Kisah Inspiratif
Di tempat kerja saya berdebat dengan seorang anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah.
GM bawahan saya heran. "Kok Pak Budi sabar banget?"
Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya.
Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja.
Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan.
Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya.
Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi.
Dalam berbagai training saya bilang," Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja.
Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan."
Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja.
Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka.


No comments:
Post a Comment