Photo

Photo

Tuesday, 16 June 2026

TEOLOGI PARASIT : Ketika Takdir Dijadikan Tukang Cebok Kebijakan Amburadul





TEOLOGI PARASIT 

Ketika Takdir Dijadikan Tukang Cebok Kebijakan Amburadul


Izinkan bertanya dengan jengkel: Sejak kapan para pemuka agama dan oknum intelektual ini menjadikan Allah sebagai tameng untuk kebijakan publik yang amburadul? 

Mari kita bedah di mana letak kesesatan berpikirnya.


1. Pembungkusan Teologis atas Ketidakbecusan Ekonomi

Oknum ustadz dan pengamat ini pintar. 

Mereka menggunakan kata "Allah" sebagai mantra ajaib untuk membungkam kritik. 

Coba jika mereka berkata vulgar, "Jangan kritik pemerintah, nanti Anda berdosa!" 

Pasti publik langsung memprotes. 

Namun, ketika mereka membungkusnya dalam narasi "Allah sudah menjamin rezeki," mengkritik kebijakan ekonomi makro mendadak dikesankan sebagai tindakan yang kurang tawakal dan cacat iman.


Padahal, menyuruh masyarakat berserah diri tanpa menuntut perbaikan sistem sama saja dengan menyuruh seseorang membiarkan untanya lepas lalu berharap mukjizat menjaganya. 


Secara logika, ini disebut "fallacy of religious hijacking"—meminjam kesucian nama Tuhan untuk menutupi ketidakbecusan manusia. 

Menggunakan doktrin jaminan rezeki untuk menyembunyikan rapor merah pengelolaan negara tak ubahnya tindakan koruptor yang mendadak berbaju takwa di depan kamera: menggunakan kosmetik moral untuk lari dari tanggung jawab publik.


2. Krisis Finansial: Buatan Birokrasi, Bukan Takdir Langit

Mari lihat fakta lapangan. Depresiasi rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS di paruh awal 2026 ini bukan musibah kiriman langit, melainkan akibat dari kebijakan yang lambat dan tumpul. 

Selama tujuh bulan berturut-turut hingga April 2026, Bank Indonesia memilih pasif dan enggan menaikkan suku bunga saat tekanan dolar sedang gila-gilaan. 

Ketika akhirnya dinaikkan, segalanya sudah kesiangan. Itu reaksi panik, bukan strategi.


Padahal, krisis pasokan dolar ini murni buatan manusia. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2026, pemerintah mewajibkan eksportir menahan seluruh dolar hasil ekspor di bank domestik selama 12 bulan. 

Niatnya menstabilkan nilai tukar, namun para pelaku usaha tidak bodoh. Takut modal kerjanya membeku dan tidak bisa berputar, sebelum aturan itu resmi berlaku, para eksportir justru buru-buru melarikan dolar mereka ke luar negeri.


Hasilnya tragis: pasokan dolar domestik kering kerontang, tepat saat permintaan melonjak demi membayar utang luar negeri dan dividen. 

Ini krisis yang dirancang oleh birokrasi, lalu dengan tenang oknum penceramah berbisik, "Allah yang menjamin rezeki..." 

Pejabat pun tersenyum lega karena selamat dari amuk massa.


3. Ketika Fatalisme Memakan Korban Jiwa

Gaya berlindung di balik takdir ini berubah menjadi mengerikan saat kita melihat realitas di akar rumput. 

Awal tahun 2026, seorang anak kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih mengakhiri hidupnya karena malu tidak mampu membeli pena dan buku seharga sepuluh ribu rupiah—setara harga dua bungkus kerupuk.


Di hadapan jasad bocah tersebut, masihkah para penjual ayat ini berani berbisik bahwa ini sekadar "ujian Tuhan"?


Banjir akibat curah hujan ekstrem boleh diklaim sebagai urusan alam, namun kematian seorang anak akibat kemiskinan ekstrem di tengah karut-marutnya distribusi bansos adalah murni kejahatan struktural. 

Dia adalah korban kegagalan negara.


4. Kritik adalah Bagian dari Ikhtiar

Mencampuradukkan tawakal dengan sikap antipati terhadap kritik adalah kesalahan fatal. 

Kritik adalah bagian dari ikhtiar politik. 

Dalam sejarah Islam, nabi dan para khalifah pun menerima protes dari umatnya ketika keputusan strategis dirasa kurang tepat.


Fatalisme ini berbahaya karena melucuti daya tawar masyarakat. Ketika semua orang dipaksa diam atas nama takdir, penguasa bisa melahirkan kebijakan yang makin ugal-ugalan. 


Saat ini, independensi BI bahkan digoyang isu nepotisme. Sentimen pasar memburuk, investor was-was, dan dolar kembali kabur. Ustadz mana yang mau bertanggung jawab atas dampak sistemik ini?


Pasrah total hanya layak diberikan kepada Sang Pencipta, namun terhadap kebijakan penguasa yang merusak hajat hidup orang banyak, tunduk adalah sebuah dosa sosial. 

Menuntut pertanggungjawaban dari penguasa adalah ikhtiar tertinggi, karena iman yang sejati tidak pernah membiarkan kedunguan birokrasi bersembunyi di balik jubah kesucian.







No comments:

Post a Comment

TEOLOGI PARASIT : Ketika Takdir Dijadikan Tukang Cebok Kebijakan Amburadul

TEOLOGI PARASIT  Ketika Takdir Dijadikan Tukang Cebok Kebijakan Amburadul Izinkan bertanya dengan jengkel: Sejak kapan para pemuka agama dan...