Jangan Pakai Jargon 'Umat' Kalau Manajemen Masih Tertutup!"
Pendapat jujur saya sebagai seorang konsultan ya. Mari kita bedah dingin-dingin, tanpa baper dan tanpa membela siapa pun.
1. Kritiknya kena sasaran, bener
Keluhan soal:
✅️tanah wakaf,
✅️bangunan dari donasi,
✅️tapi biaya masuk & SPP mahal,
Itu pertanyaan yang sah2 saja, bukan nyinyir sih.
Di manajemen modern (termasuk manajemen Islam), ini disebut accountability gap.
Kalau lembaga:
✅️aset awalnya wakaf & donasi, tapi operasionalnya terasa seperti sekolah elite komersial, maka publik wajar bertanya: “Donasi itu dipakai untuk apa?”
2. Tapi… asumsi “wakaf = sekolah harus murah” tidak selalu benar, Ini bagian yang sering keliru.
Wakaf bukan otomatis berarti:
✅️semua gratis
✅️SPP harus murah
Wakaf itu: menghilangkan biaya aset (tanah, bangunan),.bukan menghilangkan biaya operasional.
Guru, listrik, makan santri, perawatan, mutu pembelajaran, itu semua tetap butuh uang.
Masalahnya bukan mahal atau murah.
Masalahnya: apakah biaya itu adil, transparan, dan sebanding dengan manfaatnya?
3. Yang sering bermasalah justru ini
Banyak lembaga jatuh bukan karena SPP mahal, tapi karena:
A. tidak ada laporan wakaf & donasi yang jelas
B. wakaf “diklaim untuk umat”, tapi manfaatnya eksklusif
C. narasi dakwah dipakai, tapi manajemennya tertutup
D. gaya hidup pengelola tidak mencerminkan ruh wakaf
Di titik ini, kritik seperti di postingan jadi tamparan yang pantas.
4. Pertanyaan paling adil seharusnya begini
Bukan: “Kenapa SPP mahal?”
Tapi:
Wakaf menurunkan biaya apa saja?
Donasi dialokasikan untuk apa?
Ada subsidi silang atau tidak?
Berapa persen santri dhuafa yang benar-benar terbantu?
Apakah laporan keuangan dibuka ke publik?
Kalau ini dijawab dengan jujur, kritik akan reda sendiri.
5. Lembaga Islam tidak boleh alergi kritik.
Karena:
✍️wakaf = amanah publik,
✅️donasi = harta umat.
Kalau tidak siap transparan, jangan pakai jargon wakaf & umat.
✍️ Catatan
Manajemen Amanah: Mengapa Laporan Keuangan Adalah Kunci Kepercayaan Publik

No comments:
Post a Comment