Photo

Photo

Tuesday, 1 August 2017

KISAH SEORANG WALIYULLAH DENGAN PAKAIAN LUSUHNYA

Seorang WALIYULLAH dengan pakaian kumal datang memohon sumbangan ke rumah seorang saudagar kaya.

Saudagar kaya itu merasa sebal dengan penampilan si WALI itu dan mengusirnya pergi dengan kata-kata kasar.

Beberapa hari kemudian seorang WALI besar datang dengan jubah keagamaan yang mewah dan berkilauan, memohon sedekah ke saudagar kaya tersebut. Si saudagar kaya segera menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan makanan mewah untuk si WALI BESAR. Lalu ia mengajak si WALI untuk menikmati makanannya.

Si WALI menanggalkan jubah keagamaannya yang mewah, melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di atas kursi meja makan. Katanya, “kemarin aku datang dengan pakaian usang dan anda mengusirku. Hari ini aku datang dengan pakaian mewah dan anda menjamuku. Tentunya makanan ini bukan untukku tapi untuk jubah ini”.

Setelah berkata demikian WALI tersebut berlalu, meninggalkan si saudagar yang kaget. Lantas WALI itu menyimpulkan : “ Kalau ternyata bukan diriku, melainkan pakaianku yang dihormati, mengapa aku mesti senang...??”

“Dan kalau ternyata bukan diriku, melainkan apa yang kupakai yang dihina, mengapa aku mesti sedih..??”

Demikianlah manusia, lebih sering menghormati yang melekat pada diri orang, seperti : - apa yang dipakai (pakaian dan accesorisnya) atau - kekayaan atau - jabatan seseorang, BUKAN PRIBADI keberadaan orang itu sendiri.

Maka…  Jika engkau dihormati orang, janganlah bangga diri.

Dan kalau pun jika engkau tidak dihormati, jangan kecewa dan bersedih diri, sebab..engkau tetap sebuah harga.

Siapapun yang merendahkan kamu saat ini, jangan sampai membuat kamu runtuh, bangkitlah dan tetaplah teguh.


Wallahu a'lam bittaufiq

USTADZ MATRE DAN AGAMA MATERIALISME

Wis rek, gak usah ngrasani Ustadz Koplak….eh, Ustadz Kentu….upss sori, Ustadz mbuh sopo iku…! Wadoh lambeku rek. Banyak soal yang lebih asyik untuk ditulis. Daripada mbahas pakaian mana yang lebih baik, gamis atau batik. Bakalan nggak ada ujungnya.

Tulisan ini sebenarnya lebih cocok untuk diri saya sendiri, sebagai pengingat. Nggak ada maksud menggurui dan mempengaruhi. Kalau nggak suka, skip saja, anggaplah ini pendangkalan akidah, beressss.

Kuamati, ustadz yang kariernya cepat meroket sekarang ini adalah jenis ustadz yang mengiming-ngimingi umatnya cepat kaya (materi) melalui ibadah. Mengajarkan umatnya materialistis. Menjadikan agama tidak lebih dari transaksi dagang. Pasti anda tahu lah siapa ustadz yang saya maksud.

Ustadz yang mengajarkan kesejatian hidup, shalawatan, dan semacam itu, agak sulit kariernya (walau mereka juga tidak menjadikan ustadz sebagai profesi).

Karena agama utama seluruh dunia di zaman sekarang adalah materialisme. Beragama tapi dengan cara berpikir materi. Beribadah hanya ingin dapat laba. Rajin shalat Dhuha agar diterima jadi PNS, pengusaha, atau ingin kaya. Naik haji ingin tokonya laris. Sedekah ingin dapat kembalian berlipat. Ingin masuk surga pun karena kerinduan materialistis.

Dalam beragama cara berpikirnya masih jasad. Pahala dibayangkan sebagai duit, emas, akik, mobil mewah, bidadari sexy (maka nggak heran kalau berharap surga agar bisa pesta seks). Itu jenis ibadah level terendah.

Menjadikan Tuhan sebagai mitra bisnis. Nggak ada imbalan, malas ibadah.

Ciri khas penganut agama dengan pola pikir materi adalah agama hanya dijadikan pelarian saat "kalah". Lari ke Tuhan hanya saat lagi miskin, susah, butuh sesuatu, mengincar laba berlipat-lipat. Setelah kaya atau pas nggak butuh, lupa agama. Ada juga yang ahistoris, buka usaha nggak bismillah, tapi saat bangkrut nangis Bombay minta tolong Tuhan.

Yo wis lah, no problem, semua butuh proses. Cuman nek iso ojok suwe-suwe di level itu (tapi aku sendiri masih di level itu, ojok ngomong sopo-sopo). Karena sebenarnya itu rugi. Walau semua orang pasti melalui proses itu.

Seperti anak kecil yang diiming-imingi es krim dulu agar mau berbuat baik, karena belum paham manfaat dari berbuat baik.

Kata Simbah, Ibadah itu dalam rangka bersyukur. Sedekah itu berbagi rezeki, tidak mencari rezeki. Fokuskan ibadah hanya pada (untuk) Tuhan. Nggak usah mikir laba, karena pasti dapat. Tapi jangan terlalu berharap laba itu selalu berupa materi. Lha wong dikasih hidup dan dijadikan manusia saja itu sudah karunia yang luar biasa.

Maka sebenarnya nggak pantas manusia beribadah berharap laba. Tapi Tuhan senang mendengar hamba-Nya berdoa.


Banyak buku atau status di medsos, shalat dihubungkan dengan kesuksesan materi. Memang ada hubungannya, tapi menghubung-hubungkan shalat dengan materi itu merusak esensi shalat. Shalat itu menjaga hubungan baik (silahturahim) kita dengan Allah. Soal nanti kamu dikasih kekayaan atau nggak, itu urusan Allah.

Nggak pakai shalat pun semua orang bisa kaya.

Ada seseorang yang saya kenal, shalatnya jos gandos selalu di masjid, tapi tetap jadi kuli bangunan sampai sekarang. Nasibnya tidak berubah. Mungkin Tuhan tidak memberi kekayaan materi, tapi berupa kekayaan yang lain. Misal diberi ketenangan hidup, kere tapi ayem. Nggak punya uang, tapi ada saat dibutuhkan. Dan hati yang damai itu jauh lebih kaya dari harta yang paling mewah di dunia ini.

Jadi jangan dipikir orang yang sukses dan kaya raya itu selalu karena rajin shalat atau ibadahnya bagus. Juga jangan dipikir kalau miskin itu karena kurang shalat atau jarang ibadah. Hidup itu nggak hitam putih. Mangkane ojok kakean nonton sinetron.

Dan jangan salahkan Tuhan kalau kamu rajin shalat, sering istighosah, tapi tetep awet kere. Terus mangkel karo wong cino. Soale ndelok wong cino sing nggak tau shalat, nggak pernah istighosah, tapi sugih pol, uripe makmur. Tuhan pun digugat, "Sampeyan iku ya'opo se Tuhan, jarene Rahman Rahim, aku wis istighosah ping sewidak jaran kok tetep kere ae. Gak asyik sampeyan!"

Aplikasi dari materialisme adalah kapitalisme. Dari pembekakan kapitalisme munculah industrialisme. Selanjutnya dari Industrialisasi tumbuhlah hedonisme, cara hidup yang berlebih-lebihan. Lihat orang sekarang yang nggak cukup punya satu atau dua akun medsos, semua aplikasi medsos punya akunnya. Sehingga
separuh hidupnya habis untuk nulis status dan separuhnya lagi untuk membalas komennya.

Sekarang, gaya hidup hedonis ini benar-benar melanda negeri, sadar atau tidak. Rakyat Indonesia khususnya yang hidup di kota, mulai memasuki era mampu beli mobil. Hidup di kampung dengan jalan sempit, nggak punya garasi, memaksakan diri punya mobil. Akibat jaga gengsi, semua teman-temannya pada punya mobil.

Oala, woles ae Sum…..

Gaya hidup hedonis membuat pelakunya jadi konsumerisme. Membeli sesuatu yang sebenarnya nggak butuh butuh amat atau nggak sesuai sikon. Sudah tahu gundul tapi beli sisir. Sudah tahu nggak ada tempat parkir kok beli mobil. Itu memperkosa fakta namanya. Dan semua kekonyolan itu muaranya karena menyikapi agama dengan pola pikir materi.

Jadi sekarang monggo, mau beragama dengan cara yang sejati atau pola pikir materi. Sakarepmu, pilih yang the best atau bedes. Semua tergantung pada hati, pikiran dan iman anda masing-masing. Tapi yang jelas iman tidak bisa distandarisasi.


Wis ah, cukup. Sori tidak menerima perdebatan. Matur nuwun.

SURAT AL-IKHLAS UNTUK SEGALA HAJAT

Salah satu khasiat Surah al-lkhlash adalah untuk tercapainya hajat dan tujuan baik sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian 'Ulama', Caranya: Anda baca Surah al-Ikhlash sebanyak 1000 kali, setelah itu Anda panjatkan doa ini:

أَللّٰھُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ یَاوَاحِدُ یَااَحَدُ یَافَرْدُ یَاصَمَدُ یَامَنْ لَمْ یَتَّخِذْ صَاحِبَةً وَلاَ وَلَدًا یَامَنْ لَمْ یَلِدْ وَ لَمْ یُوْلَدْ وَلَمْ یَكُنْ لَھُ كُفُوًا اَحَدْ . أَسْئَلُكَ بِحَقِّ أَسْمَائِكَ الْعِظَامِ وَاَنْبِیَائِكَ الْكِرَامِ
اَنْ تُسَخِّرَ لِيْ خُدَّامَ ھٰذِهِ السُّوْرَةِ اْلعَظِیْمَةِ عَبْدُكَ عَبْدُ الرَّحْمٰنِ وَعَبْدُكَ عَبْدُ الصَّمَدِ وَعَبْدُكَ عَبْدُ الْوَاحِدِ یَكُوْنُوْا لِيْ عَوْنًا عَلٰى قَضَاءِ حَوَائِجِيْ اَلْعَجَلُ اَلْعَجَلُ اَلُوْحًا اَلُوْحًا
.اَلسَّاعَةُ اَلسَّاعَةُ بَارَكَ لٰلهُّ فِیْكُمْ وَعَلَیْكُمْ وَصَلَّى لٰلهُّ عَلٰى سَیِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِھٖ وَ صَحْبِھٖ وَ سَلَّمَ

Allohumma innii as-aluka yaa wahiidu, yaa ahadu, yaa fardu, yaa shomadu, yaa man lam yattakhidz shoohibatan wa laa waladaa, yaa man lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahuu kufuwan ahad. As-aluka bihaqqi asmaaikal idhoomi wa anbiyaaikal kiroom, an tusakhkhiro lii khuddama haadzihiz suurati 'adhiimati, 'Abdaka 'Abdul Rohmaan, wa 'Abdaka 'Abdul Shomad, wa 'abdaka 'Abdul Waahid. yakuunuu lii aunan 'alaa qodhooi hawaaijii, al 'ajal 2x, al waahaa 2x, as sa'ah 2x. Baarokallaahu fiikum wa 'alaikum wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu, wahai Tuhan Yang Maha Esa, wahai tuhan Yang Maha tunggal, wahai tuhan yang menjadi tempat bergantung setiap makhluk, wahai tuhan yang menjadi tempat bergantung setiap makhluk, wahai Tuhan yang tidak memiliki istri dan tidak pula memiliki anak, wahai tuhan yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada seorang pun yang menyamaiNya! Aku memohon kepadaMu dengan kemuliaan naman amaMu yang agung dan Nabi-nabiMu yang mulia, sudilah kiranya Engkau menundukkan khadam surah yang agung ini kepadaku ! Yaitu hambaMu Abdul Rahman, hambaMu Abdul Shamad, hambaMu 'Abdul Wahid, agar mereka membantuku dalam tercapainya semua hajatku. Cepat ...! Cepat ! Sekarang… Sekarang...! Detik ini juga…. ! Detik ini juga… ! Semoga Allah memberkahi untuk dan dalam diri kalian. Rahmat dan salam sejahtera semoga terlimpahkan kepada Junjungan kami Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat beliau ”.

Do'a Surah al-ikhlash yang pendek ini (hendaknya) dibaca di pagi hari sebanyak 3 kali berguna untuk terkabulnya hajat apa saja. Yaitu :

بِسْمِ لٰلهِّ الرَّحْمٰنِ الرَّحِیْمِ وَ صَلَّى لٰلهُّ عَلٰى سَیِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِھٖ وَ صَحْبِھٖ وَ سَلَّمَ قُلْ ھُوَ لٰلهُّ اَحَدْ لَیْسَ كَمِثْلِھٖ اَحَدٌ لاَتُسَلِّطْ عَلَيَّ اَحَدٌ وَلَا تُحَوِّجْنِيْ اِلٰى اَحَدٍ وَاَغْنِنِيْ
یَارَبِّ عَنْ كُلِّ اَحَدٍ بِفَضْلِ قُلْ ھُوَ لٰلهُّ اَحَدْ لَٰلهُّ الصَّمَدْ لَمْ یَلِدْ وَ لَمْ یُوْلَدْ وَلَمْ یَكُنْ لَھُ كُفُوًا اَحَدْ . اِلٰھِيْ یَامَنْ ھُوَ قَدِیْمٌ وَیَادَائِمٌ یَاحَيُّ یَاقَیُّوْمُ یَااَوَّلُ یَااٰخِرُ اِقْضِ
رَبِّ الْعَالَمِیْنَ 􀍿 .حَاجَتِيْ...............یَافَرْدُ یَاصَمَدُ وَ صَلَّى لٰلهُّ عَلٰى سَیِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى آلِھٖ وَ صَحْبِھٖ وَ سَلَّمَ. وَ الْحَمْدُ ِِّٰ

BISMILLAAHIR-ROHMAANIR-ROHIIM
ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN. WASHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ALAA AALIHII WASHOHBIHI WASALLAM. QUL HUWALLOOHU AHAD LAYSA KAMITS-LIHII AHADUN LAA TUSALLITHU ‘ALAYYA AHADUN. WALAA TUHAWWIJ-NII ILAA AHADIN. WA-AGHNINII YAA ROBBI ‘AN KULLI AHADIN BIFADHLI QUL HUWALLOOHU AHAD, ALLOOHUS SHOMAD, LAM YALID WA LAM YUULAD, WA LAM YAKUL-LAHUU KUFUWAN AHAD. ALLOOHUMMA YAA MAN HUWA QODIIMUN, WA YAA DAAIMUN, YAA HAYYU, YAA QOYYUUMU, YAA AWWALU, YAA AAKHIRU IQDHII HAAJATII (.....sebut hajatnya.....). YAA FARDU YAA SHOMADU. WA SHOLLALLOOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WAALAA AALIHII WASHOHBIHI WASALLAM. WALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘AALAMIIN.

Atas Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Segala puji milih Allah, Thhan alam semesta. Semoga rahmat dan salam sejahtera dilimpahkan kepadajunjungan kami Muhammad para keluarga dan sahabatnya… Katakanlah, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa. Wahai tuhan yang tiada seorang pun mirip denganNya janganlah Engkau buat aku terperangkap dalam kekuasaan seseorang, janganlah Engkau buat aku merasa butuh seseorang, dan buatlah aku mampu, wahai tuhanku, berkat Qul huwal Lahu ahad (Surah allkhlash), sehingga tidak memerlukan seorang pun! Wahai Allah, wahai tuhan Yang Maha Dahulu (Qadim), wahai Yang Maha Langgeng (Ya Daim), wahai Yang Maha Hidup (Ya Hayy), wahai Yang Maha Berdiri Sendiri (Ya Qaywm), wahai Yang Maha Awwal (Ya Awwal), wahai Yang Maha Akhir (Ya Akhir), tunaikanlah hajatku, wahai Yang Maha Menyendiri, wahai Yang Maha Dihajati semua makhluk Semoga rahmat dan salam sejahtera dilimpahkan kepada Junjungan kami Muhammad, para keluarga, dan sahabatnya”.

(Sumber: Kitab Mujarobad Ad-Dairobi Al Kabir)

Perintah Kaisar Naga : 7045 - 7049

 Perintah Kaisar Naga. Bab 7045-7049 * Menyadari Tipu Muslihat * Dua puluh ribu kultivator penegak hukum telah menarik kembali formasi merek...