“Fenomena Guru Badut”
Pernah nggak sih… eh, maksudnya…
Coba bayangkan sebentar.
Di sebuah sekolah kecil, ada seorang guru yang setiap hari datang lebih awal dari murid-muridnya.
Namanya Bu Ratna. Ia bukan guru yang lucu. Bukan yang suka joget, apalagi bikin kelas heboh. Ia hanya seorang pendidik yang percaya bahwa ilmu itu harus ditanam, bukan ditampilkan.
Tapi belakangan… Bu Ratna mulai merasa asing di ruang kelasnya sendiri.
Sebab di sekolah itu muncul istilah baru yang bikin para guru saling pandang, saling bertanya, bahkan ada yang sampai patah hati: “Guru Badut.”
Istilah yang awalnya bercanda, tapi lama-lama terasa seperti tamparan.
Sekarang, guru dianggap baru “bagus” kalau lucu. Kalau heboh. Kalau kreatif. Kalau bisa bikin kelas tertawa. Kalau kelas ramai, berarti berhasil.
Dan ironisnya… kalau guru mulai serius? Langsung dibilang membosankan.
Kalau sedikit tegas? Dicap menakutkan.
Kalau fokus memberi materi? “Aduh, gurunya kaku banget.”
Bu Ratna hanya tersenyum tipis setiap kali mendengar itu.
Sementara di sudut lain sekolah, ada guru yang viral karena tiap hari ngajak muridnya joget TikTok. Murid-murid antusias, orang tua memuji, sekolah bangga.
Entah sadar atau tidak, perlahan guru itu berubah menjadi apa yang disebut orang: “guru badut”—guru yang terpaksa menghibur agar tetap dianggap menarik.
Dan yang menyedihkan?
Guru yang benar-benar mendidik… kalah pamor.
Padahal, dulu seorang guru dihormati karena ketegasan, kebijaksanaan, dan integritasnya.
Sekarang? Guru merasa harus tampil seperti entertainer.
Seolah ruang kelas berubah jadi panggung pertunjukan.
Bu Ratna sering bertanya dalam hati:
“Kapan pendidikan berubah seperti ini?
Sejak kapan guru harus menari dulu supaya didengar?”
Ia bukan benci kreativitas.
Ia juga bukan anti hiburan.
Ia tahu, kadang sedikit ice breaking memang perlu—untuk menyegarkan suasana.
Tapi… apa harus sampai mengorbankan esensinya?
Karena belajar itu tidak selalu harus lucu.
Tidak selalu harus seru.
Kadang perlu diam.
Kadang perlu fokus.
Kadang perlu ketegasan dan kedisiplinan—karena hidup pun begitu.
Suatu hari, setelah mengajar, Bu Ratna menatap mejanya yang penuh kertas nilai. Ia menghela napas panjang.
“Jika guru harus jadi badut… lalu siapa yang mendidik?” gumamnya pelan.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi berat.
Dan jujur, kita semua tahu jawabannya.
Pendidikan mulai kehilangan sesuatu yang sangat penting: martabat guru.
Hiburan boleh.
Metode kreatif? Sangat boleh.
Tapi ketika semuanya berlebihan… pelan-pelan, guru kehilangan wibawa, dan pendidikan kehilangan arah.
Guru bukan badut.
Guru bukan komedian.
Guru bukan penghibur yang bertugas membuat semua orang tertawa.
Guru adalah pendidik.
Penanam nilai.
Pembentuk karakter.
Penerang jalan bagi generasi penerus.
Dan itu jauh… jauh lebih mulia daripada sekadar menghibur.
.


izin share ya kang...
ReplyDeleteSilahkan guys....
ReplyDelete