Anggaplah kamu lagi ketiban durian runtuh, tapi duriannya hasil nyolong—hasil korupsi misalnya.
Taruhlah ada 200 Miliar cash di depan mata. Masalahnya, uang sebanyak ini tuh penyakit kalau gak pinter ngelolanya.
Kalau kamu langsung gas beli mobil sport atau jam tangan mewah, radar PPATK bakal langsung bunyi nguung-nguung.
Kenapa? Karena profil belanja kamu gak nyambung sama setoran pajak mu.
Ibaratnya, gaji UMR tapi gaya hidup Sultan, itu mah namanya mancing petugas pajak dateng ke rumah sambil bawa surat cinta.
Langsung kamu setor ke bank juga bunuh diri; setor tunai di atas 500 juta itu otomatis masuk laporan transaksi mencurigakan.
Biar aman, ini cara yang sering dipake orang-orang di luar sana.
Tapi ya ingat, kamu kan orang baik. Niat gak punya, bakat nggak ada, peluang juga nol.
Anggap saja ini tambahan wawasan biar kalau lagi nonton film crime atau denger gosip pejabat, kamu bisa jelasin ke anak atau mertuamu dengan gaya pro.
1. PLACEMENT (Titipin Saja Dulu)
Tahap pertama, kamu harus masukin uang itu ke sistem keuangan tanpa bikin orang kaget.
Caranya? Investasi ke bisnis yang perputaran uang cash-nya kenceng dan susah dihitung manual.
• Pilih Bisnisnya: Kafe, warung makan, laundry, tempat cuci mobil, atau bengkel.
• Main Cantik: Jangan cuma satu, buka di banyak tempat.
Gak perlu mikir balik modal cepet (ROI), yang penting uang "masuk" dulu.
Di dunia akuntansi, ini disebut "Smurfing"—memecah transaksi gede jadi recehan supaya gak narik perhatian bank.
• Hasilnya: Tiap bulan kamu dapet setoran bagi hasil.
Bank gak akan curiga kalau tiap minggu ada masuk 20-30 juta ke rekeningmu.
Kalaupun ditanya, kamu punya bukti fisik: "Nih, kafe saya rame, ini laporan penjualannya."
Padahal mah, laporannya sudah kamu "masak" alias dikondisikan.
2. LAYERING (Bikin Labirin)
Uang yang sudah di bank tadi jangan didiemin.
Kamu harus bikin jejaknya jadi ribet kayak labirin biar penyidik pusing nyarinya.
Ini intinya memutus rantai asal-usul uang.
• Putar Terus: Dari rekening bisnis, pecah lagi ke beberapa rekening berbeda.
Pakai uang itu buat beli aset yang harganya "gelap" atau subjektif.
Contoh: Barang antik, lukisan, atau koleksi jam langka.
• Jual Lagi: Kamu beli lukisan di satu kota, jual lagi ke orang di luar negeri atau luar pulau dengan untung tipis.
Hasil penjualan itu sekarang statusnya resmi: "Uang hasil jualan aset."
• Faktanya: Barang seni sering dipake buat layering karena gak ada standar harga pastinya.
Kamu bisa beli lukisan 1 Miliar terus kamu klaim laku 2 Miliar, siapa yang mau protes?
Jejak haramnya pun makin pudar ketutup transaksi jual-beli ini.
3. INTEGRATION (Gabung Lagi)
Setelah muter-muter di labirin, sekarang uangnya udah keluar dalam kondisi "bersih" dan siap dipake buat gaya hidupmu.
• Waktunya Hedon: Sekarang kamu bebas mau beli rumah mewah Mentereng, mobil mewah, atau liburan keliling dunia.
Kalau tetangga julid atau ada intel nanya, kamu tinggal tunjukkan portofolio bisnis kafenya dan bukti transaksi jual-beli barang antik mu.
Aman, rapi, dan terlihat sukses jalur halal.
Tapi Inget...
Kekayaan mendadak yang gak sebanding sama jumlah pajak yang kamu bayar itu adalah alarm paling berisik buat penegak hukum.
Sekarang sistem perbankan sudah canggih, ada yang namanya Automatic Exchange of Information (AEOI) yang bisa ngintip rekening kamu sampai ke luar negeri.
Salah langkah sedikit, yang ada bukannya dapet passive income, kamu malah dapet rompi orange gratisan dan menginap di hotel prodeo.
LEVEL TERTINGGI
Oke, mari kita masuk ke level yang lebih "pro".
Kalau cara tadi masih main di level lokal, Perusahaan Cangkang (Shell Companies) ini adalah senjatanya para pemain kelas kakap.
Kita masukin bagian ini di antara Layering dan Integration ya, biar makin kerasa labirinnya.
Tambahan Pro-Tips: Main Cantik Pakai "Perusahaan Cangkang"
Kalau kamu ngerasa buka kafe atau jualan lukisan masih terlalu "kelihatan" orang, para pemain besar biasanya pakai trik Shell Companies.
Ini kayak kamu punya bungkus permen, tapi gak ada permennya. Kosong, cuma bungkus doang.
• Bikin PT di "Surga": Kamu bikin perusahaan di negara-negara Tax Haven (surga pajak) kayak Panama, British Virgin Islands, atau yang deket sini kayak Labuan di Malaysia.
Di sana, rahasia identitas pemilik perusahaan itu dijaga ketat banget.
• Namanya Pinjam Orang: Perusahaan ini gak punya kantor fisik, gak punya karyawan, dan gak jualan apa-apa.
Namanya pun biasanya pake nama orang lain (nominee), entah itu supir, asisten, atau orang yang dibayar buat pinjem KTP-nya.
• Transaksi Fiktif: Caranya, perusahaan cangkangmu di luar negeri ini ngirim tagihan ke bisnismu yang di Indonesia.
Bilangnya sih "Jasa Konsultan" atau "Lisensi Software".
Kamu transfer deh uang 200 Miliar itu ke sana sebagai pembayaran.
• Fakta Pendukung: Teknik ini sempet bikin heboh dunia waktu kasus Panama Papers dan Pandora Papers bocor.
Ternyata, ribuan orang kaya dan pejabat di seluruh dunia punya "perusahaan hantu" ini buat menyembunyikan aset dan menghindari pajak.
Gimana Cara Uangnya Balik ke Kamu?
Nah, ini bagian paling jenius sekaligus jahatnya.
Setelah uangnya ada di rekening perusahaan cangkang di luar negeri, kamu bisa bawa balik uang itu ke Indonesia dengan status "Investasi Asing".
Jadi, seolah-olah ada investor luar negeri yang tertarik sama bisnismu dan nyuntik dana gede.
Padahal? Ya uang kamu sendiri yang diputer lewat luar negeri.
Tetangga dan pemerintah bakal ngeliat kamu sebagai pengusaha hebat yang dapet kepercayaan dari investor global.
Padahal itu cuma aksi "cuci tangan" di baskom yang berbeda.
Penutup Tambahan: Tapi ya itu tadi, sepinter-pinternya tupai melompat, sekarang udah ada AEOI (Automatic Exchange of Information).
Negara-negara sekarang sudah mulai saling lapor kalau ada rekening "gendut" milik warga asing.
Jadi, ruang gerak perusahaan cangkang ini makin sempit dan makin gampang diendus sama Ditjen Pajak.
Ujung-ujungnya kembali lagi: Rompi orange gak pernah salah pilih ukuran buat mereka yang gak jujur.
=


No comments:
Post a Comment