Photo

Photo

Tuesday, 27 October 2026

Perintah Kaisar Naga : 7212 - 7214

Perintah Kaisar Naga. Bab 7212-7214





Sementara itu, Sekte Angin Hitam (Black Wind Sect) telah menghabiskan waktu satu jam untuk menyerang kota, menguras sebagian besar kekuatan mereka hanya untuk menembus formasi pertahanan, namun justru terjebak dalam serangan jepit. 


Karena baik para prajurit maupun komandan mereka sudah tidak memiliki semangat bertarung, separuh dari formasi mereka langsung runtuh begitu bersentuhan dengan musuh.


“Bunuh mereka semua! Jangan sisakan satu pun yang hidup!” Maddox Wu, dengan jubah putih yang kini berlumuran darah, bertarung dengan keganasan yang terus meningkat; suaranya menggema di seluruh medan pertempuran.


“Sekte Dao Taiyi!” teriak para murid Sekte Angin Hitam dengan penuh ketakutan. “Bagaimana mungkin mereka ada di sini?!”


“Emangnya... kenapa mereka tidak boleh ada di sini?”


Dave melancarkan serangan pamungkas dengan santai, menjatuhkan seorang murid Sekte Angin Hitam yang mencoba melarikan diri melewatinya. “Sudah kubilang tadi... masih ada waktu untuk mundur. Kalian tidak mau dengar; lalu siapa yang harus disalahkan? Salah gue gitu, salah temen-temen gue?”


Mata Nathaniel Li melotot karena murka. Sambil menatap tajam ke arah Dave, ia mendesis, “Hebat! Benar-benar ‘menantu keluarga Shi’ yang hebat! Berpura-pura bodoh demi menjebak mangsa, permainan yang cerdik!”


“Wah..., Anda terlalu memuji. Hehehe...”


Dave menjawab dengan senyum lebar, “Dan soal si ‘bodoh’ ini, saya memang ahli dalam memangsa ‘harimau’ seperti Anda.”


Dikuasai amarah yang meluap-luap, Nathaniel Li menerjang ke arah Dave, mengerahkan seluruh kekuatan kultivasinya di puncak Tingkat Kedua Raja Abadi seraya melayangkan pukulan telapak tangan.


“Waduh... Astaga...”


Dave berseru dengan nada yang dilebih-lebihkan lalu melesat pergi, berteriak sambil berlari, “Ayah mertua! Tolong! Ada orang yang mau membunuh menantumu!”


Sudut bibir Abram Shi berkedut, namun ia tetap menyeret tubuhnya yang terluka maju untuk menghadang Nathaniel Li.


" Akan saya lawaaan..."

“Nathaniel...! Lawanmu adalah aku... ” 


Dengan raungan menggelegar, Abram Shi mengerahkan seluruh aura puncak Raja Abadi Tingkat Kedua miliknya dan melayangkan pukulan ke arah Nathaniel Li.


Serangan itu membawa beban dari seluruh kultivasi yang telah ia bangun seumur hidupnya; saat kekuatan pukulan itu melesat maju, lantai batu biru di tanah hancur berkeping-keping, menciptakan parit dalam di permukaan bumi.


Tidak berani meremehkan serangan tersebut, tubuh Nathaniel Li memancarkan gelombang cahaya hitam pekat saat ia menangkis pukulan itu dengan telapak tangannya.


Wuuzzzz...

Duaaaarrrr...


Saat kepalan tangan dan telapak tangan beradu, gelombang kejut meledak ke segala arah, membuat siapa pun yang berada dalam radius sepuluh zhang terlempar ke udara. 


Dua sosok tangguh, yang keduanya berada di puncak ranah Raja Abadi Tingkat Kedua, terlibat bentrokan sengit di depan gerbang kota.


Dari segi kultivasi, kekuatan mereka seimbang; namun, dalam hal kondisi fisik, Abram Shi sedikit lebih dirugikan karena baru saja menerima serangan langsung dari seorang tetua Sekte Angin Hitam.


Meski begitu, karena dibutakan oleh amarah yang haus darah, Abram Shi bertarung dengan cara yang begitu nekat, seolah tidak lagi memedulikan nyawanya sendiri hingga memaksa Nathaniel Li untuk terus mundur.


"Abram, apa kau sudah gila?!"


Dengan terkejut sekaligus murka, Nathaniel Li berteriak sambil menangkis serangan-serangan itu, "Apa kau berniat menyeret ku ke liang kubur bersamamu dengan bertarung seperti ini?!"


" Oh yes... menyeret mu ke liang kubur... Hahaha..."


Abram Shi tertawa dengan nada yang kejam dan mengerikan. "Nathaniel, Sekte Angin Hitam milikmu telah mendesak klan Shi-ku hingga ke titik ini, hari ini, bahkan jika nyawa tuaku ini harus menjadi taruhannya, aku akan menyeretmu ikut bersamaku!"


Sembari berkata demikian, ia melayangkan pukulan lain, yang kekuatannya dipenuhi dengan niat membunuh yang kelam.


Tidak berani menerima pukulan itu secara langsung, Nathaniel Li menghindar ke samping, namun, sisi dari serangan itu tetap mengenai bahunya, membuatnya mengerang tertahan dan terhuyung mundur.


"Ayah!" Dari atas tembok kota, mata Wanda memerah; Dia hendak bergegas turun dan bergabung dalam pertempuran.


Dave menahannya seraya menggelengkan kepala. "Jangan ke sana. Ayahmu bertahan hanya berkat tekad yang luar biasa, jika kau turun ke bawah, itu justru akan menjadi gangguan baginya."


Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Tenang saja, aku mengawasi di sini. Dia tidak akan mati."


Wanda menggigit bibirnya dan mengangguk, meski tatapannya tetap terpaku pada pertempuran di bawah tanpa berkedip sedikit pun.


Di ketinggian di atas tembok kota, ekspresi Angin Ribut menjadi kelam saat menyaksikan perubahan situasi yang tiba-tiba. 


Tepat ketika ia bersiap untuk terjun guna memberikan bala bantuan, Adler Shi menghadangnya dan menahannya di tempat. "Angin Ribut... kau mau ke mana?"


"Adler, kau benar-benar mencari mati!" seru Angin Ribut, dan keduanya pun kembali terlibat dalam pertarungan sengit.


Situasi di medan perang telah berbalik sepenuhnya.


Apa yang awalnya merupakan serangan besar-besaran oleh Sekte Angin Hitam kini berubah menjadi kekalahan telak, dengan sekte tersebut terjepit dalam kepungan. 


Titik balik dari semua ini bermula dari sosok "menantu yang tidak berguna" itu pria yang, sambil menggenggam tombak patah, menghabiskan waktu satu jam penuh di medan perang dengan bersikap pengecut dan memohon-mohon.


Kekalahan Sekte Angin Hitam sudah tampak jelas, namun ibarat unta yang sekarat pun tetap lebih besar daripada kuda, kekuatan mereka masih patut diperhitungkan.


Sementara Nathaniel Li masih terlibat pertarungan sengit melawan Abram Shi, dua belas tetua dan ahli tamu Sekte Angin Hitam—yang semuanya berada di tingkat Raja Abadi—terus melakukan perlawanan mati-matian. 


Mengandalkan keunggulan jumlah, mereka berjuang untuk mempertahankan barisan dan menyusun serangan balik.


"Pertahankan barisan! Semuanya, pertahankan barisan!"


Seorang tetua Sekte Angin Hitam—yang merupakan Raja Abadi tingkat dua—berteriak dengan suara serak. 


Dengan satu hantaman telapak tangan, ia membuat dua murid Sekte Taiyi Dao terpental, lalu berteriak, "Jumlah mereka tidak banyak! Kita habisi saja mereka perlahan sampai mati!"


" Hei... Menghabisi kami perlahan?"


Sebuah suara bernada santai tiba-tiba terdengar dari belakangnya.


Bulu kuduk sang tetua seketika berdiri tegak. Ia menoleh dengan cepat, namun hanya sempat menangkap sekilas bayangan berwarna kelabu keemasan.


Creezz...


Sensasi dingin menembus dadanya. Saat menunduk, ia melihat ujung tombak patah telah menembus tepat di jantungnya.


"Kau!" Matanya membelalak menatap Dave, yang entah bagaimana berhasil menyelinap ke belakangnya. Suara parau dan berdeguk keluar dari tenggorokannya. "Kau... bukankah kau hanya seorang Penguasa Dewa Abadi tingkat tiga...?"


"Benar sekali," jawab Dave. Ia mencabut tombak patah itu, menyeka darahnya pada jubah sang tetua, lalu berkata dengan tenang, "Dan siapa bilang seorang Penguasa Dewa Abadi tingkat tiga tidak bisa membunuh seorang Raja Abadi?"


Gedebuk...


Sang tetua ambruk dengan mata masih terbuka lebar, ia tewas dalam keadaan menatap penuh ketidakpercayaan.


Pemandangan saat Dave menusuk seorang Raja Abadi tingkat dua dari Sekte Angin Hitam disaksikan oleh beberapa murid di dekat sana. Karena ketakutan setengah mati, mereka langsung berbalik dan melarikan diri.


" Hei... Kenapa kalian lari?" seru Dave mengejar mereka. "Kembalilah! Bukankah tadi kalian bersikap begitu gagah, begitu sombong, Bukankah kalian bilang akan melenyapkan keluarga Shi dari muka bumi?"


Para murid itu justru berlari semakin kencang. 


Dave tidak berniat mengejar; sebaliknya, ia berjalan santai melintasi medan pertempuran dengan tombak patah di tangan, secara khusus menyasar para ahli dari Sekte Angin Hitam yang terpisah dari kelompoknya.


Wuuzzzz...

Creezz...


Wuuzzzz...

Creezz....


Wuuzzzz....

Creezz...


Gerakannya begitu sulit ditebak—sekejap ia berada di sisi timur, sekejap kemudian sudah berpindah ke sisi barat. 


Setiap kali ia melancarkan serangan, satu lagi ahli tingkat Raja Abadi dari Sekte Angin Hitam pun tumbang. 


Seorang pengikut Sekte Angin Hitam, yang tidak terima dengan situasi tersebut, menerjang ke arahnya dengan nekat. Ia mengayunkan kapak besi hitam berukuran besar dan berkualitas tinggi, lalu menghantamkannya ke arah kepala Dave.


Dave tidak menghindar ataupun menangkis; ia hanya memegang tombak patahnya secara horizontal di atas kepalanya.


Wuuzzzz...

Jebreeet...


Suara dentuman logam bergema. Kekuatan benturan itu membuat kapak besi hitam tersebut terlepas dari genggaman sang pengikut dan tertancap dalam pada tembok kota yang berjarak sepuluh zhang jauhnya.


Tangan pengikut itu robek, darah mengucur deras; ia berdiri terpaku, benar-benar tercengang.


"Gitu doang?" Dave menggelengkan kepalanya, lalu mengayunkan tombak patahnya ke depan, membuat pria itu terpelanting jauh.


"Kapak yang bagus."


Dave memberi isyarat ke arah kapak besi hitam itu. Dengan suara " wus ", kapak tersebut melesat dan mendarat di tangannya. Ia menimbangnya sejenak sebelum melemparkannya ke dalam cincin penyimpanannya. "Terima kasih atas hadiahnya!"


"Puufftt.."


Karena diliputi kemarahan dan keterkejutan, pengikut itu memuntahkan darah lalu ambruk tak sadarkan diri.


Aksi "melucuti dan menyita" ini membuat kelopak mata para kultivator di sekitarnya berkedut karena tidak percaya.


Yang lebih mencolok lagi, Dave secara khusus menyasar mereka yang sebelumnya telah mengejeknya.


Seorang murid Sekte Angin Hitam, orang yang sempat mengejarnya selama setengah jam sambil mencemooh, "Membunuh sampah sepertimu hanya akan mengotori tanganku" tiba-tiba mendapati jalannya dihadang oleh Dave saat ia mencoba melarikan diri dari kota di tengah kekacauan itu. "Hei hei, Kakak, jangan terburu-buru pergi dulu. Kita ngopi dulu.."


Dave menatapnya sambil menyeringai. "Sudah cukup istirahatnya? Ayo kita lanjutkan urusan kita yang sempat tertunda."


Wajah murid itu berubah pucat pasi; ia jatuh berlutut dengan suara debuman keras. "Tuan, oh tidak, kakek! Aku benar-benar buta.. aku tidak sadar siapa yang kuhadapi! Mohon kakek berbelas kasihlah... ampuni aku!"


"Oh.. Mengampunimu?"


Dave memiringkan kepalanya. "Bukankah tadi kau bilang kalau membunuh sampah sepertiku hanya akan mengotori tanganmu? Nah, sekarang aku sudah ada di depan matamu, silakan, kotori saja tanganmu itu."


Murid itu mulai bersujud dengan panik; wajahnya tampak berantakan, basah oleh air mata dan ingus.


Melihat kondisinya yang menyedihkan, Dave memutuskan untuk tidak menghabisinya. Ia menggunakan ujung tombaknya yang patah untuk mencungkil kantong penyimpanan milik pria itu, lalu menimbangnya di tangan. 


"Baiklah, pergi sana. Ingat satu hal: lain kali jika kau melihat siapa pun dari keluarga Shi, menjauhlah sejauh mungkin."


Seolah baru saja lolos dari hukuman mati, murid itu segera kabur, ia merangkak sekaligus berguling-guling dalam usahanya untuk melarikan diri secepat mungkin.


"Menantu yang 'tidak berguna' ini, dia terlalu berhati lembut."


Sambil mengamati dari tembok kota, Andrew berdecak dan menggelengkan kepalanya. "Kalau aku jadi dia, sudah ku tebas orang itu sampai berkeping-keping dalam sekali serangan."


Wanda meliriknya tajam. "Kalau dia seperti dirimu, dia pasti sudah mati seratus kali lipat sekarang."


"Waspadai orang yang memegang tombak patah itu!"


Seseorang dari Sekte Angin Hitam akhirnya menyadari apa yang terjadi dan berteriak memberi peringatan: "Anak itu berpura-pura! Dia itu mesin pembunuh!"


" Hei... Berpura-pura, apanya!"


Dave memutar bola matanya. "Sudah kubilang aku ini orang yang 'tidak berguna', kalian saja yang tidak percaya. Apa itu salahku?"


Meski berbicara, gerakannya tetap tanpa ampun. Ia menyabetkan tombak patahnya, membuat dua murid Sekte Angin Hitam—keduanya adalah Raja Abadi Tingkat Pertama—terpelanting; mereka menghantam tanah dan langsung tak bernyawa.


Sekte Angin Hitam pun jatuh ke dalam kekacauan total.


Seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Ketiga membantai para Raja Abadi seolah-olah mereka hanyalah ayam, monster macam apa ini?!


Di pihak keluarga Shi, semangat juang melonjak tinggi.


"Hebat sekali, Kakak Ipar!"


Andrew berteriak sekuat tenaga, wajahnya memerah karena kegirangan, sama sekali lupa bahwa beberapa hari sebelumnya, ia sendiri pernah kena tampar oleh Dave.


"Luar biasa, Menantu Chen!" seru para murid keluarga Shi, sorak-sorai mereka mengguncang langit.


Bahkan Abram Shi, yang tengah bertarung melawan Nathaniel Li, sempat melihat aksi Dave. Sudut mulutnya berkedut, sebenarnya berapa banyak kartu as yang disembunyikan anak ini?


"Nathaniel!"


Abram Shi meraung sambil melayangkan pukulan dahsyat. "Sekte Angin Hitam kalian benar-benar telah mencelakai diri sendiri hari ini!" 


Nathaniel Li, yang diliputi keterkejutan dan kemarahan, terus mundur sembari bertarung, niat untuk melarikan diri mulai tumbuh di benaknya.


Ia tidak pernah menyangka bahwa keluarga Shi akan mendatangkan sosok tak terduga dari Sekte Taiyi Dao, apalagi menantu yang selama ini mereka ejek sebagai orang "tidak berguna" ternyata adalah predator tangguh yang bersembunyi di balik kedok domba yang jinak. 


"Mundur! Mundur semua!"


Nathaniel Li berteriak dengan suara serak, "Sampaikan perintah.. mundur!"


" Oh ... Baru berpikir untuk mundur sekarang? Sudah terlambat."


Suara Dave terdengar tenang, melayang dari arah belakangnya.


Seluruh tubuh Nathaniel Li menegang. Ia menoleh dengan cepat, hanya untuk mendapati bahwa Dave entah bagaimana telah muncul di belakangnya, ujung tombak yang patah kini berada tepat tiga inci dari jantungnya.


"Kau!" Pupil mata Nathaniel Li mengecil tajam; keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.


"Ketua Sekte Li,"


Dave berkata dengan senyum tipis yang cerah, "Aku beri dua pilihan. Pertama: kau perintahkan sekarang juga agar semua orang di Sekte Angin Hitam meletakkan senjata dan menyerah, maka aku akan mengampuni nyawamu. Kedua..."


Ia mendorong ujung tombak itu ke depan, menembus jubah di punggung Nathaniel Li. "Aku menusukmu sampai tembus, lalu membiarkan Maddox Wu dan anak buahnya meringkus sisa anggota sektemu satu per satu."


Wajah Nathaniel Li berubah pucat pasi. Ia gemetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk waktu yang cukup lama.


Sebagai seorang Ketua Sekte yang berada di puncak ranah Raja Abadi Tingkat Kedua, seseorang yang telah mendominasi wilayah ini selama berabad-abad, sejak kapan ia pernah diancam dengan ujung tombak yang menempel tepat di jantungnya?


Namun, niat membunuh yang memancar dari tombak patah itu membuat bulu kuduknya berdiri, hingga ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melawan.


"Aku... aku menyerah!"


Nathaniel Li berkata dengan suara parau, "Berhenti semuanya.. berhenti! Hentikan pertempuran!" 


Mendengar teriakannya, murid-murid Sekte Angin Hitam yang tersisa pun berhenti. Mereka saling bertukar pandang dengan wajah pucat pasi dan penuh kebingungan.


Tepat pada saat ini, sebuah dentuman dahsyat yang mengguncang bumi meledak di atas tembok kota.


Duaaaarrrr...


Dave mendongak dan melihat sosok Adler Shi serta Angin Ribut terlempar ke belakang, masing-masing memuntahkan seteguk darah.


Keduanya adalah Raja Abadi Tingkat Tiga; pertarungan sengit mereka membuat keduanya babak belur, tanpa ada pihak yang mampu mengungguli lawan. 


Angin Ribut menstabilkan tubuhnya lalu menyeka darah di sudut mulutnya. Saat melirik ke arah pasukan Sekte Angin Hitam yang telah menyerah, wajahnya berubah pucat pasi karena murka. 


"Hebat sekali! Pertunjukan yang bagus, keluarga Shi! Pertunjukan yang hebat, Sekte Taiyi Dao!"


Pandangannya beralih dan tertuju pada Dave. "Bocah, kau benar-benar luar biasa. Aku akan mengingatmu. Soal dendam hari ini, suatu saat nanti aku akan..."


"Kau akan apa?"


Dave memotong ucapannya dengan nada tenang. Sambil menyeret tombaknya yang patah, ia melangkah maju mendekati pria tua itu. "Leluhur Angin Ribut, kau bahkan sudah merencanakan pelarianmu, mengapa repot-repot melontarkan ancaman kosong seperti itu?"


" ... 😱..." Ekspresi Angin Ribut menegang.


Ia memang benar-benar berniat untuk melarikan diri.


Sebagai seorang leluhur di tingkat ketiga ranah Raja Abadi, bahkan jika Adler Shi dan Maddox Wu bergabung untuk melawannya, belum tentu mereka mampu menahannya.


Namun, kenyataan ini justru diungkap di depan semua orang oleh seorang junior yang hanya berada di tingkat ketiga ranah Penguasa Dewa Abadi, penghinaan ini jauh lebih menyakitkan daripada menerima serangan langsung.


"Jangan terlalu sombong, bocah!"


Angin Ribut mendesis, "Jika aku memutuskan untuk pergi, tidak ada cara bagimu untuk menghentikan ku!"


" Oh ya... benarkah... Tidak bisa menghentikan mu? Hehehe..." Dave terkekeh. "Kalau begitu, mari kita buktikan." 


Dengan sentakan tangan yang tiba-tiba, Pedang Pembantai Naga melesat dari pinggangnya, diiringi raungan naga yang menggema ke seluruh penjuru langit dan bumi.


Seketika itu pula, unicorn api kecil melompat dari bahunya, tubuhnya membesar dengan cepat hingga menjelma menjadi makhluk raksasa berwarna merah tua setinggi lebih dari satu zhang. Kobaran api primordial yang dahsyat menyembur keluar, membuat separuh langit berpendar dalam warna merah menyala yang pekat.


Pedang Pembantai Naga melayang di atas kepala Dave, dengan niat pedang yang tajam mengunci tepat ke arah Angin Ribut.


Di samping Dave, unicorn api kecil itu berdiri dengan mata emas bercelah vertikal yang terus menatap tajam ke arah Angin Ribut tanpa berkedip, sementara geraman rendah dan berat terdengar dari tenggorokannya.


"Dasar dungu... Tua bangke omon omon.." ucap Dave dengan nada santai. "Katakan padaku, menurutmu, apakah serangan pedang ku ini, ditambah dengan api primordial milik unicorn api, tidak cukup untuk menahan mu di sini dan kau sempat melarikan diri?"


Pupil mata Angin Ribut menyusut tajam. Ia melihatnya dengan jelas, pedang itu memiliki tingkatan yang sangat tinggi, dengan niat pedang yang begitu tajam hingga ia sendiri, seorang Raja Abadi tingkat ketiga, merasakan getaran ketakutan di dalam hatinya.


Sementara itu, Unicorn Api adalah makhluk dari garis keturunan ilahi yang kuno; "api sejati" miliknya merupakan musuh alami bagi segala entitas jahat. Mengingat ia mempraktikkan ilmu-ilmu kelam dari Sekte Angin Hitam, ia benar-benar tertaklukkan—bahkan ditekan habis-habisan—oleh api suci tersebut.


Jika pertarungan sampai pecah, sekalipun ia berhasil lolos, ia pasti harus menanggung akibat yang sangat mengerikan.


Angin Ribut terdiam cukup lama, lalu menghela napas panjang dengan nada pasrah dan menarik kembali aura jahat yang menyelimuti dirinya. 


"Aku...mengaku kalah..."


Ia menatap Dave dengan tajam dan cukup lama, lalu beralih ke arah Adler Shi, seraya berkata dengan suara parau, "Kekalahanku hari ini semata-mata karena kemampuanku memang lebih rendah darimu."


"Keluarga Shi, Sekte Taiyi Dao, utang ini sudah ku catat. Di masa mendatang, aku pasti akan 'membayar' kalian dengan setimpal."


Sebelum kata terakhir sempat memudar, sosoknya berkelebat, berubah menjadi seberkas cahaya hitam. Tanpa menoleh sedikit pun, ia pun lenyap di cakrawala.


Melihat cahaya hitam yang menjauh itu, Dave tidak berniat mengejar. Ia justru dengan tenang menyimpan Pedang Pembantai Naga miliknya, lalu menepuk kepala Unicorn Api kecil. "Sudahlah... berhenti melotot; dia sudah pergi."


Unicorn Api kecil itu mendengus tidak puas, menyusut kembali hingga seukuran telapak tangan, lalu melompat ke bahu Dave.


Di medan pertempuran, pasukan Sekte Angin Hitam telah menyerah sepenuhnya.


Nathaniel Li, yang terikat erat oleh tali, berlutut di depan gerbang kota. Wajahnya pucat pasi, kehilangan seluruh kesombongan yang ia tunjukkan beberapa saat sebelumnya.


Berdiri di atas tembok kota, Abram Shi menyaksikan pemandangan itu, terdiam cukup lama.


Keluarganya.. yang tadinya berada di ambang kehancuran, berhasil diselamatkan oleh seorang pria yang dibawa pulang oleh putrinya sendiri; putri yang meridian kultivasinya pernah ia putus dengan tangannya sendiri. 


"Ayah," ujar Wanda lembut seraya mendekat ke sisinya. "Kita telah memenangkan pertempuran!"


"Hmm."


Abram Shi menatap putrinya, matanya sedikit memerah. Setelah terdiam cukup lama, ia berkata dengan suara serak, "Wanda... selama bertahun-tahun ini, Ayah telah mengecewakanmu."


Mata Wanda berkaca-kaca, namun ia tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mendekat dan memeluk ayahnya dengan lembut.


Bersandar pada tembok kota, Dave memperhatikan ayah dan anak itu. Kali ini, ia menahan diri untuk tidak melontarkan candaan seperti biasanya; ia hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum menoleh ke arah Maddox Wu. "Ketua Sekte Maddox, terima kasih atas segalanya kali ini."


"Anda terlalu memuji, Rekan Taois Chen."


Maddox Wu buru-buru melambaikan tangannya. "Jika bukan karena strategi brilian Anda, yang menempatkan Sekte Taiyi Dao kami sebagai kekuatan cadangan untuk memberikan kejutan, hasil pertempuran hari ini mungkin tidak akan bisa dipastikan. Kebaikan Anda akan selalu saya ingat di dalam hati."


"Sudahlah, sudahlah.. tidak perlu terlalu formal begitu."


Dave mengibaskan tangannya, seolah menepis basa-basi itu. "Urusan setelah pertempuran ini kuserahkan padamu. Tangani anggota Sekte Angin Hitam sesukamu, pastikan saja tidak ada satu pun dari mereka yang lolos. Oh, satu hal lagi..."


Matanya bergerak jenaka, lalu ia menambahkan, "Karena Sekte Angin Hitam dengan begitu 'baik hati' mengantarkan urat tambang dan ladang spiritual mereka ke depan pintu kita, ya sudah, kita terima saja dengan senang hati."


Maddox Wu tak bisa berkata-kata " ... 🤔..."


Akhirnya ia paham: Rekan Taois Chen ini bukan sekadar petarung yang tangguh, dia juga, sialan, benar-benar kejam. Ia bisa memanfaatkan kesempatan untuk menjarah pihak lain tanpa sedikit pun merasa ragu.


...


Pertempuran ini merupakan peristiwa yang sangat sengit bagi keluarga Shi, namun sekaligus menjadi kemenangan yang membuat mereka bisa berdiri dengan kepala tegak.


Saat kabar mengenai peristiwa tersebut tersebar, seluruh wilayah pun gempar.


Sekte Angin Hitam—kekuatan tangguh yang telah mendominasi kawasan itu selama ribuan tahun—hancur dalam semalam oleh gabungan kekuatan keluarga Shi dan Sekte Taiyi Dao. 


Ketua Sekte mereka ditangkap, leluhur pendiri sekte melarikan diri, dan seluruh tambang mineral serta ladang kultivasi spiritual mereka berpindah tangan.


Konon, titik balik dari semua kejadian ini tidak lain adalah sosok "menantu yang tidak berguna" yang baru saja bergabung dengan keluarga Shi melalui pernikahan.


"Kudengar menantu keluarga Shi itu hanya berada di tingkat Penguasa Dewa Abadi peringkat ketiga?"


" Hah .. Penguasa Dewa Abadi peringkat ketiga? Kau bercanda? Mana mungkin seorang Penguasa Dewa Abadi peringkat ketiga bisa membunuh seorang tetua yang merupakan Raja Abadi peringkat kedua hanya dengan satu tusukan tombak?"


"Menurut seseorang yang berhasil lolos dari Sekte Angin Hitam, selama pertempuran berlangsung, pria itu bertingkah seperti pengecut, dia bahkan sempat dikejar dan diserang oleh prajurit rendahan! Namun tiba-tiba, dia menunjukkan kekuatan aslinya dengan satu tebasan pedang yang disertai manifestasi seekor unicorn, dia memaksa leluhur Sekte Angin Hitam untuk melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya!"


"Weleh weleh... benar-benar taktik berpura-pura bodoh untuk menjebak mangsa!"


Di kedai teh maupun rumah minum, percakapan semacam ini terdengar di mana-mana.


Banyak kultivator pengembara mendengarkan dengan mata berbinar, diam-diam mencatat nama "Dave Chen" dalam ingatan mereka.


....


Sementara itu, sang "menantu tidak berguna" yang menjadi pusat dari kisah legendaris ini justru sedang duduk berjongkok di dapur keluarga Shi, asyik mengunyah kue dari beras spiritual. Wanda menjewer telinganya seraya memarahi, "Bisakah kau diam sebentar saja?"


"Pertempuran baru saja usai, tapi kau malah pergi mengganggu para tawanan dari Sekte Angin Hitam, mereka hampir menangis, sementara kau justru duduk di sana sambil tertawa!"


"Aduh, Wanda! Lepaskan, lepaskan!"


Dave meringis kesakitan. "Aku hanya berusaha menghibur mereka, mereka tampak begitu sengsara setelah menyerah! Lihat, aku bahkan membagikan buah roh kesayanganku kepada mereka!"


" ... 🤤..." Wanda tak bisa berkata-kata 


Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa melihat pria itu memberikan buah roh yang berharga miliknya sendiri kepada para tawanan. 


Tiga hari setelah pertempuran, di ruang bawah tanah kediaman keluarga Shi, Nathaniel Li tergantung pada alat penyiksaan, basis kultivasinya telah dihancurkan sepenuhnya, dan tubuhnya diikat erat dengan tali.


Dulu, ia adalah seorang penguasa tangguh yang langkah kakinya saja bisa membuat separuh wilayah gemetar. Kini, Ketua Sekte Angin Hitam itu tampak berantakan dan menyedihkan, tak ubahnya seekor anjing liar yang babak belur.


..


Dave melangkah masuk dengan tangan terlipat di belakang punggung. Ia mengitari alat penyiksaan itu dua kali, berdecak lidah sambil menggelengkan kepala. 


"Ketua Sekte Li, sungguh... mengapa kau tidak puas menjadi Ketua Sekte yang terhormat, tapi kau malah memilih untuk merebut tambang roh dan ladang mistis milik orang lain?"


"Lagipula, kalau memang berniat merampok, kenapa harus tepat saat menantu yang tinggal di rumah ini sedang berada di kediaman? Sial sekali nasibmu, apa mungkin nasibmu bisa lebih buruk lagi?"


Nathaniel Li mendongak menatap pemuda yang tersenyum di hadapannya. Dengan tubuh gemetar, ia akhirnya berhasil bertanya dengan suara terbata-bata, "Siapa... sebenarnya kau ini?"


"Aku?"


Dave menunjuk ke hidungnya sendiri. "Dave Chen, menantu yang tinggal di kediaman keluarga Shi. Seorang Penguasa Dewa Abadi Tingkat Tiga, yah.., setidaknya sebelum kultivasinya dilenyapkan."


"Bukankah anak buahmu sendiri yang bilang kalau membunuhku hanya akan mengotori tangan mereka?"


Amarah meluap di tenggorokan Nathaniel Li; ia hampir pingsan karena frustrasi yang luar biasa.


Sambil terengah-engah, ia mendesis, "Dave Chen, hari ini aku mengaku kalah. Tapi ingat kata-kataku: leluhur Sekte Angin Hitam-ku, Angin Ribut, seorang Raja Abadi Tingkat Tiga, masih hidup. Cepat atau lambat, dia akan kembali untuk membalaskan dendam padamu!"


"Waduh... aku benar-benar ketakutan setengah mati, hehehe..."


Dave menepuk dadanya, berpura-pura menunjukkan ekspresi ketakutan yang berlebihan. "Leluhur yang merupakan Raja Abadi Tingkat Tiga akan datang mencari ku..? Aku benar-benar gemetar ketakutan!"


Meski berkata demikian, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia mencondongkan tubuh dan merendahkan suaranya, "Biar kuberi tahu yang sebenarnya, Ketua Sekte Li, saat leluhurmu melarikan diri, dia bahkan tidak berani kentut sedikit pun."


"Kau pikir dia akan kembali untuk membalas dendam? Kalau dia punya nyali untuk itu, dia tidak akan kabur sejak awal."


Wajah Nathaniel Li berubah pucat pasi, lalu berganti kehijauan karena murka. Ia gemetar hebat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. 


Dave menegakkan tubuhnya dan menepuk-nepuk tangannya. "Sudahlah, lupakan soal balas dendam."


"Diam saja di ruang tahanan keluarga Shi. Kalau situasinya sudah tenang, mungkin nyawamu masih bisa selamat. Tapi kalau kau berani macam-macam lagi..."


Ia terdiam sejenak, nadanya berubah sedingin es, " Nasib yang menimpa leluhurmu akan menjadi nasibmu juga."


Nathaniel Li bergidik ngeri. 


Saat melihat Dave beranjak pergi, rasa dingin yang menusuk tulang merambat dari lubuk hatinya yang terdalam. 


Mantan penguasa Sekte Angin Hitam akhirnya menyadari satu kebenaran yang mencengangkan: kengerian sesungguhnya dari seseorang tidak selalu tercermin dari tingkat kultivasinya.


Bahkan sekarang, ia masih tidak habis pikir bagaimana seorang pemuda yang berada di tahap ketiga ranah Penguasa Dewa Abadi bisa menjungkirbalikkan Sekte Angin Hitam yang begitu tangguh.


...


Situasi pasca-pertempuran menyibukkan semua orang selama dua hari penuh.


Ribuan tawanan dari Sekte Angin Hitam diserap ke dalam kekuatan gabungan keluarga Shi dan Sekte Dao Taiyi.


Nathaniel Li, yang kultivasinya telah dihancurkan, dijebloskan ke dalam ruang bawah tanah keluarga Shi untuk menunggu hukuman akhirnya.


Sumber daya yang melimpah, jalur tambang, dan lahan kultivasi spiritual yang telah dikumpulkan Sekte Angin Hitam selama bertahun-tahun dibagi habis antara keluarga Shi dan Sekte Dao Taiyi.


Setelah pertempuran usai, Adler Shi mengasingkan diri untuk memulihkan luka-lukanya. Sebelum pergi, ia sempat memberikan anggukan langka kepada Dave seraya berkata, "Anak muda, pertarungan mu tadi hebat."


Bagi seorang Tetua Agung, yang telah menghabiskan tiga ratus tahun dalam pengasingan dan dikenal karena sifatnya yang angkuh serta keras kepala, ucapan tersebut membuat seluruh anggota keluarga Shi terperangah tidak percaya.


Sementara itu, kehidupan Dave di dalam keluarga Shi menjadi semakin nyaman.



Wanda tampak sangat bersemangat, terus-menerus mencari cara untuk menyenangkan hati Dave.


Bahkan Tricia pun merasa iri pada Wanda; ia beberapa kali mendekati Dave secara diam-diam, berharap bisa menjadi bagian dari orang-orang di sisi Dave.


Namun, karena Tricia sudah pernah melakukan kultivasi ganda dengan orang lain, Dave yang hanya menerima perawan pun menolaknya.


Setidaknya, menghadapi Tricia bukanlah perkara sulit.


Satu-satunya orang yang membuat Dave sedikit pusing adalah Bibi Wang.


Meskipun kemarahan Henley telah mereda setelah pertempuran besar tersebut, keretakan hubungan di antara pasangan itu masih ada. 


Setiap beberapa hari, saat Henley sedang pergi, Bibi Wang akan diam-diam mendatangi pintu masuk halaman samping. 


Ia berdiri di sana menatap Dave dengan penuh kerinduan, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tidak sanggup untuk diungkapkan. 


"Bibi," Tak lagi mampu menahan ekspresi wajahnya, Dave bersandar pada bingkai pintu seraya menghela napas pasrah, "Kalau Paman  tahu Bibi datang menemui saya lagi, kita berdua bakal kena masalah besar."


Bibi Wang menggigit bibirnya, wajahnya memerah padam. "Saya hanya... saya hanya ingin datang dan mengobrol sebentar denganmu."


"Kalau sekadar mengobrol sih tidak masalah," jawab Dave dengan nada yang dibuat-buat serius, "tapi saya harus memanggil Wanda dan Paman ke sini. Jadi kita berempat bisa duduk bersama dan berbincang-bincang."


Nyonya Wang terdiam.


Ia menghentakkan kakinya, lalu berbalik dan bergegas pergi dengan wajah yang masih merah padam.


Melihatnya menjauh, Dave menghela napas sambil menggelengkan kepala. " Hadeeehh.... Keluarga Shi ini... feng shui-nya pasti buruk sekali; sepertinya hanya melahirkan para janda."


Dari belakangnya terdengar suara Wanda yang lembut namun menusuk: " Hei... lapet... Memangnya siapa yang sedang kau bicarakan?"


"Ti... tidak ada siapa-siapa! Sama sekali tidak ada!"


Terkejut, Dave berbalik dengan cepat dan memasang senyum untuk meredakan suasana. "Maksudku, feng shui keluarga Shi itu luar biasa, sangat membawa keberuntungan bagi para menantu laki-laki! Lihat saja aku, aku ini menantu, dan kondisiku baik-baik saja, kan?"


" ... 😉... " Wanda memutar bola matanya ke arah Dave, meski sebenarnya ia tidak benar-benar marah.


....


Beberapa hari berlalu, dan urusan dengan Sekte Angin Hitam akhirnya tuntas sepenuhnya.


Dave merasa sudah saatnya untuk melanjutkan perjalanan, ia masih harus melacak keberadaan " Monster tua Xuanxu Orang Aneh dari Kekosongan Mendalam" (Xuanxu Laoguai) di Reruntuhan Dewa Terpencil.


Suatu pagi, saat Dave selesai berkemas dan bersiap untuk berpamitan kepada Wanda, ia mendapati wanita itu sudah berdiri di sana, menghalangi gerbang halaman.


"Kau mau pergi ke Reruntuhan Dewa Terpencil?" tanyanya dengan ekspresi serius. 


"Ya," Dave mengangguk. "Urusan dengan Si Tua Aneh dari Kekosongan Mendalam tidak bisa ditunda lebih lama lagi."


"Aku ikut denganmu," ujar Wanda.


"Tidak, sama sekali tidak boleh." Dave menolak gagasan itu tanpa berpikir dua kali. "Reruntuhan Dewa Terpencil penuh dengan anomali spasial, bahkan seorang Raja Abadi pun mungkin tidak bisa keluar dengan selamat. Kau..."


"Sekarang aku sudah menjadi Raja Abadi," potong Wanda dengan nada tenang. 


Dave terkejut: "Apa?"


"Setelah kultivasi ganda kita beberapa hari lalu, aku berhasil menembus ke ranah Raja Abadi."


Wanda melanjutkan, "Dave, kau memang belum menemukan 'Jamur Pemulih Meridian Surgawi', dan meridianku masih terputus, namun aku sudah mencapai tingkat Raja Abadi berkah tongkat penindas iblis mu. Aku tidak akan menjadi beban bagimu."


Dave menatap wanita muda di hadapannya; matanya memancarkan tekad yang kuat. Ia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tersenyum.


"Baiklah." Ia mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala wanita itu. "Kalau begitu, ayo kita berangkat. Akan ku tunjukkan bagaimana pria milikmu ini berjalan di Surga ke-28 seolah-olah tempat ini adalah miliknya sendiri."


Wajah Wanda memerah, namun ia mengangguk dengan penuh semangat.


Setelah bersiap, keduanya berpamitan kepada anggota klan Shi. 


Berubah menjadi kilatan cahaya yang saling menyusul, mereka melesat menuju Reruntuhan Dewa Terbengkalai, meninggalkan jejak debu di belakang mereka.


Di gerbang kota, Abram Shi menatap sosok keduanya yang kian menjauh, terdiam cukup lama.


Akhirnya, ia berbisik, "Wanda... pria yang kau pilih ternyata lebih kuat daripada ayahmu... kerja bagus nak... "


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️











No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 7246 - 7248

  Ucapan Terima Kasih  Buat rekan sultan Taois " Albert Devidson & Dikwan Septiawan " yang selalu mendukung & mentraktir m...