"Rumah Kebakaran Malah Dikasih Ceramah"—Berhentilah Pakai Agama Buat Nutupin Salah!
Rakyat Kehilangan Pekerjaan, Bukan Kehilangan Iman!
Kenapa Kalimat "Allah Menjamin Rezeki" Sering Dipakai Buat Ngeles?
Aku sebenernya gak masalah sama kalimat "Allah menjamin rezeki". Wong itu emang ajaran Islam.
Gak ada yang perlu diperdebatkan.
Yang bikin aku garuk-garuk kepala tuh kenapa kalimat beginian sering nongol pas rakyat lagi nanya kenapa hidup makin susah.
Bayangin rumah mu kebakaran. Asap sudah masuk kamar. Anak bini batuk-batuk. Terus ada orang datang sambil bilang, "Tenang , semua yang hidup pasti mati."
Lah iya, bang. Bener. Tapi rumah ku lagi kebakaran, goblok. Aku lagi nyari ember, bukan nyari kata-kata mutiara.
Nah perasaan yang sama muncul waktu rakyat nanya kenapa dolar naik, kenapa harga barang makin ngawur, kenapa PHK di mana-mana, kenapa nyari kerja kayak nyari jarum di tengah sawah.
Yang ditunggu itu penjelasan.
Yang datang malah ceramah bahwa Allah menjamin rezeki.
Lah emangnya ada yang bilang Allah gak menjamin rezeki?
Masalahnya bukan itu.
Rakyat lagi nanya penyebab.
Yang dijawab malah pengalihan.
"Kenapa dolar naik?"
"Allah menjamin rezeki."
"Kenapa bahan baku mahal?"
"Allah menjamin rezeki."
"Kenapa usaha pada tumbang?"
"Allah menjamin rezeki."
Ya terus ngapain ada menteri ekonomi?
Ngapain ada bank sentral?
Ngapain ada rapat kabinet berjam-jam?
Ngapain ada triliunan duit negara buat ngurus ekonomi kalau semua pertanyaan soal ekonomi cukup dijawab dengan satu kalimat itu?
Lucunya gak ada negara di dunia yang berani konsisten pakai logika begitu.
Kalau ekonomi bagus, pertumbuhan naik, investasi masuk, lapangan kerja banyak, semua langsung sibuk tepuk dada.
Semua ngomong soal strategi, kebijakan, kepemimpinan, visi, program, dan seabrek istilah keren lainnya.
Tapi giliran ekonomi seret, rupiah megap-megap, rakyat ngos-ngosan, tiba-tiba semuanya dilempar ke wilayah takdir.
Kalau untung hasil kerja manusia.
Kalau buntung hasil kehendak Tuhan.
Enak bener mainnya.
Padahal dalam Islam sendiri gak ada ceritanya tawakal dipakai buat nutupin kesalahan manusia.
Kalau jembatan ambruk, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan ajal."
Kontraktornya tetap diperiksa.
Kalau pesawat jatuh, kita gak bilang, "Udahlah, Allah yang menentukan kematian."
Tetap dicari apa yang rusak.
Kalau kapal tenggelam, nahkodanya diperiksa.
Kalau rumah sakit salah kasih obat, dokternya dievaluasi.
Tapi begitu ngomong ekonomi negara, mendadak ada yang alergi sama pertanyaan.
Mendadak semua harus diam.
Mendadak semua harus pasrah.
Mendadak semua harus fokus ke langit dan lupa melihat apa yang terjadi di bumi.
Padahal akal juga ciptaan Allah.
Nanya penyebab masalah bukan dosa.
Mengkritik pengelolaan negara bukan dosa.
Cari tahu kenapa rakyat makin susah bukan dosa.
Justru yang aneh kalau semua masalah ditutup pakai slogan agama supaya orang berhenti berpikir.
Dan menurut ku di situlah letak masalah utamanya.
Kalimat ini mungkin terdengar menenangkan buat orang yang perutnya kenyang, rekeningnya aman, bisnisnya jalan, dan hidupnya nyaman.
Tapi coba ucapin ke orang yang baru di-PHK.
Coba ucapin ke bapak yang bingung bayar kontrakan.
Coba ucapin ke ibu yang duit belanjanya makin tipis tiap minggu.
Coba ucapin ke pedagang yang omzetnya ambruk.
Mereka bukan lagi mempertanyakan siapa pemberi rezeki.
Mereka sedang mempertanyakan kenapa jalan menuju rezeki terasa makin sempit.
Itu dua pertanyaan yang berbeda.
Dan ketika pertanyaan kedua dijawab dengan jawaban untuk pertanyaan pertama, yang lahir bukan ketenangan.
Yang lahir justru kesan bahwa ada yang sedang menghindari pembahasan inti.
Makanya banyak orang kesal bukan karena kalimat itu salah. Kalimatnya benar. Tapi benar saja gak cukup. Konteks juga penting.
Karena rakyat hari ini gak sedang kehilangan iman.
Mereka sedang kehilangan pekerjaan.
Mereka gak sedang bingung siapa yang menjamin rezeki.
Mereka sedang bingung kenapa akses mencari rezeki makin hari makin berat.
Dan kalau setiap keluhan ekonomi dijawab dengan "Allah menjamin rezeki",
ya sekalian aja bubarin kementerian, tutup rapat ekonomi, jual gedung lembaga negara,
Karena ternyata semua persoalan cukup diselesaikan dengan satu postingan Instagram.
Masalahnya dunia nyata gak bekerja seperti itu.
Islam pun gak mengajarkan seperti itu.
Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar, bukan tawakal untuk menggantikan ikhtiar.
Karena kalau tawakal dipakai buat menghindari pertanyaan terhadap manusia yang memegang kekuasaan, lama-lama agama berubah fungsi.
Bukan lagi menjadi cahaya yang menerangi masalah, tapi malah dijadikan selimut buat nutupin masalah.



No comments:
Post a Comment