Perintah Kaisar Naga. Bab 5659-5662
#Cerita Dibalik Runtuhnya Gerbang Surgawi
Dave dan Xanti tiba di depan gerbang batu yang menjulang tinggi.
Gerbang batu itu mulus sempurna, tanpa ukiran , rune atau prasasti.
Dave mencoba mendorong gerbang itu, tetapi sekuat apa pun ia berusaha, ia tidak bisa menggesernya.
Xanti juga mencoba, tetapi ketika ia menyentuh gerbang itu, gerbang itu otomatis terbuka ke samping.
Melihat ini, Dave tercengang, tidak mengerti mengapa ia tidak bisa membuka gerbang itu.
"What.... Kenapa begitu?" tanya Dave.
"Mungkin karena aku seorang wanita!"
Xanti menjelaskan sambil tersenyum.
Dave terdiam.
Keduanya melangkah melewati gerbang batu, tetapi begitu mereka masuk, gerbang itu otomatis tertutup, menjebak mereka di dalam.
"Selamat datang, kalian berdua..."
Sebuah suara tua terdengar, dan kemudian seorang pria tua berambut dan berjanggut putih muncul di hadapan mereka.
"Tuan Muda Chen, pria tua itu..." kata Xanti.
"Bunuh..."
Pedang Pembunuh Naga Dave menebas langsung ke arah lelaki tua itu.
Cahaya pedang itu mengiris tubuh lelaki tua itu, membelahnya menjadi dua.
Pria tua itu: "…………"
Namun, dengan sangat cepat, kedua bagian tubuhnya perlahan kembali utuh.
"Hah... Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerang tanpa sepatah kata pun? Untungnya, aku hanyalah bayangan, kalau tidak kau pasti sudah membunuhku." Pria tua itu berkata dengan marah.
"Bukankah ini ujian? Ujian untuk mengetahui apakah aku suci atau tidak, jadi ketika aku melihat orang tua dan anak-anak, aku langsung membunuh mereka."
Kata Dave.
"Meskipun ini ujian, akulah pengujinya. Kalau kau membunuh pengujinya, apa kau masih bisa memasuki reruntuhan?"
Tegur pria tua itu dengan marah.
Mendengar ini, Dave segera menyarungkan Pedang Pembunuh Naga miliknya, menangkupkan kedua tangannya, dan berkata, "Senior, maafkan aku atas kesalahpahaman ini..."
"Baiklah, cukup omong kosongnya, aku akan memberimu ujian."
Pria tua itu berkata perlahan.
"Baiklah... gaskeun...!" Dave mengangguk, penasaran ingin tahu pertanyaan seperti apa yang akan diajukan pria tua itu.
"Jika seluruh keluargamu musnah, apakah kau akan membunuh mereka semua saat kau punya kekuatan untuk melakukannya?" tanya pria tua itu.
"Ya!" Dave mengangguk tanpa ragu.
"Bagaimana jika, setelah menghabisi seluruh keluarga mereka, kau menemukan seorang anak kecil masih hidup?" lanjut pria tua itu.
"Aku akan menyuruh anak itu mengingatku agar dia bisa membalas dendam. Saat aku bertemu dengannya lagi, aku akan membunuhnya lalu pergi." Jawab Dave.
" Hahaha..."
Mendengar jawaban Dave, lelaki tua itu tertawa, hendak mengatakan sesuatu, tetapi Dave melanjutkan, "Setelah beberapa langkah, aku akan segera berbalik dan memberi tahu anak itu bahwa ini kedua kalinya kita bertemu. Aku memberinya kesempatan, tetapi dia gagal tidak bisa memanfaatkannya, jadi dia tidak bisa menyalahkanku."
"Kalau begitu aku akan membunuh anak itu dengan satu pedang, tanpa ragu..."
Mendengar kata-kata Dave, senyum lelaki tua itu membeku di wajahnya, lalu ia bertanya, "Setelah membunuh anak itu, apakah kau akan pergi?"
"Tentu saja tidak. Aku akan bersembunyi di balik bayangan dan melihat apakah ada anak-anak lain yang masih hidup," kata Dave.
"Jika anak lain lari, apakah kau akan membunuhnya dengan satu pedang?" tanya lelaki tua itu.
Dave menggelengkan kepalanya: "Bukan hanya satu pedang, tapi empat pedang..."
"What... Empat pedang?" Xanti, yang berdiri di samping, agak bingung.
"Aku akan menusuk jantung anak itu sekali dengan satu pedang, dan dada kanannya sekali dengan pedang lainnya, untuk mencegah jantungnya tumbuh mundur."
"Dan tenggorokannya dengan pedang lainnya lagi sekali, untuk mencegahnya mengangkat jantungnya ke tenggorokan. Tusukan pedang lainnya yang terakhir akan dilakukan di perutnya, untuk mencegah masuk jantungnya ke dalam perut nya."
Dave menjelaskan.
Xanti tak bisa berkata-kata
"Jika anak lain lari sekarang, berpegangan erat di kakimu dan memohon ampun, sementara kau membawa pedang dan sepotong permen, bagaimana kau memutuskan apakah anak itu harus dibunuh?" tanya lelaki tua itu.
"Terlalu sederhana…"
Dave tersenyum tipis: "Jika anak itu membawa pedang, itu membuktikan bahwa anak itu berniat membunuh; anak itu tidak boleh dibiarkan hidup."
"Tapi bagaimana jika anak itu mengambil permennya?" tanya Xanti.
"Itu membuktikan anak itu sangat licik; anak itu tidak boleh dibiarkan hidup," jawab Dave.
"Bagaimana jika anak itu mengambil keduanya?" lanjut Xanti.
"Itu membuktikan anak itu serakah; anak itu tidak boleh dibiarkan hidup," jawab Dave.
"Bagaimana jika anak itu tidak memilih keduanya?" desak Xanti.
"Itu membuktikan anak itu punya sifat pemberontak, lemah tak punya tujuan; anak itu percuma meskipun dibiarkan hidup, bunuh saja" lanjut Dave.
"......." Xanti tak bisa berkata-kata lagi.
Pria tua itu menatap Dave tanpa bisa menahan kata-kata: "Kamu punya bakat yang bagus. Berlatihlah lebih banyak dan kurangi membaca hal-hal yang tidak berguna di masa depan..."
"Kau hebat, kau sombong, kau tidak bisa menerima kekalahan, bersungguh-sungguh lah…"
Setelah berkata demikian, sosok lelaki tua itu lenyap seketika.
.....
Saat sosok pria tua itu lenyap, kehampaan di hadapan Dave dan yang lainnya terdistorsi, dan kemudian sebuah gunung yang megah muncul.
Dan di atas gunung itu berdiri banyak bangunan istana.
"Gunung ini tampak begitu familiar," kata Dave, menatap gunung yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan kebingungan yang amat besar.
"Gunung Tianmen Gerbang Surgawi! Bukankah ini Gunung Gerbang Surgawi?" seru Xanti!
Dave kemudian menyadari bahwa gunung di hadapannya memang Gunung Tianmen Gerbang Surgawi.
"Apakah kita muncul di reruntuhan?" Dave bertanya-tanya, bingung bagaimana mereka tiba-tiba kembali ke Gunung Tianmen Gerbang Surgawi.
"Mungkin tidak. Dilihat dari istana di Gunung Tianmen Gerbang Surgawi, seharusnya ini adalah istana Gerbang Surgawi yang telah lenyap."
"Ayo kita melihat..." kata Xanti bersemangat.
Keduanya menuju ke istana di Gunung Tianmen Gerbang Surgawi.
Namun, tepat saat mereka hendak melangkah ke istana Gunung Tianmen Gerbang Surgawi, mereka tiba-tiba merasakan kekuatan yang sangat kuat menghalangi jalan mereka.
Kekuatan ini begitu luas dan tak terbatas, seolah-olah seluruh Gunung Tianmen Gerbang Surgawi dilindungi oleh penghalang yang sangat besar.
"Sepertinya kita masih harus melewati ujian terakhir," kata Dave, lalu mulai mengamati lingkungan sekitar dengan saksama, mencari cara untuk menembus batasan tersebut.
Saat ini, sebuah suara tua namun berwibawa tiba-tiba terdengar di telinga mereka: "Anak muda, kalian akhirnya tiba."
Dave dan Xanti terkejut dan segera melihat sekeliling, tetapi tidak menemukan siapa pun di sana.
"Tidak perlu melihat kemana-mana, aku di sini."
Suara itu berbicara lagi, dan kemudian seorang pria tua berjubah putih perlahan muncul di hadapan mereka.
Pria tua ini berambut dan berjanggut putih, berwajah ramah, tetapi matanya memancarkan keagungan dan perubahan.
Dia memancarkan aura yang kuat namun murni, membangkitkan kekaguman pada setiap orang di sekitar yang melihat nya.
"Siapakah Anda?" tanya Dave dengan hormat.
Pria tua itu tersenyum tipis dan berkata, "Saya adalah pemimpin terakhir di Tianmen Gerbang Surgawi. Anda bisa memanggil saya Tetua Tianmen Gerbang Surgawi."
"What... Pemimpin Tianmen Gerbang Surgawi?"
Dave dan Xanti sama-sama tercengang; Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan pemimpin Tianmen Gerbang Surgawi yang legendaris.
Melihat ekspresi terkejut mereka, Tetua Gerbang Surgawi perlahan berkata, "Benar, akulah Master Tianmen Gerbang Surgawi. Sejak Gerbang Surgawi menghilang, aku telah menjaga reruntuhan Gerbang Surgawi di sini, menunggu kedatangan orang yang ditakdirkan."
"Kau sudah menunggu kami?"
Xanti bertanya pada Tetua Gerbang Surgawi.
Tetua Gerbang Surgawi mengangguk dan berkata, "Benar. Aku melihat harapan dalam dirimu, aku melihat kemungkinan kebangkitan Tianmen Gerbang Surgawi. Namun, sebelum aku mewariskan warisan Gerbang Surgawi kepadamu, aku harus terlebih dahulu menceritakan sebuah kisah, sebuah kebenaran tentang hilangnya sekte Tianmen Gerbang Surgawi."
Dave dan Xanti mendengarkan dengan tenang, hati mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan antisipasi.
Tetua Tianmen Gerbang Surgawi menghela napas dalam-dalam, jejak rasa sakit dan penyesalan terpancar di matanya: "Itu terjadi lebih dari ribuan tahun yang lalu. Saat itu, Tianmen Gerbang Surgawi berada di puncak kejayaannya, memegang posisi penting di seluruh Surga Kesembilan. Sebagai Master Gerbang Surgawi, saya bahkan dipuji sebagai orang terkuat di Surga Kesembilan."
"Namun, saat itu, saya bertemu dengan seorang anak yang akan mengubah nasib Gerbang Surgawi."
Kata lelaki tua Gerbang Surgawi itu dengan suara rendah dan serak.
"Suatu malam hujan turun ketika aku menemukan seorang balita terlantar di gerbang istana."
"Anak itu tampak baru berusia beberapa tahun, basah kuyup dan menggigil. Melihat kondisinya yang menyedihkan, aku membawanya kembali ke istana dan menerimanya sebagai murid."
"Aku menamainya Pelahap Jiwa, berharap ia bisa melupakan kepedihan masa lalunya dan memulai hidup baru."
"Anak ini, Pelahap Jiwa, sangat cerdas dan memiliki bakat kultivasi yang sangat tinggi. Ia segera menjadi murid inti Gerbang Surgawi. Aku memperlakukannya seperti anakku sendiri, mewariskan semua teknik rahasia Tianmen Gerbang Surgawi kepadanya."
Ketika Dave dan Xanti mendengar nama Pelahap Jiwa, mereka langsung teringat pada Iblis Pelahap Jiwa.
Pada titik ini, raut kesedihan mendalam terpancar di mata lelaki tua Gerbang Surgawi: "Tapi aku tak pernah menyangka anak itu adalah sisa-sisa keturunan Sekte Iblis."
"Keluarganya dibasmi oleh sekte sekte saleh jalan lurus, dan ia memendam kebencian sejak kecil. Alasan ia mendekatiku adalah untuk mempelajari teknik rahasia Tianmen Gerbang Surgawi dan kemudian membalas dendam."
"Setelah ia berkultivasi hingga ke Alam Dewa Abadi syurgawi, ia akhirnya menunjukkan jati dirinya. Pada suatu malam bulan purnama, ia tiba-tiba melancarkan serangan terhadap Tianmen Gerbang Surgawi."
"Menggunakan teknik yang ku ajarkan, dipadukan dengan sihir jahat Sekte Iblis, ia membantai semua murid Gerbang Surgawi dalam semalam."
Suara lelaki tua itu tercekat, dan air mata mengalir di wajahnya: "Saat itu aku sedang mengasingkan diri dan berkultivasi..."
"Ketika aku keluar, seluruh Tianmen Gerbang Surgawi sudah menjadi sungai darah, yang dipenuhi gunungan mayat."
"Murid"ku yang paling berharga, kerabatku yang paling tepercaya, mengkhianatiku, menghancurkan puncak dari karya hidupku."
Tetua Gerbang Surgawi menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan, "Aku menyembunyikan area inti Gerbang Surgawi, menciptakan reruntuhan ini."
"Lalu aku menghancurkan tubuh fisikku, mengikuti murid-muridku, hanya menyisakan secercah jiwaku di sini, menunggu selama lebih dari sepuluh ribu tahun, berharap menemukan seseorang yang benar-benar memenuhi syarat untuk mewarisi warisan Tianmen Gerbang Surgawi, dan bisa memenuhi salah satu keinginanku."
Mendengar hal ini, Dave dan Xanti akhirnya mengerti mengapa ujian-ujian sebelumnya semuanya berfokus pada tidak bertindak seperti orang suci.
Ternyata kebaikan Master Gerbang Surgawi dalam menyelamatkan iblis telah menyebabkan kehancuran sekte tersebut.
Sekarang mereka juga mengerti mengapa Tianmen Gerbang Surgawi lenyap dalam semalam, dihancurkan oleh Iblis Pelahap Jiwa.
"Senior, Iblis Pelahap Jiwa itu melakukan kekejaman yang tak terhitung jumlahnya di Surga Kesembilan dan telah ditindas di Surga Keenam selama sepuluh ribu tahun," kata Dave.
"What... Dia telah ditindas? Sepertinya dia telah menerima hukumannya." Tetua Gerbang Surgawi tampak menghela napas lega.
"Namun, Iblis Pelahap Jiwa itu telah melarikan diri, dan sekarang berada di Surga Kesembilan," kata Dave.
Tetua Gerbang Surgawi terkejut, lalu berkata, "Anak muda, jangan bicara terlalu dramatis..."
"Senior, apa keinginanmu?" tanya Xanti dengan hormat.
Sekilas tekad terpancar di mata Tetua Gerbang Surgawi: "Keinginanku adalah seseorang membunuh Pelahap Jiwa itu untukku, membalaskan dendam para murid Tianmen Gerbang Surgawi."
"Di saat yang sama, aku juga berharap warisan Gerbang Surgawi dapat terus berlanjut, memungkinkannya untuk kembali berdiri tegak di Surga Kesembilan."
Tetua Gerbang Surgawi menatap Dave dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Anak muda, aku melihat tekad yang teguh dan kekuatan yang luar biasa dalam dirimu."
"Kau telah lulus semua ujian yang kuberikan, membuktikan bahwa kau bukanlah orang suci yang berhati lembut, melainkan individu yang kuat yang mampu bertahan hidup di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah."
"Aku telah memutuskan untuk mempercayakan seluruh warisan Gerbang Surgawi kepadamu. Di dalamnya terdapat sumber daya kultivasi yang dikumpulkan oleh generasi Gerbang Surgawi, teknik-teknik uniknya, dan harta karunnya yang paling berharga."
"Kuharap kau dapat memanfaatkan sumber daya ini untuk meningkatkan kekuatanmu dengan cepat, lalu membunuh Pemakan Jiwa dan membalaskan dendam Gerbang Surgawi."
Setelah itu, Tetua Gerbang Surgawi melambaikan tangannya, dan cahaya keemasan melesat darinya, langsung menyatu ke dalam tubuh Dave.
Segera setelah itu, seluruh Gunung Tianmen Gerbang Surgawi bergetar hebat, dan istana-istana yang tak terhitung jumlahnya memancarkan cahaya yang menyilaukan.
"Itulah kekuatan warisan Tianmen Gerbang Surgawi; itu akan membantumu lebih memahami dan menguasai teknik-teknik Gerbang Surgawi,"
Kata Tetua Gerbang Surgawi.
"Pada saat yang sama, aku juga telah memberimu semua sumber daya Gerbang Surgawi. Kau bisa mulai berkultivasi sekarang."
Dave dan Xanti merasakan energi yang kuat mengalir dalam diri mereka, hati mereka dipenuhi rasa kagum dan syukur.
"Terima kasih, Senior!"
Dave berkata dengan hormat, "Yakinlah, aku pasti akan membunuh Iblis Pemakan Jiwa, membalaskan dendam para murid Gerbang Surgawi, dan memulihkan kedudukan Gerbang Surgawi di Surga Kesembilan."
Tetua Gerbang Surgawi mengangguk puas, tubuhnya menjadi transparan: "Anak baik, aku percaya padamu. Masa depan Gerbang Surgawi dipercayakan kepadamu."
Setelah itu, sosok Tetua Gerbang Surgawi lenyap sepenuhnya ke udara, hanya menyisakan suara yang menggema di kehampaan: "Ingat, di dunia yang kejam ini, kebaikan hanya akan menjadi beban. Moralitas hanya akan mengikatmu. Jadilah manusia tanpa kebaikan atau moralitas; hanya dengan begitu kau bisa menjadi makhluk yang kuat tanpa batasan apa pun "
Dave dan Xanti berdiri diam, hati mereka dipenuhi emosi yang campur aduk.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa hilangnya Gerbang Surgawi memiliki kisah tragis di baliknya, mereka juga tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menjadi pewaris Tianmen Gerbang Surgawi.
"Ayo masuk dan berkultivasi,"
Kata Dave, lalu memimpin Xanti menuju area inti Gunung Gerbang Surgawi.
.......
Area inti Gunung Gerbang Surgawi adalah sebuah istana besar, dengan kolam kultivasi yang sangat besar di tengahnya. Cairan di kolam kultivasi tersebut berwarna kuning keemasan, memancarkan energi spiritual yang kaya.
"Ini adalah Cairan Roh Surgawi, sumber daya berharga yang dikumpulkan oleh Tianmen Gerbang Surgawi dari generasi ke generasi. Berkultivasi di dalamnya akan membuat usaha kita dua kali lebih efektif," kata Dave, lalu Dave dan Xanti melompat ke kolam kultivasi.
Saat tubuh mereka menyentuh Cairan Roh Surgawi, gelombang energi spiritual yang kuat langsung mengalir ke dalam tubuh mereka.
Energi spiritual ini murni dan lembut, dengan cepat menyatu ke dalam meridian mereka.
Dave dan Xanti segera mulai mensirkulasikan teknik kultivasi mereka, menyerap energi spiritual dari Cairan Roh Surgawi.
Mereka dapat merasakan tingkat kultivasi mereka meningkat dengan kecepatan yang nyata.
Waktu berlalu tanpa terasa, Dave dan Xanti tenggelam dalam kenikmatan kultivasi.
Tubuh mereka diselimuti oleh Cairan Roh Surgawi, dan energi spiritual di sekitarnya terus mengalir ke dalam tubuh mereka, berubah menjadi energi spiritual yang kuat.
Setelah waktu yang tidak diketahui, Dave tiba-tiba merasakan getaran hebat di dantiannya.
Ia tahu ia akan segera menembus ke tingkat keempat Alam Dewa Surgawi. Dave segera berkonsentrasi, memfokuskan seluruh energinya untuk menembus hambatan tingkat keempat Alam Dewa Surgawi.
Ia bisa merasakan Dantiannya terus mengembang, dan meridiannya melebar.
Duaaaarrrr ...
Sebuah ledakan keras bergema di dalam tubuh Dave; ia akhirnya berhasil menembus tingkat keempat Alam Dewa Surgawi.
Namun, pada saat ini, ia masih merasakan energi spiritual dari Cairan Roh Surgawi terus mengalir ke dalam tubuhnya, dan kultivasinya terus meningkat.
"Sepertinya aku bisa terus menerobos!"
Dave sangat gembira dan segera melanjutkan upayanya untuk menembus hambatan tingkat kelima Alam Dewa Surgawi.
Terobosan ini bahkan lebih sulit daripada sebelumnya, tetapi dengan bantuan Cairan Roh Surgawi, Dave masih berhasil menembus tingkat kelima Alam Dewa Surgawi.
Ia bisa merasakan bahwa kekuatannya beberapa kali lebih besar dari sebelumnya.
Pada saat yang sama, Xanti, juga dibantu oleh Cairan Roh Surgawi, berhasil mencapai puncak peringkat kedua Alam Dewa Abadi syurgawi. Jika ia bertemu Raja Wu itu lagi, Xanti tidak perlu takut.
Tubuhnya memancarkan cahaya redup, membuatnya semakin cantik dan menawan.
"Kita berhasil!"
Seru Xanti penuh semangat, matanya berbinar-binar penuh semangat.
Bersambung....
Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️
Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :
https://link.dana.id/qr/4e1wsaok
Atau ke akun
SeaBank : 901043071732
Kode Bank Seabank untuk transfer (535)
Terima Gajih...☺️


No comments:
Post a Comment