Photo

Photo

Thursday, 26 February 2026

Cari Istri Nafkah 3 Juta Dihina 'Miskin', Netizen Skakmat Cewek Halu: Skincare-mu Lebih Mahal dari Harga Dirimu?

 "Viral Pria Jujur Gaji UMR Dihujat 'Modal Kelamin', Netizen: Istri di Desa Makan Apa Kalau 3 Juta Masih Kurang?"



Ada seorang cowok, lagi cari istri.

Kalimatnya gini: “Lagi cari istri yang bisa aku nafkahi 3 juta/bulan”


Itu saja. Bukan maksa, bukan ngejar cewek cantik standar tertentu yang mesti langsing, putih, tinggi, dll. 


Gak.. dia cuma jujur soal penghasilannya dan bertanya siapa yang berminat.


Tapi kolom komentarnya dipenuhi perempuan-perempuan kasar dan merendahkan.


Ada yang bilang biaya perawatan anjingnya saja lebih mahal dari itu. 

Ada yang pamer rincian biaya hidup: apartemen, skincare, jajan dan kehedonannya di Jakarta. 

Ada yang bilang, “Mas nikah jangan modal kelam!n doang”.


Padahal, kalau memang 3 juta gak cukup buat kamu, ya skip aja. 

Kenapa kamu harus menghina sambil menekankan bahwa kamu setinggi dan se-high maintenance itu?


Karena tanpa sadar, yang direndahkan bukan cuma si cowok aja loh, tapi juga: 

1. Istri-istri yang ‘hanya’ dinafkahi 3 juta oleh suaminya

2. Keluarga-keluarga dengan ekonomi pas-pas-an, meskipun sudah banting tulang tapi baru segitu yang bisa mereka dapatkan

3. Orang-orang di desa yang hidup tanpa pekerjaan yang jelas dan cuma ngandelin hasil kebun

4. Dll


Tiga juta itu sekitar 100 ribu sehari. Di Jakarta mungkin terasa sempit. Di kota kecil? Masih banyak yang hidup bahkan jauh di bawah itu dan masih bisa makan dengan layak.


Secara statistik, rata-rata penghasilan masyarakat Indonesia memang tidak tinggi, kok. 

Banyak kategorinya juga, buka aja di BPS, intinya penghasilan 3 juta per bulan itu sangat umum. Kelas menengah ke bawah jauh lebih besar populasinya dibanding kelas “hedon di sosmed”


Masalahnya, sosial media bikin kita bias. Kita terus-terusan disuguhi postingan liburan ke luar negeri, apartemen city view, influencer beli baju tiap hari, ganti iphone tiap ada yang baru keluar, dll 

Padahal itu bukan gambaran kehidupan mayoritas orang Indonesia.


Ironisnya gaya hidup konsumtif itu sering dibiayai oleh penonton yang justru bukan dari kelas atas. Kita yang nonton, kita yang beli, kita yang mengidolakan mereka, lalu kita juga yang jadi insecure, dan kemudian kita berubah jadi menghina pria yang gajinya UMR. 


Yang lebih berbahaya lagi, perempuan lain jadi merasa “kalau di bawah 3 juta berarti ngenes.”

Padahal tadinya dia oke aja dengan itu.


Udah, jangan terpengaruh perempuan halu sok berkelas itu, dalam pernikahan bukan cuma soal angka, ada proses, usaha dan visi bertumbuh. 

Toh kita bukan anak pejabat yang hidup pake uang korup. 

Proses ‘jadi’ kita mungkin gak secepat mereka dan itu gak apa apa banget kok. 

Asal suami masih mau bekerja dan berusaha tumbuh..


Kalau memang standar kamu cowok dengan penghasilan 30 juta per bulan, ya silakan. 

Fokus cari cowok di circle itu, ngapain ngurusin cowok random si sosial media sampe menjatuhkan mental mereka.


Dan di sisi lain, perempuan juga perlu jujur ke diri sendiri. 

Selain ingin “diratukan”, kita bawa apa ke meja? 

What do you bring to the table? 

Ok, melahirkan, menyusui, membesarkan anak itu memang gak gampang, tapi sadar gak, rata rata perempuan yang diratukan itu mereka juga punya value? 

Entah karena kebaikan dan kelembutannya, kecerdasannya, kestabilan emosionalnya, yaa mereka pasti punya sesuatu yang membuat pria baik dan pekerja keras attact ke mereka.


Jadi jangan kira dengan punya standar tinggi, kamu akan otomatis mendapatkan pria kaya. 

Udah ah jangan sok paling tinggi kamu tuuu.. nanti halu dan jadi banting stir kerja yang engga-engga. Huft..🤭



.

No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 6422 - 6425

 Masih kosong