Photo

Photo

Friday, 1 March 2019

Kenapa Banyak Berdzikir Tanpa Mursyid Semakin Dekat Dengan Syaitan


Seorang murid bertanya kepada GURU nya Imam Al Ghazali

“ Syeikh, bukankah dzikir bisa membuat seorang beriman lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan syaitan akan berlari jauh darinya…? ”

“ Benar, ” Jawab Imam al-Ghazali.

“ Namun kenapa ada orang yang semakin rajin berdzikir justeru malah semakin dekat dengan syaitan…? ” Lanjut sang murid.

Gurunya yang diberi gelar Hujjatul Islam ini pun bertutur, “ Bagaimana pendapat-mu, Jika ada orang yang mengusir anjing, namun dia masih menyimpan tulang dan berbagai makanan kesukaan anjing di sekitarnya….? ”

“ Tentu, anjing itu akan kembali datang setelah diusir. ” jawab sang murid.

Imam al-Ghazali menjelaskan, demikian juga dengan orang-orang yang rajin berdzikir tapi masih menyimpan berbagai penyakit hati dalam dirinya. Syaitan akan terus datang dan mendekat bahkan bersahabat dengannya.

Penyakit-penyakit hati itu ialah seperti kesombongan, irihati, dengki, syirik, bersikap kasar, riya, merasa sholeh, merasa suci, ghibah, marah dan berbagai penyakit hati lainnya. Ketika penyakit-penyakit itu menghinggapi diri seorang hamba, maka syaitan terlaknat akan senantiasa datang, mengakrabkan diri, kemudian menjadi sahabat karibnya.

Inilah esensi dari dzikir yang kerap dilupakan oleh mayoriti kaum Muslimin. Mereka hanya fokus pada dzikir jahr dan melupakan dzikir sirr.

Meskipun, mereka masih lebih baik daripada orang buruk yang tidak berdzikir. Sebagaimana dinasihatkan oleh Imam Ibnu Athailah as-Sakandari, “ Orang yang lalai saat berdzikir lebih baik daripada orang lalai yang tidak berdzikir. ”

MAKA CARILAH GURU MURSYID AGAR TERBIMBING DZIKIR KITA....

Nasihat Bijak Para Kyai Sepuh Pengasuh Pesantren Lirboyo


Nasihat-nasihat bijak dari kiai atau tokoh yang paham agama harus disebarkan kepada masyarakat luas agar pesan yang disampaikan lebih masif mengingat di era digital ini sudah banyak terjadi kekeringan adab dan spiritual di kalangan umat Islam Indonesia. Berikut ini adalah pesan-pesan kiai sepuh ( masyayikh ) atau pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo yang patut Anda renungkan untuk disebarkan demi mencegah terjadi krisis adab negeri ini.

Para masyayikh Lirboyo yang sempat dikumpulkan dawuh-dawuhnya oleh para santri dari Muhammad Khoiron ini antara lain adalah KH Abdul Karim, KH Marzuki Dahlan, KH Mahru Ali, KH Maksum Jauhari, KH Imam Yahya Mahrus, KH Amda Idris Marzuki, KH Abdul Aziz Manshur, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Habibullah Zaini, KH Ma'ruf Zainuddin dan KH Rofi'i Ya'kub. Silakan disebarkan…

Yang penting ngaji. Walaupun anak seorang tukang ngarit tapi kalau mau ngaji, ya akan pinter. Anaknya orang alim tapi tidak mau ngaji, ya tidak akan pintar. Yang penting ngaji sing tenanan ( K.H Abdul Karim ).

Hasil Bahtsul Masail, Ceramah Abdul Doakan aku supaya jangan dulu meninggal sebelum bisa puasa selama 9 tahun seperti Mbah Khalil. Dan doakan aku juga supaya diakui santrinya Mbah Khalil. ( K.H Abdul Karim )

Yang dinamakan santri yang manfaat ilmunya adalah santri yang ilmunya bisa menuntun mereka meraih ridho Allah. Masalah keadaan tiap-tiap santri di rumahnya kelak, terserah gusti Allah. ( K.H Marzuqi Dahlan )

Jangan sekali-kali kalian menyakiti hati orang tua, terlebih-lebih ibu. Karena menyebabkan ilmunya tidak bermanfaat. ( KH. Marzuqi Dahlan )

Jika ingin tujuanmu tercapai, jangan makan nasi alias ngerowot. ( K.H Marzuqi Dahlan )

Banyak dan sedikitnya ilmu itu sebuah amanat jadi harus disebarkan. (K.H Marzuqi Dahlan)

Ingat kalau kamu jadi pemimpin, tolong hindari 2 masalah. Pertama, jangan sampai mata duitan. Kedua, jangan tergoda perempuan. Kalau bisa bertahan dari dua hal ini insya Allah selamat. (K.H Mahrus Ali)

Ngajarlah ngaji…! Kalau nanti kamu tidak bisa makan, kethoken kupingku. ( K.H Mahrus Ali )

Nabi Sulaiman itu sukses dalam 90 tahun dan Nabi Nuh sukses dalam waktu 900 tahun. Tetapi di dalam Al Quran, yang disebut ulul 'azmi adalah Nabi Nuh. Ini menunjukkan perjuangan dilihat dari kesulitan, bukan dari jumlah murid. ( K.H Mahrus Ali )

Saya dulu waktu di pondok tidak pernah membayangkan akan jadi kiai, tidak pernah membayangkan akan menjadi orang kaya. Akhirnya menjadi orang mulia seperti ini saya takut. Jangan-jangan bagian saya cuma ini saja, di akhirat tidak dapat bagian apa-apa. ( K.H Mahrus Ali )

Kalau ingin hidup mulia hormati orang tua, khususnya ibu. ( K.H Mahrus Ali )

Orang yang mempunyai ilmu sambil diriyadlohi dibanding dengan yang tidak diriyadlohi, itu hasilnya beda. Riyadloh yang paling utama adalah istiqamah. ( K.H Mahrus Ali )

Orang ingin sukses itu kuncinya menghormati istri. ( K.H Mahrus Ali )

Barang siapa yang tidak mati karena pedang, maka ia akan mati dengan sebab musabab lain. Sebab musabab kematian itu banyak, namun mati cuma sekali. ( K.H Maksum Jauhari )

Banyak orang yang ilmunya sedang-sedang saja Tapi betapa hebat manfaat dan barokahnya karena ditunjangi oleh sifat tawadhu’ dan banyak khidmah tholabul ‘ilmi. ( KH. Makshum Jauhari )

Menghormati guru harus menghormati apa yang dimiliki guru. ( K.H Maksum Jauhari )

Empat perkara untuk menjadi hamba Allah yang haqiqi adalah adab, ilmu, sidqu, dan amanah. ( K.H Imam Yahya Mahrus )

Santri kok pacaran berarti santri gadungan. Pernikahan yang berangkat dari pacaran biasanya tidak bahagia, karena saat pacaran yang di perhatikan hanya kebaikannya saja. Dan yang jelas menurut Islam pacaran itu dilarang. ( K.H Ahmad Idris Marzuqi)

Walaupun dirumah sudah menjadi tokoh masyarakat, bahkan menjadi wali. Kalau belum mengajar, masih kurang disenangi oleh mbah Abdul Karim. ( KH. Ahmad Idris Marzuqi )

Orang yang ahli baca shalawat, dzuriah dan anaknya akan gampang menjadi orang alim. Shaleh akhlaq dan tingkah lakunya. Kecerdasannya itu lain. ( K.H Ahmad Idris Marzuqi )

Ketika belajar di lirboyo jangan pernah putus asa apapun yang terjadi. ( K.H Ahmad Idris Marzuqi )

Santri kalau pulang harus bisa menjadi seperti paku yang bisa menyatukan berbagai lapisan masyarakat, meskipun dirinya tak terlihat. ( K.H Abdul Aziz Manshur )

Lisan hanya wasilah, dakwah sebenarnya ( dengan ) hati. ( KH. Abdul Aziz Manshur )

Jangan dikira umat islam benci dengan orang budha, tapi maksudnya.yang dibenci adalah agamanya. ( KH. Abdul Aziz Manshur )

Berbuatah kebaikan sesuai dengan keahlianmu. ( KH. Abdul Aziz Manshur )

Kekuatan manusia terbatas. kewajiban kita, ikhlas dan berdoa. jangan cuma, " Saya harus bisa begini ". ( KH. Abdul Aziz Manshur)

Puncak dari segala kenikmatan adalah meninggal dalam keadaan menetapi iman dan Islam. ( KH. Abdul Aziz Manshur )

Birrul walidain itu caranya bukan berarti orangtua kok di gendong ke sana ke sini. Tapi yang terpenting jangan menyakiti hati orangtua. ( K.H Anwar Manshur )

Hidup didunia ini kok terkena cobaan, jangan heran. itu sudah menjadi ketentuannya. ( KH. Anwar Manshur )

Amalkanlah ilmu yang kalian peroleh sambil tetap mencari ilmu. Karena mencari ilmu itu tetap diwajibkan sampai akhir hayat. (KH. Anwar Manshur)

Kita harus benar-benar ikhlas dalam berjuang. Jangan sampai mengharapkan pamrih dari segala sesuatu yang kita sumbangkan kepada masyarakat dan bangsa. (KH. Anwar Manshur)

Harganya seseorang adalah ilmu dan pengamalannya. (K.H Anwar Manshur)

Sebaik-baiknya orang itu, orang diajak maling, malingnya malah sadar. Sejelek-jeleknya orang, orang diajak maling malah ikut jadi maling. Jangan mudah terbawa zaman, sekarang sudah tidak karuan. Jangan ikut-ikutan tidak karuan. (K.H Anwar Manshur)

Orang sukses dan alim tentu ada hubungan dengan orangtua dan kakeknya. (KH Abdullah Kafabihi Mahrus)

Perjuangan membutuhkan pengorbanan. Kejayaan membutuhkan perjuangan. (KH. Abdullah Kafabihi Mahrus)

Syaithon mengoda dengan cara apapun. Kadang dengan pemikiran. Ini yang berbahaya, maka tafakkur harus didasari ilmu. (KH. Abdullah Kafabihi Mahrus)

Yang bertanggung jawab terhadap NU adalah santri, karena NU lahir dari kalangan pesantren. (KH Abdullah Kafabihi Mahrus)

Yang serius belajarnya! Mumpung masih muda. Kalau sudah tua pasti nambah repot, karena tidak ada orang tua yang tidak repot. (KH Habibullah Zaini)

Jangan takut ketika tidak bisa bekerja, tapi takutlah ketika hanya bisa bekerja. Pendidikan di Lirboyo bukan untuk bekerja, tapi untuk dakwah. (KH Ma'ruf Zainuddin)

Harus punya tanggung jawab, kewajiban orang yang mencari ilmu harus belajar. Kewajiban orang yang mempunyai ilmu harus mengajar. (KH. Ma'ruf Zainuddin)

Ilmu itu amanah, harus dipegang teguh dan disampaikan kepada yang berhak. (KH. Rofi'i Ya'kub)

Wejangan, petuah, atau maqalah para kiai Lirboyo di atas bukan saja penting untuk kalangan santri tapi juga untuk pembentukan karakter anak negeri ini yang makin ke sini kian terkikis adab dan cara bergaul dengan sesama. Intinya, para kiai tetap mengajak selalu kepada jalan dakwah dan kebenaran, bukan hanya hidup untuk bekerja. " Jangan takut ketika tidak bisa bekerja, tapi takutlah ketika hanya bisa bekerja, " demikian kata KH. Ma'ruf Zainuddin

Semoga kita mendapat asror barokah madad ulum fuyudhot para kyai sepuh tersebut diatas aamiin

Caci Maki Bukan Ajaran


Habib Ali Al Jufri: Caci Maki Bukan Ajaran

Intisari ajaran Islam adalah menciptakan perdamaian dan menghargai keberagaman. Nilai-nilai toleransi dan sopan santun adalah buah dari keindahan ajaran Islam.

Namun mutakhir ini, caci maki dan bahasa kasar acap kali digunakan oleh pemuka agama terutama di mimbar-mimbar keagamaan. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan misi ajaran Nabi yang ingin membawa Islam sebagai agama yang beradab dan penuh dengan kedamaian.

Habib Ali Al-Jufri menyayangkan para pendakwah yang kerap membawa materi kebencian di mimbar agama tersebut. Menurut Habib Ali AL-Jufri, pendakwah yang isinya selalu memprovokasi umat untuk membenci sesama umat muslim dan umat agama lain adalah pendakwah yang tidak patut diikuti, karena dakwah dengan kebencian sejatinya hanyalah hasutan belaka.

Ulama asal Mekkah yang terkenal karena kedalaman ilmunya itu bersyukur mengenal Islam bukan dengan cara kekerasan.

Menurutnya, Islam yang diajarkan secara keras akan berbuah konflik di tengah masyarakat. Jika dakwah disampaikan dengan cara yang santun, maka masyarakat pun akan lebih menerima isi daripada dakwah tersebut.

“ Ketika aku mendengar orang bicara atas nama Islam dengan bahasa yang kasar dan caci maki, aku bersyukur kepada Allah tidak memahami Islam lewat lisan mereka, ” terang Habib Ali.

Pesan yang dikemukakan oleh Habib Ali mengandung makna Islam adalah agama yang damai dan toleran terhadap semua perbedaan. Sifat yang kasar dan mencaci maki adalah sifat yang tidak diajarakan oleh Nabi, bahkan Nabi tidak sepakat dengan Islam yang disampaikan secara keras tersebut, dan tentu saja dakwah yang keras dan caci maki bukanlah ajaran Islam.

Perintah Kaisar Naga : 7045 - 7049

 Perintah Kaisar Naga. Bab 7045-7049 * Menyadari Tipu Muslihat * Dua puluh ribu kultivator penegak hukum telah menarik kembali formasi merek...