Hal yang paling kubenci dari pelatihan adalah ICE BREAKING yang kekanakan.
Serasa dilatih menjadi idiot.
Aku pribadi suka ice breaking yang asah otak, tebakan, main logika. Ice breaking yang untuk orang dewasa bukan menjadikan orang dewasa melakukan gerakan konyol anak TK.
Secara teori, ice breaking itu dirancang untuk memecah kebekuan suasana dan membangun kenyamanan sosial.
Menurut teori pembelajaran orang dewasa (andragogi), orang dewasa belajar dengan efektif ketika mereka merasa dihargai dan dilibatkan secara bermakna.
Artinya, aktivitas awal seharusnya merangsang logika, membuka rasa ingin tahu, dan menumbuhkan koneksi relevan dengan materi.
Masalahnya, banyak fasilitator atau trainer yang masih berpikir yang penting seru, bukan yang penting relevan. Atau, banyak fasilitator dan trainer yang dasarnya datang dari pembelajaran anak-anak (paedagogi).
Akhirnya muncullah permainan seperti:
**Tepuk semangat! Tepuk bahagia!"
* Nyanyi lagu anak-anak sambil goyang bareng.
* Atau yang paling absurd: disuruh pura-pura jadi hewan.
Padahal peserta pelatihan itu guru, pegawai, atau profesional dewasa, bukan anak SD yang baru masuk MOS.
Ice breaking yang asah otak, logika, atau reflektif ringan justru jauh lebih efektif.
Misalnya:
* Tebak-tebakan logika singkat : "Apa bedanya guru dengan polisi lalu lintas?"
* Permainan asosiasi kata : "Sebutkan satu kata yang menggambarkan pekerjaan Anda hari ini"
* Atau teka-teki moral ringan untuk memantik diskusi.
Ceria itu gak harus menjadi seperti kanak-kanak.
Toh, teori psikologi pendidikan jelas menyebutkan bahwa engagement orang dewasa muncul ketika aktivitas pelatihan relevan, menantang, dan membuat mereka berpikir.
Ice breaking orang dewasa itu lebih efektif jika dilakukan dengan brain teaser, moral dilemma, atau permainan asosiasi kata yang menyalakan otak.
Daripada joget bersama dengan gerakan kekanakan, lebih baik memberikan pertanyaan semisal:
"Jika guru adalah pelita, kenapa banyak yang redup padahal sudah dikasih oli pelatihan terus-menerus?"
Kesimpulan:
lice breaking bukan hanya soal permainan, tapi soal pemahaman: apakah fasilitator benar-benar mengerti siapa yang sedang ia hadapi.
Orang dewasa tak butuh hiburan yang memalukan, mereka butuh pemantik yang menghidupkan nalar.
Sayangnya, banyak pelatihan hari ini justru memperlakukan peserta seperti murid taman kanak-kanak.
Di luar ruangan, kita diminta berpikir kritis dan inovatif, tapi di dalam ruangan pelatihan kita disuruh menirukan suara bebek atau gerakan pinguin dan tepuk tangan tiga kali sambil bilang "hebat, hebat, hebat!"
Lucunya, ini semua dilakukan atas nama metode aktif dan menyenangkan.
Sungguh, kalau Einstein masih hidup dan ikut pelatihan semacam itu, mungkin dia akan pulang sambil berkata,
"Kebodohan itu tak punya batas bahkan dalam pelatihan profesional."
Karena, pelatihan yang baik bukan membuat orang jingkrak-jingkrak tanpa makna, tapi membuat mereka berpikir keras sampai tertawa karena tercerahkan.
Akhirnya, dari ice breaking konyol itulah lahirlah yel-yel viral 2025:
BERPASANGAN
BERPASANGAN
BERPASANGAN
JANJI KOKOH
JANJI KOKOH
JANJI KOKOH
Andai aku disuruh nyanyi lagu TK itu sebelum nikah, mending gak usah nikah.
Ice breaking orang dewasa itu lebih efektif jika dilakukan dengan brain teaser, moral dilemma, atau permainan asosiasi kata yang mengasah otak


No comments:
Post a Comment