Pernah gak lo ketemu orang yang makin dia jelasin sesuatu, kok makin kelihatan… gak meyakinkan?
Awalnya dia keliatan pinter. Terus dia nambah penjelasan. Terus nambah lagi. Terus nambah lagi. Sampai di satu titik, lo bukan makin yakin — lo malah mulai mikir: “Ini orang kenapa sih kayak takut banget gak dipercaya?”
Nah. Di situ masalahnya.
Mulut itu kebocoran.
Kebanyakan orang gak sadar: setiap kali mereka ngomong, mereka bukan cuma nyampein ide. Mereka lagi buka peta isi kepala mereka sendiri. Dan makin panjang mereka ngomong, makin kelihatan bentuknya: takutnya di mana, pengennya apa, paniknya segimana, niat aslinya ke mana.
Makanya ada tipe orang yang baru buka mulut dua kalimat, tapi suasana ruangan langsung berubah. Bukan karena dia pinter banget. Tapi karena dia gak ngasih cukup data buat orang lain buat “ngebaca” dia.
Manusia itu gak tahan sama kekosongan. Kalau lo diem, otak orang lain yang kerja. Mereka nebak-nebak sendiri. Dan masalahnya, tebakan manusia itu hampir selalu lebih berlebihan daripada kenyataan.
Lo diem dikit, mereka mikir: “Ini orang pasti punya rencana.” Lo diem agak lama, mereka mikir: “Ini orang bahaya.” Padahal bisa aja lo cuma capek.
Tapi persepsi udah keburu kebentuk.
Sekarang bandingin sama orang yang kebanyakan ngomong.
Dia jelasin A. Terus nambah B. Terus klarifikasi C. Terus ngeralat D. Terus ngasih contoh E. Terus nambah konteks F.
Di kepala lawan bicaranya, yang kebaca bukan “oh ini orang teliti”. Yang kebaca justru: “Ini orang gak pede sama omongannya sendiri.”
Semakin banyak lo nambah kata, semakin kelihatan lo lagi nutupin sesuatu.
Ada cerita klasik soal seorang jenderal Romawi Coriolanus namanya. Di medan perang, dia legenda. Semua orang takut. Semua orang kagum. Tapi begitu masuk politik, dia hancur.
Kenapa?
Karena dia gak bisa ngerem mulutnya.
Dia terlalu jujur. Terlalu frontal. Terlalu suka nunjukin betapa dia ngerasa lebih tinggi dari orang lain. Setiap pidatonya bukan cuma nyampein ide — tapi juga nyampein isi kepalanya yang paling jelek: sombong, meremehkan, gak sabaran.
Rakyat yang tadinya kagum, jadi muak. Bukan karena idenya salah. Tapi karena mulutnya keburu ngebuka siapa dia sebenarnya.
Dia gak dijatuhin musuh. Dia dijatuhin sama kata-katanya sendiri.
Sekarang bandingin sama tipe penguasa yang lain. Yang kalau ditanya, jawabannya pendek. Kadang malah cuma: “Aku pikir dulu.”
Dan habis itu… diem.
Di ruangan rapat, yang lain gelisah. Yang lain ngomong panjang-panjang. Yang lain debat, saling serang, saling bocorin kartu. Si dia? Dengerin.
Lucunya, justru dari omongan mereka itulah dia dapet semua peta: siapa pengen apa, siapa takut sama siapa, siapa bisa ditekan lewat mana.
Yang banyak ngomong lagi buka isi tasnya di meja. Yang diem lagi ngitung langkah.
Ini bukan soal sopan santun. Ini soal posisi.
Di dunia nyata, yang pertama kali bocor itu hampir selalu yang kalah posisi tawar.
Makanya lo perhatiin: orang yang kebanyakan klarifikasi biasanya bukan lagi nguatkan posisi — dia lagi defensif. Lagi panik. Lagi ngerasa harus ngejelasin diri.
Dan begitu lo ngerasa harus ngejelasin diri… di situ sebenernya posisi lo udah geser.
Ada prinsip yang kejam tapi jujur: manusia lebih menghormati apa yang gak mereka pahami sepenuhnya.
Yang terlalu transparan kelihatan murah. Yang nyisain ruang kosong kelihatan dalam.
Dan ruang kosong itu diisi sendiri oleh imajinasi mereka. Biasanya dengan versi yang lebih serem, lebih hebat, lebih besar dari aslinya.
Tapi jangan salah. Ini bukan berarti lo harus jadi patung bisu.
Ada kalanya lo justru harus cerewet. Bukan buat jujur. Tapi buat ngibulin. Buat ngasih asap. Buat bikin orang ngeliat ke arah yang salah.
Kadang, banyak bicara itu bukan tanda bodoh — tapi strategi kamuflase.
Orang ngira lo cuma tukang ngoceh. Padahal lo lagi nyembunyiin sesuatu yang jauh lebih penting.
Masalahnya, kebanyakan orang gak sadar mereka lagi pakai mulut sebagai senjata… atau justru sebagai tali gantungan buat diri sendiri.
Mereka ngomong karena pengen kelihatan pinter. Mereka ngomong karena gak tahan sama sunyi. Mereka ngomong karena takut disalahpahami.
Dan justru karena itu, mereka jadi gampang kebaca.
Dalam hidup, dalam politik, dalam konflik, dalam negosiasi, bahkan dalam nulis:
Yang bikin kuat bukan seberapa banyak yang lo omongin. Tapi seberapa banyak yang lo tahan buat gak lo omongin.
Karena sekali kata keluar, dia gak bisa ditarik balik.
Dan sering kali, harga satu kalimat itu mahal dari yang lo kira.
Masih ada satu lapisan yang belum kebongkar. Dan ini justru bagian yang paling berbahaya.
Selama ini kita ngomongin soal mulut sebagai kebocoran. Soal diam sebagai senjata. Tapi ada satu hal yang lebih dalam: orang jarang jatuh karena musuhnya pinter. Mereka jatuh karena mereka sendiri pengen didengar.
Ada candu bernama: pengakuan.
Manusia punya kebutuhan aneh buat merasa penting. Dan kebutuhan ini sering nyamar jadi “cuma pengen jelasin”, “cuma pengen lurusin”, “cuma pengen biar orang paham”.
Padahal kalau ditarik ke akar, sering kali itu cuma: pengen diakui.
Dan begitu lo pengen diakui, lo mulai kebanyakan ngomong.
Lo mulai buka-buka cerita yang sebenernya gak perlu. Lo mulai ngasih konteks yang gak diminta. Lo mulai nambahin detail yang gak ada gunanya. Dan tanpa sadar, lo lagi ngasih lawan lo bahan mentah.
Banyak orang nyangka mereka jatuh karena dijebak. Padahal sering kali mereka jatuh karena mereka sendiri yang cerita terlalu banyak.
Interogasi paling efektif di dunia itu bukan ancaman. Tapi keheningan.
Satu orang diem, satu orang gak tahan. Yang gak tahan ini akhirnya ngomong. Dan tiap dia ngomong, dia ngerasa lagi ngontrol situasi. Padahal justru sebaliknya: dia lagi ngasih potongan puzzle ke orang yang sabar.
Dan ini gak cuma kejadian di ruang interogasi. Ini kejadian di tongkrongan, di rapat, di podcast, di kolom komentar, di timeline.
Siapa yang paling sering blunder? Yang paling sering ngetik.
Siapa yang paling jarang kebakar? Yang jarang kelihatan.
Ada ilusi berbahaya: kalau lo diem, lo dikira kalah. Padahal sering kali yang sebenernya kalah itu justru yang keburu buka mulut duluan.
Perhatiin orang kalau lagi debat.
Yang posisinya lemah biasanya:
Nambah volume suara
Nambah panjang kalimat
Nambah banyak pembelaan
Yang posisinya kuat biasanya:
Jawab pendek
Ulangin satu poin
Atau malah diem
Karena dia gak butuh ngeyakinin. Dia nunggu lawannya capek sendiri.
Ada juga satu jebakan lagi: merasa paling ngerti.
Begitu seseorang ngerasa dia “harus” ngomong karena dia ngerasa paling paham, di situ biasanya awal kejatuhannya. Dia mulai ceramah. Mulai meremehkan. Mulai kehilangan rasa bahaya.
Dan orang yang kehilangan rasa bahaya itu biasanya tinggal nunggu waktu.
Dalam politik, dalam konflik, dalam kekuasaan, yang bikin orang tumbang itu jarang kebodohan. Yang bikin orang tumbang itu kecerobohan yang lahir dari kepercayaan diri berlebihan.
Mulut adalah tempat kepercayaan diri bunuh diri pelan-pelan.
Dan ada satu hal lagi yang lebih kejam: kata-kata bukan cuma ngasih tahu orang lain siapa lo. Kata-kata juga ngunci lo ke posisi tertentu.
Sekali lo ngomong A, lo susah belok ke B. Sekali lo terlanjur ngegas, lo susah pura-pura santai. Sekali lo buka sikap, lo kehilangan fleksibilitas.
Orang yang banyak ngomong itu kaku. Karena dia sudah mengikat dirinya sendiri dengan ucapannya sendiri.
Orang yang irit ngomong itu lentur. Dia bisa belok. Bisa mundur. Bisa nyerang. Tanpa harus jelasin apa-apa.
Dan ini yang jarang disadari: diam itu bukan kosong. Diam itu nyimpen kemungkinan.
Kemungkinan buat berubah sikap. Kemungkinan buat ganti strategi. Kemungkinan buat ninggalin orang lain kejebak sama asumsi mereka sendiri.
Sementara orang yang keburu ngomong, biasanya mati di posisi yang dia bangun sendiri.
Makanya ada satu kebijaksanaan yang kelihatannya sederhana tapi sebenernya sadis:
Kalau lo gak harus ngomong, jangan ngomong.
Bukan karena lo gak punya pikiran. Tapi karena dunia ini penuh orang yang pengen banget lo buka pikiran lo… biar mereka bisa pakai itu buat ngalahin lo.
.


No comments:
Post a Comment