Photo

Photo

Saturday, 17 January 2026

Dunia Ibarat Bayangan. Dikejar Lari, Dibelakangi Malah Ngikut



“Aduh, maksudnya gimana sih?”

Tenang… ini bukan puisi biar keliatan dalem. Ini kejadian sehari-hari, cuma sering gak kita sadari.


Kalimatnya gini:


Dunia ibarat bayangan. Dikejar lari, dibelakangi malah ngikut.


Sekilas emang kayak kata² manis.

Tapi prakteknya jelas dan nyata.


Contoh paling dekat πŸ‘‡


πŸ’Έ Uang

Makin dikejar dengan panik → makin habis buat nutup rasa takut.

Begitu kamu fokus kerja rapi, jujur, dan tenang → rejeki pelan² nemu jalannya sendiri.


🀝 Pengakuan

Makin pengen diakui → makin capek jaga citra.

Begitu kamu sibuk benerin kualitas diri → pengakuan datang tanpa diminta.


😌 Bahagia

Dikejar pake target & pembanding → stres.

Dibelakangi dengan hidup hadir di hari ini → rasa cukup muncul diam².


Nah, “membelakangi dunia” itu bukan kabur ke gunung.

Tapi nurunin posisi dunia:


— bukan jadi tujuan hidup


— cukup jadi alat


❓: Jadi maksudnya kita gak boleh ngejar apa²...?

πŸ‘‰ Bukan gitu. Yang bikin capek itu ngejar pake takut, bukan ngejarnya.

Kerja boleh. Punya target boleh.

Tapi kalau isinya panik, iri, bandingin hidup orang → dunia jadi bayangan yang lari.



❓: Contoh takut itu gimana?

πŸ‘‡

– kerja karena takut miskin

– berbuat baik karna takut dihukum

– tampil bagus karena takut dinilai

Itu semua bikin batin tegang → hasilnya sering gak nyampe.



❓: Terus “membelakangi dunia” prakteknya apa?

πŸ‘‡

– fokus ke cara hidup, bukan ke hasil

– benerin niat & kualitas, bukan ngejar validasi

– hadir di hari ini, bukan kebanyakan skenario besok


Dunia itu peka.

Begitu kamu berhenti ngoyo, ia berhenti lari.



❓: Tapi kenyataannya hidup butuh uang & sistem, bro...

πŸ‘‰Betul.

Makanya yang dibelakangi itu ketergantungan batin, bukan dunianya.

Kamu tetap kerja, tapi gak nyandera harga diri di situ.



❓: Tanda kita sudah “membelakangi” dunia apa?

πŸ‘‡

– hasil gak bikin mabuk

– gagal gak bikin hancur

– jalan tetap dijalani meski tepuk tangan sepi


Di situ dunia mulai “ngikut”.

Bukan karena kamu sakti,

tapi karna batinmu gak lagi kejar-kejaran dengan bayangan.



❓: “bro...  gampang ngomong… kamu belum berkeluarga & belum punya tanggung jawab ekonomi!”

πŸ‘‰ Justru konsep ini lahir dari orang² yang hidupnya berat, bukan dari orang rebahan.


Di tasawuf, inti ajarannya bukan kabur dari dunia, tapi menata hubungan batin dengan dunia: kerja jalan, tanggung jawab jalan, tapi hati gak disandera hasil.


Al-Ghazali ngebahas tawakkul (pasrah yang matang) sambil tetap mengakui sebab-akibat & kerja (usaha). Jadi bukan “lepas tangan”, tapi lepas tegang. 


❓: “Ini beneran apa cuma dongeng kata² manis?”

πŸ‘‰Beneran. Ini kajian peradaban yang berabad-abad:

— Tasawuf nyebutnya tawakkul & zuhd (detachment batin).

— Leluhur Jawa nyebutnya nrimo ing pandum (menerima hasil, tapi tetap jalan & sadar).


Britannica sendiri mendefinisikan zuhd sebagai “detachment” (bukan anti-dunia, tapi anti-keterikatan mewah yang membutakan). 

Dan nrimo ing pandum di kajian 2026 ditegaskan bukan pasrah kosong, tapi sikap mental aktif yang menyeimbangkan ambisi dengan ketenangan. 


❓: “Tapi kalau gak ngejar dunia, anak-istri makan apa?”

πŸ‘‰ Nah ini salah paham klasik.

“Membelakangi dunia” = bukan berhenti cari uang.

Itu artinya:


1. Kamu tetap kerja

2. Kamu tetap ngatur strategi

3. Tapi kamu berhenti naruh harga diri & ketenangan di hasil yang belum tentu.


Ibn ‘Atha’illah (Hikam) dijelasin gini: ambil sebab/ikhtiar itu bagian dari tawakkul—hasilnya serahkan. 


———


❓: “Oke, penerapannya apa? Biar gak teoritis.”

πŸ‘‰ Contoh paling realistis, buat yang punya tanggungan:

— Kerja tetap jalan, tapi panik dikurangi.

— Uang dicari, tapi gak dijadikan Tuhan kecil.

Budget rapi, hidup secukupnya. Ini ruh zuhd: hati yang gak dikuasai benda. 

— Masalah diselesaikan, bukan dipelihara.

Hati jangan tiap hari dipaksa nyembah takut.


Latih “nrimo” versi waras:


“Aku terima realita hari ini” + “aku tetap bergerak memperbaiki”. 


❓: “Jadi intinya apa sih, 1 kalimat aja?”

πŸ‘‰Kerja yang keras, hati yang longgar.

Itu tawakal. Itu nrimo. Itu inti laku.


 πŸŒΏ✨


Saat dunia bukan pusat, batin berhenti tegang.

Dan anehnya… justru di situ dunia mulai “ikut”.


Coba jujur ya…

selama ini kamu ngejar sesuatu karena cinta,

atau karena takut ketinggalan?


Tulis di komentar kalau mau.

Bukan buat pamer jawaban,

tapi buat ngaca pelan² 🌿✨


Kadang yang perlu dibelakangi itu bukan dunia…

tapi ketakutan di dalam diri sendiri.


 ... 


Rahayu πŸ™✨


3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Keduanya enggak,, cinta atau pun takut ketinggalan.
    Berbagi pengalaman ya
    Saya tdk perduli dgan apapun,, saya menjd diri saya sendiri.
    Dan saya org jawa dan sdah menemukan arti nrimo ing pandum

    ReplyDelete

Negeri Ramah Penjahat: Membela Diri = Melanggar Hukum?

  Di Amerika πŸ‡ΊπŸ‡Έ, kalau ada maling bersenjata nekat congkel jendela rumah orang, si pemilik rumah boleh ambil senjata dan dor! πŸ”« Negara bi...