Guru Honorer: Capek Setengah Mati, Dibayar Seperempat Mati
Bayangin ada profesi yang harus bangun subuh, ngajar 24 - 36 jam pelajaran seminggu, bikin laporan numpuk, ngoreksi sampai tengah malam… tapi gajinya malah lebih kecil dari uang bansos orang yang cuma duduk di rumah.
Kedengeran nggak masuk akal?
Sayangnya… ini nyata.
Satu profesi mulia di Indonesia punya gaji yang bahkan kalah dari uang belanja ibu-ibu penerima PKH.
Dan profesi itu… adalah guru honorer.
Iya, yang mendidik masa depan bangsa.
Kalau ada yang tanya, " Lebih enak miskin sambil ngajar atau miskin sambil santai? "
Jawabannya… negara kita sudah kasih bocoran.
Aku merenungi caption seorang Guru Muda, benar juga :
=> Ibu rumah tangga penerima PKH tahap maksimal: Rp600.000-1.000.000/bulan
Tugasnya? Cuma datang foto sama KTP pas pencairan, terus pulang masak buat anak.
Nggak perlu bikin RPP, nggak perlu ngoreksi ulangan ratusan lembar, nggak perlu bangun pagi buat naik angkot.
=> Penerima BPNT (sembako):
Rp200.000-400.000/bulan
Tugasnya? Nggak ada. Cukup hidup aja.
=> Penerima KIP (untuk anak sekolah):
Rp450.000-1.800.000/tahun
Orang tua tinggal terima, anak tinggal sekolah, guru yang capek.
=> Penerima BLT Desa/el-nino/dll: Rp300.000-600.000 sekali cair
Tugasnya? Cuma punya KTP miskin.
Sekarang guru honorer yang S1, ngajar full 24 - 36 jam pelajaran / minggu, bikin RPP, ngoreksi, rapat, bimtek, piket, ekstrakurikuler, plus jadi psikolog, dokter gigi, wasit, sama orang tua pengganti sekaligus:
Dapat "insentif" Rp400.000/bulan, itu pun nanti mulai 2026. Naik seratus ribu, katanya terobosan.
Jadi kesimpulannya gini:
Kalau kamu cuma duduk di rumah sambil nonton sinetron sambil pegang KTP miskin, negara kasih Rp600.000-1 juta.
Kalau kamu capek-capek mendidik anak bangsa, bikin laporan sampai tengah malam, dan anakmu sendiri makan mie rebus karena gaji nggak cukup, negara kasih Rp400.000 sambil bilang "terima kasih atas pengabdiannya".
Logikanya sangat manusiawi:
Miskin karena nggak kerja → dibantu.
Miskin karena kerja (ngajar) → dikasih "insentif" biar nggak mati kelaparan di depan kelas.
Jadi mulai tahun depan, kalau ada guru honorer yang masih ngeluh, langsung dijawab: "Eh, lo udah bersyukur belum? Penerima PKH aja cuma Rp600 ribu, lo masih dapet Rp400 ribu padahal lo kerja. Rugi dong negara."
Atau lebih singkat:
"Lebih baik miskin sambil santai daripada miskin sambil ngajar, kan?"
Selamat ya, guru honorer....
Kalian resmi jadi satu-satunya profesi yang gajinya lebih rendah dari bansos orang yang nggak ngapa-ngapain.
Prestasi nasional: mendidik generasi masa depan dengan upah lebih kecil dari uang jatah belanja ibu-ibu tetangga yang cuma gosip di pos ronda.
Pada akhirnya, tulisan ini mengingatkan kita bahwa sering kali pengabdian tidak selalu dihargai dengan layak.
Guru honorer bekerja keras membentuk masa depan anak-anak bangsa, tapi justru mereka yang menerima bagian paling kecil dari perhatian negara.
Sementara yang tidak bekerja, justru dapat lebih banyak.
Bukan tentang iri—tapi tentang logika keadilan yang mulai terasa kabur.
Semoga ada kebijakan yang lebih manusiawi, lebih adil, dan benar-benar menghargai perjuangan para guru honorer.
Karena tanpa guru… negara ini tidak akan punya masa depan.
Renungan guru honorer...
Salam dari guru honorer Madrasah swasta
Semoga
Bejo selalu


JANGAN trlalu mnggantungkan hdupmu pda negara sdngkan negara hanya menganggapmu sbatas honorer..untuk hidup yg lbih baik trkadang harus banting setir klo sekiranya kpintaranmu dlam mnyopir ga cukup berbuah manis sprti yg diharapkn..klo ga bisa ya udah iklas aja trima nasib..karna alloh gakan mengubah keadaanmu jika kamu sendri masih pake jalan yg sama sdngkan km sndri udah tau apa yg ada diakhir jalan trsbut hanyalah besi tua yg berkarat... nunggu keajaiban..? Boleh saja tpi keajaiban itu ga berlaku untuk smua orang..Harus tetap smangat menjalani hidup karna setan yg udah jelas masuk neraka aja masih ttep smangat menggoda manusia..
ReplyDeleteTrima kasih atas sarannya, tapi ini bukan tentang 1 atau 2 orang guru honorer, tapi lebih dari itu, ada ratusan ribu bahkan jutaan guru honorer husus nya guru honorer Madrasah swasta yang ada di negeri ini, yg perlu perhatian dari pemerintah, semoga tulisan kecil ini bisa sampai ke para pejabat, pemegang kekuasaan dan kebijakan agar nasib guru honorer Madrasah bisa lebih baik
DeleteKlo saya pribadi, Alhamdulillah ada side job yg lumayan selain dr guru