Perintah Kaisar Naga. Bab 6515-6518
*Menyelamatkan Agnes *
Dalam diamnya, terkandung kekuatan Langit dan Bumi
Tak satu pun makhluk yang sempat menangkap gerak tangannya saat ia menyentuh gagang senjata itu.
Saat Pedang Pembunuh Naga terhunus sepenuhnya, seberkas cahaya ungu nan murni memancar, menyembur keluar dari bilahnya seolah-olah telah menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan kemegahannya.
Cahaya itu tidak panjang, hanya seukuran lengan manusia, namun setiap inci cahayanya terpadat bagai inti bintang, berkilau menyilaukan laksana matahari kecil yang turun ke dunia.
Tiada tarian pedang yang rumit, tiada gerak tubuh yang mempesona, tiada pula getaran tanah yang menggelegar.
Hanya ada sebilah cahaya ungu, murni dan tanpa cela, yang bergerak dengan kecepatan melampaui batas pandang, menyapu ruang di hadapannya.
Saat cahaya itu melintas mendatar, tak terdengar suara benturan sedikit pun.
Saat itu menyentuh lapisan pertama benteng cahaya suci keemasan.
Perisai perkasa itu meleleh begitu saja, selembut es yang terkena sinar matahari di musim panas, tak berdaya menahan panas yang membumi-hanguskan itu walau hanya sesaat.
Api kekacauan menari di sepanjang bilah pedang, melahap habis hukum-hukum alam yang menjadi dasar kekuatan perisai keemasan tersebut, seolah hukum itu hanyalah sekeping kertas yang terbakar begitu saja.
Wuuzzzz...
Wuuzzzz...
Wuuzzzz..
Lapisan kedua, ketiga, hingga keempat… Semuanya musnah dengan cara yang sama persis.
Saat cahaya ungu itu menyentuh permukaannya, benteng pertahanan yang dibangun selama ribuan tahun itu runtuh dalam keheningan, laksana lampion kertas yang tersayat pisau tajam.
Aura pelindung di dinding-dinding itu berkedip-kedip putus asa, berusaha memperbaiki kerusakan yang terjadi, namun kekuatan kekacauan telah membinasakan sendi-sendi hukum yang menopangnya, membuat segala upaya perbaikan menjadi mustahil sejak awal.
Wuuzzzz...
Wuuzzzz...
Wuuzzzz...
Lapisan kelima, keenam, ketujuh… kecepatan cahaya pedang itu tak sedikit pun berkurang, justru semakin bertambah deras seolah setiap penghalang yang dimusnahkan hanya menjadi bahan bakar bagi kemurkaan yang tak berbatas itu.
Wuuzzzz....
Saat lapisan kedelapan hancur lebur, tiga tetua yang mengendalikan formasi pertahanan itu serentak memuntahkan darah segar.
Energi sejati mereka hancur oleh dampak serangan balik, dan organ-organ di dalam tubuh mereka bergolak hebat seakan diaduk oleh kekuatan tak kasat mata.
Wuuzzzz...
Wuuzzzz....
Wuuzzzz....
Lapisan kesembilan, kesepuluh, hingga kesebelas…. Semuanya musnah tak bersisa.
Cahaya pedang itu menyapu bersih segala hal yang menghalangi jalannya, membuat pertahanan yang dianggap tak tertembus itu rapuh bagai kertas yang ditiup angin.
Bahkan lapisan kedua belas sebagai pertahanan pamungkas yang menjadi kebanggaan Aliansi Dewa pun tak sanggup bertahan lebih dari tiga kali tarikan napas di hadapan Dave.
Saat lapisan terakhir itu pecah seketika, segenap ruangan berguncang dahsyat.
Duaaaarrrr....
Inti kekuatan yang menjadi tulang punggung pertahanan itu hancur lebur menjadi ribuan kepingan yang melayang di udara, hilang ditelan kekuatan yang tak terbayangkan.
Para tetua yang menjadi pengendali kekuatan itu terhempas ke tanah, memuntahkan darah dari mulut mereka tanpa daya.
Mereka yang memiliki tingkat penguasaan tenaga paling rendah tewas seketika di tempat itu.
Namun, cahaya ungu itu tak berhenti, terus melaju ke depan, menyambar para prajurit dewa yang bergegas keluar dari alun-alun untuk menghadang.
Tak ada jeritan, tak ada ratapan, tak ada pula gemerincing senjata yang beradu.
Yang tersisa hanyalah seberkas cahaya keemasan yang melayang sejenak di udara, sisa dari kemegahan yang telah dilalap habis oleh api kekacauan.
Ratusan prajurit elit, yang masing-masing memiliki kekuatan setara penguasa suatu wilayah di Surga ke-16, yang cukup kuat untuk mendominasi segala hal di hadapannya, kini tak mampu mengangkat senjata sedikit pun.
Dalam sekejap mata, mereka lenyap menjadi ketiadaan di tengah sapuan cahaya ungu itu.
Cahaya itu terus melaju tanpa hambatan, menabrak pilar batu raksasa di depan aula utama.
Batang pilar yang begitu tebal hingga tujuh orang dewasa pun harus bergandengan tangan melingkarinya, yang penuh dengan ukiran sejarah dan kemenangan para dewa, kini terbelah dua tanpa suara.
Potongannya begitu rapi dan halus, bagaikan permukaan cermin yang licin, seolah-olah benda itu bukan dipotong oleh senjata, melainkan dibelah langsung oleh hukum alam semesta itu sendiri.
Wajah Pattinson Wei pucat seakan mayat.
Kini ia paham sepenuhnya mengapa kedua tetua agung itu tak pernah kembali.
Dan mengapa Dave, yang dianggap telah musnah, kini berdiri tegak di sana dengan aura yang menggetarkan jiwa.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan lari.
Ia meninggalkan segala kehormatannya sebagai pemimpin, segala kemuliaan para dewa, dan segala kesombongan yang dimilikinya.
Di hadapan kekuatan absolut, semuanya hanyalah bahan tertawaan yang menyedihkan.
Yang ada di benaknya saat ini hanyalah satu hal: bertahan hidup, melarikan diri sejauh mungkin dari mimpi buruk ini.
Ia segera mengerahkan teknik melarikan diri tingkat tertinggi, mengubah dirinya menjadi seberkas cahaya keemasan yang melesat ke dalam kedalaman aula.
Namun Dave tak berniat mengejar.
Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah orang yang lari ketakutan itu.
Dengan tenang, ia menyarungkan kembali Pedang Pembunuh Naga, lalu menaiki tangga satu per satu dengan langkah yang begitu tenang.
Langkah kakinya tidak cepat, bahkan bisa dibilang sangat lambat.
Namun setiap pijakan kakinya tertanam kuat di lantai kokoh itu, seakan bumi sendiri menunduk menyambut kedatangannya.
Suara langkah kakinya bergema di segenap penjuru alun-alun yang sunyi senyap, menambah rasa takut yang menyesakkan dada.
Tiga ribu prajurit elit dari ras dewa mundur perlahan, memberi jalan baginya.
Tak satu pun yang berani menghalangi atau melangkah maju sedikit pun.
Kaki mereka gemetar hebat, senjata di tangan mereka bergetar hingga berbunyi nyaring, dan mata mereka memancarkan ketakutan yang tak terlukiskan.
Dave berjalan di antara mereka dengan wajah yang sedingin es, seolah-olah ia bukanlah tamu, melainkan tuan istana yang sedang berkeliling di istananya sendiri.
Ia bukan sekadar raja.
Karena bahkan seorang raja pun harus mempertimbangkan kehendak rakyatnya.
Ia adalah Sang Malaikat Maut, yang membawa kematian di setiap langkah yang diambilnya.
Entah mereka berlutut atau berdiri, tunduk atau menentang, segenap makhluk di sana gemetar ketakutan di hadapan sosok itu.
Ia melangkah masuk ke dalam aula utama.
Para tetua dan prajurit di dalamnya mundur serentak bagai ombak laut yang surut ketakutan.
Puluhan tetua, ratusan pemimpin, dan ribuan pengawal -- tak satu pun yang berani menggerakkan tubuhnya.
Mereka mundur terus, mundur dalam keputusasaan, hingga punggung mereka menabrak dinding dan terperosok ke sudut-sudut ruangan.
Sebagian menggigil kedinginan dan ketakutan, sebagian lagi berbisik doa dengan bibir yang gemetar, dan ada pula yang pingsan seketika karena tak sanggup menahan tekanan jiwa yang luar biasa itu.
Pandangan Dave menyapu segenap ruangan dengan tenang, seolah sedang mengamati miliknya sendiri.
“Di mana Agnes Jiang?”
Dia bertanya sekali lagi, suaranya rendah namun terdengar jelas di telinga setiap orang.
Seorang tetua yang memiliki kekuatan setara Dewa Agung menunjuk ke arah belakang aula dengan tangan yang gemetar hebat, hingga jari-jarinya nyaris tak sanggup lurus. “Di…dia ada di ruang bawah tanah… di ruang yang ada di belakang aula ini.”
Setelah berkata demikian, tubuhnya lemas seketika dan ia jatuh tersungkur, napasnya memburu seakan habis seluruh tenaganya.
Dave mengabaikannya begitu saja, lalu berjalan lurus menuju tempat yang ditunjuk itu.
Ia melangkah dengan tenang, punggungnya tegak dan gagah.
Jubah biru yang dikenakannya kontras sekali dengan cahaya keemasan yang menyelimuti aula itu, persis bagaikan sebilah pedang ungu yang menebas lautan emas yang luas.
Tak ada yang berani mengikutinya, dan tak ada yang berani bersuara.
Hanya suara napas yang memburu dan gemeretak gigi yang terdengar memenuhi ruangan megah itu.
Hanya setelah sosoknya menghilang ke dalam bayang-bayang lorong, seorang tetua merosot jatuh ke lantai, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin yang mengucur deras.
Ia datang, dan ia kembali.
Kata-kata ‘kematian’ pun seakan menjadi kurang menakutkan jika dibandingkan dengan sosok pemuda itu.
......
Ruang bawah tanah Aliansi Dewa terletak di bagian paling dalam, puluhan meter di bawah permukaan tanah.
Jalan menuju ke sana adalah sebuah tangga sempit yang gelap.
Lebarnya tak cukup untuk dua orang berpapasan, seolah sengaja dibuat demikian agar hanya satu orang saja yang bisa melaluinya dalam satu waktu.
Dinding di kedua sisinya terbuat dari besi meteorit yang diambil dari angkasa luar, tebalnya tiga jengkal manusia, dan tertutup rapat oleh formasi sihir penyegelan yang berlapis-lapis.
Setiap tujuh langkah, terdapat satu rune rahasia.
Beberapa di antaranya adalah pola pertahanan peninggalan para dewa kuno, dan yang lainnya adalah mantra penyegelan dari aliran teknik Yin dan Yang.
Semuanya bersatu, mengubah lorong itu menjadi sangkar baja yang tak mungkin ditembus.
Tak ada pelita atau lampu yang menyala di sana, namun pola-pola di dinding itu sendiri memancarkan cahaya keemasan yang pucat.
Cahaya itu dingin, sedemikian dinginnya hingga seakan bisa menusuk hingga ke sumsum tulang, persis seperti hawa dingin yang keluar dari tubuh orang yang sudah lama mati.
Udara di sana pengap dan lembab, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun menusuk hidung, bau yang seakan tak akan pernah hilang dari sana.
Itulah bau keringat, darah, air mata, dan napas keputusasaan dari ribuan tahanan yang pernah menderita di tempat itu sepanjang zaman.
Di ujung lorong itu berdiri sebuah pintu setinggi empat meter, ditempa dari batuan langka yang jatuh dari langit.
Ketebalannya sungguh luar biasa, hingga tak ada makhluk yang sanggup mendorongnya sedikit pun.
Pintu itu tertutup rapat, bukan oleh kunci biasa, melainkan oleh tujuh lapis segel yang saling bertumpuk dan saling mengunci.
Setiap segel dibangun berdasarkan prinsip hukum alam yang berbeda, diletakkan oleh tujuh tetua yang telah mencapai puncak tingkat kesembilan Alam Abadi Agung.
Semuanya saling berkaitan, hingga jika satu saja rusak, enam lainnya akan bereaksi balas dengan dahsyat.
Para tetua itu bekerja secara bergiliran, menjaga agar kekuatan penyegelan itu tak pernah padam sedetik pun.
Untuk memecahkan ketujuh lapisan itu dengan paksa, dibutuhkan kekuatan setara dewa emas.
Di seluruh Surga ke-16, kekuatan setara itu hanyalah legenda belaka, sehingga pintu ini tak pernah terbuka dari luar sejak pertama kali dibangun.
Namun hari ini, seseorang akhirnya tiba.
Dave berdiri tegak di depan pintu raksasa itu.
Mata ungunya menatap sejenak pola-pola rumit yang melingkar di sana.
Pandangannya begitu tenang, seolah ia sedang melihat selembar kertas bekas yang tak bernilai.
Ia tak perlu mempelajari rahasianya, tak perlu mencari celah kekurangannya, dan tak perlu menggunakan ilmu rahasia apa pun.
Ia hanya sekadar mengulurkan tangan, dan menyentuh kunci besar yang tertanam di pintu itu.
Kunci itu sendiri ditempa dari besi kuno yang usianya ribuan tahun, dengan satu pola inti sebesar ibu jari yang menjadi pusat kendali ketujuh lapisan segel.
Dingin dan keras, berkilau biru dalam kegelapan seakan berisi es abadi.
Api kekacauan menyembur lembut dari telapak tangannya, bergerak menyebar hingga menyentuh kunci itu.
Sssstt....
Ia membakar ketujuh lapisan penghalang itu satu per satu.
Tak ada suara gemuruh yang menggetarkan bumi. Dan bahkan tak ada ledakan energi yang dahsyat.
Hanya suara mendesis halus, persis seperti suara api yang membakar kertas emas.
Lapisan pertama luluh lantak seketika bagai kertas tipis yang terkena nyala api, melengkung, hangus, dan hancur lebur.
Kemudian yang kedua dan ketiga -- api itu menjalar mengikuti garis pola terlarang, membakar hingga ke akar-akarnya, memusnahkan formasi pertahanan itu dari dalam ke luar.
Saat lapisan keempat runtuh, cahaya putih menyilaukan sempat menyembur keluar, namun seketika dilahap habis oleh api kekacauan sebelum sempat menyebar ke mana-mana.
Di kelima dan keenam, nyala api semakin terang, menerangi segenap lorong dengan cahaya ungu yang menyejukkan namun mengerikan.
Pola-pola di dinding itu meleleh dan mengalir turun bagai lilin yang terkena panas.
Lapisan ketujuh dan terakhir adalah inti pertahanan yang ditinggalkan oleh makhluk kuno, yang berisi kekuatan hukum setara dewa emas.
Itu bertahan sepanjang tiga kali tarikan napas di tengah nyala api itu, sebelum akhirnya pecah bagai kulit telur yang tipis.
Tujuh lapisan pertahanan, musnah hanya dalam empat belas kali tarikan napas.
Dengan satu gerakan pergelangan tangan yang santai, Dave mengubah kunci raksasa itu menjadi debu halus.
Jegeerrrrrr...
Pintu raksasa itu jatuh ke tanah dengan bunyi berat dan membosankan.
Di baliknya, terdapat ruang kecil yang lembab, dingin, dan gelap gulita.
Hanya ada satu pelita tua yang nyalanya hampir padam, apinya lebih kecil dari biji kacang, berkedip-kedip seakan nyaris mati.
Cahayanya yang redup hampir tak mampu menerangi sudut ruangan itu.
Di sudut paling gelap, di atas tumpukan jerami yang sudah lapuk dan berjamur, terduduk sesosok tubuh yang kurus kering.
Ia mengenakan gaun putih yang kini telah sobek-sobek hingga sulit dikenali bentuk aslinya.
Lengan yang terbuka itu kurus kering tinggal tulang berbalut kulit, sekujur tubuhnya penuh bekas luka -- bekas cambukan, bekas luka bakar, dan bekas sayatan senjata ajaib yang tak terhitung jumlahnya.
Tangannya terikat oleh rantai hitam pekat yang menjulur dari dinding, mengikatnya erat pada batu dingin itu.
Rantai itu penuh dengan rune penyegelan yang terus-menerus memancarkan cahaya biru yang menyeramkan.
Setiap kali cahaya itu berkedip, sejumlah tenaga dalam tubuhnya tersedot habis untuk menjaga agar ikatan itu tetap kuat.
Wajahnya sepucat kertas, bibirnya pecah-pecah dan berdarah.
Rambut indah yang dulu terurai panjang kini kusut masai, menutupi separuh wajahnya yang tertunduk.
Ia meringkuk di sudut itu, seakan berusaha mengecilkan tubuhnya agar tak tersentuh oleh hawa dingin yang menusuk.
Saat mendengar suara pintu jatuh, perlahan ia mengangkat kepala.
Rambutnya yang berantakan terurai, memperlihatkan wajah yang kurus namun masih teguh.
Bibirnya bergetar, dan di matanya berkumpul air mata yang berusaha ditahannya sekuat tenaga.
Mata yang dulu berbinar cerah dan penuh kehidupan itu kini tertutup kabut keputusasaan, kelabu bagai abu yang telah lama padam.
Namun saat ia melihat sosok yang berdiri di ambang pintu, sosok yang berjubah biru dengan pedang tersampir di pinggang, yang berdiri tegak dan tenang seakan tak tergoyahkan, seberkas cahaya kembali menyala di matanya.
Mata ungu yang bersinar itu, begitu terang dalam kegelapan, namun tak menyilaukan.
Cahaya itulah yang menghapus segala kesuraman dan keputusasaan yang memenuhi ruangan itu.
Agnes tertegun sejenak.
Bibirnya bergetar hebat, suaranya begitu lemah hingga nyaris tak terdengar. “Dave....Dave apakah itu kau? Apakah aku sedang bermimpi?”
Dave diam saja.
Ia melangkah maju dengan langkah yang mantap dan pasti.
Ia berjongkok, lalu mengulurkan tangan untuk menyentuh rantai yang mengikat wanita itu.
Merasa adanya gangguan, pola-pola di rantai itu menyala terang, berusaha melawan dengan kekuatan penuh.
Namun sekali lagi, api kekacauan menyembur dari telapak tangan itu, membakar segala ikatan hingga menjadi debu halus.
Rantai itu putus dan jatuh ke tanah dengan bunyi nyaring yang panjang, seakan belenggu nasib yang akhirnya terlepas.
Tangan Agnes kini bebas, namun pergelangan tangannya penuh bekas luka dalam yang berdarah, kulitnya lecet parah, namun di balik itu, kulit yang masih muda dan segar mulai terlihat kembali.
Tanpa memedulikan rasa sakit yang luar biasa itu, ia melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu, memeluk erat punggungnya dengan tangan yang kurus kering namun penuh kekuatan jiwa.
Ia seakan berusaha meleburkan dirinya ke dalam tubuh pria itu.
Tubuhnya gemetar hebat, bukan lagi karena kedinginan, melainkan karena perasaan yang sedemikian rupa tertahan lama akhirnya menemukan jalan keluarnya.
“Aku kira kau sudah mati… aku kira kau tak akan pernah kembali…”
Suaranya parau dan terputus-putus oleh isak tangis yang tak terbendung. “Mereka bilang setiap hari… tubuhmu hancur, jiwamu tersegel, kau sudah mati… mereka tertawa dan mengejekku setiap hari… aku… aku…”
Ia tak sanggup melanjutkan perkataannya, lalu membenamkan wajahnya ke dada pria itu dan menangis sejadi-jadinya.
Bukan tangisan halus, bukan pula air mata yang ditahan.
Ini adalah tangisan yang mengoyak hati, meluapkan segala keluh kesah, ketakutan, dan kepahitan yang dipendamnya seorang diri selama sekian lama.
Segala air mata yang ditahannya di dalam penjara, segala rasa sakit yang ditanggungnya saat disiksa, segala keputusasaan yang dirasakannya sendirian, semuanya tumpah ruah saat itu juga.
Ia menangis begitu keras hingga sekujur tubuhnya menggigil, suaranya parau dan tak terkendali.
Air matanya membasahi jubah biru itu, namun ia seakan tak menyadarinya.
Dave tetap diam.
Ia hanya membalas pelukan itu, satu tangan merangkul bahu wanita itu, dan tangan lainnya menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut dan penuh kelembutan.
Gerakannya halus dan pelan, namun membawa ketenangan yang menyejukkan hati.
Kekuatan kekacauan itu berubah menjadi selubung cahaya yang tipis, menyelimuti tubuh keduanya, memberikan kehangatan, rasa aman, dan perlindungan dari hawa dingin yang mematikan tempat itu.
Lama sekali berlalu hingga tangisan itu perlahan mereda, berubah menjadi isak tangis yang kian melemah, hingga akhirnya hanya sisa hembusan napas yang tersedu-sedu.
Agnes mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca dan merah bagai mata kelinci, namun di dalamnya kini bersinar seberkas harapan yang nyata.
“Alam kultivasi mu… bagaimana mungkin masih berada di tingkat keenam Alam Abadi Agung?”
Dia bertanya dengan nada yang masih ragu. “Kau seharusnya…”
“Ceritanya panjang beb...”
Dave memotong kata itu dengan lembut, sambil mengusap sisa air mata di pipi wanita itu dengan punggung jarinya. “Nanti kita bicarakan semuanya saat kita sudah keluar dari sini. Sekarang, mari kita pulang.”
Ia berdiri tegak, lalu mengangkat tubuh Agnes dengan mudah.
Tubuh wanita itu terasa sangat ringan, sungguh terlalu ringan akibat siksaan yang panjang dan penyegelan tenaga dalamnya.
Ia melingkarkan lengannya ke leher pria itu, menempelkan pipinya ke dada yang kokoh itu.
Melalui kain jubah itu, ia bisa merasakan detak jantung dan kehangatan tubuh yang selama ini dirindukannya.
Air mata kembali menggenang di matanya. “Aku pikir aku tak akan pernah melihatmu lagi… aku pikir aku benar-benar sendirian selamanya…”
Dave tetap tenang seperti biasa, namun Agnes yang begitu mengenalnya bisa mengetahui perasaan yang tersembunyi di balik ketenangan itu.
Ia tak perlu berkata apa-apa lagi, karena ia tahu, Dave mengerti segalanya.
“Peluk aku lebih erat lagi,” bisiknya.
Cahaya ungu itu kembali menyala, membentuk selubung pelindung bagi keduanya.
Dave melangkah keluar dari ruang bawah tanah itu, melewati lorong yang penuh dengan tanda rahasia, melintasi aula yang kini kosong melompong, hingga kembali ke alun-alun yang luas.
......
Tempat itu tampak lebih luas dari sebelumnya.
Di tempat ini, ia baru saja membinasakan tiga ribu prajurit elit ras dewa dengan satu kali ayunan pedang.
Namun selama ia turun ke bawah tanah, Pattinson Wei kembali mengerahkan pasukan yang jauh lebih banyak lagi.
Seluruh lapangan itu kini kembali penuh sesak oleh ribuan prajurit ras dewa.
Cahaya keemasan dari tubuh mereka menyatu menjadi satu, mengubah langit di atas kepala menjadi warna emas yang menyilaukan.
Meskipun dua belas lapisan pertahanan yang asli telah hancur, namun formasi pertahanan darurat telah dibangun kembali, berlapis-lapis di atas langit.
Meski tak sekuat yang asli, namun cukup kuat untuk membingungkan dan menahan ahli tingkat kesembilan Alam Abadi Agung.
Pattinson Wei berdiri di barisan paling belakang, mengenakan kembali baju zirah kebesarannya, dan menggenggam senjata pusaka yang mematikan.
Namun wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar hebat, dan matanya penuh kegelisahan.
Ia bersembunyi di balik tubuh para tetua dan pengawal, tak berani menatap langsung pemuda yang sedang menggendong wanita itu.
Suaranya bergetar, namun ia berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang terakhir.
“Dave… bocah keparat... apakah kau kira kau bisa keluar dari tempat ini dengan selamat? Ini adalah pusat kekuatan Surga ke-16, jantung Aliansi Dewa!”
“Kau bisa membunuh seratus, bahkan seribu orang, namun aku bisa memanggil pasukan yang tak terhitung jumlahnya! Kekuatanmu yang hanya tingkat keenam Alam Abadi Agung, energi spiritual mu pada akhirnya akan habis juga. Apakah kau pikir kau sanggup melawan segalanya sendirian?”
" Cuma tiga ribu...?"
Sudut bibir Dave sedikit melengkung, membentuk senyum tipis yang tak terlukiskan -- bukan senyum kemenangan, melainkan senyum ketidakpedulian yang mencemooh segala sesuatu.
“Itu masih kurang, cokk....”
Dia menjawab pelan, namun begitu tegas hingga seakan menusuk ke dalam jiwa setiap orang yang mendengarnya.
Tanpa ragu sedikit pun, ia kembali menyentuh gagang pedangnya.
Kali ini semua orang melihat dengan jelas bagaimana gerakan itu dilakukan, karena ia melakukannya dengan sengaja agar mereka menyaksikan sendiri apa itu kekuatan yang sesungguhnya.
Perlahan-lahan, Pedang Pembunuh Naga terhunus kembali, dan cahaya ungu nan murni memancar dari gagang hingga ke ujungnya.
Cahaya itu tak menyilaukan mata, namun membuat siapa saja yang melihatnya merasa sulit untuk mengedipkan mata, seakan terpaku oleh kekuatan yang tak terbayangkan.
Kekuatan kekacauan itu memadat, terkompresi, dan memadat kembali pada bilah senjata itu, hingga akhirnya berubah menjadi seberkas cahaya ungu yang panjangnya lebih dari tiga puluh meter.
Cahaya itu melintasi langit dan bumi, melayang tinggi di atas kepala mereka bagai hukuman dewa yang menggantung siap untuk jatuh.
Wuuzzzz...
Tebasan pertama dilakukan.
Dan cahaya ungu itu menyapu alun-alun luas itu.
Di mana pun ia lewat, segala cahaya keemasan seakan mencair dan menguap bagai salju terkena panas.
Baju zirah, senjata, dan tubuh para prajurit dewa hancur lebur berkeping-keping.
Tak ada suara jeritan, tak ada suara benturan, segalanya terjadi dalam keheningan mutlak.
Api kekacauan melahap habis segala hal yang dilewatinya, mengubah Qi, jiwa, raga, dan senjata menjadi ketiadaan seketika.
Ratusan orang tewas seketika tanpa meninggalkan jejak, kecuali butiran-butiran cahaya emas yang melayang sejenak di udara bagai salju emas yang jatuh tanpa suara.
Wuuzzzz...
Tebasan kedua dilakukan.
Dan cahaya panjang itu kembali menyapu tempat itu.
Bahkan sebelum cahaya itu menyentuh tubuh mereka, tekanan udara yang dihasilkannya saja sudah membuat ratusan orang kehilangan keseimbangan.
Mereka yang tingkat penguasaannya rendah terlempar jauh dan menabrak rekan-rekan mereka sendiri.
Cahaya itu menyusul dengan cepat, menebas mereka bersamaan dengan baju zirah dan formasi pertahanan yang mereka bangun.
Sekali lagi, ratusan nyawa melayang seketika.
Wuuzzzz...
Tebasan ketiga dilakukan.
Dan pasukan yang tersisa akhirnya runtuh mentalnya.
Mereka bukan prajurit tingkat rendah, melainkan pasukan pilihan yang telah melalui ribuan pertempuran, namun saat itu keteguhan hati mereka hancur sepenuhnya.
Sebagian lari tunggang langgang, sebagian lagi berlutut menyerah, dan yang lainnya jatuh tersungkur karena ketakutan.
Namun cahaya itu tak berhenti. Itu terus menyapu dan melahap segalanya.
Kurang dari sepuluh kali tarikan napas, tiga ribu pasukan elit dewa musnah sepenuhnya.
Hanya satu orang yang masih berdiri tegak di tengah lautan darah dan tumpukan mayat: Pattinson Wei.
Ia berdiri kaku di sana, sekujur tubuhnya gemetar hebat.
Baju zirah kebesarannya penuh noda darah, senjata pusakanya tergeletak di tanah, bilahnya patah menjadi dua bagian.
Kakinya lemas tak bertulang, hingga akhirnya ia ambruk berlutut di tanah yang basah itu.
Ia mendongak menatap sosok yang berjalan mendekatinya, matanya penuh ketakutan yang tak terlukiskan.
Sepuluh kali tarikan napas. Dan tiga ribu nyawa musnah.
Ini bukan lagi pertempuran, melainkan pembantaian yang sewenang-wenang.
Dave berhenti tepat di depannya, menatap ke bawah dengan mata ungu yang tetap tenang, seolah sedang menatap seekor semut yang tak berdaya.
Bibir Pattinson Wei bergetar, giginya gemeretuk nyaring.
Ia ingin berkata sesuatu, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suara parau yang tak jelas.
Akhirnya, dengan susah payah ia mengeluarkan suara. “Dave… kau tak boleh membunuhku! Aku adalah pemimpin Aliansi Dewa! Jika kau membunuhku, seluruh ras dewa tak akan memaafkanmu! Kedua tetua agung adalah Dewa Emas…”
“Mereka sudah mati, cokk...”
Dave menjawab pelan, nada suaranya tetap datar seakan sedang membicarakan hal yang paling sepele di dunia.
“Bahkan jika seandainya mereka ada di sini, tak satu pun yang sanggup menyelamatkanmu.”
Dengan tenang ia mengangkat kembali Pedang Pembunuh Naganya, hingga ujung tajamnya menyentuh dada Pattinson Wei
Jantung pemimpin perkasa itu seakan berhenti berdetak seketika.
Matanya terbelalak lebar, menatap nanar ke arah bilah senjata itu, di mana pantulan cahaya ungu yang pekat dan mengerikan terpantul nyata di manik matanya.
Saat ini juga, ia merasakan kedatangan Sang Malaikat Maut -- sesuatu yang jauh lebih kuno, lebih dahsyat, dan mutlak dibandingkan segala jenis kekuatan di langit dan bumi.
Itulah hakikat kekacauan, kehampaan yang melenyapkan segalanya, dan akhir dari riwayat segala makhluk hidup di dunia ini.
Mulutnya terbuka, bibirnya gemetar hebat.
Ia ingin memohon belas kasihan, bernegosiasi, bahkan mengancam, atau mengatakan apa saja yang sekiranya mampu menolong nyawanya yang terancam itu.
Namun Dave tak memberinya waktu sedetik pun lagi.
Ujung pedang itu didorong maju dengan gerakan yang begitu lembut, seolah sedang menyentuh air.
Dalam sekejap, api kekacauan yang dahsyat menyembur keluar dari bilah senjata itu, melalap tubuh Pattinson Wei sepenuhnya.
Api berwarna ungu itu menyebar dengan ganas dari titik sentuhan itu, memakan habis daging, darah, tulang, dan seluruh tenaga dalam yang ia bangun selama ribuan tahun.
Bahkan cahaya suci pelindung dan jiwanya yang abadi pun tak luput dari amukan nyala api itu.
Jeritan panjang dan melengking menggema ke segenap penjuru aula, melintasi alun-alun luas hingga menembus langit di atasnya.
Tubuhnya menggeliat dan meronta-ronta hebat dalam kobaran api yang murni itu, namun sia-sia belaka.
Cahaya suci yang dulunya tak tertandingi itu kini meleleh bagaikan bongkahan es yang terkena panas terik matahari, tak mampu bertahan walau sekejap mata saja.
Dan tiba-tiba, segala suara lenyap seketika.
Pattinson Wei, pemimpin mutlak Aliansi Dewa, penguasa kekuatan terbesar di Alam Surgawi tingkat ke-16 yang telah memimpin ratusan ribu prajurit dewa dan memerintah wilayah utara selama puluhan ribu tahun lamanya, kini telah musnah menjadi debu halus.
Angin sepoi-sepoi bertiup melintas, dan debu itu beterbangan terbawa pergi, menghilang tanpa menyisakan jejak sedikit pun di atas tanah itu.
Dave menyarungkan kembali pedangnya dengan tenang, melirik sekilas ke arah debu yang melayang itu, lalu berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan aula agung itu.
Di belakang punggungnya, bangunan megah pusat kekuasaan Aliansi Dewa mulai runtuh perlahan-lahan di tengah kobaran api yang meluap-luap.
Segala formasi rahasia dan pola pelindung cahaya emas yang dibangun dan dipelihara selama berabad-abad itu meledak dan hangus terbakar seketika.
Ukiran indah di dinding dan patung-patung raksasa yang menjadi lambang kemuliaan para dewa, semuanya kini menjadi makanan nyala api yang rakus itu.
Api kekacauan itu menjulang tinggi ke angkasa, mengubah langit malam yang gelap gulita itu menjadi warna merah keemasan yang menyilaukan.
Asap dan nyala api itu terlihat jelas hingga jarak ratusan mil jauhnya.
Agnes berbaring di pelukannya, menengadah memandangi lautan api yang menyala-nyala itu di kejauhan.
Bibirnya bergetar pelan. “Kau telah membunuh begitu banyak orang…”
“Itu bukanlah hal yang penting,”
Dave menjawab dengan suara yang sedingin dan setenang air yang tenang. “Yang terpenting sekarang adalah tak ada lagi nyawa yang perlu melayang sia-sia.”
Ia melompat naik ke langit, berubah wujud menjadi seberkas cahaya ungu yang membelah malam, terbang membawa Agnes kembali ke tempat yang mereka rindukan.
......
Di sepanjang perjalanan itu, cahaya ungu itu menembus awan dan malam, menerangi hutan belantara yang luas dan gelap di bawah sana.
Di belakang mereka, benteng kekuasaan itu akhirnya runtuh sepenuhnya.
Atap bangunan raksasa itu jatuh berdebam, ubin-ubin emasnya berjatuhan ke bawah bagaikan hujan yang menghantam tanah dengan bunyi yang berat dan membosankan.
Aliansi Dewa, yang telah memerintah Surga ke-16 dengan tangan besi selama puluhan ribu tahun lamanya, kini runtuh sepenuhnya seketika itu juga.
………
Reruntuhan Lembah Kebebasan kini berdiri diam dan sepi di tengah senja yang merentang luas, menyerupai kerangka raksasa yang mati dan ditinggalkan.
Tempat yang dulunya begitu ramai dan hidup itu kini hanya tinggal puing-puing yang menyedihkan.
Sebagian besar tembok kota yang dibangun dari batu biru yang kokoh telah roboh rata dengan tanah.
Sisa-sisa dinding yang masih tegak berdiri itu penuh dengan bekas sayatan senjata dan bekas pukulan yang mengerikan.
Gerbang besar kota itu sudah lenyap tak bersisa, hanya menyisakan dua buah tiang penyangga yang bengkok dan retak-retak.
Pada permukaannya masih tersisa jejak-jejak sisa cahaya suci yang tertinggal dari pertempuran dahsyat ribuan tahun yang lalu.
Udara di sana terasa berat dan pengap, penuh dengan bau tanah yang hangus, bau pembusukan, dan bau darah yang samar namun menusuk hidung.
Angin bertiup berkelok-kelok di antara puing-puing bangunan, menerbangkan debu dan abu yang menari-nari di udara, seolah-olah itu adalah bisikan-bisikan sunyi dari ribuan nyawa yang telah gugur di sana.
Istana-istana batu, rumah-rumah kayu, gelanggang pertarungan, dan ruang-ruang meditasi para ksatria -- semuanya kini berubah menjadi tumpukan reruntuhan yang tak berbentuk lagi.
Tiang-tiang batu yang dibangun dengan ketelitian tinggi itu kini tergeletak miring di tanah, bagian kakinya yang patah tertutup lumut dan tanaman liar.
Senjata-senjata yang patah dan kering, serta noda darah yang telah mengering dan berubah menjadi cokelat gelap, berserakan di bekas lapangan latihan.
Noda itu telah meresap jauh ke dalam celah-celah bebatuan, seakan tak akan pernah hilang hingga akhir zaman.
Tulang-belulang berserakan di mana-mana.
Sebagian masih terbungkus sisa baju perang kuno, sebagian lagi adalah jenazah para ksatria dewa yang dulunya gagah perkasa.
Mereka kini tak lagi dapat dikenali satu sama lain, hanya terbaring diam di sana, terkena tiupan angin dan hujan yang turun berkali-kali.
Di sisi timur Lembah Kebebasan, yang dulunya merupakan benteng pertahanan yang paling kokoh dan tak tertembus, dinding-dinding pertahanan yang paling tebal dan kuat itu kini juga telah runtuh hingga tersisa separuh saja.
Pada dinding batu yang masih tersisa itu, terukir tulisan semboyan Lembah Kebebasan yang begitu masyhur: “Berikan aku kebebasan, atau berikan aku kematian.”
Namun sayang, tiga dari lima kata itu telah hangus terbakar oleh api pertempuran dahsyat, menyisakan saja kata-kata: “…tidak bebas.”
Sebuah bangunan di sisi selatan juga telah runtuh sepenuhnya.
Rumput liar yang tinggi tumbuh subur di antara celah-celah puing bangunan itu, bergoyang-goyang tertiup angin senja seolah sedang meratapi nasib nyawa yang telah hilang.
Dave menurunkan Agnes dari gendongannya dan mendarat di tengah reruntuhan itu.
Ia menatap sekelilingnya dalam diam yang panjang dan mendalam.
Ia teringat kembali saat pertama kali ia melangkahkan kakinya ke tempat ini.
Waktu itu, lembah ini diterangi oleh cahaya matahari yang cerah, penuh dengan suara tawa dan kegembiraan penduduknya.
Ulrich Lin menyambutnya dengan hangat di gerbang kota, pria berbadan kekar itu tersenyum riang persis seperti anak kecil yang polos.
Ia teringat pula pada sosok jangkung kurus yang tak kenal lelah berlatih bertarung dengan orang lain di gelanggang seni bela diri, yang jika kalah tak mau mengakuinya.
Ia teringat pada Tuan Tua yang selalu membawa kendi anggurnya ke mana-mana, mengajak orang lain minum bersamanya dan membanggakan bahwa minuman dari tempat ini adalah yang paling nikmat di seluruh dunia.
Ada pula wanita paruh baya yang sibuk di dapur, menyajikan mangkuk-mangkuk makanan yang mengepulkan uap, yang tak pernah bersikap sinis namun selalu mengisi mangkuk orang lain hingga penuh.
Ada pula orang yang tertidur lelap di perpustakaan sambil memeluk gulungan kitab, dan Kiefer Zhao yang tak jemu-jemu mengajarkan ilmu pedang kepada murid-murid barunya, berulang kali mempraktikkannya hingga tubuhnya penuh keringat.
Suara mereka, senyum mereka, seolah masih begitu jelas dan nyata. Seolah baru saja ia melihat mereka kemarin sore.
Namun kini, mereka semua telah tiada.
Mereka pergi demi melindungi tanah air ini, demi memastikan bendera kebebasan tetap berkibar di bawah langit, demi melindungi sesama dan demi melindunginya sendiri.
Satu per satu mereka gugur, dan tak ada satu pun yang bangkit kembali.
Dave mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Kuku-kukunya menancap ke dalam telapak tangan hingga menembus kulitnya.
Darah berwarna ungu menetes keluar, jatuh ke tanah yang hangus itu, dan mengubah warna debu di bawahnya menjadi ungu seketika.
Namun seakan ia tak merasakan sakit sedikit pun.
Ia hanya berdiri diam di sana, menatap nanar puing-puing yang ada di sekelilingnya, menatap bekas kediamannya sendiri yang kini tak berbentuk lagi.
Agnes berbaring diam di dekatnya, wajahnya pucat pasi.
Ia merasakan tubuhnya menegang seketika, sementara emosi yang selama ini ditahannya meluap hampir tak terbendung lagi dari relung hatinya yang terdalam.
“Lembah Kebebasan… apakah masih ada yang selamat?” bisiknya lirih.
Dave memejamkan kedua matanya perlahan-lahan.
Ia melepaskan kesadarannya yang dahsyat meluas keluar, dan kekuatan kekacauan itu berubah menjadi gelombang tak kasat mata yang menyebar ke segala arah, menjadikan dirinya sebagai pusatnya.
Seratus mil, seribu mil, dua ribu mil… kesadarannya menyapu segenap wilayah utara, menembus gunung dan bebatuan, menyusuri hutan lebat dan masuk ke kedalaman perut bumi.
Ia mencari jejak-jejak kehidupan yang samar namun tak asing baginya.
Dan akhirnya, ia menemukannya.
Di sebuah lembah tersembunyi di tanah tandus yang gersang, puluhan aura samar berkumpul di sana.
Aura itu bercampur dengan rasa takut yang mendalam, kelelahan yang luar biasa, dan keputusasaan yang nyaris mematikan.
Namun -- mereka masih bernapas, mereka masih hidup, dan mereka masih menunggu.
Di hutan dan pegunungan yang lebat itu, masih tersisa jejak-jejak kehidupan yang bersembunyi jauh di dalam pepohonan kuno, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Jauh di dalam terowongan tambang yang telah lama ditinggalkan itu, masih ada gumpalan-gumpalan energi yang bertahan hidup di bawah tanah, memakan sisa-sisa tenaga bumi yang sedikit demi sedikit.
Masih ada orang yang selamat.
Dave membuka matanya kembali, sorot matanya tenang namun penuh keyakinan yang mantap.
“Masih banyak yang masih hidup,” ucapnya lembut namun tegas dan jelas.
Ia menurunkan Agnes dari pangkuannya dan menyandarkan tubuhnya yang lemah itu pada sebuah tiang batu yang rusak.
Tiang itu masih menyimpan sisa-sisa hawa panas dari pertempuran, namun kini perlahan mulai mendingin.
Dave menanggalkan jubah birunya dan menyampirkan pakaian itu ke bahu wanita itu.
Sisa kehangatan tubuhnya masih tersisa di sana. Agnes membalutkan jubah itu lebih erat ke tubuhnya yang menggigil, dan kehangatan itu perlahan membuat tubuhnya yang tegang itu menjadi lebih rileks dan tenang.
“Tunggu aku di sini,” kata Dave.
“Ke mana kau akan pergi?” tanya Agnes dengan nada yang sedikit cemas.
“Aku akan menjemput mereka semua,” jawabnya singkat.
Ia menoleh memandang hamparan tanah tandus yang luas tak bertepi di bawah langit senja. “Aku akan membawa pulang seluruh penduduk Lembah Kebebasan.”
Agnes tak berkata apa-apa lagi, namun ia tahu Dave akan melakukan apa saja yang diucapkannya.
Ia tahu ia pasti akan kembali, karena ia tak pernah mengecewakannya sekalipun.
Dave kembali terbang ke angkasa, berubah menjadi seberkas cahaya ungu yang melesat menuju ke selatan yang jauh.
......
Jauh di pedalaman wilayah utara, tersembunyi di antara dua gunung yang menjulang tinggi, terdapat sebuah lembah kecil.
Pintu masuknya sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang saja yang lewat beriringan.
Sebagian besar jalan masuk itu tertutup bebatuan longsor dan bagian luarnya tertutup rapat oleh tanaman merambat dan semak belukar lebat.
Dari luar, mustahil bagi siapa pun untuk mengetahui bahwa ada sebuah tempat perlindungan tersembunyi di sana.
Di tengah lembah itu terdapat tanah lapang kecil, di mana beberapa gubuk sederhana beratap jerami dibangun dan sebagian besar sudah hampir runtuh.
Di sanalah puluhan orang yang selamat dari Lembah Kebebasan bersembunyi.
Mereka telah berada di sana begitu lama hingga mereka sendiri hampir lupa akan wajah mereka sendiri.
Saat pertama kali tiba di sana, mereka hidup dalam ketakutan yang tak henti-hentinya, mengira para dewa akan segera datang mengetuk pintu persembunyian mereka.
Mereka bergantian berjaga di malam hari, tak berani memejamkan mata sedikit pun.
Hari berganti hari, namun tak ada kedatangan siapa pun.
Perlahan-lahan mereka mulai bertanya-tanya dalam hati: apakah mereka boleh kembali ke rumah mereka?
Namun saat pengintai yang dikirim tak kunjung kembali, keputus-asaan kembali melanda.
Mereka tak berani lagi mengirim orang lain keluar, karena setiap orang yang pergi berarti berkurangnya satu harapan untuk bertahan hidup.
Pakaian mereka kini compang-camping dan lusuh.
Jubah perang mereka yang dulu rapi dan gagah itu kini hancur lebur, nyaris tak cukup untuk menutupi tubuh mereka.
Setiap orang memiliki luka di tubuhnya.
Ada yang lukanya sudah kering namun tertutup kerak hitam, ada pula yang masih bernanah dan mengeluarkan bau yang tak sedap.
Senjata mereka tak lagi lengkap: ujung pedang patah, mata pisau tumpul, atau tombak yang hanya menyisakan gagangnya saja.
Banyak dari mereka mengalami kemunduran dalam kekuatan batin karena tak ada pasokan energi alam dan tubuh mereka terlalu banyak bekerja dalam keadaan yang serba kekurangan.
Mata mereka penuh dengan rasa takut dan keputus-asaan.
Setiap hari mereka hidup dalam ketakutan, mendengarkan suara-suara di luar dengan napas tertahan, takut mendengar suara pasukan para dewa yang datang menyerbu.
Setiap kali angin bertiup kencang dan menggerakkan dedaunan, tangan mereka refleks menggenggam senjata seolah musuh sudah di depan mata.
Setiap malam menjelang tidur, sebagian dari mereka bertanya-tanya dalam hati: apakah kami akan bangun esok hari?
Mereka mengira Lembah Kebebasan sudah hancur lebur.
Mereka mengira Dave telah gugur dan tak ada harapan lagi bagi mereka di dunia ini.
Namun tiba-tiba seseorang melihat seberkas cahaya ungu di ufuk langit.
“Apaan tuh?”
Seorang pembudidaya muda dengan pandangan yang tajam menjadi orang pertama yang melihatnya.
Ia berdiri di mulut lembah, menatap ke langit melalui celah-celah daun dan ranting pohon.
“Lihat, di atas sana!” serunya dengan suara yang gemetar.
Semua orang mendongak.
Sebuah cahaya ungu melesat dengan kecepatan yang luar biasa dari kejauhan, meninggalkan ekor yang menyala dan membelah langit menjadi dua bagian.
Cahaya itu tak menyilaukan mata, namun memiliki daya tarik yang magis sehingga tak ada satu pun yang mampu mengalihkan pandangan darinya.
Cahaya itu berhenti sejenak di angkasa, seolah merasakan sesuatu di bawah sana, lalu berbelok tajam dan melesat lurus menuju ke lembah persembunyian mereka.
Segalanya terjadi begitu cepat hingga tak ada yang sempat bereaksi.
Cahaya itu jatuh tepat di tengah tanah lapang.
Saat cahayanya memudar, sesosok tubuh berdiri tegak di hadapan mereka semua.
Ia mengenakan jubah biru tua yang sederhana namun rapi, sepatu biru muda, dan sebilah pedang yang sarungnya tampak kuno tersampir di pinggangnya.
Wajahnya tegas dan tenang, sepasang mata berwarna ungu bersinar terang di bawah cahaya senja, dikelilingi oleh kabut ungu yang samar namun menghangatkan segenap penjuru lembah itu.
“Dave!”
Semua orang tertegun kaku seolah tersambar petir.
Mereka mengira sedang bermimpi atau melihat bayangan semata.
Suasana menjadi sunyi senyap, hanya suara angin yang terdengar.
Seorang biksu yang masih muda adalah orang pertama yang sadar.
Ia melihat wajah itu, sosok yang memimpin mereka, sosok yang menembus barisan musuh, sosok yang dikabarkan tubuh dan jiwanya hancur oleh dua tetua tertinggi para dewa.
“Tuan Chen…”
Suaranya pecah karena terharu dan tak percaya. “Benarkah itu kau? Tuan Chen telah kembali!”
Dave menatap mereka satu per satu.
Wajah-wajah yang penuh ketakutan, tubuh yang penuh luka, dan pakaian yang berlumuran darah -- ia mengenali beberapa di antaranya, sebagian lagi hanya pernah bertemu sekilas, dan yang lain tak dikenalnya sama sekali.
Namun sorot mata mereka sama persis: sorot mata orang yang tiba-tiba menemukan secercah harapan di tengah kegelapan yang panjang dan mematikan.
“Aku datang menjemput kalian pulang,” katanya singkat namun tegas.
Hanya lima kata, namun membuat air mata mereka tumpah ruah.
Biksu muda itu jatuh berlutut dengan bunyi yang keras, menangis dan menggigil tak terkendali.
Biksu tua di sebelahnya memukul dadanya sendiri, seolah meluapkan segala ketakutan yang selama ini dipendamnya.
Yang lain saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu hingga tak sanggup berkata-kata.
Ada yang hanya berdiri diam dengan pandangan kosong, namun air mata mengalir deras di pipinya tanpa suara.
Ada pula yang bersujud hingga dahinya menyentuh tanah yang dingin itu, memanggil nama Dave dengan suara yang terisak-isak.
“Tuan Chen, kau masih hidup? Sungguh kau masih hidup?”
Seorang tetua berambut putih terhuyung-huyung mendekat, matanya penuh air mata. “Kukira… kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi di dunia ini.”
Dave menopang tubuh tua yang gemetar itu.
“Aliansi Dewa telah ku hancurkan sepenuhnya,” jawabnya tenang.
Tangisan itu seketika terhenti.
Keheningan melanda, lalu meledaklah kegemparan yang luar biasa.
“Hancur? Aliansi Dewa hancur? Kekuatan yang selalu menang itu… runtuh?”
“Dan Pattinson Wei? Di mana tua bangke penguasa gila itu?”
“Ia telah tewas oleh pedangku. Istana Agung mereka kini hancur rata dengan tanah. Mulai hari ini, tak ada lagi yang berani menindas kalian,” ucap Dave seolah sedang membicarakan hal yang paling biasa di dunia ini.
Namun tak ada yang menganggap ia melebih-lebihkan.
Mereka tahu, meskipun saat ini kekuatan Dave baru berada di tingkat keenam Alam Abadi Agung, namun saat ia berada di tingkat ketiga saja ia sudah nyaris tak terkalahkan di seluruh wilayah Surga ke-16.
Dan yang lebih penting lagi, mereka merasakan sesuatu yang tak terlukiskan dari sosok itu: sebuah keyakinan mutlak yang tak tergoyahkan.
Bukan kesombongan atau keangkuhan, melainkan keyakinan yang ditempa melalui ribuan pertempuran hidup dan mati.
Orang yang memiliki keyakinan seperti ini tak perlu bersuara keras.
Setiap katanya mengandung bobot bagaikan guntur langit.
Suasana kembali hening sejenak, namun kali ini hening yang penuh harapan.
Cahaya kehidupan kembali menyala di mata mereka yang tadinya redup.
"Aliansi Dewa sudah hancur! Kita selamat... Kita selamat!*
"Alhamdulillah..."
"Kita akhirnya bisa pulang..."
"Pattinson Wei gila itu sudah mati! Kita bebas!"
Tawa dan tangis bahagia bercampur menjadi satu, bergema di segenap penjuru lembah tersembunyi itu.
Orang-orang berpelukan, bersujud, menatap langit, dan menangis karena gembira.
Sebagian bersujud kepada Dave, sebagian lagi bersujud ke arah timur -- tempat asal mereka, Lembah Kebebasan.
“Lembah Kebebasan masih ada! Kita belum binasa! Tuan Chen telah kembali!” seru mereka bersahutan.
“Mari kita pulang,” kata Dave singkat.
Sorot matanya yang ungu itu tenang dan tak terbaca, namun ia mengangkat tangan kirinya.
Cahaya ungu yang lembut menyebar dan menyelimuti mereka semua, memberikan kekuatan dan ketenangan. “Mari kita kembali ke rumah kita.”
Bersambung....
Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️
Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :
https://link.dana.id/qr/4e1wsaok
Atau ke akun
SeaBank : 901043071732
Kode Bank Seabank untuk transfer (535)
Terima Gajih...☺️



No comments:
Post a Comment