Photo

Photo

Thursday, 6 August 2026

Perintah Kaisar Naga : 6849 - 6851

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6849-6851






* Langit Tujuh Bintang Menjadi Ribuan Benua Kecil *



Seluruh ruang bawah tanah itu sepenuhnya diselimuti oleh segel raksasa yang terjalin dari rona emas, perak, dan biru.

 

Simbol-simbol ilahi tiga warna itu berputar tanpa henti dalam siklus abadi, memadukan esensi dari tiga klan besar dan menghimpun irama Dao dari berbagai zaman; segel itu sangat kokoh dan tak terpatahkan, menekan keberuntungan agung serta kekuatan mengerikan yang tersembunyi jauh di dalam reruntuhan.

 

Dave sedikit mengangkat tangannya, dan seberkas Esensi Kekacauan Primordial yang lembut namun pekat mengalir keluar, meresap tanpa suara ke dalam segel tiga warna tersebut.

 

Asal-usul Dao yang selaras; esensi yang menyatu menjadi satu; segala hukum tunduk dalam penghormatan.

 

Segel tiga warna yang abadi dan tak dapat dihancurkan itu -- bagaikan salju yang bertemu terik matahari atau kabut yang tersisa bertemu angin segar -- terkelupas lapis demi lapis, meleleh inci demi inci, dan hancur dengan cepat.

 

Simbol-simbol Dao kuno yang rumit dan tak terhitung jumlahnya milik ketiga klan itu meredup, tercerai-berai, dan musnah, hingga lenyap sepenuhnya.

 

Sebuah tangga batu yang gelap dan dalam, yang mengarah langsung ke inti reruntuhan, perlahan menampakkan diri, membentang jauh ke dalam perut bumi.

 

Dave melangkah turun, bergerak maju dengan mantap menuju kedalaman.

 

Saat ia menjelajah lebih dalam ke bawah tanah, esensi emas gelap di sekitarnya menjadi semakin pekat, berat, dan agung.

 

Rasa penindasan dan nuansa kuno yang luas menerpanya dalam gelombang yang kian meningkat, jauh melampaui intensitas gabungan dari empat reruntuhan sebelumnya: Tianxuan, Yuheng, Kaiyang, dan Tianji.

 

Begitu kakinya menapak kokoh di inti reruntuhan, seluruh ruang bawah tanah itu bergetar hebat; Dao Agung meraung, dan simbol-simbol Dao melonjak serta berputar-putar.

 

Sebuah aliran deras esensi emas gelap -- yang senyap selama milyaran tahun, tersegel selama berabad-abad, dan memiliki kekuatan ekstrem yang tak terbatas -- meletus bagaikan tsunami kuno yang bangkit dari tidur panjangnya, menyapu dan menghantam dari segala arah dengan kekuatan yang dahsyat dan liar.

 

Kekuatan ini jauh lebih ganas, kuno, kacau, dan mendalam dibandingkan apa pun yang ditemukan di reruntuhan empat benua.

 

Itu adalah campuran yang kacau -- sisa-sisa dari tak terhitung banyaknya upaya ketiga klan selama berabad-abad untuk memecahkan segel dan mencuri esensi primordial.

 

Sebaliknya, mereka justru menanggung serangan balik dari segel tersebut, yang menyisakan hukum-hukum Klan Dewa yang hancur, rune ilahi yang terpecah-belah, dan ritme Dao yang kacau-balau.

 

Itu adalah kekacauan yang riuh dan penuh gejolak -- diliputi oleh niat jahat dan bahaya ekstrem -- sehingga sangat sulit untuk dimurnikan atau disempurnakan.

 

Jika seorang kultivator agung biasa menginjakkan kaki di sini, esensi kacau itu akan seketika menyerbu meridian mereka, mengacaukan fondasi Dao mereka, menghancurkan jiwa mereka, dan melenyapkan keberadaan mereka sepenuhnya.

 

Dave tetap tenang dan tak tergoyahkan; dia duduk bersila di kehampaan dan mengerahkan Teknik Konsentrasi Hati miliknya hingga batas maksimal.

 

Di dalam dantiannya, Api Kekacauan melonjak dahsyat, berkobar hebat dan mencapai puncaknya.

 

Api itu berubah menjadi tungku agung -- abadi dan kebal terhadap segala teknik, mampu memurnikan langit dan mengubah segala sesuatu yang ada.

 

Arus besar esensi primordial berwarna emas gelap mengalir deras ke dalam tungku, tempat esensi itu mengalami penempaan ekstrem, pemurnian berlapis, dan penyucian berulang kali oleh Api Sejati Kekacauan.

 

Segala sisa-sisa ilahi yang kacau, pecahan Dao yang tak beraturan, energi jahat yang ganas, dan jejak hukum yang tidak lengkap dibakar, diluruhkan, dan dilarutkan hingga lenyap tak berbekas.

 

Hari demi hari dan malam demi malam berlalu, waktu bergulir senyap seiring pergantian siang dan malam yang sunyi.

 

Pada hari pertama, esensi dibersihkan dari kotoran dan energi jahat pun lenyap;

 

Pada hari ketiga, hukum-hukum disempurnakan dan ritme Dao kembali ke sumber asalnya;

 

Pada hari kelima, esensi menyatu dan fondasi dibentuk ulang;

 

Pada hari ketujuh, penghalang melonggar dan ranah kultivasi bersiap untuk menembus batasan.

 

Menjelang pagi hari kedelapan, penghalang yang sangat kokoh di ranah Dewa Emas Tingkat Ketujuh -- yang telah lama menahan Dave -- akhirnya jebol.

 

Di bawah tekanan kikisan, penempaan, dan kekuatan penghancur yang tiada henti dari esensi primordial kuno itu, penghalang tersebut pecah layaknya lapisan es tipis atau kaca glasir yang retak, lalu runtuh disertai suara gemuruh yang menggelegar!

 

Gerbang menuju ranah Dewa Emas Tingkat Kedelapan terbuka lebar, tertembus sepenuhnya!

 

Esensi Primordial kekacauan yang luas, mendalam, dan berbobot -- melonjak bagaikan lautan yang jebol atau banjir bah -- seketika membanjiri meridian, mengisi lautan Qi di Dantian, meresap ke setiap anggota tubuh dan tulang, serta memelihara jiwa dan fondasi Dao.

 

Meridian, urat dan tulang, jiwa, hati Dao, dan esensi -- semuanya mengalami transformasi puncak dan sublimasi sempurna, tanpa ada satu aspek pun yang tertinggal.

 

Esensi Primordial kekacauan menjadi semakin padat dan nyata, mencakup segala fenomena dan menekan segala hukum;

 

Esensi Dao Taoisme menjadi semakin murni dan luhur, memancar ke segala arah dengan keseimbangan sempurna antara ketegasan dan keluwesan;

 

Esensi Air menjadi semakin tangguh dan mendalam, cukup luas untuk menampung segala sungai, lembut namun tak dapat musnah;

 

Esensi kuno dari empat penjuru mata angin menyatu sepenuhnya menjadi satu, membentuk siklus yang mulus dan tiada henti.

 

Keempat esensi agung ini -- bagaikan empat sungai abadi -- bertemu dalam lautan Primordial kekacauan yang luas tak bertepi, bersatu dengan sempurna dan bersirkulasi tanpa akhir dalam siklus pembaruan abadi.

 

Basis kultivasi melonjak drastis, kekuatan tempur melesat tinggi, fondasi Dao mencapai kesempurnaan, dan jiwa menjadi abadi.

 

Tepat pada saat semua esensi elemen menyatu sepenuhnya dan ranah kultivasinya mengalami terobosan total, jejak kekuatan nuklir yang telah lama tertidur -- tersembunyi jauh di dalam inti esensi tersebut -- tiba-tiba muncul dengan kejelasan yang mengejutkan dan bangkit sepenuhnya.

 

Berbeda jauh dengan kondisinya sebelumnya -- yang samar, redup, dan nyaris tak terasa -- jejak kekuatan nuklir itu kini tampak sangat nyata, tegas, dan terkonsentrasi.

 

Itu adalah kekuatan penghancur pamungkas yang lahir dari peradaban dunia fana berbasis teknologi; sebuah bentuk alternatif esensi elemen yang berdiri terpisah dari Dao Agung energi spiritual dan melampaui hukum-hukum yang mengatur segala penjuru langit; sebuah kekuatan misterius yang mampu melintasi ruang dan waktu serta membentang melintasi berbagai zaman.

 

Dave merasakan dengan jelas untaian esensi nuklir itu beresonansi dan memanggil -- samar namun teguh -- melintasi jarak yang sangat jauh dan menembus batas-batas langit, menuju suatu tujuan yang tak dikenal dan tak terbayangkan.

 

Arah itu tidak terletak di dalam Surga ke-21, ataupun di dalam Alam Surgawi itu sendiri, melainkan di kehampaan di baliknya -- sebuah ranah yang jauh lebih terpencil, mendalam, dan misterius.

 

Seolah-olah ada sesuatu yang memiliki asal-usul yang sama -- sebuah esensi akar atau teka-teki tertinggi -- sedang menunggu dengan tenang di tepian waktu yang jauh, menantikan saat ia memecahkan batas-batas langit, melampaui tingkatan eksistensi, dan menyingkap rahasia terakhir.

 

Tatapan Dave menajam dan pikirannya terusik; berbagai keraguan serta spekulasi yang tak terhitung jumlahnya bergejolak di dalam dirinya.

 

Teknologi dunia fana, esensi kekuatan nuklir, reruntuhan kuno, tingkatan langit, resonansi melintasi ruang dan waktu - semua elemen yang tampak tak saling terkait dan bertolak belakang ini...

 

Kini terjalin erat satu sama lain, mengarah pada sebuah misteri pamungkas yang membentang melintasi zaman, menjembatani dunia fana dan keabadian, serta mencakup segala penjuru langit.

 

Seiring meningkatnya kekuatan Dave, semakin banyak pula rahasia yang dapat ia intip.

 

Ia pernah meyakini bahwa Alam Surgawi adalah tujuan akhir bagi semua ras, namun kini ia menemukan adanya wilayah di baliknya -- ranah yang sama sekali tidak ia ketahui.

 

Namun untuk saat ini, satu-satunya langkah yang bisa ia ambil adalah mendaki hingga ke puncak Alam Surgawi dan menghadapi para Orang Suci yang menguasainya.

 

Mungkin baru saat itulah dia akan mengetahui kebenaran di balik apa yang disebut sebagai Perang Dewa dan Iblis, serta mengungkap jati diri ayahnya yang sebenarnya.

 

Dia memaksakan diri menekan rasa terkejut dan bingung yang membuncah di dalam dirinya, bersiap untuk menyelidiki lebih jauh dan melacak sumber gangguan tersebut, ketika seluruh Benua Tianshu tiba-tiba berguncang hebat dengan intensitas yang luar biasa dahsyat.

 

Duaaaarrrr....

 

Raungan yang menggelegar dahsyat membubung dari kedalaman bumi, menembus langit dan mengguncang semesta.

 

Ini bukanlah gempa bumi biasa; ini adalah fenomena bencana besar -- fondasi seluruh benua sedang runtuh, dan sebuah alam kuno sedang hancur lebur.

 

Dave seketika memperluas indra ilahinya hingga batas maksimal, menyapu jarak sepuluh ribu mil ke segala arah.

 

Sesaat kemudian, pupil matanya menyusut tajam, dan matanya dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa.

 

Seluruh Langit Tujuh Bintang -- ketujuh daratan kuno yang melayang itu -- hancur secara bersamaan, pecah berkeping-keping dan runtuh lapis demi lapis.

 

Sisa-sisa Benua Yao Guang, yang terletak di tepian paling luar, adalah yang pertama retak; daratan itu hancur menjadi pecahan yang tak terhitung jumlahnya dan jatuh ke dalam kehampaan.

 

Tak lama kemudian, benua Kai, Yuheng, Tianquan, dan Tianji retak secara serentak, lalu hancur dan tercerai-berai sepenuhnya.

 

Akhirnya, dua benua inti -- Tianxuan dan Tianshu -- juga mulai hancur lapis demi lapis dari tepiannya, terus-menerus tercerai-berai.

 

Langit Tujuh Bintang, yang membentang sejauh ratusan juta mil dan melayang selama berabad-abad lamanya, kini runtuh lapis demi lapis dan hancur berkeping-keping -- bagaikan istana pasir yang terkikis ombak -- sembari terus-menerus jatuh.

 

Lempeng-lempeng benua raksasa patah, terbalik, tenggelam, dan hancur, berubah menjadi pecahan daratan dengan berbagai ukuran dan bentuk yang melayang perlahan turun dari ketinggian yang mencengangkan menuju samudra kehampaan yang luas dan tak bertepi di bawahnya.

 

Lempeng-lempeng besar terbelah dan pecah menjadi pulau-pulau berukuran sedang dan kecil, sementara pecahan yang lebih kecil hancur lagi menjadi serpihan daratan yang menyerupai debu bintang.

 

Dalam waktu kurang dari satu jam, Langit Tujuh Bintang -- sebuah alam yang telah menopang Surga ke-21 dan bertahan selama berabad-abad -- telah hancur total dan lenyap sepenuhnya.

 

Di tempat itu kini tersisa puluhan ribu pulau melayang dengan berbagai ukuran, tersebar di permukaan samudra kehampaan; pulau-pulau yang baru terbentuk ini adalah sisa-sisa Langit Tujuh Bintang yang telah hancur dan jatuh ke dalam jurang kehampaan.

 

Pulau-pulau tersebut terhampar luas di tengah Lautan Hampa yang tak bertepi, bagaikan gugusan bintang yang tercerai-berai.

 

Dunia Lama Langit Tujuh Bintang telah musnah sepenuhnya; sebuah era kuno telah mencapai akhir riwayatnya.

 

Sebuah Dunia Baru yang terdiri dari gugusan pulau telah bangkit dari puing-puing kehancuran, terwujud secara diam-diam.

 

Setiap makhluk hidup di wilayah Langit Tujuh Bintang -- baik itu tawanan Klan Dewa, pembudidaya Klan Iblis, anggota Klan Monster, maupun sisa-sisa sekte Taois -- melarikan diri ke segala arah, membubung tinggi di udara di tengah pemandangan dahsyat hancurnya benua tersebut.

 

Para kultivator menderita korban jiwa yang besar; mereka yang selamat menemukan tempat berlindung di pulau-pulau kehampaan yang baru terbentuk, berdiri dengan perasaan bingung seraya menatap transformasi yang mengguncang semesta itu.

 

Jauh di bawah reruntuhan, sosok Dave tiba-tiba melesat ke atas, menembus udara dan terbang membumbung lurus menuju cakrawala, lalu berdiri dengan kokoh di atas hamparan awan.

 


Sepasang matanya yang berwarna ungu diam-diam mengamati alam yang telah berubah bentuk di bawahsana, memandang pulau-pulau baru yang tak terhitung jumlahnya dan tersebar bagaikan bintang-bintang di tengah kehampaan; kilatan cahaya yang dalam dan penuh teka-teki berputar-putar di kedalaman tatapannya.


Di angkasa yang tinggi, aura Dave melepaskan segala batasan, meledak bagaikan raksasa kekacauan primordial -- yang telah tertidur selama ribuan masa tiba-tiba terbangun.


Di dalam tubuhnya, sumber kekacauan purba bergejolak bagaikan lautan yang mengalir balik atau galaksi yang tumpah ruah.


Tekanan agung itu -- yang muncul secara alami dan mulus setelah transformasinya ke Alam keabadian Emas tingkat kedelapan -- menyebar tanpa hambatan ke seluruh hamparan kepulauan kehampaan yang baru terbentuk; setiap jengkal udara sedikit bergetar di bawah beban kekuatan ini.


Gelombang energi kekacauan berwarna ungu keabu-abuan perlahan memancar keluar dari tubuhnya; tidak ada raungan yang mengguncang bumi, namun kekuatan itu memiliki dominasi tak tertahankan yang meresap ke segala hal secara diam-diam namun mendalam.


Dengan setiap riak yang meluas, kehampaan itu bergetar, dan hukum langit serta bumi pun tunduk; ruang dalam radius sepuluh ribu mil bergelombang dengan lipatan-lipatan halus, seolah-olah seluruh dunia sedang menundukkan kepala di hadapan sosok itu.


Setiap makhluk hidup di pulau-pulau terapung -- terlepas dari status atau tingkat kultivasi -- diselimuti oleh kekuatan menekan yang berasal dari kedalaman sumber purba tersebut, membuat tindakan bernapas pun menjadi berat dan sulit.


Ada yang merasa lutut mereka lemas dan jatuh tersungkur ke tanah, menempelkan dahi mereka erat-erat pada batu dingin, bahkan tidak berani berpikir untuk mendongak;


Yang lain gemetar hebat, gigi mereka gemeretak saat mereka bersujud berulang kali, seolah-olah sedang menyembah para dewa surgawi;


Ada pula yang merasa jiwa mereka tergugah dan air mata panas mengalir di wajah mereka -- meski mereka tidak tahu mengapa mereka menangis -- diliputi oleh rasa takjub yang mendalam dan kesadaran akan betapa kecilnya diri mereka.


Aura ini terlalu luas, terlalu mendalam, dan terlalu tak terbayangkan; 


Seolah-olah beban seluruh dunia yang baru tercipta itu memusat pada sosok berpakaian abu-abu tersebut -- sosok yang memandang rendah segala makhluk hidup, menekan segala hukum alam, dan menggenggam takdir langit di tangannya. 


Di Pulau Bibo, Nico Chen meringkuk ketakutan di balik pilar batu yang hancur, sesekali melirik langit dengan gemetar hebat yang tak terkendali.


Saat merasakan aura yang memancar dari tubuh Dave, tubuhnya diguncang getaran hebat; kakinya terasa seberat timah, dan karena tak lagi mampu menopang tubuhnya, ia pun ambruk ke tanah yang dingin dengan suara gedebukkan keras.


Basahan dengan cepat meluas di selangkangannya dan bau pesing yang menyengat memenuhi udara, namun ia sama sekali tidak menyadarinya; ia hanya merasakan hawa dingin yang menusuk, bahkan ujung-ujung jarinya pun gemetar hebat.


"Ampuni aku, Tuan! Kumohon, ampuni nyawaku!"


Nico Chen bersujud dengan kacau, membenturkan dahinya ke reruntuhan batu hingga darah mengucur deras, namun ia tak berani berhenti. "Aku buta dan sombong -- tidak menyadari betapa luas dan tingginya dunia ini sebenarnya. Aku memohon ampunan-Mu atas segala kesalahanku tadi..."


Suaranya tercekat oleh isak tangis; tubuhnya meringkuk dan gemetar hebat seperti dedaunan yang tertiup angin, ia terus bersujud tanpa berani mengangkat kepala, hanya bisa berdoa agar sosok berpakaian abu-abu itu tidak menyadari keberadaan semut hina seperti dirinya.


Namun, dari awal hingga akhir, sosok itu bahkan tidak melirik ke arahnya sedikit pun.


Bagi Dave, sosok hina dan remeh seperti Nico Chen hanyalah sebutir debu yang tidak berarti, bahkan tidak layak untuk dipikirkan barang sejenak.


Dave berdiri diam di angkasa tinggi, mata ungunya perlahan mengamati gugusan pulau kehampaan yang baru terbentuk, pandangannya menyapu daratan-daratan terapung yang tersebar serta hamparan luas lautan awan kehampaan yang bergolak.


Akhirnya, pandangannya tertuju pada hamparan lautan hampa yang pekat dan gelap gulita di kejauhan -- sebuah tempat yang tak bertepi dan memiliki kedalaman yang tak terbayangkan.


Mata Kekosongan-


Itulah nama yang diucapkan Roger Yue sebelum kematiannya -- satu-satunya pintu masuk menuju jalan kuno yang mengarah ke Surga ke-22.


Proyeksi bayangan dari Surga ke-22 sebelumnya juga telah memberikan peringatan keras agar tidak menginjakkan kaki di sana sebelum proyeksi itu hancur; hal ini semakin memastikan keberadaan jalan tersebut dan kian memantapkan tekad Dave untuk pergi ke sana. 


Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa di balik hamparan laut yang gelap gulita itu, tersembunyi gelombang spasial yang melampaui tingkatan biasa -- menyimpan misteri alam surgawi yang telah lama ia cari.


Dave sedikit bergerak, dan seberkas cahaya kelabu meluncur turun dari langit tertinggi dengan kecepatan luar biasa; berubah menjadi bayangan kelabu yang tak mencolok, ia melesat melintasi kepulauan dan menukik tajam ke arah permukaan Laut Hampa.


Arus hampa yang bergejolak di jalurnya berbenturan dengan gelombang energi kacau yang menyelimutinya, namun seketika hancur dan lenyap, tak mampu memberikan hambatan sedikit pun.


Saat air Laut Hampa yang hitam pekat dan tak terduga dalamnya bergolak di sekelilingnya -- penuh dengan hawa dingin yang menusuk dan pecahan ruang yang tajam -- indra ilahi Dave membuncah layaknya gelombang pasang. 


Indra illahi nya itu memancar hingga sepuluh ribu mil jauhnya, menembus lapisan arus bawah yang tersembunyi untuk menyelidiki setiap celah dengan saksama.


Persepsinya lebih tajam dari sebelumnya; tak ada anomali sekecil apa pun dalam fluktuasi ruang atau jejak energi yang bisa lolos dari deteksinya.


Tak lama kemudian, ia merasakan aura yang familier.


Dalam, berwarna biru tua, luas, dan abadi -- memiliki perpaduan khas antara kelembutan yang luwes dan keagungan yang meliputi segalanya, ciri khas Ras Air -- itu tak salah lagi adalah aura Vargas Shui.


Pemimpin Ras Air itu saat ini sedang berada di dalam ngarai terumbu karang bawah air jauh di kedalaman Laut Hampa. 


Cahaya biru berkilauan di sekeliling tubuhnya, dan raut wajahnya tampak serius, dengan alis yang berkerut karena kekhawatiran mendalam.


Dengan hancurnya Langit Tujuh Bintang dan musnahnya tiga keluarga besar ras dewa, tatanan dunia telah mengalami perubahan yang sangat drastis. 


Sebagai penguasa Ras Air, ia diliputi kecemasan -- tidak yakin akan jalan ke depan, tidak pasti mengenai nasib kaumnya, dan bingung bagaimana cara membangun pijakan di dunia yang baru terbentuk ini.


Namun, tepat pada saat berikutnya, seluruh tubuhnya menegang; keringat dingin seketika membasahi punggungnya, dan napasnya tersendat.


Sebuah aura turun menyelimutinya -- aura yang tak tertahankan dan mustahil untuk dilawan, begitu dahsyat hingga ia bahkan tak berani menatap langsung ke sumbernya. 


Aura itu mengunci lokasinya dengan presisi, menekan arus bawah di sekitarnya hingga menjadi air yang mati dan tak bergerak; bahkan aliran air laut itu sendiri terhenti total. 


Vargas Shui mendongak dengan cepat, hanya untuk melihat sosok berpakaian abu-abu yang sedang berjalan santai ke arahnya dari kedalaman Lautan Hampa. 


Mengenakan jubah abu-abu yang berkibar tertiup arus, ia menampilkan raut wajah yang sangat tenang; jauh di dalam mata ungunya bergolak keluasan kekacauan primordial yang tak bertepi. 


Setiap gerakannya memancarkan wibawa dan ketenangan yang mampu menekan segala hukum alam semesta, seolah-olah seluruh Lautan Hampa yang misterius itu berada dalam genggamannya.


“Tuan Chen... Tuan Chen!”


Vargas Shui segera bangkit dan membungkuk hormat. 


Ia berbicara dengan cepat dan penuh kerendahan hati, bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. “Vargas Shui memberikan salam hormat kepada Tuan Chen! Aku tidak menyadari kedatangan Anda yang mulia dan gagal menyambut Anda dengan baik – aku memohon maaf!”


Ia sangat memahami kekuatan Dave; pembudidaya muda ini telah menguasai Surga ke-21 -- sosok yang tidak berani ia singgung dalam keadaan apa pun.


Dave mengabaikan basa-basi dan langsung ke pokok permasalahan, nadanya tenang namun sarat akan wibawa mutlak: “Di mana Mata Kekosongan itu?”


Vargas Shui merasa terkejut, dan butiran-butiran keringat halus seketika muncul di dahinya.


Mata Kekosongan adalah salah satu rahasia terbesar Surga ke-21; sepanjang zaman, hanya sedikit yang mengetahui keberadaannya, dan mereka yang mengetahui lokasinya jauh lebih langka lagi.


Dia berkata, “Tuan Chen, Mata Kekosongan dikabarkan sebagai gerbang menuju Surga ke-22. Aku hanya pernah mendengarnya -- aku belum pernah melihatnya, ataupun mengetahui di mana letaknya.”


“Namun, harap tenang, Tuan Chen. Klan Air telah beroperasi di Lautan Hampa selama berabad-abad dan mengenal setiap jengkal perairan ini dengan sangat baik. Aku akan segera memerintahkan pencarian besar-besaran; jika Mata Kekosongan itu berada di dalam Lautan Hampa, kami pasti akan menemukan jejaknya!”


Begitu selesai berbicara, Vargas Shui segera memerintahkan pengerahan seluruh pembudidaya Klan Air di Lautan Hampa untuk melakukan pencarian menyeluruh yang mencakup seluruh wilayah. 


Aliran cahaya biru yang tak terhitung jumlahnya memusat dari segala arah sebelum kembali menyebar dengan cepat ke luar, menyerupai jaring bintang-bintang biru yang mekar di kedalaman dan menyelimuti seluruh hamparan Lautan Hampa.


Sebagian pembudidaya Klan Air mengintai di dalam arus tersembunyi yang tak berdasar; sebagian lainnya berpegangan pada terumbu karang dan bongkahan batu raksasa di dasar laut; sementara yang lain tersebar di perairan yang lebih dangkal di tepian laut. 


Setiap sudut disisir dengan cermat, tanpa ada satu pun celah yang terlewatkan. 


Pencarian berlangsung selama dua hari penuh.


Dua hari kemudian, para pembudidaya dari Klan Air kembali satu per satu, membawa informasi yang sangat konsisten: sama sekali tidak ada jejak "Mata Kekosongan" di mana pun di Lautan Hampa.


Jangankan celah spasial atau jalan kuno -- bahkan fluktuasi spasial yang tidak wajar atau distorsi hukum alam sedikit pun tidak terdeteksi.


Wajah Vargas Shui memucat, dan butiran keringat muncul di dahinya. 


Dia membungkuk berulang kali untuk meminta maaf, nadanya penuh rasa bersalah: "Tuan Chen, setiap kata yang diucapkan Klan Air adalah kebenaran. Jika kami saja tidak bisa mendeteksinya... maka kemungkinan besar Mata Kekosongan itu tidak berada di Lautan hampa ini sama sekali."


Ekspresi Dave tetap tak berubah; mata ungunya sedikit menunduk saat ia berpikir.


Dia tidak terkejut. 


Roger Yue telah menggambarkan Mata Kekosongan sebagai jalan kuno yang mengarah ke Surga ke-22.


Mengingat betapa cemasnya pemilik bayangan itu terhadap kemungkinan dirinya memasuki Surga ke-22, bagaimana mungkin jalur sepenting itu dibiarkan begitu saja di perairan terbuka untuk ditemukan siapa saja?


Jalan itu pasti disembunyikan di tempat yang sangat rahasia dan sulit dijangkau.


"Oh jadi begitu... Oke... Aku mengerti."


Dave berbicara dengan tenang, lalu sosoknya berkelebat dan menghilang ke kedalaman Lautan Hampa. 


Vargas Shui menatap ke arah tempat Dave menghilang, diam-diam merasa lega karena klannya tidak memusuhi orang seperti itu.


.....


Karena pencarian di Lautan Hampa tidak membuahkan hasil, target Dave berikutnya adalah Jurang Dunia Bawah.


Dave tiba melalui udara, mendarat di pintu masuk Jurang Dunia bawah.


Kabut kelabu kehitaman bergolak dan bergulung seperti mulut binatang buas mengerikan yang ingin menelannya bulat-bulat; 


Jeritan melengking yang mengerikan bergema dari kedalaman jurang, membuat bulu kuduk meremang.


Namun, Qi Dunia Bawah -- yang mampu mengikis fondasi Dao seorang pembudidaya di Alam Dewa Emas Luo Agung -- hanya menghantam Domain Kekacauan abu-abu yang menyelimuti Dave. 


Hal itu ibarat butiran salju tipis yang bertemu dengan terik matahari -- mendesis dan menguap dengan cepat; tak ada apa pun yang bisa mendekatinya, bahkan hawa dingin yang menusuk pun tak mampu menyentuh tubuhnya.


Dia melangkah mantap memasuki jurang; semakin dalam dia menjelajah, semakin pekat energi nether yang terasa, dan semakin mencekam pula hawa dingin yang menekan.


Jeritan samar namun menusuk dari roh-roh pendendam serta rintihan penuh kebencian dari jiwa-jiwa yang tertinggal melayang di kehampaan, sementara tak terhitung banyaknya wujud roh yang terpecah-belah mengapung di tengah kabut, melontarkan permohonan dan raungan lemah.


Dinding batu jurang itu dipenuhi oleh rune dunia bawah kuno; masing-masing memancarkan aura dingin, diam-diam mengisahkan pasang surut zaman dan kesunyian dari masa lampau yang tak terhingga.


Dave langsung pergi menemui Tetua Dunia Bawah.


Karena Mata Kekosongan tidak ditemukan di Lautan Hampa, besar kemungkinan benda itu tersembunyi di dalam Jurang Dunia Bawah.


Lagipula, Langit Tujuh Bintang telah runtuh; Mata Kekosongan mustahil masih ada di sana.


Tetua Dunia Bawah tidak menunjukkan keterkejutan saat melihat kedatangan Dave; dia sudah mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar sana.


Langit Tujuh Bintang telah hancur lebur, dan tiga keluarga besar Ras Dewa telah dimusnahkan oleh Dave.


Kekuatan Dave saat ini menjadikannya sosok setara dewa, penguasa sejati di seluruh Surga ke-21.


Dia tak tertandingi dan tak tersentuh.


Untungnya, Jurang Dunia Bawah memiliki hubungan baik dengan Dave, sehingga Tetua Dunia Bawah tidak merasa takut kepadanya.


"Senior, aku datang menemui mu hanya karena satu alasan," ujar Dave saat melihat sang tetua.


"Apakah karena Mata Kekosongan?" tanya Tetua Dunia Bawah.


Dave mengangguk, tampak agak terkejut. "Bolehkah aku bertanya bagaimana kau mengetahui hal itu, Senior?"


"Mata Kekosongan adalah titik penghubung krusial menuju Surga ke-22; hal ini bukanlah rahasia di Surga ke-21. Namun, sangat sedikit orang yang benar-benar mengetahui lokasinya." 


" Dengan kekuatanmu saat ini, kau sudah tak terkalahkan di Surga Kedua Puluh Satu, jadi kau pasti akan pergi ke dunia yang lebih tinggi untuk berkembang, dan karena itu kau pasti perlu menemukan Mata Kekosongan," jelas Tetua Dunia Bawah.


Dave berkata, "Senior, setelah Langit Tujuh Bintang runtuh, aku pergi ke Lautan Hampa dan meminta bantuan Klan Air untuk mencarinya. Namun, Mata Kekosongan tidak ditemukan di sana. Aku menduga benda itu mungkin tersembunyi di dalam Jurang Dunia Bawah, itulah sebabnya aku datang untuk meminta bantuanmu."


Tetua Dunia Bawah menatap tajam ke arah Dave untuk waktu yang lama. 


Kobaran api hantu berwarna hijau yang menyeramkan di sekelilingnya seolah mencerminkan proses pemikiran dan pertimbangan mendalam, sementara energi dunai bawah yang menyelimuti tubuhnya turut pasang surut seirama dengan hal itu.


Setelah terdiam cukup lama, ia perlahan menggelengkan kepala; suaranya sarat akan keletihan dan kepasrahan yang telah terakumulasi selama berabad-abad: "Betapapun dalamnya Jurang Dunia bawah, tempat ini tidak mungkin menampung entitas seperti Mata Kekosongan. Jalan kuno semacam itu -- yang menghubungkan lapisan-lapisan Alam Surgawi -- pasti berada di wilayah Surga ke-21 yang paling dekat dengan tepian kehampaan, tempat di mana hukum-hukum surgawi memiliki pengaruh paling lemah."


"Paling dekat dengan tepian kehampaan?" 


Dave sedikit mengernyitkan dahi; sebuah dugaan mulai muncul di benaknya.


"Sabuk Langit Berbintang,.." 

Tetua Dunia Bawah berucap dan melafalkan setiap kata dengan nada yang berat dan penuh keseriusan. "Bentangan kehampaan di tepian terjauh Surga ke-21 -- wilayah yang paling sunyi dan terabaikan dari semua kawasan. Tidak ada benua di sana, tidak ada energi spiritual, dan tidak ada makhluk hidup -- hanya arus kehampaan yang bergejolak tanpa henti dan energi spiritual yang begitu tipis hingga hampir tidak ada sama sekali.” 


“Namun, justru karena itulah, hukum ruang di sana berada pada titik terlemahnya. Itu adalah area yang paling mudah ditembus oleh kekuatan luar untuk menciptakan jalan menuju alam yang lebih tinggi, menjadikannya tempat persembunyian yang paling mungkin bagi Mata Kekosongan."


Kilatan pemahaman muncul di mata Dave.


Sabuk Langit Berbintang.


Nama itu tidak asing baginya, namun ia belum pernah mengaitkannya dengan Mata Kekosongan. 


Wilayah itu terlalu sunyi dan terpencil, dengan energi spiritual yang sangat langka sehingga bahkan di puncak kekuatannya, ia tidak akan pernah sengaja pergi ke sana; namun, tak disangka, tempat itu menyimpan kunci menuju Surga ke-22.


Ia berbalik untuk pergi, tetapi suara Tetua Dunia Bawah terdengar menyeramkan dari belakang, membawa nada peringatan: "Anak muda, meskipun Sabuk Langit Berbintang dapat mengarah ke Mata Kekosongan, kekuatan yang dibutuhkan untuk membuka jalan itu jauh melampaui kemampuan individu mana pun.” 


“Jalan kuno semacam itu membutuhkan kekuatan yang beresonansi dengan esensi primordial langit untuk bangkit; jika kamu bertekad mencapai Surga ke-22, sebaiknya kamu melakukan persiapan matang -- jangan bertindak gegabah."


Dave tidak berhenti; siluet kelabunya lenyap ke dalam kegelapan, meninggalkan jawaban yang tenang namun tegas: "Aku punya rencanaku sendiri."


Ia sudah siap; apa pun risikonya, ia akan membuka jalan itu dan menginjakkan kaki di Surga ke-22.


......


Tiga hari kemudian, Dave muncul di tepi kehampaan -- wilayah terluar yang paling sunyi dari Surga ke-21.


Itu adalah Sabuk Langit Berbintang.


Itu adalah zona transisi antara Surga ke-21 dan kehampaan luar. 


Sejauh mata memandang, tidak ada benua, tidak ada tanah, dan tidak ada pijakan padat -- hanya jurang yang membentang tanpa akhir dan selubung ruang yang begitu tipis hingga tampak hampir seperti ilusi. 


Di atas sana terbentang hamparan kegelapan pekat yang abadi -- tanpa bintang, matahari, ataupun secercah cahaya. 


Hanya ada keheningan dan kehampaan yang menyerupai malam abadi; suara tidak dapat merambat di sini, dan kesunyiannya terasa menyesakkan.


Konsentrasi energi spiritual di tempat ini bahkan tidak sampai sepersepuluh ribu dari yang ada di alam-alam utama -- begitu tipis hingga hampir bisa diabaikan.


Bagi kultivator biasa, sekadar mempertahankan sirkulasi dasar kekuatan spiritual di sini saja sudah merupakan perjuangan berat, apalagi mencoba berkultivasi; berlama-lama di tempat ini bahkan bisa berujung pada kematian akibat terkurasnya cadangan energi spiritual.


Namun, justru karena itulah, tidak ada seorang pun yang pernah berkembang, mendirikan faksi, atau mencari peluang di sini sepanjang zaman, menjadikan wilayah ini sudut paling terpencil dan rahasia di Surga ke-21. 


Kesadaran ilahi Dave perlahan menyebar melintasi kehampaan yang luas dan sunyi itu; bebas dari gangguan energi spiritual, distorsi hukum alam, ataupun kehadiran berbagai makhluk hidup yang mengaburkan pandangan, persepsinya menjadi lebih jernih dan tajam daripada sebelumnya.


Ia mampu mendeteksi dengan jelas setiap riak energi halus di dalam kehampaan tersebut dan menentukan titik-titik kelemahan di mana jalinan ruang terasa paling tipis.


Bersambung....


Buat para rekan Sultan Tao pengunjung blog yg mau nyawer, mendukung, atau traktir Mimin kopi atau quota ☺️☺️


Bisa kirim ke aplikasi DANA di link berikut :

https://link.dana.id/qr/4e1wsaok


Atau ke akun 

SeaBank : 901043071732

Kode Bank Seabank untuk transfer (535)


Terima Gajih...☺️







No comments:

Post a Comment

Perintah Kaisar Naga : 6849 - 6851

 Perintah Kaisar Naga. Bab 6849-6851 * Langit Tujuh Bintang Menjadi Ribuan Benua Kecil * Seluruh ruang bawah tanah itu sepenuhnya diselimuti...