Jangan Salahkan Jika Umat Berpaling: Curhat Jujur Dibalik Kaku dan Mahalnya 'Protokol' Kiai Elitis.
Menjelang lebaran, tradisi sowan ke tokoh agama kerap menjadi agenda tahunan, namun pengalaman kurang menyenangkan membuat saya berpikir ulang untuk mengunjungi kiai yang elitis.
Menjelang lebaran tahun ini, saya memutuskan untuk lebih selektif dalam bersilaturahmi, terutama kepada tokoh atau kiai yang terkesan elitis dan minim interaksi.
Bukan bermaksud tidak hormat, namun pengalaman didiemin saat sowan sekeluarga membuat saya menyadari pentingnya keramahtamahan seorang tokoh di atas sekadar label keilmuannya.
Pengalaman kurang mengenakkan saat sowan ke tokoh agama yang kaku membuat saya merenungkan kembali pentingnya keramahtamahan seorang panutan dalam menyapa umatnya.
Sebentar lagi lebaran. Tampaknya aku tidak ingin menjadwalkan untuk sowan ke beberapa tokoh (kiai) tertentu yang sangat elitis.
Bukan karena apa-apa.
Pernah suatu ketika, saya dan anak-istri sowan. Waktu itu, yang sowan pas hanya kami sekeluarga. Tidak ada tamu lain. Ketemu dan didiemin. Tidak ada interaksi. Seperti malas gitu. 😂
Saya yakin ini hanya sebagian. Pasti tidak semua.
Ya, setiap orang pasti punya dalih sendiri-sendiri. Tidak masalah.
Namun, kiai yang elitis, tidak ramah, tidak mau menyapa padahal saat sowan tidak begitu banyak orang, saya merasa kurang cocok untuk sowan kepada beliau di kemudian hari.
Saya menganggap maklum jika jumlah tamunya ada puluhan atau bahkan ratusan. Apabila tidak menyapa satu per satu, bagiku itu sangat wajar.
Interaksi sosial timbal balik itu sangat penting. Minimal dengan tanya “ Cah, rumahnya mana? Gimana kabarnya?”
Walaupun besok lagi lupa karena memang menghafal orang-orang baru itu tidak mudah, basa-basi dengan standar minimal begini menurutku sangat penting.
Supaya apa?
Supaya kiai tetap bisa dekat dengan umat.
Aku menganggap wajar jika ada masyarakat yang malas mendekat kepada tokohnya kalau cara komunikasi tokohnya sangat elitis begini, protokoler banget, dan kalau ngundang harus menyiapkan budget yang tidak murah.
Gimana tidak tercipta jarak antara tokoh dengan masyarakatnya?
Sedangkan sebagian ustadz-ustadz muda banyak yang care, mudah diakses, bahasanya sangat nyambung dengan anak muda.
Jangan salahkan jika masyarakat lebih nyaman, klik dengan ustadz-ustadz muda lain.
Karena masyarakat yang sowan itu juga sama-sama manusia yang perlu saling hormat-menghormati.
Pada akhirnya, sowan adalah momen interaksi manusiawi yang membutuhkan timbal balik, bukan sekadar protokoler.
Kiai yang elitis dan berjarak wajar saja ditinggalkan umat yang lebih memilih ustadz muda yang care, ramah, dan mudah diakses, karena masyarakat butuh disapa dan dihormati, bukan hanya sekadar berkunjung.
Sowan bukan sekadar rutinitas lebaran, melainkan momen menyambung silaturahmi yang membutuhkan interaksi dua arah.
Kiai atau tokoh yang terlalu elitis dan prosedural akan menciptakan jarak, sehingga wajar jika masyarakat lebih nyaman mendekat kepada ustadz muda yang lebih care dan mudah diakses, karena pada dasarnya setiap manusia butuh saling menghormati.
.


No comments:
Post a Comment