Perbedaan hari raya sering kali membuat langit terasa lebih ramai daripada biasanya. Bukan oleh takbir, tetapi oleh tanya: “Besok Id atau lusa?”
Padahal, seperti guyon KH. Hasyim Muzadi, yang berbeda itu hanya tanggalnya—bukan shalatnya, bukan takbirnya, bukan Tuhannya.
Ibadahnya sama. Langitnya sama.
Yang berbeda hanya cara manusia membaca awal bulan.
NU menunggu hilal seperti menunggu tamu di depan pintu: harus terlihat dulu, baru dipersilakan masuk.
Muhammadiyah cukup dengan kepastian bahwa tamu itu sudah berada di perjalanan, secara hisab sudah sampai waktunya.
Dua cara melihat waktu. Bukan dua agama.
Suatu ketika, cerita beliau, Pak Jusuf Kalla gelisah melihat umat yang seolah punya dua kalender. Lalu lahirlah usul yang sangat khas dunia perdagangan: Muhammadiyah turun satu derajat, NU naik satu derajat.
Sebuah kompromi matematis.
Tetapi fikih bukan transaksi di pasar yang bisa ditawar di tengah. Kebenaran metodologis tidak mengenal diskon. Maka usul itu ditanggapi dengan senyum: logika pedagang tidak selalu bisa dipakai untuk ilmu falak.
Yang lebih penting bukan menyatukan tanggal, tetapi menyatukan pemahaman bahwa perbedaan itu memang mungkin terjadi.
Sebab bahkan bumi sendiri tidak punya satu waktu yang seragam.
Orang berangkat dari Narita hari Jumat sore, sampai di California masih Jumat pagi. Apakah harus shalat Jum'at dua kali?
Orang terbang dari New York ke Jakarta, tiba-tiba kehilangan hari Sabtu. Apakah hari itu batal dalam takdir?
Tanggal ternyata bukan sesuatu yang absolut. Ia hanya kesepakatan manusia membaca gerak bumi.
Maka perbedaan 1 Syawal seharusnya tidak lebih besar daripada perbedaan zona waktu.
Dan di titik ini, humor KH. Hasyim Muzadi berubah menjadi pelukan.
Hubungan NU dan Muhammadiyah, kata beliau, kini seperti dua sahabat yang sering satu panggung. Bahkan, beliau berseloroh, dirinya lebih sering diundang Muhammadiyah daripada Pak Din diundang NU.
Tentang Pak Din yang disebut “mantan NU” karena tidak betah dengan orang NU yang “kumuh”, itu bukan ejekan—itu cara seorang kiai mencairkan tembok identitas dengan tawa.
Karena di balik guyon itu ada pengakuan: kita berbeda dalam gaya, bukan dalam cita-cita.
NU kuat di akar rumput, di langgar, di kampung, di tradisi yang hidup.
Muhammadiyah kuat di sistem, di universitas, di rumah sakit, di manajemen modern.
NU sulit serapi Muhammadiyah.
Muhammadiyah sulit seakar NU.
Maka keduanya bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk dipasangkan.
Seperti sandal.
Kanan dan kiri tidak pernah sama bentuknya. Tetapi justru karena itu ia bisa dipakai berjalan.
Dan sejarah republik ini berdiri di atas jejak dua sandal itu. Hadratussyekh Hasyim Asy’ari.
Kiai Ahmad Dahlan. Dua nama, satu arah: Indonesia.
Di titik itu, perbedaan furu’—bahkan ibnul furu’—menjadi kecil. Yang besar adalah wawasan keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang sama.
Mereka tidak sedang mendirikan organisasi untuk menang sendiri.
Mereka sedang menanam rumah bersama.
Maka setiap kali kita ribut soal tanggal, mungkin kita lupa bahwa kita ini sedang berjalan memakai sepasang sandal.
Kalau yang satu dilepas, kita memang tetap bisa berdiri. Tetapi kita tidak akan bisa berjalan jauh.
.


No comments:
Post a Comment