Photo

Photo

Monday, 22 December 2025

Kesesatan Jargon Kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah


Kelompok Wahaboy paling getol mengkampanyekan jargon kembali pada Al-Qur'an dan sunnah. Disetiap pengajiannya selalu didengungkan "ayo kita kembali pada Al-Qur'an dan sunnah". 


Kalimat yang terus menerus mereka ulang diantaranya: "tidak usah pakai madzhab karena madzhab penyebab perpecahan umat", "kita kembali pada ajaran Islam yang murni sesuai ajaran rasulullah dan sahabat". Begitulah jargon-jargon Wahabi. 


Bagi masyarakat awam, jargon semacam itu tampaknya indah dan bagus. Simpel dan tidak perlu bertele-tele pakai imam madzhab. Lebih pure (murni) dan ori (asli). 


Bagi kalangan yang paham agama terutama ulama NU jargon semacam itu sungguh sesat dan menyesatkan untuk tidak mengatakan kacau balau. Memahami agama tak sesimpel itu. 


Bagaimana mungkin memahami Islam langsung memakai Al-Qur'an dan sunnah tanpa tafsir dari ulama? 

Tanpa mengetahui asbabun nuzul, nasikh-mansukh, muhkam-mutasyabihat, makkiyyah-madaniyah, ayat 'am dan khash dan perangkat lain ilmu tentang Al-Qur'an. 


Sungguh bohong jika bisa memahami Al-Qur'an dan sunnah tanpa memerlukan bantuan ulama tafsir dan ulama hadits. Tanpa memakai pendapat imam madzhab, mustahil bisa ibadah dengan benar. 


Tidak pernah hidup dengan nabi, tidak pernah berinteraksi dengan sahabat kok langsung mau menafsirkan Al-Qur'an dan sunnah? 


Para sahabat saja yang jelas-jelas hidup bersama rasulullah tidak semuanya ahli Al-Qur'an dan tidak semuanya ahli hadits. 


Lha ini kok ada umat akhir zaman yang hidup 1400 tahun setelah rasulullah langsung mau menafsirkan Al-Qur'an dan sunnah dengan otaknya. Sungguh pekok kuadrat. 


Lantas apa maksud tersembunyi dari jargon Wahaboy mengajak kembali pada Al-Qur'an dan hadits? 


Kita harus paham bahwa jargon ini bukan jargon biasa melainkan jargon menipu alias taqiyah ala Wahaboy


Bagi kalangan awam yang tidak pernah nyantri tentu akan tertipu dengan jargon ini. Tipuan muslihat kaum Wahaboy yang sasarannya adalah kaum remaja milenial. 


Misi Wahaboy dari jargon ini adalah untuk menjauhkan umat dari ulama. Menjauhkan umat dari ulama Aswaja yang ilmunya lurus, bersanad sampai kerasulullah.


Dengan jauhnya umat dari ulama, maka umat akan masuk perangkap Wahaboy berikutnya. 


Apa perangkap Wahaboy selanjutnya? 


Wahaboy bertujuan mempromosikan ulama versi mereka. Itulah yang disebut ulama Wahaboy. 


Agar umat mengikuti ulama yang direkomendasikan oleh pengikut Wahaboy. Antek-antek Wahaboy ini terus menerus merekomendasikan ulama mereka kepada masyarakat awam yang mereka anggap ulama lurus melebihi ulama madzhab dan ulama tafsir. 


Tokoh-tokoh Wahaboy yang kerap dikutip dan dishare oleh bolo-bolo Wahaboy tidak jauh dari beberapa tokoh ini, diantaranya Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri Wahabi), Albani (tokoh hadits versi Wahabi), bin Baz dan Shalih Utsaimin (ahli fatwa versi Wahaboy) dan Ibnu Taimiyah (teolog yang dianut Wahaboy). 


Itulah inkonsistensi Wahaboy. Mengajak kembali pada Al-Qur'an dan sunnah, mengajak anti madzhab kemudian mengajak ikut tokoh-tokoh versi mereka.


Jadi pada dasarnya, Wahaboy itu mengajak anti madzhab empat tapi mengajak ikut madzhab versi mereka yakni pola pikir dan ideologi Wahaboy. Walaupun mereka mengaku anti madzhab namun hakikatnya mereka juga bermadzhab yakni madzhab Wahaboy. 


Semoga kita semua bisa memahami tipu muslihat Wahaboy ini sehingga tidak tersesat yang akhirnya gabung bersama Wahaboy. Cara selamat adalah nderek dan selalu ikut dawuh ulama NU. 


Oleh Suryono Zakka, Aswaja Sumsel




.

No comments:

Post a Comment

Negeri Ramah Penjahat: Membela Diri = Melanggar Hukum?

  Di Amerika πŸ‡ΊπŸ‡Έ, kalau ada maling bersenjata nekat congkel jendela rumah orang, si pemilik rumah boleh ambil senjata dan dor! πŸ”« Negara bi...