Rasa zuhud terikat kuat dengan energi pelepasan dari keterikatan hati (non-attachment) terhadap hal-hal duniawi.
لَيْسَ الزُّهْدُ بِتَقَشُّفِ الْجُلُودِ، وَلَكِنَّهُ تَقَشُّفُ الْقُلُوبِ
"Zuhud itu bukan dengan menyiksa kulit (tampil kumal/miskin), melainkan dengan 'menyederhanakan' (melepaskan keterikatan) hati." (Hasan Al-Bashri)
Hal duniawi itu mafia penyiksa sadis. Anda memiliki duniawi, ia akan memaksa Anda menjadi budaknya.
Bayangkan, cuma gara-gara ingin punya Rp150 ribu, Anda diperbudak harus kerja bangunan 8 jam per hari.
Terima Rp150 ribu, tapi Anda tidak mau diperbudak kerja, harga diri Anda yang diinjak-injak.
Sementara tidak punya Rp150 ribu, ya Anda butuh.
Butuh tapi tidak punya, itu lebih sadis lagi penyiksaannya.
Mafia penyiksa, kan?
Tapi kalau duniawi tidak Anda miliki, Anda menjadi konyol. Lah, iya, kalau Anda tidak memiliki dunia, lalu apa yang mau Anda lepaskan untuk latihan zuhud?
Memiliki juga tidak, lalu apa yang mau dizuhudi...?
Tanpa memiliki duniawi, kok Anda mau latihan zuhud, itu ibarat petinju tanpa arena ring dan event. Konyol, kan?
Karena itu, kalau Anda mau konyol sekonyol-konyolnya, hiduplah anti kaya harta dengan alasan nasib dan takdir, lalu mengakulah zuhud. Hehehe..., tinju tanpa latihan, tanpa arena dan event, yang penting mengaku petinju profesional.
Zuhud itu hati yang non-attachment (tidak terikat), tentu salah satu tandanya ia piawai menguasai dunia sekaligus piawai melepaskannya.
Piawai menguasai, karena hati zuhud itu adalah kekuatan berkuasa, bukan kekuatan budak.
Untuk bisa berkuasa dan punya kendali penuh, ya Anda harus piawai memperoleh dunia.
Karena itu, punya harta, punya jabatan, punya pengaruh, punya kekuasaan itu rukun utama untuk peroleh kesadaran zuhud.
Karena kalau tidak piawai memperoleh dan mendapatkannya, berarti kedudukan Anda dikuasai dan dikendalikan dunia alias budak keset.
Anda pun tidak punya otoritas mengontrol dan mengendalikannya.
Ibarat main medsos, yang paling memahami algoritma itu konten kreator atau Anda yang aplikasi medsosnya saja tidak punya?
Tentu konten kreatorlah yang paling tahu algoritma. Ketika menguasai algoritma, ia bisa paham bagaimana mendatangkan followers dan bagaimana menendangnya.
Duniawi (harta, jabatan, pengaruh) juga begitu.
Yang paling paham menguasai dunia sekaligus melepaskannya (detachment) itu adalah orang yang memilikinya.
Nah, sesudah Anda memperoleh dunia, Anda harus piawai melepaskannya.
Tanpa attachment, dunia hanya akan memperbudak dan mengontrol Anda.
Salah satu proyeksi hati yang tidak terikat, ia enteng untuk mengeluarkannya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan:
الزَّاهِدُ مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا فِي يَدِهِ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِهِ، فَيَسْهُلُ عَلَيْهِ إِخْرَاجُهَا
"Orang zuhud adalah dia yang dunianya ada di tangan, bukan di hati. Maka, enteng baginya untuk mengeluarkannya."
Dan gemar belanja itu salah satu proyeksi hati yang enteng mengeluarkan harta.
Iya, kan, belanja itu melepaskan harta atau mengikatnya? Jelas, Anda melepaskan.
Saya pernah ke India, Kashmir, dan Pakistan bersama seorang grand syaikh sufi.
Di sana beliau shopping terus.
Saya tanya, "Kok doyan banget belanja, Syaikh?"
Jawabnya, "Kita adalah tangan-tangan Tuhan untuk mengalirkan rahmat-Nya. Para pedagang itu datang ke kita meminta dan memberi rahmat. Masa berbagi rahmat kok hitung-hitung, malah pelit?"
Zuhud kok mau belanja saja mikirnya panjang, sibuk dibisiki iblis, "Awas! Duitmu habis," "Eman-eman, loh!", "Hemat. Hemat. Hemat pangkal kaya, loh," dan lainnya.
Lah, iya, mengaku zuhud yang fokusnya hanya ke akhirat, tapi ada bansos, ngiler. Ada zakat, ngidam. Ada gratisan, nyengir.
Nanti giliran dimintai uang nafkah oleh anak istri, tersinggung.
Kalau tidak tersinggung, anak istri diceramahi, "Sabar. Kita fokus akhirat saja. Dunia hanya sementara."
Giliran punya utang, mengemplang. Giliran bayar biaya anak sekolah, alasan tak ada uang.
Jangan dibilang di dalam belanja itu tidak ada kesalehan sedekah.
Justru itu full sedekah yang malah memberdayakan.
Iya, Anda sedekah receh Rp 100 perak ke pengemis, pengemisnya tersinggung sakit hati.
Karena pengemis itu tidak produktif, ia ingin punya uang tapi memilih dengan sadar dengan cara membebani orang.
Coba Anda bawa uangnya ke warung. Di sana Anda beli mie goreng, itu pihak warung paling untung Rp 100 perak. Tapi warung tidak tersinggung.
Oleh warung, Rp 100 perak tersebut digunakan untuk menafkahi keluarga mereka dengan terhormat berjerih payah cari rezeki. Itu sedekah, kan?
Makanya, daripada uangmu dikasih-kasihkan ke pengemis dan peminta-minta, mending dibawa ke warung. Di warung malah sedekahmu jadi produktif.
Tapi hati-hati. Belanja bisa jadi tanda detachment (zuhud/pelepasan), tapi bisa juga tanda attachment (terikat).
Belanja menjadi attachment, ya, belanja menuruti gaya hidup, konsumtif, validasi sosial, dan lain-lain.
-



No comments:
Post a Comment