Photo

Photo

Saturday, 21 March 2026

Kebaikan Anda Selalu Memakan Korban

 




ZERO SUM GAME: KEBAIKAN ANDA SELALU MEMAKAN KORBAN


​Jangankan kebaikan materi, kebaikan rohani Anda pun dihasilkan dari tindak kejelekan.


​Kebaikan materi, seperti Anda terima kebaikan rezeki dari dagang, itu kan hasil manipulasi harga yaitu harga kulak ditumpangi harga jual sama dengan cuan. Manipulatif, kan?


​Anda seorang guru, dari sana Anda terima gaji, itu kan hasil memperalat anak-anak bodoh yang ingin pintar.


​Anda seorang karyawan, dari sana Anda terima bayaran, itu kan hasil memperalat si bos untuk memikirkan dan bertanggung jawab atas finansial hidup Anda. 

Sedikit saja si bos telat membayar, Anda langsung teriak-teriak, "Zalim!"


​Dan seterusnya.


​Kebaikan rohani yang Anda peroleh juga begitu; dihasilkan dari tindakan kejelekan.


​Misal, untuk mencapai rasa syukur dalam materi, Anda diperintahkan untuk melihat orang yang ada di bawah Anda secara materi. 

Di situ, kan, untuk peroleh rasa syukur, Anda harus memandang rendah orang lain.


​Anda terima pahala ibadah puasa Ramadan, di situ kan Anda membantai rezeki jutaan pedagang kuliner.


​Anda mencapai rasa memaafkan, di situ kan Anda sangat egois. Si pembenci dibiarkan terluka berdarah-darah secara emosi batin, sementara Anda egois sibuk menyembuhkan luka batin sendiri.


​Anda mencapai rasa ikhlas sedekah, di situ kan Anda sangat radikal memiskinkan orang yang Anda sedekahi. ​Iya, orang itu bisa peroleh kekayaan itu dengan membayar, misal Anda beli Pepsodent, ya Anda jadi peroleh kekayaan harta berupa Pepsodent, kan?


​Kalau Anda dibayar, justru Anda kehilangan. Misal Anda dibayar gaji, ya Anda harus kehilangan tenaga dan waktu untuk kerja, kan?


​Sedekah itu membayar, terima sedekah itu dibayar. Membayar hasilnya kaya, dibayar hasilnya kehilangan (miskin).


​Maka ketika Anda terima kebaikan mencapai rasa ikhlas sedekah, Anda telah berperan brutal memiskinkan orang.


​Anda menyucikan diri di Hari Raya Idul Fitri dengan membayar zakat fitrah. Lah, zakat itu kan kotoran, masa kotoran dibuang lalu diberikan kepada sesama? Tidak beradab, kan?


​Dan seterusnya.


​Hehehe, panas, ya, narasinya?


​Iya, begitu, makanya Syekh Ibnu Atha'illah mengakuinya, dan berkeluh kesah kepada Tuhan;


​اِلَهِيْ مَنْ كَانَتْ مَحَاسِنُهُ مَسَاوِيَ، فَكَيْفَ لاَ تَكُوْنُ مَسَاوِيُهُ مَسَاوِيَ؟


​"Tuhanku, manusia yang baik nya saja buruk, bagaimana buruknya tidak jadi keburukan?"


​Kita tarik pada orang yang mungkin paling kita anggap sukses menyucikan dirinya; Rabi'ah al-Adawiyah.


​Dia punya kesibukan mengurus harta, tidak. Menikah lalu sibuk mengurus rumah tangga, tidak. ​Semua syahwat dunia dan akhirat dia matikan, dikasih surga saja menolak. Dia hanya sibuk mengurus rida Allah.


​Apa dia mutlak hanya berbuat kebaikan? Tidak.


​Dia tidak mau menikah berarti dengan organ rahimnya saja dia sangat sadis membantai. ​Dia tidak punya kesibukan dengan harta, berarti dia sangat sadis menghentikan arus ekonomi, berapa banyak pedagang tidak bisa peroleh berkat cuan darinya lantaran dia tidak pernah belanja?


​Ya, begitu, kita itu baiknya saja jelek, ujar-ujar melakukan kebaikan ternyata hanya sedang melakukan kejelekan di sisi lainnya.


​Memberi di satu sisi, namun menjahati bagian lainnya.


​Maka itu Rabi'ah al-Adawiyah ketika terus mengoreksi diri menyelami kebaikan-kebaikannya, dia seperti kucing yang ingin menggigit ekornya sendiri, sama sekali tidak ketemu.


​Akhirnya dia hanya bisa mengungkapkan:


​اِسْتِغْفَارُنَا يَحْتَاجُ إِلَى اسْتِغْفَارٍ كَثِيْرٍ


​"Istighfar kita membutuhkan istighfar lagi yang banyak."


​Dunia ini memang sistem yang saling menjerat (interconnected). ​Kita tidak bisa makan tanpa ada yang dirugikan (mati), kita tidak bisa kaya tanpa ada yang dirugikan relatif lebih miskin. ​Satu bagian ditambah maka otomatis ada yang dikorbankan untuk dikurangi.


​Dalam matematika ada teori Zero Sum Game yang intinya dalam sistem tertutup, total keuntungan (+1) dan total kerugian (-1) jika dijumlahkan hasilnya adalah nol (0).


​Maka itu dalam kalimat Tauhid sebagai konsistensi mengesakan Tuhan terdiri dua paradoks lafal yang berbenturan namun saling jerat, yakni lafal "La ilaha" yang berarti "tidak ada tuhan" (ateis) dengan lafal "Illa Allah" yang berarti "kecuali Allah" (teis), hasilnya adalah nol (0).


​Dalam spiritualitas: Jika Anda merasa "ada" (punya amal, punya jasa, punya kebaikan), maka Anda belum benar-benar mengesakan Tuhan.


​Hanya ketika Anda menjadi "Nol" (fana), di situlah Tauhid menjadi murni.


​Selama Anda merasa "baik", Anda masih "ada", dan selama Anda "ada", Anda adalah pesaing bagi ke-Maha-Ada-an Tuhan. Anda adalah saingan Tuhan.


​Lalu kenapa masih ada dikotomi "Saya" dan "Tuhan"? Karena kalau tidak ada dikotomi tersebut, Zero Sum Game (0) juga tidak ditemukan.


Tapi ya, itu, kamu mau se-jadzab apapun rohaninya, kalau tidak punya duit dan kedudukan, ya, nilai dirimu tak lebih dari kentut di mata dunia. 

Bukan dunia yang salah sistem, tetapi dirimu yang salah proses Zero Sum Game, yakni proses saling jerat antara materialisme versus spiritualisme, antara "Lâ ilâha" versus "illâ-llâh".





.

No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 6260 - 6262

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6260-6262 *Memulihkan Jiwa* Dave terdiam sejenak, lalu mulai memeriksa barang-barang miliknya. Dia menggeledah ru...