Formasi ilusi sdh hancur, saat nya nyari kopi dulu yaa... 😂
Viky First " For A Better Life "
Berbagi Artikel Ilmu & Pengetahuan, Serta Informasi Dan Humor Yang Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca Dimanapun Berada. Salam Jaya… Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia Raya From Martapura OKU Timur Sumatera Selatan
Photo
Monday, 22 June 2026
Saturday, 20 June 2026
Pentingnya Surat Keterangan Waris
Ternyata aset milyaran almarhum tidak bisa cair tanpa Surat Waris walaupun anak kandung.
Ada temen cerita bapaknya meninggal.
Ada deposito 300 juta di Bank.
Dia ke Bank mau cairin.
CS bank: "Maaf, gak bisa. Mana Surat Keterangan Waris?"
Dia: "Lho kan saya anak kandung. Ini KK."
CS: "Tanpa SKW, 1 rupiah pun gak keluar."
Hari itu dia baru ngeh.
SKW = Surat Keterangan Waris.
Bukti resmi siapa ahli waris sah.
Tanpa SKW:
Rekening Bank almarhum beku
Sertifikat rumah gak bisa balik nama
BPJS Ketenagakerjaan gak cair
Mobil gak bisa dijual
Semua aset 2 M jadi pajangan. Nyesek.
"Kan ada KK. Jelas dia anaknya."
Bank & BPN gak peduli.
Mereka butuh SKW karena
Takut salah kasih ke orang yang ngaku²,
takut digugat ahli waris lain
Itu aturan PP 24 1997 & SOP Bank
KK cuma bukti keluarga.
SKW bukti hak.
Akibat paling kejam kalau gak ada SKW
Aset keburu dijual 1 ahli waris diam diam
Ahli waris lain gugat. Transaksi batal
Uang sudah kepake. Sengketa 10 tahun
Rumah sitaan bank karena gak bisa bayar utang almarhum
Gak ada SKW = bom waktu keluarga.
Temen saya telat 6 bulan urus SKW karena adiknya di LN.
Akhirnya,
Denda pajak BPHTB waris 2 persen
Harga rumah naik, NJOP ikut naik
Biaya notaris naik
Total rugi 18 juta cuma karena tunda
Urus SKW maksimal 6 bulan sejak meninggal.
Lebih dari itu repot.
Thursday, 18 June 2026
Bongkar Bahaya Anak Masuk Sekolah Kecepetan
Jangan Sampai Nyesel! Prof. Hardiono & Dr. Aisyah Dahlan Bongkar Bahaya Anak Masuk Sekolah Kecepetan
Aduh, asli deh... pas pertama kali baca cuitan ini, rasanya tuh langsung bikin jleb banget ke hati dan bikin merinding berjamaah ya, guys...?
Isu soal anak yang buru-buru atau terlalu cepat dimasukkan ke sekolah formal itu emang selalu sukses jadi topik yang sensitif banget, sekaligus bikin emak-emak se-Indonesia langsung overthinking tiap malam.
Nah, kalau kita bedah fenomena ini dan dikaitkan sama penjelasan dr. Aisyah Dahlan yang selalu adem tapi dalem, semuanya tuh jadi masuk akal banget.
Beliau sering banget ngingetin kita sebagai orang tua soal pentingnya kesiapan struktur otak dan saraf anak.
Di usia-usia emas (usia dini), yang paling wajib dan mutlak untuk dimatangkan itu sebenarnya bukan kemampuan calistung, bukan hafalan, dan bukan soal seberapa pinter dia di dalam kelas.
Tapi, yang harus dikenyangkan adalah ego sentrisnya, regulasi emosinya, dan rasa aman yang tuntas lewat pelukan serta kasih sayang ibunya di rumah.
Bayangin deh, kalau struktur otak anak belum siap dan belum matang, tapi kita sudah egois maksain mereka buat masuk ke lingkungan formal yang penuh dengan aturan kaku, tuntutan, dan persaingan, apa yang bakal terjadi?
Otak reptil mereka—bagian otak yang merespons stres dan ancaman—bisa terus-terusan tegang!
Alih-alih tumbuh jadi anak yang pinter dan mandiri, yang ada anak malah rentan mengalami burnout sejak dini, gampang tantrum tanpa alasan jelas, atau yang paling ngeri adalah munculnya trauma belajar pas mereka beranjak gede nanti.
Makanya, yuk kita refleksi bareng-bareng. Jangan sampe kita buru-buru daftarin anak sekolah cuma gara-gara kemakan gengsi sama tetangga, gak mau kalah saing sama anak temen, atau sekadar pengen buru-buru dapet waktu luang dan "me-time" di rumah.
Hak utama anak di usia dini itu adalah bermain bebas dan ngerasa dicintai sepenuhnya di lingkungan rumah mereka sendiri.
Sekolah itu penting, tapi kesiapan mental dan kebahagiaan psikologis anak jauh lebih utama.
Tapi jujur ya, ini emang selalu jadi dilema yang ngeri-ngeri sedep sih buat sebagian besar orang tua di zaman sekarang. Tuntutannya banyak bgt!
Setiap anak itu terlahir jenius dan yang merusak kejeniusan seorang anak adalah pendidikan karena kecerdasan itu bukan hanya tentang pengetahuan tapi imajinasi dan cara mencapai imajinasi tersebut
Jadi saya sebagai orang tua tidak pernah menarget anak dalam hal pendidikan dan tetap tenang meskipun di wawasan pengetahuan kurang, yang penting menguasai cara berpikir secara kritis
Kalau dari sudut pandang Ayah-Bunda sendiri gimana nih menanggapi statement dari Prof. Hardiono ini?
Kalian termasuk tim yang menganut prinsip "biar cepet pinter dan mandiri" atau tim "sing tenang, nunggu anak bener-bener siap mental"?
Coba dong bisikin opini jujur kalian di kolom komentar, kita diskusi sehat di bawah!
Perintah Kaisar Naga
Formasi ilusi sdh hancur, saat nya nyari kopi dulu yaa... 😂
-
Perintah Kaisar Naga. Bab 5490-5499 Sosok Dave melesat, langsung menyusul. Kecepatannya secepat kilat, dan ia langsung menyusul Yang Mulia A...
-
Perintah Kaisar Naga. Bab 6322-6327 *Mencari Kultivator Keturunan Dewa Es* Ketika Dave kembali ke Kerajaan Bulan Hitam dengan Api Penuntun J...
-
Perintah Kaisar Naga. Bab 6288-6291 *Pergi ke Surga Ke-15* Keesokan paginya, Dave bangun dengan perasaan segar, sementara Jessica masih berb...




