"Ciri termudah untuk menandai (niteni) seseorang itu zuhud adalah dia digampangkan uangnya."
Jika Anda sudah memiliki Pajero Sport, maka motor tidak lagi memiliki nilai tinggi bagi Anda. Itu artinya, Pajero Sport telah meng-zuhud-kan hati Anda terhadap motor.
Zuhud adalah level value kesadaran. Ketika kesadaran Anda mampu menembus getaran value yang lebih tinggi, maka value di bawahnya menjadi tidak berarti.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ 'Ulûmiddîn menyampaikan:
الزُّهْدُ هُوَ انْصِرَافُ الرَّغْبَةِ عَنِ الشَّيْءِ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ
"Zuhud adalah berpalingnya keinginan dari sesuatu menuju sesuatu yang lebih baik darinya."
Ada value yang lebih tinggi (huwa khairun minhu) yang dicapai, sehingga level di bawahnya menjadi tidak bernilai lagi (remeh).
Umpamanya begini: Anda setiap hari mengendarai Pajero Sport, namun kesadaran Anda semata-mata untuk merasakan "Kemahakayaan Allah". Dengan demikian, level kesadaran hedonisme pada harta menjadi remeh. Ya, itulah zuhud.
Tentu, dalam literasi Islam, kesadaran akan akhiratlah yang menjadi poin utamanya.
وَكُلُّ مَنْ بَاعَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ فَهُوَ زَاهِدٌ فِي الدُّنْيَا
"Dan setiap orang yang menjual (menukar) dunia demi akhirat, maka ia adalah orang yang zahid (zuhud) terhadap dunia," lanjut Al-Ghazali dalam Ihyâ 'Ulûmiddîn.
Menukar tidak harus berarti kehilangan. Karena Anda tidak membawa fisik harta ke akhirat; Anda hanya membawa energinya. Kata Al-Ghazali:
لَيْسَ الزُّهْدُ فَقْدَ الْمَالِ، وَإِنَّمَا الزُّهْدُ فَرَاغُ الْقَلْبِ عَنْهُ
"Zuhud itu bukanlah tidak memiliki harta, melainkan kosongnya hati dari (keterikatan) harta tersebut."
Ketika Anda memiliki level nilai kesadaran yang lebih tinggi, Anda menganggap harta itu "remeh". Anda tidak lagi berminat menggunakannya di level kesadaran rendah.
Misalnya, Anda sadar bahwa uang adalah kekayaan Allah. Anda memiliki dan mengusahakannya karena ingin memperoleh serta merasakan kemahakayaan-Nya, bukan untuk bermegah-megahan.
Karena tidak mungkin Anda merasakan Kemahakayaan Allah kalau duitnya paling seret sejagat.
Di situlah letak Anda meremehkan uang dari sekadar fasilitas kemegahan dunia.
Imam Al-Ghazali melanjutkan:
وَلَا يَتَحَقَّقُ الزُّهْدُ إِلَّا بِأَنْ يَكُونَ الْمَرْغُوبُ عَنْهُ مَرْغُوباً فِيهِ فِي نَفْسِهِ، وَلَكِنَّهُ يُسْتَحْقَرُ لِطَلَبِ مَا هُوَ أَعْلَى مِنْهُ.
"Zuhud tidak akan terealisasi kecuali apa yang ditinggalkan itu sebenarnya disukai secara tabiat, namun ia memandangnya rendah (istihqar) demi mengejar apa yang lebih tinggi darinya."
Puncak rasa zuhud adalah munculnya rasa istihqâr (meremehkan).
Nah, di sinilah poinnya. Anda menganggap sampah itu remeh. Risikonya, sampah menjadi melimpah; di mana-mana Anda menemukan sampah.
Jadi, energi puncak dari zuhud justru membuat uang menjadi melimpah dan dunia tunduk.
Di kehidupan dunia pun, Anda akan menemukan banyak uang di mana-mana, layaknya nilai sampah.
Jika mengaku zuhud tetapi anti terhadap kata kaya, padahal membeli pulsa saja tidak sanggup, bahkan ponselnya diikat karet gelang karena pecah dan tak mampu membeli baru, itu adalah zuhud kebohongan telak.
Emas memiliki nilai yang berharga, itulah sebabnya emas tidak semudah sampah untuk ditemukan.
Artinya, jika uang masih "susah ditemukan", itu berarti nilai uang di hati Anda bukanlah remeh, melainkan terlalu berharga.
Gus Baha konon tidak memiliki WhatsApp, bahkan tidak mengenal media sosial.
Namun, mengapa beliau justru menjadi selebritas dan tersohor di media sosial? Ya, itulah orang zuhud.
Bagi Gus Baha, popularitas adalah nilai sampah. Risikonya, popularitas justru tunduk mengejarnya.
Al-Hallaj, ketika hendak dieksekusi mati, ditanya oleh seseorang, "Apa itu zuhud?"
Al-Hallaj lalu mengambil batu dan meludahinya, dan seketika batu itu menjadi emas.
Ia menjawab sembari menunjuk ke arah batu emas tersebut, "Itu zuhud."
Ludah saja bisa menjadi emas. Artinya, andai Al-Hallaj menginginkan kemewahan harta, valuenya sudah semudah meludah.
Imam Al-Ghazali menjelaskan hal ini:
الدُّنْيَا خَادِمَةٌ لِمَنْ زَهَدَ فِيهَا، وَمَخْدُومَةٌ لِمَنْ رَغِبَ فِيهَا
"Dunia adalah pelayan bagi orang yang zuhud terhadapnya, dan dunia adalah majikan bagi orang yang mencintainya."
Sehingga jelas: bohong jika ada orang yang mengaku zuhud tetapi kesusahan uang, bahkan sering kehabisan masa aktif nomor telepon karena tidak mampu mengisi ulang. Bohong kuadrat!
Maka sebelum berekspektasi zuhud tinggi-tinggi, malah nanti bahayanya Anda terjebak "halu dan fantasi zuhud",
Mending fokus ikhtiar cari uang dulu.
Yuk, kembali menyangkul sawah..
-


No comments:
Post a Comment