Banyak orang terjebak dalam "kesalehan semu"
Merasa lebih suci saat menderita,
Merasa lebih dekat dengan Tuhan saat hidup melarat,
Atau merasa rendah hati dengan berpakaian lusuh.
Padahal, seringkali di balik kain kasar dan perut yang lapar itu, terselip benih kedongkolan kepada takdir.
Inilah racun batin yang justru menjauhkan kita dari Sang Pencipta.
Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili membongkar rahasia Spiritual Prosperity yang revolusioner: Jangan tanggung dalam menikmati karunia Allah.
Dalam Kitab Minahus Saniyyah karya Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, beliau mencatat kalam Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili:
كُلُوا مِنْ أَطْيَبِ الطَّعَامِ، وَاشْرَبُوا مِنْ أَلَذِّ الشَّرَابِ، وَنَامُوا عَلَى أَوْطَأِ الْفِرَاشِ، وَالْبَسُوا أَلْيَنَ الثِّيَابِ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ وَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، اسْتَجَابَ كُلُّ عُضْوٍ فِيهِ لِلشُّكْرِ
"Makanlah dari makanan yang paling baik, minumlah dari minuman yang paling lezat, tidurlah di atas kasur yang paling empuk, dan pakailah pakaian yang paling lembut. Karena sesungguhnya, jika salah seorang dari kalian melakukan hal itu kemudian ia mengucap 'Alhamdulillah', maka setiap anggota tubuhnya akan merespons untuk ikut bersyukur."
Menurut Syaikh Asy-Syadzili, sikap rasa syukur pada kenikmatan seperti itu justru sangat berbeda dengan seseorang yang hanya mengonsumsi roti gandum yang tak sedap, berpakaian karung yang kasar, atau tidur beralas tanah,
Lalu berucap "Alhamdulillah" namun dibarengi dengan perasaan tidak sudi (ketidakikhlasan), menggerutu, dan dongkol terhadap takdir Allah.
Menurut Syaikh, dari sisi batin, orang yang dongkol tersebut menanggung dosa batin yang lebih besar dibandingkan mereka yang sungguh-sungguh menikmati dunia.
Mengapa?
Karena menikmati dunia yang halal adalah perkara yang mubah (diperbolehkan), sedangkan merasa tidak ridha dan dongkol terhadap pembagian Allah adalah sesuatu yang dilarang (haram).
Coba renungkan, mereka yang makan seadanya dengan rasa hambar, atau tidur di lantai yang dingin hanya untuk terlihat prihatin.
Jika di dalam hati mereka masih ada rasa "Mengapa hidupku begini?" atau "Kapan penderitaan ini berakhir?",
Maka ucapan syukurnya adalah sebuah kebohongan besar.
Spiritualitas bukan tentang menolak dunia, bukan tentang bokek mu, bukan tentang ketidakberdayaan mu mengubah keadaan, tapi tentang dirimu menyaksikan-Nya di setiap keadaan hidupmu.
Tuhanmu tidak butuh penderitaanmu, Dia hanya ingin kamu bersaksi atas segala Cinta-Nya melalui nikmat yang kau rasakan.
Esensinya: Kemewahan yang disyukuri jauh lebih mulia daripada kesederhanaan yang dikeluhkan.


No comments:
Post a Comment