Raport anak hari ini rapi, tapi entah kenapa rasanya kosong.
Raport anak hari ini terlihat rapi.
Nilainya lengkap, kolomnya bersih, keterangannya tertata.
Tapi entah kenapa… saat raport itu dibuka, rasanya tidak ada yang benar-benar bergetar.
Tidak ada rasa bangga berlebihan, tidak juga rasa khawatir.
Biasa saja.
Dulu, raport bisa jadi momen yang menegangkan.
Sekarang, dibuka sebentar, dilihat sekilas, lalu selesai.
Pertanyaannya bukan lagi soal nilai.
Yang lebih mengganggu adalah satu hal sederhana:
kalau orang tua saja merasa datar, bagaimana dengan perasaan anak yang menjalaninya?
Banyak orang tua baru sadar ada yang berubah, justru saat membuka raport anaknya.
Tidak ada ranking, tidak ada kejutan, dan semuanya tampak biasa saja.
Raport dibuka, dilihat sekilas, lalu selesai. Antusiasme yang dulu hadir perlahan menghilang.
Yang lebih terasa, raport seperti ini tidak menambah motivasi belajar.
Jika orang tua saja merasa datar, bagaimana dengan sang murid?
Tak ada rasa penasaran, tak ada dorongan untuk berjuang lebih keras.
Nilai ada, tetapi maknanya terasa jauh.
Sekolah zaman sekarang juga seolah memberi pesan tak tertulis: yang penting rajin masuk, tugas dikerjakan, dan administrasi beres—maka hampir pasti naik kelas atau lulus.
Sistem ini dimaksudkan agar lebih manusiawi dan tidak menekan anak.
Namun ketika tantangan dan konsekuensi makin minim, sekolah perlahan berisiko berubah menjadi sekadar formalitas.
Datang, absen, mengerjakan tugas, naik kelas, lalu lulus.
Prosesnya rapi, tetapi semangat menuntut ilmu kian memudar.
Di sisi lain, guru hari ini berada di posisi yang tidak mudah. Upaya membentuk kedisiplinan sering terbentur kekhawatiran.
Sedikit tegas bisa dianggap keras, salah langkah sedikit risiko sanksi atau laporan sudah menanti.
Akhirnya, banyak guru memilih jalur aman: menegur seperlunya, menuntut secukupnya.
Sekolah ingin ramah, guru dituntut sabar, murid dilindungi.
Semua niatnya baik.
Namun jika sekolah hanya memastikan anak lulus, siapa yang memastikan mereka benar-benar belajar?
Pendidikan bukan sekadar memastikan anak naik kelas dan lulus tepat waktu.
Pendidikan seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu, daya juang, dan keberanian menghadapi tantangan.
Raport boleh rapi.
Sistem boleh nyaman.
Tapi jangan sampai semangat belajar ikut menghilang.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukan angka di kertas,
melainkan seberapa jauh anak kita benar-benar belajar dan bertumbuh.
Kalau menurut kamu, sistem pendidikan hari ini sudah tepat atau justru perlu dibenahi,
tulis pendapatmu di kolom komentar.
Diskusi seperti ini penting, karena masa depan anak bukan sekadar soal lulus...
tapi soal makna belajar itu sendiri.
.


No comments:
Post a Comment