Satu kalimat pendek dari seorang penyair abad ke-5 Hijriah ini sanggup membuat ulama sekelas penulis Tafsir Jalalain gelisah.
Bukan karena marah, tapi karena takut… jangan-jangan dirinya termasuk dalam sindiran paling tajam sepanjang sejarah.
Dan yang bikin ngeri, ukuran itu mungkin juga sedang mengarah ke kita semua.
Melihat foto seorang Kiai bersama seekor anjing ini mengingatkan pada sebuah dawuh terkenal dari penyair besar Abul Ala' al-Ma'arri (w. 449 H):
الكلب من لم يعرف للكلب سبعين اسما
"Anjing adalah orang yang tidak mengetahui tujuh puluh nama anjing."
Ucapan ini berawal dari sebuah peristiwa.
Suatu ketika, al-Ma'arri berkunjung ke rumah asy-Syarif ar-Radli.
Di sana ada seseorang yang tidak menyukai al-Ma'arri berkata dengan nada sinis, "Siapa anjing ini?"
Secara spontan al-Ma'arri langsung menjawab, "Yang disebut anjing adalah orang yang tidak tahu tujuh puluh nama anjing."
***
Lebih dari empat abad kemudian, kisah ini sampai ke telinga Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H), ulama besar penulis Tafsir al-Jalalain.
Mendengar dawuh al-Ma'arri tersebut, Imam as-Suyuthi merasa tertantang. Beliau pun bersungguh-sungguh menelusuri kitab-kitab lughah dan mu'jam untuk mencari tujuh puluh nama anjing, agar tidak termasuk dalam kategori "anjing" menurut ucapan al-Ma'arri.
Namun, meskipun sudah berusaha keras, Imam as-Suyuthi hanya berhasil menemukan enam puluh empat nama, belum sampai tujuh puluh.
Enam puluh empat nama itu kemudian beliau susun dalam sebuah nadhaman yang beliau beri nama:
التبري عن معرة المعري
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, judul ini berarti:
"Melepaskan diri dari celaan al-Ma'arri."
Celaan yang dimaksud adalah anggapan bahwa orang yang tidak mengetahui tujuh puluh nama anjing termasuk "anjing".
Melalui nadham ini, seakan Imam as-Suyuthi ingin menegaskan bahwa beliau tidak termasuk dalam sindiran al-Ma'arri.
Namun apa daya, beliau hanya menemukan enam puluh empat nama, belum genap tujuh puluh.
Kalau Imam as-Suyuthi saja belum lolos, apalagi kita?
Maka saya haqqul yakin, jika ukuran al-Ma'arri digunakan, bisa jadi kita semua termasuk "anjing".
Yauda deh kalau ada yg ngatain anjing diem aja, ya gimana lagi 🐕 🐶 🐕
Guk.. guk... gukkk 🐕🐶🐕
Kalau Imam as-Suyuthi saja masih belum aman dari sindiran al-Ma’arri, apalagi kita yang jangankan tujuh puluh, tujuh nama anjing saja mungkin belum tentu hafal.
Maka wajar kalau akhirnya kita cuma bisa tersenyum, menunduk, dan menerima kenyataan dengan santai.
Ya sudah lah… kalau suatu hari ada yang manggil “anjing”, mungkin diam memang pilihan paling bijak.
Guk… guk… guk… 🐕🐶
Kadang, menertawakan diri sendiri adalah bentuk ilmu yang paling tinggi.
.


No comments:
Post a Comment