Photo

Photo

Thursday, 15 October 2026

Perintah Kaisar Naga : 7156 - 7158

Perintah Kaisar Naga. Bab 7156-7158






Beberapa jam kemudian, murid tersebut kembali bersama Dave dan rombongannya.


"Tuan Muda, mohon tunggu di sini sejenak sementara saya melaporkan kedatangan Anda."


Setelah berkata demikian, murid itu pun masuk ke dalam.


Di luar gua, angin malam menderu, membawa aroma abu sisa kebakaran dari arah reruntuhan Istana Surgawi Segala Hukum—sebuah sensasi yang menusuk dan meresahkan.


Dave berdiri di mulut gua dengan tangan terlipat di belakang punggung, menatap siluet pegunungan yang runtuh di kejauhan. Energi ganas dan penuh permusuhan yang sebelumnya terpancar dari matanya kini telah lenyap, digantikan oleh ketenangan yang mendalam dan ganjil.


Namun, baik Agnes maupun Yasmeen dapat merasakan apa yang terpendam di balik ketenangan itu.


Tak lama kemudian, terdengar samar suara langkah kaki dari dalam gua.


Murid tadi muncul kembali dengan langkah cepat, lalu berbisik, "Nona Tertua mengundang Anda untuk masuk."


Dave mengangguk dan melangkah masuk ke dalam gua.


Setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Agnes serta Yasmeen, nadanya sedikit melunak: "Tunggulah aku di sini, di dekat pintu masuk."


Agnes mengangguk pelan tanpa melontarkan pertanyaan apa pun.


Yasmeen mengerucutkan bibirnya, seolah hendak mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya ia hanya bergumam pelan, " Hmm."


...


Gua itu tidak terlalu dalam, tetapi semakin jauh ke dalam, aroma darah terasa kian menyengat.


Tetesan air menempel pada dinding batu yang lembap, jatuh berirama ke lantai batu biru—menghasilkan bunyi yang hampa dan sepi.


Setibanya di bagian terdalam gua, Dave melihat sesosok tubuh yang meringkuk di atas tumpukan jerami kering.


Lana Su.


Jubah Tao berwarna putih rembulan yang dikenakannya sudah tak berbentuk lagi; kainnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan perban kasa yang berlumuran darah di baliknya.


Wajahnya pucat pasi—tanpa rona sedikit pun—dengan bibir yang pecah-pecah dan membiru. Sepasang mata itu, yang dulunya jernih, dingin, dan berkilau, kini tampak redup dan tak bernyawa, seolah seluruh vitalitas di dalamnya telah terkuras habis.


Namun, begitu melihat Dave masuk, ia berusaha menguatkan diri dan duduk tegak. “Dave…”


Suaranya parau, seolah sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan benar. “Kau sudah kembali.”


Berdiri di hadapannya, Dave menatap wanita yang dulunya merupakan nona muda yang angkuh dan disegani dari Istana Surgawi Segala Hukum. Melihat kondisinya yang begitu mengenaskan, hatinya terasa seolah dicengkeram oleh kekuatan tak terlihat yang meremukkan segalanya.


Ia sudah menduga bahwa keadaan Lana pasti sangat buruk, tetapi melihatnya secara langsung membuat beban rasa utang budinya terasa begitu berat dan menghimpit.


Fragmen esensi Dao primordial itu—seharusnya menjadi milik Istana Surgawi Segala Hukum.


Lana telah mempertaruhkan nyawanya untuk mengambilnya dari Reruntuhan Dao, namun pada akhirnya, fragmen itu justru terserap sepenuhnya oleh dirinya.


Istana Surgawi Segala Hukum tidak mendapatkan apa pun; sebaliknya, mereka justru menanggung dampak dari bencana dahsyat demi dirinya.


Sekte mereka hancur lebur, ayahnya gugur dalam pertempuran, para tetua tewas, dan para murid mengalami kerugian yang sangat tragis.


Dan dia—yang dulunya adalah nona muda yang penuh kebanggaan—kini terpaksa bersembunyi di pegunungan, menjalani kehidupan yang sengsara dan penuh ketidakpastian.


“Ya, aku sudah kembali.”


Dave berjongkok untuk menatap matanya, suaranya melunak. “Aku terlambat.”


Mata Lana memerah, namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh.


Ia memalingkan wajahnya, lalu berkata dengan nada yang sangat tenang—bahkan terkesan ganjil, “Ini bukan salahmu. Sekalipun kau tidak datang, aku pasti tetap bisa bertahan.”


“Bertahan apanya, sialan.”


Dave tidak berbasa-basi. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pergelangan tangan wanita itu, lalu menyalurkan seberkas esensi kekacauan primordial ke dalam meridiannya. “Tujuh puluh persen meridianmu terputus, dantianmu retak di tiga bagian, dan jiwamu mengalami cedera tersembunyi.


"Lalu kau bilang padaku kau masih bisa ‘bertahan’? Tiga hari lagi saja, maka kultivasimu akan hancur sepenuhnya.”


Lana terdiam, tidak memberikan bantahan apa pun.


Dave mengerutkan kening saat ia memeriksa luka-luka wanita itu dengan saksama; ekspresinya kian kelam seiring berjalannya waktu.


Kerusakannya terlalu parah—pil obat biasa sama sekali tidak akan mempan, dan penyembuhan menggunakan energi spiritual standar ibarat mencoba memadamkan kebakaran hutan hanya dengan secangkir air.


Untuk mencapai pemulihan total dan mengembalikan basis kultivasinya, metode konvensional yang lembut tidak akan cukup.


Setelah berpikir cukup lama, ia berdeham canggung. "Begini... aku memang punya cara untuk mengobatimu, tapi... eh... Anu..."


Lana mendongak menatapnya. "Metode seperti apa?"


" Eh... metode itu... anu..."

" Kultivasi ganda.."

Dave menggertakkan gigi lalu mengatakannya dengan terus terang. "Melalui kultivasi ganda, aku bisa menyalurkan 'Sumber Primordial' dan 'Irama Dao Surgawi' milikku ke dalam tubuhmu. Ini akan memungkinkan rekonstruksi meridianmu, perbaikan dantianmu, serta memulihkan jiwamu."


"Namun, metode ini... melibatkan tingkat keintiman tertentu, jadi aku merasa perlu meminta persetujuanmu terlebih dahulu."


Saat mengatakannya, ia tampak gelisah—sesuatu yang tidak biasa baginya—dengan ujung telinga yang memerah samar.


" Hah... Aku..."

Lana tertegun, dan rona merah tipis perlahan menjalar di wajahnya yang pucat.


Ia menundukkan pandangan dan terdiam cukup lama.


Jantung Dave berdegup kencang; tepat saat ia hendak menawarkan untuk mencari alternatif lain, ia mendengar wanita itu berbisik pelan, "Baiklah... Tapi aku belum pernah berhubungan intim dengan siapa pun, aku masih orisinil.."


Dave terkejut. " Hah... Kau setuju?"


"Kau benar, luka-lukaku tidak akan bertahan lebih lama lagi."


Lana mendongak, secercah cahaya kembali muncul di matanya—dingin, namun disertai tekad yang kuat. "Balas dendam untuk ayahku harus dituntaskan, dan utang kepada Istana Surgawi Segala Hukum harus dilunasi. Aku tidak boleh jatuh di sini."


Ia terdiam sejenak, suaranya melunak. "Lagipula... ini kau. Aku mempercayaimu." 


Rasa hangat menjalar dalam diri Dave, meski ia tetap mempertahankan sikapnya yang santai dan cuek seperti biasa. "Yah, jangan sampai menyesal nanti, ya! Bakat kultivasiku mungkin memang biasa saja, tapi kalau soal...anu ku... maksudku, kalau soal menyembuhkan luka, aku sebenarnya cukup ahli."


Lana tertawa kecil, bibirnya yang lemah melengkung membentuk senyuman. " Hadehh... Dalam situasi seperti ini pun, kau masih sempat-sempatnya bercanda."


Dave terkekeh, lalu ekspresinya berubah serius. " Hehehe... Aku akan memberi tahu Agnes dan Yasmeen, lalu aku akan membawamu ke tempat yang aman agar kau bisa memulihkan diri."


Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, tempat Agnes dan Yasmeen masih menunggu.


...


Melihatnya muncul, Yasmeen menjadi yang pertama melangkah maju. "Bagaimana?"


"Nona tertua dari Istana Surgawi Segala Hukum terluka," jawab Dave.


"Bagaimana keadaannya? Apakah parah?" tanya Agnes dengan nada cemas.


Selama perjalanan, mereka sudah mendengar tentang apa yang terjadi di Surga ke-27, dan mereka merasa sangat berterima kasih kepada Lana—bagaimanapun juga, dialah yang telah menjaga Dave selama ini.


"Cukup parah, tapi bisa diobati."


Dave menggaruk kepalanya, tampak ragu sejenak—sesuatu yang jarang terjadi padanya. "Masalahnya... metode pengobatannya agak... Sedikit unik... Anu... Harus menggunakan 'kultivasi ganda'."


Agnes dan Yasmeen saling berpandangan, namun keduanya tidak tampak terlalu terkejut. Yasmeen mendengus pelan. " Ish... Sudah kuduga. Kau memang tipe orang yang tidak pernah bisa pergi ke mana pun tanpa menarik perhatian seorang wanita."


Dave segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Sumpah, aku melakukan ini semata-mata untuk menyelamatkan nyawa!" 


" Ish... Alesan..." Yasmeen mencibir 


Agnes, yang memilih untuk tidak menggodanya, berkata dengan lembut, "Kalau dipikir-pikir, Nona Su mengalami cedera separah itu karena dirimu; untunglah kau bisa mengobatinya. Jangan ragu—menyelamatkan nyawa adalah hal yang benar untuk dilakukan."


Yasmeen mengerutkan bibir—kata-katanya tetap tajam, namun nadanya melunak. "Kalau begitu, pergilah—jangan biarkan dia menunggu. Setelah dia pulih, kita masih harus bersama-sama menyelesaikan perhitungan dengan Sekte Tulang Layu."


Melihat kedua wanita ini—yang menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa, hampir sulit dipercaya—Dave merasakan perpaduan antara kehangatan dan rasa bersalah. Akhirnya, ia mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Tunggulah aku kembali."


Ia berbalik masuk kembali ke dalam gua gunung dan membantu Lana keluar.


...


Saat melihat Agnes dan Yasmeen, Lana mengangguk kecil sebagai sapaan, suaranya terdengar lemah. "Maaf atas masalah yang telah ku timbulkan."


Yasmeen melambaikan tangan, menepis ucapan itu. "Tidak perlu begitu, Saudari Su—kita semua sekarang berada di perahu yang sama. Fokus saja pada pemulihanmu; setelah kau kembali sehat, kita akan menuntaskan dendam ini bersama-sama, oh ya... Hati hati... Anu nya ganas..."


Melihat yang lain berbicara dengan nada mendamaikan, Dave tidak membuang waktu; ia mengangkat tangannya dan memanggil Pagoda Penindas Iblis, yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan manusia.


"Ayo.. masuk ke dalam pagoda." Sembari menggenggam tangan Lana, Dave menyelimuti mereka berdua dengan gelombang energi spiritual, dan dalam sekejap, mereka pun lenyap ke dalam bangunan tersebut.


Agnes dan Yasmeen tetap berdiri di tempat, memperhatikan pagoda kecil itu melayang dan berputar, memancarkan cahaya gelap yang samar. Keduanya terdiam.


Setelah beberapa lama, Yasmeen menghela napas pelan. "Katakan padaku... apakah pria bernama Dave Chen ini memang memiliki keberuntungan yang luar biasa, atau jangan-jangan dia hanya terlalu banyak menumpuk utang asmara?"


Menatap Pagoda Penindas Iblis itu, Agnes menjawab dengan suara lirih, "Utang apa pun yang dia miliki, biar dia sendiri yang melunasinya. Kita hanya perlu menunggu sampai dia keluar kembali."


....


Di dalam Pagoda Penindas Iblis, terbentang sebuah dunia yang sama sekali baru.


Begitu melangkah masuk, Lana disambut oleh gelombang energi spiritual yang begitu pekat hingga terasa hampir nyata—setidaknya sepuluh kali lebih murni daripada apa pun di dunia luar.


Yang lebih mengejutkannya lagi adalah aura misterius dan halus dari Dao Kekacauan yang bersirkulasi di ruang hampa dalam pagoda tersebut—sebuah energi yang memiliki asal-usul yang sama persis dengan aura yang terpancar dari diri Dave sendiri.


"Pagoda ini... apakah milikmu?" Lana mengamati sekeliling, matanya dipenuhi dengan secercah kekaguman.


"Hmm.. sebuah harta yang kudapatkan bertahun-tahun lalu."


Dave menjawab dengan santai, lalu menuntunnya ke sebuah platform giok yang halus dan hangat di tengah ruangan tersebut. 


"Cederamu cukup parah. Aku akan mulai dengan menyelaraskan kembali meridianmu, kemudian kita bisa melanjutkan dengan kultivasi ganda untuk mentransfer sebagian energi. Percayalah padaku—prosesnya mungkin akan sedikit... yah, cobalah untuk tidak terlalu gugup." 


Rona merah samar menjalar hingga ke ujung telinga Lana, namun ia memaksakan diri untuk tetap tenang dan menjawab dengan gumaman pelan, "Mm."


Dave duduk bersila di hadapannya lalu membentuk segel tangan. Seberkas energi Kekacauan murni yang primordial perlahan memancar keluar, mulai menata kembali aliran energi spiritual yang kacau di dalam tubuh wanita itu.


Lana merasakan kekuatan yang hangat dan luas membanjiri seluruh dirinya; rasa sakit yang menyiksa dan seolah merobek-robek tubuhnya pun memudar dengan cepat, membuatnya merasa jauh lebih nyaman. "Bagaimana... bagaimana mungkin esensi asalmu bisa begitu kuat?"


Lana tak kuasa menahan diri untuk bertanya.


Dengan tingkat kultivasi yang mencapai peringkat ketujuh dalam ranah Penguasa Dewa Abadi, ia merasa dirinya cukup berwawasan luas—namun kedalaman serta kemurnian Esensi Kekacauan milik Dave membuatnya merasa seolah sedang berdiri di hadapan samudra yang luas dan tak bertepi.


Dave tersenyum lebar. "Sudah kubilang, bakatku tidaklah istimewa; aku hanya cukup beruntung menemukan beberapa hal baik. Tutup matamu, kosongkan pikiranmu, dan biarkan aku yang memandu."


Lana menuruti permintaannya dan memejamkan mata.


Tanpa berlama-lama Dave segera melucuti semua pakaian Lana, terbentanglah pemandangan yang indah mempesona membangkitkan kejantanan nya yang langsung membuat nafsu nya memuncak 


Teknik kultivasi ganda, meski tampak mendalam, pada dasarnya merupakan penyatuan dua jenis energi serta pertukaran esensi asal yang saling melengkapi.


Esensi Kekacauan milik Dave mencakup segala sesuatu, sementara Jalan Segala Dao yang dipraktikkan oleh Lana juga merupakan disiplin yang sah dan ortodoks; keduanya secara alami sangat selaras.


Saat esensi asal mereka bertemu, rasanya seperti dua sungai yang mengalir ke dalam satu samudra luas—saling melilit dan berpadu, bersirkulasi tanpa henti dalam siklus yang terus berlangsung dan menopang dirinya sendiri.


Dave dengan hati-hati menyalurkan Esensi Kekacauan miliknya ke dalam tubuh Lana, menuntunnya menyusuri meridian-meridian yang rusak untuk memperbaiki serta menyusunnya kembali, sedikit demi sedikit.


Luka-lukanya tergolong parah; Dave tidak berani mengerahkan terlalu banyak kekuatan, melainkan melakukannya dengan ketelitian tinggi, layaknya seseorang yang sedang mengerjakan sulaman yang rumit.


Lana merasakan sensasi geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah-olah ia sedang berendam di dalam sumber air hangat. 


Meridian-meridian yang terputus di tubuhnya pulih dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata, dan retakan pada dantiannya—yang dirawat oleh kekuatan lembut nan memulihkan dari Asal-usul Kekacauan —mulai tertutup perlahan.


Wajahnya yang pucat pasi perlahan kembali merona, dan napasnya pun menjadi lebih stabil.


Di dalam menara itu, waktu kehilangan maknanya; mustahil untuk mengetahui berapa lama waktu telah berlalu.


Saat esensi asal mereka menyatu, aura keduanya mulai selaras, hingga akhirnya menjadi satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan.


Awalnya, Dave sepenuhnya berfokus pada proses penyembuhan. Namun, dengan posisi mereka yang begitu dekat—bahkan napas mereka pun saling berbaur—kedekatan yang sangat intim itu memicu gejolak yang tak tertahankan jauh di dalam lubuk hatinya.


Ia memaksakan diri untuk menenangkan pikiran dan terus mengarahkan aliran esensi asal mereka.


Tepat pada saat ini, Lana membuka matanya dengan lembut. Tatapannya tampak berkilau dan jernih, dengan nuansa samar seperti dalam mimpi—sesuatu yang bahkan tidak ia sadari sendiri. "Dave..."


"Hmm?" Dave sedikit terkejut. "Ada apa? Apakah ada bagian tubuhmu yang terasa tidak nyaman?"


"Tidak," ujarnya dengan suara pelan. "Aku hanya... merasa sangat tenang."


Hati Dave melunak. "Kalau begitu, beristirahatlah dan pulihkan dirimu tanpa perlu khawatir," ucapnya lembut. "Selama aku di sini, tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu."


Di dalam menara itu, energi spiritual bergejolak layaknya pasang surut air laut. Esensi primordial mereka saling bertautan, menyatukan jiwa dan raga menjadi satu kesatuan.


Waktu mengalir perlahan di dalam Menara Penindas Iblis—satu hari, dua hari, tiga hari...


Berkat asupan esensi primordial kekacauan, luka-luka Lana pulih dengan pesat. Meridian yang sempat terputus kini tersambung kembali sepenuhnya, retakan pada dantiannya telah tertutup rapat, bahkan kerusakan mendalam yang tersembunyi di dalam jiwanya pun telah pulih dan tenang kembali.


Alih-alih mengalami kemunduran akibat cedera parah tersebut, tingkat kultivasinya—yang diperkuat oleh pertukaran energi selama proses kultivasi ganda—justru menunjukkan peningkatan yang nyata.


Dave pun memperoleh manfaat yang luar biasa dari proses ini.


Saat esensi primordial mereka menyatu, pemahamannya mengenai berbagai jalan kultivasi mencapai tingkat yang baru. 


Esensi primordial kekacauan dan prinsip-prinsip dasar dari berbagai jalan tersebut saling beresonansi, melonggarkan hambatan-hambatan yang selama ini menghalangi kultivasinya sendiri.


Sepuluh hari sepuluh malam berlalu dalam sekejap mata.


Ketika sisa-sisa terakhir dari esensi primordial mereka selesai menyatu dan kembali ke asal masing-masing, Lana membuka matanya lebar-lebar; kilatan cahaya terang melintas di dalamnya.


Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran energi spiritual yang melimpah mengalir ke seluruh tubuhnya. 


Meridian-meridiannya kini bersih tanpa hambatan, dan dantiannya terasa kokoh bagaikan batu karang—ia tidak hanya pulih sepenuhnya, tetapi bahkan menjadi jauh lebih kuat daripada sebelumnya.


"Aku... aku sudah sembuh?"


Lana menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan bingung, hampir tidak percaya dengan apa yang dirasakannya.


"Benar.. bahkan kondisimu jauh lebih baik daripada sebelumnya."


Dave menatapnya dengan senyuman. "Tampaknya kemalangan ini justru menjadi berkah bagimu. Kemarilah, biar kubimbing kultivasimu. Energi spiritual di menara ini sangat melimpah, dan kita masih punya waktu, ini kesempatan sempurna untuk menstabilkan tingkat kultivasimu."


Sembari berbicara, Dave mengeluarkan tumpukan barang dari cincin penyimpanannya.


Batu roh, tanaman obat, pil, hingga lempengan giok berisi teknik kultivasi—semuanya adalah rampasan perang yang ia ambil dari Sekte Tianchu. 


Dulu, ia seorang diri telah mengosongkan seluruh perbendaharaan Sekte Tianchu; tumpukan sumber daya yang jumlahnya lebih dari cukup untuk menopang sebuah sekte besar.


Menatap tumpukan sumber daya yang sangat banyak di hadapannya, Lana—yang sebenarnya sudah terbiasa dengan harta langka—tetap saja terperangah. "Apakah kau... apakah kau merampok satu sekte penuh?"


"Tepatnya, aku melenyapkan seluruh sekte dan kebetulan mengambil apa pun yang tertinggal."


Dave mengangkat bahu, seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. "Lagipula, mereka hanyalah ancaman. Lebih baik sumber daya itu digunakan untuk mendukung istriku."


Wajah Lana memerah. " Ish... Siapa istrimu?!"


" Hehehe... Itu hanya masalah waktu saja."

Dave terkekeh. Sebelum Lana sempat membalas, ia meletakkan sepotong esensi spiritual murni berusia sepuluh ribu tahun ke tangan wanita itu. "Ini, seraplah dulu untuk menstabilkan kultivasimu. Aku juga akan memilihkan beberapa teknik yang cocok untukmu."


Lana menatap esensi spiritual di tangannya, lalu beralih memandang Dave yang tengah sibuk menyiapkan segalanya untuknya. Secercah emosi berkelebat di matanya.


Sejak sektenya hancur, ia memikul beban dendam berdarah yang mendalam seorang diri—berpindah-pindah tempat untuk bersembunyi, tanpa pernah berani menunjukkan sedikit pun kelemahan di hadapan siapa pun.


Namun kini, di sisi pria ini, untuk pertama kalinya ia menyadari betapa indahnya rasanya dilindungi oleh seseorang.


Tanpa berkata apa-apa lagi, ia duduk bersila dan mulai menyerap esensi spiritual tersebut. Di dalam Menara Penekan Iblis, energi spiritual mengalir layaknya pasang surut, sementara waktu terus berlalu.


Dave duduk bersila, menyalurkan Sumber Kekacauan Primordial miliknya. Dengan memanfaatkan esensi Dao yang padat dan mendalam di dalam menara—ditambah dengan manfaat yang diperoleh dari kultivasi bersama—ia mulai mendobrak hambatan pada tingkat kultivasinya saat ini.


Fondasinya sangat kokoh; perpaduan antara Sumber Kekacauan Primordial dan esensi sejati dari Dao Surgawi membuat potensinya jauh melampaui kultivator lain di tingkat yang sama.


Dia telah menekan tingkat kultivasinya dan belum membuat terobosan apa pun selama ini. Sekarang kesempatan itu telah tiba, seperti air yang mengalir ke saluran, dan dia memiliki perjalanan yang lancar dan tanpa hambatan.


Hambatan di puncak ranah Abadi Emas Luo Agung tingkat sembilan hancur di bawah hantaman Esensi Kekacauan Primordial.


Alam Penguasa Dewa Abadi


Begitu terobosan itu terjadi, energi spiritual di dalam Menara Penindas Iblis melonjak deras ke arah Dave, membentuk pusaran energi yang terlihat jelas di sekelilingnya.


Esensi Kekacauan Primordial bergejolak dan menderu di dalam tubuhnya, berpadu serta beresonansi dengan irama Dao Surgawi, melepaskan tekanan yang mengguncang dunia.


Penguasa Dewa Abadi tingkat satu!


Dave perlahan membuka matanya. Merasakan kekuatan yang mengalir deras seperti gelombang pasang di dalam dirinya, senyum puas tersungging di sudut bibirnya.


Sebagai Penguasa Dewa Abadi tingkat satu, kekuatannya jauh lebih dahsyat dibandingkan Penguasa Dewa Abadi pada umumnya; dengan dukungan Esensi Kekacauan Primordial dan irama Dao Surgawi, ia yakin mampu melibas sebagian besar lawan yang berada di tingkat Penguasa Dewa Abadi yang lebih tinggi.


Sementara itu, Lana juga telah menyelesaikan terobosannya selama periode ini.


Berbekal bakat yang luar biasa, ia mendapatkan keuntungan tambahan dari asupan Esensi Kekacauan Primordial milik Dave selama proses kultivasi ganda mereka, yang membuat tingkat kultivasinya melesat naik.


Seiring ia terus memurnikan dan menyerap sumsum spiritual berusia sepuluh ribu tahun serta berbagai harta karun langka dari surga, tingkat kultivasinya melonjak pesat seolah didorong oleh roket.


Penguasa Dewa Abadi tingkat tujuh tahap akhir, puncak tingkat tujuh, tingkat delapan tahap awal...


Pada akhirnya, kultivasinya stabil di alam Penguasa Dewa Abadi tingkat delapan—satu tingkat utama lebih tinggi daripada posisinya sebelum ia mengalami cedera.


Lana perlahan mengakhiri sesi kultivasinya. Merasakan kekuatan luar biasa yang mengalir di dalam dirinya, ia sempat merasa tidak percaya.


Dulu ia mengira bencana besar ini akan menjadi akhir dari hidupnya; namun, hanya dalam hitungan hari, tidak hanya cederanya pulih sepenuhnya, tetapi tingkat kultivasinya pun melonjak hingga ke ranah Penguasa Abadi tingkat delapan.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Dave seraya melangkah mendekat dengan senyuman. 


"Sangat hebat." Lana mendongak menatapnya, matanya bersinar dengan kecerahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Sangat luar biasa sampai-sampai... aku ingin segera pergi dan menuntaskan perhitungan dengan Sekte Tulang Layu sekarang juga."


"Tidak perlu terburu-buru."


Dave menepuk bahunya, nadanya santai namun tegas. "Pembalasan memang harus dilakukan, tetapi tidak boleh gegabah. Aku akan menyisakan Sekte Tulang Layu untuk bagian terakhir; untuk saat ini, kita akan membasmi sekte-sekte kecil yang ikut terlibat dalam kekacauan itu, satu per satu."


"Biarkan mereka juga merasakan penderitaan saat seluruh sekte mereka dimusnahkan."


Lana mengangguk, lalu tiba-tiba bertanya, "Bagaimana dengan dua orangmu itu?"


"Tingkat kultivasi mereka masih terlalu rendah—akan terlalu berbahaya jika mereka ikut dalam urusan ini."


Saat berbicara, Dave memberi isyarat, dan Pagoda Penindas Iblis bergetar pelan. "Aku akan meminta mereka masuk ke dalam pagoda untuk berkultivasi. Di dalam pagoda, energi spiritualnya melimpah, dan aliran waktunya pun lebih lambat. Saat kita selesai menuntaskan semua perhitungan, mereka pasti sudah berhasil meningkatkan kultivasi mereka secara signifikan."


Setelah berkata demikian, sosoknya berkelebat, lalu ia menghilang dari dalam Pagoda Penindas Iblis.


....


Di luar, Agnes dan Yasmeen sedang menunggu dengan tenang.


Melihat Dave muncul—diikuti oleh Lana, yang kini tampak berseri-seri dan jelas memiliki tingkat kultivasi yang jauh lebih tinggi—mata mereka berbinar.


"Saudari Su! Anda sudah pulih sepenuhnya!"


Yasmeen bergegas menghampiri, meraih tangan Lana, dan mengamatinya dari atas sampai bawah. "Dan kultivasi Anda... rasanya Anda menjadi jauh lebih kuat daripada sebelumnya!"


Lana memberikan senyuman tipis yang terasa lebih lembut dari biasanya. "Semua ini berkat Dave."


Agnes pun melangkah maju seraya berkata dengan lembut, "Selamat atas kesembuhan Anda, Nona Su. Apakah kita akan berangkat untuk membalas dendam sekarang?"


"Benar."


Dave menimpali, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Kalian berdua sebaiknya masuk ke dalam Pagoda Penindas Iblis untuk berkultivasi dan meningkatkan kekuatan. Setelah kami menuntaskan urusan dengan sekte-sekte itu, kami akan membawa kalian keluar kembali."


Menyadari bahwa tingkat kultivasi mereka belum memadai—dan bahwa ini bukanlah saatnya untuk bersikap keras kepala—Agnes dan Yasmeen mengangguk setuju.


Dave mengirim mereka berdua ke dalam Pagoda Penindas Iblis, lalu memasang formasi penyembunyi di sekelilingnya untuk memastikan segalanya tetap aman sepenuhnya.


Setelah menyelesaikan semua itu, ia berpaling ke arah Lana, wajahnya kembali dihiasi senyum santai yang terkesan tak acuh.


“Ayo, Nona Su.”


Ia mengulurkan tangannya. “Mulai hari ini, kita berdua akan menjadi lonceng Kematian pembawa malapetaka di seluruh Surga ke-27 ini. Setiap sekte yang memiliki utang darah kepada Istana Surgawi Segala Hukum, tak satu pun dari mereka akan bisa lolos.”


Lana menatap tangan yang terulur ke arahnya; tanpa ragu sedikit pun, ia menyambut tangan itu.


“Benar,” ujarnya. “Tak satu pun dari mereka bisa lolos.”


Dave berangkat bersama Lana menuju Kota Segala Dao, dimulai dari wilayah-wilayah di sekitarnya.


....


Sekte Kuno Xuanling—sebuah sekte terkemuka dan papan atas di sekitar Kota Segala Dao—memiliki warisan mendalam yang telah terentang selama sepuluh ribu tahun. 


Sekte ini memiliki lebih dari selusin tetua di tingkat Penguasa Dewa Abadi peringkat ketujuh, sementara pemimpin sektenya adalah sosok yang sangat tangguh di puncak tingkat Penguasa Dewa Abadi peringkat kedelapan.


Dahulu, saat Sekte Tulang Layu menggalang koalisi berbagai sekte untuk mengepung Istana Surgawi Segala Hukum, Sekte Kuno Xuanling termasuk salah satu yang berada di barisan paling depan.


Dalam pertempuran itu, Sekte Kuno Xuanling mengerahkan seluruh tetuanya, membantai lebih dari seratus murid Istana Surgawi Segala Hukum, serta menjarah berbagai artefak berharga milik sekte tersebut.


Oleh karena itu, Sekte Kuno Xuanling menjadi target pertama bagi Dave dan Lana.


Di depan gerbang gunung Sekte Kuno Xuanling, dua murid yang sedang berjaga tengah berbincang santai.


Mereka tidak menyangka bahwa seorang pemuda berjubah biru—yang tampak hanya memiliki tingkat kultivasi Penguasa Dewa Abadi peringkat pertama—akan tiba di gerbang mereka, ditemani oleh seorang wanita berpakaian putih, berjalan mendekat dengan sikap yang sangat tenang dan tanpa beban. 


“Berhenti! Siapa kalian?”


Salah satu murid yang menjaga gerbang gunung melangkah maju, menatap Dave dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penghinaan yang terang-terangan. "Kultivator liar macam apa kau ini? Apa kau tidak tahu ini adalah Sekte Kuno Xuanling? Apa kau pikir tempat ini bisa dimasuki begitu saja?"


Dave memiringkan kepalanya, berpura-pura polos. "Aku tahu persis di mana aku berada. Aku hanya datang untuk mengobrol sebentar dengan Ketua Sekte kalian."


" Cuuiih... Mengobrol...?"


Penjaga itu mendengus sinis. "Memangnya kau siapa, berani-beraninya ingin bertemu dengan Ketua Sekte kami? Pergi sana—jangan mencari masalah!"


Dave menghela napas lalu menoleh ke arah Lana. "Lihat, kan? Sudah kubilang—orang-orang zaman sekarang memang punya kebiasaan meremehkan orang lain."


Lana terkekeh pelan, lalu bergumam, " Hehehe... Gass..."


Dave berbalik kembali. Senyum masih menghiasi wajahnya, namun tatapan matanya berubah jauh lebih dingin. "Sampaikan pesan ini kepada Ketua Sekte kalian: seseorang dari Istana Surgawi Segala Hukum telah tiba. Katakan padanya untuk mengembalikan semua yang telah ia curi dan mempertanggungjawabkan nyawa orang-orang yang telah ia bunuh. Jika dia menolak, aku sendiri yang akan masuk dan mengambil semuanya kembali."


" Hah... Istana Surgawi Segala Hukum?"


Penjaga itu tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. " Hahaha.... Lawak kau dek... Istana Surgawi Segala Hukum sudah musnah sejak lama! Sisa-sisa kelompok macam apa kau ini, sungguh lancan...."


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya terlempar jauh.


Dave bahkan tidak mengerahkan tenaga sungguhan; hanya dengan kibasan lengan bajunya yang santai, gelombang energi tak terlihat menyapu kedua penjaga itu hingga terpental. Mereka menghantam pilar batu di gerbang gunung dan langsung jatuh pingsan.


"Jadi kalian memilih cara yang keras, ya?"


Dave menepuk-nepuk tangannya lalu melangkah maju. "Bagaimana, Nona Su? Ayo kita masuk dan buat sedikit kekacauan."


Begitu gerbang gunung ditembus, Sekte Kuno Xuanling pun dilanda kekacauan.


Lonceng berdentang tanpa henti, alarm meraung-raung, dan sejumlah besar murid berhamburan keluar dari segala arah, mengepung Dave dan Lana. 


"Dasar bocah tolol kurang ajar! Beraninya kau menerobos masuk ke Sekte Kuno Xuanling kami!"


Seorang diakon paruh baya membentak, "Sebutkan namamu, mungkin aku akan mengampuni nyawamu!"


Dave tetap berdiri tegak, melirik kerumunan orang yang mengerumuninya, lalu tiba-tiba menyeringai. "Namaku Dave Chen. Mungkin kalian belum pernah mendengarnya, tapi izinkan aku mengingatkan: kehancuran Istana Surgawi Segala Hukum—itu adalah ulah Sekte Tulang Layu bersama kelompok kalian, kan?"


Ekspresi diakon paruh baya itu berubah seketika. "Kau... apakah kau salah satu sisa-sisa dari Istana Surgawi Segala Hukum?"


"'Sisa-sisa' bukanlah kata yang tepat. Anggap saja aku datang untuk menagih utang."


Dave mengangkat bahu. "Aku beri waktu kepada Ketua Sekte kalian selama satu batang dupa terbakar, suruh dia merangkak keluar dan hadapi aku. Jika dia belum muncul saat dupa itu habis, aku sendiri yang akan mencarinya."


Bersambung...


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️









No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 7156 - 7158

Perintah Kaisar Naga. Bab 7156-7158 Beberapa jam kemudian, murid tersebut kembali bersama Dave dan rombongannya. "Tuan Muda, mohon tung...