Ketika bosmu memuji kerjamu di depan tim, lalu diam-diam menjatuhkan mu di belakang, itu bukan kebetulan. Itu Sun Tzu dalam aksi.
The Art of War bukan tentang strategi, ini buku manual manipulasi yang disanjung dunia bisnis.
Kita memuja seorang ahli psikologi perang yang mengajarkan bahwa kehancuran moral musuh adalah kemenangan tertinggi, bukan hanya di medan perang, tapi di ruang meeting, dalam hubungan, bahkan dalam diri sendiri.
"Semua perang didasarkan pada penipuan." Ini bukan metafora, ini kebijakan. Sun Tzu secara gamblang mengajarkan bahwa kejujuran adalah kelemahan.
Di dunia korporat modern, prinsip ini diterjemahkan sebagai: presentasi yang penuh kebohongan, janji-janji manis yang sengaja dibangun untuk gagal, dan marketing yang menjanjikan surga tapi menyediakan neraka.
Kita menciptakan budaya di mana orang terlatih untuk tidak pernah percaya, tapi selalu tersenyum.
Sun Tzu berkata: "Kenalilah musuh dan kenalilah dirimu."
Tapi apa jadinya ketika semua orang menerapkan ini?
Kita hidup dalam paradoks keparanoidan kolektif.
Setiap rekan kerja adalah musuh potensial, setiap pertemanan adalah intelijen, setiap percakapan adalah operasi penyadapan.
Kita tidak lagi membangun hubungan, we're building informant networks.
The Art of War telah mengubah kantor menjadi medan perang psikologis di mana stres kronis adalah luka bakar perang modern.
"Menangkan perang tanpa berperang" terdengar bijak, tapi coba tanyakan pada mereka yang menjadi korban strategi diam-diam ini.
Sun Tzu mengajarkan menghancurkan lawan dari dalam, melalui isolasi sosial, penghinaan terstruktur, dan penghapusan identitas.
Di era media sosial, ini diterjemahkan sebagai cancel culture yang dirancang, bullying terorganisir, dan karakter assassination yang dipoles dengan bahasa diplomatik. Kita merayakan kehancuran reputasi sebagai "kemenangan elegan."
Buku ini membuat kita percaya bahwa moralitas adalah barang mewah yang tidak bisa kita beli di medan perang.
Sun Tzu dengan dingin menempatkan etika sebagai variabel yang bisa disakrifikasikan untuk kemenangan.
Hasilnya? Generasi pemimpin yang terlatih untuk mengorbankan prinsip demi profit, meremehkan impact psikologis dari keputusan mereka, dan beralasan "ini hanya bisnis" ketika hidup orang hancur berantakan.
Kita menciptakan monster yang berpikir mereka adalah jenderal, padahal mereka hanya psikopat dengan gelar.
The Art of War bukan masterpiece, itu jangkar yang menenggelamkan peradaban.
Kita terlalu sibuk mempelajari cara menghancurkan lawan, tapi lupa belajar cara membangun perdamaian.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya: apakah kita ingin memenangkan permainan, atau kita ingin mengubah permainannya?
Karena sementara kita sibuk menjadi master of war, kita lupa bahwa yang paling kita butuhkan adalah master of peace.
Close the book. Burn the manual. Start writing humanity's new strategy.
Sun Tzu mengajarkanmu menang tanpa perang. "kehancuran moral musuh adalah kemenangan tertinggi"
The art of war Sun Tzu


No comments:
Post a Comment