Photo

Photo

Sunday, 17 September 2017

Wanita Ini Bukan Mencari Pekerjaan Tapi Malah Dicari Pekerjaan, Apa Rahasianya….??

Alhamdulillah, untuk kesekian kalinya, Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya. Istri dari seorang sahabat , mengamalkan 2 amalan ini :

1. Hasbunalloh wa ni'mal wakil 450x setiap sehabis sholat 5 waktu
2. Shollallohu 'Ala Muhammad 15.000x dalam sehari semalam

Hajatnya ingin cepat mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah, tidak sampai 1 bulan, pekerjaan itu yang mendatanginya. Bukan dia yang kesana kemari melamar pekerjaan itu.

Silahkan diamalkan buat para sahabat yang membutuhkan. Rutin. Istiqomah. Yakin. Mujarab.

Salam hormat takdzim,

Alfaqir: Muhammad Itsna Hambali

Friday, 15 September 2017

Urgensi Khilafah Dalam Ranah Politik Islam

Urgensi khilafah dalam ranah politik Islam sebagai simbol pemersatu kaum Muslimin dan lambang kejayaan umat Islam di masa silam memang benar. Para ulama telah memaparkan pentingnya khilafah serta segala hal yang terkait dengannya dalam kitab-kitab mereka. Tetapi lebih penting dari itu, harus dijelaskan pula bahwa khilafah bukan termasuk rukun iman dan bukan pula rukun Islam. Hujjatul Islam al-Ghazali berkata:“Kajian tentang imamah (khilafah) bukan termasuk hal yang penting. Ia juga bukan termasuk bagian studi ilmu rasional, akan tetapi termasuk bagian dari ilmu fikih ( ijtihad ulama ). Kemudian masalah imamah berpotensi melahirkan sikap fanatik.

Orang yang menghindar dari menyelami soal imamah lebih selamat dari pada yang menyelaminya, meskipun ia menyelaminya dengan benar, dan apalagi ketika salah dalam menyelaminya”.(al-Iqtishad fi al-I’tiqad, (Beirut: al- Hikmah, 1994), hal. 200, (edisi Muwaffaq Fauzi al-Jabr).

Fatwa al-Azhar juga menegaskan bahwa : “ Sistem khilafah, imarah, pemerintahan, presiden republik dan lainnya adalah sekedar sebuah istilah, bukan termasuk nama dalam agama dan bukan hukum agama ” ( Fatawa al-Azhar 7 / 359 )

Sabda Rasulullah bukanlah sekedar ucapan yang berdasarkan nafsu, melainkan berdasakan wahyu kepadanya ( al- Najm: 3-4 ), dalam masalah Khilafah Rasulullah telah membatasinya dengan masa, tidak berlaku untuk selamanya.

Rasulullah Saw bersabda:“al-Khilafatu fi ummatii tsalaatsuna sanatan, tsumma mulkun ba’da dzalika”. Artinya: “Usia khilafah dalam umatku adalah 30 tahun, kemudian setelah itu adalah sistem kerajaan ” ( HR Ahmad No 21978 dan Turmudzi No 2226, ia mengatakan : ‘ Hadis ini hasan ’ ) Kebenaran hadis ini telah diteliti oleh ahli hadis al-Hafidz as-Suyuthi, beliau mengatakan : “ Masa Abu Bakar menjadi Khalifah adalah 2 tahun, 3 bulan dan 10 hari. Umar adalah 10 tahun, 6 bulan dan 8 hari. Utsman adalah 11 tahun, 11 bulan dan 9 hari. Aliadalah 4 tahun, 9 bulan dan 7 hari ”
( Tuhfat al-Ahwadzi Syarah Sahih Turmudzi 6 / 8 ). Jika digenapkan maka telah sesuai dengan hitungan Rasullah, yaitu sekitar 30 tahun

Point utama kejayaan Islam bukan karena khilafah, kalaupun karena khilafah itu tidak lepas dari kehebatan personal dan pribadi para Khulafa’ ar-Rasyidin yang banyak dipuji oleh Rasulullah dalam hadis-hadis sahih. Namun secara umum Rasulullah memberi penjelasan yang indah : “ Inna shalaaha awwali hadzihi al-ummati bi az-zahaadati wa alyaqiini wa halaakuhaa bi al-bukhli wa al-amali”.

Artinya:“Sungguh kejayaan generasi awal umat ini adalah dengan sifat zuhud ( tidak cinta dunia ) dan keyakinan. Dan kehancuran generasi akhir umatku adalah dengan kikir dan angan-angan panjang ” ( HR Ahmad dalam az-Zuhd, Thabrani dan Baihaqi dari Amr bin Syuaib )


Mengenang kembali dan bernostalgia tentang kejayaan Islam di masa Khalifah hanyalah semakin membuat mimpi yang tak berkesudahan. Sebab di samping pentingnya membuat sebuah sistem, ada hal yang jauh lebih penting, yaitu membentuk kesalehan individu, komunitas dan akhirnya akan terbangun kesalehan sosial, sebagaimana Rasulullah Saw telah berhasil menjadikan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali sebagai pemimpin yang luar biasa hebatnya sebagai pengganti Rasulullah Saw. Sementara dari segi dalil, mendirikan khilafah yang dikumandangkan saat ini bukanlah berdasarkan dalil yang pasti dan akurat, melainkan berdasarkan asumsi yang justru bertolak belakang dengan pendapat mayoritas ulama. Maka tepatkah mendirikan ‘sesuatu yang besar’ yang didasarkan pada pondasi agama yang rapuh

MATA KETIGA DAN MAHKOTA

Dikatakan Ketika Shiva membuka Mata Ketiga nya, semuanya terbakar... itu bukan arti sebenarnya, ada pesan lain di dalam nya..

Intinya, Mata Ketiga akan terbuka ketika energi naik ke pusat yang lebih tinggi di dalam tubuh kita ( mata ketiga / kelenjar pineal ), energi ini boleh disebut Kundalini, Yoga atau apapun.. Yang jelas ketika energi ini mulai naik ke Mata Ketiga, tiba-tiba saja kita akan memiliki persepsi yg berbeda, yang disebut dengan Kejernihan Persepsi..

Dari Muladhar / Chakra Dasar naik ke Ajna / Mahkota ada banyak cara, banyak jalan. Untuk membuat seseorang mencapai Kejernihan Persepsi secara Intelektual, ini Mata Ketiga.. Ketika persepsi jernih, tak lagi dapat diganggu oleh Dunia.. Adalah kesadaran pada Mata Ketiga.. Tetapi keadaan ini bukan Estatik, belum Samadhi.. Hanya Persepsi yg Jernih saat Ajna/Mata Ketiga mulai terbuka.. Ada banyak jalan / metode / teknik untuk mencapai titik ini.. Tetapi dari Chakra Ajna naik ke Sahashar / Mahkota, tidak ada jalan.. Untuk mencapai mahkota dari mata ketiga hanya ada The Pathless Path.. Jalan tanpa Jalan...

Sahashar / Mahkota hanya bisa dicapai ketika semua upaya / jalan / metode akhirnya dilepaskan.. Sedang untuk membuka mata ketiga banyak metode atau jalan dapat dilakukan / dilatih.. Mata Ketiga bisa membuat seseorang Damai.. Peacefull.. Karena kejernihan persepsi..

Ketika Mata Ketiga terbuka kita mulai melihat kehidupan, hal-hal, melampaui fisik.. Persepsi melampaui fisik.. Bahwa kita bukan hanya fisik..


Mahkota dapat membuat seseorang memiliki pengalaman Estatik, Selalu, bahagia, sangat bahagia, bahkan tanpa alasan untuk bahagia.. Banyak knowledge / pengetahuan dibutuhkan untuk mencapai Mata Ketiga..

Tapi untuk mencapai Sahashar / Mahkota semua knowledge justru harus dilepaskan.. Sahashar hanya bisa dicapai dengan Keadaan / kesadaran Ketiadaan / Nothingness.. Hanya ada dua cara untuk mencapainya :

1. Jika kamu cukup gila untuk masuk ke kondisi ketiadaan / nothingness / tanpa pemikiran.


2. JIka kamu sangat mempercayai seseorang sehingga kamu akan melakukan apapun kata-katanya, sehingga ketika ia mengatakan, "jump / lompat ke nothingness / ketiadaan / tanpa pemikiran, kamu akan jump / lompat.."

Perintah Kaisar Naga : 7045 - 7049

 Perintah Kaisar Naga. Bab 7045-7049 * Menyadari Tipu Muslihat * Dua puluh ribu kultivator penegak hukum telah menarik kembali formasi merek...