Perintah Kaisar Naga. Bab 6523-6526
*Perang Pecah*
Jauh di sana, awan gelap itu terus berkumpul semakin rapat, dan kilatan merah darah bergejolak di dalamnya.
Niat membunuh yang dahsyat mengembun di udara seolah menjadi ribuan bilah tajam yang siap menyayat nyawa.
Perkemahan besar Yang Mulia Tianji Surgawi didirikan di atas sebuah bukit yang menjulang, sekitar tiga ratus mil di utara Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.
Barisan tenda-tenda luas itu membentang bermil-mil jauhnya, dan panji-panji Cahaya Suci berwarna emas berkibar angkuh tertiup angin.
Dari puncak bukit itu, garis besar Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis dapat terlihat dengan jelas, terbungkus kabut tebal namun kini seolah diterangi oleh sorotan mata yang penuh kebencian dan keserakahan.
Di dalam tenda pusat yang luas dan megah, Yang Mulia Surgawi duduk diam di kursi kebesarannya, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama yang lambat dan berat.
Kain penutup pintu terangkat, dan Tetua Zao melangkah masuk sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. “Tuanku, Yang Mulia Es Misterius dan Yang Mulia Cahaya Suci telah tiba.”
Yang Mulia Surgawi seketika berdiri, memaksakan senyum ramah di wajahnya. “Biarkan mereka masuk.”
Kain penutup kembali terangkat, dan dua sosok gagah melangkah masuk satu demi satu.
Yang Mulia Es Misterius berjalan di depan.
Ia mengenakan jubah biru sewarna es abadi, rambutnya putih bersih, wajahnya kurus kering namun tajam, dan secercah niat jahat yang samar selalu terbayang di sudut matanya.
Begitu melangkah masuk, ia segera mengamati sekelilingnya, pandangannya menelusuri setiap barang yang ada seolah sedang menghitung berapa banyak batu roh nilainya.
Di belakangnya menyusul Yang Mulia Cahaya Suci, mengenakan jubah putih bersulam pola matahari emas di bagian bawahnya.
Wajahnya lembut dan senyumnya tampak ramah serta tulus, seolah ia datang bukan untuk berperang melawan musuh bebuyutan, melainkan untuk menghadiri pesta persahabatan.
Yang Mulia Tianji Surgawi mempersilakan keduanya duduk, lalu memerintahkan pelayan untuk menyajikan teh roh yang harum dan langka.
Yang Mulia Es Misterius mengambil cangkirnya, menyesap sedikit isinya, lalu mengernyitkan hidung dengan rasa tak suka sebelum meletakkannya kembali di meja dengan kasar. “Tuan Istana Surgawi, apakah engkau memanggil kami dengan tergesa-gesa hanya untuk sekadar minum teh hambar ini?”
Senyum di wajah Yang Mulia Tianji Surgawi sedikit membeku, namun ia segera menekan kekesalannya. “Tuan Paviliun Es Misterius, aku menerima kabar penting. Dave Chen telah kembali ke wilayah pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.”
Gerakan Yang Mulia Es Misterius terhenti sejenak, seberkas kekhawatiran yang nyaris tak terlihat melintas di wajahnya.
Senyum Yang Mulia Cahaya Suci pun sedikit memudar, dan cangkir teh di tangannya terhenti melayang di udara.
“Dave Chen? Apakah ia pemilik jiwa ilahi berwarna ungu itu?” tanya Yang Mulia Cahaya Suci dengan nada yang sedikit berubah.
“Benar sekali,”
Yang Mulia Surgawi menjawab dengan tegas. “Ia tidak hanya kembali, namun juga membawa seorang wanita bersamanya. Menurut laporan pengintai kami, tingkat kultivasinya kini telah pulih hingga mencapai tingkat Tujuh Alam Abadi Sejati, dan aura kekuatan kekacauan yang dimilikinya jauh lebih kuat dan menakutkan dibandingkan sebelumnya.”
Keheningan yang berat seketika menyelimuti ruangan itu.
Yang Mulia Es Misterius melirik ke arah Yang Mulia Cahaya Suci, yang juga sedang menatapnya dengan pandangan penuh arti.
Pandangan mereka bersatu sejenak di udara sebelum dengan cepat berpisah.
Yang Mulia Es Misterius-lah yang akhirnya membuka suara, nadanya rendah dan dingin, seolah menggema dari ruang bawah tanah yang paling gelap dan beku. “Jika engkau menginginkan pertempuran, maka pertempuran itu akan terjadi. Namun engkau harus menjelaskan bagaimana caranya.”
Yang Mulia Surgawi segera berdiri dan melangkah ke peta besar yang tergantung di dinding, jari telunjuknya menunjuk tepat ke wilayah Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.
“Wilayah ini dikelilingi oleh sembilan lapis pertahanan alami maupun buatan. Lapisan terluar adalah hutan yang selamanya diselimuti kabut tebal dan mematikan. Namun aku memiliki sebutir Mutiara Pemecah Penghalang yang mampu menghilangkan kabut itu seketika.”
“Setelah menembus hutan itu, kita akan sampai di gerbang utama wilayah tersebut, yang dijaga ketat oleh Kaisar Iblis Quintessa Qing, Sekte Gui Yuan, Sekte Pedang Qingyun, dan Sekte Wanfa. Musuh itu tak boleh dipandang sebelah mata.”
Ia berbalik menatap kedua tamunya dengan pandangan tajam. “Itulah sebabnya aku sangat membutuhkan bantuan kalian.”
Yang Mulia Es Misterius terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Tuan Istana Tianji Surgawi, kata-katamu itu kurang tepat. Di dalam peperangan harus ada pembagian tugas yang jelas: mana serangan utama dan mana serangan pengalih perhatian. Kita tak boleh menyerbu masuk serentak tanpa rencana.”
Ucapannya sedemikian dinginnya hingga suhu udara di dalam tenda itu seolah turun drastis.
Wajah Yang Mulia Surgawi menjadi gelap dan suram. “Tuan Paviliun Es Misterius, apakah maksud perkataanmu itu? Apakah engkau takut padanya?”
Yang Mulia Es Misterius ikut berdiri dan melangkah mendekati peta itu. “Ini bukan rasa takut, melainkan perhitungan yang matang. Perang tidak dimenangkan hanya dengan kekuatan fisik semata, namun dengan keuntungan dan kerugian yang seimbang.”
“Tuan Istana Surgawi, apakah engkau berharap agar pasukan Paviliun Es Misterius kami yang menjadi ujung tombak serangan ini?”
Yang Mulia Surgawi menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga menahan luapan amarah di dadanya. “Rencanaku adalah ketiga kekuatan kita bersatu padu menyerang serentak dari segala arah. Paviliun Jurang Dewa menyerang dari sisi kiri, Istana Suci Surgawi dari sisi kanan, dan pasukan Istana Surgawi akan melancarkan serangan langsung dari depan.”
Yang Mulia Cahaya Suci tersenyum, namun senyum itu kini terasa sangat dingin dan penuh sindiran. “Tuan Istana Surgawi, rencanamu itu terlalu licik dan berat sebelah. Engkau ingin kami yang bertempur mati-matian di sayap kiri dan kanan, sementara engkau dengan santai memetik hasil kemenangan dari depan sendirian. Segala harta rampasan akan jatuh ke tanganmu lebih dulu.”
Yang Mulia Surgawi mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Tuan Istana Cahaya Suci, engkau salah menilai ku ! Aku berjanji akan membagi harta rampasan itu seadil mungkin.”
“Lima puluh persen untukmu, tiga puluh persen untuk Paviliun Es Misterius, dan aku hanya akan menyisakan dua puluh persen untuk diriku sendiri. Aku sudah sangat mengalah untuk kalian!”
Yang Mulia Cahaya Suci tetap menggeleng tak setuju. “Membagi rampasan sebelum dan sesudah perang adalah dua hal yang sangat berbeda. Engkau ingin kami bertempur mati terlebih dahulu, dan baru membicarakan pembagian harta jika kita menang?”
“Jika kita kalah, kami tak akan mendapatkan apa-apa selain tubuh murid-murid kami yang tewas. Aku takkan menyetujui perjanjian yang merugikan semacam itu.”
Yang Mulia Es Misterius pun menyahut dengan dingin. “Aku juga tidak, Tuan Istana Surgawi. Biarkanlah pasukan Istana Surgawi sendiri yang memimpin serangan, dan kami akan bekerja sama mendukung dari belakang. Jika engkau berhasil menembus pertahanan, barulah kami akan maju. Jika engkau gagal menembusnya, kami akan mundur kembali. Itulah yang paling adil.”
Wajah Yang Mulia Surgawi menjadi pucat pasi.
Ia menatap wajah Yang Mulia Es Misterius, lalu beralih ke Yang Mulia Cahaya Suci, rasanya ingin sekali menampar kedua rubah tua yang licik itu hingga hancur seketika.
Namun ia tak mampu melakukannya.
Dari 4.500 pasukan, 3.000 berasal dari Istana Tianji Surgawi, tetapi tanpa mereka berdua, ia tak berani melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.
Jika kedua pihak terluka parah dalam pertempuran, keduanya takkan segan-segan membalas dan mengkhianatinya kapan saja.
Ia menarik napas panjang dan berat, menelan segala amarah dan penghinaan yang dirasakannya. “Baiklah… Biarlah pasukan Istana Surgawi yang memimpin serangan utama. Kalian berdua tinggal mengikuti dan mendukung.”
Yang Mulia Es Misterius dan Yang Mulia Cahaya Suci saling bertatapan sekilas, lalu mengangguk serempak dengan puas.
Keheningan kembali melanda ruangan itu.
Yang Mulia Surgawi kembali ke kursinya, mengambil cangkir tehnya, namun mendapati isinya sudah menjadi dingin dan pahit.
Ia menyesapnya sedikit dengan perasaan yang kacau, lalu meletakkannya kembali dengan kasar. “Besok pagi-pagi sekali… serangan dimulai.”
……
Di sebuah ruang samping di dalam Istana Kaisar Iblis, wilayah Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis, suasana terasa tegang namun tenang.
Dave, Quintessa Qing, Sayyef Gui, Blue Saber, dan Tetua Agung Sekte Wanfa duduk mengelilingi sebuah meja batu yang luas.
Di atas meja itu terbentang peta besar pertahanan wilayah Sepuluh Ribu Iblis.
Tanda merah menandakan pasukan musuh, sementara tanda biru menandakan garis pertahanan mereka sendiri.
Jari ramping Quintessa Qing menari-nari di atas permukaan peta. “Pasukan Yang Mulia Surgawi telah maju hingga jarak tiga ribu mil dari sini. Menurut laporan pengintai kita, ketiga kekuatan itu telah bersatu sepenuhnya dengan jumlah pasukan lebih dari empat ribu lima ratus orang.”
Wajah Sayyef Gui tampak sangat serius dan khawatir. “Empat ribu lima ratus orang… Sedangkan kita hanya memiliki sekitar dua ribu orang yang siap bertempur.”
“Jumlah mereka lebih dari dua kali lipat jumlah kita, namun kita berada di pihak yang bertahan,”
Quintessa Qing berkata tenang. “Wilayah ini dilindungi oleh sembilan lapis penghalang alami dan buatan, serta terdapat banyak pembudidaya iblis yang bersembunyi di kedalaman hutan berkabut itu. Tak akan mudah bagi mereka untuk menembus masuk sesuka hati.”
Dave tetap diam sejak tadi.
Ia perlahan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari tempat penyimpanannya dan meletakkannya di tengah meja.
Saat kotak itu dibuka, sepotong batu hitam polos terlihat terbaring diam di atas selembar kain sutra biru.
Ukurannya kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa, warnanya hitam pekat dan legam, sedemikian hitamnya hingga seolah tak memantulkan sedikit pun cahaya yang jatuh di atasnya.
Seolah segala cahaya yang menyentuh permukaannya langsung ditelan begitu saja ke dalam kedalamannya yang tak berdasar.
Permukaannya halus dan rata, tanpa ukiran, pola, atau tulisan apa pun.
Ia juga tak memancarkan sedikit pun fluktuasi energi spiritual.
Sekilas pandang, benda itu persis sama dengan batu kerikil biasa yang diambil dari dasar sungai.
“Benda ini kudapatkan dari ruang harta karun Aliansi Dewa di Surga ke-16, namun beratnya sungguh tidak masuk akal. Aku sendiri pun belum mengetahui asal-usul dan kegunaannya. Silakan kalian periksa.” kata Dave pelan.
Sayyef Gui maju lebih dulu.
Saat benda itu berpindah ke telapak tangannya, lengan tuanya itu seketika tertekan ke bawah seolah memikul gunung yang berat.
" Daannccookk... Berat sekali "
Benda sebesar kepalan tangan itu bobotnya sebanding dengan sebuah bukit batu yang besar.
Ia memeriksanya dengan teliti, membolak-baliknya, lalu mencoba menyelidiki isinya dengan energi spiritualnya.
Namun energi itu lenyap begitu saja seolah kerbau lumpur yang berenang di lautan luas, tanpa menimbulkan sedikit pun riak atau reaksi balik.
Ia mencoba menggunakan kekuatan batin dan indra ilahinya, namun kekuatan itu terpantul kembali begitu menyentuh permukaan batu, menyebabkan rasa nyeri yang tajam di lautan kesadarannya.
“Aku belum pernah melihat atau mendengar benda yang aneh dan ajaib seperti ini sebelumnya,”
Sayyef Gui berkata sambil mengusap keningnya yang berkeringat dingin, lalu menyerahkan batu itu kepada Quintessa Qing. “Perpustakaan Sekte kami menyimpan tiga ribu jilid buku kuno yang mencatat segala benda langka di Surga ke-17, namun tak ada satu pun yang menyerupai batu ini. Teksturnya bukanlah batu, bukan giok, bukan pula logam atau kayu. Rasanya seolah memegang potongan ruang yang dipadatkan hingga ke batas mutlak.”
Quintessa Qing menerimanya dengan kedua tangan yang halus dan putih, kontras sekali dengan warna batu yang gelap dan legam.
Ia memejamkan matanya, menyelidiki benda itu dengan segenap kekuatan jiwanya yang luar biasa.
Kesadarannya menyelam semakin dalam, bagaikan menyusuri dasar samudra yang gelap dan berat. Ia menyadari bahwa di dalam batu hitam itu tidaklah padat, melainkan tersusun dari lapisan-lapisan lipatan ruang yang tak terhitung jumlahnya, dan setiap lapisan itu mengandung aura zaman kuno yang kering dan sunyi.
Aura itu jauh lebih tua daripada reruntuhan kuno mana pun yang pernah dilihatnya di Surga ke-17, sedemikian tua-nya hingga membuat dirinya yang telah hidup puluhan ribu tahun pun merasa gemetar kagum.
Ia terus menelusuri ke kedalaman yang tak terbayangkan, hingga akhirnya di lapisan lipatan ketujuh ruang angkasa itu, ia menangkap secercah informasi yang nyaris musnah tergerus waktu.
Informasi itu begitu kuno hingga hukum alam yang mengaturnya sudah hampir lenyap sepenuhnya.
Ia nyaris tak sanggup memahaminya; itu bukan tulisan, melainkan sisa-sisa kehendak yang lebih mendasar daripada bahasa.
…Kekacauan… Istana Dao… "
" Surga ke-18… Langit runtuh… "
" Kekosongan.... naik… "
" Wasiat berakhir di sini…"
Isi pesan itu lenyap seketika ditelan arus waktu yang tak berujung.
Kesadaran Quintessa Qing didorong keluar oleh kekuatan halus namun tak tertahankan.
Ia membuka matanya perlahan, dan seberkas ekspresi yang sangat rumit dan tak terlukiskan melintas di bola matanya yang kuning keemasan.
“Yang Mulia?”
Sayyef Gui bertanya dengan cemas, menyadari perubahan ekspresi itu.
Quintessa Qing memasukkan kembali batu itu ke dalam kotak kayu dan menutupnya rapat-rapat.
Ia terdiam cukup lama, dan suasana ruangan itu menjadi senyap sehingga suara angin yang menyapu dedaunan di luar jendela terdengar jelas.
Dave hanya menatapnya diam, menunggu penjelasan.
Ia sudah menduga benda ini bukanlah berasal dari tempat asalnya.
Akhirnya Quintessa Qing bersuara, nadanya beberapa oktaf lebih rendah dari biasanya dan terdengar berat. “Benda ini… jatuh dari dunia di atas kita.”
Sayyef Gui terkejut bukan kepalang. “Dunia di atas? Maksud Yang Mulia adalah… Alam Surgawi tingkat ke-18?”
Quintessa Qing hanya mengangguk perlahan.
Saat nama itu disebutkan, hawa di seluruh ruangan itu seolah berubah menjadi dingin dan penuh rasa hormat yang sakral.
Alam Surgawi tingkat ke-18… Itu adalah tempat yang penuh legenda dan mitos.
Sebuah dunia yang bahkan bagi Quintessa Qing, sang penguasa puncak kekuatan Dewa Emas tingkat Ketiga, hanyalah sesuatu yang mampu dipandang dengan rasa takjub dan kekaguman yang tak terlukiskan.
Konon, hukum alam semesta dan keseimbangan langit bumi di Surga ke-18 berjalan di atas aturan yang sama sekali berbeda dari tempat lain.
Energi spiritual yang mengalir di sana bukanlah energi biasa, melainkan esensi kuno yang lahir bersamaan dengan kelahiran kekacauan pertama kali.
Dan setiap makhluk yang terlahir di sana, sejak napas pertamanya, telah mengandung hakikat keabadian yang sejati.
“Aku mampu menangkap sisa-sisa kehendak kuno yang tersimpan di dalam batu hitam ini,”
Quintessa Qing berujar perlahan, setiap katanya dipilih dengan cermat seolah sedang meniti benang emas. “Salah satu pesan yang tertinggal menyebutkan nama Istana Dao Kekacauan, dan menceritakan kisah tentang menembus kehampaan yang tak berdasar, hingga mampu menapakkan kaki di puncak tertinggi Alam Semesta.
“Menurut dugaanku yang paling mendalam, batu hitam ini kemungkinan besar merupakan peninggalan suci dari makhluk dahsyat zaman kuno, atau bisa jadi merupakan kunci sakti yang membuka jalan menuju tempat yang tersembunyi.”
“Namun satu hal yang tak terbantahkan adalah bahwa benda ini berasal dari dunia legendaris itu, Surga ke-18.”
Sayyef Gui tersentak hebat, seolah guntur meledak di telinganya. “Hah... Benda… benda yang berasal dari Surga ke-18? Bagaimana mungkin benda setingkat ini tersimpan di dalam perbendaharaan Aliansi Dewa di Surga ke-16?”
“Aliansi Dewa telah memegang kendali Surga ke-16 selama puluhan ribu tahun yang panjang,”
Quintessa Qing menjawab dengan tenang.
“Selama rentang waktu itu, berapa banyak kekuatan dan sekte yang telah mereka musnahkan hingga ke akar-akarnya? Berapa banyak harta karun dunia yang telah mereka jarah dan rampas tanpa ampun?"
"Tidaklah mengherankan jika di antara tumpukan harta itu, terdapat benda-benda langka yang sesungguhnya berasal dari alam yang jauh lebih tinggi dan agung.”
Sambil berbicara, Quintessa Qing mendorong kembali kotak kayu itu ke arah Dave di atas meja batu.
“Dave, barangkali kau belum sepenuhnya menyadari hal ini, namun di Surga ke-18 terdapat satu garis keturunan sakral yang bernama Istana Dao Kekacauan."
“Kekuatan ini penuh misteri dan jarang sekali menampakkan diri di dunia, namun setiap kali bayangan mereka melintas di cakrawala, selalu disertai dengan pergolakan dahsyat yang mengguncang dasar langit dan bumi.”
“Jika benar batu hitam ini memiliki kaitan darah dengan Istana Dao Kekacauan tersebut, maka rahasia yang tersimpan di dalamnya kemungkinan besar jauh melampaui batas imajinasi kita yang terdalam.”
Dave menyambut batu hitam itu dan menggenggamnya di telapak tangannya yang hangat. “Hmm... Istana Dao Kekacauan…”
“Surga ke-18, dan kekuatan kekacauan yang sejak awal hingga kini senantiasa menuntun setiap langkah hidup ku menuju ketinggian.”
Petunjuk-petunjuk yang samar ini kini terasa bagaikan sisa-sisa jaring laba-laba usang yang kini tertangkap di genggamannya.
Kekuatan kekacauan adalah hakikat paling kuno dan awal mula di antara segala kekuatan yang ada di alam semesta.
Dan nama Istana Dao Kekacauan pun menyandang kata yang sama: Kekacauan.
Ia tak sudi percaya bahwa ini hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Terlebih lagi, dilihat dari namanya, Istana Dao Kekacauan tampak sebagai sebuah aliran kepercayaan yang mendalami Dao Kekacauan.
Sedangkan Kitab Suci Emas Luo Agung yang kini bersemayam di kedalaman lautan kesadarannya adalah intisari ajaran jalan Dao Agung.
Kini, saat Dao Kekacauan dan Dao Agung kembali bersentuhan dan bertautan, apakah semua ini adalah benang merah yang telah ditentukan takdir khusus untuknya?
Batu hitam itu perlahan terasa sedikit hangat di genggamannya.
Secara otomatis, kekuatan kekacauan yang mengalir di sekujur tubuhnya mulai berputar dan bangkit, menciptakan sebuah resonansi halus yang ajaib dengan benda hitam tersebut.
Resonansi itu sungguh amat lemah, nyaris tak tertangkap oleh indra, namun keberadaannya tak dapat disangkal.
Cahaya ungu yang mistis menyembur keluar dari telapak tangannya, menyelimuti dan menyelubungi batu hitam itu sepenuhnya.
Di permukaan batu yang tampak polos dan licin itu, sebaris demi sebaris garis halus setipis rambut manusia mulai tampak samar-samar.
Pola-pola itu melintas secepat kilat, seolah hanya ilusi pandangan semata.
Namun mata Dave menangkapnya dengan jelas, dan sepasang mata Quintessa Qing pun turut melihatnya.
Kilatan cerdik dan penuh pemahaman melintas di bola mata rubahnya yang indah.
“Dugaanku benar,..”
Dia berucap perlahan. “Batu hitam ini hanya mampu diaktifkan oleh mereka yang memiliki kekuatan kekacauan murni. Itu bukanlah lencana atau benda pusaka biasa, melainkan sebuah penunjuk arah yang ditinggalkan oleh Istana Dao Kekacauan secara khusus bagi para pewaris kekuatan kekacauan sejati.”
“What... Penunjuk arah?”
“Menuju ke mana?” tanya Dave.
“Itu akan menuntun langkahmu menuju Surga ke-18.”
Quintessa Qing menatap lurus ke manik mata ungu itu dengan pandangan yang dalam. “Seperti yang tertulis di sana, Istana Dao Kekacauan berdiri kokoh di alam tertinggi itu. Dan kekuatan kekacauan yang mengalir di dalam pembuluh darahmu, besar kemungkinan bersumber langsung dari garis keturunan itu.”
“Batu hitam ini adalah kuncinya, namun pintu mana yang akan terbuka karenanya dan dengan cara bagaimana membukanya… aku pun belum mengetahuinya. Jawaban-jawaban itu barangkali hanya akan terungkap pada hari di mana engkau benar-benar menapakkan kaki di gerbang Surga ke-18.”
Sayyef Gui membuka mulutnya lebar-lebar seolah ingin menyuarakan kekagumannya, namun kata-kata itu tertelan kembali ke kerongkongannya.
Surga ke-18 adalah tempat yang mungkin tak mampu dijamah oleh siapapun, bahkan oleh mereka yang telah mencapai puncak kekuatan Dewa Emas tingkat Ketiga sekalipun.
Betapapun luar biasanya bakat Tuan Muda-nya, namun jarak antara Surga ke-17 menuju Surga ke-18 setidaknya sama berat dan sulitnya dengan perjalanan seorang manusia biasa yang hendak menggapai keabadian.
Namun, benak lelaki tua itu kembali berpikir dan menyadari satu hal yang nyata.
" Tuan Muda ini telah menempuh perjalanan panjang dari jiwa yang lemah dan rapuh hingga berdiri gagah di ketinggian ini sekarang. Setiap langkah yang diambilnya penuh dengan duri, rintangan, dan bahaya maut."
Bagi sosok sehebat dia, perjalanan dari Surga ke-16 ke Surga ke-17, dan kemudian menapak ke Surga ke-18, hanyalah satu lagi anak tangga yang pasti akan ia lalui.
" Oke lah kalau begitu..." Dave menyimpan kembali batu hitam itu ke dalam cincin penyimpanannya.
Di dalam matanya yang berwarna ungu, terbayang gejolak batin yang tipis namun nyata. “Kita akan membicarakan urusan Surga ke-18 di kemudian hari. Saat ini, mari kita selesaikan persoalan yang ada di depan mata: menghadapi kedatangan Yang Mulia Surgawi.”
Nadanya tenang dan rendah, namun setiap orang yang mendengarnya mampu menangkap kepastian yang mutlak di balik ketenangan itu.
Ini bukanlah kesombongan yang meledak-ledak, bukan pula keangkuhan yang hampa, melainkan ketenangan yang ditempa dan ditemukan di tengah ribuan pertempuran darah yang telah ia lalui.
Ia tidak berkata menghadapi atau menahan, melainkan menyelesaikan.
Dalam pandangan matanya yang tajam, sosok Yang Mulia Surgawi itu sejatinya sudah merupakan orang mati yang berjalan.
Quintessa Qing meliriknya sekilas, seulas senyum tipis nakal namun penuh makna tersungging di bibir merahnya.
Anak muda ini… semakin lama semakin menarik dan mempesona.
Dave bangkit berdiri dan melangkah mendekati peta besar yang terbentang.
Pandangannya menyapu setiap garis dan tanda yang padat di atas permukaan kertas itu, sementara benaknya sibuk melakukan perhitungan yang amat teliti.
“Dua ribu pasukan kita, melawan empat hingga lima ribu pasukan musuh. Jumlah mereka lebih dari dua kali lipat jumlah kita. Namun kita berada di pihak yang bertahan, dan kita memegang keuntungan medan tempur yang luar biasa. Wilayah pegunungan Sepuluh Ribu Iblis ini dilindungi oleh sembilan lapis benteng alami, dan di balik kabut tebal bersembunyi ribuan prajurit iblis yang ulung.”
“Pertahanan ini memang mampu menahan mereka, namun kuncinya adalah bagaimana cara kita menahan mereka.”
Ia menunjuk tepat ke wilayah hutan berkabut di peta itu. “Yang Mulia, berapa lama hutan berkabut ini sanggup menahan laju serangan mereka?”
Quintessa Qing termenung sejenak, lalu menjawab dengan pasti. “Paling lama dua hari. Mutiara Pemecah Penghalang milik Yang Mulia Surgawi adalah benda pusaka kuno yang diciptakan khusus untuk menembus dan melenyapkan penghalang berwujud kabut atau ilusi. Ditambah dengan jumlah pasukan mereka yang banyak dan serangan yang tak henti-hentinya, pertahanan kabut itu pasti akan jebol dalam kurun waktu dua hari.”
“Oh... Dua hari…”
Dave mengulangi kata itu pelan, lalu mengangguk mantap. “Itu cukup. Tujuan kita sebenarnya bukan sekadar menghalau mereka sejauh mungkin. Sebagus apa pun sembilan lapis pertahanan itu, pada akhirnya pasti akan terkikis habis oleh serangan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat dan bertubi-tubi.”
“Yang harus kita lakukan adalah melemahkan dan mengurangi kekuatan mereka sebanyak-banyaknya sebelum benteng terakhir ini jebol. Kemudian, kita akan memusnahkan kekuatan utama Istana Surgawi dalam satu kali hantaman telak di medan pertempuran yang telah kita pilih sendiri.”
Blue Saber mengusap janggut putihnya yang panjang, seberkas cahaya persetujuan memancar dari manik matanya. “Pemikiran Tuan Chen sepenuhnya searah dengan isi hatiku. Bertahan bukanlah tujuan akhirnya, melainkan cara untuk melemahkan musuh; dan melemahkan musuh adalah persiapan untuk serangan balik yang mematikan.”
“Namun satu pertanyaan krusial: di manakah kita harus menentukan medan pertempuran yang menentukan itu?”
Jari telunjuk Dave menelusuri permukaan peta, berhenti tepat di ruang luas yang terbentang di depan gerbang utama Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis. “Di sini. Tepat di depan gerbang utama gunung ini.”
Tetua Agung Sekte Wanfa segera mengernyitkan keningnya yang berkerut. “Gerbang utama adalah garis pertahanan yang paling akhir dan paling penting. Jika kita bertempur mati-matian di sana dan hingga akhirnya kalah, konsekuensinya akan terlalu dahsyat untuk dibayangkan.”
“Kita tidak akan kalah.”
Suara Dave tidaklah keras atau menggema, namun setiap katanya menghujam ke dada orang-orang yang mendengarnya bagaikan paku besi yang dipalu hingga tertanam kuat. “Karena di tempat itulah yang Mulia Surgawi akan menemui ajalnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu mulai mengatur strategi perang dengan perintah yang tegas dan lugas. “Lapisan pertahanan pertama hingga ketiga hanya bertugas menahan, tidak menyerang secara langsung. Manfaatkanlah kabut dan rimbunnya hutan untuk melemahkan barisan depan mereka dengan pengorbanan yang seminimal mungkin.”
“Para prajurit iblis sangat mahir bertempur di dalam hutan. Perintahkan mereka untuk melakukan penyergapan terhadap pasukan kecil yang terpisah, menyerang secepat kilat lalu menghilang kembali, tanpa terjebak dalam pertempuran jarak dekat yang berkepanjangan.”
“Mulai dari lapisan keempat hingga keenam, kita akan bertahan sambil mundur perlahan. Di setiap lapisan yang kita tinggalkan, tuntutlah agar musuh membayarnya dengan harga darah yang mahal. Usirlah binatang buas raksasa penghuni gunung ini ke garis depan, biarkan mereka mengacaukan susunan dan barisan pasukan Istana Surgawi.”
“Lapisan pertahanan ketujuh hingga kesembilan harus dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga. Inilah tiga benteng terakhir sebelum gerbang utama, dan setiap lapisannya harus dijaga sekuat benteng besi.”
“Sayyef Gui, pimpinlah murid-murid Sekte Gui Yuan untuk menjaga lapisan ketujuh. Yang Mulia Blue Saber, sebagai pemimpin Sekte Pedang Qingyun, engkau bertanggung jawab atas lapisan kedelapan, dan Sekte Wanfa memegang pertahanan lapisan kesembilan."
“Ketiga kekuatan ini saling berkaitan erat, sehingga jika salah satu berada dalam bahaya, dua kekuatan lainnya harus segera memberikan bantuan secepat kilat.”
“Dan engkau, Yang Mulia kaisar Quintessa Qing,”
Dave menoleh dan menatap wanita itu, “Kamu akan ditempatkan tepat di gerbang utama, mengendalikan dan mengawasi seluruh situasi medan perang. Para pasukan iblis akan menyerang dari kedua sayap dan belakang, memutuskan jalan mundur serta jalur perbekalan musuh. Begitu pasukan Istana Surgawi terjebak dan berkumpul di depan gerbang ini, mereka tak ubahnya kura-kura yang masuk ke dalam guci; lepas dari sana tak akan ada harapan bagi mereka.”
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Quintessa Qing dengan pandangan penuh perhatian.
“Aku?”
Sudut bibir Dave melengkung membentuk senyum yang amat tipis namun mengandung kepercayaan diri yang luar biasa. “Aku akan menunggu kedatangan yang Mulia Surgawi tepat di depan gerbang gunung ini. Jika ia ingin melangkahkan kakinya masuk ke wilayah pegunungan Sepuluh ribu Iblis, ia harus melewati mayatku terlebih dahulu.”
........
Malam ini, kegelapan menyelimuti alam semesta bagaikan tinta hitam yang tak tercampur air.
Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis berdiri diam dalam pekatnya malam, bagaikan seekor binatang kuno raksasa yang sedang mengintai mangsanya dengan napas yang tertahan.
Matahari keemasan telah terbenam sepenuhnya di balik punggung bukit barat.
Kini, dua benda langit lainnya terbit bergantian; satu berwarna putih keperakan yang dingin, dan satu lagi merah tua yang menakutkan, memancarkan cahayanya yang suram ke atas hamparan hutan yang berkabut.
Kabut itu sendiri berpendar dengan nuansa merah perak yang samar di bawah sinar bulan yang aneh itu, tampak bagaikan lautan darah yang tak bertepi dan tak berdasar.
Dari kedalaman hutan yang paling gelap, terdengar auman rendah dan panjang seekor raksasa buas, suara yang berat dan menggema, menyusup masuk ke setiap celah lembah dan membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya meremang.
Tanah lapang yang luas di depan gerbang gunung telah dibersihkan sepenuhnya.
Ribuan meter persegi dataran itu kini tertutup rapat oleh pola-pola dan tulisan kuno yang rumit dan mendalam.
Pola-pola ini semuanya diukir sendiri oleh Quintessa Qing, dan setiap goresan di dalamnya mengandung kekuatan darah murni dari ras bangsa iblis.
Di dinding tebing yang menjulang di kedua sisi dataran itu, para pembudidaya pedang elit dari Sekte Pedang Qingyun telah menyusun sebuah formasi sakti: Sepuluh Ribu Pedang Kembali ke Asal. Ribuan bilah pedang tajam melayang diam di udara, ujungnya serentak menunjuk ke arah luar seakan siap menerjang.
Cahaya dingin yang memancar dari bilah-bilah itu berkedip-kedip, menampakkan pemandangan bagaikan galaksi bintang yang berkelap-kelip namun mematikan.
Para ahli fromasi dan perhitungan dari Sekte Wanfa telah menanamkan delapan belas lapis pertahanan tersembunyi yang saling tindih di sekeliling dataran itu, saling berkaitan dan saling mengunci, mengubah tanah lapang yang luas itu menjadi sebuah benteng pertahanan yang mustahil untuk ditembus atau diruntuhkan.
Dave berdiri tegak di tengah, tepat di depan gerbang gunung yang kokoh.
Jubah birunya berkibar lembut ditiup angin malam yang menusuk tulang.
Di pinggangnya tergantung Pedang Pembunuh Naga yang legendaris.
Cahaya ungu yang samar memancar dari sarungnya, berpadu dan menyatu dengan sinar bulan yang aneh di angkasa.
Ia memejamkan kedua matanya, sementara kekuatan kekacauan yang dahsyat perlahan mengalir dan berputar di sekujur tubuhnya dengan irama yang teratur dan kuat.
Kultivasinya di tingkat ketujuh Abadi Agung kini telah stabil dan kokoh sepenuhnya.
Setiap inci kulit, setiap urat nadi, dan bahkan setiap butiran tulang di tubuhnya mengandung tenaga penghancur gunung yang terpendam.
Rune pelindung abadi dari Kitab Suci Emas Luo Agung tampak samar-samar berdenyut di bawah permukaan kulitnya, dan pola naga emas yang pucat itu siap dipicu kapan saja juga ia kehendaki.
Di belakangnya, berdiri Agnes yang anggun namun gagah.
Ia masih mengenakan pakaian putih bersih bagaikan salju murni, namun kini telah terbalut pula baju zirah roh yang luar biasa yang dibawa Dave dari perbendaharaan Aliansi Dewa.
Di tangannya ia menggenggam sebilah pedang panjang berwarna putih perak, yang bilahnya diukiri penuh tulisan kuno yang berdenyut energi.
Wajahnya tampak tenang dan damai bagaikan permukaan danau, namun jemari yang mencengkeram gagang pedang itu sedikit memutih menandakan ketegangan yang ia tahan.
“Apakah engkau merasa takut?” tanya Dave tanpa membuka matanya sedikit pun.
“Aku tidak takut,”
Agnes menjawab lembut namun tegas. “Karena aku tahu, engkau ada di sini, di sampingku.”
.........
Fajar mulai menyingsing, tepat sebelum sinar keemasan matahari pertama menyentuh bumi, hanya bulan perak dan bulan merah yang bersinar suram di angkasa, menyiramkan cahaya merah keperakan mereka ke atas hutan yang berkabut.
Kabut itu mengalir pelan mengikuti tiupan angin, bagaikan gelombang di lautan darah yang tak akan pernah kering.
Tiba-tiba, dari ufuk yang jauh, terdengar suara tiupan terompet yang dalam dan berat, nadanya panjang dan tumpul, membawa hawa pembunuhan yang mengerikan dan menggema di seluruh penjuru lembah.
Sebelum gema tiupan yang pertama mereda, tiupan kedua menyusul, dan kemudian tiupan yang ketiga.
Tiga kali tiupan panjang itu adalah tanda bahwa ketiga kekuatan musuh telah bergerak maju serentak melancarkan serangan besar-besaran.
Di ujung lain dari hutan berkabut itu, cahaya suci berwarna keemasan yang menyilaukan menembus kegelapan fajar.
Kereta perang keemasan milik Yang Mulia Surgawi meluncur keluar dari perkemahan induknya.
Delapan ekor kuda surgawi yang terbalut baju zirah rapat berlari dengan langkah gagah, sekujur tubuh mereka diselubungi cahaya suci yang suhunya membakar.
Kereta itu seluruhnya ditempa dari emas meteorit yang jatuh dari luar angkasa, dan pada bodinya diukir pola-pola perang kuno milik para dewa zaman kuno.
Yang Mulia Surgawi sendiri berdiri tegak di atas keretanya.
Jubah keemasannya berkibar angkuh ditiup angin.
Di tangannya ia menggenggam sebatang tombak raksasa sepanjang tiga belas meter.
Ujung tajamnya berkilauan, dilalap api suci yang menyala-nyala dan tak kunjung padam.
Di belakangnya, tiga ribu kultivator dewa pilihan dari Istana Surgawi berdiri dalam susunan persegi yang rapat dan kokoh.
Cahaya suci yang mereka pancarkan menyatu menjadi samudra emas yang meluas, mengubah seluruh cakrawala di utara menjadi warna keemasan yang menyilaukan mata.
Baju zirah emas mereka memantulkan cahaya fajar yang samar, tampak bagaikan gelombang pasang raksasa yang terbuat dari emas cair, yang sedang melaju menerjang dengan ganas menuju Pegunungan Sepuluh Ribu Iblis.
Di sebelah kiri, kereta perang Yang Mulia Es Misterius perlahan bergerak keluar dari perkemahan lainnya.
Kereta ini seluruhnya diukir dari es kuno yang abadi.
Ke mana pun roda itu melintas, udara di sekitarnya akan menurun drastis hingga menjadi beku, dan tanah yang dilaluinya tertutup lapisan es tipis yang licin dan dingin.
Di belakangnya, lima ratus murid elit dari Paviliun Jurang Dewa mengikutinya dengan langkah serempak.
Masing-masing mengenakan jubah biru sewarna es, dan senjata yang mereka bawa memancarkan hawa dingin yang mampu membekukan nyawa.
Di sebelah kanan, altar terapung milik Yang Mulia Cahaya Suci perlahan muncul dari kemah ketiga.
Altar itu berbentuk segi enam sempurna, ditenagai oleh sembilan puluh sembilan buah batu bercahaya, melayang di udara dan memancarkan cahaya putih yang lembut namun tak tergoyahkan.
Di belakangnya berdiri delapan ratus murid dari Istana Surgawi, berbaris dengan sangat rapi dan teratur.
Wajah mereka pucat pasi, seolah seluruh darah kehidupan mereka telah terserap oleh kekuatan suci yang mereka miliki.
Ketiga pasukan raksasa itu akhirnya bertemu di dataran luas di utara hutan berkabut.
Panji-panji mereka yang tak terhitung jumlahnya berkibar menutupi sinar bulan, dan senjata-senjata yang mereka acungkan tampak bagaikan hutan besi yang tajam.
Tekanan jiwa yang dihasilkan oleh empat setengah ribu makhluk yang telah mencapai alam keabadian sejati bersatu padu membentuk gelombang kejut yang nyata dan tampak dengan mata telanjang.
Gelombang itu menyebar ke segala arah, menerbangkan kerikil dan debu di seluruh dataran luas itu.
Berbondong-bondong burung liar terbang ketakutan meninggalkan sarangnya di hutan.
Namun sebelum sempat mereka mengembangkan sayapnya, mereka telah hancur lebur oleh tekanan niat membunuh yang sedemikian beratnya, berubah menjadi kabut darah yang halus dan melayang di udara.
Yang Mulia Surgawi berdiri gagah di atas keretanya, menatap tajam ke arah hutan berkabut di depannya.
Pandangannya yang tajam mampu menembus lapisan kabut yang tebal, hingga melihat gerbang gunung yang megah yang berdiri kokoh jauh di dalam sana.
Di atas gerbang itu terukir empat aksara raksasa: Puncak Sepuluh Ribu Iblis.
Setiap hurufnya tingginya mencapai sepuluh meter, goresannya tajam dan laksana pisau yang terhunus, memancarkan keangkuhan dan kewibawaan yang tak tertandingi.
Ia mendengus dingin, mengangkat tombak emas besar di tangannya, dan menudingkan ujung tajamnya tepat ke arah gerbang itu.
“Mutiara Pemecah Penghalang!”
Di belakangnya, seorang panglima berbaju zirah emas maju dengan tergesa-gesa, mempersembahkan sebutir permata sebesar kepalan tangan dengan kedua tangannya yang hormat dan gemetar.
Permata itu berwarna putih susu murni, dan permukaannya tertutup rapat oleh pola-pola pemecah formasi yang padat, memancarkan cahaya lembut yang berdenyut-denyut.
Inilah senjata sakti peninggalan para dewa kuno, yang diciptakan khusus untuk menghancurkan segala jenis pertahanan yang mengandalkan kabut, ilusi, atau gangguan kesadaran ilahi.
Yang Mulia Surgawi melempar mutiara itu ke angkasa tinggi, dan dengan satu sentapan ujung tombak emasnya, seberkas cahaya suci yang dahsyat menghantam mutiara itu tepat sasaran.
Seketika itu juga, Mutiara Pemecah Penghalang memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, seolah matahari kedua meledak di angkasa, menerangi wilayah puluhan mil persegi hingga seterang siang bolong.
Ke mana pun cahaya itu menyentuh, kabut tebal itu mencair dan lenyap secepat es yang jatuh ke dalam kobaran api yang panas, hilang tanpa menyisakan jejak sedikit pun.
Hanya dalam waktu sepuluh kali tarikan napas, kabut yang menyelimuti hutan itu terdorong mundur hingga ratusan meter jauhnya, menampakkan wajah asli hutan belantara itu: pepohonan raksasa kuno yang menjulang menembus awan, tanaman merambat yang lebat dan meliuk-liuk, bebatuan yang tajam dan terjal, serta jurang-jurang maut yang tak berdasar tersembunyi di mana-mana.
“Serang!”
Suara perintah Yang Mulia Surgawi menggema seolah guntur menggelegar, melintasi seluruh dataran luas itu dengan nada yang berat dan menindas.
Tiga ribu pembudidaya Istana Surgawi berteriak serentak, dan cahaya suci keemasan mereka menyatu menjadi gelombang raksasa yang menerjang masuk ke dalam hutan yang kini terbuka itu.
Susunan formasi mereka berbentuk seperti mata tombak yang tajam.
Di barisan paling depan, ratusan pembudidaya berbaju zirah berat memikul perisai besar yang dilapisi pola pertahanan, membentuk sebuah dinding emas yang bergerak maju tak terhalang.
Di bagian tengah, mereka menyusun formasi tombak yang rapat dan panjang; ribuan ujung tombak berkilauan, dengan api suci menari-nari di atasnya, tampak bagaikan hutan besi yang kokoh.
Di kedua sayap kiri dan kanan, para pembudidaya berbaju zirah ringan bergerak lincah bagaikan angin, bersenjatakan pedang pendek yang cepat dan mematikan.
Formasi berbentuk mata tombak itu melaju dengan kekuatan yang luar biasa, mematahkan batang-batang pohon besar, menggilas semak belukar, dan merekah belahan bumi di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Yang Mulia Es Misterius dan Yang Mulia Cahaya Suci masing-masing memimpin pasukan mereka perlahan-lahan menyusul dari kedua sisi pasukan Istana Surgawi.
Langkah mereka berat dan lambat, formasi barisan mereka pun tampak renggang dan santai, jelas-jelas menunjukkan sikap waspada dan niat untuk mundur seketika jika bahaya datang.
Yang Mulia Surgawi sempat menoleh ke belakang dan melirik mereka, secercah kekecewaan dan kesedihan melintas sekilas di dalam matanya yang dalam. “Daannccookk... Kedua rubah tua bangke yang licik ini… memang tidak akan mau mengerahkan tenaga sepenuhnya dengan mudahnya.”
Namun ia tak berkata sepatah kata pun.
Ia hanya menggenggam gagang tombak emasnya lebih erat lagi.
Belum terlambat baginya untuk berurusan dengan kedua rubah tua itu nanti, setelah ia berhasil menaklukkan wilayah Sepuluh Ribu Iblis, menguasai harta karun langka di sana, dan mengalami lonjakan kekuatan kultivasi yang dahsyat.
Kelompok barisan depan Istana Surgawi yang pertama kali menerobos masuk ke dalam hutan segera menyadari betapa mengerikannya kekuatan alam Sepuluh Ribu Iblis ini.
Meskipun lapisan kabut luar telah didorong mundur sejauh ratusan kaki Oleh mutiara Pemecah Penghalang, kabut iblis yang di sebarkan kaisar Iblis Ratu Quintessa Qing jauh di dalam sana masih tetap ada dan sangat pekat, tak tergoyahkan oleh sedikit pun cahaya suci.
Ini bukanlah kabut air biasa, melainkan racun berwujud uap yang terbentuk dari intisari energi iblis, yang mampu menggerogoti kesadaran ilahi dan mengganggu kelancaran aliran energi spiritual dalam tubuh.
Begitu perisai emas barisan depan melangkah masuk ke dalam wilayah kabut ini, mereka seketika merasakan pening yang hebat.
Pemandangan di depan mata mereka terdistorsi dan berubah bentuk; pepohonan tampak seolah berjalan, dan tanah berpijak terasa seolah berputar dan miring.
Disiplin tinggi hasil latihan bertahun-tahun membuat mereka tetap teguh dan tidak panik, namun laju pergerakan pasukan itu melambat secara nyata dan drastis.
Dan di saat itulah, gelombang serangan pertama tiba.
Puluhan anak panah beracun melesat keluar dari balik rimbunnya dedaunan, datang tanpa suara.
Panah-panah itu berwarna hijau gelap pekat, dilumuri racun khas Sepuluh Ribu Iblis yang mampu meluruhkan tulang dan menghancurkan sumsum.
Anak panah itu menghantam permukaan perisai besi dengan bunyi tumpul dan berat, dan racunnya seketika menggerogoti logam hingga menimbulkan lubang-lubang yang berasap dan hangus.
Beberapa anak panah berhasil menembus celah perisai dan menghantam leher seorang pembudidaya dewa.
Lelaki itu menjerit nyaring dan jatuh terguling ke tanah; tubuhnya seketika membusuk dan mencair menjadi genangan darah hitam yang mendidih.
Belum sempat rasa ngeri menjalar, gelombang serangan kedua menyusul.
Kali ini bukan lagi anak panah, melainkan serangan langsung dari penghuni asli hutan itu.
Puluhan serigala bayangan melompat keluar dari sudut tergelap hutan.
Tubuh mereka ramping dan lincah bagaikan hantu, kecepatan lari mereka sedemikian rupa sehingga hanya tampak bagaikan kilatan bayangan abu-abu.
Mereka secara khusus menyerang titik-titik terlemah dalam formasi barisan, melompat dan menggigit kaki para pembudidaya, lalu menyeret korban mereka dengan cepat kembali ke dalam kegelapan.
Jeritan kematian itu menggema di dalam kabut, lalu seketika terhenti sepenuhnya.
Dari pucuk-pucuk pohon tertinggi, sepasang elang sayap besi menukik tajam ke bawah.
Cakar mereka yang tajam bagaikan kait baja menyambar, dan dengan satu sapuan ringan merobek helm besi dan tengkorak kepala seorang pembudidaya.
Di lereng bukit yang curam, dua ekor kera iblis batu, yang tingginya mencapai sepuluh meter, melompat turun dengan gemuruh.
Tinju raksasa mereka menghantam ke tengah susunan perisai emas, melontarkan beberapa pembudidaya berbaju besi berat beserta perisai mereka bagaikan layang-layang putus, menghantam batang pohon besar hingga patah, dan menghancurkan tulang-belulang mereka seketika.
Formasi Istana Surgawi mulai goyah dan terpecah-belah.
Dinding perisai yang kokoh itu hancur diterjang serangan buas yang tak terduga.
Hutan belantara itu seketika dipenuhi dengan suara teriakan perang, jeritan kematian, auman binatang buas, dan benturan pertemuan senjata.
Darah segar membasahi tanah hutan yang kering.
Anggota tubuh yang terpotong-potong tersangkut di dahan-dahan pohon, dan udara dipenuhi bau amis darah yang menyengat dan memuakkan.
Namun Yang Mulia Surgawi sama sekali tidak peduli atau gentar hatinya.
Mereka yang tewas di sana semuanya adalah murid tingkat rendah dan menengah yang jumlahnya melimpah di Istana Surgawi.
Tidak menjadi masalah baginya berapa banyak yang harus tewas atau menjadi korban, asalkan tujuan akhirnya tercapai.
Ia hanya mengamati pertempuran itu dengan dingin dan datar.
Baru setelah barisan depan berhasil menancapkan pijakan yang kokoh di dalam hutan dan berhasil memukul mundur gelombang serangan binatang buas, ia kembali mengacungkan tombak emasnya dan memerintahkan pasukan inti untuk terus bergerak maju.
Suaranya sedingin besi beku. “Barisan depan, pertahankan posisi kalian! Pasukan inti, teruslah maju! Siapa saja yang menghalangi jalan kita, tak peduli makhluk apa pun, harus dibunuh tanpa ampun!”
Bersambung....
Yah, terserah author lah ya. Namanya novel udah ngaco. Udah jadi sisa jiwa masih punya Pedang Pembunuh Naga, menara penindas iblis dan cincin penyimpanan.. 🤣🤣
Enjoy aja ngawurnya...
Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️
Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :
https://link.dana.id/qr/4e1wsaok
Atau ke akun
SeaBank : 901043071732
Kode Bank Seabank untuk transfer (535)
Terima Gajih...☺️



Cerita semakin menarik
ReplyDelete