Masih mau " istri di ratukan...? "
Istri saya kadang heran kepada saya. Sekadar membuat teh atau kopi, sekadar memasang sarung bantal, sekadar membuang puntung rokok di asbak, padahal itu pekerjaan yang saya dengan mudah bisa melakukannya sendiri. Tapi saya kerap meminta bantuan istri untuk dilayani.
Ingat, hanya kerap ya, berarti tidak selalu begitu yaa
Di rumah, saya ini kalau disuguhi teh atau kopi tidak pakai lepek, selera seruput minumannya langsung hilang, seperti ada rasa hampa. Karena merasa hampa, otomatis keluar protes dari saya.
Dan menyebalkan lagi, kadang cuma mau ganti celana dalam atau kaus dalam, istri yang harus keteteran mencarikan.
Saya pun menjelaskan kepada istri: "Iya, itu adalah kejelekan sifat pria. Tapi kalau karakter dilayani itu sudah hilang dari diri seorang pria, yang akhirnya si pria hanya berkarakter melayani, maka daya energi si pria untuk menarik rezeki juga melemah."
"Sebab rezeki deras itu datangnya kepada Sang Raja, bukan kepada si pelayan raja. Pria lebih nyaman dilayani karena mentalnya memang mental raja. Kalau mentalnya adalah mental pelayan, ya tahu sendiri, kan, kekuatan tarikan rezeki para pelayan raja?" Terang saya kepada istri.
Jadi, hai para istri, selagi suamimu masih di koridor kewajaran, tetap beri peluang dirinya sebagai raja. Rendahkan hatimu di depan suamimu untuk melayani hal-hal kekanak-kanakan seperti kelakuan saya di atas.
Karena mental raja di dalam diri suamimu itulah daya energi suamimu untuk menarik rezeki. Mental rajanya hilang, tarikan rezekinya juga melemah.
Mau rezekinya seret...?
Dan jangan salah paham! Bukan mutlak sebagai lelaki patriarkat yang apa-apa nyuruh istri, bukan itu.
Saling bantu urusan rumah tangga ya tetap, seperti suami bantu cuci piring, strika baju, memasak, dan lain-lain.
Hanya saja, jika muncul sifat kekanak-kanakan suami seperti minta dilayani hal-hal sepele, itu tanda energi raja suami. Itu sedang bekerja.
Ketika suami di rumah dilayani seperti raja, otak melakukan priming (penyiapan) agar pria tersebut merasa layak mendapatkan hal-hal besar di luar sana.
Ini berkaitan dengan konsep neuroplastisitas—yang membentuk jalur saraf "pemenang" melalui kebiasaan di rumah.
Suami itu oleh Allah diberi potensi bekal penarik rezeki yakni "energi sang raja" atau dalam Al-Qur'an disebut "energi al-qawwâm" (pemimpin).
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
"Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi istri." (QS An-Nisa: 34)
Sayangnya, banyak terlihat para suami yang kehilangan minat sebagai raja; ia hadir di tengah keluarga bukan berenergi raja, justru berenergi pelayan. Dia terlalu "neriman atau nerima ".
Dalam karier dia mengalah dengan istri.
Misalnya sama-sama PNS, yang didorong untuk berkembang malah karier istri.
Istri didukung sekolah agar naik jabatan, dia sendiri tidak minat menaikkan jabatannya, malah memilih bangun jam 03.00 pagi untuk menyiapkan sarapan istri yang nanti pagi mau masuk dinas dan sarapan anak-anak sekolah.
Istri didukung utuh untuk berpenghasilan lebih tinggi, misalnya didukung kerja di luar negeri.
Si suami tidak sadar bahwa matahari hanya boleh ada satu.
Ketika istri telah menjadi matahari, satu-satunya pilihannya adalah "cahaya suami"—sebagai pusat kosmik keluarga—harus padam.
Seorang pria, power energy-nya oleh Al-Qur'an diposisikan sebagai "Raja" di rumah.
Secara psikologis hal ini memperkuat rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri (self-efficacy).
Perasaan "berkuasa" di lingkup domestik ini kemudian diproyeksikan ke luar rumah sebagai energi untuk menaklukkan tantangan ekonomi.
Dalam filsafat kuno, raja itu pemegang keseimbangan kosmik. "Raja" adalah simbol ketertiban, penyedia, dan pusat energi.
Ketika segala hal terlalu "neriman" dari istri, atau bahkan masuk dalam kelompok "suami takut istri", secara otomatis energi kontrol dan kendali kosmiknya hilang, energi rajanya lenyap.
Padahal, rezeki gede itu datangnya kepada Sang Raja, bukan kepada yang lain.
Maaf, ini bukan saran agar suami arogan ataupun zalim kepada istri, atau memperbudaknya, bukan itu.
Tetapi dimaksudkan untuk menjaga konsistensi energi raja, karena suamilah "pusat energi di keluarga" yang berkewajiban menafkahi, mendidik, dan merawat keluarga.
Itu tanggung jawab dan tidak bisa dibuat main-main.
Dan kadang ada istri yang karakternya itu "Rematu", di ratukan, istri yang minta di ratukan
Rematu itu bahasa Jawa Banyumasan yang artinya bersifat seperti karakter Ratu.
Kalau jaman sekarang istilahnya " istri yang di ratu kan "
Sehingga suami kerap merasa enek dan tidak terlayani dengan baik. Karakter Rematu istri yang begitu itulah yang membubarkan kekuatan energi rezeki suami.
Istri berkarakter Rematu, ya kalau dia punya power business atau penghasilan sendiri, itu bagus-bagus saja karena rezeki keluarga nantinya bisa ditarik kuat oleh si istri yang Rematu itu. Dengan risiko si suami kalah power.
Tapi kalau si istri yang Rematu tersebut tidak bisa bisnis ataupun tidak punya penghasilan sendiri, itu yang cuma membubarkan rezeki suaminya. Penyakit kronis.


No comments:
Post a Comment