Suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa menjadi kambing hitam dalam keluarga narsistik sebenarnya adalah sebuah pujian terselubung atas karaktermu.
Kedengarannya aneh dan bertolak belakang, tapi itulah kenyataannya.
Fokus dan serangan yang terus-menerus diarahkan kepadamu bukan karena kamu lemah, melainkan karena kamu kuat, peka, dan menolak untuk mati rasa.
Kamu tidak mudah dibentuk, tidak mudah dibungkam.
Sering kali, kambing hitam adalah orang yang tidak mau ikut berpura-pura.
Kamu melihat disfungsi itu apa adanya, kamu merasakannya sampai ke dalam, dan kamu berani menyuarakan kebenaran saat yang lain memilih diam atau malah ikut menormalisasi luka.
Kamu menjadi sasaran karena kamu punya nurani. Karena kamu melawan gaslighting. Karena kamu tetap berpegang pada realitasmu sendiri, meski itu membuatmu sendirian dan tidak nyaman.
Empati dan kesadaranmu justru membuatmu "berbahaya" bagi narasi palsu yang mereka bangun demi mempertahankan kontrol.
Peran ini memang menyakitkan dan melelahkan.
Tapi di balik itu, peran ini menandakan ketangguhan dan kecerdasan emosional mu.
Kamu adalah pengingat akan tanggung jawab di dalam sistem yang lebih memilih manipulasi.
Saat kamu mulai melihatnya dari sudut pandang ini, perlahan rasa malu akan terangkat.
Ceritanya berubah: kamu tidak rusak, kamu berani.
Kamu bukan "terlalu sensitif", kamu hanya berani merasakan. Dan perasaan itu adalah kekuatan.
Mengambil kembali makna ini adalah langkah penting menuju penyembuhan-mengubah luka menjadi belas kasih pada diri sendiri dan ruang untuk bertumbuh.


No comments:
Post a Comment