangnya, dan menara kecil itu menyusut kembali seukuran telapak tangan, tergeletak tenang di atas meja batu.


Dave menyimpan Menara Penindas Iblis dan memasukkannya ke dalam tas penyimpanannya.


.......


Satu bulan.


Sudah hampir sepuluh tahun ia berada di dalam menara itu.


Dengan pengalaman sepuluh tahun dan sumber daya dari Jantung Jurang Dingin dan Aula Cahaya, Agnes seharusnya mengalami lompatan kualitatif.


Dave pun tak bisa berdiam diri.


Dia berbalik dan berjalan keluar dari halaman menuju aula utama kuil Taois.


Selama tiga hari berikutnya, Dave tinggal di Gua Awan Biru.


Pada siang hari, ia berdiskusi tentang Dao dengan Master Giok Abadi, mendengarkan Master Giok Abadi menjelaskan sejarah dan silsilah sekte Taois, dan mempelajari tentang pembagian kekuatan berbagai surga serta dendam dan keterikatan antara sekte-sekte utama.


Setelah hidup selama puluhan ribu tahun, pemahaman Master Giok Abadi tentang Alam Surgawi jauh melampaui siapa pun, dan setiap kata yang diucapkannya sangat bermanfaat bagi Dave.


......


Malam itu, Dave berlatih sendirian di Tebing Beladiri, mengaktifkan sepenuhnya Teknik Konsentrasi Hati. Kekuatan kekacauan mengalir melalui meridiannya, menarik energi spiritual Gua Surga Awan Biru yang hampir mencair sedikit demi sedikit, memurnikannya menjadi kekuatan kekacauan yang paling murni.


Tebing Beladiri adalah tempat dengan energi spiritual paling melimpah di Gua Awan Biru. Berdiri di puncak tebing, Anda dapat melihat seluruh lembah dan puncak-puncak gunung di kejauhan yang muncul dan menghilang di bawah cahaya bulan.


Angin malam bertiup kencang di puncak tebing, membuat jubah Dave berkibar, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya, hanya menutup matanya dan fokus pada aliran energi spiritual di dalam tubuhnya.


Hanya dalam tiga hari, tingkat kultivasinya meningkat dari tahap pertengahan peringkat kedelapan Alam Abadi Agung ke tahap akhir peringkat kedelapan.


Meskipun ia hanya meningkat setengah tingkatan alam kecil, kekuatan kekacauan menjadi lebih terkonsentrasi dari sebelumnya. Setiap untaian kekuatan spiritual bagaikan pedang ilahi yang telah ditempa melalui cobaan yang tak terhitung jumlahnya, mengandung kekuatan yang tak terbayangkan.


Rune pelindung dari Kitab Emas Luo Agung terus menyebar di bawah pengaruh kekuatan spiritual, dan pola naga emas telah menutupi 72 persen kulitnya.


Dia selangkah lebih dekat untuk meraih tubuh emas yang sempurna.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️














Kalau Semua Masalah Selesai Pakai "Pasrah", Bubarkan Saja Kementerian Ekonomi

"Rumah Kebakaran Malah Dikasih Ceramah"—Berhentilah Pakai Agama Buat Nutupin Salah! Rakyat Kehilangan Pekerjaan, Bukan Kehilangan ...